• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

B. Komunitas Keturunan Arab

Kata komunitas (community) berasal dari kata latin communire (communion) yang berarti memperkuat. Dari kata ini di bentuk istilah communitas yang artinya persatuan, persaudaran, umat/jemaat, kumpulan bahkan masyarakat.13Secara samar-samar kata komunitas disisipi pengertian tempat tinggal bersama. Jadi arti kata klasik, kata komunitas hidup dengan orang-orang yang bermukim di atas sebidang tanah yang sama. Kemudian

12 Hendropuspito, Sosiologi Sistematik h. 233-234. 13 Hendropuspto, Sosiologi Sistematik, h. 56.

“unsur tanah yang sama” dialihkan pada pengertian persaudaraan kumpulan atau persatuan.

Komunitas bisa dibedakan menjadi dua jenis yaitu komunitas geografis dan komunitas fungsional.14 Komunitas geografis ialah komunitas dalam arti penduduk yang berdiam di suatu daerah di sebut juga dengan komunitas lokal. Sedangkan komunitas fungsional yang tidak dibatasi oleh daerah yang mereka huni tapi dibatasi oleh karakter atau ciri khusus, misalnya komunitas petani, peternak dan komunitas nelayan.

Sedangkan menurut Soerjono Soekanto komunitas diterjemahkan sebagai “masyarakat setempat” yang menunjuk pada warga sebuah desa, kota, suku, atau bangsa. Apabila anggota-anggota suatu kelompok, baik kelompok itu besar ataupun kecil, hidup bersama sehingga merasakan bahwa kelompok tersebut dapat memenuhi kepentingan-kepentingan hidup yang utama, kelompok tersebut disebut masyarakat setempat.15

Serta menurut Selo Soemardjan sebagaimana dikutip Soekanto,“komunitas adalah masyarakat yang bertempat tinggal disuatu wilayah (dalam arti geografis) dengan batas-batas tertentu di mana faktor utama yang menjadi dasar adalah interaksi yang lebih besar diantara para anggotanya, diantara para anggotanya, dibandingkan dengan penduduk di luar batas wilayah.16

14 Yusra Killun, Pengembangan Komunitas Muslim (Jakarta: FDK UIN Jakarta, 2007), h. 38-39.

15 Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar (Jakarta:PT Grafindo Persada, 2006 ), h. 132- 133.

Begitu pula menurut Hendropuspito dalam bukunya Sosiologi Sistematik, menyatakan bahwa komunitas sosial yaitu kelompok territorial yang membina hubungan para anggotanya dengan menggunakan sarana-sarana yang sama untuk mencapai tujuan yang sama.17

Menurut Jim Life pengertian community ialah bentuk organisasi sosial yang memiliki tiga karakter sebagai berikut:

1. Identitas dan rasa memiliki. Kata komunitas terkait dengan rasa memiliki atau rasa diterima dan dihargai dalam kelompok, sehingga melahirkan konsep komunitas.

2. Kewajiban anggota, hal ini tentu menuntut kewajiban dari anggotanya yaitu ikut memberikan kontribusi dan berpartisipasi dalam komunitas.

3. Dan adanya budaya komunitas, hal ini memungkinkan adanya nilai dan menghasilkan ekspresi komunitas lokal yang memilki karakteristik unik yang terkait dengan komunitas.

Ciri-ciri komunitas adalah adanya kesatuan hidup yang teratur dan tetap dan bersifat teritorial, serta memiliki unsur tanah daerah yang sama tempat kelompok itu berada.18

Dari penjelasan diatas tentang pengertian komunitas sebagaimana yang telah diuraikan, maka kita dapat disimpulkan bahwa komunitas adalah kesatuan hidup manusia yang menempati suatu wilayah tertentu yang terikat rasa identitas bersama, dan saling berinteraksi antara satu dengan yang lainnya untuk mencapai tujuan bersama.

2. Proses Terbentuknya Komunitas Keturunan Arab di Indonesia

Orang-orang Arab berdatangan di Jakarta pada akhir abad ke-18 untuk berniaga. Menurut L.W.C van den Berg, orang-orang Arab yang sekarang bermukim di Nusantara sebagian besar berasal dari Hadramaut.19

Hadramaut ialah seluruh pantai Arab Selatan, sejak Aden hingga Tanjung Ras Al-Hadd.20 Menurut Berg, orang-orang Arab Hadramaut mulai datang secara masal ke Nusantara pada akhir abad ke-18, pemberhentian mereka yang pertama yaitu Aceh. Dari sana mereka lebih memilih pergi ke Palembang dan Pontianak. Orang Arab mulai menetap di jawa setelah tahun 1820. Dan koloni-koloni mereka baru tiba di bagian Timur Nusantara tahun 1870, dan koloni Arab di Batavia, meskipun baru setengah abad umurnya, namun sudah merupakan koloni terbesar di Nusantara, jika kita masukkan pula para anggotanya yang lahir di Arab.

Orang-orang Arab berdatangan di Jakarta abad ke-18 untuk berniaga. Walaupun awalnya mereka sekedar untuk berniaga, tetapi akhirnya mereka terlibat dalam gerakan dakwah.

Dapat kita lihat daerah-daerah di Indonesia yang menjadi permukiman dan media interaksi masyarakat keturunan Arab dan pribumi derah tersebut adalah pulau Jawa yang terdapat enam koloni besar Arab, yaitu di Batavia, Cirebon, Tegal, pekalongan, Semarang dan Surabaya. Salah satu contoh

19 L.W.C. Van den Berg, Hadramaut dan Koloni Arab di Nusantara (Jakarta: Indonesian Netherlands Cooperation IMDIES, 1989), H. 1.

proses komunitas keturunan Arab yaitu daerah Batavia, di tempat tersebut di temukan orang Arab yang berasal dari segala tempat di Hadramaut dan dari segala lapisan masyarakat, hanya golongan sayid yang merupakan minoritas. Sebagian besar orang Arab yang datang ke pulau Jawa dari Singapura, terlebih dahulu singgah di Batavia, kemudian menyebar ke daerah- daerah lain.

Sebagai akibat perkembangan itu, Batavia di jumpai hanya sedikit keluarga yang turun-temurun sudah menghuni Nusantara, dan sebagian besar menikah dengan wanita pribumi. unsur Arab memiliki keturunan campuran, sehingga mereka terpaksa belajar bahasa Arab untuk bisa berkomunikasi.

Cara-cara orang Arab di Nusantara mematuhi prinsip-prinsip hukum Islam dengan berzakat merupakan bukti bahwa semangat kemakmuran memang sudah melembaga dalam diri mereka. Tidak seorang Arab Hadramaut yang ketagihan minuman keras atau candu. Menabung merupakan budaya bagi mereka, dan fakta bahwa mereka pernah menikmati kemakmuran, sebagian dari rezki merekapun tidak lupa mereka sumbangkan kepada masjid, sekolah, atau yayasan keagamaan lain.

Orang Arab mulai menetap di Jawa setelah tahun 1820, dan kolonoi-koloni mereka baru tiba di bagian Timur Nusantara tahun 1870. Koloni Arab di Batavia, meskipun baru setengah abad umurnya, sudah merupakan koloni terbesar di Nusantara, jika kita masukkan pula para anggotanya yang lahir di Arab.

Realitas Asimilasi masyarakat keturunan Arab di Indonesia dapat kita lihat dari berbagai fakta yang ada dimasyarakat, didukung pula oleh para peneliti Sosiologi yang melakukan penelitian seperti Selo Soemardjan dalam bukunya Sterotip Etnik, Asimilasi, Interaksi Sosial. Realitas asimilasi keturunan Arab ini terjadi di Surabaya, mereka memiliki suatu susunan atau strata sebagai keanggotaan keturunan masyarakat Arab yang di sebut “sayid” dan bukan “sayid”.

Sayid yaitu identifikasi diri kelompok orang Arab yang menyatakan dirinya sebagai golongan ‘Alawiyyin. Golongan ini berpendapat mereka langsung keturunan dari Nabi Muhammad SAW melalui garis keturunan anak Nabi yakni Fatimah istri Ali bin Abi Tholib. Bagi mereka yang bukan tergolong Sayid berarti tidak mempunyai garis keturunan langsung dengan Nabi Muhammad SAW. Tentu hal ini menjadi salah satu yang mempengaruhi asimilasi mereka terutama dalam perkawinan yang merupakan penyebab terjadinya asimilasi, bagi mereka keturunan Arab jika wanita menikah dengan orang di luar Arab maka garis keturunan mereka teputus atau tidak lagi termasuk golongan sayid tetapi jika untuk laki-laki Arab tetap menjadi golongan sayid.

Sedangkan koloni Arab yang berada di Pekalongan, mereka sangat menjaga jarak dengan orang Arab yang datang dari Hadramaut. Orang Arab campuran yang tinggal di daerah pinggiran seperti Ledok, Mipitan, Kauman, dan Krapyak. Mereka sama sekali tidak menggunakan bahasa Arab dalam

berkomunikasi dengan masyarakat pribumi. Mereka mencari nafkah, cara berpakaian, dan mengikuti adat-istiadat seperti masyarakat pribumi.21

Kemudian begitu pula dalam masyarakat kota Surakarta yang menggunakan bahasa Jawa untuk komunikasi bukan hanya etnis Jawa, tetapi juga etnis Tionghoa dan Arab. Penelitian Markhamah terhadap penggunaan bahasa Jawa oleh orang-orang Tionghoa di Surakarta menyimpulkan, bahwa tuturan Ngoko dan Krama pada orang-orang Tionghoa dewasa (50 responden) hampir tidak berbeda dengan kualitas tuturan ngoko dan krama masyarakat Jawa.22

Interaksi melalui perkawinan dengan wanita Jawa dan pemelukan agama Islam oleh imigran Tionghoa merupakan cara terbaik, hal ini didasari adaya soal keuangan yakni mereka dan keturunannya dapat terbebas dari pajak yang di berlakukan VOC bila kemudian hari dapat berasimilasi dengan baik dalam kebudayaan Jawa. Melalui perkawinan tersebut, pengetahuan kebudayaan, bahasa, adat-istiadat Jawa melekat pada keturunan-keturunan hasil perkawinan mereka. Dapat kita pahami walaupun yang di jelaskan diatas realitas asimilasi Tionghoa dengan masyarakat Surakarta namun tidak berbeda pula asimilasi yang dialami masyarakat keturunan Arab di Surakarta, seringnya berkomunikasi dengan masyarakat Surakarta maka penggunaan bahasa Jawa bisa di gunakan pula oleh komunitas keturunan Arab. Begitu

21 L.W.C. van den Berg, Hadramaut dan koloni Arab di Nusantara,h. 74.

22 Rustopo, Menjadi Jawa: Orang-Orang Tionghoa dan Kebudayaan Jawa di Surakarta (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2007), h. 51.

pula dengan melalui perkawinan merupakan strategi utama supaya dapat berasimilasi dengan masyarakat pribumi khususnya masyarakat Surakarta.23

Kembali pada realitas asimilasi di Indonesia khususnya di daerah Condet Balekambang Jakarta Timur, dapat kita ketahui bahwa asimilasi keturunan Arab dengan masyarakat pribumi di sekitarnya berlansung dengan baik, sikap toleransi yang mereka miliki dan juga dari ajaran agama membuat mereka menghilangkan adanya perbedaan. Asimilasi keturunan Arab di Condet di awali dengan adanya pernikahan orang-orang keturunan Arab dengan masyarakat setempat (pribumi) dari inilah yang kemudian berkembang menjadi asimilasi sosial-budaya baik dalam bahasa, keseniaan, seta adat-istiadat yang sudah bercampur.

Untuk memperkuat lagi rasa kekeluargaan mereka maka mereka juga ikhlas memberikan bantuan pada masyarakat sekitar misalnya pada acara Maulid SAW dengan memberikan sajadah, mukenah, ataupun santunan untuk anak-anak yatim. Inilah yang menjadi salah satu cara masyarakat keturunan Arab dapat berasimilasi dengan masyarakat pribumi khususnya masyarakat Condet.

23 Rustopo, Menjadi Jawa: Orang-Orang Tionghoa dan Kebudayaan Jawa di Surakarta, h. 60.

A. Letak dan Keadaan Geografis

Kelurahan Balekambang merupakan salah satu kelurahan yang berada di wilayah Kecamatan Kramat Jati, Kotamadya Jakarta Timur dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:1

Wilayah Batas- Batas Wilayah

Batas Sebelah Utara Jalan Buluh, berbatasan dengan Kelurahan Cililitan

Batas Sebelah Timur Jalan

Raya Condet, berbatasan dengan Kelurahan Batuampar dan Kelurahan Gedong Kecamatan Pasar Rebo

Batas Sebelah Selatan Kelurahan Gedong Kecamatan Pasar Rebo Batas sebelah Barat Sungai Ciliwung, Wilayah Jakarta Selatan Sumber data Kelurahan Condet Balekambang tahun 2009

Kelurahan Condet Balekambang merupakan salah satu kelurahan yang ditetapkan sebagai cagar budaya dan buah-buahan sesuai dengan Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. D. 1-7903/A/30/1975, tertanggal 18 Desember 1975 tentang “Penetapan Kelurahan Condet Balekambang dan

1

Laporan Tahunan Kelurahan Condet Balekambang, Tentang Gambaran Umum Wilayah, (Jakarta: Oktober, 2009), h.1.

Kelurahan Kampung Tengah, Kecamatan Kramat Jati Wilayah Jakarta Timur, sebagai daerah buah-buahan”.

Berdasarkan data sensus kependudukan yang di keluarkan oleh Kelurahan, sampai bulan Oktober 2009 sebanyak 5.088 kepala keluarga (KK) terdiri dari KK laki-laki: 4.405 KK dan KK perempuan: 683 KK, dengan keseluruhan penduduk berjumlah 21.933 jiwa. Terdiri dari laki-laki: 11.631 jiwa dan perempuan: 10.302 jiwa. Dalam tabel berikut bisa kita lihat keadaan jumlah penduduk di Kelurahan Condet Balekambang.2

Tabel 1. Jumlah Penduduk Berdasar Umur dan Jenis Kelamin

Umur WNI WNA Jumlah

LK PR LK PR WNA+WNI 0 – 4 2.575 1.541 1 - 4.117 5 - 9 1.258 1.369 1 - 2.628 10 – 14 1.318 1.171 - - 2.489 15 – 19 1.134 1.122 - - 2.256 20 – 24 1.022 673 - - 1.695 25 – 29 867 842 - - 1.709 30 – 34 701 655 - - 1.356 35 – 39 626 626 - - 1.252 40 – 44 539 512 - - 1.051 45 – 49 348 432 - - 780 50 – 54 441 423 1 - 865 55 – 59 389 403 - - 792 60 – 64 156 173 - - 329 65 – 69 120 148 - - 268 70 – 74 78 99 - - 177 75 - Dst 56 113 - - 169 Jumlah 11.628 10.302 3 - 21.933

Sumber data Kelurahan Condet Balekambang tahun 2009

2

Laporan Tahunan Kelurahan Condet Balekambang, Tentang Jumlah Penduduk berdasar umur dan Jenis Kelamin, h. 5.

Jumlah prosentase penduduk menurut agama terdiri dari 97,87% penduduk di Condet Balekambang memeluk agama Islam, 1,08% agama Kristen Protestan, 0,92% agama Hindu, dan 0,08% agama Budha.

Luas wilayah Kelurahan Condet Balekambang adalah 167,450 hektar, terbagi menjadi 5 RW dan 53 RT. Status tanah kelurahan Condet Balekambang terdiri dari:

a. Tanah Negara: 22,75%

b. Tanah milik Adat: 70,08% dan c. Tanah Wakaf: 7,16%

Dari jumlah keseluruhan luas wilayah Condet Balekambang, memiliki tanah yang di peruntukan sebagai:

a. Perumahan: 100,47 Ha

b. Pendidikan dan Peribadatan: 6,70 Ha c. Perkantoran: 7,53 Ha

d. Fasilitas Umum atau Balai Rakyat: 16,75 Ha e. Pemakaman: 0,72 Ha

f. Kebun dan lain-lain: 35,28 Ha

Adapun untuk masalah tanah wakaf yang berada di wilayah tersebut yang di prosentasekan 7,16% umumnya di pergunakan untuk bangunan masjid dan mushola serta pemakaman umum. Sedangkan yang lainnya digunakan untuk jalan kendaraan dan tanah kepentingan umum lainnya misalnya untuk sekolah.

Pada umumnya keadaan geografis Kelurahan Condet Balekambang berbentuk tebing dengan kemiringan antara 15 sampai dengan 30 derajat. Sebagai adanya akibat sungai Ciliwung yang melintas wilayah Kelurahan Condet Balekambang dan lokasi ini umumnya di tumbuhi pohon buah-buahan seperti salak, duku, melinjo, kecapi dan lainnya dan terkadang masih terlihat binatang jenis kera dan landak, sehingga tahun 1975 Kelurahan Balekambang ditetapkan sebagai kawasan cagar buah-buahan khas Jakarta (Betawi) di Kelurahan Condet Balekambang yang pengawasan dan pembinaannya dilaksanakan oleh pemerintah DKI Jakarta.3

Sementara itu, keadaan iklim Kelurahan Condet Balekambang seperti suhu rata-rata pertahun adalah 27 derajat celcius dengan tingkat kelembaban 80% sampai dengan 90%. Pada bulan November sampai dengan April, arah angin dipengaruhi oleh angin Muson Barat, dan pada bulan Mei sampai dengan Oktober oleh angin Muson Timur. Curah hujan rata-rata sepanjang tahun adalah 2000 militer, di mana curah hujan seperti pada umumnya tertinggi terjadi sekitar Januari dan terendah sekitar bulan September.

B. Latar Belakang Ekonomi dan Pendidikan

Dokumen terkait