BAB IV KONSTELASI PEMIKIRAN PEDAGOGIK
C. Telaah Kritis Epistemologi Pemikiran Al-Attas
1. Kondisi Obyektif Pendidikan Islam Dewasa Ini
Untuk memotret bagaimana kondisi dunia pendidikan Islam dewasa ini, setidaknya bisa dicerna pandangan dan penilaian kritis para cendekiawan Muslim, dimana secara makro dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam masih mengalami keterjajahan oleh konsepsi pendidikan Barat. Walaupun statemen ini berupa tesis atau hipotesa yang perlu dikaji ulang, tetapi pendapat ini sangat penting sebagai cermin dan refleksi untuk memperbaiki wajah pendidikan Islam yang dicita-citakan.
Menghadapi gempuran yang dahsyat dari perubahan sosial baik yang berskala global maupun nasional membawa satu pertanyaan, apakah pendidikan Islam telah siap menghadapinya?
Para pakar ilmu pendidikan di Indonesia seharusnya perlu mengadakan introspeksi akan kegagalan ini. Beberapa tahun silam yakni pada 1985, pakar ilmu pendidikan Mochtar Buchori pernah menulis mengenai lonceng kematian ilmu pendidikan di Indonesia telah berdentang.170Jika pendapat ini benar adanya, berarti pendidikan di Indonesia berada pada titik nadir yang mengkhawatirkan.
Prof. Dr. Ismail Raji Al-Faruqi dalam karya monumentalnya
Islamization of Knowlegde: General Principles and Workplan mensinyalir bahwa kondisi umat Islam saat ini sangat memprihatinkan, berada di bawah anak tangga bangsa-bangsa terbawah. Al-Faruqi meyakini bahwa kondisi umat Islam yang memprihatinkan ini, disebabkan oleh sistem pendidikan
170
Mochtar Buchori, Ilmu Pendidikan dan Praktek Pendidian dalam Renungan, (1994), h. 1-9
yang dipakai jiplakan dari sistem pendidikan Barat, baik materi maupun metodologinya.171
Tidak bisa dipungkiri, bahwa masyarakat Islam di seluruh dunia sedang berada dalam arus perubahan yang sangat dahsyat seiring datangnya era globalisasi dan informasi. Sebagai masyarakat mayoritas dalam dunia ketiga, sungguhpun telah berusaha menghindari pengaruh westernisasi, tetapi dalam kenyataannya modernisasi yang diwujudkan melalui pembangunan berbagai sektor termasuk pendidikan, intervensi dan westernisasi tersebut sulit dielakkan.
Sehubungan dengan itu, Fazlur Rahman Anshari yang selanjutnya dikutip oleh Muhaimin, menyatakan: bahwa dunia Islam saat ini menghadapi suatu krisis yang belum pernah dialami sepanjang sejarahnya, sebagai akibat dari benturan peradaban Barat dengan dunia Islam.
Khursyid Achmad, seorang pakar Muslim asal Pakistan, mencatat empat kegagalan yang ditemui oleh sistem pendidikan Barat yang liberal dan sekuler, yaitu:
Pertama, pendidikan telah gagal mengembangkan cita-cita kemasyarakan di kalangan pelajar. Kedua, pendidikan semacam ini gagal menanamkan nilai moral dalam hati dan jiwa generasi muda. Pendidikan semacam ini hanya memenuhi tuntutan pikiran, tetapi gagal memenuhi kebutuhan jiwa. Ketiga, pendidikan liberal membawa akibat terpecah belahnya ilmu pengetahuan. Ia gagal menyusun atau menyatukan ilmu dalam kesatuan yang utuh. Keempat, selanjutnya pendidikan liberal menghasilkan manusia yang tidak mampu menghadapi masalah kehidupan yang mendasar.172
Sementara itu, Al-Attas melihat bahwa universitas modern (baca: Barat) tidak mengakui eksistensi jiwa atau semangat yang ada pada dirinya, dan hanya terikat pada fungsi administratif pemeliharaan pembangunan fisik
171
Ismail Raji Al-Faruqi, Islamiasai Ilmu Pengetahuan, h. 17.
172
Achmadi, Islam Paradigma Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta: Aditya Media, 1992), Cet ke-1, h. 22-23
Sebuah hipotesis yang menyatakan bahwa diantara faktor terpenting yang memberi sumbangan terhadap merosotnya ekonomi dan peradaban umat dengan segala pranata sejarahnya adalah mundurnya etika dan nilai- nilai yang dijunjung oleh masyarakat, atau dalam ‘bahasa agama’ sebagai
akhlaq. Dalam konteks Indonesia, praktik-praktik yang terjadi mulai dari tingkat masyarakat bawah hingga masyarakat elit mengindikasikan pada lemahnya pengendalian akhlak (ethical control). KKN yang merajalela itu nyata-nyata menjadi bukti hal tersebut yang tidak sedikit pengaruhnya terhadap image masyarakat dunia dalam menilai lemahnya akhlak Indonesia.
Memasuki abad 21 atau melenium ketiga ini,173 dunia pendidikan dihadapkan kepada berbagai masalah yang sangat urgen yang apabila tidak diatasi secara tepat, tidak mustahil dunia pendidikan akan ditinggal oleh zaman. Kesadaran akan tampilnya dunia pendidikan dalam memecahkan dan merespon berbagai tantangan baru yang timbul pada setiap zaman adalah suatu hal yang logis bahkan suatu keharusan. Hal demikian dapat dimengerti mengingat dunia pendidikan merupakan salah satu pranata yang terlibat langsung dalam mempersiapkan masa depan umat manusia. Kegagalan dunia pendidikan dalam menyiapkan masa depan umat manusia adalah merupakan kegagalan bagi kelangsungan kehidupan bangsa.174
Jika ditilik lebih jauh, dekadensi moral yang telah menjadi ‘tradisi’ itu didukung oleh sistem pendidikan yang menjadi kebijakan nasional tampaknya kurang memberi perhatian terhadap pengembangan akhlak, disamping manajemen pendidikan yang masih kurang baik. Hal ini dapat dibuktikan, misalnya, oleh minimnya porsi materi-materi (kurikulum) pendidikan agama pada jenjang lembaga pendidikan, baik SD, SMP, SMU maupun perguruan tinggi, dan seringkali dijumpai materi-materi tertentu yang tumpang tindih (oper-lap). Selain itu, kurikulum yang dikembangkan
173
Melenium adalah suatu istilah yang mengacu pada rentang waktu untuk jangka setiap seribu tahun. Jika pada saat ini kita berada di atas tahun 2000, berarti kita telah memasuki milenium ketiga.
174
Fadhil al-Djamali, Menerobos Krisis Pendidikan Islam, (Jakarta: Golden Press, 1992), h. 19.
menunjukan pada keterpisahan satu pelajaran dengan pelajaran lainnya (separate matter).175
Dari sini, dapat disimpulkan bahwa kondisi pendidikan dewasa ini, secara makro telah terkontaminasi dan terinvensi konsep pendidikan Barat. Dimana paradigma pendidikan Barat secara garis besar dapat dikatakan hanya mengutamakan pengejaran pengetahuan ansich, menitik beratkan pada segi teknik empiris, sebaliknya tidak mengakui eksistensi jiwa, tidak mempunyai arah yang jelas serta jauh dari landasan spiritual.
Dalam Islam, tujuan yang dikembangkannya adalah mendidik budi pekerti. Oleh karenanya, pendidikan budi pekerti dan akhlak merupakan jiwa dari pendidikan Islam. Lebih tegasnya, Al-Attas merumuskan bahwa tujuan pendidikan itu supaya menjadikan manusia itu orang yang baik (the aims of education in Islam is to produce a good man).176
Mencapai akhlak yang sempurna adalah tujuan yang sesungguhnya dari proses pendidikan. Dengan mengutip pernyataan Muhammad Athiyah al-‘Abrasyi, Suwendi mengatakan bahwa pemahaman ini tidak berarti bahwa pendidikan Islam tidak memperhatikan terhadap pendidikan jasmani, akal, dan ilmu pengetahuan (science). Namun, pendidikan Islam memperhatikan segi-segi pendidikan akhlak seperti memperhatikan segi- segi lainnya.177
Untuk itu, sebagaimana diungkapkan oleh Dr. Fadhil al-Djamaly, umat Islam harus mampu menciptakan sistem pendidikan yang didasari atas keimanan kepada Allah, karena hanya iman yang benarlah yang menjadi dasar pendidikan yang benar dan membimbing umat kepada usaha
175
Suwendi, Sejarah dan Pemikiran Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. RajaGrafindo persada, 2004), h. 170
176
Syed Muhammad Naquib Al-Attas, (Ed.) Aims and Objectives…h. 1.
177
Untuk lebih jelasnya, lihat Muhammad Athiyah al-‘Abrasyi, Al-Tarbiyah al-Islamiyat wa Falasafatuha, (Beirut: Dar al-Fikr, tth), h. 22
mendalami hakikat menuntut ilmu yang benar, dan ilmu yang benar membimbing umat ke arah amal saleh.178