BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
4.5 Kondisi Sosial Masyarakat Sekitar Penangkaran
Penangkaran Taman Buaya Indonesia Jaya tereletak di RT 06, Kelurahan Cibarusah. Berdasarkan wawancara, jumlah warga RT 06 terdiri dari 71 KK dengan jumlah jiwa 274 orang terdiri dari 121 laki-laki dan 126 perempuan. Rata- rata warga RT 06 menggunakan air sumur untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti memasak, mandi dan mencuci, sedangkan untuk keperluan air minum biasanya warga RT 06 membeli air galon.
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Pengelolaan Perkandangan
Kandang merupakan tempat tinggal bagi hewan peliharaan dan sangat dibutuhkan bagi setiap hewan. Sama dengan halnya buaya muara yang dipelihara melalui penangkaran. Tipe dan jenis kandang bagi masing-masing buaya tidaklah sama, tergantung dari ukuran sifat dan habitat alami satwa tersebut. Kandang
buaya muaraadalah habitat buatan yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan buaya
muara. Kandang buaya yang digunakan pada penangkaran mempunyai tipe yang
berbeda dan ukurannya sesuai dengan umur masing-masing buaya, tetapi
fungsinya tetap sama.Dalam satu kandang diperbolehkan memelihara buaya yang
berukuran relatif sama, hal ini dimaksudkan untuk menghindari persaingan yang tidak seimbang dalam mendapatkan makanan dan pemangsaan diantara buaya- buaya tersebut. Penangkaran merupakan salah satu upaya pengembangbiakan jenis di luar habitat aslinya. Agar penangkaran buaya muara berhasil dibutuhkan suasana habitat penangkaran yang mirip dengan habitat alaminya. Aspek perkandangan yang harus diperhatikan yakni jenis, fungsi, kontruksi, perlengkapan dan perawatan kandang.
5.1.1 Jenis kandang
Berdasarkan hasil pengamatan selama penelitian di penangkaran Taman Buaya Indonesia Jaya terdapat lima jenis kandang yaitu kandang pertunjukkan, kandang anakan, kandang buaya muda, kandang pembesaran dan kandang perkembangbiakan atau induk.
5.1.1.1 Kandang pertunjukkan
Kandang pertunjukkan adalah kandang yang disiapkan dan digunakan
untuk mempertunjukkan atraksi buaya muara. Jumlah kandang ini hanya satu unit yang berukuran besar. Jumlah buaya muara yang terdapat dalam kandang ini delapan ekor. Atraksi ini dikenal dengan sebutan Atraksi Joko Tingkir. Kandang ini dibangun di bagian paling depan untuk memudahkan pengunjung yang baru
datang atau sedang beristirahat sehingga dapat menyaksikan secara langsung atraksi buaya muara. Selain atraksi buaya muara pada kandang pertunjukkan ini juga terdapat kesenian debus bersama ular berbisa yang berasal dari Banten. Fungsi dan ukuran kandang pertunjukkan dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2 Fungsi dan ukuran kandang pertunjukkan di penangkaran Taman Buaya Indonesia Jaya No Fungsi kandang Ukuran (pxlxt) m ∑ kandang (unit) ∑ buaya (ekor) Kedalaman kolam (cm) Luas lantai optimum (m2/ekor) Kedalaman kolam optimum (cm) 1 Display buaya muara > 1 tahun* 4x3x2 L= 12 m2 1 3 15 1 5 2 Display buaya muara > 8 tahun** 22x5x3 L= 330 m2 1 8 70 14 >55
Sumber : *Bolton (1981) diacu dalamRatnani (2007), **Ditjen PHPA dan PT Hexa Buana (1987)
diacu dalam Suwandi (1991).
Berdasarkan Tabel 2 bahwa ukuran kandang pertunjukkan buaya muara di penangkaran Taman Buaya Indonesia Jaya sudah sesuai dengan kebutuhan buaya muara sehingga sudah ideal dalam memberi ruang gerak buaya muara. Kedalaman kolam pertunjukkan buaya muara sudah melebihi kedalaman optimal kolam sehingga buaya muara bebas berendam. Berdasarkan pengamatan letak kandang tersebut tergolong strategis karena sesuai dengan tujuan utama yaitu sebagai kandang pertunjukkan sehingga memudahkan pengunjung untuk melihat atraksi buaya (Gambar 4).
5.1.1.2 Kandang anakan buaya muara
Kandang anakan buaya muara adalah kandang yang digunakan untuk anakan buaya muara yang baru menetas sampai berumur enam bulan. Jumlah kandang anakan buaya muara ini berjumlah empat kandang. Tiap kandang berjumlah 25 ekor. Kandang anakan buaya muara terletak di luar ruangan. Anakan buaya memiliki sifat penakut sehingga membutuhkan tempat yang aman. Kondisi kandang yang terdapat di penangkaran Taman Buaya Indonesia Jaya memiliki ukuran yang sesuai untuk ruang bergerak bagi anakan buaya muara. Fungsi dan ukuran kandang anakan buaya dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3 Fungsi dan ukuran kandang anakan buaya
No Fungsi kandang Ukuran (pxlxt) m ∑ kandang (unit) ∑ buaya (ekor) Kedalaman kolam (cm) Luas lantai optimum (m2/ekor) Kedalaman kolam optimum (cm) 1 Anakan umur 0-3 minggu* 0,5x0,3x0,5 L= 0,15 m2 3 15-30 - 0,25 5 2 Anakan umur 3 minggu- 3 bulan* 3x0,5x0,4 L= 1,5 m2 6 2-15 5 0,25 5 3 Anakan umur 4-6 bulan** 2x2x0,5 L= 4 m2 16 2-30 5 0,25 5
Sumber : *Fakultas Kehutanan (1990), **Ditjen PHPA dan PT Hexa Buana (1987) diacu dalam Suwandi (1991).
Kandang anakan buaya yang terdapat di penangkaran Taman Buaya Indonesia Jaya terletak di ruangan terbuka berukuran 5,5 m x 4,7 m x 3,2 m untuk anakan buaya yang berumur 0-3 minggu dan ruangan dengan ukuran 14 m x 9 m x 3.8 m untuk anakan buaya muara berumur 3 minggu- 6 bulan. Bolton (1989) menyebutkan bahwa anakan buaya bersifat penakut sehingga memerlukan tempat yang aman, dalam hal ini desain kandang sebaiknya mempunyai tempat yang bersembunyi sehingga dapat mengurangi tingkat stres oleh gangguan manusia dan kendaraan. Kondisi ini tidak sesuai dengan kandang anakan buaya yang terdapat di penangkaran ini karena kandang anakan buaya terletak di ruangan yang terbuka seharusnya kandang anakan buaya muara harus berada di ruangan tertutup karena anakan buaya masih dalam keadaan kritis sehingga mempunyai senitifitas yang tinggi terhadap lingkungan dan kebisingan, serta mempunyai resiko kematian yang tinggi. Ukuran kandang anakan buaya disesuaikan dengan kebutuhan buaya
sehingga anakan buaya dapat bergerak dengan bebas dan memenuhi salah satu prinsip kesejahteraan satwa yang telah disebutkan oleh Appbley dan Hughes (1997) yaitu bebas dari rasa tidak nyaman (Gambar 5).
(a)
(b)
Gambar 5 Kondisi kandang anakan buaya muara (a) Tampak dalam dan (b) Tampak luar.
5.1.1.3 Kandang buaya muda
Kandang buaya muda merupakan kandang yang dipersiapkan untuk pemeliharaan buaya setelah dipindahkan dari kandang anakan berumur > 6 bulan sampai 1 tahun (Gambar 6). Fungsi dan ukuran kandang buaya muda dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4 Fungsi dan ukuran kandang buaya muda
No Fungsi kandang Ukuran (pxlxt) m ∑ kandang (unit) ∑ buaya (ekor) Kedalaman kolam (cm) Luas lantai optimum (m2/ekor) Kedalaman kolam optimum (cm) 1 Anakan umur 7 bulan-1 tahun* 4x3x1,2 (L= 12 m2) 14 7-25 5 0,50 5
Tabel 4 menunjukkan bahwa ukuran kandang buaya muda sudah sesuai dengan kebutuhan buaya muda dan kedalaman kolam sudah mencukupi anakan buaya muara dapat bergerak dengan bebas.
5.1.1.4 Kandang pembesaran
Kandang pembesaran atau kandang remaja merupakan kandang yang digunakan untuk membesarkan buaya muara yang berumur 2-4 tahun yang siap untuk dipotong yang telah memiliki kriteria tertentu dan kandang ini juga digunakan untuk membesarkan calon indukan. Kandang ini berisi buaya remaja berjumlah 15 ekor. Pada kandang tersebut sudah dilengkapi dengan kolam, tempat berjemur, sarang dan tempat berteduh. Keadaan kandang seperti ini sudah baik karena sudah dilengkapi dengan adanya kolam, tempat berjemur dan tempat berteduh (Gambar 6). Fungsi dan ukuran kandang buaya muda dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5 Fungsi dan ukuran kandang pembesaran
No Fungsi kandang Ukuran (pxlxt) m ∑ kandang (unit) ∑ buaya (ekor) Kedalaman kolam (cm) Luas lantai optimum (m2/ekor) Kedalaman kolam optimum (cm) 1 Buaya muara > 1 tahun* 8x8x1,5 L= 64 m2 5 41-60 25 1 25-50 2 Buaya muara umur > 2-3 tahun** 6x5x1,8 L= 30 m2 25 10-30 25 7,50 25-50
Sumber : *Bolton (1981) diacu dalamRatnani (2007), **Ditjen PHPA dan PT Hexa Buana (1987)
diacu dalam Suwandi (1991).
Pada Tabel 5 menunjukkan bahwa luas lantai dan kedalaman kolam pada kandang buaya berumur > 1 tahun sudah ideal karena kebutuhan buaya sudah terpenuhi dan tinggi pada kedua jenis kandang tersebut sudah sesuai sehinggan buaya tidak bisa keluar dari kolam dalam kandang. Namun, pada kandang ini juga pernah ditemukan buaya muara yang mengalami luka-luka akibat perkelahian karena luas lantai kandang yang terdapat di penangkaran ini terlalu sempit sehingga buaya yang terdapat dalam kandang tidak bebas bergerak, berendam dan berjemur.
Gambar 6 Kondisi kandang pembesaran.
5.1.1.5 Kandang induk
Kandang induk atau pembiakan adalah kandang yang digunakan oleh induk buaya muara yang berumur >8 tahun. Pada kandang ini induk buaya muara membuat sarang, kawin dan bertelur. Fungsi dan ukuran kandang induk dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6 Fungsi dan ukuran kandang induk
No Fungsi kandang Ukuran (pxlxt) m ∑ kandang (unit) ∑ buaya (ekor) Kedalaman kolam (cm) Luas lantai optimum (m2/ekor) Kedalaman kolam optimum (cm) 1 Buaya muar a18 tahun* 108x32x2 L= 3.456 m2 1 41-60 25 1 25-50 2 Buaya muara umur 20-25 tahun** 42x32x2 L= 1.344 m2 3 10-30 25 7,50 25-50
Sumber : *Bolton (1981) diacu dalamRatnani (2007), **Ditjen PHPA dan PT Hexa Buana (1987)
diacu dalam Suwandi (1991).
Berdasarkan Tabel 6 kandang ini juga memiliki luas lantai dengan ukuran yang sudah ideal sehingga memudahkan untuk induk buaya muara melakukan kegiatan kawin, berendam dan berjemur. Dalam kandang ini jumlah jantan lebih sedikit dibandingkan dengan yang betina, sehingga satu ekor jantan dapat mengawini lebih dari tiga ekor betina.
Gambar 7 Kandang induk buaya muara.
5.1.1.6 Kandang khusus
Pada penangkaran Taman Buaya Indonesia Jaya ini juga terdapat kandang untuk jenis buaya putih (albino) dan buaya buntung. Dalam kandang ini buaya muara albino dan buntung mendapatkan perlakuan khusus karena pada buaya ini terdapat nilai spiritual. Banyak masyarakat yang berdatangan untuk mengambil air kolam di kandang khusus ini karena dipercayai dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit dan dipermudahkan mendapatkan jodoh. Kandang khusus ini dapat dilihat pada Gambar 8.
(a)
Gambar 8 (a) Kandang buaya albino dan kandang buaya buntung.
5.1.2 Kontruksi kandang
Kandang yang terdapat di penangkaran Taman Buaya Indonesia Jaya merupakan kandang bersifat permanen dan box plastik. Konstruksi kandang permanen terdiri atas pagar berupa tembok beton, jaring kawat besi. Konstruksi kandang yang terdapat disana disesuaikan dengan jenis satwa yang dipelihara sehingga untuk kandang buaya, konstruksi dibuat permanen, kuat, tinggi agar
tahan terhadap benturan dan mencegah buaya keluar dari dalam kandang. Pagar berupa tembok beton juga dilengkapi dengan kawat ram agar memudahkan pengunjung untuk melihat buaya dan kawat ram tersebut berfungsi untuk mengatur sirkulasi udara. Kontruksi kandang tersebut sesuai dengan pernyataan Bolton (1989) bahwa pagar kandang buaya sebaiknya terbuat dari kayu atau jaring kawat besi serta tembok dari batu bata, beton, bahan metal atau kombinasi dari bahan-bahan tersebut. Pada kandang ada yang diberikan atap dan ada juga yang tidak diberikan atap.
Dallas (2006) menyatakan bahwa plastik merupakan bahan yang dianjurkan dalam pemeliharaan reptil karena mempunyai permukaan tidak kasar, mengikuti perubahan suhu lingkungan, mudah dibersihkan dan mudah didapatkan. Penangkaran ini sudah menggunakan box plastik hanya untuk anakan buaya yang baru menetas karena box plastik memiliki permukaan yang halus sehingga kulit anakan buaya dapat terhindar dari gesekan. Selain itu box plastik mudah dibersihkan, dan mudah diperoleh.
5.1.3 Perlengkapan dalam kandang
Hal yang terpenting dalam kandang yakni perlengkapan kandang. Buaya merasa nyaman di dalam kandang jika di dalam kandang memiliki perlengkapan kandang seperti di habitat aslinya. Perlengkapan kandang yang terdapat di penangkaran TBIJ disesuaikan dengan kebutuhan buaya berdasarkan kelas umur. Tabel 7 Perlengkapan kandang buaya muara di dalam setiap jenis kandang
No. Perlengkapan
Kandang
Jenis Kandang
Anakan Remaja Induk Pertunjukkan Buaya
Muda
1. Daratan
2. Vegetasi - -
3. Sarang - - - -
4. Kolam
Berdasarkan dari hasil Tabel 7 semua jenis kandang mempunyai kolam dan daratan. Kolam dan daratan merupakan kebutuhan utama buaya untuk mendukung segala kegiatan buaya di dalam kandang. Kolam digunakan oleh buaya untuk berendam dan kawin oleh induk buaya sedangkan daratan digunakan
oleh buaya untuk berjemur dan meletakkan pakan. Perlengkapan dalam kandang yang dibuat oleh pengelola penangkaran Taman Buaya Indonesia Jaya terdiri dari dua bagian yaitu daerah daratan dan daerah berair (kolam). Berdasarkan hasil pengamatan bahwa kebiasaan buaya muara yaitu buaya muara akan menstabilkan kondisi suhu dan kelembaban dengan memanfaatkan perlengkapan yang telah diberikan oleh pengelola. Buaya muara akan menghangatkan tubuhnya dengan berjemur dibawah sinar matahari dan untuk mendinginkan tubuhnya buaya muara akan bergerak ke daerah yang berair (kolam). Hasil pengamatan yang telah dilakukan penyediaan perlengkapan kandang di penangkaran Taman Buaya Indonesia Jaya sudah memenuhi kebutuhan buaya muara. Buaya muara bebas melakukan segala aktifitasnya seperti kawin, bersarang, berenang, berjemur dan berlindung. Vegetasi yang terdapat dalam kandang antara lain sengon
(Paraserianthes falcataria), beringin (Ficus benjamina), dadap duri (Erythrina
lithosperma) dan rumput-rumputan.
5.1.4 Perawatan kandang
Perawatan kandang dilakukan bertujuan untuk menjaga kebersihan kandang agar tetap bersih sehingga buaya muara nyaman tinggal di dalamnya (Gambar 9). Selain itu, pembersihan kandang juga bertujuan untuk menghindari berkembang biaknya bakteri penyakit. Kegiatan pembersihan kandang dilakukan sesuai kondisinya. Apabila kandang sudah terlihat kotor maka kandang akan dibersihkan namun tergantung dengan waktu pemberian makan karena sisa-sisa makanan yang menempel di lantai yang tidak dibersihkan akan menimbulkan berbagai macam jenis penyakit dan menimbulkan suasana bau yang tidak nyaman. Biasanya pembersihan kandang dilakukan 2 kali dalam satu minggu. Namun, ada juga kandang yang tidak dibersihkan sama sekali. Kandang yang tidak dibersihkan biasanya berupa kandang semi alami.
(a) (b)
Gambar 9 Pembersihan kandang oleh Animal Keeper (a) Menyikat kolam
kandang dan (b) Menyiram kolam kandang
Pembersihan di luar kandang dilakukan setiap hari. Perawatan kandang bertujuan untuk menjaga kebersihan kandang agar buaya muara dapat hidup dengan sehat dan terhindar dari berbagai macam penyakit.
Menurut Setio dan Takandjandji (2007), tindakan yang dibutuhkan untuk menjaga kebersihan kandang adalah :
a. Mengeruk, menyikat dan menyapu kotoran yang melekat pada bagian-bagian
kandang untuk dibuang pada tempat pembuangan yang telah disiapkan.
b. Menyemprot atau menyiram dengan air pada bagian kandang yang telah
dibersihkan secara rutin dua kali sehari.
c. Menyemprot kandang dengan desinfektan secara reguler satu bulan sekali.
5.1.5 Pengelolaan limbah dan kualitas perairan
Limbah yang dihasilkan dari penangkaran Taman Buaya Indonesia Jaya adalah limbah padat yang berasal dari kotoran buaya muara. Limbah ini dialirkan langsung ke sawah-sawah penduduk sekitar penangkaran yang digunakan sebagai
pupuk kandang yang membuat subur. Dalam Permentan Nomor
02/Pert/Hk.060/2/2006, pupuk organik adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik yang berasal dari tanaman dan hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan mensuplai bahan organik untuk memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Kualitas air yang baik adalah keadaan perairan dengan tingkat salinitas yang
sesuai dengan jenis buaya yang hidup di area tersebut, serta belum adanya pencemaran oleh limbah industri atau lainnya akibat aktivitas manusia.
Pada penangkaran Taman Buaya Indonesia Jaya sumber air berasal dari kolam tanah. Air dari kolam disedot dengan bantuan diesel kemudian disalurkan dengan menggunakan selang. Kualitas air di penangkaran ini tergolong dalam kategori baik karena berasal dari bak penampungan. Bak penampungan memiliki fungsi untuk menampung air sehingga dapat menjamin pasokan air jika pompa sewaktu-waktu mengalami kerusakan. Untuk memenuhi kebutuhan air tiap kandang, air dari bak penampungan dialirkan dengan menggunakan selang panjang, sesuai dengan yang disarankan Fakultas Kehutanan IPB (1990), bahwa sebaiknya tidak mengalirkan air dari satu kolam untuk mengisi kolam berikutnya karena untuk menghindari adanya kontaminasi atau penularan penyakit dari satu kolam ke kolam lainnya.
5.1.6 Suhu dan kelembaban kandang
Berdasarkan hasil pengukuran suhu kandang di penangkaran buaya muara Taman Buaya Indonesia Jaya menunjukkan kondisi suhu yang relatif stabil. Suhu kandang pada pagi hari berkisar 25-29°C, siang hari berkisar 30-33°C, dan sore hari berkisar antara 29-31°C. Kondisi tersebut sesuai dengan pernyataan Frye (1991) bahwa suhu optimal untuk reptil di daerah tropis berkisar 29,5-37°C. Kondisi suhu di penangkaran TBIJ ini juga sesuai dengan pernyataan Elmir (2008) bahwa buaya di penangkaran relatif masih dapat mengkonsumsi makanan pada kisaran temperatur udara 24,5-34°C. Kondisi suhu kandang di penangkaran TBIJ dapat dilihat pada Gambar 10.
Gambar 10 Grafik suhu kandang di penangkaran Taman Buaya Indonesia Jaya. Gambar 10 menunjukkan bahwa suhu kandang di penangkaran Taman Buaya Indonesia Jaya cukup stabil untuk memanaskan suhu tubuh buaya muara yang ada di dalam kandang. Pada pagi hari saat matahari bersinar buaya muara
melakukan basking (berjemur) dan pada siang hari buaya muara akan berendam di air agar badannya dingin.
Kelembaban kandang pada pagi hari berkisar 84-92%, siang hari berkisar 73-85% dan sore hari berkisar 78-85%. Kelembaban kandang di penangkaran TBIJ sesuai dengan pernyataan Frye (1991), bahwa kelembaban kandang reptil di daerah tropis sekurang-kurangnya berkisar antara 80-90%. Fluktuasi kelembaban dalam kandang dapat dilihat pada Gambar 11.
Gambar 11 Grafik kelembaban kandang di penangkaran.
Gambar 11 menunjukkan bahwa kelembaban kandang di penangkaran Taman Buaya Indonesia Jaya lebih tinggi pada waktu pagi hari dibandingkan pada waktu siang dan sore hari hal ini diakibatkan pada pagi hari suhu kandang dan intensitas cahaya matahari yang masuk relatif lebih rendah. Kelembaban tinggi atau terlalu rendah akan berpengaruh pada kesehatan buaya itu sendiri. Kelembaban tinggi dapat mengakibatkan tumbuhnya bakteri atau jamur sedangkan kelembaban rendah dapat menyebabkan buaya mengalami dehidrasi (Power 2010). Di penangkaran Taman Buaya Indonesia Jaya ini pengaturan suhu dan kelembaban masih dilakukan secara alami belum dilakukan dengan teknologi canggih.