Sentralitas Peran BPJS Ketenagakerjaan
B. KONDISI SEKTOR INFORMAL DI INDONESIA
Negara tidak dapat melindungi warga yang tidak terlihat. Salah satu masalah dari sistem jaminan ketenagakerjaan di Indonesia adalah besarnya sektor informal, sektor yang tidak terdata dalam sistem jaminan ketenagakerjaan. Oleh karena itu, menekan jumlah tenaga kerja informal adalah salah satu target di dalam SDGs. Tenaga kerja informal tidak terdaftar di dalam sistem ketenagakerjaan suatu negara yang mengakibatkan sulitnya mengakses bantuan pemerintah, seperti jaminan kesehatan dan kecelakaan kerja dan fasilitas dana pensiun.
Dapat dilihat pada Gambar 8.1 bahwa pekerja informal di Indonesia di sektor nonagrikultura sangat tinggi jika dibandingkan Thailand dan Vietnam.
Sektor informal yang berpotensi tinggi menjadi penyebab ren-dah nya kepesertaan pekerja di dalam jaminan sosial pekerja. Tabel 8.1 merupakan rangkuman jumlah perusahaan dan tenaga kerja yang aktif berpartisipasi di dalam keanggotaan BPJS Ketenagakerjaan (BPJS Ketenagakerjaan, 2017; 2018; 2019; 2020). Tabel di bawah ini juga menunjukkan kecepatan pertumbuhan peserta aktif yang cukup tinggi, sebuah prestasi yang patut dirayakan. Meskipun demikian, kepesertaan aktif BPJS Ketenagakerjaan pada tahun 2019 masih cukup rendah, sekitar 25% dari total angkatan kerja (World Bank, t.t.).
Keterbatasan institusional ini mengakibatkan terbatasnya ke mampuan pemerintah dalam melindungi tenaga kerja. Hal ini semakin krusial di masa pandemi, di mana jutaan orang kehilangan
Buku ini tidak diperjualbelikan.
pekerjaannya atau setidaknya mengalami penurunan pemasukan.
Pemerintah hanya dapat membantu pekerja yang terdaftar di dalam sistem berupa Bantuan Subsidi Upah (BSU) yang digelontorkan oleh Kementerian Ketenagakerjaan yang memanfaatkan basis data yang dimiliki oleh BPJS Ketenagakerjaan (Aria, 2020).
Sektor informal memang dapat menjadi salah satu alternatif orang miskin untuk memperoleh kesempatan kerja, seperti yang terjadi di Indonesia. Pertumbuhan penduduk yang cepat menjadikan sektor
Sumber: World Bank (t.t.)
Gambar 8.1 Persentase Jumlah Pekerja Informal Sektor Nonagrikultura
Tabel 8.1 Kepesertaan aktif BPJS Ketenagakerjaan
2014 2015 2016 2017 2018 2019
Pemberi
Kerja 216.593 296.791 361.972 488.188 560.730 681.429
Tenaga
Kerja 16.791.397 19.275.061 22.633.082 26.242.032 30.460.072 34.166.257 Sumber: BPJS Ketenagakerjaan (2020); World Development Indicator (t.t.)
ini tidak diperjualbelikan.
Indonesia Emas Berkelanjutan ...
124
formal. Hal ini didukung dengan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan rata-rata laju pertumbuhan penduduk per tahun 2020 meningkat sebesar 1,31 kali. Pertumbuhan penduduk yang tinggi ini diikuti dengan penyerapan pekerja di sektor informal nonpertanian yang semakin meningkat pula sebesar 4,73% dan di sektor informal pertanian meningkat sebesar 0,98% pada tahun 2020.
Jika pertumbuhan penduduk yang dibarengi dengan peningkatan lapangan usaha di sektor informal ini tidak ditekan, negara akan kehilangan pendapatan potensial dari pajak karena sektor informal biasanya tidak terdaftar (World Bank, 2014).
Pekerja di sektor informal dan pekerja informal (seperti pekerja lepas, jangka pendek, dan musiman) juga biasanya tidak memiliki status hukum, perlindungan sosial, jaminan kesehatan, atau dana pensiun (World Bank, 2014). Berdasarkan proyeksi BPS tahun 2020 hingga 2035, rasio dependensi penduduk akan mengalami kenaikan.
Di tahun 2035, rasio dependensi Indonesia diperkirakan naik 0,4 poin menjadi 47,3 yang berarti setiap 100 orang penduduk usia produktif akan menanggung 48 orang yang tidak produktif. Hal ini memperte-gas pentingnya para pekerja terdaftar secara formal di dalam sistem ketenagakerjaan, seperti BPJS Ketenagakerjaan, agar para pekerja memiliki dana pensiun yang dapat menjamin keperluannya ketika purna dari masa kerjanya dan tidak bergantung pada kelompok pekerja usia produktif.
Sektor informal juga menyebabkan kesulitan bagi pemerintah untuk mengontrol terjadinya praktik-praktik kerja yang tidak sesuai dengan hak asasi manusia, seperti jam kerja dan upah minimum yang tidak sesuai standar. Sektor informal melahirkan pekerja informal juga yang justru mempersulit pemerintah untuk mendeteksi penduduk dengan penghasilan rendah untuk diberi bantuan sosial. Secara statistik, banyak industri di sektor informal yang tidak memberikan upah minimum sesuai dengan yang telah ditetapkan pemerintah kepada pekerjanya (Maike & Jann, 2015). Padahal, upah minimum yang ditetapkan ini telah disesuaikan dengan biaya hidup minimal rata-rata yang dibutuhkan masyarakat wilayah tertentu. Keberadaan
Buku ini tidak diperjualbelikan.
sektor informal yang sebenarnya memiliki peluang untuk menye-diakan lapangan kerja, dalam hal ini malah membuat rakyat miskin tidak dapat meningkatkan standar hidupnya. Bagi negara secara keseluruhan, sektor informal kurang mampu menurunkan angka kemiskinan dan menghapus jurang kesenjangan sosial.
Jumlah sektor informal yang besar juga tidak baik untuk iklim persaingan bisnis negara dan memengaruhi produktivitas usaha (World Bank, 2014). Persaingan pasar dapat dikatakan sempurna jika informasi tersedia secara adil dan merata. Keberadaan sektor informal sendiri dapat menjadi salah satu faktor terjadinya informasi asimetri dan ketimpangan pendistribusian sumber daya. Pelaku usaha yang secara formal sudah terdaftar merasa dirugikan oleh keberadaan pesaingnya yang masih berstatus informal karena mereka dapat ter-lepas dari biaya pengurusan dan aturan terkait sistem usaha yang telah ditetapkan oleh pemerintah (Rothernberg dkk., 2015). Sementara itu, pelaku usaha informal memiliki hambatan dalam hal pendanaan dan terbatasnya kesempatan untuk memperluas koneksi untuk memper-oleh proyek besar atau mempermemper-oleh informasi mengenai bantuan yang mungkin diberikan oleh pemerintah (World Bank, 2014). Sebagai dampaknya, sektor informal akan lebih sulit untuk meningkatkan produktivitas dan memperluas ukuran usahanya.
Kondisi sektor informal nonpertanian didominasi oleh usaha ukuran kecil hingga menengah saja serta kurangnya insentif untuk meningkatkan usahanya menjadi skala besar (Rothernberg dkk., 2015). Jika pelaku usaha tidak mampu meningkatkan produktivitas maupun memperluas pangsa pasarnya, Indonesia akan terjebak pada kondisi penduduk dengan pendapatan menengah (middle-income trap). Produk dan jasa yang dihasilkan oleh industri informal hanya dapat dipasarkan dalam lingkup yang terbatas, maksimal hanya ber-kutat di pasar dalam negeri. Pelaku bisnis di sektor informal sulit untuk melakukan ekspansi bahkan menjangkau pasar global. Hal ini menyebabkan hilangnya potensi untuk membantu menggenjot pendapatan Indonesia melalui ekspor.
ini tidak diperjualbelikan.
Indonesia Emas Berkelanjutan ...
126
Dari segi kualitas sumber daya manusia, sektor informal lebih banyak menyerap tenaga dengan tingkat pendidikan rendah (Rothern-berg dkk., 2015). Program pelatihan pengembangan diri hampir tidak mungkin tersedia bagi pekerja di sektor informal. Terbatasnya kesem-patan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan akhirnya menghambat munculnya ide, kreativitas, dan inovasi baru yang dapat meningkatkan mutu sumber daya manusia maupun kualitas produk yang dihasilkan. Sektor informal hanya akan menghambat masyarakat untuk meningkatkan taraf hidupnya.
Sektor informal bagaikan bunga es di mesin pendingin yang jika energi listrik dipadamkan, es akan mencair dan membanjiri seisi kul kas.
Analogi ini cocok dengan situasi tahun 2020 ketika krisis pandemi menimpa hampir semua negara di dunia, termasuk Indonesia. Pem-batasan ruang lingkup gerak di luar ruangan hingga jam operasional kerja untuk mencegah penyebaran virus Covid-19 menyebabkan tingkat konsumsi masyarakat berkurang. Industri pariwisata pun ikut lesu. Sektor informal yang bergerak di bidang jasa penginapan, rumah makan, dan transportasi umum pun tidak lolos dari dampak pandemi ini. Mereka mengalami penurunan pendapatan yang signifikan akibat efek turunan dari berkurangnya pendapatan masyarakat secara umum maupun pembatasan ruang gerak dan waktu mobilitas masyarakat di tempat terbuka. Tidak heran jika untuk mengurangi beban biaya, pemutusan hubungan kerja dilakukan, bahkan tidak sedikit pelaku usaha yang terpaksa menutup usahanya secara sementara atau per-manen.
Kelompok berpenghasilan menengah ke bawah di sektor informal lebih terguncang akibat krisis pandemi karena pendapatan dan ta bungan mereka belum tentu cukup untuk memenuhi keperluan di masa mendatang yang serba tidak pasti. Kondisi ini diperparah de ngan akses untuk memperoleh bantuan dari pemerintah sangat kecil karena mereka tidak terdaftar dalam basis data program perlindungan sosial pemerintah (Rahman dkk., 2020). Akan tetapi, krisis pandemi dapat dijadikan sebagai momentum pemerintah untuk menekan angka pertumbuhan sektor informal. Bantuan yang diberikan dapat
dijadikan acuan bagi pelaku bisnis khususnya di sektor informal yang
Buku ini tidak diperjualbelikan.
semula tidak terdaftar harus mendaftar terlebih dahulu sebagai syarat untuk memperoleh bantuan tersebut. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian kualitatif Rothernberg dkk. (2015) yang menyatakan bahwa salah satu faktor pendorong pebisnis mendaftarkan usahanya adalah reward berupa bantuan pemerintah.
Tantangan yang mungkin dihadapi saat melakukan pembaruan data ini adalah perbedaan sumber data dan cakupan geografis. Melihat kondisi wilayah Indonesia yang luas, pengintegrasian data dalam satu basis sistem di pusat akan sulit untuk diakomodasi dalam waktu dan biaya yang efisien. Menyurvei unit produksi informal membutuhkan lebih banyak tenaga dan biaya daripada perusahaan biasa atau survei rumah tangga (Asian Development Bank, 2010). Oleh karena itu, sebaiknya eksekusi pembaruan data ini menjadi otonomi daerah yang dibantu oleh BPS kantor wilayah daerah, dan tentu di bawah pengawasan pemerintah pusat.
Pembaruan data yang diserahkan otonomi daerah ini dapat men -ce gah terjadinya pemberian bantuan yang tumpang-tindih dan tidak tepat sasaran, seperti munculnya orang kaya baru, namun masih me-nerima bantuan. Selain itu, pekerja informal yang sebelumnya tidak terdaftar akan lebih mudah untuk memperoleh perlindungan kerja.
Dengan adanya data yang lebih terstruktur dan terintegrasi, solusi ini dapat membantu pemerintah untuk menekan sektor informal dan membantu pekerja untuk mendapatkan hak-haknya yang telah diatur oleh negara. Pembaruan data ini perlu dilakukan secara berkelanjutan karena data yang lebih rapi dan berkelanjutan akan lebih memudah-kan pemerintah untuk melindungi setiap warga negara dari praktik kerja yang tidak sesuai.
C. KESEHATAN DAN KECELAKAAN KERJA (K3)