• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PROFIL DESA SUMBERBENDO KECAMATAN SARADAN

F. Profil Penduduk Desa Sumberbendo

5. Komunitas-komunitas Lokal

Berdasarkan penelusuran peneliti bersama tim, ada sejumlah komunitas lokal yang hingga tahun 2021 masih bertahan, yaitu:

a. Komunitas Pemberdayaan Ekonomi 1) Lembaga Keuangan Mikro (LKM)

Lembaga Keuangan Mikro (LKM) adalah suatu lembaga lokal yang memberikan layanan keuangan bagi masyarakat Desa Sumberbendo, terutama orang-orang yang bergerak dalam usaha kecil dan menengah.

Mereka yang selama ini tidak mempunyai akses terhadap perbankan dan layanan keuangan terkait cukup terbantu dengan keberadaan LKM di Desa Sumberbendo. Dengan memanfaatkan bermacam layanan yang diberikan, usaha masyarakat setempat dapat berkembang dengan pesat. Kegiatan-kegiatan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang dijalankan oleh masyarakat setempat dapat berjalan dengan optimal seiring dengan adanya LKM. Kelompok Simpan Pinjam dan Koperasi Serba Usaha yang berdiri beberapa tahun terakhir di Desa Sumberbendo termasuk dalam lingkup LKM.

2) Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan)

Komunitas yang terdiri dari para petani dalam lingkup desa ini berperan besar dalam menjaga Desa Sumberbendo sebagai wilayah agraris di Kabupaten Madiun. Di samping mengelola sawah, irigasi, hasil panen, serta hal-hal lainnya terkait bidang pertanian, orang-orang yang tergabung dalam Gapoktan juga berusaha sebisa mungkin memfasilitasi pemecahan masalah-masalah yang selama ini dihadapi oleh kaum tani, semisal peristiwa gagal

23

panen, merebaknya bermacam hama dan sulitnya memasarkan hasil pertanian. Eksistensi komunitas ini cukup dirasakan oleh masyarakat setempat karena secara tidak langsung dinilai dapat membantu para petani dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga. Mereka yang aktif dalam Gapoktan bisa saling bertukar informasi tentang pertanian.

b. Komunitas Seni

1) Grup Musik Gazanada

Grup ini merupakan grup musik lokal yang diinisiasi oleh masyarakat Desa Sumberbendo dalam rangka mengembangkan skill dan bakat warga dalam bidang musik. Keberadaan grup ini menjadi sarana pelecut orang-orang yang selama ini tertarik dengan musik. Meskipun dengan alat-alat yang sederhana, mereka rajin menggelar latihan. Beberapa kali mereka diundang untuk menyemarakkan hajatan warga.

2) Pencak Silat

Pencak silat merupakan seni bela diri yang sanggup bertahan di tengah gempuran modernisasi dan globalisasi. Bahkan, di lingkup Kecamatan Saradan, pencak silat berkembang dengan baik dan pesat. Pencak silat mampu menarik simpati banyak kalangan. Bukan hanya remaja putra, pencak silat juga sangat diminati oleh remaja putri. Sebagian kepala desa dan perangkat desa juga merupakan orang yang aktif dalam kepengurusan perguruan pencak silat. Di samping meneguhkan kedudukan seseorang dalam masyarakat, hal ini juga bertujuan mendekatkan diri dengan sejumlah komunitas atau organisasi yang berafiliasi dengan perguruan pencak silat.

Eksistensi perguruan pencak silat di desa-desa Madiun tak perlu diragukan.

Itulah mengapa, bagi orang-orang yang ingin terjun ke dunia politik, mengakrabi tokoh-tokoh dan guru-guru pencak silat merupakan siasat jitu dalam upaya meraih dukungan publik.

24

Metode yang digunakan dalam pendampingan ini adalah Asset Based Community-driven Development (ABCD). Metode ABCD adalah suatu pendekatan pendampingan yang mengupayakan pengembangan masyarakat dengan memposisikan manusia untuk diajak mengetahui sekaligus memahami segenap potensi serta aset yang dimiliki.11 Dalam kalimat yang dissampaikan oleh Steve Skinner, ABCD adalah cara bekerja dengan komunitas yang dimulai dari keterampilan, bakat, dan kemampuan orang-orang di akar rumput, dengan fokus pada aset dan kekuatan, bukan pada kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi oleh mereka.12

Metode ABCD bertujuan mencapai tatanan kehidupan sosial di mana masyarakat menjadi aktor utama sekaligus penentu upaya pembangunan di lingkungannya atau lazim dinamakan Community-Driven Development (CDD).

Upaya ini ditempuh dalam rangka memahami potensi sekaligus aset yang dapat dimanfaatkan bagi pengembangan suatu masyarakat. Dengan demikian, manusia mampu berinisiatif mengembangkan potensi atau aset yang ada. Dalam konteks ini, tujuan diadakannya pendampingan ini adalah mengembangkan potensi sekaligus aset di Desa Sumberbendo, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun. Melalui pendekatan ABCD, masyarakat difasilitasi untuk aktif merumuskan agenda maupun program yang didesain dalam upaya memperbaiki kualitas hidup mereka.

Sumber mata air Pancur Pitu yang menjadi ikon pariwisata lokal diharapkan dapat dikembangkan secara optimal sehingga memberikan beragam manfaat bagi masyarakat setempat.

11 Eko Sudarmanto, dkk. Konsep Dasar Pengabdian Kepada Masyarakat: Pembangunan dan Pemberdayaan. (Sumatera Utara: Yayasan Kita Menulis, 2020), 224.

12 Steve Skinner. Building Strong Communities: Guidelines on Empowering the Grass Roots (London: Macmillan Education, 2019), 9.

25

Pendampingan yang dilakukan oleh dosen-dosen UIN Sunan Ampel Surabaya ini menggunakan ABCD yang selama ini lebih dikenal sebagai pendekatan berbasis aset. Hal ini berangkat dari fakta bahwa Desa Sumberbendo, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun sebagai lokasi pendampingan mempunyai sejumlah aset. Yang patut disayangkan, sebagian besar masyarakat setempat belum menyadari hal tersebut. Padahal, orang-orang yang tinggal di Desa Sumberbendo pada dasarnya perlu menyadari berbagai potensi dan aset yang selama ini dimiliki.

Setiap individu dalam masyarakat harus memahami bahwa aset merupakan modal yang besar dalam memunculkan kekuatan sekaligus membangun kemandirian.

Rendahnya pemahaman sekaligus kesadaran mereka mengenai potensi dan aset yang dimiliki melatarbelakangi peneliti bersama tim dalam memilih pendekatan ABCD dalam kegiatan pendampingan yang dilakukan.

2. Elemen Kunci ABCD

Setiap metode pendekatan pada dasarnya mempunyai proses yang beragam berdasarkan pemikiran dan cara pandang masing-masing. Ada pendekatan yang mengkaji permasalahan yang harus diatasi, ada pendekatan yang mencurahkan perhatian pada konteks sejarah, ada pula pendekatan yang berupaya mewujudkan mimpi manusia menjadi kenyataan. Metode pendekatan terakhir biasanya lebih kerap memperhatikan aset dan mimpi masyarakat. Metode pendekatan semacam ini menawarkan tiga elemen kunci sebagai berikut:13

a. Energi Masa Lampau

Elemen ini menggali hal-hal yang mampu mengantarkan individu, kelompok, atau masyarakat pada kesuksesan. Munculnya rasa bangga dan terbentuknya solidaritas antara satu orang dengan orang lainnya bisa disebabkan dengan mengingat kembali kisah-kisah sukses pada masa silam.

Cara ini mampu melahirkan daya pikat tersendiri terhadap bagaimana mereka berjuang mewujudkan kesuksesan mereka.

13 Edi Irawan. Model Pengabdian Berbasis Kompetisi. (Yogyakarta: Zahir Publishing), 41

26 b. Daya Tarik Masa Depan

Elemen ini merencanakan komitmen dan misi yang ingin diraih oleh manusia pada masa depan. Individu, kelompok, atau masyarakat diajak memaknai kesuksesan serta cara mencapainya. Komitmen meraih kesuksesan bersama adalah sebuah motivasi besar bagi setiap manusia.

Adanya visi serta strategi yang harus ditempuh menjadikan masyarakat ingin senantiasa berupaya mewujudkannya. Pada saat inilah, masyarakat sendiri yang akan merangkai kisah sukses mereka.

c. Persuasi Masa Kini

Elemen ini membentuk ulang situasi masa kini dari gambaran aset yang memiliki kekurangan, namun ditinjau dari cara pandang yang berbeda.

Bentuk penghargaan terhadap aset dilakukan dengan menjadikannya cukup bermakna. Persuasi masa kini bisa dilakukan dengan memetakan aset.

Masyarakat dan fasilitator sebisa mungkin menghargai semua aset individu maupun aset kelompok yang bisa dikembangkan bersama. Hal ini menjadi dasar kemitraan antara kelompok lokal dengan pihak luar, termasuk pemerintah. Berikut disajikan bagan 3 elemen kunci yang dimaksud:

Gambar 2. Keterkaitan antara Elemen Kunci ABCD

Ketiga elemen yang disebutkan di atas menjadi kunci utama dalam pendekatan pendampingan, di mana antara satu elemen dengan elemen lainnya

27

memiliki keterkaitan yang sangat erat. Pemilihan ABCD sebagai metode pendampingan meniscayakan adanya ketiga elemen tersebut.

3. Prinsip-prinsip ABCD

ABCD sebagai suatu pendekatan dalam upaya mengembangkan dan memberdayakan masyarakat memiliki dasar paradigmatik dan beberapa prinsip yang yang mendasarinya. Di samping berperan sebagai acuan pokok, paradigma dan prinsip ini juga mencerminkan karakteristik ABCD yang membedakannya dengan pendekatan-pendekatan pengembangan dan pemberdayaan masyarakat.

lainnya. Ini berarti, metode ABCD memuat paradigma sekaligus beberapa prinsip yang digunakan dalam mengembangkan masyarakat dengan berbasis pada aset.

Poin penting dalam paradigma dan prinsip pendekatan ABCD yaitu semua hal diarahkan pada pemahaman manusia dan internalisasi kekuatan, potensi, aset, serta pendayagunaannya secara mandiri dan optimal. Setiap prinsip menggambarkan adanya penyadaran masyarakat terhadap kekuatan serta energi positif yang perlu diketahui, dipahami, diidentifikasi, diinternalisasi, serta dimobilisasi oleh mereka dalam rangka meningkatkan kesejahteran. Dengan jalan ini, semua elemen masyarakat juga semakin berdaya. Paradigma dan beberapa prinsip pengembangan masyarakat berbasis aset dalam pendekatan ABCD yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Setengah terisi lebih berarti (half full and half empty) 2. Semua punya potensi (no body has nothing)

3. Partisipasi (participation) 4. Kemitraan (partnership)

5. Penyimpangan positif (positive deviance) 6. Berasal dari dalam masyarakat (endogenous) 7. Mengarah pada sumber energi (heliotropic)

Melalui ketujuh prinsip di atas, masyarakat diajak mengenali sekaligus mendalami potensi atau aset yang dimiliki. Seiring dengan munculnya rasa kepemilikan aset oleh setiap elemen masyarakat, perubahan yang diharapkan bisa diwujudkan secara perlahan. Apabila potensi atau aset telah berhasil digali, maka

28

setiap anggota komunitas bisa berperan aktif dalam kehidupan. Mereka dapat berkontribusi nyata terhadap adanya perubahan. Dalam taraf tertentu, keterbatasan fisik yang dimiliki seseorang tidak menghalanginya untuk memberikan sumbangsih atau kontribusi bagi masyarakat. Ada banyak kisah inspiratif orang-orang sukses yang justru mampu membalikkan keterbatasan fisik menjadi suatu kekuatan besar.

Bagaimanapun, aset merupakan modal berharga yang dimiliki oleh seluruh masyarakat. Pendekatan ABCD semakin menemukan urgensi dan relevansinya ketika dikaitkan dengan sejumlah aset Desa Sumberbendo yang sebisa mungkin dapat dioptimalkan. Dalam pendekatan ini, peneliti bersama tim menggunakan beragam cara dalam pendekatan ABCD, salah satunya dengan “melihat gelas separuh terisi dan separuh kosong”. Bagian gelas yang terisi menggambarkan potensi, aset atau kelebihan masyarakat, sementara bagian gelas yang kosong mengisyarakatkan kekurangannya. Ini berarti, setiap individu dalam masyarakat mempunyai sesuatu untuk bisa dioptimalkan. Apabila mereka bersedia memfokuskan diri pada apa yang dimiliki sekaligus mengembangkannya secara maksimal, niscaya hal tersebut menjadi semacam kekuatan yang besar bagi mereka.

Munculnya kesadaran dan pemahaman masyarakat mengenai potensi atau aset mereka memerlukan partisipasi aktif semua elemen masyarakat yang menjadi kunci utama pendampingan. Hal ini berdasarkan pemikiran bahwa kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang dijalankan oleh dosen-dosen UIN Sunan Ampel Surabaya bermula dari masyarakat dan untuk masyarakat. Dengan demikian, partisipasi merupakan proses untuk meraih tujuan tertentu. Merujuk Britha Mikkelsen, partisipasi menghasilkan pemberdayaan, yakni setiap orang berhak menyatakan pendapat dalam pengambilan keputusan yang menyangkut kehidupannya. Dapat diartikan bahwa partisipasi adalah alat yang digunakan untuk membangun tujuan pembangunan yang berkeadilan sosial.14

14 Britha Mikkelsen. Metode Penelitian Partisipatoris dan Upaya-Upaya Pemberdayaan. (Jakarta:

Yayasan Obor Indonesia, 2011), 65.

29 4. Subjek dan Sasaran Pendampingan

Pendampingan ini mengambil lokasi di Desa Sumberbendo, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun. Subjek dan sasaran utama dalam pendampingan yang dilakukan oleh dosen-dosen UIN Sunan Ampel Surabaya ini adalah orang-orang yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung dalam pengelolaan sumber mata air Pancur Pitu di Dusun Oro-oro Waru. Mempertimbangkan aset yang dimiliki oleh masyarakat setempat sekaligus semangat mereka dalam upaya mewujudkan harapan, fasilitator memilih Desa Sumberbendo sebagai lokasi pendampingan.

Aspek atau bidang yang dibidik dalam pendampingan adalah pemberdayaan ekonomi pariwisata. Dalam konteks ini, fokus pendampingan diarahkan pada penguatan komunitas. Sebagaimana diketahui, Desa Sumberbendo termasuk salah satu desa di Kabupaten Madiun yang sejak lama dibekali dengan potensi atau aset yang cukup besar, semisal melimpahnya Sumber Daya Alam (SDA), besarnya Sumber Daya Manusia (SDM), serta tingginya kekuatan sosial.

Meskipun dalam taraf tertentu, aset fisik di sana cukup terbatas, akan tetapi aset yang terakhir ini tetap saja dapat digunakan secara maksimal dalam upaya membentuk kemandirian masyarakat. Aset–aset inilah yang sebenarnya menjadi modal utama dalam memberdayakan masyarakat.

5. Teknik Pengumpulan Data

Beberapa teknik yang digunakan dalam pengumpulan data disesuaikan dengan pendekatan pendampingan, yaitu ABCD. Teknik-teknik pengumpulan data yang dianggap cukup relevan sekaligus menunjang kegiatan pendampingan dengan menggunakan pendekatan berbasis aset adalah:

a. Observasi

Observasi atau pengamatan merupakan langkah awal yang ditempuh oleh peneliti bersama tim untuk memperoleh data yang diperlukan dalam pendampingan. Observasi atau pengamatan dilakukan dengan melihat, meninjau, serta mengamati kondisi masyarakat di Desa Sumberbendo, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun. Hasil dari kegiatan ini dinilai

30

dapat memberikan beragam informasi tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada masyarakat setempat sekaligus hal-hal yang selama ini mampu bertahan. Observasi atau pengamatan merupakan langkah awal yang turut menentukan beberapa langkah berikutnya. Dalam rangka menghasilkan data yang valid, bisa dipercaya dan dapat dipertanggungjawabkan, peneliti bersama tim berusaha melakukan kegiatan ini secara maksimal.

b. Focus Group Disscusion (FGD)

FGD merepresentasikan diskusi kelompok dengan menghadirkan sejumlah orang yang memiliki keterkaitan dengan tema atau objek yang dibahas.

Dalam praktiknya, diskusi ini dihadiri oleh lebih dari tiga orang. Dengan menetapkan topik pembahasan, fokus pembahasan dalam diskusi diharapkan tidak melebar. Sebagai salah satu teknik pengambilan data dalam pendampingan ini, FGD dijalankan baik secara formal maupun informal dengan dipandu oleh seorang moderator. Seluruh orang yang hadir dalam FGD berhak memberikan pendapat atau pandangan. Moderator, peserta, dan notulen diusahakan diambil dari masyarakat. Fasilitator hanya berperan selaku pendamping diskusi supaya diskusi dapat berjalan dengan tertib dan lancar. Di samping menemukan konsep dan pandangan masyarakat setempat serta menggali data yang dibutuhkan, teknik ini juga merupakan cara mensinergikan antara pemikiran fasilitator dengan masyarakat.

c. Wawancara Semi Terstruktur

Teknik ini dianggap lebih fleksibel karena dilakukan dengan memastikan poin-poin yang akan ditanyakan kepada narasumber. Dalam hal ini, peneliti bersama tim sebisa mungkin memahami dan mendalami pertanyaan berdasarkan jawaban narasumber. Dalam wawancara semi terstruktur, suasana terkesan lebih santai, nyaman dan informal. Data yang digali melalui teknik ini diharapkan lebih valid dan akurat karena narasumber menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan dengan suka rela.

Narasumber yang diwawancarai merupakan aktor- aktor yang dinilai berperan besar dalam proses pendampingan.

31 6. Teknik Validasi Data

Data yang telah diperoleh untuk keperluan pendampingan cukup penting untuk divalidasi kembali oleh peneliti bersama tim. Dalam hal ini, fasilitator berusaha seoptimal mungkin memeriksa kembali apakah data yang diperoleh merupakan data yang valid atau akurat. Pemeriksaan data yang berhasil dikumpulkan dengan data lain yang ada di luar dijalankan melalui triangulasi.

Dengan cara ini, data dan segenap informasi yang berhasil dikumpulkan dinilai memuaskan sekaligus bisa dipertanggungjawabkan. Ada tiga macam triangulasi yang dijalankan oleh fasilitator selama proses pendampingan, yaitu:

a. Triangulasi Teknik

Triangulasi teknik dalam pendampingan ini dijalankan dengan menyampaikan pertanyaan serupa, tetapi melalui teknik yang berbeda.

Fasilitator dapat memilih menggunakan observasi, FGD, atau wawancara semi terstruktur. Data yang berhasil dikumpulkan melalui teknik observasi divalidasi dengan teknik FGD maupun wawancara. Apabila memuat perbedaan, maka fasilitator akan mendiskusikan terlebih dahulu mengenai data tersebut. Dengan jalan ini, data yang diperoleh diharapkan lebih valid dan akurat lantaran divalidasi dengan sejumlah teknik yang berbeda.

b. Triangulasi Sumber Data

Teknik ini dalam proses pendampingan dijalankan dengan menyampaikan pertanyaan serupa kepada sumber yang beragam. Fasilitator akan memerika apakah data yang telah dikumpulkan memiliki kesamaan. Dalam konteks ini, sumber yang menjadi rujukan yaitu orang-orang yang terkait dengan tema pendampingan. Fasilitator berusaha menggali data dan informasi mengenai peristiwa-peristiwa penting di Desa Sumberbendo serta hal-hal yang mempunyai keterkaitan dengan isu pendampingan.

c. Triangulasi Komposisi Tim

Triangluasi komposisi tim dalam pendampingan ini dijalankan oleh fasilitator serta sub-tim fasilitator atau tim pendukung. Dalam pendampingan ini, pihak yang sering terlibat dalam teknik ini adalah anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan karang taruna. Hal ini

32

berangkat dari pertimbangan bahwa mereka inilah yang selama ini terlibat secara langsung dalam pengelolaan lokasi-lokasi wisata di Desa Sumberbendo. Dengan demikian, anggota Pokdarwis dan karang taruna menjadi sub-tim fasilitator yang berpartisipasi aktif dalam proses pendampingan. Data dan informasi yang dikumpulkan oleh mereka diserap sekaligus dibandingkan guna memperoleh data yang valid dan akurat.

B. Aset Alam

Desa Sumberbendo memiliki beberapa aset yang perlu dirawat sekaligus dikembangkan oleh masyarakat setempat, di antaranya aset-aset yang dimaksud adalah sebagai berikut:15

1. Hutan

Sebagaimana diketahui, sebagian besar luas wilayah Desa Sumberbendo merupakan kawasan perhutanan. Itulah mengapa, keberadaan hutan sangat penting bagi masyarakat setempat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Seiring dengan meningkatnya jumlah petani porang, pemanfaatan lahan hutan untuk menanam dan mengembangbiakkan tanaman porang merupakan keniscayaan. Kondisi demikian mendapat respons dari pihak Perhutani yang menyewakan sebagian lahan hutan bagi siapa saja yang membutuhkannya. Tersedianya lahan hutan yang disewakan barang tentu memberikan keuntungan bari orang-orang desa yang ingin menjadikan porang sebagai sumber perekonomian utama maupun tambahan. Dalam beberapa tahun terakhir, tanaman tersebut menjanjikan omset yang cukup besar bagi masyarakat setempat. Dengan jarak panen kurang lebih dua tahun, para petani porang dapat memperoleh keuntungan yang berlipat dari modalnya. Bahkan, sebelum masa panen tiba, Sebagian petani porang bisa memetik keuntungan terlebih dahulu.

15 Hasil observasi lapangan di Desa Sumberbendo, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, pada tanggal 4 September 2021 pukul 10.00 WIB.

33 2. Kebun

Aset alam berikutnya yang dimiliki Desa Sumberbendo yaitu kebun.

Selama ini, tanah subur yang ada di desa mampu dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat setempat. Tersedianya lahan-lahan kosong di sejumlah titik membuat orang desa ingin memanfaatkannya dengan baik. Dalam taraf tertentu, upaya ini rupanya membantu mereka dalam menyiasati kebutuhan hidup. Rendahnya penghasilkan dan tingginya harga bahan sembako direspons dengan memanfaatkan apa yang ada di sekitarnya guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bermacam tanaman sengaja ditanam di sekitar rumah untuk keperluan jangka pendek maupun jangka panjang. Berikut merupakan sebagian tanaman yang dimaksud:16

a. Pisang

Baik di Dusun Kece, Dusun Oro-Oro Waru, Dusun Piji, maupun Dusun Tawangsono, tanaman ini kerap ditemukan. Orang desa gemar menanam tanaman pisang di samping atau belakang rumah. Bagi sebagian orang, kegiatan menanam pisang sebenarnya bukan dalam rangka membudidayakan tanaman tersebut dalam skala besar, namun lebih pada usaha mengisi lahan yang kosong di lokasi pemukiman warga. Pada umumnya mereka menanam pisang untuk dikonsumsi secara pribadi. Akan tetapi, bagi sebagian lainnya, pisang dipilih karena buahnya dapat dihidangkan dengan beraneka rupa. Hajatan keluarga, pertemuan formal di balai desa, pengajian, ataupun acara-acara besar lainnya tak pernah sepi dari pisang yang menjadi sajian yang nikmat dan menggoda.

b. Singkong

Sebagaimana pisang, singkong juga cukup mudah dijumpai di Desa Sumberbendo. Namun demikian, dibanding dusun-dusun lainnya, tanaman tersebut lebih banyak ditemukan di Dusun Kece. Walaupun jumlahnya tidak sebanyak pisang, singkong sejak lama menjadi aset lokal yang perlu

16 Hasil observasi lapangan di Desa Sumberbendo, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, pada tanggal 4 September 2021 pukul 09.10 WIB.

34

senantiasa dipertahankan oleh warga. Dalam beberapa tahun terakhir, singkong tidak ditanam secara reguler. Alasan inilah yang melatarbelakangi mengapa pemerintah desa tidak pernah menggalakkan warganya untuk menanam atau mengembangbiakkan tanaman tersebut. Selama ini, masyarakat setempat menanam singkong dengan maksud mengisi lahan kosong yang ada di samping maupun belakang rumah. Kandungan karbohidrat yang tinggi pada singkong menyebabkan sebagian besar orang desa gemar mengonsumsinya. Hanya dengan merebusnya, singkong bisa dinikmati secara bersama-sama. Meskipun tidak memberikan keuntungan finansial secara langsung, singkong dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk menambah persediaan bahan makanan. Karena bersifat mengenyangkan, singkong bisa difungsikan oleh mereka sebagai makanan pokok kedua setelah nasi.

c. Pohon jati

Sebagian besar lahan yang ada di Desa Sumberbendo mayoritas lahan di tanami pohon jati, oleh karena itu sebagian dari wilayah desa Sumberbendo dikelilingi dengan pohon jati. Meskipun durasi waktu yang dibutuhkan untuk menanam dan mengembangbiakkan pohon jati cukup panjang, orang-orang desa tetap menjadikan pohon jati sebagai primadona. Bagaimanapun, pohon tersebut merupakan aset yang sangat berharga bagi masyarakat yang bermukim di desa-desa Madiun pada umumnya serta Desa Sumberbendo pada khususnya. Aktivitas pengolahan pohon jati bisa menghasilkan barang-barang berkualitas dengan nilai jual yang tinggi.

3. Sungai

Desa Sumberbendo mempunyai aset alam berupa sungai dengan aliran air yang deras. Di pinggiran sungai terdapat jembatan dan tanggul yang tingginya sekitar dua meter dengan kualitas yang masih baik.17 Masyarakat setempat selama

17 Hasil observasi lapangan di Desa Sumberbendo, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, pada tanggal 4 September 2021 pukul 15.00 WIB.

35

ini merasa cukup terbantu dengan adanya sungai di desa mereka. Bagi para petani, sungai memberikan manfaat yang cukup besar dalam upaya merawat sekaligus mengembangbiakkan bermacam tanaman. Apalagi, sebagai wilayah agraris, Desa Sumberbendo memerlukan sungai untuk menjaga agar aset-aset pertanian dapat senantiasa bertahan dan berkembang. Sungai di Desa Sumberbendo berfungsi mengaliri persawahan di sekelilingnya serta menampung atau menyerap air yang meluap saat musim penghujan tiba. Itulah mengapa, di samping berperan sebagai

ini merasa cukup terbantu dengan adanya sungai di desa mereka. Bagi para petani, sungai memberikan manfaat yang cukup besar dalam upaya merawat sekaligus mengembangbiakkan bermacam tanaman. Apalagi, sebagai wilayah agraris, Desa Sumberbendo memerlukan sungai untuk menjaga agar aset-aset pertanian dapat senantiasa bertahan dan berkembang. Sungai di Desa Sumberbendo berfungsi mengaliri persawahan di sekelilingnya serta menampung atau menyerap air yang meluap saat musim penghujan tiba. Itulah mengapa, di samping berperan sebagai

Dokumen terkait