BAB III PANDANGAN PEMULUNG TPA
3. Kondisi Ekonomi Pemulung
Penghasilan Bapak Amin dan istrinya setiap harinya tidak tentu. Pendapatan kotor rata-rata Rp 100.000 per hari setiap orangnya. Terkadang dua orang menghasilkan RP 250.000 per hari. Bapak Amin sebelum menjadi pemulung bekerja sebagai kuli tambang emas di Kalimantan, tapi karena tidak mau jauh dari keluarga akhirnya pulang dan menjadi pemulung di TPA Jatibarang Semarang. Istrinya sebelum menikah juga pernah menjadi pemulung waktu remaja dan pernah menjadi pembantu rumah tangga di Jakarta.
Mereka ingin merubah nasibnya agar tidak menjadi pemulung dengan berjualan membuka usaha kuliner, tapi mereka merasa tidak bakat berjualan dan mentalnya masih lemah khawatir malah bangkrut, selain itu juga belum ada modalnya untuk membuka usaha kuliner.
b. Keluarga Bapak Adit
Penghasilan bersih Bapak Adit dan istrinya Ibu Aina adalah Rp 30.000 sampai Rp 50.000 per hari per orangnya, sehingga penghasilan bersih dua orang sekitar Rp 60.000 sampai Rp 100.000 per harinya. Terkadang juga tiga hari mendapatkan Rp 500.000 sampai Rp 600.000 jika yang didaptkan kebanyakan barang rosok daripada plastik.
Mereka menjadi pemulung baru satu tahun. Ibu Aina sebelumnya pernah bekerja menjadi asisten rumah tangga di Purwodadi dan di Boja, baik sebelum menikah maupun sesudah
65
menikah. Suaminya sebelum bekerja menjadi pemulung bekerja di Boja menjadi supir dan bekerja serabutan, namun penghasilannya tidak mencukupi kebutuhan hidup keluarganya karena kerjanya tidak menentu, tidak setiap hari pasti bisa bekerja. Adakalanya ramai, namun ketika sepi nganggur, berbeda dengan memulung, setiap hari bisa bekerja dan setelah menjadi pemulung keadaan ekonominya menjadi lebih baik. c. Keluarga Bapak HeriPenghasilan Bapak Heri minimal Rp 50.000 per hari kotor, jika digabungkan dengan istrinya minimal Rp 100.000 per harinya. Mereka terkadang makan pun dari makanan yang ditemukan di sampah yang masih layak di makan. Ribuan sapi di lokasi kerja juga menghambat pekerjaan mereka karena ribuan sapi juga mencari makanan di sampah, bahkan Ibu Imah pernah tertendang dan terinjak-injak sapi.
Bapak Heri sebelum menjadi pemulung bekerja di proyek, namun bekerja di proyek tidak setiap waktu sehingga penghasilannya kurang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, akhirnya bekerja sebagai pemulung bersama istrinya. Jika ada tawaran kerja proyek Bapak Heri pun kerja di proyek dan istrinya tetap bekerja sebagai pemulung.
d. Keluarga Bapak Muhsin
Penghasilan Bapak Muhsin dan istrinya setiap harinya tidak tentu, tergantung tenaga dan lamanya waktu untuk bekerja. Rata-rata penghasilan kotor Bapak Muhsin dan istrinya adalah
66
Rp 50.000,- per orang setiap harinya, jadi jika digabungkan penghasilan kotor mereka rata-rata Rp 100.000,- per harinya.
Pak Muhsin sudah 6 tahun menjadi pemulung di TPA Jatibarang. Sebelumnya pernah kerja proyek di Kalimantan dan Jakarta, kemudian jadi petani di desanya, namun suatu saat Pak Muhsin ditipu oleh orang di mana hasil benih bawang merah dibawa orang tersebut namun tidak membayarnya, alasannya bayarnya nanti ketika bawang merahnya sudah panen, namun orang tersebut tidak membayarnya. Akhirnya Pak Muhsin rugi besar dan tidak mempunyai modal untuk menanam bawang merah lagi sehingga Pak Muhsin ikut saudaranya menjadi pemulung di TPA Jatibarang Semarang bersama istrinya yang hanya membutuhkan tenaga saja tanpa modal banyak dan tanpa diatur-atur orang, jam kerja bebas dan hasilnya lumayan. Sebagaimana yang dijelaskan Bapak Muhsin bahwa:
Sebelumnya saya perantauan di Kalimantan, Jakarta, kerja proyek Mbak, dulunya saya petani Mbak punya sawah punya mobil engkel juga, terus saya pernah ketipu nanam benih bawang merah, benihnya sudah dibawa tapi dia gak bayar-bayar, kabur. Akhirnya saya mau tanam lagi pun gak bisa gak ada modal, mau bayar angsuran juga tidak bisa sampai saya sakit selama 8 bulan, bingung mau kerja apa. Akhirnya ada saudara saya yang kerja jadi pemulung di sini tanpa modal. Akhirnya saya coba ternyata enak juga gak perlu modal uang cuma modal tenaga, gak ada yang ngatur-ngatur. Hasilnya berapapun ya dinikmati. Mungkin kalau sudah 1 tahun dua tahun kerja di sini gak
67
mau pindah kerjaan lain. Saya di sini sudah 6 tahunan Mbak.111e. Keluarga Bapak Tanto
Penghasilan Bapak Tanto dan istrinya setiap harinya tidak tentu, minimal penghasilannya Rp 50.000 dua orang per hari jika sedang sepi atau sedikit sampah yang diangkut truk pengangkut sampah. Terkadang penghasilannya Rp 500.000 berdua setiap 4 hari sekali atau rata-rata Rp 125.000 per harinya. Terkadang penghasilannya lebih dari itu tergantung tenaga dan waktu bekerja dan banyak sedikitnya barang bekas yang didapatkan untuk dijual. Jika tidak untuk membayar hutang di bank rata-rata penghasilan bersihnya bisa mencapai Rp 3.000.000 per bulan sebagaimana diungkapkan Ibu Titi bahwa: “Kalau rata-rata tiap bulan Rp 3.000.000 bisa dapat bersih Mbak, tapi sayangnya saya buat bayar hutang Bank.”112
Mereka menjadi pemulung selama 20 tahun sejak tahun 1998. Bapak Tanto sebelumnya bekerja menjadi kuli bangunan, namun setelah menikah penghasilannya tidak mencukupi sehingga memilih menjadi pemulung ikut ibunya Ibu Titi yang sudah lama menjadi pemulung asal pekerjaan itu halal dan Bu Titi bisa membantunya bekerja. Berbeda jika bekerja sebagai kuli bangunan Bu Titi tidak bisa membantu suaminya bekerja.
111
Hasil wawancara dengan Bapak Muhsin pemulung dan guru ngaji anak-anak pemulung TPA Jatibarang Semarang pada hari Selasa, 25 Desember 2018 pukul 15.58 – 17.00 WIB di rumah kontrakan Bapak Muhsin di TPA Jatibarang Semarang.
112
Hasil wawancara dengan Ibu Titi pemulung TPA Jatibarang Semarang pada hari Sabtu, 5 Januari 2019 di rumah Ibu Titi di Klambu, Grobogan.
68
Ketika mereka pulang ke rumah dalam waktu yang lama, mereka jualan lontong sayur, terkadang juga bekerja di sawah jika ada yang mengajak bekerja di sawah sebagai buruh tani. f. Keluarga Bapak Sofwan
Penghasilan Bapak Sofwan kurang lebih Rp 100.000 kotor per harinya, minimal Rp 70.000 per hari, terkadang juga lebih dari RP 100.000 tergantung lamanya bekerja, jenis dan banyaknya barang bekas yang didapat.
Bapak Sofwan menjadi pemulung sudah sekitar 28 tahun sejak tahun 1991, sebelumnya pernah kerja serabutan dan kerja proyek, namun kerja di proyek penghasilannya hanya Rp 90.000 kotor per harinya dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya serta kerjanya diatur-atur mandor, sedangkan bekerja sebagai pemulung kerjanya bebas bisa setiap hari dan penghasilannya lebih besar dari penghasilan ketika bekerja di proyek, namun ketika merasa bosan terkadang masih kerja di proyek jika ada tawaran. Bapak Sofwan sebenarnya ingin sekali berjualan dan tidak terus menerus menjadi pemulung namun tidak punya modal untuk membuka usaha.
g. Keluarga Bapak Jepri
Pendapatan Bapak Jepri dan istrinya setiap harinya tidak tentu tergantung tekun tidaknya dalam bekerja, terkadang seharinya penghasilan dua orang Rp 100.000 kotor, terkadang bisa mendapatkan lebih dari Rp 100.000.
Bapak Jepri sebelum jadi pemulung pernah bekerja menjadi tukang rosok dengan bos rosok dan pernah menjadi kuli
69
bangunan, namun penghasilannya tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarga apalagi untuk menyekolahkan anak sehingga memilih menjadi pemulung yang penghasilannya lebih lumayan daripada pekerjaan sebelumnya. Ibu Maidah sebelumnya bekerja sebagai karyawan pabrik, namun pabriknya mengalami kebangkrutan sehingga semua karyawannya dipecat, dan Ibu Maidah pun ikut suaminya menjadi pemulung.h. Keluarga Bapak Ardi
Penghasilan Bapak Ardi dan istrinya tidak tentu setiap harinya, namun biasanya penghasilan mereka selama satu minggu mencapai Rp. 2.000.000 atau sekitar Rp. 285.000 per harinya.
Bapak Ardi sebelumnya bekerja serabutan di kampungnya, namun penghasilannya tidak mencukupi untuk membiayai kebutuhan hidup keluarga apalagi mempunyai 5 anak dan semuanya sekolah. Waktu itu ada yang masih SD, SMK, bahkan ada yang kuliah, sehingga ia dan istrinya memutuskan untuk merantau ke Semarang menjadi pemulung.
Penghasilan keluarga pemulung berdasarkan data tersebut rata-rata memperoleh Rp 100.000 per harinya, ada juga yang lebih dari Rp 100.000 per hari tergantung tenaga dan lamanya waktu bekerja, serta jenis barang bekas yang didapatkan. Alasan mereka memilih menjadi pemulung karena penghasilan mereka sebelumnya tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup keluarganya, ada pula yang karena di-PHK dari tempat kerja sebelumnya karena perusahaan mengalami kebangkrutan seperti Ibu Maidah, sehingga ia menjadi
70
pemulung membantu suaminya supaya anak-anaknya dapat menempuh pendidikan tinggi.
Penghasilan keluarga pemulung TPA Jatibarang Semarang peneliti gambarkan dalam tabel berikut ini:
Tabel 3.5
Penghasilan Keluarga Pemulung TPA Jatibarang Semarang
No Nama Penghasilan/Hari
1 Amin dan Rina Rp 200.000 - Rp 250.000 (kotor) 2 Adit dan Aina Rp 100.000 - Rp 150.000 (bersih) 3 Heri dan Imah Rp 100.000 (kotor)
4 Muhsin dan Atmi Rp 100.000 (kotor)
5 Tanto dan Titi Rp 150.000 - Rp 200.000 (kotor) 6 Sofwan Rp 100.000 (kotor)
7 Jepri dan Maidah Rp 100.000 (kotor) 8 Ardi dan Yanti Rp 285.000 (kotor)