TINJAUAN PUSTAKA
B. Kondisi Lingkungan Pendidikan di Kecamatan Turikale Kab. Maros
Lingkungan Pendidkan dapat diartikan sebagai berbagai faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap praktek pendidkan. Lingkungan pendidikan sebagai lingkungan tempat berlangsungnya proses pendidikan, yang merupakan bagian dari lingkungan sosial. Fungsi lingkungan pendidkan untuk membantu peserta didik dalam berinteraksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya baik fisik, sosial, maupun budaya dan mengajarkan tingkah laku serta mempersiapkan individu untuk peranan-peranan tertentu. Peran serta tanggungjawab lingkungan
34
pendidikan sangat dibutuhkan dalam membina dan mengajarkan kepada remaja-remaja agar tidak terjerumus dalam dunia yang tidak baik.
Hal ini di tegaskan dengan hasil wawancara dengan Neneng Kartini (Guru PAI ) mengatakan bahwa :
Lingkungan Pendidikan memang salah satu unsur terpenting dalam membentuk Karakter anak pada usia dini sampai dia beranjak dewasa. ( Wawancara Tgl 4 Maret 2015).
Faktor-faktor terjadinya pergaulan bebas remaja di Kecamatan Turikale :
1. Orangtua saat ini lebih kepada membebaskan anak-anak untuk lebih leluasa dalam bergaul tanpa memandang siapa yang dia temani bergaul. Hal ini yang memicu terjadinya pergaulan-pergaulan yang bersifat negatif sehingga banyak remaja-remaja yang terjerumus kedalam pergaulan yang tidak baik.
2. Orangtua membiarkan anaknya menonton film-film sinetron yang ada di Televisi, ini salah satu pemicu yang membuat anak melihat pergaulan-pergaulan yang ada di Televisi dan mengikuti adegan yang dilakukan oleh idolanya.
3. Kurangnya pembinaan agama dari orangtua untuk anaknya sehingga banyak anak yang mudah sekali terjerumus dalam dunia kenakalan remaja.
4. Kepeduliaan masyarakat yang masih kurang tentang pergaulan bebas remaja yang ada di Kecamatan Turikale ini, sehinga banya
remaja seakan-akan bebas melakukan sesuatu tanpa ada yang melarang.
5. Kurangnya sosialisasi yang diberikan oleh guru dan orangtua tentang dampak negatif dari pergaulan bebas.
6. Pergaulan bebas remaja ini terjadi karna ada pengaruh-pengaruh dari lingkungan dewasa yang mereka lihat dan meniru serta mengikuti apa yang dilakukan oleh orang dewasa tersebut.
Dalam kajian penelitian ini peneliti ingin mengungkapkan tingkat persentase orangtua dan guru dalam memberikan nasehat tentang bahaya pergaulan bebas. Adapun persentasenya sebagaimana pada tabel berikut :
Tabel 3
Tanggapan Responden Tentang Orangtua dan Guru Memberikan Nasehat Bahaya Pergaulan Bebas
NO Indikator Frekuensi Persentase
1. Selalu 234 55%
2. Kadang-kadang 151 36%
3. Tidak Pernah 40 9%
Jumlah 425 100%
Sumber : Olahan angket No.1
Hasil olahan angket memberikan bukti tentang orang tua sering memberikan nasehat terhadap anaknya tentang bahaya pergaulan bebas
36
dan hasilnya 55 persen mengatakan selalu, 36 persen mengatakan kadang-kadang dan 9 persen mengatakan tidak pernah.
lingkungan pendidikan pertama dan terpenting adalah keluarga. Karna orangtua dalam keluargalah yang memiliki tanggungjawab atas pendidikan anaknya.
Hal ini diperkuat dengan UU SIKDIKNAS Nomor 20 tahun 2003 pasal 7 ayat 2, yang berbunyi
Orang tua dari anak usia wajib belajar, berkewajiban memberikan pendidikan dasar kepada anaknya.
Dengan hasil Olahan angket di atas kita bisa menarik kesimpulan bahwa masih ada orangtua dan guru kurang memperdulikan pergaulan yang dilakukan anaknya. Sehingga anak merasa bebas tanpa ada aturan-aturan yang dibatasi oleh guru dan kedua orantuanya. Hal ini terjadi karena orangtua sibuk dengan urusan pekerjaan mereka masing-masing sehingga mereka lupa akan tugasnya sebagai pendidik utamanya dalam keluarga. Kenakalan anak saat ini disebabkan karna Kurangnya perhatian, kepedulian dan kerjasama antara orangtua, guru yang menyebabkan pergaulan remaja saat ini tidak terkontrol lagi.
Hal ini ditegaskan dengan hasil wawancara dengan Mastuti (Anggota Masyarakat) mengatakan bahwa :
Masyarakat saat ini masyarakat yang kurang bersosialisasi artinya mereka acuh tak acuh, sibuk dengan urusan masing-masing tanpa memperdulikan yang ada di lingkungan sekitanya. (wawancara, 8 Maret)
C. Bentuk Pergaulan Bebas Remaja di Kecamatan Turikale Kab. Maros.
Pergaulan bebas adalah salah satu karakteristik remaja dan sering menjadi masalah dan topik pembicaraan. Hal ini erat kaitanya dengan karakteristik perkembangan masa remaja. Sebagai mana dimaklumi, masa remaja adalah masa kurun waktu perkembangan yang berada dalam masa transisi, yaitu dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Para remaja sudah bukan anak-anak lagi, akan tetapi juga belum menjadi orang dewasa. Masa remaja merupakan masa persiapan memasuki kehidupan dunia dewasa yang sebenarnya termaksud kehidupan berkeluarga.
Adapun bentuk-bentuk pergaulan bebas remaja yang ada di tiga Kelurahan (Turikale, Raya, dan Adetongeng) yang ada di Kecamatan Turikale :
1. Pacaran
2. Berduaan di tempat sunyi
3. Mengakses Video-video yang dilarang agama 4. Pulang Larut Malam
5. Merokok
Seperti kita ketahui bahwa kelima bentuk-bentuk pergaulan bebas ini banyak atau sudah membudaya dilingkungan kehidupan remaja saat ini, bahkan mereka sudah tidak merasa canggung lagi melakukan hal tersebut. Perilaku remaja ini bahkan tidak diketahui oleh pihak orangtua
38
dan guru, karena mereka terkadang melakukan hal-hal tersebut dengan sembunyi-sembunyi. Perilaku remaja saat ini bisa dikatakan sebagai perilaku yang sudah melewati batas normal, karena mereka melakukan hal tersebut hampir setiap hari.
Kajian berikut dalam penelitian ini peneliti ingin mengungkapkan tingkat persentase remaja yang melakukan pacaran di Kec. Turikale Kab. Maros. Adapaun persentasenya sebagaimana pada table berikut ini :
Tabel 4
Tanggapan Responden Tentang Remaja di Kecamatan Turikale Kab. Maros yang Memiliki Pasangan/Pacar
NO Indikator Frekuensi Persentase
1. Sangat setuju 36 8%
2. Setuju 229 54%
3. Tidak setuju 160 38%
Jumlah 425 100%
Sumber : Olahan angket No.2
Dari hasil jawaban responden dapat dilihat bahwa sebanyak 36 responden yang menjawab sangat setuju dengan persentase 8 persen. 229 responden yang menjawab setuju dengan persentase 54 persen, dan 160 responden yang menjawab tidak setuju dengan persentase 38 persen. Tingginya persentase pada kategori setuju dapat diartikan bahwa remaja merasa senang apabila memiliki pasangan/pacar.
Semakin pesatnya arus modernisasi yang berakibat kompleksnya masyarakat, semakin banyak pula remaja yang tidak mampu melakukan penyesuaian diri terhadap berbagai perubahan sosial. Mereka lalu mengalami banyak kejutan dalam berbagai perubahan, baik dari segi pakaian maupun cara bergaul. Apalagi ditambah oleh semakin banyaknya tuntutan sosial, sanksi-sanksi dan tekanan sosial/masyarakat yang mereka anggap melawan dorongan kebebasan mutlak dan ambisi mereka yang menggebu-gebu.
Hal ini ditegaskan dalam wawancara dengan Hasniawati S, (Anggota Masyarakat) mengatakan bahwa :
Akibat dari pubertas yang begitu cepat sehingga remaja banyak melakukan hal-hal yang tidak membawa manfaat bagi masyarakat, salah satunya ialah Pacaran. Karena remaja saat ini merasa minder pada temanya ketika tidak memilikin pacar/pasangan. (Wawancara 28 Februari 2015).
Perilaku pacaran para remaja akan banyak dipengaruhi oleh ciri-ciri perkembangan cinta pada yang terjadi pada remaja. Pada masa remaja awal cinta bermula dari pemujaan dan kekaguman kepada seseorang. Dalam fase selanjutnya kemudian berkembang menjadi apa yang disebut cinta monyet yaitu adanya rasa cinta tetapi masih malu-malu untuk mewujudkanya. Perkembangan selanjutnya adalah apa yang disebut
steady love (cinta yang mantap) yaitu cinta yang sesudah didasari oleh
ciri-ciri tersebut di atas. Fase selanjutnya ialah cinta ambang pernikahan, yaitu cinta yang sudah mengarah kepada kehidupan keluarga.
40
Di samping itu pergaulan bebas tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial dan budaya. Sebab setiap periode sifatnya khas dan memberikan jenis tantangan khusus kepada generasi mudanya, sehingga remaja bereaksi dengan cara yang khas pula terhadap situasi sosial yang ada. Sehubungan dengan hal itu tanggapan remaja tentang melakukan hal-hal yang dilarang agama bersama pacar/pasangan.
Hasil observasi penulis menyimpulkan bahwa pergaulan bebas yang terjadi dikalangan remaja memang sudah menjadi gaya bergaul yang sedang trend, sebab mereka yang sudah mempunyai pasangan, apabila tidak bersikap mesra dihadapan temanya maka mereka akan dianggap kolot dalam bergaul atau masih gaya yang ketinggalan zaman. Semakin menurunnya nilai moral remaja saat ini dibuktikan dengan hasil persentase remaja yang pacaran di tempat sunyi, adapaun tabelnya sebagai berikut :
Tabel 5
Tanggapan Responden Tentang Remaja Bersama Pacarnya di Tempat Sunyi
NO Indikator Frekuensi Persentase
1. Selalu 25 6%
2. Kadang-kadang 130 30%
3. Tidak pernah 270 64%
Jumlah 425 100%
Dari hasil jawaban responden dapat dilihat bahwa sebanyak 6% responden menjawab selalu, 30% responden menjawab Kadang-kadang sedangkan 64% menjawab tidak pernah. Dari hasil olahan angket di atas dapat kita menarik kesimpulan bahwa remaja yang ada di Kec. Turikale positif melakukan pergaulan bebas. Hal ini di Perkuat oleh Asrul (Remaja) mengatakan bahwa :
Saya sering berduaan bersama pacarnya ketika di tempat sepi dan duduk berdua sambil berpegangan tangan ” (wawancara 7 Maret 2015)
Pergaulan bebas pada remaja ditandai dengan terjadinya berbagai perubahan dalam segi fisik, psikologi, spiritual dan sosial. Sebagai konsekuensi proses pertumbuhan dan perkembangan dalam masa ini. Pada masa ini terjadi proses kematangan organ-organ reproduksi (seksual), sebagai wujud kesiapan untuk menghasilkan keturunan baru. Perubahan itu disertai juga dengan berkembangnya ketertarikan kepada lawan jenisnya.
Pihak pemerintah tidak ada penindakan tegas bagi remaja-remaja yang melakukan kenakaln-kenakala yang bisa merusak nilai moral dan akidah remaja-remaja tersebut.
Hal ini memicu merambahnya kenalan-kenakalan remaja yang semakin hari semakin bertambah parah, ini di akibatkan kurangnya pengawasan serta peraturan pemerintah yang tidak berjalan secara efektif sehingga remaja melakukan sesuatu sesuai dengan kehendaknya sendiri.
42
seperti pada tabel berikut ini memaparkan pergaulan bebas yang sering dilakukan remaja saat ini.
Tabel 6
Tanggapan Responden Tentang Remaja di Kecamatan Turikale Kab. Maros pernah Melihat atau Mengakses Video-video yang dilarang
NO Indikator Frekuensi Persentase
1. Selalu 24 6%
2. Kadang-kadang 167 39%
3. Tidak Pernah 234 55%
Jumlah 425 100%
Sumber : Olahan angket No.4
Berdasarkan data pada tabel di atas dapat diketahui bahwa di Kec. Turikale terdapat sebanyak 45 persen remaja yang melihat dan mengakses video-video terlarang. Suatu keadaan yang memprihatinkan hampir separuh dari jumlah remaja yang ada.
Pada masa ini, remaja cenderung melakukan hal-hal yang membuat diri mereka senang dengan cara apapun, termaksud dengan cara mengakses video-video melalui media elektronik tanpa sepengetahuan orangtua.
Diperkuat oleh Nuwa ( Remaja ) mengatakan bahwa :
saya sering mengakses video-video yang dilarang melalui Hp saya tanpa sepengetahuan orangtua saya (Wawancara 7 Maret 2015)
Remaja sering nonton film porno karena remaja mudah mendapatkanya, disamping banyak juga remaja yang menyimpan video porno di Handphone mereka. Seperti yang kita lihat begitu mudahnya remaja-remaja saat ini mendapatkan video-video yang dilarang, baik itu dari internet, teman sebaya bahkan dari lingkungan orang dewasa sangat mudah untuk mendapatkanya.
Dari hasil observasi penulis di Kecamatan Turikale menyimpulkan bahwa keprihatinan orang tua melihat perilaku remaja memang harus mendapatkan perhatian serius, karena remaja dalam bergaul utamanya dengan lawan jenisnya tidak mengindahkan norma-norma yang ada. Ini dibukti dari banyaknya remaja yang bergandengan tangan bersama pacarnya sampai larut malam dan senang menonton tayangan film porno. Kalau hal ini dibiarkan terus berlanjut dan remaja pun merasa biasa dengan hal-hal seperti itu karena tidak mendapatkan tekanan dari siapapun, maka mereka akan bergaul tanpa batas, mereka tidak merasa malu lagi dengan perilaku itu.
Tabel 7
Tanggapan Responden Tentang Remaja Yang Pulang Larut Malam
NO Indikator Frekuensi Persentase
1. Sering 200 orang 47%
2. Kadang-kadang 185 orang 44%
3. Tidak Pernah 40 orang 9%
Jumlah 425 100%
44
Dari hasil jawaban responden, dapat dilihat bahwa sebanyak 234 responden yang menjawab sering dengan persentase 55 persen, 151 responden menjawab kadang-kadang dengan persentase 36 persen, dan 40 responden menjawab tidak pernah dengan persentase 9 persen.
Tingginya persentase pada kategori sering dapat diartikan bahwa remaja memang sering pulang larut malam, hal ini menyebabkan orangtua mereka merasa khawatir, di samping itu juga apa yang mereka lakukan itu tidak sesuai dengan etika, sebab hal tersebut bisa mendatangkan fitnah.
Hal ini ditegaskan oleh Abd. Salam ( Anggota Masyarakat ) mengatakan bahwa :
Etika sosial remaja di. Kec Turikale belum tertata dengan baik, hal ini disebabkan karena remaja sering melakukan perbuatan yang merusak aspek-aspek sosial, seperti berkumpul dimalam hari sesama jenisnya dan pulang larut malam. Hal ini mencerminkan etika masyarakat setempat.
Hal ini memunculkan bahwa remaja sekarang cenderung dengan pergaulan yang serba bebas, hanya memikirkan kesenangan diri sendiri. Mereka tidak mempertimbangkan waktu kapan seharusnya mereka berada di rumah. Hal ini dibuktikan dengan tingginya hasil persentase remaja yang sering keluar malam bersama pacar/pasangan ataupun bersama teman sejenisnya untuk bersenang-senang.
Perilaku seksual merupakan bagian dari keseluruhan perilaku individu yang bersumber dari insting dan naluri seksual. Naluri seksual berakar pada kebutuhan dasar bagi pengembangan keturunan dalam memperoleh kelangsungan hidup. Perilaku sosial merupakan perilaku
bawaan artinya telah ada dan dibawa sejak lahir dalam bentuk-bentuk yang naluriah dan alamiah.
Tabel 8
Tanggapan Responden Tentang Remaja yang Merokok
NO Indikator Frekuensi Persentase
1. Sering 71 orang 17%
2. Kadang-kadang 100 orang 23%
3. Tidak Pernah 254 orang 60%
Jumlah 425 100%
Olahan: Angket No. 6
Dari hasil olahan angket di atas menunjukan bahwa 17 persen yang mengatakan sering, 23 persen mengatakan kadang-kadang sedangkan 60 persen mengatakan tidak pernah.
Ini menunjukan bahwa 40 persen remaja di Kecamatan Turikale pernah mencoba atau sering mengkomsumsi rokok, hal ini menunjukan kurangnya pengawasan dari berbagai pihak, baik itu dari orangtua, guru bahkan dari pihak pemerintah dalam hal ini masyarakat, untuk mengatasi ini semua pihak pemerintah harus turun tangan langsung untuk mengatasi kenakalan remaja di Kecamatan Turikale ini agar hal ini tidak menjadi kebiasaan para remaja, kalau perlu pihak pemerintah dan dinas sosial memberikan sanksi atau teguran kepada remaja yang kedapatan melakukan perbuatan tersebut.
46
D. Pengaruh lingkungan pendidikan dalam mengatasi pergaulan