• Tidak ada hasil yang ditemukan

Luas Luas Luas Persentase Persentase admin Sawah Serangan Sawah Sawah

4.3 Kondisi Iklim Wil Data iklim yang

wilayah kajian di dapat Analisis di Kabupaten C stasiun Meteorologi ketinggian 6 mdpl. Ana Tegal menggunakan s Tegal dengan ketinggian Kabupaten Pekalongan m Gamer dengan ketinggian di ketiga kabupaten tidak yang terlalu jauh.

Kondisi iklim tersebut memiliki perb perbedaan yang nyat Kabupaten Cilacap mem yang berbeda dengan K Kabupaten Pekalongan. Kabupaten Tegal dan Ka memiliki jarak yang b bagian utara Jawa Teng iklim hampir sama. Se Cilacap berada pada b Tengah.

Gambar 10 Suhu udara ra (2003-2009). Suhu udara rata-ra memiliki fluktuasi yang dengan besar suhu yang suhu ketiga kabupaten Gambar 10. Suhu udar terdapat pada Kabupate terendah terdapat pada Tinggi rendahnya suhu u mempengaruhi perkemba yang memiliki suhu ud mendekati suhu optim WBC, akan memicu WBC. Suhu udara Kab

arau dan pada saat peralihan musim yaitu aret-April dan musim Juni-Juli-Agustus. Hal usim kemarau kondisi dukung perkembangan

ilayah Kajian ng digunakan untuk

at dari stasiun iklim. Cilacap menggunakan Cilacap dengan nalisis di Kabupaten stasiun Meteorologi an 3 mdpl. Analisis di menggunakan stasiun ian 4 mdpl. Ketinggian ak memiliki perbedaan ketiga kabupaten rbedaan. Salah satu ata terlihat bahwa emiliki kondisi iklim Kabupaten Tegal dan . Hal ini dikarenakan Kabupaten Pekalongan berdekatan yaitu di ngah sehingga kondisi Sedangkan Kabupaten bagian selatan Jawa

rata-rata bulanan ).

rata ketiga kabupaten g hampir sama tetapi ng berbeda. Fluktuasi n dapat terlihat pada ara rata-rata tertinggi aten Pekalongan dan a Kabupaten Cilacap. udara rata-rata dapat bangan WBC. Wilayah udara rata-rata yang imum perkembangan tingginya serangan abupaten Pekalongan

memiliki suhu yang p mendekati suhu optimum (Subroto et al. 1992). serangan WBC di Kabu lebih tinggi dibandingkan dan Kabupaten Cilacap. F rata dan luas serangan d Lampiran 1.

Gambar 11 Suhu udara ma (2003-2009). Suhu maksimum m yang berbeda pada Kabu dibandingkan dengan Kab Pekalongan. Kabupaten Pe suhu maksimum paling ti Tegal dan Cilacap. Suh Kabupaten Cilacap pada b mengalami penurunan ya dibandingkan pada bulan F ini menyebabkan bulan Fe tinggi luas serangan WBC Agustus pada Kabupaten dengan Kabupaten Tegal suhu maksimum di kedua lebih tinggi di bulan Ju dibandingkan pada Febuari luas serangan akan lebih Juli – Agustus. Sama ha rata-rata, serangan WBC ak suhu maksimum tinggi. maksimum dan luas sera pada Lampiran 2.

Gambar 12 Suhu udara mi (2003-2009).

9

paling tinggi dan um yaitu 28-300C . Oleh karena itu, bupaten Pekalongan an Kabupaten Tegal Fluktuasi suhu rata- dapat di lihat pada

maksimum bulanan

memiliki flukstuasi bupaten Cilacap bila abupaten Tegal dan Pekalongan memiliki tinggi dibandingkan uhu maksimum di bulan Juli – Agustus yang sangat rendah Febuari - Maret. Hal Febuari - Maret lebih C dibandingkan Juli – en Cilacap. Berbeda al dan Pekalongan, a kabupaten tersebut Juli – Agustus bila ari – Maret. Sehingga ih tinggi pada bulan halnya dengan suhu akan lebih tinggi bila gi. Fluktuasi suhu rangan dapat dilihat

Suhu minimum memiliki fluktuasi yang suhu minimum akan re kemarau. Kabupaten Pe suhu minimum yang dibandingkan dengan Ka Cilacap. Suhu minimum akan memicu terjadiny (Subroto et al. 1992).

Secara umum pen rata-rata, suhu udara m udara minimum di ketig pada bulan Febuari – Agustus, dimana pada b muncul serangan WBC suhu udara dan luas ser pada Lampiran 3. Suhu Pekalongan merupakan sesuai untuk munculnya 28-300C dan suhu mal minimum yang rendah paling sesuai untuk pe serangga dewasa (Subrot karena itu, luas seran Pekalongan lebih tin Kabupaten Tegal dan Cila

Gambar 13 Kelembaban bulanan (2003 Kelembaban udara memiliki pola yang ber kabupaten lainnya sep Gambar 13. Kabupaten kelembaban yang hampir dan kenaikan kelemba signifikan. Hal ini berbed Pekalongan dan Tegal y hampir sama yaitu kelem saat musim kemarau.

WBC sangat me yang memiliki kelembaba optimal berkisar antara 7 1970 dalam Alissa 1990 Kabupaten Pekalongan, Cilacap memiliki kelemb untuk hidup WBC, yai Sebuah penelitian m

ketiga kabupaten g hampir sama yaitu rendah pada musim Pekalongan memiliki ng paling rendah Kabuapaten Tegal dan m yang lebih rendah inya serangan WBC enurunan suhu udara maksimum dan suhu tiga kabupaten terjadi Maret dan Juli – bulan-bulan tersebut C. Gambar fluktuasi serangan dapat dilihat u udara di Kabupaten n suhu yang paling ya WBC. Suhu antara alam hari atau suhu h adalah suhu yang pemunculan sejumlah oto et al. 1992). Oleh angan di Kabupaten tinggi dibandingkan ilacap. n udara rata-rata 03-2009). ra Kabupaten Cilacap erbeda dengan kedua eperti terlihat pada en Cilacap memiliki ir konstan. Penurunan baban tidak terlalu eda dengan Kabupaten l yang memiliki pola mbaban akan menurun menyukai lingkungan ban tinggi dengan RH 70-85% (Hino et al. 90). Kabupaten Tegal an, dan Kabupaten baban yang optimum aitu sekitar 70-85%. menyatakan bahwa

pekembangan WBC leb kelembaban nisbi di baw kelembaban diatas 80% Baco 1984). Pada Gamba bulan Juli-Agustus di Kab dan Kabupaten Tegal bera sehingga luas serangan dibandingkan Kabupaten C tersebut. Sedangkan pad Maret, kelembaban di K lebih rendah dibandingkan dan Pekalongan. Sehingga luas serangan di Kabupa tinggi. Gambar fluktuasi dengan luas serangan WBC Lampiran 4.

Gambar 14 Curah hujan ra (2003-2009). Pada Gambar 14 te hujan di Kabupaten Cil dibandingkan dengan Kab dan Tegal. Curah hujan tentu dapat mejadikan sera Karena curah hujan yang membuat tergenangnya air kapasitas. Hal ini juga da WBC dimana tetesan berlebihan langsung dap serangga-serangga yang (Sunjaya 1970). Oleh kare di Kabupaten Tegal Pekalongan lebih me perkembangan WBC. Kabupaten Pekalongan dan tinggi seperti Kabupaten fluktuasi curah hujan den WBC dapat dilihat pada La 4.4 Analisis Regresi

Analisis regresi mengetahui hubungan k variabel. Berikut adalah masing-masing faktor iklim iklim yang dianalisis di set iklim merupakan salah

lebih baik dengan awah 80% daripada (IRRI 1976 dalam bar 13 terlihat pada abupaten Pekalongan erada di bawah 80%, n lebih tinggi bila Cilacap pada bulan ada bulan Febuari- Kabupaten Cilacap

an Kabuapeten Tegal a pada bulan tersebut paten Cilacap lebih si kelembaban udara BC dapat dilihat pada

rata-rata bulanan

terlihat bahwa curah ilacap lebih tinggi abupaten Pekalongan n yang tinggi belum erangan WBC tinggi. ng tinggi juga dapat air di sawah melebihi dapat mempengaruhi air hujan yang apat menghanyutkan g berukuran kecil rena itu, curah hujan l dan Kabupaten mendukung dalam Curah hujan di an Tegal tidak terlalu en Cilacap. Gambar engan luas serangan Lampiran 5.

digunakan untuk keeratan dari dua lah analisis regresi lim dan semua faktor setiap wilayah. Faktor h satu faktor yang

11

mempengaruhi luas serangan WBC. Oleh karena itu, hasil dari analisis regresi faktor iklim ini adalah persentase pengaruh faktor iklim terhadap luas serangan WBC. Jika analisis regresi faktor iklim di sebuah kabupaten rendah maka terdapat faktor lain di luar faktor iklim yang mempengaruhi luas serangan WBC.

4.4.1 Cilacap

Hubungan antara faktor iklim dengan luas serangan WBC pada Kabupaten Cilacap terlihat pada Tabel 5. Berdasarkan hasil analisis regresi di Kabupaten Cilacap memiliki pengaruh iklim yang cukup rendah. Karena banyaknya pencilan data disebabkan oleh banyaknya pengaruh faktor lain selain faktor iklim yang mempengaruhi besarnya luas serangan. Berikut adalah hasil regresi luas serangan WBC dan faktor iklim di Kabupaten Cilacap.

Tabel 5 Nilai R2 luas serangan dengan faktor iklim Kabupaten Cilacap.

Gambar 15 Hubungan terbaik luas serangan dan suhu rata-rata (lag 1) di Kabupaten Cilacap.

Faktor suhu rata-rata di Kabupaten cilacap memiliki hubungan paling erat dengan luas serangan saat dilakukan pada analisis lag 1 yaitu pada saat WBC masih berupa nimfa dengan R2 sebesar 3.6% dan persamaan LS =

244 - 21.1 Trata + 0.456 Trata2. Pengaruh suhu udara rata-rata terhadap luas serangan WBC dapat dilihat pada hasil trend line grafik (Gambar 15), luas serangan WBC semakin naik saat suhu udara semakin tinggi. Serangan WBC tingggi saat suhu udara di Kabupaten Cilacap tinggi. Pada gambar terlihat sebagian besar WBC dapat berkembang dengan baik pada kisaran suhu antara 27-28 oC.

Gambar 16 Hubungan terbaik luas serangan dan suhu maksimum (lag 1) di Kabupaten Cilacap.

Hubungan paling erat suhu maksimum dengan luas serangan terjadi pada lag 1 saat WBC masih menjadi nimfa. Hal ini berarti suhu maksimum lebih mempengaruhi luas serangan WBC pada saat masih menjadi nimfa. R2 yang didapat saat lag 1 sebesar 4.4 % dengan LS = 78 - 7.41 Tmax + 0.164 Tmax2. Pada gambar 16 terlihat luas serangan tinggi saat suhu maksimum atau suhu siang hari disekitar 32oC. Luas serangan WBC cenderung tinggi saat suhu maksimum di Kabupaten Cilacap tinggi.

Gambar 17 Hubungan terbaik luas serangan dan suhu minimum (lag 1) di Kabupaten Cilacap.

Hubungan terbaik pengaruh suhu minimum terhadap luas serangan WBC terjadi pada saat lag 1 yaitu WBC masih berupa nimfa. Suhu minimum lebih mempengaruhi luas serangan pada saat WBC masih menjadi nimfa. Nilai R2 pada hubungan luas serangan WBC dan suhu minimum sebesar 3.1% dan LS = 265 - 25.51 Tmin + 0.614 Tmin2. Sebagian

Unsur Iklim Tanpa lag Lag1 Lag2

Suhu rata-rata (Trata) Suhu maksimum (Tmax) Suhu minimum (Tmin) Kelembaban udara (RH)

Curah hujan musim hujan (CHMH) Curah Hujan Musim Kemarau (CHMK) Semua Faktor iklim 6.1% 6.1% 8.6% 0.0% 1.3% 0.0% 8.3% 0.0% 0.5% 1.9% 3.1% 1.3% 4.6% 0.7% 1.9% 2.0% 3.6% 0.8% 3.7% 4.4% 1.4%

besar luas serangan berada pada suhu 24-25 o

C. Luas serangan WBC lebih sering terjadi jika suhu minimum di Kabupaten Cilacap tinggi.

Gambar 18 Hubungan terbaik luas serangan dan kelembaban udara (tanpa lag) di Kabupaten Cilacap.

Faktor kelembaban udara di Kabupaten Cilacap mempunyai hubungan paling erat saat dilakukan analisis tanpa lag yaitu pada saat WBC sudah menjadi serangga dewasa dengan nilai R2 sebesar 4.6% dan LS = - 4850 + 116.0 RH - 0.6928 RH2. Sehingga kelembaban WBC telah menjadi dewasa lebih mempengaruhi dari pada fase lain. Dari Gambar 18 terlihat bahwa luas serangan WBC di Kabupaten Cilacap selalu muncul pada tingkat kelembaban di daerah tersebut. Terjadi peningkatan serangan WBC saat kelembaban meningkat.

Curah hujan pada musim hujan dan musim kemarau di Kabupaten Cilacap memberi pengaruh yang berbeda terhadap luas serangan WBC. Pada musim hujan pengaruh terbesar pada lag 1 dengan R2 sebesar 1.4 % dan LS = 11.80 - 0.01669 CH. Hal ini berarti CH pada musim hujan lebih mempengaruhi WBC masih menjadi nimfa dibanding fase lainnya. Pada musim kemarau pengaruh terbesar pada tanpa lag dengan R2 sebesar 8.3 % dan LS = 3.006 + 0.01522 CH. Hal ini berarti CH pada musim kemarau lebih mempengaruhi WBC dewasa dibanding fase lainnya. Berikut adalah gambar hubungan luas serangan WBC dan curah hujan di musim hujan dan musim kemarau.

Gambar 19 Hubungan terbaik luas serangan dan curah hujan musim hujan (lag 1) di Kabupaten Cilacap.

Gambar 20 Hubungan terbaik luas serangan dan curah hujan musim kemarau (tanpa lag) di Kabupaten Cilacap. Pada Gambar 19 dan Gambar 20 terlihat perbedaan antara musim hujan dan musim kemarau. Luas serangan pada musim hujan akan cenderung menurun jika curah hujan terlalu tinggi. Karena curah hujan yang terlalu tinggi, akan terjadi limpasan di sawah yang mengakibatkan WBC kecil mati terbawa air. Sedangkan curah hujan pada musim kemarau, luas serangan cenderung naik. Ketersediaan air member pengaruh dalam perkembangan WBC. Musim kemarau yang basah atau sering terjadi hujan akan memicu terjadinya serangan WBC tinggi.

Dalam analisis regresi linier berganda, pengaruh semua faktor iklim yang dianalisis secara bersama-sama mempunyai hubungan paling erat saat dilakukan analisis lag 2 yaitu pada saat WBC masih menjadi telur. Nilai R2 yang didapat pada analisis lag 2 sebesar 8.6% dengan persamaan LS = - 104 - 21.8 Trata + 7.31 Tmax + 17.0 Tmin - 0.0014 CH + 0.78 RH. Jadi pengaruh iklim lebih besar pada saat WBC masih menjadi telur. Pengaruh iklim di Kabupaten Cilacap kecil dapat disebabkan oleh banyaknya pengaruh faktor lain selain faktor iklim yang mempengaruhi besarnya luas serangan.

13

4.4.2 Pekalongan

Hubungan antara faktor iklim dengan luas serangan WBC pada Kabupaten Pekalongan terlihat pada Tabel 6. Keeratan faktor iklim terhadap luas serangan di Kabupaten Pekalongan lebih tinggi daripada Kabupaten Cilacap. Berikut adalah hasil regresi luas serangan WBC dan faktor iklim di Kabupaten Pekalongan.

Tabel 6. Nilai R2 Luas Serangan dengan Faktor Iklim Kabupaten Pekalongan.

Gambar 21 Hubungan terbaik luas serangan dan suhu rata-rata (lag 1) di Kabupaten Pekalongan.

Faktor suhu rata-rata yang paling mempengaruhi luas serangan WBC di Kabupaten Pekalongan yaitu pada saat WBC masih menjadi nimfa (lag 1). Persamaan regresi linier kuadratik yang di dapat pada lag 1 adalah LS = - 18674 + 1333 Trata - 23.72 Trata2 dengan R2 sebesar 3.1%. Suhu rata-rata lebih mempengaruhi pada saat WBC masih mengalami fase nimfa dibandingkan fase lain. Dari Gambar 21, terlihat bahwa luas serangan WBC lebih sering terjadi dan bahkan cenderung tinggi saat suhu rata-rata di 28oC.

Gambar 22 Hubungan terbaik luas serangan dan suhu maksimum (lag 1) di Kabupaten Pekalongan.

Hubungan terbaik untuk pengaruh suhu maksimum terhadap luas serangan WBC didapat pada analisis waktu tunda pertama (lag 1) yaitu pada saat WBC berada pada fase nimfa. Nilai R2 pada lag 1 sebesar 4.6 % dengan LS = - 12038 + 765.1 Tmax - 12.10 Tmax2. Suhu maksimum lebih mempengaruhi perkembangan WBC saat mengalami fase nimfa daripada fase lainnya. Pada Gambar 22, terlihat jelas pengaruh kuadratik, luas serangan semakin tinggi saat mendekati suhu 31-32oC.

Gambar 23 Hubungan terbaik luas serangan dan suhu minimum (tanpa lag) di Kabupaten Pekalongan.

Di Kabupaten Pekalongan, suhu minimum memiliki pengaruh yang lebih tinggi dibandingkan suhu maksimum dan suhu rata-rata. Hubungan paling erat dilakukan analisis tanpa lag yaitu saat WBC telah menjadi serangga dewasa (imago) dengan R2 sebesar 9.6% dengan persamaan LS = - 1340 + 154.4 Tmin - 4.081 Tmin2. Dari Gambar 23, suhu minimum di Kabupaten Pekalongan lebih memicu tingginya luas serangan WBC saat suhu minimum di daerah tersebut rendah.

Unsur Iklim Tanpa lag Lag1 Lag2

Suhu rata-rata (Trata) Suhu maksimum (Tmax) Suhu minimum (Tmin) Kelembaban udara (RH)

Curah hujan musim hujan (CHMH) Curah Hujan Musim Kemarau (CHMK) Semua Faktor iklim 12.8% 11.1% 15.1% 0.9% 0.6% 5.6% 3.6% 9.6% 7.6% 3.3% 7.4% 7.5% 5.8% 3.0% 3.1% 2.5% 1.4% 4.6% 3.4% 0.0% 0.1%

Gambar 24 Hubungan terbaik luas serangan dan kelembaban udara (lag 1) di Kabupaten Pekalongan.

Faktor kelembaban udara di Kabupaten Pekalongan memiliki pengaruh paling kuat terhadap luas serangan pada saat WBC masih menjadi nimfa atau analisis lag 1. Hal ini berarti kelembaba udara lebih mempengaruhi fase nimfa WBC daripada fase lain. Nilai R2 pada saat lag 1 sebesar 7.5 % dan persamaan LS = - 5756 + 147.8 RH - 0.9380 RH2. Dari Gambar 24 terlihat bahwa luas serangan WBC lebih sering terjadi dan cenderung tinggi saat kelembaban udara mendekati kelembaban 80%. Kelambaban di bawah 80% lebih memicu munculnya WBC daripada kelembaban di atas 80%.

Curah hujan di Kabupaten Pekalongan lebih berpengaruh pada fase telur dibandingkan fase lainnya (lag 2) baik pada musim kemarau dan musim hujan. Pada musim kemarau nilai R2 yang diperoleh sebesar 3.6% dengan LS = 51.14 + 0.6732 CH. Pada musim hujan R2 yang diperoleh sebesar 5.6% dengan LS = 5.665 - 0.01168 CH. Serangan WBC di Kabupaten Pekalongan lebih sering terjadi pada musim kemarau. Berikut adalah gambar hubungan luas serangan WBC dan curah hujan di musim hujan dan musim kemarau.

Gambar 25 Hubungan terbaik luas serangan dan curah hujan musim hujan (lag 2) di Kabupaten Pekalongan.

Gambar 26 Hubungan terbaik luas serangan dan curah hujan musim kemarau (lag 2) di Kabupaten Pekalongan. Pada Gambar 25 dan Gambar 26 terlihat perbedaan antara musim hujan dan musim kemarau. Luas serangan pada musim hujan akan cenderung menurun jika curah hujan terlalu tinggi. Karena curah hujan yang terlalu tinggi, akan terjadi limpasan di sawah yang mengakibatkan telur dan WBC mati terbawa air. Sedangkan curah hujan pada musim kemarau, luas serangan cenderung naik. Musim kemarau yang basah atau sering terjadi hujan akan memicu terjadinya serangan WBC.

Dalam analisis regresi linier berganda, pengaruh semua faktor iklim yang dianalisis secara bersama-sama terhadap luas serangan WBC di Kabupaten Pekalongan mempunyai hubungan paling erat saat dilakukan analisis lag 2 yaitu pada saat WBC masih menjadi telur. Nilai R2 diperoleh cukup besar yaitu sebesar 15.1% dan persamaan LS = - 961 + 64.9 Trata - 33.6 Tmax - 17.6 Tmin - 0.358 CH + 8.69 RH. Faktor iklim di Kabupaten Pekalongan lebih mempengaruhi perkembangan WBC pada saat menjadi telur. 4.4.3 Tegal

Hubungan antara faktor iklim dengan luas serangan WBC pada Kabupaten Pekalongan terlihat pada Tabel 4. Pengaruh iklim terhadap perkembangan WBC di Tegal lebih tinggi daripada di Pekalongan dan Cilacap. Hal ini disebabkan pencilan data luas serangan WBC dan faktor iklim di Kabupaten Tegal lebih kecil. Pencilan data ini mewakili pengaruh faktor lainselain faktor iklim yang mempengaruhi WBC. Berikut adalah hasil regresi luas serangan WBC dan faktor iklim di Kabupaten Tegal.

15

Tabel 7. Nilai R2 Luas Serangan dengan Faktor Iklim Kabupaten Tegal.

Gambar 27 Hubungan terbaik luas serangan dan suhu rata-rata (tanpa lag) di Kabupaten Tegal.

Faktor suhu rata-rata yang paling mempengaruhi luas serangan WBC di Kabupaten Tegal yaitu pada saat dilakukan analisis tanpa lag atau pada saat WBC telah dewasa (imago). Jadi suhu rata-rata di Kabupaten Tegal lebih mempengaruhi perkembangan WBC fase imago dibanding fase lain. Persamaan regresi linier kuadratik yang didapat pada saat tanpa lag adalah LS = - 17006 + 1275 Trata - 23.85 Trata2 dengan R2 sebesar 4.2%. Pada Gambar 27, terlihat serangan WBC di Kabupaten Tegal terjadi pada suhu 26-28oC. Luas serangan cenderung tinggi jika suhu rata-rata di Kabupaten Tegal mendekati suhu 27oC.

Gambar 28 Hubungan terbaik luas serangan dan suhu maksimum (lag 1) di Kabupaten Tegal.

Hubungan paling erat suhu maksimum dengan luas serangan terjadi pada saat WBC masih berupa nimfa yaitu pada saat lag 1. Suhu maksimum lebih mempengaruhi perkembangan WBC pada fase nimfa dibandingkan fase lainnya. R2 yang didapat sebesar 5.6 % dengan LS = - 17499 + 1128 Tmax - 18.15 Tmax2. Pada Gambar 28 terlihat serangan WBC seing terjadi pada suhu maksimum yang tinggi. Sebagian besar luas serangan cendrung pada suhu maksimum 31- 32 oC.

Gambar 29 Hubungan terbaik luas serangan dan suhu minimum (tanpa lag) di Kabupaten Tegal.

Di Kabupaten Tegal, suhu minimum memiliki pengaruh yang lebih tinggi dibandingkan suhu maksimum dan suhu rata- rata. Hubungan paling erat saat dilakukan analisis tanpa lag yaitu saat terjadi serangan dengan R2 sebesar 6.7% dan persamaan LS = - 4649 + 407.1 Tmin - 8.851 Tmin2. Pengaruh suhu minimum tertinggi pada saat WBC sudah menjadi serangga dewasa bila dibandingkan fase lainnya. Dari Gambar 29, suhu minimum di Kabupaten Tegal lebih memicu tingginya luas serangan WBC saat suhu minimum di daerah tersebut rendah. Unsur Iklim Tanpa lag Lag1 Lag2

Suhu rata-rata (Trata) Suhu maksimum (Tmax) Suhu minimum (Tmin) Kelembaban udara (RH)

Curah hujan musim hujan (CHMH) Curah Hujan Musim Kemarau (CHMK) Semua Faktor iklim 4.2% 0.8% 1.3% 4.0% 5.6% 4.5% 6.7% 3.7% 0.0% 3.5% 5.1% 8.4% 11.5% 20.2% 6.1% 20.5% 0.5% 8.9% 3.8% 2.7% 0.1%

Gambar 30 Hubungan terbaik luas serangan dan kelembaban udara (lag 2) di Kabupaten Tegal.

Faktor kelembaban udara di Kabupaten Pekalongan memiliki pengaruh paling kuat terhadap luas serangan pada saat dilakukan analisis lag 2 dimana kelembaban udara lebih mempengaruhi WBC saat masih menjadi fase telur. Nilai R2 pada saat lag 2 sebesar 8.4 % dan persamaan LS = - 2987 + 76.68 RH - 0.4863 RH2. Dari gambar 30 terlihat bahwa luas serangan WBC lebih sering terjadi dan cenderung tinggi saat kelembaban udara di Kabupaten Tegal mendekati kelembaban 80%. Kelambaban di bawah 80% lebih memicu munculnya serangan WBC.

Curah hujan lebih mempengaruhi perkembangan WBC pada saat sudah menjadi imago baik pada musim kemarau dan musim hujan. Pada musim kemarau nilai R2 yang diperoleh sebesar 3.7% dengan LS = 33.94 - 0.2295 CH. Pada musim hujan R2 yang diperoleh sebesar 20.5% dengan LS = 8.508 - 0.05172 CH. Serangan WBC di Kabupaten Tegal lebih sering terjadi pada musim kemarau. Besarnya R2 di musim hujan disebabkan sedikitnya data yang digunakan dalam analisis, karena sedikitnya kejadian serangan pada musim hujan.

Gambar 31 Hubungan terbaik luas serangan dan curah hujan musim hujan (tanpa lag) di Kabupaten Tegal.

Gambar 32 Hubungan terbaik luas serangan dan curah hujan musim kemarau (tanpa lag) di Kabupaten Tegal. Pada Gambar 31 dan Gambar 32 terlihat adanya kesamaan antara musim hujan dan musim kemarau, luas serangan cenderung turun jika curah hujan tinggi. Pada musim kemarau, serangan WBC terus muncul walaupun tidak terjadi hujan atau curah hujan 0. Hal ini disebabkan karena para petani menggunakan irigrasi jika tidak ada hujan. Sehingga WBC masih bisa hidup optimal walaupun tidak terjadi hujan.

Dalam analisis regresi linier berganda, pengaruh semua faktor iklim yang dianalisis secara bersama-sama terhadap luas serangan WBC di Kabupaten Tegal mempunyai hubungan paling erat saat dilakukan analisis lag 1 yaitu pada saat WBC masih menjadi nimfa. Jadi pengaruh iklim di Kabupaten Tegal pada saat WBC masih mengalami fase nimfa lebih mempengaruhi terjadinya serangan WBC daripada fase lainnya. Nilai R2 diperoleh cukup besar yaitu sebesar 20.2% dan persamaan LS = - 38 + 90.2 Trata - 36.0 Tmax - 61.6 Tmin - 0.146 CH + 3.11 RH.

17

Tabel 8 Hasil analisis regresi terbaik antara luas serangan dan masing-masing faktor iklim. No Faktor Iklim Kabupaten Koefesien

determinasi (R2)

Persamaan

1. Suhu rata-rata (Trata) Tegal 4.2 % (Tanpa lag) LS = - 17006 + 1275 Trata - 23.85 Trata2

2. Suhu maksimum (Tmax) Tegal 5.6 % (Lag 1) LS = - 17499 + 1128 Tmax - 18.15 Tmax2

3. Suhu minimum (Tmin) Pekalongan 9.7 % (Tanpa lag) LS = - 1340 + 154.4 Tmin - 4.081 Tmin2

4. Kelembaban udara (RH) Tegal 8.4 % (Lag 2) LS = - 2987 + 76.68 RH - 0.4863 RH2

5. Curah Hujan Musim Hujan (CHMH)

Tegal 20.5 % (Tanpa lag) LS = 8.508 - 0.05172 CH 6. Curah Hujan Musim

Kemarau (CHMK)

Cilacap 8.3 % (Tanpa lag) LS = 3.006 + 0.01522 CH

Tabel 9 Hasil analisis regresi linier berganda antara luas serangan dan lima faktor iklim yang berperan terhadap luas serangan.

No Kabupaten Koefesien determinasi (R2) Persamaan

1. Cilacap 8.6% (lag 2) LS = - 104 - 21.8 Trata + 7.31 Tmax

Dokumen terkait