KondTabel 8. 18 isi Eksisting Pengelolaan Persampahan di TPA POHUWATO
B. Kondisi Eksisting Pengembangan Drainase i Permasalahan
Jaringan drainase eksisting yang ada di perkotaan, adalah terdiri atas saluran primer, sekunder, dan tersier. Saluran drainase umumnya merupakan sistem drainase primer berupa badan-badan air dengan konstruksi beton dan tanah. Sedangkan sistem drainase sekunder adalah saluran drainase yang memanjang mengikuti jaringan jalan utama dengan konstruksi beton dan tanah, dan terkadang terputus disana sini sehingga banyak terdapat saluran yang tidak menerus dan memungkinkan air dari saluran-saluran sekunder tersebut keluar secara bebas ke badan-badan jalan.
Dari hasil survey di kawasan perkotaan, saluran drainase eksisting di lokasi perencanaan baru sekitar + 40% dari ruas jalan, yang sudah dibuatkan saluran drainase, dengan kondisi umum sebagian besar (kira-kira 85%) dalam keadaan baik sedangkan yang lainnya dalam kondisi sedang sampai rusak. Sedangkan bila ditinjau dari bentuk penampangnya, sebagian besar merupakan saluran berbentuk segi empat dan sebagian kecil lainnya berbentuk trapesium.
Permasalahan kondisi jaringan drainase di lokasi perencanaan adalah : Tidak menerus dan berkelanjutannya saluran drainase yang ada, Tidak semua jaringan jalan dilengkapi saluran drainase
Tersumbatnya saluran oleh sampah dan sedimentasi,
Luas penampang saluran kurang sesuai yang disebabkan oleh kurang telitinya perencanaan dan pemanfaatan atas saluran secara tidak bijaksana.
Beberapa kawasan memiliki topografi lahan yang sangat datar dengan kemiringan kurang
Beberapa kawasan berada di pesisir (di atas bekas lahan mangrove, bahkan beberapa masih berdiri di atas air payau
Kabupaten Pohuwato | VIII-73 Pendangkalan sungai oleh sedimentasi dan perilaku masyarakat sekitar
aliran sungai
Selain masalah sistem jaringan drainase yang belum direncanakan secara sistematis dan menyeluruh, beberapa masalah lainnya adal ah :
Banyak saluran yang tersumbat oleh endapan lumpur dan tanah, sampah dan rumput-rumputan. Akibat kecepatan aliran dan debit aliran di saluran menjadi sangat kecil dan saluran tidak mampu menampung debit air dari lokasi sekitar dan dari bagian hulu.
Sebagian saluran berukuran kecil dan tidak memenuhi syarat sebagai saluran drainase kota.
Ada saluran yang buntu sehingga air tidak bisa mengalir terus dan akhirnya meluap ke badan jalan dan area terbangun
ii. Tantangan Pengembangan Drainase
Tantangan pengembangan drainase yaitu mencegah penurunan kualitas lingkungan permukiman di perkotaan, optimalisasi fungsi pelayanan dan efisiensi prasarana dan sarana drainase yang sudah terbangun, peningkatan dan pengembangan sistem yang ada, pembangunan baru secara efektif dan efisien yang menjangkau masyarakat berpenghasilan rendah dan menunjang terwujudnya lingkungan perumahan dan permukiman yang bersih dan sehat serta meningkatkan ekonomi masyarakat berpenghasilan rendah.
Tantangan lainnya adalah adanya Peraturan Menteri PU Nomor 14/PRT/M/2010 Tentang Standar Pelayanan Minimum menekankan tentang target pelayanan dasar bidang PU Tersedianya sistem jaringan drainase skala kawasan dan skala kota sehingga tidak terjadi genangan (lebih dari 30 cm, selama 2 jam) dan tidak lebih dari 2 kali setahun .
8.4.3.3. Analisis Kebutuhan Drainase A. Analisis Kebutuhan
Pada bagian ini Kab./Kota harus menguraikan faktor-faktor yang mempengaruhi sistem drainase kota. Melakukan analisis atas dasar besarnya kebutuhan penanganan drainase, baik itu untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat (basic need) maupun kebutuhan pengembangan kota (development need). Analisis yang terkait dengan kebutuhan drainase adalah analisis Bidang Teknis maupun non teknis yang mencakup kelembagaa n,
Kabupaten Pohuwato | VIII-74 pembiayaan, peraturan dan peran serta masyarakat dan swasta. Analisis kebutuhan dituangkan dalam tabel 8.45 berikut ini.
Berdasar analisa Tim Konsultan, Maka pemecahan permasalahan yang diusulkan diantaranya:
Menata sistem jaringan saluran drainase secara menyeluruh dan terpadu dengan saluran pembuangan irigasi yang ada
Melakukan normalisasi terhadap saluran-saluran yang ada
Melakukan rehabilitasi terhadap saluran-saluran yang telah mengalami kerusakan.:
Didasarkan hasil analisis hidrolika, dibutuhkan : Pembuatan saluran baru.
Membongkar saluran lama yang dimensinya tidak memenuhi syarat dan menggantinya dengan saluran baru.
Mengatur kemiringan dasar saluran.
Membuat pintu-pintu pada ujung hilir saluran yang menembus tanggul sungai dengan konstruksi yang kedap air
8.4.3.4. Program dan Kriteria Kesiapan Pengembangan Sistem Drainase A. Pembangunan Prasarana Drainase
Kriteria kegiatan infrastruktur drainase perkotaan Kriteria Lokasi :
Kota-kota yang sudah memiliki Master Plan Drainase Perkotaan dan DED untuk tahun pertama;
Kawasan-kawasan permukiman dan strategis di perkotaan yang rawan genangan.
Lingkup Kegiatan :
Pembangunan saluran drainase primer (macro drain), pembangunan kolam retensi, dan bangunan pelengkap utama lainnya (pompa, saringan sampah, dsb);
Pembangunan saluran drainase sekunder dan tersier (micro drain) oleh pemerintah kabupaten.
Sosialisasi/diseminasi/ kampanye NSPM pengelolaan saluran drainase termasuk kegiatan pembersihan sampah di sekitar saluran drainase; Produk materi penyuluhan/promosi kepada masyarakat;
Kabupaten Pohuwato | VIII-75 Penyediaan media komunikasi (brosur, pamflet, baliho, iklan layanan
masyarakat, pedoman dan lain sebagainya). Kriteria Kesiapan :
Sudah memiliki RPI2JM dan SSK/Memorandum Program atau sudah mengirim surat minat untuk mengikuti PPSP;
Dilaksanakan dalam rangka pengurangan lokasi genangan di perkotaan;
Terintegrasi antara makro drain dan mikro drain, serta dengan sistem pengendali banjir;
Terdapat institusi yang menerima dan mengelola prasarana yang dibangun;
Tidak ada permasalahan lahan;
Menyediakan alokasi dana untuk biaya operasi dan pemeliharaan; Melaksanakan penyuluhan kepada masyarakat.
Skema Kebijakan Pendanaan Sistem Drainase Perkotaan
Pembangunan sistem drainase perkotaan, pemerintah pusat mempunyai peran dengan mengembangkan sistem yang terintegrasi dengan sistem makro, serta memfasilitasi pilot drainase mandiri. Sedangkan, pemerintah kabupaten berperan dalam penyediaan lahan, penyediaan biaya operasi dan pemeliharaan, dan pemberdayaan masyarakat pasca konstruks
8.4.4. Usulan Program Dan Kegiatan
8.4.4.1. Usulan Program dan Kegiatan Pengembangan Sanitasi
Usulan dan prioritas program komponen Pengembangan Sanitasi disusun berdasarkan paket-paket fungsional dan sesuai kebijakan prioritas program seperti pada RPJMD. Penyusunan usulan program tersebut memperhatikan kebutuhan pengembangan atau pembangunan sektor dan kawasan unggulan. Dengan demikian usulan sudah mencakup pemenuhan kebutuhan dasar dan kebutuhan pembangunan ekonomi. Usulan program yang diajukan sesuai dengan hasil analisis dan identifikasi yang telah dilakukan. Selain itu, perlu juga diperhatikan keterpaduan dengan sektor-sektor lainnya. Usulan program harus dapat mencerminkan besaran dan prioritas program, dan manfaatnya ditinjau dari segi fungsi, kondisi fisik, dan non-fisik antar kegiatan dan pendanaannya.