• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.8 Kondisi Cuaca dan Kebisingan

Catatan kondisi cuaca di lingkungan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali pada tahun 2015 dan 2016 dapat dilihat pada lembar data berikut :

Gambar 4.10 Data klimatologi Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali 2015

Gambar 4.11 Data klimatologi Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali 2016

Informasi umum yang didapatkan penulis berdasarkan data wawancara dengan karyawan bandara bahwa pada musim penghujan, lebih banyak burung terlihat mencari makan di lingkungan bandara terutama di sekitar landasan pacu. Hal ini perlu dibuktikan dalam penelitian selanjutnya, karena pada saat penelitian tahun 2015 dilaksanakan tidak pernah turun hujan, walaupun dilakukan pada musim hujan. Lebih banyaknya burung di lingkungan bandara pada saat musim hujan kemungkinan terjadi karena lingkungan bandara menjadi lebih basah sehingga memicu pertumbuhan rumput dan flora lainnya yang cukup kering pada musim kemarau yang berkepanjangan.

Habitat yang hijau ini menyediakan daun, bunga, buah atau biji rerumputan dan flora lainnya lebih melimpah bagi kehidupan burung yang memiliki kecocokan dengan kondisi demikian. Melimpahnya hijauan juga dapat menarik perhatian serangga, amphibia, dan termasuk juga predatornya, yaitu burung.

Dalam pengamatan penulis, burung-burung kokokan yang menetap di Petulu cukup terhempas oleh angin kencang pada saat ada angin kencang sekali berhembus. Juga ada nampak burung kokokan terbang dengan formasi ‘V’ kemungkinan untuk mengefisienkan penggunaan energi saat terbang. Burung-burung pemangsa atau raptor yang melakukan migrasi di sekitar Gunung Sega Karangasem (misal hasil pengamatan tahun 2014) sering terbang lebih rendah dari biasanya untuk menghindari hempasan angin yang kencang.

Dengan demikian jelas bahwa angin dan cuaca secara umum berpengaruh pada burung.

Selama masa pengambilan sampel, tahun 2015 sebagian besar kondisi udaranya relatif tenang dan hanya sedikit di bagian akhir sampling yang mendung dan turun hujan, sehingga kemungkinan pengaruh cuaca yang mengganggu tingkah laku burung sangat kecil peluangnya terjadi, kecuali yang berhubungan dengan keringnya habitat / lingkungan di beberapa lokasi (misal di sekitar rerumputan bandara). Berbeda dengan tahun 2016 dimana situasi musim kering tetapi sering turun hujan

Data 2015 menunjukkan kebisingan di 12 lokasi di lingkungan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dan sekitarnya umumnya maksimal sekitar 60-an dB, kecuali yang di Area depan kantor AURI yang kebisingannya mencapai 70-an dB, serta pada Area Apron D (Bay 1) dan Area Depan PK-PPK yang kebisingannya mencapai sekitar 80-an dB. Sedangkan kebisingan di area landas pacu berdasarkan literature dapat mencapai 110 dBA.

Tabel 4.41 Data Kebisingan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali dan sekitarnya (tahun 2015)

Area Kompleks Sekolah SD

No.4 Tuban 20/10/2015 53,2 51,6 47,0

4

Area Pertigaan Patung

Ngurah Rai 20/10/2015 67,6 63,6 60,7

5

Area Selatan Bandara Jl.

Segara Madu 20/10/2015 57,1 56,8 50,5

6 Area Parkir Motor Bandara 20/10/2015 63,4 68,8 60,5

7

Area Depan Kantor Meteo

(BMKG) 20/10/2015 52,7 50,9 49,0

12

Area Tikungan Tol Gate Masuk General Aviation

Terminal 20/10/2015 60,0 58,9 51,2

Regulatory limit = 85,0 dB untuk 8 jam didalam pagar bandara dan 70 dBA di luar pagar bandara.

Sumber data: Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali, 2015

Berdasarkan data pada Tabel di atas (2015) nampak bahwa hasil pengukuran (data dengan tanda * artinya melebihi ambang batas).

Tabel 4.42 Data Kebisingan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali dan sekitarnya (tahun 2016)

6 Apron D (Barat) dBA 55,3 - 69,2 61,23 85*

Sumber data: Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali, 2016 dan BMKG (2016)

Secara teoritis/konseptual, kebisingan berpengaruh terhadap burung. Husein, ahli acoustic engineering Indonesia, mengemukakan bahwa burung sensitif terhadap suara yang melebihi acoustic rangenya burung, memaksanya untuk terbang menjauh. Dikatakannya bahwa telinga manusia dapat mendengar suara dari 20 sampai 20.000 hertz dan mengolahnya dalam 1/20 detik (a 20th of a second), sementara audible range burung adalah dari 100 sampai 29.000 hertz, dengan kecepatan pengolahan jauh lebih cepat daripada manusia yaitu dalam 1/200 detik (a 200th of a second). Misalnya, peneliti menyatakan bahwa tingkat sensitivitas suara untuk Great egret di bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali berkisar dari 1,25 kilohertz sampai 10 kilohertz untuk spesies yang sama dengan yang di Bandara Juanda. Dengan demikian peralatan bisa dibuat dengan acoustic range tertentu untuk mengusir burung dari lingkungan bandara (Ismira Lutfia, 2016).

Sementara itu, Purjana Ariyanto (2014) mengemukakan bahwa burung jenis kuntul dan blekok merasa tidak nyaman terhadap sinyal suara sweep logaritmik pada rentang frequensi 5 kHz-9 kHz dengan bentuk square dan sawtooth wave, sinyal suara dengan modulasi frequensi pada rentang frequensi 2 kHz-7 kHz, serta suara predator dan suara distress dari burung sejenis dengan tingkat tekanan suara terendah 75 dB.

Namun hasil penelitian ini perlu ditindaklanjuti dengan implementasi di bandara untuk mengetahui kehandalan alat.

Dari segi burung, berdasarkan hasil pengamatan lapangan nampak bahwa burung-burung yang ditemukan di sekitar bandara kurang terpengaruh dengan kondisi kebisingan di

bandara ini. Kemungkinan mereka sudah mampu beradaptasi dengan lingkungan yang relatif ‘bising’. Hasil wawancara dengan salah seorang petugas keamanan yang berjaga di sekitar bandara juga menjelaskan hal yang sama.

Burung (serta manusia dan hewan lainnya) menunjukkan pergeseran sensitivitas pendengaran dalam menanggapi suara yang cukup lama dan/atau intens. Data menunjukkan bahwa burung dapat mentolerir terus menerus (misalnya sampai 72 jam) paparan suara hingga 110 dB(A) tanpa mengalami kerusakan pendengaran atau pergeseran ambang batas permanen. Sebuah Threshold Pergeseran Tetap (A Permanent Threshold Shift /PTS), atau kehilangan pendengaran permanen, terjadi jika intensitas dan durasi suara cukup untuk merusak sel-sel rambut sensori ke telinga bagian yang halus. Pada tingkat kebisingan terus menerus di bawah 110 dB(A) turun menjadi sekitar 93 dB(A), burung dapat mengalami pergeseran ambang batas sementara. Pergeseran Thres hold Sementara (Temporary Threshold Shift /TTS) berlangsung dari detik ke hari tergantung pada intensitas dan durasi suara yang hewan itu terkena dan sebaliknya. Dengan demikian, keprihatinan atas efek suara keras di telinga dan pendengaran cukup masuk akal. Sebagian besar kerja dalam pemulihan dari gangguan pendengaran telah di uji coba pada ayam muda dimana pergeseran ambang diukur secara fisiologis (Dooling and Popper, 2007)

Studi Dooling and Popper (2007) memberikan informasi awal yang penting pada kemampuan burung untuk menumbuhkan sel-sel rambut telinga diikuti trauma akustikintens dan menyarankan bahwa, untuk burung, gangguan pendengaran permanen dari kebisingan jalan raya atau kebisingan konstruksi, mungkin tidak menjadi perhatian yang signifikan.

Pergeseran Threshold Permanen (Permanent Threshold Shift) pada burung: pergeseran ambang batas permanen disertai dengan kematian beberapa, tapi belum tentu semua, sel-sel rambut di lokasi tertentu pada papilla basilar. Kerusakan spesifik tergantung pada jenis, intensitas, dan durasi trauma. Sejak pendengaran tergantung pada fungsi sel-sel rambut ini, hasil kerugian permanen pada gangguan pendengaran permanen pada mamalia. Namun, karena burung dapat meregenerasi sel-sel rambut sensorik yang rusak atau hancur, pendengaran dapat pulih hampir sepenuhnya. Puyuh (Coturnix coturnix) terkena 1,5 kHz oktaf band kebisingan di 116 dB SPL selama empat jam menunjukkan gangguan pendengaran hingga 50 dB segera setelah paparan (Niemiec et al., 1994). Dan data di bandara tidak ada sampai 116 dB.

Gangguan pendengaran yang paling parah adalah pada frekuensi diatas 1,0 kHz, meskipun ada variasi antara subjek. Gangguan pendengaran disertai dengan kerugian yang signifikan dari sel-sel rambut sensorik di papilla basilar (Dooling and Popper, 2007).

Nampaknya frekuensi suara (Hertz) lebih berpengaruh terhadap burung sehingga dipakai sebagai salah satu cara untuk mengusir burung di sekitar bandara dibandingkan dengan hanya mengandalkan bising saja.

Dokumen terkait