MENGEMIS SEBAGAI PROFESI PADA MASYARAKAT CIKOKOL KOTA TANGERANG
A. Komunitas Pengemis Cikokol
Data-data penelitian ini diambil berdasarkan wawancara dengan 37 narasumber yang terdiri dari: lurah Cikokol, 1 orang tokoh agama setempat, 5 orang warga Cikokol non pengemis dan 30 orang pengemis. Narasumber berasal dari Rt. 03 Rw. 02 kelurahan Cikokol kecamatan Tangerang kota Tangerang. Jumlah warga Rt 03 adalah 523 orang dan 170 Kepala Keluarga (KK).1
Fenomena kehadiran pengemis merupakan realitas sosial yang berkembang di kota Tangerang saat ini. Faktor tersebut didasari oleh keadaan sosial, ekonomi, keluarga dan tingkat urbanisasi yang tinggi menyebabkan seseorang berprofesi sebagai pengemis untuk mencukupi kebutuhan hidup. Para pengemis datang ke kota dengan motivasi untuk mencari pekerjaan yang lebih baikdaripekerjaanmereka sebelumnya. Tetapi dengan latar belakang pendidikan yang rendah dan keterbatasan pengalaman dan keahlian, maka sulit bagi mereka untuk mendapatkan pekerjaan. Hal ini dikatakan oleh Bapak Simpen, 47 tahun (seorang narasumber pengemis) sebagai berikut:
“Saya datang ke kota ini (Tangerang) ingin mencari pekerjaan yang lebih baik walaupun saya hanya lulusan SD. Dari pada di kampung jadi petani tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Karena
1
mencari pekerjaan di sini juga susah, untuk sementara ini saya bekerja sebagai pengemis”.2
Para pengemis umumnya hadir dari keluarga kurang mampu. Mereka lahir dari keluarga dan lingkungan tempat tinggal yang jauh dari kecukupan. Mereka berasal dari daerah, suku dan agama yang berbeda, seperti suku jawa, sunda dan batak. Ironisnya pengemis di daerah Cikokol mayoritas beragama Islam. Walaupun mereka berasal dari latar belakang yang berbeda tetapi kehidupan sosial mereka tetap berjalan baik.3
Dengan maraknya pengemis yang melakukan urbanisasi tidak lantas menyadarkan mereka untuk memperbarui kartu tanda penduduk (KTP) mereka agar sesuai dengan domisili mereka saat ini. Hal ini jelas menjadikan keberadaan para pengemis itu tidak memiliki tanda kependudukan yang jelas di mata negara.
Kehadiran pengemis dapat diterima masyarakat tempat mereka tinggal. Warga sekitar tempat tinggal pengemis tidak membedakan status sosial dan tidak
memarginalisasi ras dan suku tertentu. Para pengemis juga mengikuti kegiatan-kegiatan kemasyarakatan seperti kerja bakti, gotong royong, dan pengajian mingguan.4 Hal ini seperti dipaparkan oleh bapak Karyo (49 tahun) asal Solo. Ia mengatakan bahwa dalam satu minggu ada dua kali pertemuan pengajian yang dihadiri oleh para pemuda dan orang tua dari kalangan pengemis. Dia juga punya
2
Wawancara pribadi dengan Bapak Simpen, Rabu 1 September 2010 Pukul 10:00 WIB.
3
Wawancara pribadi dengan Bapak Sholeh, Rabu tanggal 1 September 2010 Pukul 11:00 WIB.
4
Wawancara pribadi dengan Bapak Mihar, warga Cikokol, Minggu 5 September 2010 Pukul 12:30 WIB.
kebiasaan positif lain, seperti membaca Surat Yasin dan Tahlil pada kamis malam.5
Para pengemis sangat memperhatikan pendidikan anak-anak dan keluarganya. Ibu Nisa pengemis asal Cirebon, memiliki 3 anak yang dibesarkan di Tangerang. Perhatiannya untuk pendidikan agama tergolong tinggi. Ia mendaftarkan anaknya untuk belajar mengaji di TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) Ulumul Quran, yang berada tak jauh dari pemukiman itu. Dengan iuran Rp..7000, - perbulan. Peserta didiknya sangat beragam mulai dari SD sampai SMP. Ia menegaskan bahwa “walaupun kita miskin tapi pendidikan anak
penting, agar mereka tidak seperti orang tuanya yang bodoh karena tidak sekolah”.6
Kehadiran sosok Kak Nunung sebagai pengajar tunggal di TPA itu, sangat membantu pendidikan, khususnya pendidikan agama di kawasan pemukiman pengemis. Pengajian Iqra untuk anak kecil dan Al-Quran untuk ibu-ibu menjadi sebuah pertanda kehidupan aktivitas beragama dan intensitas beribadah yang tidak bisa dipandang sebelah mata.7
Pekerjaan mengemis yang terlihat setiap hari di pinggir-pinggir jalan maupun dalam bentuk lain, rumah ke rumah pada dasarnya berangkat dari persoalan yang klasik yaitu ekonomi. Hal inilah yang mendasari orang menjadi peminta-minta atau pengemis.
5
Wawancara Pribadi dengan bapak Karno, Kamis tanggal 2 September 2001 Pukul 09:00 WIB.
6
Wawancara pribadi dengan ibu Nisa pada tanggal 5 September 2010.
7
1. Tingkat Pendidikan Pengemis
Pada umumnya para pengemis adalah orang-orang yang berpendidikan rendah yaitu hanya mengenyam bangku sekolah sampai SD bahkan banyak pula yang tidak lulus SD. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh bapak Adin (40 tahun) pengemis asal Subang. “Dulu saya tidak sekolah, karena orang tua saya tidak punya uang untuk biaya sekolah, gimana mau sekolah makan saja sulit, makanya sekarang menjadi pengemis”.8 Pernyataan serupa juga disampaikan oleh bapak Sholeh (31tahun),”waktu kecil orang tua saya tidak sanggup membayar biaya sekolah, kemudian saya disuruh mengamen di jalan”.9
Berikut ini adalah tabel data pendidikan para pengemis berdasarkan hasil survei yang penulis lakukan
Tabel 4.1
Data Pendidikan Terakhir Narasumber Pengemis
No Tingkat Pendidikan F % 1 SD 12 40 2 SLTP 10 33 3 SLTA 0 0 4 Tidak Sekolah 8 27 Jumlah 30 100
Sumber: Data Lapangan Tahun 2010
8
Wawancara pribadi dengan bapak Adin, Rabu 18 Agustus 2010 Pukul 16:00 WIB.
9
Dari tabel di atas terlihat jelas bahwa mayoritas pengemis hanyalah lulusan SD. Hal ini menunjukkan bahwa mengemis adalah sebuah pilihan untuk mereka bertahan hidup karena dengan pendidikan yang rendah dan keterbatasan keterampilan membuat mereka tersisihkan dari lapangan pekerjaan.
2. Status Pekerjaan Pengemis
Pekerjaan pengemis pada dasarnya berangkat dari persoalan yang sama yaitu tingkat ekonomi yang rendah dan keterbatasan lapangan pekerjaan. Hal ini menjadi persoalan utama masyarakat menjadi peminta-minta atau pengemis sehingga pekerjaan mengemis ini merupakan alternatif atau pilihan terakhir manakala tidak mendapat kesempatan bekerja baik di lembaga pemerintah ataupun perusahaan swasta. Karena di tengah desakan ekonomi pekerjaan mengemis atau meminta-minta merupakan alternatif untuk menghidupi keluarga sehari-hari.
Kesulitan ekonomi memaksa para pengemis mengambil profesi meminta-minta atau menjadi pengemis, walaupun sebagian orang menganggap bahwa mengemis merupakan pekerjaan yang hina tetapi mereka tetap mempertahankan profesi tersebut demi mempertahankan hidup. Berdasarkan status pekerjaan yang mereka tekuni ada dua jenis sistem mengemis. Pertama, pengemis yang bekerja secara individual, yaitu pengemis yang bekerja tanpa adanya bos dan rekan pengemisnya yang lain di derah ini ada sekitar 21 orang, dan yang kedua yaitu pengemis yang
bekerja secara kelompok, yaitu pengemis yang tinggal dan bekerja dengan seorang bos serta beberapa karyawan pengemis lainnya ada sekitar 9 orang.10
Pengemis yang bekerja secara individual memiliki rumah sendiri. Mereka tidak berkumpul dengan pengemis lainnya. Sedangkan pengemis yang bekerja secara kelompok bertempat tinggal di lapak seorang bos, yaitu dengan menyewa tanah pertahun Rp.. 1.000.000, - (satu juta rupiah) dibayar secara angsur.11 Di tanah tersebut dibuat bangunan semi permanen dari bambu-bambu dan beberapa kayu lainnya hingga menjadi rumah bilik untuk mereka tempati.
Berikut ini tabel data tempat tinggal para pengemis.
Tabel 4.2
Data Tempat Tinggal Narasumber Pengemis
No Tempat Tinggal f % 1 Rumah saudara 3 10 2 Rumah sendiri 11 33 3 Kontrakan 8 27 4 Lapak 9 30 Jumlah 30 100
Sumber: Data Lapangan Tahun 2010
Tabel di atas menyebutkan bahwa umumnya pengemis tinggal di rumah milik sendiri. Jika hal ini dikaitkan dengan sistem mengemis seperti
10
Wawancara pribadi dengan bapak Abdullah, kamis 21 Agustus 2010 Pukul 15:00 WIB.
11
yang sudah dipaparkan di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa mayoritas pengemis bekerja secara individual.
3. Usia Pengemis
Profesi pengemis dapat dijalankan oleh siapa saja mulai dari anak-anak sampai lanjut usia. Seperti Rahmat, seorang anak-anak laki-laki berusia 10 tahun bekerja sebagai pengemis. Setiap hari ia berdiri di tepi jalan dan menghampiri setiap mobil atau motor yang melintas.12 Lain halnya dengan mbok Tuti, seorang wanita berumur 61 tahun Setiap hari ia duduk di pinggir jalan untuk meminta uluran tangan orang yang melintas.13 Lihat tabel berikut:
Tabel 4.3
Data Usia Narasumber Pengemis
No Kelompok Usia f % 1 10 - 14 Tahun 2 7 2 15 - 19 Tahun 1 3 3 20 - 29 Tahun 5 17 4 30 - 44 Tahun 11 37 5 45 - 74 Tahun 9 30 6 75+ 2 7 Jumlah 30 100
Sumber: Data Lapangan Tahun 2010
Mayoritas pengemis berusia 35 tahun ke atas. Pada umumnya usia 35
12
Wawancara pribadi dengan Rahmat, Kamis 26 Agustus 2010 Pukul 08:00 WIB.
13
tahun atau lebih rata-rata sudah memiliki keluarga dan memiliki anak serta istri yang harus dinafkahi.
3. Identitas Kelamin
Pekerjaan mengemis tidak hanya dilakukan oleh laki-laki. Banyak juga wanita yang menggeluti pekerjaan tersebut. Himpitan ekonomi menjadi alasan mendasar bagi para wanita melakukan pekerjaan itu. Berikut ini adalah data identitas pengemis berdasarkan jenis kelamin.
Tabel 4.4
Identitas Kelamin Narasumber pengemis
No Identitas Kelamin f %
1 Laki-laki 20 67
2 Perempuan 10 33
Jumlah 30 100
Sumber: Data Lapangan Tahun 2010
Dari tabel di atas terlihat jelas bahwa perbandingan pengemis laki-laki dan perempuan adalah 2 : 1. Hal ini dikarenakan laki-laki memegang tanggungjawab yang lebih besar dalam keluarga yaitu sebagai pencari nafkah sedangkan perempuan yang menggeluti profesi mengemis dilandasi alasan untuk membantu suami.
4. Rentang Waktu Mengemis
singkat melainkan mingguan atau bulanan. Ada pengemis yang menjalaninya sampai hitungan tahunan sebagaimana diungkapkan oleh seorang pengemis yang bernama bapak Barco (50 tahun) mengatakan bahwa ia sudah 4 tahun menjalani profesi sebagai pengemis, ia tidak bisa bekerja lagi sejak tubuhnya terkena penyakit kusta dan tidak ada sanak saudara yang tinggal bersamanya dan membiayai hidupnya, sehingga ia memilih menjadi pengemis.14
Berikut ini adalah data mengenai rentang waktu menjadi pengemis. Tabel 4.5
Data Rentang Waktu Mengemis
No Rentang Waktu f %
1 Di atas 10 tahun 0 0
2 6 – 10 tahun 6 20
3 1 – 5 tahun 6 20
3 1 – 11 bulan 10 33
4 Kurang dari seminggu 8 27
Jumlah 30 100
Sumber: Data Lapangan Tahun 2010
Sebagaimana telah disebutkan dalam tabel di atas bahwa mayoritas pengemis sudah menjalani pekerjaan tersebut dalam jangka waktu di bawah 1 tahun, ada juga yang sudah menjalaninya di atas 5 tahun bahkan pekerjaan mengemis ini sudah dijadikan sebagai profesi untuk menghasilkan uang.
14
5. Pekerjaan Sebelum Menjadi Pengemis
Sebelum menjadi pengemis, para pengemis mempunyai pekerjaan lain dan ada pula yang belum bekerja. Pekerjaan sebelum menjadi pengemis sangat beraneka ragam yaitu pengamen, tukang becak, petani, pemulung dan ada juga yang pengangguran.
Rendi anak berusia 15 tahun sebelum menjadi pengemis ia bekerja sebagai pengamen. Ia mengamen dari angkot ke angkot atau ke rumah-rumah warga. Ia memilih berpindah profesi menjadi pengemis karena menjadi pengemen sering kali bersaing dengan pengamen dewasa yang lebih besar darinya dan sering kali ia “dipalak” atau dimintai uang sehingga ia takut.15 Berbeda dengan ibu Sumarni (53 tahun), sebelum bekerja sebagai pengemis ia adalah seorang pemulung. Ketika memasuki bulan Ramadhan ia mengganti profesi sebagai pengemis karena profesi ini dianggap lebih menguntungkan, tetapi setelah bulan Ramadhan usai ia kembali lagi bekerja sebagai pemulung.16 Di bawah ini tabel pekerjaan narasumber sebelum menjadi pengemis, sebagai berikut:
15
Wawancara dengan Rendi, Senin 30 Agustus 2010 Pukul 09:00 WIB.
16
Tabel 4.6
Data Pekerjaan Sebelum Menjadi Pengemis
No Jenis Pekerjaan f % 1 Pengamen 6 23 2 Tukang becak 5 17 3 Petani 8 27 4 Pemulung 4 13 5 Tukang parker 2 7 6 Belum bekerja 5 17 Jumlah 30 100
Sumber: Data Lapangan Tahun 2010
Berdasarkan tabel di atas, narasumber memberikan jawaban yang beragam. Hal ini menandakan bahwa pekerjaan yang mereka lakukan sebelum menjadi pengemis pun merupakan pekerjaan yang berpenghasilan sangat rendah.
6. Ajakan untuk Mengemis
Hubungan pengemis satu dengan yang lainnya terkadang masih ada ikatan keluarga sehingga dorongan untuk menjadi pengemis terkadang timbul karena ajakan keluarga. Hal ini sebagaimana yang dialami Dodi (15 tahun). Ia menjadi pengemis karena ajakan ibunya, ia menjelaskan bahwa:
”Saya menjadi pengemis diajak oleh ibu. Ibu saya juga pengemis. Kata ibu, dari pada saya tidak ada kegiatan lebih baik mengemis mendapatkan uang. Ibu juga mengajak adik saya yang lain. Hasil dari mengemis diberikan kepada ibu dan setengahnya dipakai untuk jajan”.17
Selain karena ajakan keluarga, dorongan mengemis pun bisa timbul karena dorongan hati nurani atau keinginan sendiri. Kasus ini sebagaimana diungkapkan oleh bapak Bejo (29 tahun): “tidak ada yang mengajak saya menjadi pengemis. Profesi tersebut diambil berdasarkan hati nurani atau keinginan sendiri tak ada dorongan dari siapapun”.18
. Lihat tabel berikut:
Tabel 4.7
Data Ajakan Untuk Mengemis
No Data Pelaku f % 1 Keluarga 10 33 2 Saudara 5 17 3 Tetangga 7 23 4 Keinginan sendiri 8 27 Jumlah 30 100
Sumber: Data Lapangan Tahun 2010
Berdasarkan data di atas umumnya narasumber menjadi pengemis karena ajakan dari pihak keluarga. Bahkan terkadang semua anggota keluarga berprofesi sebagai pengemis.
7. Jam Kerja Pengemis
Dalam menjalankan aktivitas sebagai pengemis, para pengemis memulai aktivitasnya dengan waktu yang berbeda. Ada yang memulai sejak matahari terbit, tetapi ada juga yang memulai ketika siang hari. Berikut ini adalah data mengenai jam keberangkatan pengemis. Seperti diungkapkan oleh Tarno (52 tahun):
“Saya biasa berangkat jam 9 pagi, karena saat itu keadaan sudah
ramai banyak orang yang melintas di jalan-jalan untuk mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing”.
18
Tabel 4.8
Data Jam Kerja Narasumber
No Jam Keberangkatan f % 1 Pukul 6.00 5 17 2 Pukul 7.00 8 27 3 Pukul 8.00 7 23 4 Pukul 9.00 10 33 Jumlah 30 100
Sumber: Data Lapangan Tahun 2010
Berdasarkan tabel di atas, mayoritas pengemis memulai aktivitas sejak pukul 9 pagi. Keberangkatan kerja mereka disesuaikan dengan keramaian di tempat mereka mengemis.
8. Status Perkawinan Pengemis
Mayoritas pengemis berstatus sudah menikah. Berikut ini adalah data mengenai status perkawinan narasumber.
Tabel 4.9
Data Status Perkawinan Narasumber
No Status Perkawinan f %
1 Belum berkeluarga 5 17
2 Sudah berkeluarga 25 83
Jumlah 30 100
Pekerjaan mengemis dilakukan karena desakan ekonomi, terlebih bagi mereka yang sudah berkeluarga. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh bapak Oding (40 tahun):
”Saya sudah menikah dan punya anak. Anak dan istri jadi tanggungan. Kalau tidak bekerja seperti ini mau dikasih makan apa mereka. Bekerja apa saja yang penting bisa makan sehari-hari”19
9. Daerah Asal Pengemis
Berbagai literatur menyebutkan, peningkatan jumlah penduduk perkotaan sangat berpengaruh pada tingginya masyarakat pendatang yang ingin berkarir di ibu kota. Datang ke kota dengan harapan dan angan-angan mendapat pekerjaan yang menjanjikan di kota yang mengakibatkan serta berpengaruh terhadap lingkungan pemukiman. Dalam hal ini bapak Hamdani
selaku ketua rukun tetangga (RT) menegaskan bahwa “banyak warga pendatang yang telah terdaftar di RT ini antara lain berasal dari Cirebon, Palembang, Lampung, dan Indramayu. Setiap bulannya ada saja warga pendatang dan menetap di sini”.20
Lihat tabel asal daerah seperti berikut:
Tabel 4.10
Data Daerah Asal pengemis
No Daerah Asal f %
1 Penduduk asli 2 7
2 Pendatang 28 93
Jumlah 30 100
Sumber: Data Lapangan Tahun 2010
19
Wawancara pribadi dengan bapak Oding, 16 Agustus 2010 Pukul 15:00 WIB.
20
Berdasarkan data di atas mayoritas pengemis berasal dari luar daerah. Mereka merantau ke kota dengan tujuan awal untuk memperbaiki taraf hidup, namun yang terjadi sebaliknya, mereka hanya menjadi aib bagi masyarakat.
10. Penghasilan Pengemis
Penghasilan pengemis per hari memang tidak dapat ditentukan sebab penghasilan pengemis tergantung dari hasil sedekah yang didapatkan. Bapak Damacon (40 tahun) menegaskan bahwa “penghasilan kadang-kadang bisa sampai Rp. 30.000,-/hari, tetapi pada saat bulan puasa terkadang pendapatannya meningkat bisa sampai Rp.. 40.000,- – Rp.. 50.000,-/hari”.21
Tabel 4.11
Data Pendapatan Pengemis Perhari
No Data Pendapatan f % 1 Rp.. 15.000,- 5 17 2 Rp.. 20.000,- 7 23 3 Rp.. 25.000,- 8 27 4 Rp.. 30.000,- 10 33 Jumlah 30 100
Sumber: Data Lapangan Tahun 2010
21
Seperti data di atas umumnya pendapatan pengemis sebesar Rp. 30.000, - Bila pendapatan mereka rata-rata Rp. 30.000, - maka dalam sebulan mereka mendapatkan penghasilan Rp. 900.000,-. Ini pendapatan satu pengemis, bila istri dan anak-anaknya berprofesi yang sama, maka pendapatan pengemis meruoakan suatu yang menakjukkan, maka pengemis sebenarnya tidak dapat dikategorikan masyarakat miskin karena badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)22 menetapkan untuk standar tahun 2008 bahwa masyarakat yang digolongkan miskin apabila pendapatan rata-rata per orang sebulannya kurang dari Rp. 500.000,-.
Pada setiap bulan Ramadhan pendapatan pengemis meningkat bisa dua kali lipat dari hari biasanya. Bila dalam sehari ia mendapatkan Rp. 30.000,- maka bila bulan puasa meningkat menjadi Rp. 50.000,- kadang lebih. Artinya bila sehari mendapatkan Rp. 50.000,- dalam sebulan terkumpul Rp. 1.500.000,- karena pada bulan Ramadhan setiap manusia ingin mendapatkan pahala dan berkah dan ini merupakan lahan dan kesempatan para pengemis untuk meraih keuntungan.
Namun jika suatu saat mendapat pekerjaan yang lebih baik dan lebih mapan dari pengemis maka mereka pun akan beralih dan berhenti menjadi pengemis.23
22
www.standar.pendapatan/masyarakat/miskin.com/2archive.html diakses pada tanggal 26 Oktober hari Jumat pukul 12:00 WIB
23
11. Perasaan Menjadi Sorotan Masyarakat Banyak
Suasana bathin para pengemis saat menjalankan profesi sebagai pengemis, tidak lagi mengendali rasa malu, nilai-nilai rasa malu dalam diri mereka sudah tumpul. Rasa malu tidak lagi penting karena kebutuhan atau perut lapar jauh lebih penting. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Armia (42 tahun). Sebagai berikut:
“Awal menjadi pengemis malu, karena menjadi sorotan orang banyak. Tetapi kebutuhan hidup lebih penting dan yang menjadi pengemis juga banyak tidak usah malu lagi”.24
Tabel 4.12
Perasaan Menjadi Sorotan Masyarakat Banyak
No Perasaan f %
1 Malu 10 33
2 Tidak malu 20 67
Jumlah 30 100
Sumber: Data Lapangan Tahun 2010
Hinaan dan cacian dari masyarakat yang memandang sebelah mata tidak lagi menjadi halangan para pengemis. Sebuah konflik bathin antara kebutuhan dan norma dalam diri manusia, kebutuhan hidup menghilangkan rasa malu di dalam diri mereka.
24
12. Respon Pengemis tentang Peraturan Larangan Mengemis
Para pengemis sadar bahwa perilaku mereka tidak baik dan dilarang oleh agama. Mereka sebenarnya tahu ada peraturan tentang larangan mengemis di daerah Cikokol. Lihat tabel berikut:
Tabel 4.13
Pengetahuan Pengemis tentang Peraturan
No Tingkat Pengetahuan f %
1 Mengetahui 25 83
2 Tidak tahu 5 17
Jumlah 30 100
Sumber: Data Lapangan Tahun 2010
Peraturan tidak lagi momok menakutkan bagi mereka, buktinya mereka tetap menjalankan profesi tersebut dan tidak peduli bahwa perilaku melanggar aturan seperti yang diungkapkan oleh Subki (33 tahun) sebagai berikut:
“Saya tidak peduli dengan peraturan yang ada. Ketika saya lapar, apakah pemerintah atau orang yang melarang dan memandang sebelah mata pekerjaan ini mau menolong kalau saya dan keluarga saya lapar. Saya di sini bekerja. Inilah pekererjaan saya, mengemis. “25
25
Tabel 4.14
Tindakan Pengemis Menyikapi Peraturan
No Tingkat Ketaatan f %
1 Peduli 6 0%
2 Tidak peduli 24 100
Jumlah 30 100
Sumber: Data Lapangan Tahun 2010
Peraturan berfungsi sebagai norma hukum dalam mengontrol perilaku masyarakat dalam bertindak. Tetapi sebagian masyarakat mengemis tidak lagi patuh terhadap hukum yang ada, dengan melangar peraturan tersebut masyarakat pengemis termasuk warga yang tidak patuh terhadap aturan.
13. Pengalaman Tertangkap Saat Razia
Sebagian besar pengemis tidak pernah tertangkap saat menjalankan profesi mengemis. Mereka menghindar dengan berlari dan bersembunyi menghindari kejaran petugas. Hal ini diungkapkan oleh Wati (36 tahun) sebagai berikut:
“Alhamdulillah saya tidak pernah tertangkap saat razia, karena biasanya saya lari dan mengumpat dan berpura-pura seakan saya bukan pengemis atau orang yang mereka cari”. Pengakuan Wati berbeda dengan Rini (45 tahun) sebagai berikut:”saya
pernah ditangkap dan dibawa ke dinas sosial tetapi saya bisa bebas dibantu suami saya dengan ada surat keterangan dari Rw dan perjanjian tidak mengemis lagi. Lihat tabel berikut:
Tabel 4.15
Pengalaman Tertangkap Saat Razia
No Alternatif Jawaban F %
1 Pernah 6 20
2 Tidak pernah 24 80
Jumlah 30 100
Sumber: Data Lapangan Tahun 2010
Pengalaman tertangkap petugas dan dikarantina tidak menjadi ukuran untuk tidak kembali mengemis. Para pengemis tetap mengemis seakan tidak takut tertangkap kembali.
B. Faktor-Faktor yang Melatar belakangi Budaya Mengemis pada Komunitas