C. Komunikasi Persuasif Perawat dalam Membangun Konsep Diri Positif Lansia di Panti Wredha Dharma Bhakti Kasih Surakarta
1. Komunikasi Perawat dalam Menghadapi Permasalahan Lansia
Komunikasi yang perawat lakukan dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi lansia, perlu ketahui terlebih dahulu masalah apa yang sedang terjadi pada lansia yang bersangkutan. Perawat juga tidak bosan-bosannya mengingatkan kepada lansia berulang kali, diberikan nasehat dan arahan untuk tetap tenang tinggal di panti. Berikut pernyataan oleh Ibu Indriyanti :
”Ya kita lihat dulu masalahnya apa gitu. Soal e kadang kalo dikasih tau itu juga susah. Paling kita bilangin aja, walaupun nanti tetep ngulangin lagi. Ya diberitahu lagi namanya juga orang tua. Ya supaya kita juga dilatih sabar.” (hasil wawancara dengan Ibu Indriyati April 2014).
Sedangkan menurut Saudari Christy :
”Kalo masalah paling kita cuman bilangin. Mbah nya supaya saling rukun, saling berteman sudah tua gak perlu ribut. Kalo ada masalah bisa cerita sama perawat kalo bisa bantu ya pasti nanti kita bantu.”
(hasil wawancara dengan Saudari Christy April 2014).
Begitu juga dengan yang dipaparkan oleh Ibu Nurmiasih :
”Ya itu juga saya ajak omong-omong, saya nasehati biar tidak punya pikiran kalo anaknya begini-begini. Lansia yang bertengkar banyak juga, ya itu gak bisa misalnya lansia itu salah gini salah gini jadinya bertengkar ya kita harus pisah dahulu. Terus nanti kalo seumpama hatinya udah tenang baru kita nasehati begini-begini.” (hasil wawancara dengan Ibu Nurmiasih April 2014).
commit to user
Perawat dalam menyelesaikan masalah lansia dilakukan dengan seefektif mungkin dan perlu adanya solusi yang tepat. Bisa jadi lansia akan terganggu pikiran dan kesehatannya apabila terus memikirkan masalah yang sedang dihadapinya. Sesuai dengan yang diungkapkan oleh Ibu Narti bahwa :
”Ya kita kasih tau sama Mbah nya. Kita beritahu akibatnya kalo mikirin msalah-masalah nanti misalnya kalo gak mau makan akibatnya kalo jadi sakit dan sebagainya. Kalo masalahnya bertengkar ya caranya dengan kita lerai. Kalo sudah diem-dieman itu yang susah. Namanya orang banyak ya itu ada saja masalah ya tapi kita tetap harus bisa memberikan rasa aman rasa nyaman kepada lansia supaya tidak banyak memikirkan masalah yang ada..” (hasil wawancara dengan Ibu Narti April 2014).
Lebih jelas lagi Bapak Bimo menambahkan :
”Ya kalo itu ya kita lihat permasalahnya, kalo hanya soal permasalahan yang sepele ya bisa kita selesaikan dengan mudah. Misalnya soal air yang kurang panas ya nanti kita bilangin pelan-pelan supaya nunggu sebentar sekitar 1 jam nanti juga panas. Kalo di kelas VIP itu kan lansia nya sudah punya privacy nya sendiri-sendiri, jadi ya untuk bertengkar biasanya jarang. Kalo itu permasalahan terkait dengan keluarga saya engga mau ikut mencampuri. Paling cuman bilangin supaya tidak dipikirkan berat-berat supaya tetap tenang saja. Ya kalo masalahnya karena sudah lama tidak dijenguk keluarga juga paling dibilangin sudah kita kasih tau kita telpon nanti paling minggu depan sudah datang, ya paling menenangkan hatinya supaya bisa tenang gitu aja.” (hasil wawancara dengan Bapak Bimo April 2014).
Perawat dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi lansia dengan memberikan pengertian, memberikan dorongan untuk selalu bersyukur dan tetap semangat dalam menjalani kehidupan. Berdasarkan ungkapan dari Bapak Suprihadi :
”Umm..kalo disini itu yang paling banyak dia kurang terima tapi tidak semuanya juga. Ya kita bilang kalo disini itu bukan tempat orang-orang terbuang, mungkin orang-orang tuli, orang-orang buta, orang-orang tua memang tinggal di sini. Tapi ya cara bilanginya ya dengan memberinya dorongan supaya tetap bersyukur. Kan ada tu temenya yang gak tuli tapi buta, atau sebaliknya buta tapi gak tuli ya semacam itulah. Dan
commit to user
kita disini membimbing mereka untuk tidak putus asa. Ya kalo gak bisa ya kita bantu, tapi gak terus mintanya nyuruh-nyuruh semacam itu. Memang yang sudah tidak mampu saja yang kita bantu, ya sesuai dengan situasi dan kondisinya sajalah. Jangan membuatnya menjadi tertekan lah selama tinggal di sini.” (hasil wawancara dengan Bapak Suprihadi April 2014).
Begitupula dengan jawaban dari Ibu Partinah :
”Ya itu juga saya ajak ngobrol-ngobrol sambil saya nasehati biar Eyang itu tidak punya pikiran yang muluk-muluk soal rumah atau keluarga anak-anaknya gitu.” (hasil wawancara dengan Ibu Partinah April 2014).
Dalam menyelesaikan permasalahan yang menjadi beban pikiran dalam dirinya, perawat masih dapat menyelesaikan secara mandiri. Seperti yang dikatakan oleh Ibu Kadini :
”Malah mboten pernah crito menawi wonten masalah ngoten. Kulo malah mboten diceritakne (Saya justru tidak pernah cerita apabila sedang ada masalah. Saya justru tidak ceritakan).” (hasil wawancara dengan Ibu Kadini April 2014).
Menambahkan pernyataan di atas, menurut Ibu Sri Saryati :
”Kalo buat saya sendiri ya itu engga cerita. Ya itu tadi Mas karena mereka-mereka itu terbatasnya waktu dan banyak kerjakan sampe sibuk pastinya. Kalo menurut saya sendiri lebih suka diem daripada banyak ngomong. Lebih baik saya itu pilih tiduran atau diem, ya diem itu menyaring situasi saya sendiri.” (hasil wawancara dengan Ibu Sri Saryati April 2014).
Ketika lansia mengalami suatu permasalahan yang berat, biasanya perawat akan segera tahu. Sehingga perawat akan melakukan pendekatan dan memberikan nasehat kepada lansia tersebut. Berdasarkan pernyataan dari Bapak Slamet :
”Geh kulo menawi seneng nopo sedih ngenteniku perawat geh sampun ngertos. Wong kulo niki sampun celak kalian perawat-perawat mriki.
Dadose inggih crito (Ya saya kalo senang atau sedih begitu perawat juga sudah tahu. Kan saya itu sudah dekat dengan perawat-perawat di
commit to user
sini. Jadinya ya saya ceritakan).” (hasil wawancara dengan Bapak Slamet April 2014).
Dan juga menurut Ibu Maria, bahwa :
”Inggih menawi wonten keluhan kulo ceritakne kalian perawat (iya apabila ada keluhan saya ceritakan kepada perawat).” (hasil wawancara dengan Ibu Maria April 2014).
Ada diantara lansia yang hanya menceritakan masalah tertentu saja kepada perawat. Sebab tidak semua masalah yang menurutnya harus diceritakan kepada perawat. Seperti yang diutarakan oleh Bapak Ryanto :
”Ya itu tidak semuanya, kadang ya ada yang saya ceritakan. Karena mereka kita sedang apa mereka sudah tau orang-orang Panti itu kelihatannya sedang ada masalah. Jadi kadang saya juga cerita tetapi tidak semuanya.” (hasil wawancara dengan Bapak Ryanto April 2014).
Selain harus memberikan solusi atau mengatasi permasalahan yang dihadapai oleh lansia, terkadang perawat juga dihadapkan masalah dengan lansia yang ditemuinya. Perawat mendapati perilaku lansia yang sulit untuk diatur dan melakukan semaunya sendiri, hal tersebut seringkali timbul berdasarkan latar belakang lansia tersebut. Dengan pengalaman yang sudah dilalui perawat dalam mengurus dan melayani lansia, tentu saja perawat tahu cara mengatasi apabila hal tersebut terjadi. Berdasarkan hasil wawancara berikut akan dijelaskan langkah perawat dalam mengatasi permasalah dengan lansia yang sulit diatur.
a. Perawat dalam Menghadapi Lansia Sulit Diatur
Tiap perawat memiliki caranya dalam mengatasi lansia yang sulit untuk diatur, ada yang dengan hanya memberikan teguran dan peringatan.
Kemudian dilanjutkan dengan arahan dan anjuran berupa nasehat-nasehat
commit to user
saat lansia mulai sudah bisa tenang. Seperti yang dilakukan oleh Ibu Narti yaitu :
”Ya saya paling cuman tegur saja. Nanti nunggu saja pas suasana hatinya sudah baik mau ngajak ngobrol saya ya baru kita masuk bilangin pelan-pelan sambil ngobrol-ngbrol. Tapi ya lihat juga situasinya, kalo suasanane pas emosi apa pas dia lagi marah-marah ya kita tunggu sampai dia tenang dulu. Kalo kita nekad ya nanti malah tambah. Kadang sampai beberapa hari gitu nanti pas dia sudah tenang ngajak kita ngbrol ya baru kita ajak kita nasehatin lagi. Memang harus sabar Mas kalo kita mengahadapi lansia itu.”
(hasil wawancara dengan Ibu Narti April 2014).
Sebagian perawat membiarkan perilaku lansia yang sulit diatur, sebab perawat sudah cukup mengenal lansia itu, seperti pernyataan Ibu Indriyanti :
”Kalo saya pribadi itu gak ketemu lansia yang sulit untuk diatur banget sih. Gak ada, paling cuman satu orang itu tok, tapi karena dia juga bisa mandiri paling saya juga tidak terlalu ngurusi begitu.”
(hasil wawancara dengan Ibu Indriyanti April 2014).
Dan seperti yang disampaikan oleh Saudari Christy :
”Ya saya selama ini mbah nya masih mau diatur, belum menemui mbah yang sampe sulit buat dikasih tau. Kalo bisa ya mbah nya di sini ya gampanglah orangnya gak bikin repot perawat, karena harus repot apalagi tenaga perawat disini kan juga masih sedikit.” (hasil wawancara dengan Saudari Christy April 2014).
Beberapa perawat cukup bijak dalam menghadapi lansia yang sulit untuk diatur. Berdasarkan pengalaman selama merawat, serta kebiasaan yang selalu dilakukan lansia, perawat akan mendiamkan sikap lansia serta memberikan waktu sampai lansia tersebut merasa bosan. Sedangkan ketika lansia sudah lelah dan dapat diberikan arahan supaya dapat kembali mengikuti aturan dari perawat. Seperti yang dikatakan oleh Bapak Margito yaitu :
commit to user
”Ya kalo saya ya kita diemin saja dulu. Saya belum akan bertindak banyak, termasuk berbohong supaya kita tahu dulu masalanya apa.
Kalo dia itu marah karena masalah sepele misalnya masalah kran nya ya kita diemin dulu aja. Ya kalo sudah tua kan kita itu kembali seperti anak kecil, kalo dulu anak kecil itu sukanya nangis kalo sekarang ya marah gitu aja. Tekhniknya harus pandai-pandai membuat trik dalam menyelasikan masalah. Supaya kita juga gak tebawa sampai marah, mereka juga jangan sampe tersinggung.
Harus memahami karakter lansia nya mana yang marah-marah, mana yang suka bikin masalah, mana yang sudah tuli. Kan macem-macem penghuninya masalahnya juga. Ya kita juga tentunya harus sabar juga, biasanya masalahnya juga karena sepele saja. Jangan sampe kita juga jadi repot gara-gara satu orang lansia yang sulit untuk diaturnya. Ya seperti yang saya bilang tadi, di sini perawat itu ya harus pandai-pandai dalam menangani lansia. Menyelesaikan masalah ya musti efektif supaya tidak buang-buang tenaga karena pekerjaan lain juga tentunya masih banyak yang harus diselesaikan.” (hasil wawancara dengan Bapak Margito April 2014).
Dan juga dibenarkan oleh Ibu Nurmiasih :
”Kalo yang sulit diatur itu saya mendingan diamkan dulu, daripada nanti saya malah jadi emosi. Trus apabila nanti kelihatan dia sudah agak ketawa-ketawa seperti itu ya kita mulai dekati awalnya diajak ngobrol gitu. Memang sok biasanya gitu. Biasanya kalo sok waktunya longgar saya juga akhirnya diajakin ngobrol juga gitu.”
(hasil wawancara dengan Ibu Nurmiasih April 2014).
Sedangkan cara pencegahan yang dilakukan beberapa perawat agar lansia nantinya tidak sulit untuk diatur adalah dengan memberikan contoh yang baik dan diberika pelayanan yang halus, ramah serta sopan terhadap lansia. Agar mereka merasakan, jikalau perawat yang sudah baik mereka akan segan pada perawat. Lalu mengikuti peraturan yang perawat berikan.
Seperti penuturan Ibu Partinah :
commit to user
Adapula lansia yang sulit diatur tersebut setelah diperingatkan, diberikan pengarahan masih juga kembali lagi mengulang seperti anak kecil. Tapi perawat sudah tahu betul yang harus dilakukan, tetap sabar dan tidak pernah menyerah untuk berusaha. Seperti yang diungkapkan oleh Bapak Katimin :
”Kalo masalah itu kadang lansia dikasih tau iya iya tapi tetap tidak dilaksanakan. Ya lansia itu gitu kadang ya sudah pikun, sering lupa, suka rewel ya mau gimana lagi. Kita itu pokonya bilangi secara terus-menerus, kalo perlu berulang-ulang seperti itu. Ya memang kita itu kalo menghadapi lansia yang kita tau karakternya bagaimana wataknya mereka seperti apa ya harus sangat sabar.
Kuncinya kan cuman itu. suapaya kita tidak bosan untuk memberitahu dan juga harus selalu sabar.” (hasil wawancara dengan Bapak Katimin April 2014).
Perawat merupakan orang yang bertanggung jawab secara langsung terhadap pengurusan lansia selama tinggal di panti. Dalam melaksanakan tugasnya merawat para lansia yang tidak sedikit itu perawat perlu mendapatkan kepercayaan dan kepatuhan lansia untuk meringankan pekerjaannya, sebab tidak hanya mengurus seorang lansia namun harus mengurus lansia lainnya. Perawat perlu melakukan upaya komunikasi agar para lansia mau diajak bekerjasama sehingga pekerjaannya dapat berjalan dengan baik dan lancar. Kebutuhan lansia dapat terpenuhi dan tugas perawat dapat cepat selesai. Berikut ini hasil penelitian melalui wawancara dengan perawat terkait komunikasi perawat supaya lansia itu percaya dan mau mengikuti bimbingan yang perawat berikan.
b. Komunikasi Perawat pada Lansia agar Percaya dan Patuh
commit to user
Perawat dalam mempengaruhi lansia itu supaya patuh dan percaya yaitu dengan mendorong lansia untuk mengungkapkan perasaan dan persepsi pribadinya misalnya dengan cara mengajak lansia bicara lebih jelas dan sesuai dengan maksud tujuannya supaya tercipta rasa saling percaya pada lansia untuk mengungkapkan perasaannya kepada perawat.
Berdasarkan penuturan yang disampaikan Saudari Christy di bawah ini :
”Kalo kita kan sudah baik sama mereka ya nanti mereka juga akan patuh. Kan kita sudah deket sama mereka kita ajakin ngobrol pokoknya kita baik sama mereka. Dan mereka yang sudah kita rawat akan mau percaya sama kita. Itu mereka juga dengan sendirinya sudah mengerti.” (hasil wawancara dengan Saudari Christy April 2014).
Ada diantara lansia itu yang sudah patuh dan percaya dengan perawat yang bekerja melayani para lansia. Mereka sudah menyadari akan tugas dan kewajiban para perawat tersebut dan menyerahkan segalanya kepada perawat tersebut. Seperti ungkapan Ibu Narti berikut ini :
”Kalo supaya patuh gitu ya engga ya Mas, cuman mungkin ya karena saya ini sebagai perawatnya mereka ya dengan sendirinya mereka itu menghormati saya dan mau percaya pada saya gitu. Ya pokoknya selama dia benar ya saya tidak masalah ya kalo salah nanti saya yang membenarkan ya itu namanya tidak harus patuh dengan saya gitu kan engga. Kan kalo saya ya memahami keadaan orang tua dari kemampuannya kan lain-lain. Biasannya ya pas dibilangin, ya kalo sudah gak kuat ya duduk saja.” (hasil wawancara dengan Ibu Narti April 2014).
Ibu Partinah juga mengatakan perihal yang sama :
”Gak musti harus patuh. Pokok e di sini itu kan Mbah - Mbah e syarat - syarat sudah ada sebelum masuk ke sini. Ya itu harus nurut aturane itu.” (hasil wawancara dengan Ibu Partinah April 2014).
Tidak berbeda pula yang diungkapkan oleh Bapak Suprihadi :
“Kalo itu nek aku sendiri begini Mas, nek supaya dia percaya sama kita ya kita dekati. Yang mengurus kesehariannya lansia kan kita,
commit to user
jadi kalo ada apa-apa kan yang dipanggil nanti juga kita. Jadi tentu saja kita juga harus siap, dan mereka juga mau tidak mau pasti juga percaya sama kita. Seolah-olah begini, yang bisa mengerjakan itu kita sebagai perawatnya.” (hasil wawancara dengan Bapak Suprihadi April 2014).
Perawat juga selalu berupaya untuk bersikap baik dalam melayani maka lansia yang dirawat akan menghargai perlakuan tersebut. Dan pentingnya diberikan contoh keteladanan supaya lansia semakin yakin sehingga percaya dan patuh dengan perawat. Seperti dikutip dari perkataan Bapak Katimin :
“Ya kalo menurut saya itu dengan memberi contoh seperti misalkan lansia nya itu meminta sesuatu sama saya ya saya bantu saya yang belikan. Misalnya beli ini harganya sekian nanti uang nya masih percaya sama kita, ya patuh juga kalo itu tentang yang baik mereka ya nurutlah sama kita.” (hasil wawancara dengan Bapak Katimin April 2014).
Pernyataan yang sama dilontarkan oleh Bapak Margito :
”Ya kita harus beri contoh. Ya misalnya kalo saya mau ngasih dia itu ya kita harus beri contoh supaya dia mau mengikuti.” (hasil wawancara dengan Bapak Margito April 2014).
Dan kemudian dilanjutkan ungkapan serupa dari Bapak Bimo :
”Itu kita dengan tindakan, umpamanya nanti setelah makan piringnya di bawa ke sana di depan gitu itu nanti kita ya lihat nanti udah di bawa ke depan atau engga. Kadang itu ada mereka yang mau nganter sendiri itu ada. Kalo gak ada yang nganter ya kita ambil. Tapi kebanyakan mereka sudah pada tau. Tinggal sok terkadang ada juga saat mereka itu males itu ada juga.” (hasil wawancara dengan Bapak Bimo April 2014).
commit to user
Sedangkan menurut Ibu Nurmiasih sedikit berbeda menanggapi hal tersebut :
”Itu agak sulit juga Mas, kalo soal patuh itu dia pasti lebih percaya sama anaknya daripada kita yang merawat di sini. Kalo sudah tua kan ada agak dimensia ya itu terus gak percaya kalo barangnya hilang itu pasti suka nuduh seperti itu kan namanya sudah tidak percaya kan Mas? Mbahnya lebih percaya sama anaknya walaupun anaknya tidak pernah ada merawat tapi tetep perawat disini tidak mudah dipercayai olehnya.” (hasil wawancara dengan Ibu Nurmiasih April 2014).
Yang membuat lansia sehingga percaya serta patuh pada peraturan yang perawat berikan salah satunya karena kedisiplinan dari perawat itu sendiri. Hal tersebut yang dikatakan oleh Ibu Sri Saryati :
”Ya disiplinnya aja. Yang saya ambil dari perawat karena disiplin, karena ada peraturan dari kantor ya saya mengikuti itu. Saya sudah menyadari sendiri gitu Iya ya saya mengikuti dengan sadar sendiri.” (hasil wawancara dengan Ibu Sri Saryati April 2014).
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Bapak Ryanto :
”Ya saya itu kalo menganggap itu memang benar ya saya ikuti saja.
Kalo memang sudah peraturannya ya saya akan ikuti dan mematuhi. Tidak hanya dengan perawat tapi dengan semuanya juga.” (hasil wawancara dengan Bapak Ryanto April 2014).
Pernyataan yang sama disampaikan oleh Ibu Kadini :
”Yen kulo niku ngenteniki. Ini kalo saya turuti itu bener apa engga.
Kalo bener ya saya turuti ya gak bener ya saya gak turuti (Kalo saya itu begini. Ini yang saya ikuti benar atau tidak. Kalo benar ya saya akan ikuti, yang tidak benar saya tidak akan ikuti).” (hasil wawancara dengan Ibu Kadini April 2014).
Berdasarkan wawancara tersebut menunjukkan bahwa perawat tidak dapat memberikan keputusan sesuai dengan kehendaknya sendiri.
commit to user
Lansia mengikuti aturan dan mau percaya apabila menurutnya benar dan sesuai dengan peraturan dari pengurus panti.
Lansia yang setiap hari mendapat pelayanan dari perawat, mempercayakan semuanya kepada perawat. Oleh karenanya, segala kebutuhan yang menyangkut masalah pengasuhannya selama di panti dapat ia ikuti. Hal ini disampaikan oleh lansia Ibu Maria, yaitu :
”Perawate mboten usah merintah geh sampun ngertos piyambak, kulo geh percaya ngoten pun (Perawat tidak usah memberi perintah saya sudah tahu sendiri, saya sudah percaya begitu aja).” (hasil wawancara dengan Ibu Maria April 2014).
Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat dianalisis bahwa dalam pergaulan sehari-hari para lansia tentunya mempunyai permasalahan dalam arti konflik dengan sesama lansia/klien atau dengan petugas panti.
Konflik disini terbagi dua dan sering terjadi, yakni konflik ringan dan konflik berat. Konflik ringan misalnya karena adanya kesalahpahaman, sedangkan konflik berat, mulai dari saling mengejek sampai dengan terjadinya perkelahiaan.
Menurut Hurlock (1994 : 23), bahwa perlunya bimbingan sosial dilakukan bila ada permasalahan yang harus segera diselesaikan. Misalnya konflik antara sesama lansia/klien. Dalam penyelesaikan konflik tersebut penyelesaianya dengan mengambil satu per satu lansia tersebut dan ditanya tetang pokok permasalahannya, setelah keterangan didapat dari keduanya kemudian petugas panti mendamaikan mereka (lansia yang berselisih). Bila perawat panti tak dapat menyelesaikan masalah ini sendiri, maka ia melakukan koordinasi dengan petugas panti untuk
commit to user
memanggil keluarga dari lansia/klien yang bersangkutan untuk mencari jalan keluar dari permasalahan ini dengan mengadakan Case Conference kecil. Case Conference kecil ini biasanya beranggotakan dua sampai tiga orang perawat panti. Tujuannya untuk menggali sebab terjadinya konflik antar klien/lansia, kemudian dicari pemecahannya dengan jalan mendamaikannya.
Perawat setelah mampu membuat lansia mau percaya dan mengikuti aturan dari perawat perlu juga melatih kemandirian pada diri lansia. Kemandirian pada lansia dapat diajarkan kepada lansia yang masih mampu secara fisik dan mempunyai keinginan untuk tidak bergantung kepada perawat atau orang lain di sekitarnya. Sebab ketergantungan lanjut usia terjadi ketika mereka mengalami penurunan fungsi luhur/pikun atau mengidap berbagai penyakit.
Lanjut usia dapat dikategorikan mempunyai tingkat kemandirian tertinggi adalah lanjut usia yang secara fisik kesehatannya masih prima, lanjut usia yang sehat baik secara fisik mapun kejiwaan.
Tingginya tingkat kemandirian mereka diantaranya karena orang lanjut usia telah terbiasa menyelesaikan pekerjaan di rumah tangga yang berkaitan dengan pemenuhan hayat hidupnya.
Kemandirian bagi orang lanjut usia dapat dilihat dari kualitas hidup. Kualitas hidup orang lanjut usia dapat dinilai dari kemampuan melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari. Aktivitas Kehidupan
Kemandirian bagi orang lanjut usia dapat dilihat dari kualitas hidup. Kualitas hidup orang lanjut usia dapat dinilai dari kemampuan melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari. Aktivitas Kehidupan