4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2. Kondisi Perairan Teluk Banten
Pada wilayah pantai utara Jawa, ada beberapa teluk yang dimanfaatkan untuk kegiatan perikanan tangkap, salah satunya adalah Teluk Banten yang terletak di Kabupaten Serang, Propinsi Banten. Perairan Teluk Banten secara geografis terletak pada 05º49’45”–06º02’00” LS dan 106º03’00”–106º16’00” BT. Teluk Banten ini terletak pada jarak 60 km sebelah Barat kota Jakarta. Kawasan ini mempunyai panjang pantai sekitar 22 km dan luasnya kira-kira 150 km2 dengan berbagai variasi kedalaman mulai dari 0,2 m sampai 9 m, oleh sebab itu Teluk Banten termasuk perairan yang dangkal dengan turbiditas tinggi (Tiwi 2004). Dasar perairan pada umumnya lumpur berpasir. Pada teluk terdapat beberapa pulau kecil dengan beberapa yang terbentuk dari gosong karang. Pulau Panjang merupakan pulau yang terbesar, yang berpenduduk dan pulau yang terluar yaitu Pulau Kali (Nuraini 2004).
Sebagian besar kawasan teluk bagian barat yang meliputi Kecamatan Kepuh dan Bojonegara dimanfaatkan untuk kawasan industri dan Pelabuhan Bojonegara. Kawasan teluk bagian selatan yang meliputi Kecamatan Kasemen dan Karangantu dimanfaatkan untuk berbagai peruntukan seperti kawasan industri, perumahan nelayan, pertambakan dan pelabuhan perikanan Karangantu yang berdampingan dengan pelabuhan niaga kayu. Bagian timur dari teluk ini yang meliputi Kecamatan Tirtayasa dan Pontang merupakan kawasan peruntukan pertambakan dan sebagian dari kawasan lindung Cagar Alam Pulau Dua (Tiwi 2004).
Perairan teluk dipengaruhi oleh dua musim, yaitu musim barat dan musim timur. Musim barat merupakan musim hujan, pada bulan Desember hingga Februari curah hujan tertinggi. Musim timur merupakan musim kemarau. Musim penangkapan di Teluk Banten ini yaitu pada musim timur (Nuraini 2004).
Pengamatan faktor hidrologi perairan Teluk Banten secara keseluruhan sangat dipengaruhi oleh Laut Jawa. Kecuali pada perairan muara sungai dan sekitarnya salinitas menurun pada musim hujan. Pengamatan pada tahun 1998-1999, menunjukkan bahwa suhu air di Teluk Banten berkisar antara 28–31,5 ºC dengan rata-rata 29,5 ºC. Salinitas di daerah penangkapan ikan sekitar 28–33,8 ppm, salinitas rendah (<20 ppm) terjadi pada musim hujan Januari-Februari di perairan dekat muara sungai. Rendahnya salinitas akibat masuknya air hujan dari sungai
yang bermuara di Teluk Banten. Kecerahan disekitar pulau-pulau karang di tengah Teluk Banten hingga utara Pulau Panjang bervariasi antara 2–10 m (Nuraini 2004).
4.3. Nisbah Kelamin
Nisbah kelamin perlu diketahui untuk mengetahui kestabilan populasi ikan yang ada di perairan. Jumlah total ikan kurisi yang terambil sebagai contoh dalam penelitian ini yaitu sebanyak 679 ekor. Frekuensi ikan kurisi jantan sebanyak 417 ekor dan ikan kurisi betina sebanyak 262 ekor. Perbandingan jumlah ikan kurisi jantan dengan betina yaitu sebesar 1,6:1. Proporsi kelamin ikan kurisi pada setiap pengambilan contoh dijelaskan pada Tabel 4.
Tabel 4. Proporsi kelamin ikan kurisi (Nemipterus furcosus) di PPN Karangantu, Teluk Banten setiap pengambilan contoh
Pengambilan
Waktu n Nisbah Jenis Kelamin (%)
Contoh Jantan Betina
1 24 Februari 2011 70 44 56 2 10 Maret 2011 166 68 32 3 24 Maret 2011 100 59 41 4 7 April 2011 107 59 41 5 21 April 2011 85 64 36 6 12 Mei 2011 151 64 36
Tabel 4 menunjukkan bahwa secara keseluruhan proporsi ikan kurisi jantan di Teluk Banten lebih dominan dibandingkan ikan betina. Nisbah kelamin yang diperoleh yaitu sebesar 1,6:1 ini tidaklah mutlak, perbandingan nisbah kelamin ini dapat berbeda menurut waktu dan tempat. Perbedaan ini kemungkinan disebabkan oleh faktor genetik ikan itu sendiri yang tidak dapat dikendalikan. Effendie (2002) menyatakan bahwa perbandingan atau rasio jenis kelamin yang ada di alam bersifat relatif. Hal tersebut dipengaruhi oleh adanya pola penyebaran, ketersediaan makanan, kepadatan populasi, dan keseimbangan rantai makanan. Perbandingan 1:1 sering menyimpang pada kenyataannya di alam, antara lain disebabkan oleh perbedaan pola tingkah laku ikan jantan dan betina, faktor genetik, perbedaan laju mortalitas dan laju pertumbuhannya (Nasabah 1996 in Ismail 2006).
4.4. Tingkat Kematangan Gonad
Tingkat kematangan gonad merupakan tahap-tahap tertentu perkembangan gonad sebelum dan sesudah ikan memijah. Berikut adalah grafik Tingkat Kematangan Gonad (TKG) pada setiap pengamatan ikan kurisi jantan dan betina dapat dilihat pada Gambar7 dan Gambar 8:
Gambar 7. TKG ikan kurisi (Nemipterus furcosus) jantan di PPN Karangntu, Teluk Banten pada bulan Februari 2011-Mei 2011
Gambar 8. TKG ikan kurisi (Nemipterus furcosus) betina di PPN Karangntu, Teluk Banten pada bulan Februari 2011-Mei 2011
Ikan kurisiyang diperoleh selama penelitian dibagi menjadi 4 (empat) tingkat kematangan gonad, (TKG) I, II, III, dan IV. Persentase tingkat kematangan gonad ikan kurisi pada setiap pengambilan waktu berbeda-beda, baik jantan maupun betina. Dari pengetahuan tentang kematangan gonad akan diperoleh informasi kapan ikan akan memijah, mulai memijah, atau sudah selesai memijah (Effendie 2002). Ikan kurisi yang ditangkap di perairan Teluk Banten pada bulan Februari 2011-Mei 2011 menunjukkan ikan jantan yang tertangkap lebih dominan memiliki TKG 1 dan TKG 2. Pada ikan kurisi betina didominasi ikan yang memiliki TKG 2 dan TKG 3. Dari informasi tersebut, diduga bahwa ikan kurisi sudah memijah dan dalam masa perkembangan kembali gonadnya.
4.5. Sebaran Frekuensi Panjang
Ikan kurisi yang diamati selama penelitian dari bulan Februari 2011 sampai bulan Mei 2011 berjumlah679 ekor, yang terdiri dari 417 ikan jantan dan 262 ikan betina. Pada pengambilan contoh pertama 24 Februari 2011, frekuensi ikan kurisi jantan yang banyak tertangkap yaitu pada selang ukuran 121-137 mm sedangkan ikan kurisi betina pada selang 155-171 mm. Pada pengambilan contoh kedua 10 Maret 2011, frekuensi ikan kurisi jantan yang tertinggi berada pada selang ukuran 155-171 mm sedangkan ikan betina pada selang 138-154 mm. Frekuensi ikan kurisi jantan dan betina yang dominan pada 24 Maret 2011 berada pada selang ukuran 138- 154 mm. Ikan kurisi jantan yang dominan tertangkap pada 7 April 2011yaitupada selang 104-120 mm dan 155-171 mm sedangkan kurisi betina pada selang 104-120 mm. Pengambilan contoh 21 April 2011, frekuensi yang dominan tertangkap untuk ikan kurisi jantan pada selang 138-154 mm, sedangkan ikan kurisi betina pada selang 172-188 mm. Pada pengambilan contoh 12 Mei 2011, ikan kurisi jantan yang dominan tertangkap yaitu ukuran 104-120 mm sedangkan ikan kurisi betina pada ukuran 121-137 mm. Berdasarkan hasil pengelompokkan dalam kelas panjang didapatkan 11 kelas panjang dengan frekuensi berbeda-beda (Tabel 5).
Tabel 5. Sebaran frekuensi panjang ikan kurisi (Nemipterus furcosus) di PPN Karangantu Teluk Banten
Selang Kelas 24 Februari 2011 10 Maret 2011 24 Maret 2011 7 April 2011 21 April 2011 12 Mei 2011 J B J B J B J B J B J B 70-86 0 0 2 0 1 0 0 0 0 1 0 1 87-103 0 0 1 4 1 0 4 7 6 0 19 1 104-120 3 4 11 0 3 1 11 13 9 0 25 5 121-137 10 10 30 13 6 4 9 5 3 8 4 13 138-154 5 8 21 20 18 23 7 4 17 4 8 10 155-171 7 15 35 12 10 12 11 5 6 4 20 12 172-188 3 2 9 3 6 1 9 2 10 9 7 9 189-205 2 0 3 0 5 0 5 3 3 2 7 3 206-222 1 0 1 0 5 0 4 4 0 0 3 0 223-239 0 0 0 1 4 0 3 1 0 3 2 0 240-256 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 Jumlah 31 39 113 53 59 41 63 44 54 31 97 54 Keterangan: J = jantan ; B = betina
Jumlah ikan kurisi jantan lebih banyak dibandingkan dengan ikan kurisi betina (Gambar 9). Ikan contoh yang digunakan dalam analisis sebaran ukuran panjang terdiri dari 417 ekor ikan kurisi jantan dan 262 ekor ikan kurisi betina. Secara keseluruhan diketahui bahwa frekuensi tertinggi ikan kurisi jantan pada selang kelas 155-171 mm dan frekuensi tertinggi untuk ikan kurisi betina pada selang 138-154 mm. Menurut Lagler (1977), perbedaan ukuran ikan antar jenis kelamin kemungkinan disebabkan faktor genetik.
Gambar 9. Sebaran frekuensi panjang ikan kurisi (Nemipterus furcosus) jantan dan betina di PPN Karangantu Teluk Banten pada bulan Februari 2011-Mei 2011
Perbedaan ukuran panjang total disebabkan beberapa faktor seperti tempat pengambilan contoh ikan, keterwakilan contoh yang diambil, dan kemungkinan tekanan penangkapan yang tinggi. Untuk jenis ikan yang sama ukuran panjang totalnya belum tentu sama di daerah yang berbeda, karena adanya faktor luar yang dapat mempengaruhi hal tersebut. Effendie (2002) menyatakan faktor dalam yang mempengaruhi seperti keturunan, jenis kelamin, umur, parasit, dan penyakit. Sedangkan faktor luar yang mempengaruhi pertumbuhan ikan adalah suhu dan makanan. Hal tersebut yang menyebabkan berbedanya pertumbuhan ikan di setiap tempat dan waktu. Dengan asumsi bahwa ikan contoh sudah mewakili populasi yang ada maka ukuran panjang total maksimum ikan yang semakin mengecil dapat mengindikasikan adanya tekanan penangkapan yang tinggi.