BAB V HASIL PENELITIAN
5.2 Pembahasan Hasil Penelitian
5.2.1 Kondisi Sosial Ekonomi Pedagang Kaki Lima
Sosial ekonomi adalah aktifitas yang menyangkut seseorang dalam hubungannya dengan orang lain dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup. Secara umum kondisi sosial ekonomi seseorang di ukur melalui pekerjaan, tingkat pendidikan, perumahan dan pendapatan (Sumardi, 1999)
Teori fungsionalisme struktural menganggap masyarakat merupakan suatu sistem sosial yang terdiri atas elemen-elemen atau bagian-bagian yang saling berkaitan dan saling menyatu dalam keseimbangan. Asumsi dasarnya adalah bahwa setiap struktur dalam sistem sosial, fungsional terhadap yang lainnya.
Hal itu jika pada satu bagian terjadi perubahan maka akan membawa perubahan pula terhadap bagian yang lain. Dan sebaliknya struktur itu tidak akan ada atau akan hilang dengan sendirinya jika tidak fungsional. Satu hal penting yang dapat disimpulkan adalah bahwa menurut kacamata teori fungsional masyarakat senantiasa berada dalam keadaan statis atau tepatnya bergerak dalam kondisi keseimbangan. Artinya masyarakat selalu berada dalam kondisi berubah secara berangsur-angsur dengan tetap memelihara keseimbangan. Setiap struktur dan setiap peristiwa yang ada, fungsional bagi sistem sosial itu.
Struktur sosial dapat didefinisikan sebagai susunan atau tatanan sosial yang membentuk kelompok-kelompok sosial dalam
Universitas Sumatera Utara
masyarakat yang dapat tersusun secara vertikal maupun horizontal. Atau dapat juga didefinisikan sebagai cara bagaimana suatu masyarakat terorganisasi dalam hubungan-hubungan yang dapat diprediksi melalui pola perilaku berulang antar individu dan antar kelompok dalam masyarakat tertentu.
Pandangan Parson mengacu pada dinamika yang terjadi dalam sistem sosial sebagai bagian dalam struktur sosial. Menurut Parson sistem sosial terdiri atas sejumlah aktor individual yang saling berinteraksi dalam situasi yang sekurang-kurangnya mempunyai aspek lingkungan atau fisik, aktor-aktor yang memiliki motivasi, dalam arti memiliki kecenderungan untuk mengoptimalkan kepuasan yang berhubungan dengan situasi yang didefinisikan dan dimediasi dalam simbol bersama yang terstruktur secara kultural.
Adanya pandemi covid-19 akan membawa perubahan bagi semua aspek kehidupan Pedagang Kaki Lima (PKL), khususnya masalah ekonomi dan sosial. Adanya perubahan-perubahan tersebut diharapkan PKL mampu menyesuaikan diri dengan kondisi new normal sekarang ini, agar tujuan dari PKL untuk mempertahankan hidupnya bisa tercapai. hidupnya bisa tercapai.
Berdasarkan teori fungsionalisme Talcott Parson dalam (Nanang, 2012), menurut Parson bahwa setidaknya harus ada empat fungsi yang harus diintegrasi agar sistem sosial dapat bekerja dengan baik. Ada empat fungsi penting yang wajib
Universitas Sumatera Utara
dibutuhkan bagi semua sistem sosial. Keempat fungsi tersebut sering disebut AGIL, yaitu adaptation atau adaptasi (A), goal attainment atau pencapain tujuan (G), integration atau integrasi (I), dan laten pattern maintenance atau pemeliharaan pola-pola laten (L). Berikut penjabaran teori AGIl:
a. Adaptation (adaptasi):
Fungsi ini sangat penting, pada fungsi ini, sistem harus beradaptasi dengan cara menanggulangi situasi eksternal yang kompleks atau yang gawat. Sistem juga harus dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan juga harus dapat menyesuaikan lingkungan itu dengan kebutuhannya. Artinya dengan adanya pandemi, pedagang kaki lima harus dapat menanggulangi kondisi tersebut dengan cara menyesuaikan dirinya dengan lingkungan baru yang ada pasca new normal. Selain itu pedagang kaki lima juga harus bisa menerima adanya pandemic covid-19 yang akibatnya membuat pedagang kaki lima harus tetap berdagang di tengah wabah. Hal itu agar semua fungsi yang ada di masyarakat dapat berjalan dengan baik dan tidak ada konflik apapun.
Berdasarkan hasil penelitian, pada masa pandemi covid-19 pedagang kaki lima sudah beradaptasi dengan adanya kondisi new normal dan kebijakan sosial distancing. Namun teori adaptasi ini belum sepenuhnya didukung dikarenakan masih banyak ditemui pedagang kaki lima yang tidak melaksanakan fungsi ini dengan salah satunya dengan tetap berjualan dikeramaian dan kurang
Universitas Sumatera Utara
patuhnya pedagang kaki lima mematuhi aturan protokol kesehatan.
b. Goal attainment (pencapaian tujuan):
Fungsi ini juga fungsi yang sangat penting. Sebuah sistem harus memiliki, mendefinisikan, dan mencapai tujuan utamanya.
Artinya setelah adanya pandemic covid-19 dan Pemerintah melakukan kebijakan social distancing. Akan tetapi fungsi Pemerintah agar PKL untuk mencapai tujuannya yaitu dalam mempertahankan kebutuhan hidup sehari-hari terjadi disfungsi.
Hal itu dikarenakan upaya Pemerintah melakukan kebijakan social distancing, hal itu mengakibatkan dalam segi pengunjung sepi.
Akibatnya beberapa pedagang kaki lima di kawasan Kelurahan Bantan tersebut diantara mereka ada yang memilih untuk menambah profesi, karena ketika hanya berdagang di tengah wabah bukanlah menjadi solusi untuk tetap meningkatkan pendapatannya.
Dengan melihat asumsi dasar teori Struktural bahwa setiap struktur dalam sistem sosial, fungsional terhadap yang lainnya, dan jika pada satu bagian terjadi perubahan maka akan membawa perubahan juga terhadap bagian lain. Dalam fungsi yang kedua yaitu Goal Atttaiment atau pencapaian tujuan ini terjadi disfungsi, akibatnya struktur itu tidak ada atau akan hilang dengan sendirinya. Berdasarkan hasil penelitian, pada masa pandemi covid-19 pedagang kaki lima belum mendukung fungsi dari goal
Universitas Sumatera Utara
attainment terlihat dari beberapa pedagang kaki lima yang melanggar aturan protokol kesehatan sehingga berdampak pada tujuan pemerintah dalam mengurangi penyebaran covid-19 tidak berjalan dengan baik. Bahkan ada pedagang kaki lima yang tidak menggunakan masker saat berdagang.
c. Integration (Integrasi):
Sebuah sistem sebuah sistem harus mengatur antar hubungan bagian-bagian yang menjadi komponennya. Sistem harus mengelola antar hubungan ketiga fungsi penting lainnya yaitu Adaptation, Goal attainment, Integration. Artinya pedagang kaki lima harus bisa menjalankan semua komponen-komponennya yang ada di masyarakat pasca adanya pandemi Covid-19.
Berdasarkan hasil penelitian, pada masa pandemi covid-19 pedagang kaki lima belum menerapkan fungsi ini dimana terlihat bahwa adaptation dan goal attainment yang masih belum dilaksanakan sepenuhnya oleh para pedagang kaki lima.
d. Latency (latensi atau pemeliharaan pola):
Sebuah sistem harus melengkapi, memelihara dan memperbaiki, baik motivasi individual maupun pola- pola kultural yang menciptakan dan menopang motivasi. Di masa pandemi pedagang kaki lima harusnya mampu memelihara dan memperbaiki pola-pola kultural yang ada di masyarakat. Pedagang kaki lima harus memiliki kesepakatan bersama dalam memperbaiki ataupun memelihara pola- pola kultural, saling
Universitas Sumatera Utara
mengingatkan menggunakan masker dan menjaga jarak. Kembali melihat ketika fungsi kedua Goal Attainment atau pencapaian tujuan disfungsi, sehingga fungsi yang ketiga yaitu Integration atau integrasi tidak ada atau hilang dengan sendirinya dan otomatis juga mengakibatkan fungsi keempat atau fungsi terakhir yaitu latency atau pemeliharaan pola juga menjadi disfungsi. Masyarakat merupakan obyek sasaran utama yang mempunyai peran penting dalam mensukseskan kebijakan pemerintah mengenai social distancing. Untuk itu pemerintah harus melakukan pendekatan-pendekatan baik berupa material maupun non material kepada masyarakat, terutama kepada pedagang kaki lima yang terkena imbasnya akibat pandemi covid-19 ini.
Sumber pendapatan yang selama ini mereka hasilkan di masa pandemi menjadi terancam. Pemerintah harus memberikan solusi-solusi bagi pedagang kaki lima yang kehilangan pekerjaannya, pendapatan pedagang kaki lima menjadi menurun drastis, perekonomian menjadi macet, munculnya masalah-masalah lainnya.
Berdasarkan hasil penelitian, pada masa pandemi covid-19 pedagang kaki lima perlu dilakukkannya perbaikan pola serta disiplin dari pedagang dan pembeli dimana tujuan ini akan tercapai bila telah dilaksanakannya keseluruhan dari fungsi tersebut.
Universitas Sumatera Utara
a. Pendapatan
Tingkat pendapatan digunakan sebagai indikator yang banyak dipakai untuk melihat pembangunan secara umum. Menurut Paul dalam Kuncoro (2004:34) tinggi rendahnya tingkat pendapatan akan mempengaruhi sikap masyarakat dalam mengatur perilaku ekonomi masyarakat itu sendiri. Tingkat pendapatan dapat menyebabkan terjadinya dinamika kehidupan sosial dalam masyarakat suatu wilayah, juga merupakan salah satu indikator yang melihat kondisi sosial ekonomi masyarakat.
Berdasarkan hasil dari penelitian para pedagang kaki lima memiliki pendapatan yang berbeda-beda. Dalam pendapatan perbulan ada informan yang mendapatkan penghasilan dari hasil dagangannya, ialah informan 3 memiliki penghasilan tertinggi dibanding dengan informan lainnya yakni sebesar Rp. 2.000.000,- perharinya. Namun penghasilan tersebut masih di bagi dengan keuntungan dan modal untuk membeli dagangannya lagi.
Informan 3 merupakan pedagang makanan yang mangkir di kawasan Kel.
Bantan Kec. Medan Tembung. Adapun Informan yang lain pendapatan perbulannya ada yang Rp 100.000 perharinya seperti halnya informan 2. Dan ada pedagang yang mendapat penghasilan Rp 400.000,- perharinya, dinilai belum cukup dan menambah profesi lain untuk tetap dapat memenuhi kebutuhan hidup di masa pandemic covid-19. Adapun informan 4 dan 5 yang mengalami penurunan peghasilan drastis hingga 50% dari sebelum adanya pandemic Covid-19 yaitu sekitar Rp 300.000,- per harinya.
Dengan berbagai latar belakang dan suku yang berbeda, para pedagang kaki lima ini mampu mengondisikan kehidupan sosial ekonominya itu terlihat
Universitas Sumatera Utara
dari pendapatan yang mereka dapatkan. Pendapatan adalah upah atau gaji yang diperoleh seseorang sebagai imbalan terhadap jasa sumber tenaga kerja yang mereka gunakan dalam pembentukan produk nasional. Pendapatan juga dapat diartikan dengan jumlah penghasilan yang diperoleh dari hasil kerja.
Sebelum adanya pandemi, Pendapatan yang dihasilkan pedagang kaki lima yang dulunya berjualan disana selalu lancar bahkan pendapatan yang mereka peroleh bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Setelah adanya pandemi banyak pedagang kaki lima yang mengeluh akibat dagangan mereka saat ini menjadi sepi dan pendapatan mereka menurun secara drastis. Saat pedagang kaki lima berjualan di masa pandemi, kondisinya mengalami kesusahan yang sangat luar biasa.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan menurut (Rahardja dan Manurung, 2010) adalah sebagai berikut:
1. Keuletan bekerja
Pengertian keuletan dapat disamakan dengan ketekunan, keberanian untuk menghadapi segala macam tantangan. Bila saat menghadapi kegagalan tersebut dijadikan sebagai bekal untuk meniti ke arah kesuksesan dan keberhasilan.
2. Kesempatan kerja yang tersedia
Semakin banyak kesempatan kerja yang tersedia berarti semakin banyak penghasilan yang bisa diperoleh dari hasil kerja tersebut.
3. Kecakapan dan keahlian
Dengan bekal kecakapan dan keahlian yang tinggi akan dapat meningkatkan efisien dan efektifitas yang pada akhirnya berpengaruh pula
Universitas Sumatera Utara
terhadap penghasilan.
4. Motivasi
Motivasi atau dorongan juga mempengaruhi jumlah penghasilan yang diperoleh, semakin besar dorongan seseorang untuk melakukan pekerjaan, semakin besar pula penghasilan yang diperoleh.
5. Banyak sedikitnya modal yang digunakan
Besar kecilnya usaha yang dilakukan seseorang sangat dipengaruhi oleh besar kecilnya modal yang digunakan.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian prasetya (2016) Dampak ekonomi tingkat pendapatan. Dalam segi pendapatan, setelah adanya kejadian mayoritas pendapatannya menurun Berdasarkan istilah (Djojodipuro, 1992:194) Dampak sosial ekonomi merupakan perubahan yang terjadi pada masyarakat yang diakibatkan adanya aktivitas yang berpengaruh terhadap perubahan pendapatan.
b. Kesehatan
Untuk memelihara dan mempertinggi derajat kesehatan, masyarakat harus melakukan usaha-usaha yang mengarah kepada terciptanya kondisi yang sehat. Menjaga kesehatan maka harus memelihara kebersihan, konsumsi makanan yang sehat, cara hidup yang teratur, meningkatkan taraf kesehatan dan rohaniah, meningkatkan daya tahan tubuh dan kesehatan jasmani, melengkapi rumah dengan fasilitas yang menjamin hidup sehat dan melakukan pemeriksaan kesehatan Para pedagang kaki lima dalam penelitian ini memiliki kondisi kesehatan beragam. Seperti halnya kondisi kesehatan yang di alami oleh informan, ketika sakit mereka tidak perlu berobat ke
Universitas Sumatera Utara
Rumah Sakit, mereka dapat berobat ke puskesmas dan dapat membeli obat di warung atau Apotik terdekat saja.
c. Pendidikan
Dalam mendukung kehidupan sosial, pendidikan merupakan salah satu faktor penting untuk menjamin mutu sumber daya manusia (SDM). Adapun dari beberapa informan yang diteliti 3 diantaranya berpendidikan SMA dan 2 lainnya berpendidikan SMP. Dengan keterbatasan pendidikan, hal ini membuat pedagang kaki lima sulit melakukan pekerjaan lain selain berdagang. Tingkat pendidikan akan mempengaruhi pola pikir, pola tingkah laku dan interkasi sosial seseorang sebagai bagian dari anggota masyarkat dalam melakukan aktifitas untuk menunjang kebutuhan hidupnya. Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting karena akan memberi andil dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Akan tetapi dalam mengoptimalkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi maka diperlukan faktor ekonomi, karena faktor ekonomi merupakan faktor utama atau faktor yang sangat penting untuk menetukan dalam kelanjutan pendidikan. Setiap tahun biaya pendidikan semakin meningkat, sementara bagi orang tua yang berpenghasilan rendah hal itu akan memberatkan mereka. Orang tua akan mengalami kendala yang sangat besar.
Dalam proses pendidikan formal, persoalan ekonomi sangatlah penting.
Oleh karena itu, jika ekonomi seseorang mengalami kesulitan maka proses pendidikannya terhambat atau bahkan mungkin akan terjadi terhentinya pendidikan yang disebabkan ketidakmampuan ekonomi keluarga.
Dari beberapa informan adapun keluarga yang mengalami pendidikan anak
Universitas Sumatera Utara
yang menjadi terhambat sekolah. Walaupun sedang dalam kondisi belajar dari rumah, namun biaya pendidikan tetap harus dibayarkan seperti sebelum adanya pandemi. Permasalahan pun mucul disini ketika pendapatan yang menurun semenjak adanya pandemi, namun biaya pendidikan tetap sama yang harus dikeluarkan seperti sebelum adanya pandemi. Dari beberapa informan, ada yang kesulitan membayar biaya pendidikan anaknya sehingga uang sekolah yang tertunggak selama setahun lamanya.
Ketika orang tua sudah tidak berdaya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bahkan buat makan saja susah maka dengan terpaksa pendidikan anaknya akan di korbankan dan tidak dapat membayar uang sekolah yang menunggak.
d. Kondisi Perumahan
Fungsi rumah adalah sebagai tempat melepas lelah dan beristirahat, tempat berlindung dari bahaya, sebagai lambang status sosial serta menyimpan dan peletakan barang-barang rumah tangga. Menurut Komarudin dalam Isnaini (2009) dikatakan bahwa kualitas rumah akan mempengaruhi kualitas hidup pemiliknya. Rumah sebagai salah satu fasilitas hidup yang harus dimiliki penduduk mengingat rumah merupakan kebutuhan primer.
Perubahan pola kehidupan dan tingkah laku masyarakat sebagai dampak dari keberadaan industri terutama dapat dilihat dari nilai keberadaan seperti kepemilikan rumah. Pedagang kaki lima memiliki kondisi perumahan yang berbeda-beda. Ada yang mengontrak, tinggal bersama keluarga dan masih tinggal di rumah orang tua. Kondisi fisik rumahnya ada yang berbahan batu, ada juga rumah batu tapi masih setengah kayu, ada juga kondisi fisik kayu dan masih tripleks. Selama pandemic covid-19 beberapa pedagang kaki lima
Universitas Sumatera Utara
mengeluhkan sulitnya membayar biaya sewa rumah dimana menurunnya pendapatan mereka namun dituntut untuk membayar biaya sewa seperti normalnya.
5.2.2 Faktor-Faktor yang Menyebabkan Pedagang Kaki Lima