ANALISIS DATA
5.1 ANALISIS JARINGAN
5.1.1 Kondisi Sebelum Pasupati Beroperasi ( Before Pasupati)
Dari hasil pemodelan transportasi yang telah dilakukan, khususnya tahap pembebanan perjalanan, dapat dilihat besarnya volume lalu lintas dan nilai VCR yang terjadi pada ruas jalan yang ditinjau sebelum Pasupati beroperasi. Tahun tinjauan untuk kondisi sebelum Pasupati beroperasi adalah tahun 2005.
Jalan Surapati
Jalan Surapati merupakan jalan dengan tipe 2/2UD untuk ruas dari node 1019 sampai dengan node 1094 dan dari node 1095 sampai dengan node 1018. Sedangkan untuk node 1094 sampai dengan node 1095 merupakan jalan dengan tipe 4/2UD. Pada tahap pemodelan Jalan Surapati ini dibagi menjadi 3 ruas dengan kapasitas 1759 smp/jam/arah untuk tipe 2/2UD dan
2820 smp/jam/arah untuk tipe 4/2UD. Pembagian ruas dapat dilihat pada Gambar 1
sedangkan prakiraan volume lalu lintas dan nilai VCR pada Jalan Surapati ini dapat dilihat pada Tabel 1.
1019 1094 1095 1018
U
Keterangan :
1019 : Surapati – Djuanda – Dipati Ukur – Cikapayang 1094 : Surapati – Panatayuda – Aria Jipang 1095 : Surapati – Sentot Alibasyah – Wirayuda Barat 1018 : Surapati – PHH Mustofa – Pahlawan
Gambar 5.1 Sketsa Jalan Surapati
Tabel 5.1 Prakiraan Volume Lalu Lintas dan Nilai VCR di Jalan Surapati
Volume (smp/jam) VCR
A Node
B
Node Kapasitas Pagi Sore Pagi Sore
1094 1095 2820 1760 1790 0,624 0,635 1095 1094 2820 1821 1749 0,646 0,620 1018 1095 1759 1994 1812 1,134 1,030 1095 1018 1759 2279 3550 1,295 2,018 1094 1019 1759 1455 1285 0,827 0,731 1019 1094 1759 1216 1095 0,691 0,623
Tabel 5.1 menunjukkan bahwa ruas Jalan Surapati dari node 1019 (Surapati-Djuanda-Dipati Ukur-Cikapayang) sampai dengan node 1095 (Surapati-Sentot Alibasyah-Wirayuda Barat) masih mempunyai kinerja baik dan termasuk dalam kondisi yang stabil. Tetapi pada ruas selanjutnya yaitu dari node 1095 (Surapati-Sentot Alibasyah-Wirayuda Barat) sampai dengan node 1018 (Surapati-PHH Mustofa-Pahlawan) kondisinya menjadi kritis. Ini disebabkan oleh adanya penyenpitan lebar jalan dan peningkatan arus lalu lintas yang masuk ke ruas ini. Arus lalu lintas tambahan ini berasal dari Jalan Dipati Ukur dan Jalan Sentot Alibasyah.
Jalan Dr. Djunjunan
Jalan Dr. Djunjunan merupakan jalan dengan tipe 4/2D. Pada tahap pemodelan Jalan Dr. Djunjunan ini hanya dibagi menjadi 1 ruas dan mempunyai kapasitas 3201 smp/jam untuk
masing-masing arah. Pembagian ruas dapat dilihat pada Gambar 5.2 sedangkan prakiraan
volume lalu lintas dan nilai VCR pada Jalan Dr. Djunjunan ini dapat dilihat pada Tabel 5.2.
1023 1022
U
Keterangan :
1023 : Djunjunan – Toll Pasteur 1022 : Djunjunan – Pasteur – Pasir Kaliki
Gambar 5.2 Sketsa Jalan Dr. Djunjunan
Tabel 5.2 Prakiraan Volume Lalu Lintas dan Nilai VCR di Jalan Dr. Djunjunan
Volume (smp/jam) VCR
A Node
B
Node Kapasitas Pagi Sore Pagi Sore
1022 1023 3201 2532 2756 0,791 0,861
1023 1022 3201 3041 2752 0,950 0,860
(Sumber : Output SATURN dan Hasil Analisis)
Tabel 5.2 menunjukkan bahwa Jalan Dr. Djunjunan dalam kondisi kritis (VCR > 0,75) dan sudah tidak dapat memberikan pelayanan secara normal. Dari kolom volume lalu lintas juga terlihat bahwa pada waktu pagi arus lalu lintas yang menuju ke dalam kota lebih besar jika dibandingkan dengan arus yang menuju ke luar kota. Dan sebaliknya pada waktu sore, arus lalu lintas yang menuju ke luar kota lebih besar daripada arus lalu lintas yang menuju kota. Kondisi arus lalu lintas seperti ini merupakan karakteristik dari jaringan jalan perkotaan yang mempunyai kondisi puncak pagi dan puncak sore.
Jalan Pasirkaliki
Jalan Pasirkaliki merupakan jalan dengan tipe 4/2UD. Pada tahap pemodelan Jalan Pasirkaliki ini dibagi menjadi 6 ruas dan mempunyai kapasitas 2708 smp/jam untuk masing-
masing arah. Pembagian ruas dapat dilihat pada Gambar 5.3 sedangkan prakiraan volume
lalu lintas dan nilai VCR pada Jalan Pasirkaliki ini dapat dilihat pada Tabel 5.3.
1034 1050 1093 1049
U
1092 1022
Keterangan :
1034 : Pasir Kaliki – Kebon Jati 1088 : Pasir Kaliki – Kebon Kawung 1050 : Pasir Kaliki – Pajajaran 1093 : Pasir Kaliki – Dr. Rum
1092 : Pasir Kaliki – Dursasana – Dr. Rajiman 1022 : Pasir Kaliki – Djunjunan – Pasteur 1049 : Pasir Kaliki – Sukajadi – Eyckman
1088
Gambar 5.3 Sketsa Jalan Pasirkaliki
Tabel 5.3 Prakiraan Volume Lalu Lintas dan Nilai VCR di Jalan Pasirkaliki
Volume (smp/jam) VCR
A Node
B
Node Kapasitas Pagi Sore Pagi Sore
1049 1022 2708 2776 1483 1,025 0,548 1022 1049 2708 1159 2565 0,428 0,947 1022 1092 2708 2998 2152 1,107 0,795 1092 1022 2708 2720 2916 1,005 1,077 1092 1093 2708 2992 2152 1,105 0,795 1093 1092 2708 2726 3146 1,007 1,162 1093 1050 2708 3474 2204 1,283 0,814 1050 1093 2708 3511 4817 1,296 1,779 1050 1088 2708 2363 2070 0,872 0,764 1088 1050 2708 2667 3100 0,985 1,145 1088 1034 2708 2458 2590 0,908 0,956 1034 1088 2708 2981 3594 1,101 1,327
(Sumber : Output SATURN dan Hasil Analisis)
Tabel 5.3 menunjukkan bahwa sebagian besar ruas pada Jalan Pasirkaliki sudah dalam kondisi kritis (VCR > 1,0).
Jalan Pasteur
Jalan Pasteur merupakan jalan dengan tipe 4/2D. Pada tahap pemodelan Jalan Pasteur ini dibagi menjadi 3 ruas dan mempunyai kapasitas 2945 smp/jam untuk masing-masing arah.
Pembagian ruas dapat dilihat pada Gambar 5.4 sedangkan prakiraan volume lalu lintas dan
nilai VCR pada Jalan Pasteur ini dapat dilihat pada Tabel 5.4.
1022 1091 1021 1020
U
Keterangan :
1022 : Pasteur – Djunjunan – Pasir Kaliki 1091 : Pasteur – Dr. Otten
1021 : Pasteur – Cipaganti 1020 : Pasteur – Cihampelas
Gambar 5.4 Sketsa Jalan Pasteur
Tabel 5.4 Prakiraan Volume Lalu Lintas dan Nilai VCR di Jalan Pasteur
Volume (smp/jam) VCR
A Node
B
Node Kapasitas Pagi Sore Pagi Sore
1020 1021 2945 948 1405 0,322 0,477 1021 1020 2945 1195 1042 0,406 0,354 1021 1091 2945 689 1531 0,234 0,520 1091 1021 2945 1427 1260 0,485 0,428 1091 1022 2945 685 2388 0,233 0,811 1022 1091 2945 2707 1878 0,919 0,638
(Sumber : Output SATURN dan Hasil Analisis)
Tabel 5.4 menunjukkan bahwa Jalan Pasteur dalam kondisi yang stabil dan dapat memberikan pelayanan secara normal. Kecuali pada ruas antara simpang Pasteur-Pasirkaliki- Djunjunan (node 1022) dengan simpang Pasteur-Otten (node 1091) kondisinya sudah kritis. Hal ini disebabkan oleh pengaruh arus lalu lintas dari Jalan Dr. Otten dan sebaliknya.
Jalan Cihampelas
Jalan Cihampelas merupakan jalan dengan tipe 2/1. Merupakan jalan dengan tingkat
gangguan samping yang tinggi karena di kedua sisi jalan banyak terdapat factory outlet dan
pusat perbelanjaan. Sehingga banyak terjadi aktivitas di samping jalan. Selain itu, Jalan Cihampelas juga mempunyai lebar yang relatif sempit. Pada tahap pemodelan Jalan Cihampelas ini dibagi menjadi 4 ruas dan mempunyai kapasitas 2607 smp/jam. Pembagian
ruas dapat dilihat pada Gambar 5.5 sedangkan prakiraan volume lalu lintas dan nilai VCR
1066 1067 1020 1068
U
1109
Keterangan :
1066 : Cihampelas – Cicendo – Pajajaran 1067 : Cihampelas – Wastukencana – Abdul Rivai 1020 : Cihampelas – Pasteur
1109 : Cihampelas – Eyckman
1068 : Cihampelas – Ciumbeuleuit – Setiabudi
Gambar 5.5 Sketsa Jalan Cihampelas
Tabel 5.5 Prakiraan Volume Lalu Lintas dan Nilai VCR di Jalan Cihampelas
Volume (smp/jam) VCR
A Node
B
Node Kapasitas Pagi Sore Pagi Sore
1066 1067 2607 3450 4164 1,323 1,597
1020 1067 2607 2972 2069 1,140 0,794
1109 1020 2607 2725 2432 1,045 0,933
1068 1109 2607 2725 2432 1,045 0,933
(Sumber : Output SATURN dan Hasil Analisis)
Tabel 5.5 menunjukkan bahwa Jalan Cihampelas sudah dalam kondisi kritis. Sehingga di Jalan Cihampelas ini rawan terhadap kemacetan. Aktivitas di samping jalan dan lebar jalan yang sempit turut memberikan kontribusi terhadap kemacetan yang terjadi di jalan ini.
Jalan Siliwangi
Ruas Jalan Siliwangi yang ditinjau merupakan jalan dengan tipe 2/2UD. Kapasitas pada ruas ini adalah 1554 smp/jam untuk masing-masing arah. Ruas ini merupakan ruas di antara node 1044 (Siliwangi-Ciumbeuleuit, simpang Gandok) dengan node 1081 (Siliwangi-Taman Sari). Dan ruas ini pula yang menjadi salah satu koridor pergerakan barat-timur Kota Bandung dan
sebaliknya. Sketsa ruas dapat dilihat pada Gambar 5.6 sedangkan prakiraan volume lalu
lintas dan nilai VCR pada Jalan Siliwangi ini dapat dilihat pada Tabel 5.6.
1044 1081
U
Keterangan :
1044 : Siliwangi – Ciumbeuleuit 1081 : Siliwangi – Taman Sari
Tabel 5.6 Prakiraan Volume Lalu Lintas dan Nilai VCR di Jalan Siliwangi
Volume (smp/jam) VCR
A Node
B
Node Kapasitas Pagi Sore Pagi Sore
1081 1044 1554 1266 1824 0,814 1,174
1044 1081 1554 1547 1109 1,013 0,714
(Sumber : Output SATURN dan Hasil Analisis)
Tabel 5.6 menunjukkan bahwa ruas Jalan Siliwangi yang menjadi koridor pergerakan barat- timur Kota Bandung sudah tidak dapat memberikan pelayanan secara normal. Nilai VCR pada ruas ini sudah di atas 0,75.
Jalan Wastukencana
Ruas Jalan Wastukencana yang ditinjau merupakan jalan dengan tipe 3/1. Ruas ini mempunyai kapasitas 5186 smp/jam. Ruas ini juga mempunyai peran sebagai koridor
pergerakan barat-timur Kota bandung. Pembagian ruas dapat dilihat pada Gambar 5.7
sedangkan prakiraan volume lalu lintas dan nilai VCR pada Jalan Wastukencana ini dapat dilihat pada Tabel 5.7.
1067 1082
U
1061
Keterangan :
1067 : Wastukencana – Abdul Rivai – Cihampelas 1082 : Wastukencana – Taman Sari
1061 : Wastukencana – RE Martadinata
Gambar 5.7 Sketsa Jalan Wastukencana
Tabel 5.7 Prakiraan Volume Lalu Lintas dan Nilai VCR di Jalan Wastukencana
Volume (smp/jam) VCR
A Node
B
Node Kapasitas Pagi Sore Pagi Sore
1067 1082 5186 6402 4284 1,234 0,826
1082 1061 5186 5535 4566 1,067 0,880
(Sumber : Output SATURN dan Hasil Analisis)
Tabel 5.7 menunjukkan bahwa ruas ini sudah dalam kondisi yang tidak mampu memberikan pelayanan normal. Nilai VCR sudah di atas 0,75. Bahkan pada waktu pagi, ruas ini sudah termasuk dalam kondisi kritis akibat besarnya arus lalu lintas yang melintasi ruas ini. Arus lalu lintas tersebut berasal dari Jalan Cihampelas baik arah utara maupun selatan dan Jalan Abd. Rivai. Karena ruas ini merupakan ruas satu arah maka kondisi kritis tidak terjadi lagi pada waktu sore ketika pergerakan dari arah timur kembali ke arah barat. Sehingga arus lalu
Jalan Abd. Rivai
Ruas Jalan Abd. Rivai yang ditinjau merupakan ruas jalan dengan tipe 4/2D dan mempunyai kapasitas 2763 smp/jam untuk masing-masing arah. Ruas ini juga mempunyai peran sebagai koridor pergerakan barat-timur Kota bandung dan sebaliknya. Pembagian ruas dapat dilihat
pada Gambar 5.8 sedangkan prakiraan volume lalu lintas dan nilai VCR pada Jalan Abd.
Rivai ini dapat dilihat pada Tabel 5.8.
1064 1067
U
Keterangan :
1064 : Abd. Rivai – Cipaganti
1067 : Abd. Rivai – Wastukencana - Cihampelas
Gambar 5.8 Sketsa Jalan Abd. Rivai
Tabel 5.8 Prakiraan Volume Lalu Lintas dan Nilai VCR di Jalan Abd. Rivai
Volume (smp/jam) VCR
A Node
B
Node Kapasitas Pagi Sore Pagi Sore
1067 1064 2763 1807 2661 0,654 0,963
1064 1067 2763 1787 711 0,647 0,257
(Sumber : Output SATURN dan Hasil Analisis)
Tabel 5.8 menunjukkan bahwa kinerja ruas ini masih baik dan termasuk dalam kondisi yang stabil. Pada waktu pagi arus lalu lintas yang melalui ruas ini cenderung berimbang baik dari arah barat (node 1064) ke timur (node 1067) maupun sebaliknya. Tetapi pada waktu sore, pergerakan ke arah barat (node 1064) mengalami peningkatan volume sedangkan pergerakan ke arah timur (node 1067) yang masuk ke dalam Kota Bandung mengalami penurunan.
Jalan Cikapayang
Jalan Cikapayang merupakan jalan dengan tipe 2/2UD. Pada tahap pemodelan Jalan Cikapayang ini hanya dibagi menjadi 1 ruas dengan kapasitas 747 smp/jam untuk masing-
masing arah. Pembagian ruas dapat dilihat pada Gambar 5.9 sedangkan prakiraan volume
1079 1019
U
Keterangan :
1079 : Cikapayang – Taman Sari
1019 : Cikapayang – Surapati – Dipati Ukur - Djuanda
Gambar 5.9 Sketsa Jalan Cikapayang
Tabel 5.9 Prakiraan Volume Lalu Lintas dan Nilai VCR di Jalan Cikapayang
Volume (smp/jam) VCR
A Node
B
Node Kapasitas Pagi Sore Pagi Sore
1019 1079 747 740 57 0,990 0,077
1079 1019 747 54 428 0,072 0,573
(Sumber : Output SATURN dan Hasil Analisis)
Tabel 5.9 menunjukkan bahwa Jalan Cikapayang dalam kondisi stabil dan dapat memberikan pelayanan secara normal (VCR < 0,75).
Jalan Taman Sari
Ruas Jalan Taman Sari yang ditinjau merupakan jalan dengan tipe 2/2UD. Mempunyai kapasitas 1085 smp/jam untuk masing-masing arah. Pembagian ruas dapat dilihat pada
Gambar 5.10 sedangkan prakiraan volume lalu lintas dan nilai VCR pada Jalan Taman Sari ini dapat dilihat pada Tabel 5.10.
U
1080 1079 1115
Keterangan :
1080 : Taman Sari – Sulanjana 1079 : Taman Sari – Cikapayang 1115 : Taman Sari – Ganesha
Tabel 5.10 Prakiraan Volume Lalu Lintas dan Nilai VCR di Jalan Taman Sari
Volume (smp/jam) VCR
A Node
B
Node Kapasitas Pagi Sore Pagi Sore
1115 1079 1085 352 31 0,325 0,028
1079 1115 1085 32 196 0,029 0,181
1079 1080 1085 305 28 0,281 0,026
1080 1079 1085 28 153 0,026 0,141
(Sumber : Output SATURN dan Hasil Analisis)
Tabel 5.10 menunjukkan bahwa kondisi Jalan Taman Sari dalam kondisi yang stabil. Tetapi
jika dibandingkan dengan kenyataan di lapangan, hasil output model berupa arus lalu lintas
pada Jalan Taman Sari ini cenderung lebih kecil.