BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Infeksi Menular Seksual (IMS)
2.2.6 Jenis IMS
2.2.6.6 Kondiloma Akuminatum
Merupakan kasus IMS terbanyak di RSUP H. Adam Malik tercatat tahun 2013 – 2017 (Catherine, 2018). Kondiloma akuminatum atau kutil kelamin merupakan lesi berbentuk papilomatosis, dengan permukaan verukosa yang disebabkan oleh infeksi human papillomavirus (HPV) tipe tertentu (terutama tipe 6 dan 11) dan terdapat di daerah kelamin dan atau anus. HPV merupakan patogen yang spesifik menginfeksi hanya manusia, disebarkan melalui kontak langsung dari orang ke orang, terutama melalui hubungan seksual, dan sebagian kecil kasus ditularkan melalui barang yang tercemar partikel HPV. Menginfeksi jaringan epitel kulit dan membran mukosa (Gewirtzman et al. 2011; Indriatmi & Handoko, 2017).
Gejala klinis terutama terdapat pada daerah lipatan yang lembab, misalnya daerah genitalia eksterna. Lokasi predileksi pada laki-laki di perineum dan sekitar anus, sulkus koronarius, glans penis, di dalam meatus uretra, korpus, dan pangkal penis. Pada perempuan, daerah vulva dan sekitarnya, introitus vagina, terkadang pada porsio uteri. Kecepatan pertumbuhan kondiloma akuminatum bergantung pada kelembaban dan kondisi imunitas, pada penderita HIV, pertumbuhan akan lebih cepat. Keluhan tersering hanyalah rasa gatal, namun apabila sudah terjadi infeksi sekunder, akan didapati rasa nyeri, bau kurang enak, dan mudah berdarah.
Bentuk klinis tersering berupa lesi seperti kembang kol, berwarna seperti mukosa yang di infeksi atau seperti daging. Ukuran lesi dari beberapa millimeter sampai beberapa sentimeter. Kutil-kutil bergabung menjadi massa yang besar.
Bentuk lain yang juga sering dijumpai adalah lesi keratotik dengan permukaan kasar dan tebal, lesi berbentuk kubah dengan permukaan yang rata, sering ditemukan di atas permukaan yang kering (Indriatmi & Handoko, 2017).
2.2.6.7 Hepatitis B & Hepatitis C
Hepatitis merupakan inflamasi pada organ hati yang dapat disebabkan oleh beberapa jenis virus, yakni virus hepatitis A, B, C, D, E. Dari semua penyakit hepatitis, hepatitis B virus (HBV) merupakan yang paling tinggi insidensinya.
Tergolong sebagai jenis hepatitis yang paling serius dan sering (WHO, 2002;
Ginting, 2014), lebih kurang 2 milyar orang di dunia terinfeksi hepatitis B dan 240 juta diantaranya bersifat kronis dan sangat berisiko berkembang menjadi penyakit progresif hati (WHO, 2014). Hepatitis C merupakan jenis hepatitis yang paling sering menjadi kronis bahkan karsinoma (Inoue & Tanaka, 2016). CDC (2015) menggolongkan hepatitis B & hepatitis C sebagai penyakit menular seksual, meskipun penularannya tidak selalu secara seksual. Transmisi hepatitis B
& C melalui darah, semen, ataupun duh tubuh yang terinfeksi masuk ke tubuh orang yang tidak terinfeksi (CDC, 2016).
Adanya kesamaan pintu transmisi menyebabkan risiko yang sama pada individu dengan HIV ataupun hepatitis B. Pasien yang terinfeksi HIV mempunyai
risiko lebih besar untuk menjadi hepatitis B kronis (CDC, 2019). Data menunjukkan bahwa ditemukan transmisi seksual hepatitis C virus (HCV) yang lebih tinggi pada pasien HIV, terutama kelompok LSL (Fierer, 2012). Koinfeksi HIV dengan HBV maupun HCV sering ditemukan, dengan 5-20% untuk HBV (UNAIDS, 2016) dan sekitar 21% dengan HCV pada suatu studi (Spradling et al.
2007; CDC, 2019).
Gejala klinis yang tersering adalah ikterus, demam, kelelahan, nyeri abdomen, urin berwarna gelap, feses berwarna abu-abu, nyeri sendi, hilang nafsu makan, mual, dan muntah. Pencegahan terbaik untuk hepatitis B adalah vaksin yang diberikan satu seri terdiri dari tiga kali injeksi dalam periode enam bulan, sedangkan untuk hepatitis C masih belum ada vaksin yang efektif dan bergantung dengan menurunkan faktor risiko paparan terhadap HCV di lingkungan dan populasi berisiko tinggi (CDC, 2013). Diagnosis pasti Hepatitis B akut ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan hasil serologis HBsAg (+) dan IgM anti-HBc (+). Hepatitis C akut dinyatakan positif apabila ditemukan serokonversi anti-VHC pada pasien dengan riwayat anti-VHC negatif sebelumnya, dan dijumpai ikterik dengan serum ALT > 10x nilai batas atas normal, tanpa ada riwayat penyakit hati lainnya (Klarisa, C et al. 2016).
2.2.6.8 Kandidosis genitalis
Kandidosis adalah infeksi yang disebabkan Candida sp., terutama Candida albicans. Laki-laki ataupun perempuan dari berbagai kelompok usia dapat mengalami kandidosis. Masa inkubasi pada patogen oportunistik ini berlangsung selama 5 – 21 hari. Kontak seksual yang terlalu sering menyebabkan abrasi vagina dan alergi terhadap semen laki-laki, hal ini menjadi salah satu faktor predisposisi kandidosis genitalis.
Berdasarkan lokasinya dapat diklasifikasikan menjadi kandidiosis selaput mukosa, kandidosis kutis, kandidosis sistemik, dan reaksi kandidid. Kandidosis vulvovaginalis (vulvovaginitis) dan balanitis merupakan jenis kandidosis genitalis yang masuk dalam kelompok kandidosis selaput mukosa. Diagnosis biasanya dilakukan dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik dengan konfirmasi
pemeriksaan mikroskop dan kultur. Keluhan subjektif pada penderita perempuan yakni duh vagina berwarna putih susu, rasa gatal dan panas pada area vulva, nyeri pasca berkemih, dan dyspareunia, pada laki – laki, adanya kemerahan pada glans dan bawah prepusium yang belum disirkumsisi, rasa gatal dan panas, dan duh tubuh cair mengandung bulir – bulir dapat keluar di pagi hari. Konfirmasi dengan pemeriksaan penunjang dibutuhkan dengan bahan kerokan kulit, usapan mukokutan ataupun duh tubuh vagina dari dinding lateral vagina. Untuk sediaan basah, spesimen ditetesi larutan KOH 10%, dapat pula dilakukan pewarnaan gram untuk mencari sel ragi, blastospora, atau pseudohifa. Pada kultur biakan agar dekstrosa glukosa Saboraud, hasil positif ditandai dengan timbulnya koloni berwarna putih yang disebut yeast-like colony (Marcelena & Menaldi, 2016).
2.2.6.9 Moluskum kontagiosum
Moluskum kontagiosum merupakan salah satu infeksi menular seksual yang disebabkan oleh infeksi virus (Kemenkes RI, 2015) jenis DNA pox virus (Zichichi & Maniscalco, 2012). Manifestasi infeksi ini bersifat mild dan benign dengan sebutan lesi mollusca (CDC, 2015), dengan karakteristik papul multiple, diskret, berumbilikasi di daerah genitalia atau generalisata (Kemenkes RI, 2015).
Lesinya halus dan padat, pada kebanyakan orang, papul dijumpai sebesar pinhead sampai sebesar ukuran penghapus, kira – kira 2 – 5 mm diameternya. Infeksi ini sembuh dengan sendirinya dalam jangka waktu 6 – 12 bulan, namun bisa juga mencapai 4 tahun dan tidak meninggalkan bekas. Virus ini menyebar dari kontak fisik langsung dengan orang yang terinfeksi ataupun benda disekitar yang telah terkontaminasi virus, seperti peralatan mandi, sauna, ataupun tempat lembab dan basah lainnya. Hubungan seksual dengan orang yang terinfeksi menjadi salah satu pintu masuk pada kebanyakan kasus pasien dewasa (CDC, 2015). Sebanyak 10 – 20% pasien dengan simptomatis HIV/AIDS didiagnosis dengan moluskum kontagiosum. Pada pasien dengan HIV/AIDS, lesi multiple bisa mencapai jumlah 100 atau lebih dengan karakteristik verukus, pruritik atau eksematus (Vora et al.
2015). Pencegahan yang dapat dilakukan adalah mengikuti kebiasaan hygiene yang baik, seperti mencuci tangan, berhati-hati saat melakukan olahraga di tempat
umum, dan menghindari hubungan seksual dengan orang yang terinfeksi (CDC, 2015). Diagnosis bisa ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium yakni sediaan apusan plug keratotik dengan pewarnaan Giemsa, dikatakan positif apabila dijumpai badan (jisim) molluskum. Dapat juga dilakukan pemeriksaan dermatopatologi dan dinyatakan positif apabila ditemukan sel epidermal berisi badan inklusi intrasitoplasmik yang besar (Oentari &
Menaldi, 2016).
2.2.7 Pencegahan
Pencegahan IMS meliputi pencegahan primer dan pencegahan sekunder.
Prinsip pencegahan primer adalah penerapan perilaku seksual yang aman termasuk penggunaan kondom, sedangkan pencegahan sekunder adalah pengobatan dan perawatan pada penderita IMS dengan sosialisasi perilaku pencarian pengobatan untuk IMS, pengobatan yang cepat dan tepat pada pasien, serta pemberian dukungan dan konseling tentang IMS dan HIV. Di samping itu, pencegahan IMS juga dapat diimplementasikan dengan mencegah masuknya transfusi darah yang belum terjamin kebersihannya dari mikororganisme penyebab IMS, tenaga kesehatan harus berhati-hati dalam menangani teknis yang berhubungan dengan darah segar, mencegah pemakaian jarum suntik dan alat tindik yang tidak steril, serta memelihara kebersihan alat reproduksi.
Pencegahan primer terbaik adalah menghindari kontak langsung dengan cara:
1. Menunda kegiatan seks bagi remaja (abstinensia).
2. Menghindari bergonta-ganti pasangan seksual.
3. Memakai kondom dengan benar dan konsisten (Masriadi, 2017).
2.3. HUBUNGAN HIV DENGAN IMS
HIV merupakan salah satu IMS, dengan rute transmisi mayoritas seks vaginal dan anal, hal ini membuat HIV mempunyai faktor risiko yang sama dengan port of entry IMS lainnya (French, 2012). Peran IMS dalam pengendalian HIV sebagai pintu masuknya infeksi, terutama sifilis. Sifilis mampu meningkatkan risiko penularan HIV sampai 300 kali lipat. Oleh karena itu,
epidemi HIV khususnya di Indonesia berkaitan dengan meningkatnya angka kejadian sifilis, baik pada populasi kunci maupun populasi umum (Kemenkes RI, 2016).
IMS merupakan salah satu ko-faktor dalam transmisi HIV. Terutama infeksi yang berkaitan dengan inflamasi genitalia seperti servisitis, uretritis, dan prokitis (gonore, klamidiosis, LGV, trikomoniasis) dan penyakit ulkus genital (terutama sifilis, herpes simpleks, dan chancroid). Kerentanan terhadap infeksi HIV meningkat dengan menghilangnya barrier mukosa ataupun epitelial, terdapat peningkatan angka limfosit CD4+ dan target HIV lainnya pada jaringan epitel yang inflamasi. Menurunnya flora vagina dan reduksi keasaman dari vaginal fluid dapat meningkatkan kerentanan terhadap HIV pada perempuan. Risiko transmisi seksual sebanding terhadap viral load HIV pada sekresi genitalia. Dalam sebuah studi di Mwanza dan Tanzania, reduksi HIV sebesar 40% pada komunitas dengan manajemen IMS yang telah dioptimalisasi (French, 2012).
Infeksi akan menyebabkan defisiensi imunitas seluler yang ditandai dengan penurunan limfosit T CD4+. Dengan penurunan sistem kekebalan seluler, ODHA akan mudah sekali terinfeksi oleh organisme yang dalam keadaan normal daapat di tolak oleh tubuh termasuk beberapa infeksi virus dan bakteri sebagai patogen penyebab IMS. Infeksi HIV dapat mengakibatkan manifestas klinis dari IMS lain menjadi tidak khas atau atipikal, biasanya menjadi lesi kulit yang lebih banyak, lebih luas, atau menimbulkan lesi berulang dan persisten. Tingkat keparahan yang lebih tinggi didapati pula pada beberapa IMS lain dibandingkan dengan penderita non-HIV (Murtiastutik, 2008).
Aturan sederhana yang menjelaskan mekanisme patogenik pendasar hilangnya sel T CD4+ oleh HIV adalah, semakin rendah jumlah sel T CD4, semakin tinggi risiko infeksi menular seksual. Aktivasi dan proliferasi sel T berkontribusi pada infeksi HIV produktif, yakni produksii sel memori CD4+.
Sebagian besar dari antigen spesifik sel T CD4+ dapat mati sebagai akibat dari infeksi komplit ataupun infeksi abortif, sehingga mengurangi pembentukan dan pematangan sel T CD4+ memori spesifik pathogen.
Infeksi HIV abortif atau yang gagal dari sel CD4+ akan dikompensasi dengan apoptosis sel, sehingga meningkatkan kematian sel T CD4+ spesifik patogen yang baru dihasilkan. HIV dan koinfeksinya dikendalikan terutama oleh sel T CD4+ spseifik patogen. Sel CD4+ spesifik patogen rentan terhadap infeksi dan deplesi. Demikian juga, HIV menurunkan respon terhadap sel CD4+ spesifik patogen tersebut (Geldmacher & Koup, 2012).
Kemunculan dan penyebaran infeksi HIV dan AIDS memiliki dampak besar pada manajemen dan kontrol beberapa IMS lain. Misalnya, pengobatan chancroid menjadi semakin sulit di daerah dengan prevalensi tinggi infeksi HIV, karena penekanan kekebalan terkait HIV. Pada saat yang sama, resistensi beberapa seksual patogen yang ditransmisikan ke agen antimikroba telah meningkat, sehingga menurunkan keefektifan terapi (WHO, 2016). Kuatnya peran HIV dan IMS lainnya terhadap satu sama lain menjadi landasan pentingnya ODHA mendapatkan akses untuk layanan IMS (French, 2012).
2.4 KERANGKA TEORI
Indikator progresifitas HIV berdasarkan jumlah CD4+ dan stadium klinis
Jumlah CD4+ Stadium Klinis Gejala Klinis
CD4+ ≥ 500
CD4+ 200 – 499
CD4+ < 200
Stadium I Asimtomatik, LGP persisten
Stadium II BB ↓ 10%, kelainan mulut & kulit ringan, infeksi saluran pernafasan atas berulang
Stadium III BB ↓ > 10%, diare kronis, demam, kandidiosis mulut, hairy leukoplakia, TB, infeksi bakteri berat Stadium IV Neoplasma (Sarkoma kaposi, dll), AIDS
Kriteria Diagnostik Infeksi Menular Seksual (IMS) Jenis IMS Klinis & Diagnosis Definitif Gonore Sediaan langsung duh tubuh (gonokok Gram-negatif).
Klamidiosis Sediaan apus dan kultur dari uretra atau endoserviks (N.gonorrhoeae negatif)
Sifilis Tes serologi treponemal (FTA-Abs) dan non-treponemal (RPR, VDRL)
Trikomoniasis Sekret seropurulen kekuningan, malodor, berbusa. Pemeriksaan lab sederhana, giemsa.
Herpes genitalis Tes Tzanck sel datia multinukleus, badan inklusi intranuklear Kondiloma akuminatum Klinis berupa lesi seperti kembang kol, berwarna seperti daging atau
sama dengan mukosa lokal, atau tes asam asetat.
Hepatitis B Anamnesis, pemeriksaan fisik & serologi HbsAg (+) & IgM anti HBc (+)
Hepatitis C Serokonversi anti-HVC, ikterik & serum ALT > 10x normal Kandidosis genitalis Mikroskop dengan pewarnaan gram sel ragi, blastospora, atau
pseudohifa - kultur pada agar dekstrosa dengan yeast-like colony.
Moluskum kontagiosum Apusan plug keratotik, pewarnaan giemsa badan molluskum Dermatopatologi sel epidermal berisi inklusi intrasitoplasmik
2.5 KERANGKA KONSEP
Karakteristik berdasarkan : 1. Faktor sosiodemografi 2. Stadium klinis
3. Hitung CD4+
4. Jenis IMS 5. Faktor risiko
HIV/AIDS dengan koinfeksi menular seksual
Variabel Independen
Variabel Dependen
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 RANCANGAN PENELITIAN
Penelitian ini adalah penelitian yang bersifat deskriptif observasional untuk mengetahui karakteristik pasien HIV/AIDS dengan koinfeksi menular seksual.
3.2 LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN 3.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di RSUP H. Adam Malik Medan, berlokasi di Jalan Bunga Lau No. 17, Kecamatan Medan Tuntungan, Kotamadya Medan, Provinsi Sumatera Utara. Data diambil di instalasi rekam medis RSUP H. Adam Malik.
3.2.2 Waktu Penelitian
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan pada bulan Juni – September 2019 (waktu penelitian terlampir).
3.3 POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN 3.3.1 Populasi
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pasien HIV/AIDS dengan koinfeksi menular seksual di RSUP H. Adam Malik tahun 2017 – 2018.
3.3.2 Sampel
Jumlah sampel pada penelitian ini diambil menggunakan metode total sampling, yaitu seluruh pasien HIV/AIDS dengan koinfeksi menular seksual yang tercatat dalam rekam medis RSUP H. Adam Malik tahun 2017 – 2018 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
Kriteria inklusi dan eksklusi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Kriteria inklusi
a. Pasien yang tercatat dan didiagnosis dengan HIV/AIDS dengan ko-infeksi menular seksual.
b. Pasien HIV/AIDS dengan ko-infeksi menular seksual dalam rentang usia
15 – 49 tahun.
2. Kriteria eksklusi
a. Pasien dengan data rekam medis yang tidak lengkap.
3.4 METODE PENGUMPULAN DATA
Penelitian ini menggunakan data sekunder. Data diperoleh melalui rekam medis pasien HIV/AIDS dengan koinfeksi menular seksual di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2017 – 2018.
3.5 METODE ANALISIS DATA
Data yang telah didapat akan diolah dengan aplikasi statistik komputer dan dilanjutkan dengan analisis univariat. Analisis tersebut digunakan untuk melihat gambaran distribusi, frekuensi, dan prevalensi pada setiap variabel penelitian dan kemudian di distribusikan secara deskriptif menggunakan narasi, tabel, dan diagram.
3.6 DEFINISI OPERASIONAL
1.
Variabel Jenis kelamin
Definisi Identitas pasien berdasarkan ciri khas biologis organ reproduksi yang tercatat dalam rekam medis.
Alat ukur Rekam medis Cara ukur Observasi
Hasil ukur a. Perempuan b. Laki-laki Skala ukur Nominal
2.
Variabel Usia
Definisi Lamanya waktu hidup semenjak dilahirkan sampai waktu didiagnosis menderita HIV/AIDS dengan koinfeksi menular seksual.
Alat ukur Rekam medis Cara ukur Observasi
Hasil ukur Dikategorikan sebagai berikut (Kemenkes RI, 2017):
a. 15 – 19 tahun
Definisi Jenjang pendidikan formal berdasarkan ijazah terakhir pasien HIV/AIDS dengan koinfeksi menular seksual.
Alat ukur Rekam medis Cara ukur Observasi
Hasil ukur Dikategorikan sebagai berikut:
a. SD
Definisi Aktivitas sehari-hari pasien untuk memenuhi keutuhan yang tercatat dalam rekam medis saat didiagnosis HIV/AIDS dengan koinfeksi menular seksual.
Alat ukur Rekam medis Cara ukur Observasi
Hasil ukur Dikategorikan sebagai berikut (Kemenkes RI, 2017):
a. Ibu Rumah Tangga (IRT)
g. Pekerja Seks Komersil (PSK) h. Mahasiswa/anak sekolah
Definisi Riwayat pernikahan pasien saat didiagnosis menderita HIV/AIDS dengan koinfeksi menular seksual.
Alat ukur Rekam medis Cara ukur Observasi
Hasil ukur Dikategorikan sebagai berikut (UNAIDS, 2018):
a. Belum menikah
Definisi Stadium klinis pasien HIV/AIDS saat didiagnosis dengan ko-infeksi menular seksual yang dikategorikan menurut kriteria WHO.
Alat ukur Rekam medis Cara ukur Observasi
Hasil ukur Dikategorikan sebagai berikut (WHO, 2010):
a. Stadium I b. Stadium II c. Stadium III d. Stadium IV Skala ukur Ordinal
7.
Variabel Hitung CD4+
Definisi Jumlah hitung sel llimfosti T CD4+ pasien HIV/AIDS saat didiagnosis dengan koinfeksi menular seksual, sebagai marker sistem imun tubuh yang tercatat dalam rekam medis.
Alat ukur Rekam medis Cara ukur Observasi
Hasil ukur Dikategorikan sebagai berikut (CDC, 2016):
a. CD4+ > 500 b. CD4+ 200 – 499 c. CD4+ < 200 Skala ukur Ordinal
8.
Variabel Jenis IMS
Definisi Jenis penyakit yang termasuk dalam kelompok penyakit kelamin atau venereal disease, penyakit yang transmisinya melalui kontak langsung dengan individu yang telah terinfeksi.
Alat ukur Rekam medis Cara ukur Observasi
Hasil ukur Dikategorikan sebagai berikut (Kemenkes RI, 2016):
a. Gonore b. Klamidiosis c. Sifilis
d. Trikomoniasis e. Herpes genitalis
f. Kondiloma akuminatum g. Hepatitis B
h. Hepatitis C
i. Kandidosis genitalis j. Moluskum kontagiosum Skala ukur Nominal
9.
Variabel Faktor risiko
Definisi Faktor-faktor yang meningkatkan kemungkinan transmisi HIV dan patogen IMS yang tercatat pada rekam medis pasien HIV/AIDS dengan koinfeksi menular seksual.
Alat ukur Rekam medis Cara ukur Observasi
Hasil ukur Dikategorikan sebagai berikut (CDC, 2016):
a. Behavioral risk factors (perilaku berisiko) : Heteroseksual, Penasun
b. High-risk sex practices (praktik seks berisiko tinggi) : LSL, Biseksual
c. High-risk groups (kelompok berisiko tinggi) : d. Health care behavior (petugas kesehatan) Skala ukur Nominal
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini dilakukan selama 4 bulan, dari bulan Juli sampai dengan November 2019 di RSUP Haji Adam Malik (HAM) Medan yang berlokasi di Jalan Bunga Lau no.17, Kecamatan Medan Tuntungan, Kotamadya Medan, Provinsi Sumatera Utara. RSUP HAM termasuk Rumah Sakit kategori tipe A berdasarkan SK Menkes RI No. HK.02.02/menkes.390/2014 tanggal 17 Oktober 2014 tentang Pedoman Penetapan Rumah Sakit Rujukan Nasional, hal ini membuat RSUP HAM Medan menjadi salah satu Rumah Sakit Rujukan Nasional yang berlokasi di Regional Barat. Hal tersebut dijadikan acuan tempat pengambilan data untuk penelitian ini. Data diambil di bagian Rekam Medis lantai 1 RSUP HAM Medan.
Selama dua tahun (Januari 2017 – Desember 2018), jumlah pasien HIV/AIDS di RSUP HAM Medan tercatat sebanyak 2422 pasien. Dari keseluruhan ini, dijumpai bahwa jumlah pasien HIV/AIDS dengan koinfeksi menular seksual yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 62 pasien. Distribusi karakteristik pasien HIV/AIDS dengan koinfeksi menular seksual berdasarkan kelompok jenis kelamin dapat dilihat pada tabel 4.1.
Tabel. 4.1 Distribusi karakteristik berdasarkan jenis kelamin
Jenis Kelamin Frekuensi (n) Persentase (%)
Perempuan 9 14,5
Laki – laki 53 85,5
Total 62 100
Berdasarkan tabel 4.1 di atas, kejadian HIV/AIDS dengan koinfeksi menular seksual terbanyak terdapat pada laki-laki dengan persentase 85,5%, sedangkan pada perempuan sebanyak 14,5%. Hal ini sesuai dengan data penelitian yang dilakukan di Ibadan, Nigeria yang menyatakan bahwa koinfeksi menular seksual lebih banyak dijumpai pada pasien laki-laki sebesar 24,5% dibandingkan perempuan sebesar 15,2% atau setara dengan 24 pasien dan 17 pasien secara berurutan (Kehinde & Lawoyin, 2005). Jika dilihat dari data UNAIDS untuk
Indonesia tercatat sejumlah 368.900 laki-laki didiagnosis degan HIV/AIDS, sedangkan perempuan sebanyak 271.100 penderita (UNAIDS, 2019).
Tabel. 4.2 Distribusi karakteristik berdasarkan usia
Usia Frekuensi (n) Persentase (%) menular seksual terbanyak pada kelompok usia 25 – 49 tahun, sejumlah 50 orang dengan persentase 80,6%, sedangkan penderita paling sedikit berasal dari kelompok usia 15 – 19 tahun, atau sama dengan 1 orang dengan persentase 1,6%.
Hal ini sesuai dengan laporan Kemenkes RI terkait HIV-AIDS & PIMS bahwa persentase infeksi HIV tertinggi ditemukan pada kelompok usia 25 – 49 tahun sebanyak 69,6%, diikuti kelompok usia 20 – 24 tahun (17,6%). (Kemenkes RI, 2017).
Tabel. 4.3 Distribusi karakteristik berdasarkan tingkat pendidikan
Tingkat Pendidikan Frekuensi (n) Presentase (%)
SD 1 1,6
SMP 3 4,8
SMA 55 88,7
S1 3 4,8
Total 62 100
Distribusi frekuensi karakteristik pasien HIV/AIDS dengan koinfeksi menular seksual di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2017 – 2018 mengenai tingkat pendidikan terakhir pasien dapat dilihat pada tabel 4.3, didapati pasien terbanyak datang dengan riwayat pendidikan terakhir SMA sebanyak 55 orang (88,7%). Sedangkan jumlah paling sedikit memiliki pendidikan terakhir SD sebanyak 1 orang (1,6%). Hal ini sesuai dengan penelitian menggunakan data rekam medis pasien HIV/AIDS di RSUP M. Djamil Padang yang mendapati sebanyak 51, 4% kasus memiliki pendidikan terakhir SMA (Yusra, et al. 2018).
Tingginya prevalensi koinfeksi HIV dan IMS pada pasien dengan tingkat pendidikan terakhir SMA kemungkinan berhubungan dengan fakta bahwa tingkat pengetahuan kelompok tersebut yang rendah terhadap transmisi HIV sebagaimana studi di Ibadan, Nigeria menunjukkan bahwa 30 dari 41 pasien HIV dengan koinfeksi menular seksual masuk dalam golongan pekerja dengan kemampuan rendah (unskilled) dan 22 dari 41 pasien tersebut memiliki pendidikan terakhir sekunder atau setara dengan SMA (Kehinde & Lawoyin, 2005).
Tabel. 4.4 Distribusi karakteristik berdasarkan pekerjaan
Pekerjaan Frekuensi (n) Presentase (%)
Ibu Rumah Tangga (IRT) 7 11,3 setengahnya merupakan pekerja wiraswasta dengan angka 31 orang (50%) dan yang paling sedikit bekerja sebagai pedagang dengan jumlah 1 orang (1,6%). Data ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan pada pasien dengan koinfeksi hepatitis B di Klinik Melati RSUD Dr. Soedarso Pontianak, dimana wiraswasta dijumpai sebanyak 39,8% (Hendratno, 2016).
Tabel. 4.5 Distribusi karakteristik berdasarkan status pernikahan
Status Pernikahan Frekuensi (n) Presentase (%)
Sudah menikah 24 38,7
Belum menikah 37 59,7
Janda 1 1,6
Total 66 100
Tabel 4.5 menunjukkan bahwa sebanyak 59,7% pasien mempunyai status belum menikah, 38,7% pasien tercatat sudah menikah, dan hanya 1,6% pasien memiliki status janda. Berbeda dengan hasil pada tabel diatas, beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien HIV/AIDS dengan koinfeksi menular seksual terbanyak memiliki status sudah menikah (21,4%) diikuti dengan belum menikah (17%) di satu klinik di Ibadan, Nigeria (Kehinde & Lawoyin, 2005), pada perempuan dengan HIV di Zimbabwe pun ditemukan diantaranya yang memiliki koinfeksi menular seksual terbanyak berstatus sudah menikah (44,4%), lainnya tercatat belum menikah 12,7%, janda sebanyak 26,8%, dan cerai sebanyak 16,1% (Lowe et al. 2019).
Tabel. 4.6 Distribusi karakteristik berdasarkan stadium klinis
Stadium Klinis Frekuensi (n) Presentase (%)
Stadium I 0 0 koinfeksi menular seksual yang berkunjung ke RSUP H. Adam Malik pada tahun 2017 – 2018 adalah pasien dengan stadium klinis III sebanyak 80,6%. Pasien dengan stadium klinis II hanya sebanyak 6,5% dan tidak ada pasien HIV/AIDS dengan ko-infeksi menular seksual dengan stadium klinis I. Somia dan kawan-kawan menemukan bahwa sebagian besar pasien HIV/AIDS dengan koinfeksi
Stadium I 0 0 koinfeksi menular seksual yang berkunjung ke RSUP H. Adam Malik pada tahun 2017 – 2018 adalah pasien dengan stadium klinis III sebanyak 80,6%. Pasien dengan stadium klinis II hanya sebanyak 6,5% dan tidak ada pasien HIV/AIDS dengan ko-infeksi menular seksual dengan stadium klinis I. Somia dan kawan-kawan menemukan bahwa sebagian besar pasien HIV/AIDS dengan koinfeksi