• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. metode wawancara terhadap beberapa responden, yaitu perawat dan lansia yang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. metode wawancara terhadap beberapa responden, yaitu perawat dan lansia yang"

Copied!
54
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user 72 BAB III

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dalam bab ini dijelaskan hasil penelitian yang telah dilaksanakan melalui metode wawancara terhadap beberapa responden, yaitu perawat dan lansia yang ada di Panti Wredha Dharma Bhakti Kasih Surakarta yang beralamat di Jl.

Kalingga Utama VI, Bayan RT.07 RW.27 Keluruhan Kadipiro Kecamatan Banjarsari Kodya Surakarta.

Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling, yaitu cara pengumpulan data yang dipilih dengan pertimbangan dan tujuan tertentu. Adapun responden dalam penelitian ini adalah responden yang terdiri dari perawat yang bekerja di Panti Wredha Dharma Bhakti Kasih Surakarta dan untuk lansia, mereka yang dipilih sebagai responden merupakan lansia dengan kriteria-kriteria tertentu yang dapat diambil datanya berdasarkan pertimbangan dari peneliti.

A. Karakteristik Responden

Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 14 orang, 9 orang perawat panti dan 5 orang lanjut usia. Untuk lebih jelasnya, berikut peneliti sampaikan karakteristik dari responden tersebut :

1. Perawat

Karakteristik responden perawat menurut nama, jenis kelamin, usia, agama, pendidikan, status dan alamat tempat tinggal sebagai berikut :

(2)

commit to user a. Indriyanti

Ibu yang berumur 43 tahun bekerja sebagai perawat sudah selama 1 tahun lebih. Beliau beragama Katolik dan tinggal di daerah Boyolali, orangnya baik dan juga ramah. Walaupun hanya tamatan SMA, beliau begitu telaten dalam merawat para lansia. Suaminya sudah meninggal, sehingga ia mencari tambahan uang dengan bekerja sebagai perawat di panti wredha. Setelah anaknya sudah besar beliau kembali bekerja merawat lansia, karena dulu beliau sempat berhenti bekerja untuk mengurus anaknya yang waktu itu masih kecil-kecil.

b. Narti

Ibu Narti berumur 43 tahun dan beliau seorang yang beragama Katolik. Beliau memiliki pengalaman pernah bekerja di bidang pekerjaan sosial karena sempat mengenyam pendidikan yang sejenis, yaitu di bidang keperawatan. Beliau tinggal di daerah Colomadu dan sudah bekerja sebagai perawat selama 5 tahun. Sempat berhenti bekerja setelah menikah dan memiliki anak. Tidak terlalu lama setelah itu, beliau memutuskan untuk kembali bekerja menjadi perawat lagi. Saat ini sudah 1 tahun berjalan, dan beliau masih bekerja merawat lansia di panti wredha.

c. Christy

Saudari Christy merupakan perawat yang paling muda di panti wredha, umurnya baru 17 tahun. Dia seorang Katolik yang berasal dari Kupang, merantau sampai ke Surakarta agar dapat melanjutkan sekolah setelah lulus SMA. Ia memutuskan untuk bekerja merawat lansia untuk

(3)

commit to user

mencari pengalaman kerja sekaligus belajar merawat lansia seperti bidang yang akan digelutinya nanti.

d. Margito

Bapak Margito merupakan perawat yang sudah bekerja cukup lama di panti wredha, yaitu sekitar 3,5 tahun. Di usianya yang sudah mencapai 50 tahun, beliau masih giat bekerja merawat para lansia. Beliau seorang yang beragama Katolik yang sabar dan pengertian. Pendidikan terakhir yang beliau tempuh hanya sampai bangku SMA. Beliau termasuk orang yang gigih dalam bekerja, sebab meskipun tinggalnya jauh di daerah Wonogiri tapi dalam bekerja beliau tetap semangat dan menjalankan tugasnya dengan baik dan telaten.

e. Bimo Hary Yuwono

Bapak Bimo saat ini berumur 56 tahun dan masih aktif bekerja merawat lansia di panti wredha. Beliau seorang Katolik yang penyabar dalam mengurus lansia. Setelah menikah dan memiliki anak, beliau memutuskan mencari pekerjaan sampai akhirnya bekerja di panti wredha.

Awalnya beliau hanya pegawai serabutan, sebab pendidikannya hanya sampai SMA. Tapi setelah sekian lama bekerja di panti wredha, kemudian diangkat sebagai pegawai tetap untuk merawat para lansia. Bapak Bimo yang tinggal di daerah Kertonatan ini sudah bekerja sebagai perawat selama 2 tahun.

(4)

commit to user f. Bernike Nurmiasih

Ibu yang sering disapa Ibu Mia atau Ibu Nur ini orangnya baik dan juga ramah. Sebagai seorang yang beragama Katolik, dia selalu mengingatkan kepada lansia untuk selalu dekat dengan Tuhan dengan mengikuti kegiatan keagamaan di panti. Saat ini beliau berumur 38 tahun, sudah menikah dan dikarunia seorang anak. Beliau yang pernah belajar di bidang keperawatan ini tinggal di daerah Jebres. Ia mengaku betah dan senang bekerja merawat lansia di panti, sebab selain mendapatkan pengalaman menarik dari para lansia, sambil bekerja ia juga mempunyai banyak teman yang bisa diajak bercanda maupun bercerita. Selain itu beliau selama bekerja seperti merasa memiliki kedekatan dengan para lansia, sehingga sudah menganggapnya seperti orang tuanya sendiri.

g. Emiliana Partinah

Ibu Partinah berumur 62 tahun, dan merupakan perawat senior diantara perawat lainnya, sebab beliau lulusan akademi keperawatan sehingga memiliki keahlian di bidang perawatan pasien. Beliau sudah bekerja selama 7 tahun di panti wredha. Orangnya baik dan seorang Katolik yang taat. Beliau tinggal di Colomadu, dulunya bekerja di rumah sakit Brayat sebagai perawat. Setelah pensiun dari pekerjaannya di rumah sakit Brayat, kemudian beliau mendapat panggilan untuk bekerja merawat para lansia di panti wredha. Beliau merawat para lansia dengan penuh perhatian layaknya merawat orang tuanya sendiri.

(5)

commit to user h. Suprihadi

Bapak Suprihadi perawat yang ulet dan ramah. Saat ini berumur 54 tahun, dan dia seorang yang beragama Katolik. Setelah menikah dan dikaruniai anak, beliau memutuskan untuk mencari pendapatan yang lebih baik. Sampai akhirnya pria yang beralamat di Jebres ini mendapatkan pekerjaan di panti wredha. Beliau hanya tamatan SMA dan awalnya bekerja bukan sebagai perawat panti, melainkan hanya tenaga bantu-bantu saja. Sampai setelah sekian lama belajar dari pengalaman selama membantu dan berkat diajarkan teman-teman perawat akhirnya diangkat sebagai pegawai tetap yang bertugas merawat lansia di panti.

i. Petrus Katimin

Bapak Katimin sudah berumur 62 tahun, tapi tetap semangat bekerja merawat para lansia. Pria yang beragama Katolik ini orangnya baik dan sedikit tegas. Setelah menikah dan memiliki anak yang saat ini sudah besar, memotivasi dirinya untuk bekerja lebih baik untuk menyekolahkan anaknya. Sebab beliau tidak ingin anaknya hanya mengenyam pendidikan sampai SMA seperti dirinya. Maka mau tidak mau Bapak Katimin mencari pekerjaan yang lebih baik sampai akhirnya diterima untuk merawat lansia di panti wredha. Meskipun beralamat di Wonogiri, beliau tidak keberatan untuk jauh bekerja demi mencukupi kebutuhan keluarganya. Bahkan saat ini sudah 10 tahun lamanya beliau bekerja sebagai perawat di panti wredha tersebut.

(6)

commit to user 2. Klien/Lansia

Karakteristik responden lansia menurut nama, jenis kelamin, usia, lama tinggal di panti, agama, status dan alamat sebagai berikut :

a. Kadini

Ibu Kadini merupakan salah satu lansia puteri, saat ini beliau berusia 78 tahun dan sudah menetap selama 13 tahun di Panti Wredha Dharma Bhakti Kasih Surakarta. Ibu Kadini sebelum tinggal di panti wredha, dulunya tinggal di daerah Batu Retno, Wonogiri. Ibu Kadini seorang Katolik, sehingga atas saran dari seorang Romo beliau ditawarkan untuk tinggal di Panti Jompo agar ada yang mengurus di masa tuanya nanti. Beliau tidak berumah tangga dan sudah tidak memiliki keluarga yang bakal mengurus untuk kebutuhannya sehari-hari. Atas dasar kemauannya sendiri, akhirnya Ibu Kadini mau menerima saran dari Romo dan memutuskan untuk tinggal di Panti Wredha Dharma Bhakti Kasih Surakarta.

b. Maria Magdalena Muginah

Ibu Maria saat ini berusia 79 tahun dan sudah menetap di Panti Wredha Dharma Bhakti Kasih Surakarta sudah sekitar 1,5 tahun. Ibu Maria sebelum tinggal di panti wredha, dahulunya tinggal di daerah Banyuagung Surakarta. Ibu Maria seorang yang beragama Katolik, sehingga beliau memutuskan untuk mencari tempat persinggahan masa tua di panti wredha yayasan umat Katolik. Oleh karena Ibu Maria tidak memiliki anak ataupun keluarga yang lain juga tidak diketahui

(7)

commit to user

keberadaaanya, sehingga beliau memutuskan sendiri untuk menghabiskan masa tuanya di panti jompo.

c. Sri Saryati

Ibu Saryati usianya sudah 73 tahun, dan merupakan salah seorang lansia puteri yang beragama Islam. Beliau sudah tinggal di panti wredha selama 3 tahun. Beliau merasa nyaman tinggal di panti tersebut walaupun bernuansa Katolik. Ibu Saryati dulunya tinggal di daerah Purbowardayan, dan memutuskan tinggal di panti karena sudah tidak ada yang mengurusnya di rumah. Suaminya sudah meninggal dan seorang anaknya bekerja di luar kota sehingga tidak memiliki waktu untuk mengurusnya lagi, setelah itu beliau dititipkan di Panti Wredha Dharma Bhakti Kasih Surakarta.

d. Riyanto

Bapak Riyanto merupakan salah satu penghuni di Panti Wredha Dharma Bhakti Kasih Surakarta di bangsal putra. Usia beliau saat ini 62 tahun, sebelum masuk panti dulunya tinggal di daerah Banyuanyar. Bapak Riyanto baru tinggal selama 3 bulan di panti wredha. Bapak yang satu ini merupakan penghuni baru dan usianya lebih muda diantara lansia lain.

Bapak Riyanto yang juga seorang Katolik rutin mengikuti kegiatan kerohanian selama tinggal di panti. Walaupun keluarga beliau masih ada, namun karena kesibukan pekerjaan istri dan anak beliau di luar kota sehingga beliau memutuskan untuk dirawat di panti agar ada yang mengurus segala kebutuhannya.

(8)

commit to user e. Slamet Kusumahadi

Bapak Slamet saat ini berusia 87 tahun dan sudah tinggal selama 2 tahun di Panti Wredha Dharma Bhakti Kasih Surakarta. Beliau tidak pernah bertemu dengan keluarganya lagi serta tidak ada yang mengurusnya di rumah, akhirnya beliau memutuskan agar dirawat di panti jompo. Sebelum masuk panti, dulunya beliau tinggal di daerah Grobakan Gading. Bapak Slamet ini beragama Katolik dan menemukan ketenangan dan sudah nyaman di panti wredha yang bernuansa Katolik, karena beliau juga rajin mengikuti siraman rohani yang diadakan di dalam lingkungan panti.

B. Komunikasi Persuasif Perawat dalam Memberikan Motivasi pada Lansia di Panti Wredha Dharma Bhakti Kasih Surakarta

Komunikasi pada lansia membutuhkan perhatian yang khusus, sehingga perawat perlu waspada terhadap perubahan fisik, psikologi, emosi dan sosial yang terjadi pada diri lansia yang berpengaruh terhadap pola komunikasinya. Tujuan komunikasi persuasif perawat adalah untuk mempengaruhi lansia agar dapat mendengarkan dan menjalankan apa yang disampaikan oleh perawat dengan baik, hal tersebut disampaikan melalui komunikasi verbal maupun komunikasi secara nonverbal untuk meyakinkan lansia.

Komunikasi persuasif perawat kepada lansia yaitu dengan memberi dukungan dan juga sentuhan sebagai wujud perhatian perawat pada lansia. Selain

(9)

commit to user

itu juga dengan memberikan motivasi serta semangat kepada lansia untuk melakukan hal-hal yang bersifat positif.

Selama lansia dirawat di panti wredha, mereka tidak hanya dicukupi kebutuhan secara fisik melainkan dipersiapkan juga kebutuhan mentalnya melalui motivasi yang perawat selalu berikan disela-sela mengurus lansia. Hal tersebut diungkapkan oleh Ibu Narti :

“Iya, tentu adalah itu. Upaya perawat supaya lansia selalu semangat menjalani hidup di panti dengan diberikan motivasi-motivasi.”(hasil wawancara dengan Ibu Narti April 2014).

Hal senada diungkapkan oleh Saudari Christy bahwa :

“Iya, di sini perawat juga memberi motivasi kepada Mbah e supaya tetap harus semangat supaya senang dalam menjalani kehidupan walaupun di panti.” (hasil wawancara dengan Saudari Christy April 2014).

Dari pernyataan di atas, dibenarkan oleh lansia Ibu Sri Saryati yaitu :

”Oiya, iya itu jelas. Kalo itu memberi motivasi kepada saya supaya semangat sudah jelas.” (hasil wawancara dengan Ibu Sri Saryati April 2014).

Berdasarkan wawancara tersebut di atas dapat diketahui bahwa memang selama tinggal di panti para lansia mendapatkan motivasi dari perawat. Tujuan perawat memberikan motivasi kepada para lansia supaya mereka tetap bersemangat dan betah menjalani kehidupan di dalam panti.

Perawat memberikan motivasi pada lansia agar semangat dalam menjalani kehidupan selama di panti, hal tersebut merupakan tugas perawat selain tugas pokok yang ia jalani setiap hari. Dengan memberikan motivasi kepada lansia, diharapkan nantinya lansia akan lebih kuat, lebih bersemangat, masih memiliki gairah hidup dalam menjalani aktivitasnya. Seperti perkataan perawat yang disampaikan oleh Ibu Indriyanti :

(10)

commit to user

“Iya termasuk. Misal disini itu ada Mbah nya yang agak nglokro (malas) gitu ya. Kok kepalaku sering pusing terus seperti itu, obat itu gak yang utama. Memang dia bisa obat kan ya, tapi kan obat bahaya juga buat ginjalnya. Sudah tua kan harus mengurangi obat karena ginjal nya tidak kuat. Ya itu kita motivasi dia, pusing itu bisa sembuh kalo berpikirnya yang positif. Ya ngasih kayak menasehati ke orang tua gitu lho.” (hasil wawancara dengan Ibu Indriyati April 2014).

Hal ini didukung pengakuan dari lansia Ibu Maria yaitu :

”Inggih, dipun paringi motivasi ngoten. Kapengene kulo diparingi berkah sehat bagas waras. Mboten ngantos keset, supados kulo niku saget mandiri. (Iya, diberikan motivasi gitu. Keinginan saya diberikan kesehatan lahir maupun batin. Tidak sampai malas, supaya saya itu bisa mandiri).”

(hasil wawancara dengan Ibu Maria April 2014).

Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat kita ketahui bahwa motivasi yang perawat berikan untuk memberikan semangat hidup pada diri lansia.

Motivasi yang perawat berikan biasanya hanya berupa nasehat dan anjuran kepada lansia agar tidak memikirkan hal-hal berat, misalnya yang terkait masalah keluarga. Lansia diarahkan untuk selalu tenang dan sabar menjalani kehidupan di panti. Pengakuan dari Bapak Bimo yang mengatakan bahwa :

“Itu kalo saya tergantung dari klien nya sendiri, kadang kalo mereka ada keluhan soal keluarga atau soal kesehatan atau apa yang kita mendorong supaya tetap semangat menjalani hidup.” (hasil wawancara dengan Bapak Bimo April 2014).

Hal itu dibenarkan dalam pernyataan Bapak Margito :

“Ah ada, umpamanya itu kalo pas lagi nunggu anaknya. Ya saya itu cuman nasehati saja, "Yang sabar Mbah, anaknya itu kan pasti sedang bekerja nanti kalo pas udah gak kerja lak yo mampir ke sini", ya salah satunya ya begitu. Kalo yang sering sakit itu juga yang sabar namanya penyakit itu kalo mau sembuh ya bertahap semuanya kan pake proses.” (hasil wawancara dengan Bapak Margito April 2014).

Dari apa yang disampaikan perawat di atas, diakui oleh lansia Bapak Slamet dalam pernyataan :

(11)

commit to user

“Inggih. Kulo niki dipun kandani supados sehat bagas waras. Mboten mikir seng abot-abot, nopo malih sampe ngrepoti wong liyo. Perawat motivasi kulo ngoteniku. (Iya. Saya dikasih tahu supaya selalu sehat lahir dan batin.

Jangan sampe memikirkan yang berat-berat. Jangan sampai merepotkan orang lain. Perawat memotivasi saya seperti itu).” (hasil wawancara dengan Bapak Slamet April 2014).

Lansia diarahkan perawat agar betah tinggal di panti dengan diberi motivasi untuk selalu bersyukur. Diarahkan agar selalu berpikiran yang positif dan melakukan kegiatan yang bermanfaat di hari tua. Berikut ini penuturan Ibu Nurmiasih :

“Iya ada, disini perawat juga kadang memberikan motivasi kepada lansia agar lansia itu selalu senang dan betah tinggal di Panti.” (hasil wawancara dengan Ibu Nurmiasih April 2014).

Pernyataan yang sama diungkapkan oleh Bapak Katimin :

“Ya itu juga termasuk, kadang-kadang ya saya dorong untuk tetap semangat. Tapi ya namanya orang tua sok kadang ya gak mau nurut, waktu mau diajak untuk supaya semangat.” hasil wawancara dengan Bapak Katimin April 2014).

Perawat dalam memberikan motivasi kepada lansia juga termasuk dengan memberikan dukungan berupa bimbingan secara spiritual. Hal tersebut juga dapat memberikan dorongan semangat kepada lansia agar selalu kuat menjalani kehidupan di panti. Dalam hal ini Ibu Partinah mengatakan bahwa :

“Iya pokoknya kita juga memberikan lansia itu untuk berfikir yang baik- baik. Lansia lebih diarahkan untuk mengikuti kegiatan keagamaan supaya lebih tenang. Diajak untuk banyak-banyak mendekatkan diri, berdo‟a pada Tuhan. Kalo sudah tua itu jangan berfikir yang macem-macem, dikasih tau berfikiran yang jelek-jelek itu kan tidak baik.” (hasil wawancara dengan Ibu Partinah April 2014).

Hal tersebut diakui seorang lansia yang diungkapkan oleh bapak Ryanto bahwa :

“Kalo soal memberikan motivasi itu perawat juga berikan, bisa juga melalui misalnya ketika mengikuti siraman rohani, yang biasanya setiap

(12)

commit to user

hari itu memberikan semangat buat supaya saya lebih mendekatkan diri dengan Tuhan. Saya diajak supaya berpikir yang baik, disuruh supaya saya itu menjalankan kegiatan agama biar hati saya tenang.” (hasil wawancara dengan Bapak Ryanto April 2014).

Berdasarkan wawancara tersebut menunjukkan bahwa perawat juga memotivasi lansia dalam kegiatan spiritual adalah dengan memberi perhatian, mendorong lansia mengikut kegiatan keagamaan dan menyediakan fasilitas yang dibutuhkan lansia untuk menjalankan ibadahnya.

Berkaitan degan apa yang sudah disampaikan di atas maka dapat dianalisis bahwa komunikasi persuasif perawat kepada lansia yaitu dengan memberi dukungan berupa motivasi sebagai wujud perhatian perawat pada lansia. Selama lansia dirawat di panti wredha, mereka tidak hanya dicukupi kebutuhan fisiknya saja melainkan dipersiapkan juga kebutuhan mentalnya melalui motivasi yang perawat selalu berikan disela-sela mengurus lansia.

Perawat senantiasa mempersuasi lansia yaitu dengan memberikan motivasi kepada lansia melalui cara-cara yang ramah serta luwes. Hal tersebut sesuai dengan yang dikatakan oleh Soemirat (1999 : 20), bahwa persuasi merupakan proses komunikasi yang bertujuan untuk mempengaruhi sikap, pendapat dan perilaku seseorang melalui cara-cara yang luwes, manusiawi, dan halus dengan akibat munculnya kesadaran, kerelaan dan perasaan senang serta adanya keinginan untuk bertindak sesuai yang dikatakan komunikator/persuader.

Tujuan perawat memberikan motivasi kepada para lansia supaya mereka tetap bersemangat dan betah menjalani kehidupan di dalam panti, hal tersebut merupakan tugas perawat selain tugas pokok yang ia jalani setiap hari. Dengan memberikan motivasi kepada lansia, diharapkan nantinya lansia akan lebih kuat,

(13)

commit to user

tenang, nyaman dan memiliki gairah hidup dalam menjalani aktivitasnya.

Motivasi yang perawat berikan berupa nasehat dan anjuran kepada lansia agar tidak memikirkan hal-hal berat, lansia diarahkan untuk tenang, sabar dan berpikiran yang positif dan melakukan kegiatan yang bermanfaat di hari tua.

Perawat dalam memberikan motivasi kepada lansia termasuk juga dengan memberi dukungan berupa bimbingan spiritual. Yaitu melalui kegiatan keagamaan yang rutin dilakukan di dalam panti.

Dalam pelaksanaan komunikasi persuasif kepada lansia, perawat memiliki teknik-teknik khusus berdasarkan pengalaman dan melalui belajar dari perawat lainnya. Meskipun teknik yang digunakan berbeda-beda namun tujuannya tetap sama, yaitu agar komunikasi yang dilakukan dapat berlangsung efektif dan lancar.

Berikut ini hasil wawancara dengan perawat, terkait teknik komunikasi yang dilakukannya dalam memotivasi lansia di Panti Wredha Dharma Bhakti Kasih Surakarta.

1. Teknik Komunikasi Perawat dalam Memotivasi Lansia

Teknik komunikasi yang perlu dilakukan perawat dalam memotivasi para lansia, yaitu dengan terlebih dahulu memahami karakter dari tiap lansianya tersebut. Tidak semua lansia itu mau memperhatikan ketika diberikan motivasi, selain pemahaman yang memadahi tentang karakteristik lansia, perawat juga harus mempunyai teknik-teknik khusus agar komunikasi yang di lakukan dapat berlangsung lancar dan sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Berikut ini beberapa teknik komunikasi persuasif yang digunakan

(14)

commit to user

perawat dalam memberikan motivasi kepada lansia berdasarkan hasil wawancara yang telah kami lakukan.

a. Menggunakan Bahasa Halus dan Ramah

Teknik komunikasi yang perawat gunakan dalam memotivasi lansia misalnya menggunakan bahasa yang halus, intonasi yang halus dan menghindari kalimat-kalimat yang bisa menyinggung perasaan lansia.

Seperti penuturan oleh Saudari Christy :

“Ya kalo kita bicara sama mereka ya kitanya baik, gak pernah kasar atau sampe keras gitu ya itu dengan bahasanya yang halus.“ (hasil wawancara dengan Ibu Christy April 2014).

Hal senada juga diungkapkan dalam pernyataan Bapak Bimo :

“Ya hanya secara lisan aja Mas, tidak ada bahasa isyarat atau apa gitu. Ya itu tadi tergantung sama Mbah-Mbahnya. Ya berdasarkan bahasanya mereka masing-masinglah. Kalo yang dari Jawa ya kita gunakan bahasa Jawa. Yang bahasa Indonesia ya kita berbahasa Indonesia. Tapi meskipun bahasa Indonesia, saya juga tetep coba jawab pake bahasa Jawa supaya Mbahnya kalo marah gak jadi marah karena gak begitu tau bahasanya kita.“ (hasil wawancara dengan Bapak Bimo April 2014).

Pernyataan mendukung apa yang disampaikan perawat, diungkapkan oleh lansia Bapak Ryanto :

“Ya begini seperti memberi semangat untuk tidak merasa apa dengan bahasa yang halus dan sopan sama saya, tidak merasa di sini itu merasa disingkirkan atau tidak merasa menjadi orang yang tersingkirkan. Nasehati dengan ramah, supaya kalo saya ini kan masih bisa mandiri, jadi kadang saja minta bantuan perawatnya. Ya karena baik saya ikuti, ya itu jalanin sendiri apa-apa masih bisa sendiri, mandi juga sendiri, jadi tidak banyak meminta pertolongan dari perawat.” (hasil wawancara dengan Bapak Ryanto April 2014).

Dari hasil wawancara tersebut di atas dapat diketahui bahwa teknik komunikasi yang perawat lakukan kepada lansia yaitu dengan berbicara

(15)

commit to user

menggunakan bahasa yang halus, sehingga lansia dapat mendengar dan menerima setiap masukan yang perawat berikan. Selain itu juga untuk menghargai lansia sebagai orang yang lebih tua maka berbicara secara halus akan lebih baik dilakukan dan lansia akan lebih mudah menerima dari apa yang telah disampaikan oleh perawat.

b. Disampaikan dengan Tegas

Selain perawat di panti harus bersikap ramah dalam merawat para lansia, namun sikap tegas juga perlu perawat tunjukkan apabila menemui lansia yang sulit diberi pengarahan. Sikap tegas ditunjukkan perawat agar lansia yang malas mau mengikuti saran dari perawat. Dalam hal ini komunikasi perawat perlu disampaikan secara berulang-ulang. Seperti yang diungkapkan oleh Ibu Narti :

“Ya diajari dengan komunikasi yang tegas kalo Mbah nya masih bisa kita harus bisa tegas, tapi kalo simbah e sudah lemah memang gak bisa ya halus. Kasih semangat supaya jangan takut jangan takut.“ (hasil wawancara dengan Ibu Narti April 2014).

Menurut Bapak Suprihadi dalam pernyataaanya :

“Komunikasi ya hanya biasa, tidak perlu isyarat-isyarat tertentu.

Soalnya mereka kan menganggap kita ini seperti anaknya sendiri, kalo dia menganggapnya lebih ke teman ya kita ngobrolnya layaknya dengan teman sendiri. Ya kita sesuaikanlah dengan latar belakang lansia yang sedang kita hadapi.” (hasil wawancara dengan Bapak Suprihadi April 2014).

Dari pernyataan perawat di atas, lansia Ibu Kadini mengatakan :

“Geh motivasine sae, keras ngoten geh wonten sok kadang menawi wonten sek angel. Keras e kados tegas bahasane, menawi dipun kandani radi ngeyel. Gur kendel kemawon, supados nurut ditegasi mawon. (Ya motivasinya baik, keras juga kalo ada yang susah.

Kerasnya seperti tegas dalam bahasa jika dibilanginya sulit. Cuman

(16)

commit to user

mengabaikan, supaya patuh ditegasi saja).” (hasil wawancara dengan Ibu Kadini April 2014).

Dari pernyataan wawancara di atas perawat dalam berkomunikasi pada lansia perlu juga adanya ketegasan. Ketegasan yang dimaksudkan adalah bersikap lebih keras tapi tidak dengan kasar atau lebih-lebih pada tindak kekerasan. Ketegasan yang dilakukan perawat tujuannya agar supaya lansia itu mau mengikuti aturan yang perawat berikan dan tidak bertindak seenaknya sendiri. Sikap tegas perawat tersebut ditujukan pada lansia yang malas, sulit untuk diatur, tidak taat dengan peraturan di panti maupun yag dianggap dapat mengganggu lansia lainnya.

c. Menghindari Perlakuan Kasar

Selama memberikan motivasi kepada lansia, perawat menghindari perlakuan maupun bahasa yang kasar. Lebih pada pendekatan kepada lansia agar dapat mendengarkan dengan baik dan memahami setiap perkataan yang selalu perawat berikan. Berikut pengakuan dari Ibu Nurmiasih :

“Ya itu mendekati Eyang nya terus kita aja komunikasi, terus mengajari yang sudah tidak mampu beraktivitas.“ (hasil wawancara dengan Ibu Nurmiasih April 2014).

Pernyataan juga disampaikan oleh Bapak Margito :

“Ya kita dengan dari hati ke hati lah. Kadang-kadang kan kita kasih tau dia juga mau, gak mau dengarin gak mau ngikutin. Ya nanti kita akan terus coba pokoknya yang sabar aja. Yang terpenting salah satunya ya sabar itu tadi.“ (hasil wawancara dengan Bapak Margito April 2014).

Berdasarkan pengakuan yang disampaikan perawat tersebut, lansia Bapak Slamet menuturkan bahwa :

(17)

commit to user

“Kulo niku mboten nate dipun kasari kalian perawat. Inggih menawi ngandani geh kantun sabar kantun alus kalian kulo. Menawi kulo salah geh dipun tegur, terus dipun nasehati ngoten kemawon (Saya itu tidak pernah dikasari oleh perawat. Apabila kasih tahu dengan sabar dan halus kepada saya. Kalo saya salah ya ditegur, terus dinasehati gitu aja).” (hasil wawancara dengan Bapak Slamet April 2014).

Dari hasil wawancara di atas diketahui bahwa perawat dalam menjalankan tugas dan pekerjaannya merawat lansia menghindari perlakuan kasar baik itu yang disengaja maupun tidak disengaja. Lansia meskipun terkadang bersikap cerewet, sulit untuk diatur dan sering lupa tetapi perawat sudah paham betul sikap tersebut dan lebih memilih bersabar dan memberikan nasehat yang baik.

d. Disampaikan pada Waktu yang Tepat

Perawat memberikan motivasi kepada lansia biasanya dilakukan pada waktu yang tepat, misalnya di pagi hari setelah lansia sarapan, pada saat lansia menikmati istirahat siang, atau ketika lansia sedang duduk- duduk santai. Dan dilakukan pada saat kondisi kejiwaan lansia juga sedang baik, misalnya ketika lansia merasa tenang atau pada saat lansia nampak ceria. Seperti pernyataan Bapak Katimin :

“Itu ya kalo kita pas senggang itu dengan kita mengajaknya ngobrol-ngobrol sama lansianya itu. Ya bahasanya yang halus, supaya dia ada interaksi dengan kita gitu.“ (hasil wawancara dengan Bapak Katimin April 2014).

Sama halnya dengan yang dilakukan Ibu Partinah :

“Ya itu mendekati Eyang nya kalo pas kita luang, terus kita aja duduk sambil kita komunikasi, sambil ngobrol-ngobrol seperti itu.“

(hasil wawancara dengan Ibu Partinah April 2014).

(18)

commit to user

Menurut apa yang disampaikan perawat di atas, didukung oleh pernyataan lansia Ibu Sri Saryati bahwa :

“Ya kalo mereka pas lagi sempat ya disapa dengan baik ya terus diajakin ngobrolnya ramah di nasehatin ya kalo sempat gitu. Ya karena perawat di sini juga sibuk ya Mas, karena jumlahnya sedikit dan pekerjaan mereka merawat Mbah-Mbah dari yang nyuci baju, bersihin kamar, nyuci piring gitu kan Mas. Ya sok aja itu nyamperin gitu aja, ngajak-ngajakin ngobrol sama kita nya.” (hasil wawancara dengan Ibu Sri Saryati April 2014).

Dari hasil wawancara di atas diketahui bahwa perawat disela-sela kesibukan atau ketika waktu senggangnya menyempatkan diri untuk bercengkrama dengan para lansia. Di waktu-waktu khusus seperti saat istirahat siang lansia, di waktu pagi setelah lansia sarapan, atau ketika lansia bersantai, perawat memberikan masukan, nasihat yang baik dan anjuran supaya lansia itu semangat dalam menjalani hidup.

e. Sabar dan Ikhlas

Lansia umumnya mengalami perubahan-perubahan sikap yang terkadang merepotkan dan kekanak-kanankan. Sikap lansia yang terkadang merepotkan seperti ngompol, bersikap cerewet, teriak-teriak, bahkan bertengkar dengan lansia lain seringkali membuat perawat merasa jengkel, namun perawat tetap dengan sabar dan ikhlas menghadapi persoalan tersebut. Perawat tetap berupaya selalu dengan kelembutan dan penuh kasih sayang berkomunikasi yang baik. Hal ini disampaikan oleh perawat Ibu Indriyanti, yang mengatakan bahwa :

“Ya lihat orang-orangnya, hu'um. Ya nek ini orangnya susah ya kita komunikasine ya jangan kaku jangan kasar gitu to. Kita ngomongnya yang halus nanti biar dia nurut. Ngajak komunikasi orang tua itu memang kudu sabar dan ikhlas. Tapi nek

(19)

commit to user

seumpamane dia itu cerewet itu yang susah. Ya misal itu Mbah nya agak cerewet ya, situnya juga agak kurang itu kasih taunya juga susah. Ya itu dengan ngomong halus, kita yang kudu sabar ya.

Mungkin tiap perawat punya caranya sendiri-sendiri. Yang penting tetep dengan ikhlas ngasih taunya.” (hasil wawancara dengan Ibu Indriyati April 2014).

Apa yang disampaikan Ibu Indriyant tersebut dibenarkan oleh lansia Ibu Maria yang mengatakan bahwa :

”Perawat wonten mriki niku menawi ngajak komunikasi kalian kulo niku kanti sabar, sikap e geh niku ramah. Ngajari kulo niku sing sae-sae, mboten gresulo kan kulo sok lali sampun pikun, geh rodo mboten krungu yen mboten banter. Kanti ikhlas sek ngerawat kulo wonten mriki, kulo geh seneng (Perawat disini itu mengajak komunikasi dengan saya itu sabar, sikapnya juga ramah. Mengajari yang baik-baik, tidak putus asa kan saya kadang lupa sudah pikun, Tidak dengar kalo tidak keras. Dengan ikhlas yang merawat saya di sini, saya merasa senang).” (hasil wawancara dengan Ibu Maria April 2014)

Dari hasil wawancara di atas diketahui bahwa perawat dalam menjalankan tugas dan pekerjaannya pastinya menemui banyak kendala.

Lansia terkadang bersikap kekanak-kanakan, tidak patuh dan merepotkan perawat yang mengurusi lansia tersebut. Perawat sadar betul pekerjaannya dalam merawat para lansia tidaklah mudah, apalagi jumlah lansia yang tinggal di dalam panti juga tidaklah sedikit. Hal ini yang membuat perawat harus memiliki kesabaran dan keikhlasan dalam mengurus lansia di panti.

Berdasarkan data yang diperoleh melalui wawancara di atas dapat dianlisis bahwa perawat perlu terlebih dahulu memahami karakter lansia agar berhasil dalam memotivasi para lansia. Perlunya perawat memiliki teknik-teknik khusus dalam memberikan motivasi agar komunikasi yang

(20)

commit to user

dilakukan dapat berlangsung lancar dan sesuai dengan tujuan yang diinginkan.

Berdasarkan data yang kami peroleh melalui hasi wawancara kepada perawat, beberapa teknik komunikasi yang perawat gunakan diantaranya adalah : (1) Perawat dalam berkomunikasi dengan lansia berbicara menggunakan bahasa yang halus dan ramah sebagai wujud menghargai lansia sebagai orang yang lebih tua, sehingga lansia dapat mendengar dan menerima setiap masukan yang perawat berikan. (2) Perawat dalam berkomunikasi pada lansia perlu juga adanya ketegasan.

Seperti yang diungkapkan dalam Potter-Perry (2005 : 301), komunikasi mengacu tidak hanya pada isi tetapi juga pada perasaan dan emosi dimana individu menyampaikan hubungan tersebut. Sikap tegas perawat hanya ditujukan pada lansia yang memang sulit untuk diatur dan dianggap dapat mengganggu lansia lainnya. (3) Perawat dalam merawat lansia menghindari perlakuan kasar, perawat harus mengerti dan paham betul terhadap sikap lansia yang terkadang berubah. (4) Perawat memberikan motivasi berupa nasihat dan anjuran di waktu-waktu khusus. (5) Perawat harus memiliki kesabaran dan keikhlasan selama merawat lansia, sebab berkurangnya fungsi tubuh seiring bertambahnya umur membuat beberapa diantaranya bersikap layaknya anak kecil. Seperti yang dikatakan oleh Bruner & Suddart (2001 : 188), bahwa komunikasi terhadap klien/lansia perlu dilakukan secara berulang-ulang, berurutan dan sederhana, hal ini membantu agar lansia dapat mengingatnya dengan baik. Selain teknik

(21)

commit to user

komunikasi yang perawat gunakan, kedekatan antara perawat dan lansia penting juga untuk dilakukan agar lansia mau menerima anjuran serta arahan yang perawat berikan. Kedekatan yang baik antara perawat dengan lansia, memudahkan bagi perawat dalam memberikan masukan berupa bimbingan maupun nasehat-nasehat yang baik untuk lansia tersebut.

Lansia akan lebih percaya dengan perawat yang selalu melayaninya dengan baik dan sudah akrab denganya, apa yang perawat sampaikan pada lansia maka akan diterima kemudian diikuti. Dengan sendirinya lansia akan menjalankan setiap arahan yang perawat berikan untuk kebaikannya dan orang-orang di sekitarnya.

2. Komunikasi Perawat dalam Melakukan Pendekatan Terhadap Lansia Pendekatan terhadap klien/lansia sudah dilakukan perawat sebelum lansia tinggal sebagai penghuni baru di dalam panti, yaitu melalui beberapa kali survey yang harus dijalani oleh lansia sebelum akhirnya diterima dan bisa tinggal di dalam panti. Apabila lansia tersebut memenuhi kriteria dan dianggap layak untuk menjadi penghuni baru di panti, maka selanjutnya lansia tersebut bisa tinggal dan menetap di panti. Seperti yang disampaikan oleh Bapak Bimo :

“Waktu sebelum masuk ada, tapi kan di sini sebelum masuk kan kita survey. Selama kita survey itu kita bisa lihat apakah lansia itu layak menjadi penghuni di Panti iya atau enggak? Kalo tidak layak untuk menghuni ya kita tidak menerima. Jadi yang sudah pernah datang kesini ya kita sudah pernah komunikasi sebelumnya. Ya kita ada survey dulu mulai dari kesehatan, bisa mandiri atau engga, jadi juga gak asal semua orang bisa masuk itu enggak. Ya itu dilakukan karena nanti takutnya bisa mengganggu lansia yang lainnya yang lebih dulu

(22)

commit to user

tinggal di sini. Karena menganggu itu tidak hanya secara fisik itu enggak, tapi juga secara kesehatan itu juga bisa. Itu bisa bikin kaget nanti efeknya bisa ke diare, magh, atau bisa ke sakit yang lainnya.”

(hasil wawancara dengan Bapak Bimo April 2014).

Hal senada juga diungkapkan oleh Bapak Suprihadi :

“Kalo pendekatan itu kita kan mau masuk ke sini kan kita pasti survey terlebih dahulu. Kita kan biasanya tanya-tanya soal latar belakanya tentang keluarga, anak-anaknya atau istrinya atau tentang pekerjaanya.

Ya kita ajakin dia bicara saja supaya nanti kalo bisa cocok terus misalnya bisa untuk tinggal di panti supaya bisa cepat akrab dengan perawat-perawat di sini seperti itu. Meskipun itu nanti gak cocok misalnya, kalo pun tetap bisa keterima tinggal di sini ya nanti kita coba untuk melakukan pendekatan secara pelan-pelan, lama kelamaan pasti kan bisa menjadi akrab dengan semuanya.” (hasil wawancara dengan Bapak Suprihadi April 2014).

Dari hasil wawancara di atas diketahui bahwa perawat melakukan survey kepada lansia yang akan tinggal di panti terlebih dahulu dengan melakukan serangkaian test dan mengajaknya berkomunikasi untuk membangun kedekatan dengan lansia tersebut.

Penghuni yang baru akan dikenalkan terlebih dahulu oleh perawat dengan lingkungan tempat tinggalnya di panti. Supaya lansia dapat segera beradaptasi dengan lingkungan barunya dan bisa berbaur dengan lansia lain.

Seperti yang disampaikan oleh Ibu Indriyanti bahwa :

“Ya kalo misalnya lansia yang baru datang dikenalkan dulu dengan tetangganya, lansia yang lain. Ya pendekatana ya dengan diajakin ngobrol-ngbrol aja dulu seputar Mbahnya suapaya lebih kenal soal dirinya, “darimana?, bisa jalan gak? Yah seperti perkenalan dulu lah seperti itu”. Sama perawat ya langsung ya, sambil jalan masa perawatan juga nanti jadi kenal.” (hasil wawancara dengan Ibu Indriyati April 2014)

Komunikasi yang dialakukan perawat dalam melakukan pendekatan kepada lansia bertujuan agar antara perawat dan lansia menjadi akrab satu dengan yang lain. Seperti yang diungkapkan oleh Saudari Christy :

(23)

commit to user

“Ya biasanya kalo kita selesai bekerja gitu diajakin ngobrol-ngbrol, supaya saling kenal jadi akrab dan tambah deket gitu.” (hasil wawancara dengan Ibu Christy April 2014).

Sedangkan menurut Bapak Margito mengungkapkan :

“Ya kalo saya itu ya berupaya untuk pendekatan terus. Pas kita sedang luang istirahat gitu ngajakin ngobrol-ngobrol itu sambil kita tanya ada keluahan-keluhan apa. Ya kita bikin suasananya supaya gak tertekanlah seperti itu. Kalo untuk lansia yang baru masuk atau orang baru ya seumpamanya kan kita belum tahu ya, dia kalo marah kalo rewel atau apa kan kita belum tahu. ya kita upayanya memantau terus.

Kalo seumpamanya sudah tau kebiasaanya begini begitu nanti kita menanganinya juga sudah ngerti. Biasanya kalo yang masih baru ya gak banyak macem-macem. Dulu ada yang masuk baru itu tidak mau makan sama sekali, mungkin merasa ditinggalkan sama keluarganya ya. Ya itu kita upayakan pendekatan khusus sampe akhirnya dia mau makan.” (hasil wawancara dengan Bapak Margito April 2014).

Hal tersebut diperjelas dengan pernyataan Ibu Sri Saryati :

“Kalo saya ya merasa dekat. Tapi kalo sama siapa, tidak ada yang paling deket sekali. Paling cuman rata-rata kedekatannya sama saja.”

(hasil wawancara dengan Ibu Sri Saryati April 2014).

Dari hasil wawancara di atas diketahui bahwa lansia baru diperkenalkan oleh perawat dengan lingkungan dimana ia akan tinggal. Dan diajak berkenalan dengan lansia lain untuk supaya bisa mengakrabkan diri dengan penghuni panti yang lainnya.

Menurut pengakuan salah seorang lansia, ia dapat cepat mengakrabkan diri dengan perawat-perawat lain. Bahkan dengan petugas lain sekalipun sebab kegiatan yang sering dilakukannya dalam membantu pekerjaan-pekerjaan di panti. Berikut ungkapan dari Ibu Kadini :

“Sinten? Kulo. Deket, semua deket kulo niku deket kalian sopo mawon.

Seng paling deket kalian Mbak Narti, Mbak Mia, Mbak siapa tuh Mbak Parni. (Siapa? Saya. Dekat, dengan semua dekat dengan siapa saja kalo saya itu dekat. Yang paling dekat dengan Mbak Narti, Mbak

(24)

commit to user

Mia dan dengan siapa itu namanya, Mbak Parti).” (hasil wawancara dengan Ibu Kadini April 2014).

Dari hasil wawancara di atas diketahui bahwa kedekatan salah seorang lansia terjalin sebab selama tinggal di panti ia yang ikut membantu perawat melayani segala kebutuhan lansia lain. Namun tetap merupakan tanggung jawab perawat apabila terjadi sesuatu pada lansia. Sehingga perlu adanya hubungan kedekatan antara lansia dengan perawat. Hal ini perawat lakukan diwaktu-waktu khusus atau di waktu sengang. Hal ini disampaikan oleh Bapak Katimin :

“Kalo pendekatan itu kalo kita itu pas lagi membersihkan kuku, pas memotong rambut. Ya kita lakukan pendekatannya seperti itu. Sambil kita melakukan tugas sebagai perawat. Kalo pas lagi sakit, kita menengok. Kalo sendiri seperti itu ya nanti pas kita tahu kita ajak ngobrol sama kita hibur begitu saja.” (hasil wawancara dengan Bapak Katimin April 2014).

Bagi perawat kedekatan dengan lansia penting dilakukan agar lebih tahu karakter lansia tersebut seperti apa. Yang biasa perawat lakukan saat melakukan pendekatan yaitu dengan mengajak bicara dengan bahasa yang halus, intonasi suara yang jelas dan sikap yang luwes kepada lansia. Dari pernyataan Ibu Nurmiasih bahwa :

“Ya diajak ngobrol-ngobrol, dibilangin sedikit-sedikit yang baik-baik dengan bahasanya yang luwes juga.” (hasil wawancara dengan Ibu Nurmiasih April 2014).

Sedangkan menurut Ibu Partinah :

“Ya itu kita sambil duduk, diajak ngobrol-ngobrol, dibilangin ini itu, pokonya pelan-pelan kita dekati supaya lansia akrab dengan kita.”

(hasil wawancara dengan Ibu Partinah April 2014).

Tidak jauh berbeda dengan lainnya, Ibu Narti menambahkan :

(25)

commit to user

“Ya biasanya diajakin ngobrol-ngbrol, sambil kita tepuk-tepuk bahunya ya sambil ada sentuhan lah. Sambil kita kasih semangat gitu- gitulah kepada Mbah e.” (hasil wawancara dengan Ibu Narti April 2014).

Dari hasil wawancara di atas diketahui bahwa perawat memiliki caranya sendiri dalam mendekati lansia untuk kemudian diberikan motivasi dan diarahkan untuk hal-hal yang bersifat positif. Salah satunya dengan memberikan dorongan kepada lansia untuk mengikuti kegiatan kerohanian.

Seperti lansia Bapak Ryanto mengakui kedekatannya dengan perawat yang selalu menginformasikan laporan tentang kegiatan kerohanian maupun adanya kunjungan :

“Ya saya selama ini merasa dekat dengan perawat di sini. Saya juga sering dibimbing untuk mengikuti misa, mengikuti siraman rohani.

Kalo besok mau kemana atau kunjungan dari mana itu saya juga diberitahu, juga dipersiapkan. Tidak ada yang paling deket. Jadi saya hanya merasa deket yang biasa saja gitu dengan saya Jadi sama gitu ya dengan perawat lain.” (hasil wawancara dengan Bapak Ryanto April 2014).

Dari hasil wawancara tersebut diketahui bahwa sebenarnya perawat juga selalu mengingatkan akan pentingnya kebutuhan rohani bagi lansia, salah satunya dengan membimbing lansia untuk mengikuti kegiatan keagamaan maupun siraman rohani dan menginformasikan kegiatan penting lain di dalam panti.

Lansia mengakui begitu dekat dengan perawat yang selalu membantunya, dan kedekatan dengan perawat tersebut seperti layaknya dengan anak sendiri. Kedekatan antara lansia dengan salah seorang perawat yang selalu merawat dan melayani segala kebutuhannya dengan sabar dan ikhlas. Pengakuan dari Bapak Slamet :

(26)

commit to user

“Geh celak, maksud ipun geh akrab. Geh kados anak piyambak, seng paling celak yen saiki niku kalian Bu Nur kalian Bu Narti. Tiyang kalih niku (Ya dekat, maksudnya ya akrab. Seperti anak sendiri, yang paling dekat kalo sekarang dengan Bu Nur dan Bu Narti. Dua orang itu).” (hasil wawancara dengan Bapak Slamet April 2014).

Hal yang sama disampaikan oleh Ibu Maria :

“Celak, kulo geh akrab ngoten to. Nek sakniki niku kalian Bu Narti lan Bu Nurmiasih tiyang kalih niku. Geh kados anakipun piyambak.

(Dekat, saya ya akrab gitu. Kalo sekarang itu dengan Bu Narti dan Bu Nurmiasih, dua orang itu. Sudah seperti anak sendiri).” (hasil wawancara dengan Ibu Maria April 2014).

Dari hasil wawancara tersebut kedekatan antara perawat dengan lansia yang terjalin baik dan semakin akrab, memudahkan bagi perawat dalam memahami suasana hati yang dirasakan oleh lansia. Perawat selain melakukan tugas dan pekerjaanya dalam merawat lansia, juga bertanggung jawab atas kondisi kejiwaan lansia.

Apabila lansia terganggu pikirannya dengan masalah-masalah yang dialaminya misalnya terkait masalah keluarga, penghuni lansia lain dengan perawat atau petugas panti lainnya, hal itu dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan lansia yang berdampak pada kesehatannya diri lansia tersebut nantinya. Maka upaya komunikasi perawat dalam memahami suasana hati lansia ini sangatlah penting dilakukan, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan perawat tersebut terjadi.

a. Perawat dalam Memahami Suasana Hati Lansia

Perawat dalam memahami suasana hati lansia yaitu dengan memahami atau mengetahui dengan pasti perasaan lansia pada situasi tertentu misalnya jika lansia tiba-tiba merenung, menyendiri, lemas, serta

(27)

commit to user

tidak bergairah atau bisa juga melalui ekspresi wajah yang ditunjukkan.

Seperti hasil wawancara dengan Ibu Indriyanti :

”Ya dilihat dari perubahan sikapnya dia, dari omongannya dari ekspresi wajahnya.” (hasil wawancara dengan Ibu Indriyanti April 2014).

Perawat yang sudah terbiasa merawat lansia setiap hari pastinya begitu mengenal dan mengetahui perubahan sikap maupun tingkah laku ketika suasana hati lansia sedang tidak menentu. Hal ini diungkapkan oleh beberapa perawat di panti. Seperti yang dikatakan Ibu Nurmiasih :

”Ya bagaimana ya itu, ya sedikit banyak kita tahu kebiasaan lansia kita bisa lihat dari tingkah laku maupun ekspresi wajahnya. Nanti terus kita dekati supaya terhibur, ya paling diajakin ngobrol- ngobrol aja supaya tidak jadi pikiran lagi. (hasil wawancara dengan Ibu Nurmiasih April 2014).

Sama halnya dengan pendapat di atas, Ibu Partinah juga mengatakan bahwa :

”Akan kelihatan, ya kita kan sering mengamati perubahan dari sikap dan tingkah laku tau dari ekspresi wajah. Ya kita dengarkan kita kasih tau supaya tetap tenang.” (hasil wawancara dengan Ibu Partinah April 2014).

Dari hasil wawancara di atas diketahui bahwa tugas perawat juga termasuk mengamati kondisi kejiwaan pada diri lansia, dimana apabila terjadi sesuatu maka akan terlihat dari ekspresi maupun perubahan sikap yang lansia tunjukkan.

Selain melalui pengamatan tentang perubahan yang terjadi pada lansia, perawat juga perlu aktif dalam memahami suasana hati lansia yaitu dengan melalui pendekatan terhadap lansia. Saat itu perawat akan bertanya kepada lansia agar dapat diketahui apa yang sedang lansia alami serta

(28)

commit to user

dicari tahu penyebabnya. Seperti penuturan Ibu Narti dalam wawancara berikut :

”Ya itu kita lihat pas dia ada sesuatu,"Ada apa mbah?" ditanya.

Terus pas dia sendiri gitu pas gak ada yang ajak ngomong gitu.

Ada yang kayak itu gitu Mas, ya kita deketin. Kita nanti ajakin dia ngobrol supaya mau cerita gitu.” (hasil wawancara dengan Ibu Narti April 2014).

Hal senada juga disampaikan oleh Saudari Christy :

“Ya kan kalo mereka lagi sedih atau sedang merasa bagaiman kita kan juga biasanya kita amati bisa tahu gitu kan. Terus kan kalo kita deketin terus mereka cerita ya kita bilangin supaya jangan sedih lagi terus sambil kita hibur.” (hasil wawancara dengan Saudari Christy April 2014).

Dari hasil wawancara di atas dijelaskan bahwa perawat juga perlu mendekati lansia dan bertanya tentang keadaan lansia. Keluhan yang lansia rasakan atau yang dipikirkan lansia untuk dapat diketahui oleh perawat agar segera ditangani.

Perawat yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya terkadang sampai tidak mengetahui atau kurang peka tentang suasana hati yang dialami lansia. Perawat justru mendapat laporan dari lansia lain yang peduli pada keadaan teman lansianya, biasanya mereka akan menceritakan hal tersebut kepada perawat yang saat itu bertugas. Seperti pada pernyataan Bapak Suprihadi :

”Biasanya begini Mas, kalo untuk soal itu biasanya pas kita lihat itu pasien menyendiri itu kita dekati. Atau pas mungkin mengobrol dengan temanya kan ya cerita-cerita soal permasalahan dengan teman-temannya terus nanti temannya yang sampaikan ke kita.

Atau kadang kita yang cari tahu dari temannya yang diberitahu tadi. Nanti kalo sudah tau apa dan bagaimananya terus kita nanti dekati, kita hibur suapaya lupa dengan masalanya tadi.” (hasil wawancara dengan Bapak Suprihadi April 2014).

(29)

commit to user

Lansia yang tinggal di panti terkadang juga merasa kangen dengan keluarganya yang ada di rumah. Ada kalanya lansia itu ingin sekali ditengok oleh sanak keluarganya di panti. Hal ini yang terkadang membuat suasana hati lansia yang tinggal di panti menjadi tidak nyaman, menjadi beban pikiran bagi lansia. Seperti yang diungkapkan oleh Bapak Margito :

”Oh kalo seperti itu biasanya kok merenung sendiri, atau gak mau makan seperti tadi, atau gak mau tidur. Itu kan pasti ada hal yang sedang dipikirkan. "Gak, bisa tidur." terus kita tanya,"Ada apa Mbah, kok gak mau tidur" dia bilang,"Kok anakku gak teko-teko?"

ya kan kita jadi tau masalahnya. Nanti selanjutnya sedapat kita ditenangkan hatinya supaya tidak terus tanya soal anaknya. Kita alihkan lah pikirannya ke hal lain.” (hasil wawancara dengan Bapak Margito April 2014).

Hal serupa dialami oleh Bapak Katimin :

”Ya saya harus dengan sabar. Kadang-kadang ya pas suasana hatinya sedang sedih atau sendiri hanya diem saja ya saya tanya, saya hibur supaya tidak sedih lagi. Kadang-kadang mengeluh,

"Kok anak saya tidak knjung kesini itu kenapa ya Pak?" Biasanya ya itu, soal keluarganya yang tidak kunjung datang untuk menengok. Ya saya beritahu, supaya sabar. Mungkin anaknya sedang sibuk, nanti kalo sudah waktunya ya pasti datang ke Panti untuk menengok ya cuman seperti itu. Pokoknya dialihkan lah supaya tidak memikirkan soal seperti itu. Biar betah biar gak jadi pikiran terus sama anak-anaknya.” (hasil wawancara dengan Bapak Katimin April 2014).

Lain halnya dengan yang dirasakan lansia penghuni di kelas VIP, dari pengakuan perawat tentang penghuni lansia yang tinggal di kelas VIP rata-rata mereka tidak banyak pikiran dan merasa santai saja, menikmati ketenangannya tinggal di dalam panti. Seperti yang dikatakan Bapak Bimo :

”Kalo yang saya temui di bagian saya yang di sana itu engga, mereka itu biasanya lebih enjoy. Kalo pendekatan paling itu kita

(30)

commit to user

dekati atau pas waktu siraman rohani itu kita bawa.” (hasil wawancara dengan Bapak Bimo April 2014).

Upaya yang perawat lakukan dalam memahami suasana hati lansia yaitu dengan menjalin komunikasi yang baik dengan para klien/lansia. Hal itu dilakukan perawat dengan selalu memberikan ketenangan jiwa pada lansia. Lansia diajak untuk memikirkan hal-hal positif, diberikan semangat dalam menjalani hidup, dibimbing dan diajarkan untuk supaya dapat mandiri.

b. Perawat dalam Memberi Ketenangan Jiwa pada Lansia

Lansia diajak untuk memikirkan yang positif. Mengesampingkan urusan yang dapat membebani pikiran. Menghindari supaya lansia tidak stres. Berikut pernyataan Ibu Nurmiasih :

”Ya itu tadi diajak ngobrol dan cerita-cerita, misalnya yang di rumah. Tapi hal yang positif saya diceritakan ke Eyang-Eyang kok anak saya begini-begini supaya Eyang bisa ikut tertawa gitulah.

Supaya mereka juga terhibur gitu Mas ya.” (hasil wawancara dengan Ibu Nurmiasih April 2014).

Begitu juga yang dikatakan oleh Ibu Indriyanti :

“Ya dikasih supaya dia memikirkan hal-hal lainnya. Kan ada mbah yang suka ngomel, ya dikasih nasihat aja seperti kita kasih nasihat ke orang.” (hasil wawancara dengan Ibu Indriyati April 2014).

Upaya yang sama dilakukan oleh Saudari Christy :

”Ya diajakin ngobrol-ngobrol aja supaya gak kepikiran yang lain.

Supaya si Mbahnya gak merasa kesepian, dihibur sama kita.” (hasil wawancara dengan Saudari Christy April 2014).

Memberi masukan kepada lansia agar tidak memikirkan masalah terlalu berat. Diberikan nasehat untuk menjaga pikiran agar kesehatan juga

(31)

commit to user

terjaga, dan memikirkan masa tuanya supaya bahagia di panti seperti teman-teman lainnya. Seperti yang diungkapkan oleh Ibu Partinah :

”Ketenangan jiwa ya itu tadi. Mikirnya ndak usah yang muluk- muluk. Seperti misalnya ibu sudah tua ya gak usah mikir di rumah yang begini – gini itu ya gak usah dipikirkan. Itu semua sudah ada yang mengurus. Yang sekarang ibu itu musti berpasrah, bersabar, berpikiran baik, yawes itu sekarang ya mikirnya yang secukupnya saja.” (hasil wawancara dengan Ibu Partinah April 2014).

Menurut Bapak Katimin dalam pernyataannya :

”Kalo soal ketenangan jiwa itu ya saya berikan apa yang dikeluhkan itu saya beri maksudnya supaya dia merasa tenang jiwanya.

Pokonya nanti kalo sudah tenang gitu ya saya arahkan seperti itu.

Ya intinya di biar tenang biar gak mengganggu pikiran lansianya.”

(hasil wawancara dengan Bapak Katimin April 2014).

Perawat biasanya mengajaknya berbicara berdua dengan perawat, mendengarkan curahan hatinya dan memberikan solusi jika dimintai. Hal itu akan memberikan ketenangan tersendiri dengan lansia yang bersangkutan. Berdasarkan yang diungkapkan oleh Bapak Suprihadi :

”Kalo saya kan punya cara sendiri, teman-teman yang lain kan caranya pasti berbeda. Saya itu lebih mengutamakan untuk ngobrol empat mata dengan lansia nya. Nah kalo saya itu lebih banyak mendengarkan, mau dia marah atau dia bagaimana saya lebih baik mendengarkan. Yang penting kita itu jangan sampai memotong atau memberikan suatu dorongan atau istilahnya memaksa. Ya kalo misalnya dia itu minta ketemu karena kangen sama anaknya ya kita bilangi pelan-pelan ya mungki kadang kita kasih taunya sekedar membuatnya tenang, seperti begini "Mungkin lagi repot di rumah, nanti lak yo pas selo waktunya ya datang buat berkunjung ke sini".

Yang penting kita buat kata-kata suapaya hatinya dia itu menjadi tenang terlebih dahulu.” (hasil wawancara dengan Bapak Suprihadi April 2014).

Sama halnya dengan yang diungkapkan Ibu Narti berikut :

”Biasannya ya diajakin ngobrol-ngobrol ya diayem-ayem. Ya harusnya memang mendampingi itu memang supaya kita itu tambah deket.” (hasil wawancara dengan Ibu Narti April 2014).

(32)

commit to user

Perawat memberikan ketenangan jiwa pada lansia dengan memberikan dukungan untuk mengikuti kegiatan kerohanian. Kegiatan keagamaan dapat memberikan rasa tenang pada diri lansia, dan juga untuk mempertebal keimanan serta dapat menjadi bekal guna mempersiapkan diri ketika meninggal dunia nantinya.

”Kalo ketenangan jiwa ya kita dukung untuk mengikuti kegiatan rohani, buat yang beragama Katolik ya dengan datang ke gereja, ada kumpul-kumpul dengan jamaah yang lainnya. Pokonya diberikan pelajaran agama ,diisi dengan kegiata-kegiatan agama agar jiwanya bisa lebih tenang.” (hasil wawancara dengan Bapak Margito April 2014).

Sedikit berbeda yang dialamai lansia di kelas VIP. Menurut pengakuan perawat yang bertugas di kelas VIP, lansia di sana jiwanya begitu tenang, damai, dan nyaman. Seperti tidak terpikirkan masalah- masalah yang berat. Seperti yang dikemukakan oleh Bapak Bimo :

”Kalo saya ya itu tadi menangani lansia di VIP itu mereka lansia nya yang sudah damai, nyaman seperti itu. Bisa lihat sendiri, apa ada perbedaan dengan lansia yang lainnya.” (hasil wawancara dengan Bapak Bimo April 2014).

Berdasarkan data yang diperoleh melalui wawancara di atas dapat dianalisis bahwa peraturan sebelum lansia dapat ditempatkan di panti harus melalui survey yang dilakukan oleh perawat untuk mengetahui bakatnya, minatnya, latar belakang kehidupannya, maupun kasus-kasus yang disandang lansia bersangkutan terutama berkaitan dengan kondisi fisik, mental dan sosial.

Selain itu survey dilakukan terhadap lansia untuk dapat diketahui karakter, pengalaman hidup, lingkungan, kondisi fisik, mental, sosial dan

(33)

commit to user

ekonominya dari klien baru yang akan masuk panti. Hal ini dilakukan untuk dapat mengetahui tipe lansia seperti yang dijelaskan juga oleh Catur dan Sugiyanto (1993 : 24). Setelah dipelajari dan memenuhi kriteria yang diinginkan maka selanjutnya lansia bisa diterima menjadi penghui baru di panti wredha.

Setelah menjadi penghuni baru, penempatan lansia dikelompokkan misalnya bagi yang sudah renta/uzur maka diberikan perawatan dan nantinya ditempatkan di wisma yang khusus untuk lansia renta.

Selanjutnya dengan bantuan petugas panti, lansia yang baru masuk diperkenalkan dengan sesama lansia yang lebih dahulu tinggal di wisma, mereka dikumpulkan dan saling diperkenalkan diri dengan lansia yang baru masuk dengan menyebutkan identitasnya, daerah asalnya dan lain- lain. Dengan demikian maka kondisi atau keadaan dari masing-masing lansia dapat dipahami oleh sesamanya maupun oleh petugas panti.

Dalam rangka penelaahan dan pengungkapan masalah terutama berkaitan dengan aspek psikologi. Dalam hal ini perawat bertindak sebagai psikolog yaitu memanfaatkan pengetahuan yang diperoleh dari buku-buku psikologi dan pengalaman yang mereka miliki dalam menangani lansia, selain itu perawat panti juga bekerja sama dengan tenaga-tenaga profesional, seperti psikolog, dokter dan lain-lain.

Dari apa yang diungkapkan oleh petugas panti dalam hasil penelitian tersebut, dapat diketahui bahwa sejak penempatan lansia di wisma dalam masa percobaan, petugas panti memotivasi, memberikan

(34)

commit to user

semangat dan memberikan informasi kepada para lansia agar para lansia dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya.

Dengan adanya kedekatan antara perawat dengan lansia sehingga dapat memahami suasa hati lansia, memberikan ketenangan kejiwaan serta dapat mencegah masalah yang timbul dalam diri lansia. Seperti yang diungkapkan oleh Nugroho (2000 : 11), bahwa orang yang sudah lanjut usia tidak saja ditandai dengan kemunduran fisik, tetapi dapat pula berpengaruh terhadap kondisi mental atau psikologi. Semakin bertambah usia seseorang (lanjut usia), kesibukan sosianya akan semakin berkurang hal ini akan dapat mengakibatkan berkurangnya integrasi dengan lingkungannya. Hal ini dapat memberikan dampak pada kebahagiaan seseorang.

Dari apa yang disampaikan tersebut, akibat kemunduran fungsi fisik pada lansia sehingga mempengaruhi kondisi mental atau psikologi lansia yang kemudian berdampak pada kebahagiaan diri seorang lansia.

Lansia seperti selalu dirundung dengan masalah yang seringkali dipikirkan oleh lansia. Masalah tersebut biasanya terkait dengan urusan dengan keluarga, dengan teman lansia lain, atau bisa juga dengan petugas maupun perawat yang bekerja di panti.

Masalah yang timbul bisa beraneka ragam dari yang masalah sepele sampai masalah yang besar, dan penyelesaian masalah yang terjadi tersebut terkadang sangatlah sulit dilakukan, sampai pihak panti harus memanggil pihak keluarga bahkan pihak panti harus melakukan

(35)

commit to user

pemecahan bersama dengan petugas lain. Komunikasi perawat penting dialakukan agar perawat dapat mengetahui permasalah yang sedang lansia pikirkan dan segera mengantisipasi masalah tersebut sebelum berkembang dan mempengaruhi pikiran lansia.

C. Komunikasi Persuasif Perawat dalam Membangun Konsep Diri Positif Lansia di Panti Wredha Dharma Bhakti Kasih Surakarta

Lansia di Panti Wredha Dharma Bhakti Kasih Surakarta ada yang merasa dirinya tidak berguna lagi, merasa sendiri dihari tuanya dan merasa tidak disayangi oleh keluarganya. Perasaan tersebut timbul karena merasa rendah diri yang datang seiring dengan perubahan fisik dan usia. Hal tersebut yang kemudian mendorong lansia menjadi merasa tidak enak dan rendah mutunya yang berujung pada kehilangan motivasi untuk hidup maupun untuk mengerjakan sesuatu.

Beberapa cara yang dapat dilakukan perawat dalam menangani lansia dengan rasa kurang percaya diri dan sikap diri negatif, salah satunya adalah lansia harus menerima diri apa adanya. Lansia rendah diri memerlukan pemahaman orang-orang di sekitarnya. Pembentukan rasa percaya diri yang rendah ini akan memang sangat dipengaruhi oleh orang-orang di sekitarnya.

Untuk menumbuhkan sikap diri positif pada diri lansia, perawat selalu memberikan perhatian dan kasih sayang sebagai pengganti peran keluarga yang ada di rumah. Dengan begitu akan menumbuhkan keyakinan bahwa dirinya masih berharga bagi pribadinya maupun orang lain di sekitarnya. Perawat harus senantias mendampingi lansia dalam menghadapi setiap permasalahan yang

(36)

commit to user

dilaluinya. Lansia yang tinggal di dalam panti tentunya memiliki masalah yang selalu memberatkan pikirannya dan hal ini bisa berdampak buruk bagi kesehatan lansia. Sebagai penganti keluarga dan orang yang paling dekat dengan lansia, peran perawat dalam membantu mengatasi permasalah lansia menjadi sangat penting. Berikut kami jelaskan peran perawat dalam mengatasi permasalahan yang dialami lansia berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan.

1. Komunikasi Perawat dalam Menghadapi Permasalahan Lansia

Komunikasi yang perawat lakukan dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi lansia, perlu ketahui terlebih dahulu masalah apa yang sedang terjadi pada lansia yang bersangkutan. Perawat juga tidak bosan-bosannya mengingatkan kepada lansia berulang kali, diberikan nasehat dan arahan untuk tetap tenang tinggal di panti. Berikut pernyataan oleh Ibu Indriyanti :

”Ya kita lihat dulu masalahnya apa gitu. Soal e kadang kalo dikasih tau itu juga susah. Paling kita bilangin aja, walaupun nanti tetep ngulangin lagi. Ya diberitahu lagi namanya juga orang tua. Ya supaya kita juga dilatih sabar.” (hasil wawancara dengan Ibu Indriyati April 2014).

Sedangkan menurut Saudari Christy :

”Kalo masalah paling kita cuman bilangin. Mbah nya supaya saling rukun, saling berteman sudah tua gak perlu ribut. Kalo ada masalah bisa cerita sama perawat kalo bisa bantu ya pasti nanti kita bantu.”

(hasil wawancara dengan Saudari Christy April 2014).

Begitu juga dengan yang dipaparkan oleh Ibu Nurmiasih :

”Ya itu juga saya ajak omong-omong, saya nasehati biar tidak punya pikiran kalo anaknya begini-begini. Lansia yang bertengkar banyak juga, ya itu gak bisa misalnya lansia itu salah gini salah gini jadinya bertengkar ya kita harus pisah dahulu. Terus nanti kalo seumpama hatinya udah tenang baru kita nasehati begini-begini.” (hasil wawancara dengan Ibu Nurmiasih April 2014).

(37)

commit to user

Perawat dalam menyelesaikan masalah lansia dilakukan dengan seefektif mungkin dan perlu adanya solusi yang tepat. Bisa jadi lansia akan terganggu pikiran dan kesehatannya apabila terus memikirkan masalah yang sedang dihadapinya. Sesuai dengan yang diungkapkan oleh Ibu Narti bahwa :

”Ya kita kasih tau sama Mbah nya. Kita beritahu akibatnya kalo mikirin msalah-masalah nanti misalnya kalo gak mau makan akibatnya kalo jadi sakit dan sebagainya. Kalo masalahnya bertengkar ya caranya dengan kita lerai. Kalo sudah diem-dieman itu yang susah. Namanya orang banyak ya itu ada saja masalah ya tapi kita tetap harus bisa memberikan rasa aman rasa nyaman kepada lansia supaya tidak banyak memikirkan masalah yang ada..” (hasil wawancara dengan Ibu Narti April 2014).

Lebih jelas lagi Bapak Bimo menambahkan :

”Ya kalo itu ya kita lihat permasalahnya, kalo hanya soal permasalahan yang sepele ya bisa kita selesaikan dengan mudah. Misalnya soal air yang kurang panas ya nanti kita bilangin pelan-pelan supaya nunggu sebentar sekitar 1 jam nanti juga panas. Kalo di kelas VIP itu kan lansia nya sudah punya privacy nya sendiri-sendiri, jadi ya untuk bertengkar biasanya jarang. Kalo itu permasalahan terkait dengan keluarga saya engga mau ikut mencampuri. Paling cuman bilangin supaya tidak dipikirkan berat-berat supaya tetap tenang saja. Ya kalo masalahnya karena sudah lama tidak dijenguk keluarga juga paling dibilangin sudah kita kasih tau kita telpon nanti paling minggu depan sudah datang, ya paling menenangkan hatinya supaya bisa tenang gitu aja.” (hasil wawancara dengan Bapak Bimo April 2014).

Perawat dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi lansia dengan memberikan pengertian, memberikan dorongan untuk selalu bersyukur dan tetap semangat dalam menjalani kehidupan. Berdasarkan ungkapan dari Bapak Suprihadi :

”Umm..kalo disini itu yang paling banyak dia kurang terima tapi tidak semuanya juga. Ya kita bilang kalo disini itu bukan tempat orang- orang terbuang, mungkin orang tuli, orang buta, orang tua memang tinggal di sini. Tapi ya cara bilanginya ya dengan memberinya dorongan supaya tetap bersyukur. Kan ada tu temenya yang gak tuli tapi buta, atau sebaliknya buta tapi gak tuli ya semacam itulah. Dan

(38)

commit to user

kita disini membimbing mereka untuk tidak putus asa. Ya kalo gak bisa ya kita bantu, tapi gak terus mintanya nyuruh-nyuruh semacam itu. Memang yang sudah tidak mampu saja yang kita bantu, ya sesuai dengan situasi dan kondisinya sajalah. Jangan membuatnya menjadi tertekan lah selama tinggal di sini.” (hasil wawancara dengan Bapak Suprihadi April 2014).

Begitupula dengan jawaban dari Ibu Partinah :

”Ya itu juga saya ajak ngobrol-ngobrol sambil saya nasehati biar Eyang itu tidak punya pikiran yang muluk-muluk soal rumah atau keluarga anak-anaknya gitu.” (hasil wawancara dengan Ibu Partinah April 2014).

Dalam menyelesaikan permasalahan yang menjadi beban pikiran dalam dirinya, perawat masih dapat menyelesaikan secara mandiri. Seperti yang dikatakan oleh Ibu Kadini :

”Malah mboten pernah crito menawi wonten masalah ngoten. Kulo malah mboten diceritakne (Saya justru tidak pernah cerita apabila sedang ada masalah. Saya justru tidak ceritakan).” (hasil wawancara dengan Ibu Kadini April 2014).

Menambahkan pernyataan di atas, menurut Ibu Sri Saryati :

”Kalo buat saya sendiri ya itu engga cerita. Ya itu tadi Mas karena mereka-mereka itu terbatasnya waktu dan banyak kerjakan sampe sibuk pastinya. Kalo menurut saya sendiri lebih suka diem daripada banyak ngomong. Lebih baik saya itu pilih tiduran atau diem, ya diem itu menyaring situasi saya sendiri.” (hasil wawancara dengan Ibu Sri Saryati April 2014).

Ketika lansia mengalami suatu permasalahan yang berat, biasanya perawat akan segera tahu. Sehingga perawat akan melakukan pendekatan dan memberikan nasehat kepada lansia tersebut. Berdasarkan pernyataan dari Bapak Slamet :

”Geh kulo menawi seneng nopo sedih ngenteniku perawat geh sampun ngertos. Wong kulo niki sampun celak kalian perawat-perawat mriki.

Dadose inggih crito (Ya saya kalo senang atau sedih begitu perawat juga sudah tahu. Kan saya itu sudah dekat dengan perawat-perawat di

(39)

commit to user

sini. Jadinya ya saya ceritakan).” (hasil wawancara dengan Bapak Slamet April 2014).

Dan juga menurut Ibu Maria, bahwa :

”Inggih menawi wonten keluhan kulo ceritakne kalian perawat (iya apabila ada keluhan saya ceritakan kepada perawat).” (hasil wawancara dengan Ibu Maria April 2014).

Ada diantara lansia yang hanya menceritakan masalah tertentu saja kepada perawat. Sebab tidak semua masalah yang menurutnya harus diceritakan kepada perawat. Seperti yang diutarakan oleh Bapak Ryanto :

”Ya itu tidak semuanya, kadang ya ada yang saya ceritakan. Karena mereka kita sedang apa mereka sudah tau orang-orang Panti itu kelihatannya sedang ada masalah. Jadi kadang saya juga cerita tetapi tidak semuanya.” (hasil wawancara dengan Bapak Ryanto April 2014).

Selain harus memberikan solusi atau mengatasi permasalahan yang dihadapai oleh lansia, terkadang perawat juga dihadapkan masalah dengan lansia yang ditemuinya. Perawat mendapati perilaku lansia yang sulit untuk diatur dan melakukan semaunya sendiri, hal tersebut seringkali timbul berdasarkan latar belakang lansia tersebut. Dengan pengalaman yang sudah dilalui perawat dalam mengurus dan melayani lansia, tentu saja perawat tahu cara mengatasi apabila hal tersebut terjadi. Berdasarkan hasil wawancara berikut akan dijelaskan langkah perawat dalam mengatasi permasalah dengan lansia yang sulit diatur.

a. Perawat dalam Menghadapi Lansia Sulit Diatur

Tiap perawat memiliki caranya dalam mengatasi lansia yang sulit untuk diatur, ada yang dengan hanya memberikan teguran dan peringatan.

Kemudian dilanjutkan dengan arahan dan anjuran berupa nasehat-nasehat

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian yang dilaksanakan di desa Wailan Kecamatan Tomohon Selatan Kota Tomohon bertujuan untuk mengevaluasi gejala serangan, jenis-jenis dan populasi serangga hama dan

Ø Alasan panitia membuat musyawarah adat ke-II tahun 2009 adalah sebagai bentuk somasi dan penolakan terhadap pengesahan Kampung Kumurkek sebagai Ibukota Kabupaten

Seseorang akan dikatakan memiliki kecenderungan berperilaku konsumtif ketika orang tersebut membeli suatu barang maupun jasa diluar kebutuhannya yang rasional, sebab pembelian

Sedangkan program pemberantasan jangka panjang adalah untuk mendukung konsep yang menyatakan bahwa filariasis dapat hilang dengan sendirinya, bahkan

Hubungan seks bebas juga merupakan salah satu bagian dari aktivitas seksual yang tidak sehat, namun selain itu ada beberapa faktor lain yang juga ikut bepengaruh dalam

Namun subkultur dari eksplan yang berasal dari media yang mengandung TDZ 3,0 mg/1 ke media yang mengandung konsentrasi TDZ yang sama menunjukkan jumlah tunas yang

Setelah itu dilakukan uji daya hasil pendahuluan (UDHP) dan dilanjutkan uji daya hasil lanjut (UDHL). "Tahapan berikutnya uji multi lokasi di 16 lokasi. Tahap ini yang butuh

Nilai signifikansi hasil analisis komparatif indikator pada variabel faktor eksternal antara pendamping Kabupaten Jembrana dan Klungkung lebih besar dari alfa 10