Meraih
Prestasi
Dunia
SUROSO
KOMUNITAS
emas jarak 50 meter, 40 m, 30 m, di Kejuaran Secapa 2000, dan 10 medali emas Porprov Dharmasraya 2014.
Saat ini, dalam kapasitasnya sebagai atlet, Suroso tengah mempersiapkan diri mengikuti Pra PON di Jakarta, yang dilaksanakan 23 November-1 Desember 2015.
Suroso mengikuti Diklat di Ragunan sejak 1997-2000. Di Ragunan ia diasuh pelatih Adhi Purnomo, almarhum Donal Pandiangan, dan pelatih Leea dari Korea. Sementara di Lampung, Suroso digembleng pelatih Puryoto. Selama tiga tahun di Ragunan, Suroso “terbang” ke Bali selama dua bulan. Setelah itu dia ikut latihan di Pengda Bogor.
Terkait kepindahannya ke Padang pada 2001, Suroso mendapat tawaran menjadi atlet dan pelatih di Semen Padang. Setelah hatinya mantap, ia memutuskan pindah ke Padang. Namun ia sempat mengalami kendala dari KONI Lampung. Pasalnya, sebagai atlet andalan di Provinsi Lampung, KONI enggan melepas Suroso. Namun dengan pendekatan kekeluargaan, akhirnya Suroso berhasil meyakinkan pihak KONI Lampung.
“Setelah pindah ke Padang, orang yang sangat berjasa buat saya adalah Bapak Daconi (Kepala Departemen
Produksi IV, red). Beliau yang mem- bimbing dan memotivasi saya sehing- ga bisa seperti saat ini,” aku Suroso.
Dengan modal pelatihan dari Diklat Ragunan dan pengalamannya sebagai atlet, Suroso bertekad mengembang- kan olahraga panahan di klub panah- an Semen Padang secara totalitas. Hasilnya benar-benar terlihat. Anak asuh Suroso banyak yang berprestasi di daerah maupun nasional. Bahkan untuk Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Sumatra Barat, 100 persen atlet panahannya diambil dari klub panahan Semen Padang. Dalam keikutsertaan di Porprov di Dhar- masraya 2014, atlet panahan binaan Suroso memborong semua medali.
Pada 2013, Suroso diterima sebagai karyawan Semen Padang. Saat ini ia ditempatkan di Proyek Indarung VI. Di tengah kesibukan bekerja, tekad Suroso mengembangkan olahraga panahan tak pernah padam. Tak hanya di Semen Padang, dia juga bergerak ke sekolah-sekolah dan kampus-kam- pus untuk mempromosikan olah raga panahan di Sumatra Barat.
“Saya harus pandai-pandai mem- bagi waktu ke lapangan, karena sebagai karyawan di pabrik kesuli- tan saya adalah soal jam kerja yang memakai sistem shift. Sedangkan anak asuh membutuhkan kami setiap hari
di lapangan. Karena itu, setiap pulang kerja atau sebelum masuk kantor, kami menyempatkan waktu untuk men- curahkan perhatian untuk anak-anak didik,” tambahnya.
Saat ini Suroso tengah memper- siapkan diri menghadapi Pra PON XIX/2016. “Mudah-mudahan perusa- haan dapat memberikan izin saat kami bertanding demi membawa nama Sumatera Barat di kancah nasional,” katanya.
Suroso kini bertekad terus mengem- bangkan olahraga panahan di Suma- tera Barat. Untuk tujuan itu, ia tak segan-segan mendatangi sekolah, kampus- kampus, dan berbagai instan- si untuk memperkenalkan panahan.
“Olahraga panahan harus diper- kenalkan sejak dini pada anak-anak, terutama yang duduk di SD. Panahan membutuhkan ketekunan dan ke- sabaran, sejak SD, anak-anak harus diperkenalkan. Saat usia 15 sampai 20 tahun mereka bisa mencapai prestasi maksimal,” katanya.
Salah satu kendala pengembang- an panahan di Sumbar, kata Suroso, pengurus olahraga ini jarang meman- tau perkembangan atlet di lapangan. Kendala lainnya adalah, mahalnya peralatan panahan, sekitar Rp 7 juta sampai Rp45 juta. (SP/oktaveri)
B
oleh jadi, perayaan hari Valentine selalu terasa speasial bagi sejum- lah karyawan Semen Gresik yang menyukai hobi otomotif. Pasalnya, 13 tahun lalu, tepatnya 14 Februari 2002, mereka yang suka kongkow-kongkow setiap Kamis malam, sepakat membentuk klub penghobi otomotif. Klub itu diberi titel “Mobil Semen Gresik alias MoB SG”.Setyawan Prasetyo, Ketua MoB SG, menuturkan bahwa ide pembentukan komunitas ini datang secara tiba-tiba dan hanya iseng belaka. “Klub ini bukan lahir dari sebuah desain yang serius. Iseng dan cair,” ujar Setyawan yang saat ini tergabung dalam Tim Pengembangan Proyek Pembangunan Pabrik Rembang. “Saat kongkow-kongkow itu, tiba-tiba ada teman yang nyeletuk, kenapa kita tak membentuk klub saja?”
Kemudian ide tersebut ditindaklanjuti dengan memilih nama. Dari sekian usulan nama, akhirnya disepakati nama Mobil Se- men Gresik atau MoB SG. Nama ini sengaja dipilih agar tak terjebak dalam sekat-sekat yang terbangun dari merek-merek mobil. Ada merek Trooper, VW, Jeep dan lainnya. “Klub ini dibangun untuk menjadi rumah besar yang mewadahi semuanya. Siapa pun dan apa pun merek kendaraannya, bisa ikut bergabung dalam MoB,” ujar pria yang kini memiliki koleksi tiga VW Combi keluaran tahun 1973, 1977 dan 1978 ini. “Intinya, kami ingin menjalin persahabatan dan keakraban melalui klub MoB ini.”
Keakraban ini memang terus berlan- jut salah satunya melalui ajang kongkow
setiap Kamis malam di halaman Wisma Ahmad Yani Gresik. Ajang ini terbukti efektif terutama menjaring anggota MoB, yang awalnya bisa dihitung dengan jari. Informasi dari mulut ke mulut terkait ke- beradaan MoB ini, membuat anggota MoB terus bertambah. Bahkan, kini tak hanya karyawan, warga sekitar yang sama-sama hobi mobil pun ikut bergabung. “Waktu itu, saya masih ingat. Ide muncul pada Februari. Tak lama kemudian, pada Maret keberadaan klub ini telah direstui oleh Binga Lingkungan,” jelasnya.
Klub ini juga tak terlalu ribet dalam urusan administratif. Ikatan anggota didasarkan saling komitmen seperti halnya wadah-wadah ikatan persaudaraan (broth- erhood). Tak ada iuran anggota maupun tetek bengek lainnya. “Syarat utamanya hanya satu harus punya mobil. Itu saja. Saat ini sudah ada sekitar 100 anggota,” tegasnya. Mobil yang dimaksud pun tak dibatasi merek dan ‘usia’.
Keberadaan klub ini juga menjadi berkah bagi perseroan, terutama Tim Promosi dan Bina Lingkungan. Identitas perseroan berupa logo Semen Indonesia terpampang jelas di setiap mobil ang- gota MoB SG selain logo klub. “Logo ini menjadi identitas kami yang paling mudah dikenal,” ujar pria yang akrab dipanggi Iwan ini.
Dengan identitas yang jelas ini, memu- dahkan bagi anggota MoB SG mengikuti setiap kegiatan yang digelar Tim Promosi dan Bina Lingkungan. Seperti, misalnya, saat bencana Erupsi Gunung Kelud