• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. GAMBARAN UMUM PROPINSI SUMATERA SELATAN

4.2 Kondisi Perekonomian Propinsi Sumatera Selatan

Kondisi perekonomian suatu wilayah dapat tercermin dari besaran output yang dihasilkan dalam kegiatan produksi barang dan jasa pada waktu tertentu. Ini dapat dilihat dari besaran Produk Domestik Bruto (PDB) untuk nasional dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) untuk wilayah yang lebih kecil.

Tabel 4.1 Distribusi PDRB Nominal di Propinsi Sumatera Selatan dengan Migas Dirinci Menurut Lapangan Usaha Tahun 2000-2007 (persen).

Sumber : BPS Kabupaten/Kota Se‐Sumatera Selatan,2006‐2007 (Diolah)

Tabel 4.1 memperlihatkan bahwa secara sektoral kontribusi kabupaten/kota di Propinsi Sumatera Selatan (dengan migas) pada tahun 2000- 2007 di dominasi oleh 4 sektor yaitu pertambangan dan penggalian, pertanian, industri pengolahan dan sektor perdagangan, hotel dan restoran (besaran kontribusi berturut-turut besar ke kecil). Kondisi ini cukup menggambarkan keadaan Propinsi Sumatera Selatan secara umum yang masih menggandalkan 2

LAPANGAN USAHA 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007

sektor primer: pertambangan dan penggalian serta sektor pertanian. Bahkan pada tahun 2006 Pemerintah Propinsi Sumatera Selatan meluncurkan program Sumatera Selatan Lumbung Pangan Dan Energi Nasional untuk meningkatkan kontribusinya terhadap PDRB.

Sampai dengan tahun 2007 terjadi pergeseran distribusi PDRB, dimana sektor pertanian dan sector perdagangan, hotel dan restoran dapat terus meningkatkan kontribusinya. Kontribusi sector pertanian meningkat dari 18.22 persen pada tahun 2000 menjadi 1.80 persen pada tahun 2007. Sedangkan Sektor perdagangan, hotel dan restoran mampu meningkatkan kontribusinya dari 11.81 persen pada tahu 2000 menjadi 13.56 persen pada tahun 2007.

Kondisi yang berbeda terjadi pada 2 sektor utama lainnya, yaitu sektor pertambangan dan penggalian dan industri pengolahan. Sektor pertambangan dan penggalian dari tahun ke tahun menggalami penurunan outputnya, pada tahun 2000 sektor ini memberikan kontribusi sebesar 31.98 persen dari total PDRB Propinsi Sumatera Selatan. Pada tahun 2007 kontribusi sektor ini mengalami penurunan sehingga hanya mampu memberikan kontribusi 26,21 persen terhadap PDRB Propinsi Sumatera Selatan. Hal yang sama terjadi pada sektor industri pengolahan, dimana pada tahun 2000 kontribusi sektor ini terhadap PDRB Propinsi Sumatera Selatan sebesar 17.36 persen. Pada tahun 2007 kontribusinya hanya 16.95 persen saja.

Untuk mengetahui kontribusi masing-masing sektor perekonomian tanpa migas disajikan dalam tabel 4.2. Setelah mengeluarkan sub sektor migas, yang menjadi leading sector dalam pembentukan output di Propinsi Sumatera Selatan

adalah sektor pertanian dengan kontribusi sebesar 26.75 persen dari total PDRB tahun 2007. Sementara sektor perdagangan, hotel dan restoran terus mengalami peningkatan, pada tahun 2000 kontribusinya terhadap pembentukan PDRB sebesar 17.53 persen. Pada tahun 2007 sektor ini memberikan kontribusi sebesar 18.32 persen terhadap pembentuka PDRB di Propinsi Sumatera Selatan.

Tabel 4.2 Distribusi PDRB Nominal di Propinsi Sumatera Selatan tanpa Migas Dirinci Menurut Lapangan Usaha Tahun 2000-2007 (persen).

LAPANGAN USAHA 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) 1. PERTANIAN 27.04 27.16 27.22 27.14 27.07 27.01 26.88 26.75 2. PERTAMBANGAN & PENGGALIAN 6.68 6.49 6.26 6.25 6.02 5.69 5.52 5.35 9. JASA‐JASA 11.27 10.65 10.55 10.49 10.34 10.32 10.33 10.31 J U M L A H 100 100 100 100 100 100 100 100 Sumber : BPS Kabupaten/Kota Se‐Sumatera Selatan,2000‐2007 (Diolah)

Sektor pertanian merupakan sektor unggulan di Propinsi Sumatera Selatan, ini tercermin pada tabel 4.2, dimana dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2007 sektor ini memberikan sumbangan terbesar dalam pembentukan PDRB-nya.

Untuk melihat sub sektor yang paling besar dalam membangun sektor pertanian dapat dilihat di tabel 4.3.

Tabel 4.3 Kontribusi Masing-masing Sub-Sektor Pertanian terhadap Sektor Pertanian Dirinci Menurut Kabupaten Kota di Propinsi Sumatera Selatan Tahun 2007 (persentase).

Kabupaten/ Kota Sub‐ Sektor Pertanian Sektor

Pertanian Tabama Perkebunan Peternakan Kehutanan Perikanan

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Sumber : Sumatera Selatan Dalam Angka,2007 (Diolah)

Pada tabel 4.3 dapat dijelaskan bahwa penyumbang terbesar bagi terbentuknya PDRB di Propinsi Sumatera Selatan tanpa migas pada tahun 2007 adalah dari sub sektor perkebunan. Persentase total sumbangan sub sektor perkebunan sebesar 46.03 persen, diikuti sektor tanaman bahan makanan (tabama) sebesar 23,92 persen. Begitu juga jika kabupaten/ kota yang berada di Kawasan Sumatera Selatan maupun Kawasan Sumatera Tengah dipisahkan, maka sub-sektor perkebunan memberikan sumbangan terbesar bagi terbentuknya nilai

tambah di sektor pertanian. Untuk Kota Palembang nilai tambah yang dibentuk oleh sub-sektor ini adalah nol, hal ini dikarenakan keterbatasan lahan yang sebagian besar digunakan untuk perumahan, perkantoran dan berbagai fasilitas umum lainnya.

Tabel 4.4 Produksi Sub-Sektor Perkebunan di Propinsi Sumatera Selatan Dirinci Menurut Kabupaten/ Kota dan Jenis Tanaman Tahun 2006 (ton).

Kabupaten/ Kota

Jenis Tanaman Perkebunan Karet Kelapa Kelapa

sawit Kopi Tebu

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Kawasan Sumatera Selatan 567,113 15,908 521,056 67,431 55,755 1. Kab. Ogan Komering Ulu 27,727 888 63,054 15,203 0

Kawasan Sumatera Tengah 164,164 56,372 573,648 82,736 0

4. Kab. Lahat* 13,231 1,929 29,508 55,426 0

5. Kab. Musi Rawas 0 3,073 171,862 0 0

6. Kab. Musi Banyuasin 92,884 46,883 371,978 126 0

11. (Kab. Empat Lawang)

14. Kota Pagaralam 0 1,078 0 25,976 0

15. Kota Lubuklinggau 58,049 3,409 300 1,208 0

Prop. Sumatera Selatan 731,277 72,280 1,094,704 150,167 55,755 Sumber : BPS Kabupaten/Kota Se‐Sumatera Selatan,2006 (Diolah)

*) Termasuk Kab. Empat Lawang

Tabel 4.4 menyajikan beberapa produksi dari komoditas unggulan dari sub-sektor perkebunan di Propinsi Sumatera Selatan. Kelapa sawit merupakan

komoditas unggulan dengan produksi melebihi satu juta ton pada tahun 2006, dimana daerah penghasil tanaman ini tersebar baik di Kawasan Sumatera Selatan maupun Sumatera Tengah.

Komoditas sub-sektor perkebunan lainnya yang berproduksi sampai 700 ribu ton pada tahun 2006 adalah tanaman karet. Sementara tanaman tebu di produksi secara massal di Kabupaten Ogan Ilir oleh PT. Cinta Manis sebagai bahan baku pabrik gula.

Pertumbuhan perekonomian Propinsi Sumatera Selatan dari tahun ke tahun terus mengalami pertumbuhan positif. Gambar 4.1 menunjukkan sejak tahun 2001 pertumbuhan perekonomian dan pembangunan di Propinsi Sumatera Selatan terus mengalami peningkatan. Kondisi ini sangat beralasan, karena pada awal tahun 2001 kondisi perekonomian Indonesia secara umum baru pulih dari dampak krisis moneter yang terjadi pada tahun 1997-1998. Sehingga ‘geliat’ pembangunan di Propinsi Sumatera Selatan dapat meningkatkan laju pertumbuhan perekonomian dari tahun ke tahun secara cepat. Selain itu sejak tahun 2001 terjadi percepatan pertumbuhan perekonomian di Propinsi Sumatera Selatan karena adanya pembangunan berbagai infrastruktur, sarana dan prasarana dalam rangka persiapan PON XVI.

Sumber : BPS Kabupaten/Kota Se‐Sumatera Selatan,2001‐2007 (Diolah)

Gambar 4.1 Laju Pertumbuhan Ekonomi Propinsi Sumatera Selatan 2001-2007

Gambar 4.2 menunjukkan rata-rata pertumbuhan ekonomi kabupaten/ kota di Propinsi Sumatera Selatan dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2007. Tiga daerah yang memiliki rata-rata pertumbuhan ekonomi paling tinggi adalah Kota Palembang, Kabupaten OKU Timut dan Kota Lubuk Linggau. Kondisi ini dapat kita terima mengingat 2 kabupaten/ kota yaitu OKU Timur dan Lubuk Linggau merupakan daerah yang baru berkembang dan memiliki sruktur perekonomian berbasis pertanian yang memberikan kontribusi paling tinggi pada pembentukan PDRB Propinsi Sumatera Selatan. Sedangkan Kota Palembang yang merupakan pusat perdagangan, jasa dan sentra-sentra industri pengolahan memberikan kontribusi terbesar kedua pada pembentukan PDRB Propinsi Sumatera Selatan.

Sumber : BPS Kabupaten/Kota Se‐Sumatera Selatan,2000‐2007 (Diolah)

Gambar 4.2 Rata-rata Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/ Kota di Propinsi Sumatera Selatan tahun 2000 – 2007.

Kabupaten/ Kota yang memiliki rata-rata pertumbuhan ekonomi paling rendah adalah Kabupaten Muba. Kondisi ini menjadi menarik mengingat kabupaten ini memiliki kontribusi terbesar dalam pembentukan PDRB Propinsi Sumatera Selatan dari sektor Pertambangan karena kaya sumber-sumber minyak dan gas alam yang melimpah.

Dokumen terkait