Secara umum penanganan limbah dan sanitasi meliputi limbah dan sanitasi rumah tangga dan industri. Penanganan limbah dan sanitasi perlu dilaksanakan sejak dini agar tidak menyebabkan pencemaran lingkungan (air, udara, estetika) yang akan mengganggu kesehatan manusia. Gangguan kesehatan yang akan mudah muncul antara lain muntaber, diare, disentri, malaria, dan juga penyakit degeneratif. Untuk konstruksi jamban harus tidak terjadi perembesan yang dapat mencemari sumber-sumber air (sumur atau sungai). Untuk limbah industri penghasil limbah harus ada pengolahan limbah yang memenuhi standar, yaitu limbah yang dibuang ke lingkungan harus tidak mengganggu lingkungan dan kesehatan. Adanya persyaratan teknis mengenai jarak rumah dengan penampungan kotoran diperlukan untuk menjaga kualitas kesehatan rumah dan penghuninya terutama berkaitan dengan kualitas air bersih. Apabila jarak sumur atau pompanya ke penampungan limbah padat /cair manusia kurang dari 10 meter, maka air tersebut jadi kurang sehat. Sebab menurut standar rumah sehat jarak septic tank (penampungan kotoran) minimal adalah 10 m dari sumber air/sumur. Hal ini untuk menghindari terjadinya rembesan air kotor ke sumber air minum/sumur.
Perumahan dan permukiman yang ada di wilayah kota, banyak yang tidak memiliki saluran drainase di kanan kiri jalan lingkungan (drainase tersier), yang kemudian mengalir menuju ke drainase primer (kanan kiri jalan utama) dan akhirnya menuju ke sungai (drainase primer). Namun untuk sebagian kawasan perumahan dan permukiman yang berada di pinggiran atau kelurahan-kelurahan masih ada yang belum memiliki saluran drainase, sehingga air hujan langsung meresap ke dalam tanah atau membentuk saluran drainasenya secara alami menuju ke sungai. Untuk kawasan tersebut perlu dibangun saluran drainase di kanan-kiri jalan lingkungan, mengingat bahwa dengan adanya perkembangan dan pertumbuhan penduduk akan mengurangi luasan pekarangan yang tadinya menjadi resapan air hujan.
Kondisi lingkungan permukiman, terutama pada daerah yang dengan kepadatan bangunan tinggi dan berpotensi menjadi kumuh diindikasikan akan mengalami penurunan kualitas lingkungan yang dampatnya tentu saja pada penurunan kualitas kesehatan masyarakat. Apabila pola perilaku masyarakat yang membuang saluran septik tank langsung ke saluran drainase ataupun irigasi tidak diubah, maka dikhawatirkan akan terjadi degradasi lingkungan dan kesehatan masyarakat.
a. Aspek Teknis
Terdapat dua macam sistem dalam pengelolaan air limbah domestik/permukiman yaitu: 1) Sanitasi sistem setempat atau dikenal dengan sistem sanitasi on-site yaitu fasilitas sanitasi
individual seperti septic tank atau cubluk
2) Sanitasi sistem off-site atau dikenal dengan istilah sistem terpusat atau sistem sewerage, yaitu sistem yang menggunakan perpipaan untuk mengalirkan air limbah dari rumah-rumah secara bersamaan dan kemudian dialirkan ke IPAL.
VI-35
TABEL VI.19
SARANA PENGELOLAAN AIR LIMBAH KOTA SALATIGA
No Kelurahan IPLT Limbah Industri (IPAL Industri) MCK SLBM
1 Pulutan - - 1 1 2 Mangunsari - 1 - 2 3 Salatiga - - 1 - 4 Ledok - 1 1 1 5 Cebongan - 1 1 1 6 Tingkir tengah - - 1 - 7 Noborejo - 1 - - 8 Kumpulrejo 1 - - -
Sumber: SSK Kota Salatiga, 2012
Sistem sanitasi pengelolaan air limbah di Kota Salatiga terdapat beberapa pola aliran pembuangan air limbah sebagai berikut :
TABEL VI.20
DIAGRAM SISTEM SANITASI PENGELOLAAN AIR LIMBAH DOMESTIK
Input User Interface Penampungan
Awal Pengaliran Pengolahan Akhir Pembuangan/ Daur Ulang Kode/Nama Aliran Black Water
WC Tangki Septik Truk Tinja
(belum operasional) IPLT (belum operasional) - Aliran Limbah AL1 Black Water WC - - - Sungai Aliran Limbah AL2 Black Water WC Jumbleng - - - Aliran Limbah AL3 Black Water WC Sistem perpipaan menuju tangki pengumpul (program SLBM) - - - Aliran Limbah AL4 Grey water
Tempat cuci piring dan kamar mandi
Kubangan/ Tanah terbuka
- - - Aliran
Limbah AL5 Tempat cuci piring
dan kamar mandi
Resapan - - - Aliran
Limbah AL6 Tempat cuci piring
dan kamar mandi
SPAL - - Sungai Aliran
Limbah AL7 Tempat cuci piring
dan kamar mandi
Drainase - - Sungai Aliran
Limbah AL8 Tempat cuci piring
dan kamar mandi
- - - Sungai Aliran
Limbah AL9 Sumber: Buku Putih Sanitasi Kota Salatiga, 2012
TABEL VI.21
SISTEM PENGELOLAAN AIR LIMBAH (BLACK WATER) YANG ADA DI KOTA SALATIGA
Kelompok Fungsi Teknologi yang
digunakan Jenis Data Sekunder (Perkiraan) Nilai Data Sumber Data
User Interface WC Jumlah KK yang
mempunyai jamban
76,6% Dinas Kesehatan
Pengumpulan & Penampungan/ Pengolahan Awal
Tangki Septik Jumlah RT yang mempunyai tangki septik
belum terdata Dinas Kesehatan
Tangki Septik
SLBM
Unit/ Jiwa pemanfaat Unit/ KK tersambung
6 Unit/ 1.440 jiwa 6 Unit/ 221 KK
Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang
Tangki Septik MCK umum
Unit/ Jiwa pemanfaat 14 Unit/ 1.680 Jiwa Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang
Jumbleng Jumlah RT yang mempunyai jumbleng
belum terdata Dinas Kesehatan
VI-36
Kelompok Fungsi Teknologi yang
digunakan Jenis Data Sekunder (Perkiraan) Nilai Data Sumber Data
Truk tinja (belum operasional)
Truk tinja 1 unit Dinas Cipta Karya
dan Tata Ruang Pengolahan akhir
terpusat
IPLT (belum operasional)
IPLT 1 unit Dinas Cipta Karya
dan Tata Ruang Pembuangan
akhir/Daur Ulang
Sungai Nama sungai Jetis, Ngaglik, Ngawen,
Sraten, Sawahan, Ngemplak, Gandu, Kedung Ringis.
Dinas Bina Marga dan PSDA
Sumber: Buku Putih Sanitasi Kota Salatiga, 2012
TABEL VI.22
SISTEM PENGELOLAAN AIR LIMBAH (GREY WATER) YANG ADA DI KOTA SALATIGA
Kelompok Fungsi Teknologi yang
digunakan
Jenis Data
Sekunder (Perkiraan) Nilai Data Sumber Data
User Interface Tempat cuci piring
Rumah/unit 65,1 % Dinas
Kesehatan
Kamar mandi Rumah/unit 65,1 % Dinas
Kesehatan Pengumpulan & Penampungan/ Pengolahan Awal Kubangan/ tanah terbuka - Belum terdata
Resapan Unit (jumlah
yang di periksa)
Belum terdata Dinas
Kesehatan
SPAL Unit 56,5% Dinas
Kesehatan
Drainase Unit Drainase primer = 28 unit,
Drainase sekunder = 39 unit,
Drainase tersier meliputi saluran drainase di kawasan perumahan yang tersebar di wilayah Kota Salatiga
Dinas Bina Marga dan PSDA
Pembuangan akhir/Daur Ulang
Sungai Nama sungai Jetis, Ngaglik, Ngawen, Sraten, Sawahan, Ngemplak, Gandu, Kedung Ringis.
Dinas Bina Marga dan PSDA
Sumber: Buku Putih Sanitasi Kota Salatiga, 2012
TABEL VI.23
KAPASITAS PELAYANAN EKSISTING SKALA KOTA SALATIGA
Prasarana dan Sarana
Jumlah Kapasitas Sistem Pengelolaan Lembaga
Pengelola
Keterangan Kondisi
1. Truk Tinja
1 unit Rencana operasionalisasi dan pemeliharaan dilakukan oleh Pemda Kota Salatiga.
Masyarakat yang menggunakan jasa truk tinja dikenakan retribusi jasa
KLH Kota Salatiga
Belum beroperasi
2. IPLT 1 unit IPLT berada di Kumpulrejo Pengelolaan IPLT dilakukan dengan sistem kolam.
KLH Kota Salatiga
Belum beroperasi Sumber: Buku Putih Sanitasi Kota Salatiga, 2012
Kota Salatiga tidak memiliki sistem off-site skala kota. Berikut adalah peta lokasi IPLT, lokasi limbah industri, dan lokasi SLBM.
VI-37
PETA 6. 1 CAKUPAN PELAYANAN PENGELOLAAN AIR LIMBAH
NO PETA :
VI-38
PETA 6. 2 LOKASI INFRASTRUKTUR UTAMA PENGELOLAAN AIR LIMBAH DOMESTIK
NO PETA :
VI-39 TABEL VI.24