• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II POLA PENDIDIKAN AGAMA ANAK-ANAK

B. Pemulung

2. Pemulung sebagai Masyarakat Marjinal

Istilah „marjinal‟ dari kata „margin‟ yang biasa diartikan sebagai garis pinggir, karena itu profesi marjinal dianggap sebagai pekerjaan bagian masyarakat pinggiran masyarakat berekonomi lemah. Meskipun banyak di antara profesi ini menuntut ketrampilan khusus, namun opini masyarakat menempatkan mereka di pinggir panggung kehidupan masyarakat yang di tengah-tengahnya sudah diisi oleh kiprah kegiatan profesi-profesi yang lebih potensial dan lebih dihargai oleh sesama warga masyarakat. Meskipun di antara profesi-profesi marjinal banyak yang bersifat bisnis, namun

91Nur Kamila, ”Keberfungsian Sosial Keluarga Komunitas Pemulung di Sekitar TPA Ngablak Yogyakarta”, jurnal Dakwah 11 (2010): 48, diakses 15 April 2018.

92

Abdul Ghofur, Manusia Gerobag: Kajian mengenai Taktik-taktik

Pemulung Jatinegara di Tengah Kemiskinan Kota, (Jakarta: Lembaga

52

bisnisnya pun berbentuk dan bernuansa bisnis marjinal oleh pedagang berekonomi lemah, sehingga tidak menunjukkan keunggulan yang mencolok.93

Profesi-profesi marjinal menempati ranking terbawah di antara sekian banyaknya profesi. Oleh karena itu banyak orang berpendapat bahwa untuk profesi seperti ini tidaklah perlu diberi kode etik, karena pemegang profesi marjinal umumnya mereka yang kurang berpendidikan, kurang mengindahkan etika, dan kurang memahami perlunya etika di dalam melaksanakan pekerjaannya. Apakah hal tersebut benar, tentunya masih perlu diteliti lagi karena penilaian-penilaian yang ada masih sangat relatif.

Profesi pemulung di mata umum termasuk profesi marjinal dan banyak dicurigai karena dikaitkan dengan berbagai kriminalitas terutama pencurian siang hari dengan kedok mencari barang buangan. Masyarakat bahkan memasang papan larangan bagi pemulung untuk beroprasi di dalam komplek perumahan atau lingkungan kampung, atas daasar kecurigaan tersebut. Namun bagi seorang pengusaha yang kegiatannya memproduksi karton tebal atau produk daur ulang lainnya, profesi pemulung justru merupakan profesi yang potensial, kalau tidak dikatakan strategis. Bahkan bahan baku kertas karton bekas sangat diperlukan untuk produksi, dan jumlahnya berton-ton, ini hanya mungkin didatangkan atas jasa

93

Bartono dkk, Today‟s Business Ethics: Langkah-langkah Strategis

Menerapkan Etika dalam Bisnis dan Pariwisata, (Jakarta: Elex Media

53

banyak pemulung yang berkeliaran di seluruh pelosok untuk mengumpulkan aneka kardus yang oleh masyarakat sudah dianggap sampah.94

Pengertian marjinal menurut Perlman dibedakan menjadi empat dimensi yaitu marjinal secara sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Marjinalitas sosial menjadi diskusi tentang terpinggirkan secara sosial. Marjinalitas budaya adalah percakapan tentang otherness. Marjinalitas ekonomi berubah menjadi perampasan, kerentanan, dan pemikiran ulang mata pencaharian dan aset. Marjinalitas politik menjadi dialog tentang kurangnya suara, klaim kewarganegaraan, dan hak.95

Marjinal secara sosial di mana dalam suatu masyarakat terpinggirkan dengan hidup terisolasi, karena mereka dianggap tidak mampu atau tidak diberikan untuk mengakses sumber daya. Masyarakat yang terpinggirkan mencakup mereka yang lahir di kota metropolitan dengan tingkat pendidikan dan kesehatan yang buruk, taraf hidup yang rendah, serta akses layanan yang terbatas.96 Pemulung di TPS Tambakboyo Condongcatur Yogyakarta kebanyakan mereka berpendidikan rendah tidak cukup mengenyam pendidikan dasar, bahkan ada yang tidak pernah sekolah. Mereka menyadari dirinya tidak mempunyai kemampuan dan ketrampilan yang dapat diandalkan untuk bersaing dengan orang lain untuk

94Bartono dkk, Today‟s Business Ethics..., 99-100.

95

Janice Perlman, Favela: Four Decades of Living on the Edge in Rio

De Janeiro, (New York: Oxford University Press, 2010), 152. 96Perlman, Favela: Four Decades..., 155.

54

mendapatkan pekerjaan yang pantas, lantaran bekal pendidikan yang rendah.97

Mereka rela meninggalkan kampung tempat asal mengadu nasib untuk mendapat pekerjaan yang lebih mapan dengan penghasilan yang lebih besar dibandingkan dengan berada di kampungnya sendiri, namun pada kenyataannya tidak ada sambutan yang ramah dari kota, malah terpinggirkan oleh kompetisi kota yang sangat berat.98 Sehingga mereka bekerja menjadi pemulung yang tidak memerlukan keahlian khusus dan modal yang besar.

Sebagian masyarakat masih ada yang beranggapan miring bahwa pemulung adalah sekelompok orang yang tersisih dari komunitas kehidupan masyarakat umum, pekerja hina, bahkan sampah masyarakat. Sehingga keberadaannya tidak diakui oleh masyarakat pada umumnya, bahkan kehadirannya tidak diinginkan. Konotasi status pemulung mengarah pada orang-orang yang tidak mempunyai pekerjaan (yang pantas), tuna wisma (gelandangan), bau, kumuh, dan sebutan-sebutan lain yang negatif. Pekerjaan pemulung sering dianggap hina dan tidak berharga oleh sebagian masyarakat.99 Padahal profesi sebagai pemulung juga merupakan pekerjaan yang halal untuk memenuhi kebutuhan hidup, namun secara sosial mereka terisolasi dari masyarakat pada umumnya.

97Ahmad Arifi, “Agama dalam Kehidupan Pemulung di TPS Tambakboyo Condongcatur Depok Sleman,” Apilkasia: Jurnal Aplikasi

Ilmu-ilmu Agama 4 (2003): 108-113., diakses 15 April 2018. 98Arifi, “Agama dalam Kehidupan Pemulung...,” 113.

55

Marjinal secara budaya dipahami sebagai tindakan diskriminasi dalam hal akses publik yang menyangkut soal suku, agama, ras, adat (SARA). Perlman lebih juga menekankan pada tindakan diskriminasi yang dialami oleh masyarakat berdasarkan warna kulit dan kaum urbanisasi. Tindakan diskriminsai berdasarkan warna kulit yang terjadi adalah dalam hal mendapatkan pekerjaan dan perumahan. Sementara kaum urban adanya perbedaan akses antara masyarakat asli dengan masyarakat pendatang, selain itu dapat digambarkan pada tempat tinggal di perkotaan. Adanya perbedaan tempat tinggal di mana para penduduk asli menempati pusat-pusat kota, sedangkan para pendatang bermukim di pinggir kota yang notabene sebagai kawasan ilegal untuk dihuni.100 Seperti pemulung di Jatinegara Jakarta, mereka tinggal di jalanan seperti di kolong jalan tol, emper toko dan perkantoran, stasiun, taman kota, trotoar, dan pasar. Sebagian pemulung ada juga yang tinggal di kontrakan.101 Selain pemulung jalanan juga banyak pemulung menetap yang mencari barang bekas di TPA (Tempat Pembuangan Akhir), mereka bertempat tinggal di barak-barak yang mereka buat dari barang bekas di sekitar TPA (Tempat Pembuangan Akhir).

Marjinal secara ekonomi dipahami sebagai masyarakat yang memiliki pendapatan rendah, tidak memiliki pekerjaan, dan pengangguran sehingga berujung pada kemiskinan. Sebagaimana pemulung di pasar Jatinegara Jakarta yang memperoleh pendapatan

100Janice Perlman, Favela: Four Decades..., 153.

56

yang tidak pasti. Ketika mujur, mereka memperoleh pendapatan 120.000 per hari, namun pada saat keberuntungan tak berpihak mereka hanya mendapatkan 25.000 per hari. Pada saat yang lain mereka terkadang tidak memperoleh pendapatan sama sekali karena barang bekas yang hendak mereka jual masih sedikit.102 Pada suatu waktu mereka memperoleh pendapatan yang banyak, namun di lain waktu memperoleh pendapatan yang sedikit, bahkan kadang-kadang mereka tidak memperoleh uang sama sekali.

Marjinalitas politik menjadi dialog tentang kurangnya suara, klaim kewarganegaraan, dan hak.103 Marjinalisasi secara politik terdapat pembatasan untuk bersuara, artinya bahwa masyarakat marjinal tidak diberi ruang untuk terlibat aktif dalam proses politik. Akibat dari terpinggirnya dari proses politik, mereka akhirnya memilih untuk bersikap apatis dalam segala hal yang berkaitan dengan politik. Bagi mereka keadaan politik yang terjadi baik di tingkat lokal maupun tingkat nasional tidak akan bisa membantu mereka keluar dari kemiskinan. Kesadaran dan pengetahuan politik yang rendah juga menyebabkan masyarakat miskin untuk enggan membicarakan persoalan politik. Selain itu, jika masyarakat yang secara haknya tidak terpenuhi bahkan ditindas maka mereka termarjinalkan secara politik.

102Abdul Ghofur, Manusia Gerobag..., 26.

57

3. Faktor-faktor yang Memengaruhi Bekerja sebagai Pemulung

a. Faktor Pendidikan

Sebagian besar pemulung menjadikan faktor rendahnya tingkat pendidikan sebagai alasan mendasar sehingga mereka memilih jadi pemulung. Rata-rata pemulung tidak mengenyam pendidikan dikarenakan orang tua mereka yang kurang menyadari akan pentingnya pendidikan, faktor biaya, dan jarak sekolah yang jauh dari rumah.104 Rendahnya tingkat pendidikan menyebabkan pemulung sulit untuk bekerja di sektor formal sehingga mereka memilih bekerja sebagai pemulung.

b. Faktor Ekonomi

Faktor lemahnya ekonomi adalah salah satu penyebab seseorang memilih bekerja sebagai pemulung, selain mudah untuk dilakukan memulung tidak memerlukan modal dan keahlian khusus.105 Selain itu, sebagian pemulung memilih bekerja sebagai pemulung karena pekerjaan sebelumnya tidak menguntungkan baik akibat kurangnya pendapatan, kerugian usaha, maupun ketidakbebasan. Mereka memandang bahwa pekerjaan sebelumnya membutuhkan modal yang tidak sedikit. Kasus lain menunjukkan bahwa peralihan terjadi karena usia yang tidak sesuai lagi sehingga mereka diberhentikan dari pekerjaan sebelumnya.106

104M. Ilham Muchtar dan Hasan Juhanis, “Sociocultural Approach...,” 58.

105M. Ilham Muchtar dan Hasan Juhanis, “Sociocultural Approach...,” 58.

58

Minimnya pendapatan dari pekerjaan sebelumnya tidak dapat mencukupi untuk kebutuhan hidup keluarganya, sedangkan mereka juga tidak mempunyai modal untuk membuka usaha sendiri, sehingga mereka lebih memilih menjadi pemulung karena tidak memerlukan modal yang banyak, dan tidak butuh ketrampilan khusus.

c. Faktor Sosial

Pergaulan sosial menjadi salah satu alasan mengapa sebagian masyarakat memilih menjadi pemulung. Banyak pemulung mengaku bahwa mereka menekuni pekerjaan sebagai pemulung karena diajak oleh temannya atau keluarganya. Awalnya mungkin hanya ikut-ikutan tetapi setelah mendapat hasil dari memulungnya banyak yang akhirnya ketagihan dan tidak mau lagi berhenti.107 Faktor rendahnya pendidikan bukanlah satu-satunya alasan seseorang menjadi pemulung, selain faktor ekonomi, faktor sosial di lingkungan sekitar juga memengaruhi seseorang dalam memilih pekerjaan. Misalnya dalam suatu lingkungan yang mayoritas pekerjaannya sebagai pemulung sehingga mereka pun bergaul dengan para pemulung dan ahirnya ikut-ikutan bekerja sebagai pemulung.

107M. Ilham Muchtar dan Hasan Juhanis, “Sociocultural Approach...,” 59.

59

Dokumen terkait