BAB III: PERISTIWA 10 NOVEMBER 1945
A. Kondisi Surabaya
Surabaya memiliki ikon tugu Pahlawan serta ikan Sura dan Baya atau Buaya. Jelas tugu Pahlwan tersebut berdiri sebagai simbol perjuangan rakyat Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia dari jajahan Sekutu, yang dikenal dengan pertempuran 10 November 1945 di Surabaya atau disebut dengan Hari Pahlawan. Banyak legenda yang menceritakan tentang ikan Sura dan Buaya tersebut. Namun dalam penelitian kali ini tidak akan menceritakan asal usul legenda tersebut secara detail.
Suatu organisasi khas masyarakat Surabaya adalah Sinoman, merupakan wadah kegiatan bersama secara gotong royong seperti acara khitanan, pernikahan, pemakaman, atau acara perayaan umum. Sinoman ini pernah diperjuangkan oleh Dokter Soetomo dengan menggalakkan dan mempersatukannya ke dalam Dewan Sinoman dengan harapan dapat mengatasi dan menandingi usaha-usaha Kotapraja Surabaya yang didominasi oleh Eropa, hal tersebut sama sekali tidak mementingkan rakyat Surabaya. Selain itu, Dokter Soetomo juga pernah mendorong pembentukan Surya Wirawan yang merupakan anak cabang partainya yaitu Parindra yang ada di masyarakat. Dengan usahanya Dokter Soetomo berharap agar para pemuda menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah airnya.51 Sejak saat itu para pemuda dan masyarakat sudah ditanamkan rasa mencintai tanah air dan siap untuk membela tanah aih dari para penjajah.
Sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia, sudah terlihat jelas bahwa para pemuda yang masuk dalam pasukan tentara sukarela menyadari pentingnya membela dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Menjelang akhir Perang Dunia II, banyak sudah pemuda Indonesia yang dididik dan dilatih sebagai militer yang semula diperlukan oleh Jepang untuk mendukung kepentingan pertahanan
51 Barlan Setiadijaya, Merdeka atau Mati di Surabaya 1945 jilid 1 (Widyaswara Kewiraan: Jakarta) 1985, h. 74-75.
37
Jepang dalam menangkal dan menghadapi pendaratan tentara Sekutu. Mereka yang dilatih itu adalah Peta, Heiho, Barisan Pelopor, Hizbullah, Seinenden, Gakutai dan lain sebagainya.52
Jauh sebelum masa kemerdekaan, Surabaya merupakan sebuah kota tua yang terletak di tepian muara Sungai Brantas, yang kemudian menjadi Kalimas. Sejak tahun 1906 Surabaya tumbuh sebagai kota modern. Selain sebagai pusat administrasi pemerintahan Jawa Timur, Surabaya juga menjadi pusat industri dan bandar yang terbesar di Indonesia. Pada masa kolonial, Surabaya tidak hanya menjadi pusat industri, juga menjadi pangkalan utama Angkatan Laut Belanda di Indonesia. Penduduk Surabaya yang majemuk, kecuali orang-orang asing dan kolonial yang beasal dari berbagai negara. Mereka menyebut dirinya Arek Surabaya (putra Surabaya), kecuali kelompok elite dan bangsa asing. Dilihat dari mata pencahariannya penduduk Surabaya terdiri dari beberapa kelompok sosial yaitu, kelompok buruh, kelompok Petani, kelompok pedagang, kelompok pelaut, kelompok tukang, dan kelompok elite pribumi. Perkembangan kota Surabaya merupakan cermin daripada kemajuan ekonomi kolonial. Justru bagi masyarakat Surabaya situasi ini menyebabkan kemiskinan, karena sangat terlihat antara si penjajah dan yang dijajah. Pada awal 1930 depresi ekonomi yang melanda dunia berpengaruh bagi perdagangan dan industri di Surabaya. Ditambah situasi politik yang tidak menentu di Eropa sejak berkuasanya Hitler di Jerman, perang Dunia II telah nampak. Demikian pula hubungan Belanda dengan Jepang memburuk sejak pecahnya perang Eropa, sampai pecahnya Perang Pasifik. Surabaya mulai diserang oleh Jepang sejak tanggal 3 Februari 1942. Sasaran utamanya adalah markas besar Angkatan Perang Belanda dan Gedung Nirom di Embong Malang. Akhirnya pada bulan Maret 1942 kota Surabaya jatuh ke tangan Jepang. 53
Jepang telah berhasil menguasai pelabuhan terpenting di Indonesia yaitu Surabaya. Ada perbedaan antara Jepang dan Belanda dalam memerintah Indonesia yaitu pada pertahanan. Jika Belanda membatasi bidang militer terhadap Indonesia,
52 R.S. Achmad, Surabaya Bergolak, (CV. Haji Masagung: Jakarta) 1990, h.1-2.
53 Nugroho Notosusanto, ed., Pertempuran Surabaya, (Mutiara Sumber Widya: Jakarta) 1985, h.1-6.
38
justru Jepang melatih para pemuda Indonesia dalam bidang militer. Banyak para pemuda Indonesia yang dilatih yaitu sekitar puluhan ribu pemuda. Mereka dilatih dalam hal fisik, diajari tentang teknik milliter, bahkan mereka dilatih cara menggunakan senjata api maupun senjata sederhana seperti bambu runcing.54
Untuk mewujudkan konsep baru dalam pertahanan, Jepang membentuk Peta (Pembela Tanah Air), terdiri atas beberapa Batalyon pasukan infentari. Setiap batalyon merupakan kesatuan militer yang berdiri sendiri , tidak memiliki organisasi yang lebih besar. Batalyon dipimpin oleh seorang Daidancho (mayor) dengan tugas menerima fungsi taktis operasional dari seorang perwira Jepang. Tugas lainnya bersifat administratif logistik. Di seluruh Jawa dibentuk 66 Daidan (Batalyon). Kemudian selain Peta, Jepang juga membentuk pasukan Hizbullah, satuan semi militer Masyumi dengan anggota 30.000 orang. Ada juga barisan Pelopor yang bersifat propaganda, walaupun para anggotanya dilatih secara militer. Kemudian atas permintaan beberapa politisi Indonesia, Jepang kemudian membentuk Barisan Berani Mati (Jibaku Tai), namun mereka sengaja tidak diberikan senjata oleh Jepang yang menimbulkan kekecewaan bagi para politisi Indonesia.55
Faktor yang membuat Jepang membentuk pasukan militer beranggotakan para pemuda Indonesia yang dilatih oleh para mayor Jepang adalah, pertama untuk menarik simpati dan memikat hati para pemuda Surabaya pada khususnya. Kemudian seiring berjalannya waktu tanpa disadari bahwa posisi Jepang mulai terancam pada Perang Pasifik atau Perang Asia Timur Raya menurut istilah Jepang. Kota-kota yang diduduki oleh Jepang pada waktu itu ternyata sudah berhasil ditaklukan oleh Negara Sekutu. Untuk mengatasi kondisi tersebut maka makin gencarlah Jepang melatih dan kemudian mengirim para pemuda Indonesia tersebut yang sudah tergabung dalam masing-masing pasukan untuk membantu dan membela Jepang.
54
Frank Palmos, Surabaya 1945 Sakral Tanahku, penerjemah Johannes Nugroho (Yayasan Pustaka Obor Indonesia: Jakarta) 2016, h. 95-96.
55 Des Alwi, Pertempuran Surabaya November 1945, (Bhuana Ilmu Populer: Jakarta) 2012, h.61-62.
39
Jepang menguasai Indonesia tidak membutuhkan waktu cukup lama, setidaknya hanya tiga setengah tahun. Jepang menyerah terhadap Negara Sekutu. Meski demikian, Jepang memiliki pengaruh bagi sejarah Indonesia, bahwa bangsa Asia mampu mengusir bangsa Eropa sekaligus memberi harapan baru bagi negara-negara yang dijajah oleh bangsa Eropa. Namun akibat dari kekejaman rezim Jepang sendiri yang mengakibatkan nilai positif tersebut luntur. Negara-negara dibawah jajahan Jepang mengalami kemorosoton ekonomi. Indonesia merupakan salah satu negara yang mengalami kemiskinan akut dan kelaparan masal pada saat itu, disebabkan Jepang merampoki seluruh kekayaan bangsa Indonesia. Disisi lain, ketika Jepang menguasai Indonesia, Jepang melatih lebih dari seratus ribu lebih pemuda secara militer. Walaupun dari awal para pemuda tersebut dipersiapkan untuk membela Jepang melawan sekutu, pada akhirnya para pasukan yang dilatih ini dimanfaatkan oleh para tokoh kemerdekaan untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. 56
Ketika situasi Jepang mulai tertekan, kota-kota industri Jepang hancur oleh negara Sekutu yaitu Amerika Serikat, terdengar kabar bahwa Jepang akan menyerah. Pada malam tanggal 14 Agustus 1945, Jepang menyerah tanpa syarat kepada Indonesia yang diumumkan oleh Kaisar Hirohito. Berita ini didengar oleh tokoh-tokoh Indonesia. Tanggal 14-17 Agustus 1945 merupakan tiga hari yang dramatis dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia, Sukarno dan para pemimpin lainnya memperdebatkan prosedur dan waktu untuk menyatakan kemerdekaan. Sebagian masih ingin merundingkan hal tersebut dengan Jepang, sedangkan yang lainnya terutama golongan pemuda menganggap tidak perlu lagi karena Jepang telah menyerah.57
Keaadaan di Jakarta, sebelum proklamasi dibacakan khususnya bagi para pemimpin negeri saat itu penuh dengan pertentangan antara golongan tua dan golongan muda. Mereka disebut juga sebagai pemuda revolusioner.
56 Frank Palmos, Surabaya 1945 Sakral Tanahku, h.60.
57 Batara R. Hutagalung, 10 November „45: Mengapa Inggris Membom Surabaya? (Millennium Publisher: Jakarta) 2001, h. 100-101.
40
Berita tentang proklamasi di Surabaya pertama kalinya diketahui oleh Markonis Domei, Soewandi dan Jakob, ketika mereka bertugas di kantornya pada 17 Agustus 1945. Pihak Jepang tidak terima dan melarang penyebaran berita tersebut. Akan tetapi berita tersebut telah diketahui oleh ketiga orang di atas serta wartawan lainnya dari Soeara Asia, Warta Soerabaya Syu, Madura Syu, dan surat kabar terbitan karesidenan Jawa Timur. Mereka kemudian berhasil memuat proklamsi dalam bahasa daerah yang tidak bisa dipahami oleh Jepang, kemudian diterbitkan dalam Warta Syurabaya Syu yang berbahasa Jawa sebagai berikut:
“Bajawara”
Kita bangsa Indonesia sarana iki, nelakake Kamardikaning Indonesia.
Bab-bab kang ngenani pemindahan penguwasa lan liya- liyane ditindakake klawan tjara kang teliti lan ing dalam
tempo kang saenggal-enggale.
Djakarta, tanggal 17 sasi 8 tahoen 2605 Atas namaning Bangsa Indonesia SOEKARNO/HATTA Dengan dimuatnya berita proklamasi kemerdekaan dalam Warta Soerabaya Syu pada tanggal 17 Agustus 1945, dapat dicatat dalam sejarah bahwa media cetak yang pertama di seluruh dunia yang memuat naskah proklamasi dalam bahasa Jawa. Seperti diketahui bahwa harian yang pertama menerbitkan proklamasi dalam bahasa Indonesia adalah harian Tjahaja pada tanggal 18 Agustus 1945 di Bandung.58
Siaran radio pada saat itu dilarang oleh Sekutu. Bung Tomo mulai mengudarakan Radio Pemberontakan, dia merintisnya dengan susah payah. Kabar
58 Barlan Setiadijaya, 10 November 1945: Gelora Kepahlawanan Indonesia (Yayasan 10 November 1945: Jakarta) 1992, h. 81.
41
tentang Radio Pemberontakan mulai diumumkan melalui surat kabar di Surabaya, hingga kemudian radio tersebut memenuh syarat dan kewajibannya sebagai pemancar Revolusi Nasional. Siaran pertamanya dengan meminjam pemancar Radio Surabaya dengan meminta ijin kepada Residen Surabaya dan Ketua KNI, Dul Arnowo, karena pemancar milik sendiri Radio Pemberontakan belum selesasi dibuat. Akhirnya setaleh diijinkan, Bung Tomo memulai siarannya dengan berpidato.59
Pada tanggal 19 Agustus 1945 pukul 08.00 pagi, di asrama Polisi Istimewa (Tokubetsu Keisatsu Tai) di Reiniersz Boulevard (kemudian Jl. Sutomo) No. 7 Agen Polisi III, Nainggolan bersama kawan-kawannya mengganti bendera Jepang dengan bendera Merah Putih. Instruktur Jepang yang berusaha menggantinya kembali dengan bendera Jepang, dibawah ancaman pejuang Indonesia terpaksa membiarkan bendera Indonesia berkibar. Korps Polisi inilah yang pertama menyatakan berpihak kepada Indonesia.60
Proklamasi kemerdekaan Indonesia hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja dari penduduk Surabaya pada hari Minggu 20 Agustus 1945. Keesokan harinya, Senin 21 Agustus 1945, proklamasi diketahui secara luas oleh rakyat, karena teks proklamasi dimuat di dalam surat kabar Soeara Asia terbitan hari itu. Surat kabar Soeara Asia adalah satu-satunya surat kabar yang ada di Jawa Timur pada waktu itu.61
Bendera Indonesia pertama kali berkibar di gedung pemerintahan pada tanggal 1 September 1945, yaitu di gedung Syuchokan (kemudian menjadi Kantor Gubernur). Bersamaan dengan pengangkatan RMTA Suryo sebagai Gubernur Jawa Timur pada tanggal 19 Agustus 1945, Sudirman, yang waktu pendudukan Jepang menjabat Wakil Residen, diangkat menjadi Residen Surabaya. Rajamin Nasution yang berasar dari Tapanuli, Sumatera Utara, diangkat menjadi Walikota
59 Sutomo (Bung Tomo), Pertempuran 10 November 1945: Kesaksian & Pengalaman
Seorang Aktor Sejarah. (Visi Media: Jakarta) 2008. Cetakan kedua., h. 83.
60 Batara R. Hutagalung, 10 November „45: Mengapa Inggris Membom Surabaya?..., h. 121-122.
42
Surabaya. Komite Nasioan Indonesia Daerah Surabaya dibentuk tanggal 27 Agustus 1945, diketuai oleh Doel Arnowo. Hari Senin, 3 September 1945, Residen Sudirman secara resmi menyatakan terbentuknya Pemerintahan Republik Indonesia daerah Surabaya.62