• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PERANAN TOKOH MASYARAKAT DALAM MEDIAS

3.1.2 Kondisi Konflik Saat Ini

Saat ini, konflik yang terjadi antar warga di dusun Adian Goti masih tetap terjadi namun tidak lagi konflik bernuansa kekerasan seperti bentrokan dan penganiayaan.tapi lebih kepada konflik pemutusan hubungan kontak sosial, ekonomi serta politik di Desa Tolang Jae. Ini terbukti dengan adanya pamflet- pamflet dilarangnya warga Dusun Adian Goti untuk melewati dan berdagang di Desa Tolang Jae termasuk di dalamnya 7 desa yang berada disekitar Desa Tolang Jae.

Dari segi sosial, konflik yang terjadi antar warga Desa Tolang Jae dengan Dusun Adian Goti menimbulkan beberapa tindakan yang tujuannya meyudutkan masyarakat Adian Goti dengan membatasi dan memutus hubungan sosial masyarakat, menghapus warga Dusun Adian Goti sebagai bagian dari pemerintahan Desa Tolang Jae dan segala hak serta kewajiban mereka dihapus oleh pemerintahan desa sebagai warga yang menetap di lingkungan Desa Tolang Jae, serta masyarakat Desa Tolang Jae menghindari interaksi ataupun kontakdengan masyarakat Adian Goti.

Dari segi ekonomi, seperti yang dibahas diatas tidak adanya interakasi sosial diantara warga Dusun Adian Goti dengan warga Desa Tolang Jae membuat hubungan ekonomi dalam bentuk perdagangan hasil pertanian terputus.Dalam kegiatan perdagangan dan proses jual beli tentunya membutuhkan proses interaksi. Namun pernyataan di atas bertolakbelakang dengan kondisi yang dijumpai di pasar tradisional Desa Tolang Jae dibuka.dimana perubahan yang terjadi disini, masyarakat Dusun Adian Goti tidak terlihat lagi melakukan aktifitas perdagangan di pasar tersebut. Hasil panen warga Dusun Adian Goti seperti karet,nilam, sayur-sayuran Adian Goti tidak berada lagi di pasar tersebut dan ditolak oleh masyarakat melalui perjanjian yang disepakati bersama Tokoh Masyarakat setelah konflik 23 Desember 2014.

Dilihat dari segi politik, dengan merujuk pada kondisi pemutusan hubungan sosial dan ekonomi.aktivitas dan peran Politik Desa seperti di desa tolang jae tidak lagi mengikut sertakan atau memberikan ruang untuk memilih dan dipilihnya kepala desa di desa tersebut kepada warga Dusun Adian Goti. Musyawarah dan rapat-rapat serta kegiatan sosial lainnya seperti perayaan 17 agustus tidak lagi diikuti oleh warga Dusun Adian Goti untuk bergabung.

Seperti yang diungkapkan oleh William Chang“ Konflik sosial tidak hanya berakar pada kepada ketidakpuasan batin, kecemburuan, iri hati, kebencian, masalah perut, masalah tanah, masalah tempat tinggal, masalah pekerjaan, masalah uang dan masalah kekuasaan. Namun menurutnya, emosi manusia sesaat pun bisa memicu terjadinya konflik sosial. Sehingga apabila merujuk pada kasus

Desa Tolang Jae, permasalahan yang terjadi berkaitan dengan teori yang dijelaskan oleh William Chang. Kondisi yang berkembang saat ini adalah masyarakat Desa Tolang Jae menyimpan sikap tak peduli ,iri dan dendam terhadap masyarakat Dusun Adian Goti.

3.2Peranan Tokoh Masyarakat/Tokoh Adat dalam Mediasi Konflik di Desa

Tolang Jae dan Dusun Adian Goti

Secara umum, proses terjadinya konflik hampir sama di beberapa daerah di Indonesia, dimana faktor yang mempengaruhinya adalah perbedaan kepentingan yang terjadi dalam masyarakat. Seperti yang diutarakan oleh Ralf Dahrendorf (2011) dengan Karl Marx (2011), Ralf Dahrendorf menyatakan bahwa : masyarakat terintegrasi karena adanya kelompok kepentingan Dominan yang menguasai masyarakat banyak sedangkan karl marx menyebutkan bahwa, kelas- kelas dianggap sebagai kelompok sosial yang mempunyai kepentingan sendiri yang bertentangan satu sama lain, sehingga dalam kasus di Desa Tolang Jae seperti yang diutarakan oleh Ralf, bahwa kepentingan awal munculnya konflik. Perbedaan kepentingan ini seringkali berujung kepada konflik yang berakhir dengan benturan fisik antar sesama warga di Desa Tolang Jae. sedang dari teori karl marx pada situasi konflik yang berada di Desa Tolang Jae menitik beratkan pada proses kesenjangan antar masyarakat di Desa Tolang Jae dari segi pendapatannya, teori ini terbukti dengan tidak adanya titik temu antar kedua belah

pihak dalam memutuskan proses dan hasil mediasi yang mempertemukan kesepakatan mereka.

Dalam kasus ini tentunya dibutuhkan sebuah penanganan serius dan langkah penyelesaian yang lebih maksimal sehingga konflik ini tidak berlarut- larut. Tetapi kenyataannya penyelesaian tidak pernah maksimal, ini dengan dibuktikan bahwa pecahnya konflik pada 23 desember 2013 Kepala Desa Tolang Jae bapak Mara Indo Lubis tidak berada di tempat dan warga tidak ada yang mengetahui keberadaannya. Ini mebuktikan bahwa kurangnya tanggung jawab Tokoh Masyarakat untuk mendamaikan ataupun menyelesaikan sengketa ini melalui jalan mediasi telah merugikan pihak Desa beserta masyarakat.

Dilain sisi juga dengan adanya pihak-pihak Tokoh Masyarakat yang tidak bersikap netral juga menjadi faktor lemahnya posisi Tokoh Masyarakat dalam Mediasi Konflik di Desa Tolang Jae,Konflik ini telah berlangsung sangat lama yaitu sejak tahun 1982-2014 ( berkisar32 tahun lamanya) dan sampai saat ini belum mencapai titik temu antara kedua belah pihak yang berkonflik. Konflik ini juga telah mengalami proses perkembangan dari tahun ke tahun, dimana isu-isu yang berkembang senantiasa berubah dan mempengaruhi pola pikir masyarakat setempat tentang menetapnya warga Adian Goti tersebut. Dari kronologis konflik yang telah dijelaskan di atas, faktor-faktor yang menyebabkan konflik ini terjadi selalu berubah dan berkembang sesuai dengan wacana yang keluar dari warga maupun Tokoh Masyarakatnya, Seperti pada awalnya penyebab konflik terjadi adalah perambahan hutan, kemudian berkembang menjadi permasalahan hewan

ternak berlanjut ke masalah status kependudukan masyarakat pendatang, dan status lahan yang berkonflik.

Dari situasikondisi ini membuktikan bahwa, setiap pihak yang terlibat dalam konflik akan selalu berusaha mencari kelemahan masing-masing dengan tujuan untuk menguatkan posisinya pada pihak yang benar dan menyalahkan pihak lawan. Situasi ini akan berlangsung cukup lama apabila tidak ada penyelesaian antara kedua belah pihak untuk membuat kesepakatan bersama.seperti yang yang diungkapkan oleh Alo Liliweri (2005) yang mengatakan bentuk pertentangan yang bersifat fungsional karena pertentangan semacam itu mendukung tujuan kelompok dan memperbaharui tampilan, namun disfungsional karena menghilangkan tampilan kelompok yang sudah ada.

Sehingga menurut penulis, konflik yang telah berlangsung selama 32 tahun di Desa Tolang Jae didasarkan karena tidak adanya perhatian Negara dan pemerintah sekaligus pihak netral dari Peranan Tokoh Masyarakatnya. seharusnya didalam menyelesaikan konflik sosial, Negara, pemerintah dan Tokoh Masyarakat harus lebih menghasilkan sebuah solusi yang saling menguntungkan dan tidak merugikan pihak Desa atau masyarakat kelompok manapun.Dalam kasus Ini ketimpangan terjadi denganmelihat bagaimana pihak Tokoh Masyarakat hanya cenderung berpihak pada kelompok dominan dan kurang memperhatikan masyarakat Adian Goti sebagai masyarakat minoritas.

Namun bila melihat secara sosial, budaya masyarakat Desa Tolang Jae yang masih memegang nilai-nilai adat seperti dalihan natoluserta

statusharajaon,Tokoh Adat yang sekaligus Tokoh Masyarakat di Desa tersebut memiliki pengaruh besar dalam setiap pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kepentingan desa tersebut, kuatnya ketokohan pada Masyarakat Adat membuat konflik ini senantiasa mengalami pasang surut yang dapat sewaktu- waktu bergejolak kembali.

Seperti halnya penyelenggara pertemuan selama proses mediasi di Desa Tolang Jae, disini Tokoh Masyarakat kelihatannya hanya sibuk mengundang dan menghadirkan pihak Warga Desa Tolang Jae dan para Harajaonnya Desa Tolang Jae. dan kurang memberi perhatian kepada masyarakat Dusun Adian Goti untuk datang menghadiri pertemuan dengan pihak Desa Tolang Jae. pemimpin diskusi rapat juga harusnya adalah orang-orang yang ditentukan oleh kedua belah pihak yang bertikai bukan sebaliknya, tetapi fakta dilapangan yang menjadi alasan salah satu ketidakikutsertaan pihak Adian Goti Dalam diskusi rapat yang diadakan oleh Warga Desa Tolang Jae beserta Tokoh Masyarakatnya adalah alasan belum adanya persetujuan antar Desa Tolang Jae dengan Dusun Adian Goti tentang siapa dan darimana pemimpin diskusi rapat. Pihak Desa Tolang Jae sudah menentukan siapa pemimpin diskusi rapatnya sehingga pihak Adian Goti berangapan bahwa warga, Tokoh Masyarakat serta Harajaon Desa Tolang Jae nantinya tidak adil dalam memutuskan perkara tersebut.

Bila dilihat dengan menguatnya budaya dari masyarakat yang terbilang masih kuat mengakar adat istiadatnya, membuktikan bahwa proses mediasi yang dilakukan oleh Tokoh Masyarakat beserta kelompok Harajaon Desa Tolang Jae

dengan Warga Dusun Adian Goti terdapat perbedaan pengartian dalam halnya menafsirkan resolusi yang mendatangkan perdamaian di Desa Tolang Jae. ini terbukti dengan tidak adanya penerangan dan penyadaran kepada masyarakat bahwa mediasi adalah jalan mencapai solusi guna menghentikan konflik ini. apalagi masyarakat desa Tolang Jae bisa dikatakan tidak terlalu ambil pusing dan bersikap pasif terhadap jalan keluar untuk mencapai perdamaian antar mereka, karenamasyarakat Desa Tolang Jae percaya dan menyerahkannya saja Tokoh Masyarakat dan Harajaon apa-apa saja yang menjadi hasil kesepakatan dengan Warga Dusun Adian Goti, dalam kasus ini posisi Harajaon di Desa Tolang Jae terbilang sangat dominan sebagai pemangku adat istiadat dan pengaruh kebijakan politik setempat. Karena harajaon merupakan kelompok masyarakat dominan yang memegang nilai adat dan budaya dilingkungannya.sehingga dalam setiap pengambilan keputusan di Desa Tolang Jae pengaruh Harajaon ini cukup kuat dan mengakar dalam kehidupan masyarakat Desa Tolang Jae.

Warga Desa Tolang Jae akan terima keputusan yang dikeluarkan Tokoh Masyarakat dengan adanya Harajaon sebagai perwakilan adat istiadat dilingkungan mereka. Seperti konflik yang terjadi antar Desa Tolang Jae dan Dusun Adian Goti posisi harajaon dalam hal ini bermacam-macam ada sebagai penasehat dan ada juga yang malah menjadi pihak-pihak yang terlibat dalam konflik masyarakat tersebut.

Sisi lain dengan menguatnya mentalitas politik feodalistik dari sebagian Tokoh Masyarakat serta Harajaon Desa Tolang Jae membuktikan bahwa ketidak

puasaan terhadap keputusan yang berulang kali dibuat bersama antar kedua belah pihak dan adanya anggapan keinginan untuk menguasai lahan yang selama ini digarap oleh Warga Dusun Adian Goti, membuat sebagian Tokoh Masyarakat dari Desa Tolang Jae untuk memikirkan ulang apa yang harus dilakukan untuk kembali membuka jalan mufakat yang mereka inginkan. Tokoh masyarakat dalam hal ini tidak lagi netral dan menyimpang dari apa yang seharusnya dilakukan, tokoh masyarakat seharusnya adalah orang ataupun individu yang memiliki kepedulian, sikap netral, bijaksana dan peduli terhadap rakyatnya termasuk menghindari kekerasan demi kebaikan bersama dan menyatukan keberagaman dalam kebersamaan.

Ini dibuktikan dengan yang disebutkan diatas dimana surat tindak lanjut yang kerap mereka layangkan pada pihak pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan. seperti surat tertanggal 20 juli 2014 yang isinya memuat perasaan kecewa, sikap marah dan bahkan memberikan ultimatum (ancaman) kepada pihak pemerintah dengan alasan bahwa sikap pemerintah yang Seharusnya menutup kediaman tempat Dusun Adian Goti dan mengevakuasi warga Adian Goti dari pegunungan tempat mereka berada. Namun keinginnan Tokoh Masyarakat ini yang mengatasnamakan rakyat, pemerintah tidak terlalu menanggapinya.

3.3 Upaya Mediasi Yang Di Lakukan Tokoh Masyarakat

Adapun upaya Mediasi yang dilakukan Tokoh Masyarakat hanya seperti mengadakan pertemuan, rapat dan diskusi. upaya Tokoh Masyarakat ini menurut penulis dinilai tidak maksimal dalam proses saling menguntungkan dan mendamaikan karena Upaya yang dilakukan oleh Tokoh Masyarakat tidak didukung oleh upaya menyadarkan pihak yang bertikai seperti yang yang diungkapkan oleh Raiffa (1982) bahwa peran terkuat diperlihatkan oleh mediator, apabila mediator bertindak atau mengerjakan hal-hal yang membantu para pihak agar menyadari bahwa sengketa bukan sebuah pertarungan untuk dimenangkan, akan tetapi diselesaikan dengan melakukan mediasi dengan kedua belah pihak yang berkonflik.

Namun upaya mediasi yang dilakukan Tokoh Masyarakat serta Tokoh Adat dianggap belum bisa dianggap netral oleh salah satu pihak yang berkonflik dan dalam hal ini adalah masyarakat Nias. Karena masyarakat Adian Goti beranggapan bahwa setiap keputusan yang akan diambil, selalu melemahkan posisi mereka. Dari proses mediasi yang pernah dilakukan oleh kedua belah pihak dan beberapa proses yang dicapai sebelumnya seperti, pelarangan pembukaan lahan baru di Dusun Adian Goti dan pencemaran lingkungan. Hasilnya, tidak diterima begitu saja oleh masyarakat Adian Goti karena mereka berpendapat hasil mediasi tersebut didominasi oleh kepentingan Tokoh Masyarakat dan Tokoh Adat Desa Tolang Jae yang tidak lain ingin merebut tanaman yang mereka telah jaga dan pelihara ditanah Desa Tolang Jae sebelumnya (sejak tahun 1982).

Seperti yang diungkapkan oleh salah satu pihak perwakilan dari masyarakat suku nias yang berada di Dusun Adian Goti yaitu Faoato Lawolo (Kaduo: Nama Panggilan) :

“Penyelesaian konflik sebetulnya tidak akan selesai karena mereka mempunyai tujuan untuk menguasai lahan yang selama ini kami olah dan usahakan untuk kebutuhan hidup kami.Mediasi yang dilakukan sebetulnya hanya untuk menguntungkan segelintir orang di Desa Tolang Jae dan sekitarnya.Kami ini memang hanya minoritas disini, tapi kami juga minta penjelasan, karena kami kesini pun sudah meminta izin terlebih dahulu kepada tokoh masyarakat, termasuk kepala desa pada tahun 1982, dan kami ada bukti suratnya”.

Dari penjelasan Bapak Faoato Lawolo, jelas bahwa dengan adanya semacam prilaku dan tindakan yang tidak netral dan memposisikan diri dalam kelompok yang mayoritas membuat Tokoh Masyarakat beserta pemerintah dalam hal ini tidak terlalu di percaya oleh masyarakat Adian Goti dan mereka bersikeras terhadap apa yang menjadi keinginannya dan kepentingannya mempertahankan tanah yang selama ini dikelolanya.

Berbicara mengenai Upaya-upaya yang dilakukan oleh Tokoh Masyarakat bisa dikatakan tidak sistematis dan tidak terorganisir dan termanajemen secara aktif karena Perdamaian di Desa Tolang Jae tidak dapat dikendalikan oleh mereka secara damai. Ini terbukti dengan berlarut-larutnya konflik dan sentimen yang terjadi antar mereka sebelum konflik ini mencapai titik yang paling besar pada 23 desember 2014.

Memang sekarang konflik sudah mereda tetapi dampak yang yang dlakukan oleh tokoh masyarakat sepertinya tidak adil dan hanya terikat pada satu

kelompok yang mayoritas yang membuat keputusan-keputusan yang tidak adil dan tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh pihak yang adian goti sebagai pihak yang minoritas.

3.4 Dampak Mediasi yang Dilakukan Oleh Tokoh Masyarakat Terhadap

Konflik di Desa Tolang Jae

Dampak yang terjadi dari Mediasi yang dilakukan oleh Tokoh Masyarakat bisa dikatakan tidak berhasil pada sebuah solusi damai, karena dari kasus yang terjadi di Desa Tolang Jae mediasi yang dilakukan terlihat dan dirasakan berat sebelah, dimana setiap keputusan yang dikeluarkan setelah diadakannya Mediasi selalu mengungguli pihak mayoritas dari kekuatan yaitu Desa Tolang Jae. Mediasi seharusnya menjadi tumpuan jalan resolusi tanpa memberatkan dan memberi jalan adil kepada siapapun tetapi kenyataanya tidak di Desa Tolang Jae.

Sikap yang tidak netralitas dari Tokoh Masyarakat juga menimbulkan dampak konflik yang berkepanjangan di Desa Tolang Jae, ini dilihat dari proses- proses musyawarah yang dilakukan oleh Tokoh Masyarakat yang hanya mengutamakan pihak-pihak yang mayoritas yang mendominasi yang menjadi tumpuan kepentingan yang dianggap tak adil oleh Masyarakat Dusun Adian Goti.

Dampak yang ditimbulkan juga dari konflik ini dengan tersisinya masyarakat Dusun Adian Goti juga telah menimbulkan sebuah kondisi yang cukup tidak bersahabat ditengah kurangnya perhatian pemerintah akan perselisihan yang terjadi di Desa Tolang Jae. Ketidakmampuan mediasi yang

dilakukan oleh Desa Tolang Jae dengan Dusun Adian Goti lantas tidak mampu diselesaikan oleh pemerintah secara adil.

Dalam konflik ini, dengan adanya bentuk tindakan pemaksaan terhadap Dusun Adian Goti untuk menyetujui kesepakatan yang diambil oleh Tokoh Masyarakat juga telah menyebabkan makna dari Mediasi kurang betul dipahami oleh Tokoh Masyarakat, karena pada dasarnya Mediasi harusnya tidak memaksakan tapi bersifat menganjurkan jalan damai yang disepakati dari musyawarah yang dilakukan bersama secara mufakat. Tetapi kenyataannya, Dusun Adian Goti sebagai pendatang sekaligus Suku minoritas telah medapatkan perlakuan diskriminasi baik itu Tokoh Masyarakat Desa Tolang Jae maupun Pemerintah setempat. Bahkan seperti yang telah penulis ungkapkan diatas, konflik sosial ini berujung dengan tidak di akuinya status kependudukan secara administrasi desa dan ini merupakan pelanggaran terhadap Hak-Hak Azasi Manusia (HAM) yang dilakukan oleh Negara terhadap HAM Dusun Adian Goti untuk hidup dan bekerja.

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan dalam bab sebelumnya disini penulis dapat menarik sebuah kesimpulan seperti yang di utarakan oleh sofyan sjaf dalam pemahaman interior (2014). bahwa, memang betul individu maupun kelompok adalah makhluk yang bebas, tetapi ketika individu ataupun kelompok itu bertindak dia mencerminkan atau dipengaruhi oleh struktur sosialnya. Ini terbukti dengan dalam melaksanakan mediasi guna mendamaikan sebuah konflik social yang belum terjadi. Dimana Tokoh Masyarakat di Desa Tolang Jae banyak dipengaruhi oleh struktur masyarakat yang mendominasinya. Peranan tokoh masyarakat seharusnya mampu menjadi panutan, pengayom dan pembuka jalan perdamaian antar masyarakat.dan bukan malah mendukung salah satu pihak yang bertikai.

Tokoh Masyarakat yang berada dalam sebuah kondisi Konflik harusnya bertindak sebagai penengah pada situasi konflik sosial yang sedang berlangsung dan tanpa mengharapkan imbalan apapun dalam konflik yang tengah terjadi.Dalam konflik, upaya mediasi dan Peranan Tokoh Masyarakat harusnya dapat menyesuaikan diri dengan kondisi objektif kehidupan sosial masyarakat.Tokoh Masyarakat harusnya mampu mendengar dari kedua pihak bukan sebagai bagian dari konflik sosial ataupun pendukung konflik tersebut.

Karena apabila Tokoh Masyarakat tidak dapat mewujudkan keterlibatan mereka yang netral kepada mediasi sebagai alternative dari penyelesaian konflik. Maka, keputusan yang dikeluarkan pun tidak akan mampu memberikan rasa keadilan pada lingkungan serta kehidupan masyarakat itu sendiri. mediasi yang dilakukan oleh Tokoh Masyarakat seperti pada kasus Desa Tolang Jae adalah salah satu contoh. Dalam hal ini, Tokoh Masyarakat dinilai tidak berlaku adil juga tidak menyerukan kesadaran sosial antara kedua belah pihak yang bertikai. harusnya Tokoh Masyarakat sebagai panutan masyarakat dapat menyuarakan kesadaran, menjalankan sikap adil dan berlaku bijaksana dilingkungannya. Di Desa Tolang Jae, seharusnya Tokoh Masyarakat yang tidak berlatarbelakangkan seorang akademisipun harusnya bisa lebih cerdas secara secara moral dan prilaku demi pengembangan masyarakat yang bermoral dan menjunjung tinggi nilai keadilan, kebersamaan dan kebenaran.Karena penulis punya keyakinan bahwa tidak ada satu masalah yang tak dapat diselesaikan, semua bisa di pecahkan asal sesama anak bangsa kita sadar betul bahwa pertikaian yang terjadi antara kita baik itu karena perbedaan, ide, politik social dan budaya.Tidak terlalu ditanggapi pada hal-hal sifatnya lebih berprasangka negatife.Tetapi lebih ditujukan pada usaha untuk memajukan dan mensejaterakan bangsa ini kedepannya.

Persatuan adalah kekuatan dan pertikaian adalah kelemahan kita sebagai anak bangsa.

4.2Saran

1. Peran Tokoh Masyarakat dalam menyelesaikan konflik yang tidak menghasilan sebuah solusi yang saling menguntungkan dan bahkan merugikan pihak desa. Seharusnya Tokoh masyarakat harus bertindak sebaliknya.

2. Relokasi masyarakat Dusun Adian Goti diringi dengan membayar tanah yang akan didiami. Tentu ini merugikan masyarakat Adian Goti. Dan mungkin hal ini perlu dipertimbangkan secara matang demi dicegahnya tindakan kekerasan

3. Tokoh masyarakat Dusun Adian Goti sesungguhnya menentang kesepakatan dengan Desa Tolang yang mewajibkan mereka untuk membayar tempat hunian relokasi di Desa Tolang Jae. Dan paling merugikan masyarakat Dusun Adian Goti dari hasil kesepatakan relokasi tersebut adalah lahan yang selama ini digarap harus dibagi dua dengan Desa Tolang Jae.

4. Kesepakatan/perjanjian yang tidak adil antara Dusun Adian Goti dengan Desa Tolang Jae, telah melanggar asas esensi musyawah untuk mufakat yang saling menguntungkan antara kedua belah pihak.

5. Ketidakmampuan mediasi yang dilakukan oleh Dusun Adian Goti dengan Desa Tolang Jae, tidak lantas mampu diselesaikan oleh pemerintahan setempat secara adil seharunya pemerintah harus lebih ikut memperhatikan.

6. Dalam konflik ini, tindakan pemaksaan terhadap Dusun Adian Goti untuk menyetujui kesepatakan yang diambil tokoh masyarakat.Dusun Adian Goti sebagai pendatang sekaligus suku minoritas, telah medapatkan perlakuan diskriminasi oleh pemerintah setempat. Bahkan konflik ini berujung tidak diakuinya status kependudukan secara administrasi desa. Ini merupakan bentuk pelanggaran HAM yang dijalankan oleh Negara terhadap Hak Azasi Manusia Dusun Adian Goti untuk hidup dan Bekerja.

DAFTAR PUSTAKA

Buku :

Alo Liliweri, Prasangka dan Konflik: Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat

Multikultur,Yogyakarta, LKiS, 2005.

Bruce A.Chodwick.1991.”Sosial Science Research Methods,ter.Sulistia

(dkk),”Metode Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, Semarang : IKIP Semarang

Press.

Bagong Suyanto,dkk,2008. Metode Penelitian Sosial. Jakarta: Kencana .

Elly M.Setiadi. Usman Kolip. 2011.Pengantar Sosiologi : Pemahaman Fakta Dan

Gejala Permasalahan Sosial:Teori,Aplikasi,Dan Pemecahannya,Kencana,

Prenanda Media Group , Jakarta.

Harold Lasswell & Abraham Kaplan. Power and Society, (New Haven: Conn, YaleUniversity Press 1950),

Heru Cahyono dkk,ed, Konflik di Kalbar dan Kalteng: Jalan Panjang Menuju perdamaian,Pustaka Pelajar,Yogyakarta.

Irene Hiraswari Gayatri. op.cit.

Koentjaraningrat (ed.), Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Penerbit

Dokumen terkait