HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Sejarah Singkat BLHD
C. Kondisi Internal Badan Lingkungan Hidup Saat Ini
Dalam rangka penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah,
daerah Kota Makassar berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah, untuk maksud tersebut terbentuklah Badan Lingkungan Daerah (BLHD) Kota Makassar sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2009 merupakan salah satu lembaga teknis Satuan Kerja Perangkat Daerah Pemerintahan Kota Makassar, yang menangani kegiatan yang cukup strategis dalam menunjang keberhasilan Pembangunan di Kota Makassar.
Badan Lingkungan Hidup Daerah Kota Makassar dalam melaksanakan tugas dan fungsinya didukung dengan sumber daya manusia aparatur yang memadai sebanyak 28 orang dengan kualifikasi pendidikan sebagai berikut :
1. Pendidikan Magister (S2) sebanyak 14 orang 2. Pendidikan Sarjana (S1) sebanyak 10 orang 3. Pendidikan SMA sebanyak 4 orang
Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya Badan Lingkungan Hidup Daerah Kota Makassar perlu didukung dengan ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai sehingga dapat lebih optimal, efektif dan efisien sehingga dengan struktur kelembagaan yang masih baru tentunya masih memiliki keterbatasan yang perlu segera dibenahi. Adapun sarana dan prasarana yang dimiliki adalah sebagai berikut:
1. Meja pimpinan 2 buah 2. Meja ½ biro 14 unit
4. Kursi hadap 10 unit 5. Komputer CPU 6. Printer 4 unit 7. Lemari arsip 5 unit 8. Lemari arsip kayu 1 unit 9. Dispenser gallon 1 unit 10. AC 4 unit
11. Mesin ketik 1 unit 12. Telepon 1 unit 13. Mobil 1 unit
Ketersediaan anggaran belanja daerah yang dialokasikan pada Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup Daerah Kota Makassar tidak kalah pentingnya dalam menentukan pencapaian program dan kegiatan yang telah diamantakan dalam rencana kerja Tahun 2009, walaupun disadari masih banyak program dan kegiatan yang belum tersentuh dengan baik sehingga diperlukan perencanaan dan alokasi anggaran yang memadai. Untuk tahun anggaran 2009, jumlah yang dialokasikan dalam Badan Lingkungan Hidup daerah untuk belanja langsung sebesar Rp.1.778.715.800.
Oleh karena itu dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi agar anggaran yang ada, dapat lebih dioptimalkan dalam mengkoordinasikan dan mengendalikan kebijakan di bidang lingkungan hidup meliputi analisis
pemulihan dampak lingkungan serta penataan hokum lingkungan maka perlu senantiasa melakukan koordinasi, singkronisasi dan simplementasi yang diterapkan di dalam melaksanakan tugas-tugas pokok dan fungsi.
D. Penerapan Anggaran Pengelolaan dan Pengalokasian Dana
Penerapan pengelolaan dan pengalokasian keuangan pada BLHD Kota Makassar sesuai dengan hasil penelitian yang diperoleh dari obyek penelitian, maka untuk mengetahui pelaksanaan penerapan pengalokasian dana secara efektif terhadap organisasi BLHD, ada beberapa syarat yang harus di analisa, sebagai berikut :
1. Struktur organisasi BLHD Kota Makassar yang secara tegas wewenang dan tanggungjawab tiap tingkatan manajemen.
2. Anggaran biaya disusun menurut pusat-pusat pertanggung jawaban keuangan kepada Kantor BLHD Kota Makassar.
3. Penggolongan biaya sesuai dengan, dan dapat tidaknya dikendalikan oleh manajer pusat pertanggungjawaban keuangan.
4. Sistem akuntansi biaya yang disesuaikan dengan struktur organisasi.
5. Sistem pelaporan biaya kepada pimpinan yang bertanggung jawab kepada BLHD Kota Makassar.
Struktur organisasi kegiatan merupakan suatu gambaran tentang aliran kerja kegiatan manajemen pada Kantor Badan Lingkungan Hidup Kota
pelaksanaan, dalam struktur organisasi wewenang dan tanggung jawab dari setiap tingkatan manajemen akan berbeda, karena pada dasarnya kegiatan yang akan dikerjakan oleh perusahaan harus melalui tahap agar bagian menangani pembersihan dilaksanakan sesuai dengan APBD atas respon atau persetujuan Kepala Badan Lingkungan Hidup.
Pekerjaan proyek yang akan dikerjakan oleh unit kerja dalam mengatasi polusi dan kolusi dalam pembersihan Kota Makassar, tanggung jawab sepenuhnya oleh Kepala Badan terhadap mutu dan kualitas pekerjaan yang nantinya akan di pertanggungjawabkan pada Gubernur Propinsi Sulawesi Selatan.
Dalam struktur organisasi sudah ditegaskan atas pendelegasian wewenang dan tanggung jawab oleh masing-masing bagian yang menjadi pengawas atas kegiatan pencemaran, akan tetapi tetap diawasi oleh aparat Kepala Dinas begitu pula tugas oleh masing-masing bagian sudah ditetapkan, dengan adanya struktur organisasi di dalamnya tergambar bahwa tugas setiap pegawai wewenang dan tanggung jawab menjadi beban pekerjaan padanya, sehingga pekerjaan tidak tumpan tindih yang terjalin hubungan kerja yang baik dan harmonis antara sesama pegawai dalam lingkup Kantor Badan Lingkungan Hidup.
Sehubungan penerapan sistem akuntansi pertanggung jawaban keuangan, pada masing-masing menggunakan keuangan dengan
pertanggungjawabannya diajukan kepada Kepala Badan yang menjadi pelajaran pokok pemikiran atas kegiatan dari bagian dan keseimbangan pemanfaatan keuangan yang telah digunakan.
Sebagaimana halnya dengan kegiatan lain yang perlu direncanakan dan mengikuti suatu ketentuan tertentu yang telah ditetapkan terdahulu, maka demikian halnya dengan penyusunan anggaran pendapatan dan belanja daerah juga harus mengikuti ketentuan yang telah ditentukan yang merupakan pedoman dalam rangka penyusunannya. Ketentuan tersebut tersirat pula dengan KEPPRES No. 29 Tahun 1999 dan Instansi Menteri Dalam Negeri No. 903/13045/SJ tertanggal 15 Desember 1999 tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dan Perimbangan Keuangan Daerah dengan tahun anggaran 2000/ 2001.
a. Analisis Manajemen Rencana Kerja dan Anggaran pada BLHD
Penyusunan Rencana Kerja Anggaran secara sistimatis dilaksanakan sebagai berikut :
1. Proses Penyusunan Rencana Kerja Anggaran Pendapatan Belanja Daerah adalah sebagai berikut :
Sebagaimana kita ketahui bahwa anggaran pendapatan dan belanja daerah yang akan disusun tersebut adalah terdiri atas anggaran rutin dan anggaran pembangunan. Proses penyusunan anggaran rutin yang dimulai dengan penyampaian daftar usulan kegiatan rutin dari staf
utusan dari masing-masing badan/ unit kerja. Selanjutnya proses penyusunan anggaran pembangunan juga dimulai dengan penghimpunan data dalam Daftar Usulan Proyek (DUP) yang diterima masing-masing Badan/Satuan kerja daerah pada bagian Keuangan.
Kemudian data tersebut diolah oleh bagian keuangan bersama-sama masing-masing Badan Unit Kerja Daerah, dan bagian pembangunan daerah. Setelah data itu rampung penyusunan nya, maka disampaikanlah kepada Kepala Badan untuk mendapatkan pengesahan dan bersama dengan itu pula dibuat Nota keuangan. Dari data yang telah disusun tadi berubah menjadi Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang biasanyaj disingkat dengan RAPBN.
RAPBN tersebut bersama-sama Nota Keuangan disampaikan kepada BLHD Kota Makassar untuk mendapat pengesahan.
2. Pengesahan RAPBD menjadi Anggaran Rutin
RAPBD yang disampaikan kepada Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Daerah Kota Makassar, selanjutnya dibahas dalam Kepala Dinas. Dan untuk selanjutnya mengenai pengesahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Rutin pada BLHD Kota Makassar dari Kepala Badan telah menyetujuinya, maka dibuatlah suatu peraturan daerah sebagai dasar pelaksanaan dan pada saat itu
diperlukan APBD pada tahun yang sedang berjalan. Sedang APBD yang telah mendapat persetujuan sudah tadi, untuk selanjutnya disertai dengan peraturan.
b. Analisis Manajemen Pengendalian BLHD
Pengendalian kebijakan sebagaimana tugas pokok dan fungsi Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) sebagai berikut:
1. Kebijakan Teknis Operasional Pengendalian Pencemaran Lingkungan Hidup, kebijakan dasar untuk mengendalikan pencemaran udara, air, tanah, serta pesisir dan laut dikelompokkan dalam dua bagian besar, yaitu perlindungan mutu ambient dan pengendalian keg;iatan penyebab pencemaran. Dalam laporan SLHD 2009 dijelaskan bahwa perlindungan mutu ambien dilakukan dengan menetapkan standar ambang batas baku mutu yang dijadikan patokan pemerintah untuk melakukan penegakan hukum, perubahan kebijakan, penyesuaian kegiatan pembangunan, bahkan sampai dengan sosialisasi dan edukasi masyarakat agar tidak diampaui. Sementara itu, pengendalian kegiatan yang menyebabkan pencemaran lingkungan hidup dilakukan dengan cara penataan dan penegakan hukum serta penyediaan teknologi alternatif. Untuk mengurangi sidtorsi pasar, dikendalikan melalui kebijakan insentif dan disinsentif ekonomi serta pemberdayaan masyarakat agar dapat menjadi kekuatan penekan yang strategis.
2. Kebijakan teknis Opersional Pengendalian Kerusakan Lingkungan hidup, kebijakan dasar untuk mengendalikan kerusakan lingkungan hidup di Indonesia adalah dengan melakukan perlindungan dan pemulihan mutu ekosistemnya serta melakukan pencegahan dan pengendalian terhadap kegiatan perusaknya. Kebijakan pemulihan mutu berfariasi, tergantung pada strategi dan pendekatan setiap instansi teknisnya. Sebagai contoh, pemulihan mutu ekosistem hutan sangat ditekankan pada usaha mobilisasi penanaman hutan kembali yang diprakarsai pemerintah dalam Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL), pemulihan mutu DAS lebih ditekankan pada introduksi kebijakan tata ruang dan disinsentif pembangunan di wilayah tersebut, dan pemulihan mutu wilayah penambangan dibebankan sepenuhnya kepada pihak pemrakarsa.
3. Seperti halnya kebikan pengendalian pencemaran, pengendalian kegiatan yang menimbulkan kerusakan lingkungan hidup juga dilakukan dengan cara penataan dan penegakan hokum serta penyediaan teknologi alternative. Untuk mengurangi disstorsi pasar, dikendalikan melalui kebijakan insentif dan disinsentif ekonomi serta pemberdayaan masyarakat agar dapat menjadi kekuatan penekan yang strategis.
4. Kebijakan teknis operasional pengelolaan dan perlindungan sumber
daya alam (SDA) adalah dengan menyeimbangkan antara volume eksploitasi dan perlindungan melalui pembauran cadangan, yang kini secara lebih luas dikembangkan dalam konsep pendekatan keberlanjutan (Sustainability). Proses keseimbangan tersebut didasarkan pada perhitungan kebutuhan dan laju rehabilitasi maupun pemulihan. Implikasi dari kebijakan tersebut menuntut pengawasan yang efektif serta penataan dan penegakan hokum yang konsisten untuk mencegah eksploitasi berlebihan (overexploitation). Disamping itu, perlu ditingkatkan semangat dan kemanpuan yang tinggi untuk melakukan kegiatan rehabilitasi, pemulihan,dan proses pembaruan kembali. Dengan demikian, diharapkan terjadi pengelolaan SDA yang berprinsif pada semangat penghematan bagi SDA yang tak dapat diperbaharui (unrenewable resources) serta semangat pembaruan dan prlindungan kelestarian bagi SDA yang dapat diperbaharui (renewable resources).
Guna mendukung seluruh kegiatan pencegahan pencemaran lingkungan Kota Makassar dalam tahun anggaran 2013 kegiatan yang dilaksanakan dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 1. Sumber dana APBN dan APBD serta Pelayanan Sumber : Badan Lingkungan Hidup Daerah Kota Makassar
Sesuai dengan pelaksanaan kegiatan pada Badan Lingkungan Hidup Daerah Kota Makassar dengan menggunakan anggaran sebesar Rp.
9.802.000.000,- yang terdiri dari sumber dana APBN (Dekonsentrasi) sebesar Rp. 1.109.500.000,- dan sumber APBD sebesar Rp. 4.849.500.000,-
dalam pengendalian dampak lingkungan pada Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup Daerah Kota Makassar mengenai target, realisasi dan selisih serta realisasi fisik, sesuai dengan sumber dana harus seimbang dengan pengelolaan dan pengalokasian dana APBD pada Kantor Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Kota Makassar. Kantor ini mengurusi pencemaran atau dampak polusi yang dapat merugikan masyarakat, untuk memerangi tingkat kebersihan dalam Kota Makassar dengan penggunaan dana pada tabel 2 dapat dilihat kegiatannya sebagai berikut :
Tabel 2. Rekapitulasi Anggaran Belanja Berdasarkan Program dan Kegiatan Tahun Anggaran 2013 ;
No Program / Kegiatan Jumlah (Rp)
1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran a. Penyediaan Jasa Surat Menyurat b. Penyediaan jasa komunikasi, sumber
daya air dan listrik
c. Penyediaan jasa kebersihan kantor d. Penyediaan Komponen Instalasi Listrik /
Penerangan Bangunan Kantor
e. Penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang-undangan
2.
f. Rapat-rapat Koordinasi dan Konsultasi ke luar Daerah
g. Penyediaan jasa tenga pendukung administrasi kantor / tenaga teknis lainya h. Pemeliharaan sistem informasi
n. Penyediaan jasa Pengamanan Internal Kantor
Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur
a. Pengadaan perlengkapan gedung kantor b. Pengadaan Mebeleur
c. Pemeliharaan rutin/berkala Mobil Jabatan d. Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan
3.
4.
5.
e. Pemeliharaan rutin/berkala perlengkapan gedung kantor
f. Pemeliharaan rutin/berkala peralatan dan perlengkapan kantor
Program Peningkatan Disiplin Aparatur Pengadaan Pakaian Dinas Beserta Perlengkapannya
Program Peningkatan Sistem Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan
a. Penyusunan LAKIP
b. Penyusunan Laporan Keuangan Semesteran dan Penyusunan Laporan Keuangan Akhir Tahun
c. Penyusunan Dokumen Penetapan kinerja Kota Makassar
d. Monitoring Evaluasi dan Pelaporan e. Monitoring, Evaluasi, dan pelaporan
pertanggungjawaban penerima hibah dan
a. Koordinasi Penilaian Kota Sehat/Adipura b. Pemantauan Kualitas Lingkungan
c. Penyusunan status lingkungan hidup daerah (SLHD)
d. Peringatan Hari-Hari Lingkungan e. Pengawasan Limbah B3 dan
Pencemaran Lingkungan
f. Rapat-Rapat Koordinasi Penyusunan AMDAL
g. Verifikasi UKL/UPL
h. Pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidan pengaduan masyarakat i. Pembuatan laporan SPM
j. Makassar Green Office
k. Sosialisasi program Adiwiyata l. Peningkatan kinerja SDM sekolah
Adiwiyata
m. Penyusunan database perusahaan (Izin Lingkungan)
n. Pekan Lingkungan Hidup Nasional o. Sosialisasi Pelayanan Publik
6.
7.
p. Climate ChangeExpo
q. Penyusunan Dokumen Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) r. Pengembangan Data dan Informasi
Lingkungan
s. Penanaman Magrove di Pesisir Kota t. Penetapan Zonasi dan penyusunan
informasi air tanah kota Makassar u. Penyusunan profil KEHATI Makassar v. Pengelolaan Keanekaragaman Hayati
dan Ekosistem Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam
w. Pemantauan kualitas lingkungan wilayah dan laut Kota Makassar
Program Peningkatan Kualitas dan Akses Informasi sumber Daya Alam
Pameran Pembangunan
Program Peningkatan Pengendalian Polusi a. Pengajuan kadar polusi limbah padat dan
limbah cair
b. Operasi dan Pemeliharaan Alat Monitor
134.500.000,00
8.
Kualitas Udara Ambiet
c. Pengujian Kualitas Udara Ambiet Kota Makassar
d. Uji Petik Gas buang kendaraan bermotor Program Penataan Penguasaan, Pemilikan,
Sumber : Badan Lingkungan Hidup Daerah Kota Makassar
Badan Lingkungan Hidup Daerah Kota Makassar dalam melaksanakan kegiatannya yaitu dengan membuat suatu proposal anggaran untuk menanggulangi pencemaran dan polusi yang berdampak pada masyarakat yang bisa mengganggu kesehatan. Badan ini membuat, memberikan/menghambat terjadinya polusi yang dapat merugikan kesehatan masyarakat sehingga badan membuat pencegahan sebelum berdampak negatif.
Pelaksanaan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) dalam pengelolaan dan mengalokasian dana, sumber dana masih ada dana bantuan dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), tapi lebih rendah dibandingkan dengan APBD atau potensi wilayah masing-masing,
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan analisis data dan pembahasan yang dikemukakan sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat kesesuaian antara Pengelolaan dan Pengalokasian dana APBD dengan Rencana Kerja Anggaran yang ditetapkan oleh Badan Lingkungan Hidup Daerah Kota Makassar.
5.2 Saran
Sebagai penutup uraian dalam skripsi ini, penulis mengemukakan saran sebagai berikut :
Disarankan dalam pelaksanaan RKA (Rencana Kerja Anggaran), Kepala Badan BLHD masih perlu untuk terus mengikut sertakan pegawainya pelatihan dan pendidikan agar dapat meningkatkan tingkat pelayanan, produktivitas, kerja pegawai, sehigga dapat bekerja dengan baik sesuai dengan apa yang diharapkan oleh instansi itu sendiri.
Penerbit Fakultas Ekonomi, UGM, Yogyakarta.
Haruman, Tendi dan Rahayu, Sri, 2007, Penyusunan Anggaran Perusahaan, Edisi Ke Dua Cetakan Pertama, Penerbit Graha Ilmu Yogyakarta.
Horgren, Charles, T, 2002, Cost Accounting, A.Managerial Emphasis, Fourth Edition, Prentice-Hall, of India Private Limited, New Delhi.
Mardiasmo, 2002, Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah, Andy, Yogyakata.
Mulyono, Teguh, Pajo , 2000, Analisis dan Disain Sistem Informasi, Cetakan Pertama, Edisi Kelima, Penerbit Andi, Yogyakarta.
Mardiasmo, 2004, Otonomi Dan Manajemen Keuangan Daerah, Edisi Ke Dua, Penerbit Andi, Yogyakarta.
Nupriyoni, 1999, Riset Akuntansi, cetakan Kedua, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Sondang, S. Siagian, 1999, Pengantar Manajemen, Cetakan Ketiga, Edisi Ketiga, Penerbit STIE-YKPN, Yogyakarta.
Syafaruddin, 1998, Pembelanjaan Perusahaan, Edisi Ketiga, Cetakan Kedua, Penerbit Liberty, Yogyakrta.
Widjaya, Haw, 2002, Otonomi Daerah dan Daerah Otonomi Daerah, Ghalia
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... DAFTAR GAMBAR ... BAB I PENDAHULUAN ... ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Masalah Pokok ... 4
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA . ... 5
A. Pengertian dan Jenis-Jenis Anggaran ……….. 5
B. Pengertian Penggunaan Anggaran ... 5
C. Pengertian Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah 16
D. Prinsip-Prinsip Penyusunan APBD ... ... 18
E. Pengelolaan dan Pengalokasian Dana APBD ... 24
F. Penggunaan Kas dan Anggaran Kas ... 27
G. Kerangka Pikir ... ... 28
H. Hipotesis .. ... 29
BAB III. METODE PENELITIAN ... 30
A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 30
E. Metode Analisis ... 33
BAB IV PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ……… .. 37
A. Sejarah Singkat BLHD ………. 37
B. Struktur Organisasi ……… ... 47
C. Kondisi Internal BLHD ………... ... 48
D. Penerapan Anggaran Pengalokasian Dan Pengalokasian Dana……… 51
BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan………. 62
B. Saran……… 62
DAFTAR PUSTAKA ……….