• Tidak ada hasil yang ditemukan

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa parameter fisika dan kimia parameter merupakan parameter yang berpengaruh terhadap distribusi dan kelimpahan jenis dari larva dan juvenil. Dalam hal ini, parameter yang diamati adalah arus, suhu, kekeruhan, dan salinitas. Pengambilan contoh parameter fisik kimia di setiap lokasi dilakukan dalam waktu yang berbeda. Di muara Citepus yang mengarah ke sungai pengambilan contoh dilakukan pukul 15.00 WIB sedangkan di muara Sukawayana pengambilan contoh parameter fisika kimia dilakukan pukul 16.30. Selain itu, pengambilan contoh air di muara Citepus yang mengarah ke laut dilakukan pukul 03.00 WIB sedangkan muara Sukawayana yang mengarah ke laut pada pukul 04.30 WIB.

4.8.1 Arus

Pengambilan contoh larva di Teluk Palabuhanratu dilakukan sebanyak lima kali yaitu pada tanggal 19 Maret 2011, 2 April 2011, 30 April 2011, 30 Mei 2011,

43

dan 3 Juli 2011. Selama pengambilan contoh, pada pengambilan contoh ke- 1 dan ke-2 tidak didapatkan contoh ikan dan larva. Faktor-faktor yang mempengaruhi tidak didapatnya contoh larva dan ikan adalah arus yang relatif lebih besar dibandingkan dengan bulan Mei, Juni, dan Juli. Menurut Pariwono et al. (1998) arus pada bulan Maret dan April mencapai 75 cm/detik. Pada bulan Mei, Juni, dan Juli arus di Palabuhanratu relatif tenang dan lebih kecil dari bulan Maret dan April yaitu sebesar 50 cm/detik. Gerlach et al. (2006) menambahkan bahwa arus laut merupakan faktor utama dalam hal penyebaran larva.

Arus akan mempengaruhi kebiasaan ikan, antara lain membawa telur ikan spawning ground ke nursery ground, dari nursery ground ke feeding ground, menyebabkan migrasi pada ikan dewasa, arus (pasang surut) akan mengakibatkan terjadinya migrasi diurnal, arus akan mempengaruhi distribusi dan kelimpahan ikan. Arus juga memiliki kecepatan maksimum bagi larva ikan (Laevastu and Hela 1970). Misalnya larva ikan herring (clupea) kecepatan maksimum agar menunjang perkembangannya adalah 0.6-1 cm/detik (Bishai 1970 in Laevastu and Hela 1970).

Pasang surut di Teluk Palabuhanratu lebih disebabkan karena arus perairan. Sehingga arus akan membawa larva dan juvenil ke arah muara yang mengarah ke sungai atau ke estuari. Menurut Barber and Lee (1975) in Sulistiono et al. (2001) pergerakan larva tergantung arus pasang surut. Pada saat arus pasang akan terbawa ke estuari dan sedikit terbawa ke arah tengah saat surut.

4.8.2 Suhu

Gambar 18 dan Gambar 19 menggambarkan sebaran atau distribusi suhu perairan di muara Citepus dan Sukawayana arah sungai serta di muara Citepus dan Sukawayana arah laut selama pengambilan contoh yang ke-3, 4, dan 5. Dalam hal ini kisaran yang tidak terlalu jauh.

Sebaran suhu di muara Citepus yang mengarah ke sungai adalah 27-28,5 oC, sedangkan sebaran suhu permukaan muara Citepus yang mengarah ke laut adalah 26-27,67 oC. Sebaran suhu di muara Sukawayana yang mengarah ke sungai tidak jauh berbeda, yaitu 26-27 oC dan untuk sebaran suhu permukaan muara Sukawayana yang mengarah ke laut adalah 26-27,33 oC. Pariwono et. al. (1998) menyatakan bahwa kisaran suhu di kawasan pantai Teluk Palabuhanratu berkisar antara 25-28oC,

44

dimana suhu rata-rata pada akhir musim timur adalah 26,57oC dan pada musim hujan sebesar 27,78oC.

Gambar 18. Distribusi suhu muara Citepus yang mengarah ke sungai dan muara Citepus yang mengarah ke laut

Gambar 19. Distribusi suhu muara Sukawayana yang mengarah ke sungai dan muara Sukawayana yang mengarah ke laut

Suhu memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan telur dan larva yang merupakan fase kritis dan akan mempengaruhi kemampuan mengapung (buoyancy) dari telur ikan (Laevastu and Hela 1970). Faktor suhu merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi distribusi atau sebaran larva (Harris et al. 1999; Mariani 2001 in Nursid 2002).

Setiap ikan memiliki kisaran suhu normal untuk menunjang kehidupannya (Poulsen 1994 in La Laevastu and Hela 1970). Misalnya, menurut Yamasaki and Tachihara (2006) pada contoh family Gobiidae dengan spesies Awounus

0 10 20 30

30-Apr-11 30-May-11 3-Jul-11

Su

hu

(

oC)

Pengambilan Contoh

Muara Citepus Sungai Muara Citepus Arah Laut

0 10 20 30

30-Apr-11 30-May-11 3-Jul-11

Su hu ( oC) Pengambilan Contoh Muara Sukawayana Arah Sungai Muara Sukawayana Arah Laut

45

melanocephalus, penyerapan kuning telur berakhir selama 5 hari pada suhu 27-28 o

C. Disetiap lokasi, ikan memiliki suhu optimum untuk menunjang pertumbuhan dan suhu untuk melakukan spawaning yang berbeda-beda. Misalnya famili Engraulididae (Anchovy) di perairan Mediterania (Laevastu and Hela 1970) memiliki kisaran suhu untuk pertumbuhan antara 6-29 oC, sedangkan untuk pemijahan memerlukan kisaran suhu antara 13-29 oC.

Menurut Laevastu and Hela (1970) bagi larva ikan sendiri, suhu akan berpengaruh terhadap ketersediaan makanan diperairan. Suhu akan mempengaruhi produksi dari fitoplankton. Selain itu,juga akan mempengaruhi zooplankton yang merupakan makanan penting bagi larva. Kelimpahan zooplankton akan sangat dipengaruhi oleh produksi dari fitoplankton dan pemijahan dari hewan-hewan planktonik yang sudah dewasa. Kisaran suhu yang lebih tinggi dari suhu optimum akan bersifat lethal bagi ikan dan larva. Blaxter (1960) in Laevastu and Hela (1970) menemukan bahwa larva ikan herring (Clupea) pada ukuran 6-8 mm, kisaran suhu 7.5-15.5 oC merupakan kondisi yang lethal bagi ikan sehingga menyebabkan larva tersebut mati atau hampir mati.

4.8.3 Salinitas

Salinitas menggambarkan kandungan garam dalam suatu perairan. Sebaran salinitas (NTU) di setiap lokasi penelitian selama pengambilan contoh berbeda-beda. Salinitas tersebut jelaskan pada Gambar 20 dan 21.

Gambar 20. Distribusi salinitas muara Citepus yang mengarah ke sungai dan muara Citepus yang mengarah ke laut

0 10 20 30 40

30-Apr-11 30-May-11 3-Jul-11

Sa lin ita s (‰ ) Pengambilan Contoh

Muara Citepus Arah Sungai

Muara Citepus Arah Laut

46

Gambar 21. Distribusi salinitas muara Sukawayana yang mengarah ke sungai dan muara Sukawayana yang mengarah ke laut

Salinitas muara Citepus yang mengarah ke sungai berkisar antara 3.8-36 ‰ sedangkan salinitas muara Sukawayana yang mengarah ke sungai berkisar antara 7,35-15,6 ‰. Rendahnya salinitas dimuara Citepus dan Sukawayana yang mengarah ke sungai dan disebabkan karena muara yang mengarah ke sungai tersebut dipengaruhi oleh masukan air tawar dari darat. Salinitas muara Citepus yang mengarah ke sungai pada pengambilan contoh tanggal 30 April 2011 mencapai 36‰ diduga disebabkan karena terjadinya pasang masukan air laut yang lebih besar ke muara yang mengarah ke sungai daripada masukan air tawar. Menurut King (1963) perbedaan salinitas tersebut disebabkan karena perairan pesisir masih dipengaruhi oleh masukan air tawar dari daratan atau dari sungai. Laevastu and Hela (1970) menambahkan bahwa salinitas perairan pesisir lebih kecil karena dipengaruhi oleh dari daratan.

Salinitas di perairan laut bebas memiliki salinitas yang lebih tinggi daripada di sekitar perairan pesisir (King 1963). Nontji (2005) menjelaskan bahwa di perairan samudera salinitas normal berkisar antara 33-37 ‰, namun kisaran salinitas tersebut bisa berubah tergantung pada masukan air tawar ke laut melalui sungai, melalui tanah, dan penguapan di bagian permukaan perairan. Salinitas muara Citepus yang mengarah ke laut berdasarkan hasil pengamatan berkisar antara 30,55-31,5 ‰ sedangkan untuk muara Sukawayana yang mengarah ke laut berkisar antara 30-

31,05 ‰. Selain itu, Nontji (2005) sebaran salinitas di laut dipengaruhi oleh

berbagai faktor seperti pola sirkulasi air, penguapan, curah hujan, dan aliran sungai yang masuk ke laut dan King (1963) menabahkan bahwa salinitas dipengaruhi pula oleh musim, tekanan, angin.

0 10 20 30 40

30-Apr-11 30-May-11 3-Jul-11

Sa lin ita s ( ) Pengambilan Contoh

Muara Sukawayana Arah Sungai

Muara Sukawayana Arah Laut

47

Morais dan Morais (1994) in Nursid (2002) menyatakan bahwa kelimpahan relatif larva di estuaria daerah tropik sangat dipengaruhi oleh salinitas dan masukan air tawar. Faria et al. (2006); Ramos et al. (2006) in Bonecker (2009) salinitas merupakan faktor lingkungan yang penting dan berpengaruh terhadap densitas dan pertumbuhan telur dan larva ikan di muara. Selain itu, ikan memiliki kisaran salinitas untuk pertumbuhan optimum. Misalnya pada ikan herring (clupe) (Holliday and Blaxter 1960 in Laevastu and Hela 1970) saat fertilisasi, perkembangan dan penetasan telur ikan perairan harus memiliki kisaran salinitas 5.9-52.5 ‰.

4.8.4 Kekeruhan

Kekeruahan selama pengambilan contoh di empat lokasi digambarkan oleh Gambar 22 dan 23. Selama pengambilan contoh, nilai kekeruhan dari setiap lokasi berbeda-beda.

Gambar 22. Distribusi kekeruhan muara Citepus yang mengarah ke sungai dan muara Citepus yang mengarah ke laut

Gambar 23. Distribusi kekeruhan muara Sukawayana yang mengarah ke sungai dan muara Sukawayana yang mengarah ke laut

0 5 10 15 20

30-Apr-11 30-May-11 3-Jul-11

K ek er uh a n (NT U) Pengambilan Contoh

Muara Citepus Arah Sungai

Muara Citepus Arah Laut

0 5 10 15

30-Apr-11 30-May-11 3-Jul-11

K ek er uh a n (NT U) Pengambilan Contoh Muara Sukawayana Arah Sungai Muara Sukawayana Arah Laut

48

Kekeruhan muara Citepus yang mengarah ke laut berkisar antara 0,475-1,7 NTU sedangkan kekeruhan muara Sukawayana yang mengarah ke laut berkisar antara 0,575-10 NTU. Kekeruhan muara Citepus yang mengarah ke sungai berkisar antara 0-18 NTU sedangkan kekeruhan muara Sukawayana yang mengarah ke sungai berkisar antara 3-10 NTU.

Perbedaan kisaran kekeruhan antara muara yang mengarah ke sungai dengan laut disebabkan karena muara yang mengarah ke sungai masih dipengaruhi oleh aktivitas dari daratan sehingga masukan bahan organik dan anorganik baik yang terlarut maupun yang tidak terlarut lebih besar dibandingkan denga air laut. Hal ini sesuai dengan APHA (1976); Davis and Cornwell (1991) in Effendi (2003) kekeruhan disebabkan oleh adanya bahan organik dan anorganik yang tersuspensi dan terlarut (misalnya lumpur dan pasir halus), maupun bahan anorganik dan organik yang berupa plankton dan mikroorganisme air.

Menurut Richardson et al. (1995); Maes et al. (1998) in Nursid (2001) pengaruh langsung dari kekeruhan adalah berkurangnya jarak pandang larva terhadap prey (mangsa). Meskipun demikian, banyak dari larva ikan yang tinggal didaerah estuaria memanfaatkan kondisi perairan yang keruh untuk menghindar dari predator.

4.9 Hubungan Kondisi Lingkungan dengan Kelimpahan Larva dan Juvenil

Dokumen terkait