• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kondisi-kondisi dimana Doktrin Experimental Use dapat

4.2 Analisis terhadap Batasan-batasan Agar Doktrin Experimental Use dapat

4.2.1 Kondisi-kondisi dimana Doktrin Experimental Use dapat

Pada bab kedua, telah dijelaskan mengenai pelaksanaan paten bahwa pemegang paten memiliki hak untuk melakukan komersialisasi terhadap invensinya yang ia patenkan melalui kegiatan-kegiatan yang tercakup dalam pasal 16 ayat (1) dan ayat (2). Namun selain itu, Pemegang Paten dapat melaksanakan

371 Lihat D. Gilat, Experimental Use and Patents (1995), 25. The US courts have occasionally employed the principle of de minimis non curat lex. Lihat e.g. Finney v. United States 188 USPQ 33 (CCTD 1975).

372 Bently, Brad Sherman, dkk, World Intellectual property (WIPO) Standing Comitte on the Law of Patents Exclusions from Patentabilty and Exceptions and Limitations to Patentees’, hal. 39

373 Lihat Indonesia (a), Undang-undang No. 14 tahun 2001, Pasal 16 ayat (3) beserta dengan penjelasannya

patennya dengan mengalihkan haknya, baik seluruhnya maupun sebagian kepada pihak lain dengan cara-cara yang ditentukan dalam Pasal 66 Undang-Undang Paten, yakni pewarisan, hibah, wasiat, perjanjian tertulis, atau sebab lain yang dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan.374 Pada kondisi ini, pihak yang lebih lanjut menerima hak ini dapat melakukan hal-hal atau melakukan komersialisasi dengan melakukan kegiatan-kegiatan dalam Pasal 16 ayat (1) dan ayat (2). Sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam hal ini, pemegang paten dapat melaksanakan patennya dengan dua cara, yakni :

a. Melaksanakan sendiri invensinya yang dipatenkan dengan cara melakukan komersialisasi melalui kegiatan-kegiatan yang tercakup dalam ruang lingkup hak eksklusif pada Pasal 16 ayat (1) juga ayat (2);

b. Melaksanakan invensi yang dipatenkan dengan cara mengalihkan hak patennya baik seluruhnya atau sebagian sesuai dengan Pasal 66 ayat (1).

Dari kedua pelaksanaan paten tersebut, keadaan yang cukup potensial akan terjadinya doktrin experimental use, dalam artian bahwa ada pihak lain selain pemegang paten atau penerima hak lebih lanjut berdasarkan Pasal 66 ayat (1) tersebut, yang melakukan kegiatan-kegiatan seperti membuat, menggunakan, menjual, mengimpor, menyewakan, menyerahkan, atau menyediakan untuk dijual atau disewakan atau diserahkan produk atau proses yang diberi paten, tanpa adanya izin dari pemegang paten

Ad. a

Dalam Pasal 10 sampai dengan Pasal 16 undang-Undang No. 10 tahun 2001 tentang Paten, diatur siapa saja yang merupakan subjek paten. Pada dasarnya, yang menjadi subjek paten adalah penemu atau yang di dalam undang-undang itu disebut inventor. Dalam undang-undang paten ditentukan bahwa yang berhak memperoleh paten adalah inventor yang menerima lebih lanjut hak inventor yang bersangkutan.375 Apabila suatu invensi dihasilkan oleh beberapa orang secara

374 Indonesia (a), Undang-Undang No. 14 tahun 2001, Pasal 66

375 Ibid., Pasal 10 ayat (1)

bersama-sama, hak atas invensi tersebut dimiliki secara bersama-sama oleh inventor.376

Ketentuan Pasal 10 ini menegaskan bahwa hanya inventor atau yang menerima labih lanjut hak inventor yang berhak memperoleh hak atas invensi yang dipatenkan tersebut. Invensi dapat saja dihasilkan dalam hubungan kerja atau karyawan maupun pekerja menggunakan data dan/atau sarana yang tersedia dalam pekerjaannya dan pada umumnya mereka dianggap pula sebagai subjek paten. Akibat dari ketentuan pasal tersebut, Pemegang Paten dapat saja perusahaan dimana si inventor bekerja, namun inventor yang merupakan karyawan dalam perusahaan tersebut tetap saja mendapatkan suatu hak moral yakni pencantuman nama dan identitas inventor dalam aplikasi paten, meskipun hak patennya dialihkan pada perusahaan tempat dimana ia bekerja. Dalam keadaan yang seperti ini, jika perusahaan tempat inventor bekerja menganut sistem inovasi terbuka (Open Innovation System), maka cukup berpotensi apa yang dikatakan dalam Pasal 16 ayat (3).

Chesbrough menjelaskan Inovasi terbuka sebagai proses ide berharga yang berasal dari dalam atau dari luar perusahaan yang dapat dipasarkan, baik dari dalam maupun luar negeri.377 Biasanya adalah perusahaan-perusahaan yang baru saja memulai usaha mereka. Karena pembentukan perusahaan yang baru mulai berusaha ini, penggunaan bersama ide masing-masing dan proses industrialisasi, sebuah jaringan perusahaan didirikan. Mereka membuat, bergabung, bersaing, meniru dan berinteraksi satu sama lain.378 Inovasi terbuka, yang Stowsky sebut dengan Inovasi bersama, karakteristik pengembangan teknologi dengan membuat kegunaan dari ambisi komersial atau keingintahuan secara akademis, dengan demikian memungkinkan adanya pembatasan dari gerakan ide-ide dan informasi.379

376 Ibid., Pasal 10 ayat (2)

377 H. Chesbrough, Open Innovation: The new Imperative for creating and profiting from technology, Boston, Massachusetts: Harvard Business School Press, 2003a

378 Ibid.

Christensen, Olesen dan Kjaer, menjelaskan Inovasi terbuka lebih sebagai

“fairly radical organization innovation” yang bergerak dari sebuah paradigma

“an introvert and proprietary to a (much more) extrovert and open paradigm”.380 Mereka menyatakan bahwa dimana perusahaan-perusahaan yang bergantung pada teknologi baru, yang menawarkan insentif yang besar untuk terlibat dalam kegiatan inovatif dan basis kompleks yang terdiri dari bagian-bagian pelengkap yang berbeda, didistribusikan melalui agen yang berbeda dan harus bergantung pada aset pengetahuan eksternal.381

Pada keadaan yang seperti ini, tentu sangat besar kemungkinan terjadi kegiatan-kegiatan penelitian dan pengembangan atas suatu invensi yang diabsorpsi dari invensi yang lain. Kemudian, invensi tersebut dikembangkan di dalam perusahaan, sehingga didapatlah invensi yang baru ataupun dengan menggunakan invensi yang dipatenkan tersebut, dihasilkanlah suatu produk atau proses yang baru. Tentu pasal 16 ayat (3) ini menjadi landasan bagi perusahaan tersebut untuk melakukan penelitian dan pengembangan untuk terciptanya suatu inovasi yang baru berdasarkan inovasi-inovasi yang ada. Dalam kondisi perusahaan seperti ini-lah rentan dilakukannya pelanggaran-pelanggaran paten terkait dengan ruang lingkup hak eksklusif pemegang paten. Pun seharusnya para peneliti merasa aman dengan keberadaan pasal ini, namun sebatas apakah rasa aman mereka tersebut dari adanya tuntutan atau gugatan pelanggaran paten?

Tentu perlu diketahui ukuran-ukuran kepentingan pendidikan, penelitian, percobaan, atau analisis seperti apa yang dapat menjadi ‘pelabuhan yang aman’

bagi mereka.

379 Anries Johannes Snyman, Patent Management in Open Innovation Systems, Department of Management Faculty of Management Sciences Tshwane University of Technology, April 2007, hal. 24

380 J.F. Christensen, M.H. Olesen, dan J.S. Kjaer, The Industrial Dynamics of Open InnovationL Evidence from the Transformation of Consumer Electronics, Researh Policy 34:1533-1549

381 Snyman, Patent Management in Open Innovation Systems, hal. 25

Ad. b

Untuk kondisi pelaksanaan paten yang kedua ini, yakni dimana Pemegang Paten dapat mengalihkan haknya kepada pihak ketiga melalui cara-cara seperti yang tertera dalam Pasal 66 ayat (1) Undang-Undang Paten. Misalkan ketika Pemegang Paten mengalihkan patennya melalui lisensi kepada pihak lain berdasarkan perjanjian untuk melakukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16.

Kemudian ternyata Pihak penerima lisensi ini (yang merupakan badan hukum) menggunakan invensi yang dipatenkan tersebut untuk kegiatan penelitian dalam perusahaannya tanpa sepengetahuan Pemegang Paten, dan kemudian berdasarkan hasil penelitian tersebut ditemukanlah suatu fungsi baru dari invensi semula. Pada kondisi demikian, kegiatan yang dilakukan Pemegang lisensi tersebut tanpa izin merupakan suatu bentuk dari penerapan doktrin experimental use.