HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Kondisi Ekosistem Mangrove
Lokasi peneletian pada stasiun 1 yang dilakukan pada Desa Bagan Percut terdapat 3 jenis mangrove yaitu B. sexangula, R. mucronata, dan N. fruticans.
Sedangkan pada stasiun 2 terdapat 5 jenis mangrove yaitu R. mucronata, N.
fruticans, R. apiculata, B. gymnorrhiza, dan S. alba. Pada stasiun 1 nilai tertinggi adalah pada jenis R. mucronata dengan nilai 15.000 dan nilai terendah pada jenis B. sexangula sebanyak 6.250. Sedangkan pada stasiun 2 nilai tertinggi pada jenis B. sexangula bernilai 20.000 dan nilai terendah pada jenis n. fruticans dengan nilai 5.000. pada kedua stasiun ini kerapatan tingkat semai sangat jarang dan tidak tersebar merata (Gambar 7.). Hal ini dikarenakan adanya lahan budidaya disekitar hutan mangrove yang mengakibatkan berkurangnya lahan mangrove dan juga menurunkan fungsi mangrove sebagaimana mestinya. Menurut Rahmawaty (2006) bahwa kondisi hutan mangrove di Indonesia saat ini memang cukup mengkhawatirkan, hal ini disebabkan karena pemanfaatan hutan mangrove yang berlebihan tanpa mempertimbangkan daya dukung lingkungan dan kelestarian sumberdaya wilayah pesisir.
Ontorael, et al.,(2012) menyebutkan bahwa nilai kerapatan suatu jenis menunjukan kelimpahan jenis dalam suatu ekosistem dan nilai ini dapat menggambarkan bahwa jenis dengan kerapatan tertinggi memiliki pola penyesuaian yang besar. Kerapatan sangat dipengaruhi oleh jumlah ditemukannya spesies dalam daerah penelitian. Semakin banyak suatu spesies, maka kerapatan relatifnya semakin tinggi. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan pada stasiun 1. Nilai kerapatan relatif pada R. mucronata yang bernilai 42,8%
lebih tinggi dibandingkan dengan jenis-jenis mangrove pada stasiun 1.
Pertumbuhan mangrove dengan jenis B. gymnorrhiza pada stasiun 2 kategori semai dengan nilai tertinggi bernilai 20000 Ind/ha. Menurut Noor,. dkk (2006) bahwa jenis ini toleransi terhadap daerah terlindung maupun yang mendapat sinar matahari langsung. Bruguiera gymnorrhiza juga tumbuh pada tepi daratan mangrove, sepanjang tambak serta sungai pasang surut dan payau.
Kadang-kadang juga ditemukan di pinggir sungai yang kurang terpengaruh air laut, hal tersebut dimungkinkan karena buahnya terbawa arus atau gelombang pasang.
Kerapatan tertinggi pada kategori pancang di stasiun 2 bernilai 5.200 Ind/ha dengan jenis R. mucronata didapati pada daerah muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut di Desa Tanjung Rejo. Menurut Cahyanto dan Rosmayanti (2013) bahwa pada umumnya genus Rhizophora menyukai area yang digenangi oleh pasang. Hal ini mengindikasikan bahwa kondisi lingkungan ikut ambil peran dalam kelangsungan hidup spesies tersebut.
Nilai terendah pada kategori pohon dengan jenis B. gymnorrhiza pada stasiun 2 sebanyak 650 Ind/ha dan B. stylosa yang terdapat di stasiun 1 dan 2
sangat sedikit. Pada stasiun 1 sebanyak 1100 Ind/ha dan stasiun 2 sebanyak 350 Indh/ha. Hal ini sesuai dengan Dahdouh-Guebas, et al., (2000) bahwa pada hutan mangrove pantai timur Sumatera Utara gangguan utama perkembangan mangrove adalah konversi lahan untuk tambak dan pengambilan pohon mangrove untuk kayu arang. Jenis utama yang dijadikan arang adalah kelompok Rhizophora spp.
dan Bruguiera spp.
Nilai kerapatan terendah kategori pohon stasiun 2 pada jenis B. stylosa bernilai 350 Ind/ha dan B. gymnorrhiza bernilai 650 Ind/ha. Kerapatan pada kategori pohon ini sangat sedikit ditemukan dan rusak. Ini sesuia dengan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup (2004) bahwa kriteria kerapatan mangrove kurang dari 1.000 (< 1.000) rusak dengan status jarang. Sedangkan nilai tertinggi pada stasiun 1 dan 2 pada jenis N. fruticans yang bernilai 2.000 Ind/ha dan 1350 Ind/ha. Ini sesuai dengan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup (2004) yang menjelaskan bahwa kriteria tersebut baik dengan status sedang berada pada nilai >
1.000 - < 1.500.
Dominansi Relatif
Dominansi relatif tertinggi kategori pohon pada stasiun 1 adalah jenis N.
fruticans dengan nilai 73,90% dapat dilihat pada lampiran 1. Nipah banyak ditemukan sepanjang muara sungai tumbuh rapat. Heriyanto dkk (2011) bahwa Nipah atau Nypa fruticans (Thunb.) tumbuh di sepanjang sungai yang terpengaruh pasang surut air laut dan tumbuhan ini dikelompokkan pula dalam ekosistem hutan mangrove. Jenis ini tumbuh rapat berkelompok, seringkali membentuk komunitas murni yang luas di sepanjang sungai dekat muara hingga sungai dengan air payau. Flach dan Rumawas (1996) berpendapat bahwa nipah tumbuh
subur hanya pada lingkungan air asin. Kondisi optimum adalah bagian dasar palem dan rimpangnya terendam air asin secara reguler. Karena itu nipah mendiami daerah muara sungai yang masih mendapat akibat pasang surut dari sungai.
Indeks Nilai Penting
Berdasarkan hasil penelitian tabel 5 indeks nilai penting kategori pohon dengan nilai tertinggi yaitu jenis N. fruticans yang terdapat pada stasiun 1 bernilai 87,209% ketgori pohon dan INP terendah terdapat pada jenis A.marina dengan nilai 1,001%. Bengen (2000) mengemukakan bahwa besarnya indeks nilai penting berkisar 0-300%, semakin besar nilai indeks penting berarti spesies yang bersangkutan berperan semakin besar dalam komunitas tersebut. Dari hasil INP yang di temukan pada lokasi penelitian bahwa N. fruticans merupakan jenis mangrove yang memiliki peranan dominan dalam ekosistem hutan mangrove.
Berdasarkan tabel 6, nilai tertinggi dari kategori semai R. mucronata pada stasiun 1 yaitu 54,658% dan nilai terendah dengan jenis S. alba bernilai 27,329%.
Untuk kategori pancang indeks nilai penting tertinggi yaitu R. mucronata yang bernilai 80,319% dan nilai terendah berjenis A. marina dengan nilai 48,404%.
Sesuai dengan Watson (1928) bahwa Rhizophora mucronata hidup dengan digenangi oleh air pasang (All high tides) genangan per bulan 56 kali sampai 62 kali, hal ini jarang dijumpai jenis lain yang tumbuh pada kondisi air pasang.
Indeks Keanekaragaman Jenis Mangrove
Nilai indeks keanekaragaman jenis mangrove tertinggi kategori semai pada stasiun 2 dilihat dari Tabel 7 bernilai 1,5 dan indeks keanekaragaman yang terendah 1,04 pada stasiun 1. Untuk indeks keanekaragaman tertinggi pada
kategori pancang diperoleh pada stasiun 1 dengan nilai 1,3 dan pada stasiun 2 bernilai 1. Sedangkan pada kategori pohon nilai tertinggi terdapat pada stasiun 1 dengan nilai 1,5 dan nilai terendah pada stasiun 2 dengan nilai 1,3.
Dapat diketahui bahwa nilai indeks keanekaragaman rendah disebabkan karena adanya beberapa spesies yang sangat mendominasi pada stasiun ini dan lokasi penelitian tersebut merupakan daerah pertemuan antara air tawar dan air laut. Menurut Mukhlisi dkk (2013), keanekaragaman jenis dan pertumbuhan mangrove di antaranya dipengaruhi oleh suplai air tawar dari sungai yang bermuara ke laut serta kesesuaian habitat setiap jenis terhadap iklim dan kondisi geografis pesisir.
2. Kualitas Perairan
Hasil pengukuran kualitas air pada tabel 8 menunjukkan bahwa suhu pada saat surut dan pasang sesuai dengan baku mutu kualitas air. Pada saat surut suhu bernilai 29 0C dan saat pasang bernilai 30 0C. suhu tersebut sesuai dengan Baku Mutu pada Kepmen LH No. 51 Tahun 2004 yang menyebutkan bahwa suhu air laut yang ideal untuk mangrove adalah 28-320C. Menurut Nybakken (1988) suhu merupakan parameter fisik yang sangat mempegaruhi pola kehidupan organisme perairan, seperti distribusi, komposisi, kelimpahan dan mortalitas. Suhu juga akan menyebabkan kenaikan metabolisme organisme perairan, sehingga kebutuhan oksigen terlarut menjadi meningkat.
Suhu stasiun 1 pada tabel 8 menunjukkan suhu tinggi sehingga pada jenis mangrove seperti A. marina tidak dapat memproduksi lebih banyak. Sesuia dengan Kusmana (1995) menyatakan bahwa suhu berperan penting dalam proses fisiologis (fotosintesis dan respirasi). Untuk produksi daun baru Avicennia marina
terjadi pada suhu 18-20 0C dan jika suhu lebih tinggi maka produksi menjadi berkurang.
Nilai DO pada saat surut baik pada stasiun 1 dan stasiun 2 memiliki nilai yang sesuia dengan Baku Mutu. Sedangkan saat pasang, stasiun 1 bernilai 6,5 mg/l dan stasiun 2 bernilai 6 mg/l. Hal ini menunjukkan bahwa adanya perubahan DO disebakan karena rentang waktu dan perubahan suhu. Aksornkoae (1993) menambahkan bahwa DO sangat bervariasi tergantung waktu, musim, dan kekayaan tumbuhan serta organisme akuatik pada ekosistem mangrove.
pH merupakan jumlah aktivitas ion hidrogen dalam perairan. Hasil pengukuran yang dilakukan termasuk peraiaran yang produktif dengan pH 6,5-7,5. Hal ini sesuai dengan Lamury (1990) bahwa perairan dengan pH 5,5- 6,5 dan >8,5 termasuk perairan kurang produktif, perairan dengan pH 6,5-7,5 termasuk perairan yang produktif dan perairan dengan pH 7,5-8,5 adalah perairan yang produktivitasnya sangat tinggi. Hal ini juga menunjukkan bahwa lokasi tersebut sangat cocok untuk pertumbuhan mangrove.