Kondisi jalan sebagai salah satu prasarana transportasi mempunyai peran yang sangat penting dan strategis dalam mendukung kelancaran mobilitas masyarakat. Jalan yang ada di Kabupaten Bogor terdiri atas Jalan Nasional sepanjang 121,497 km (5 ruas), Jalan Provinsi 129,989 km (5 ruas), Jalan Kabupaten yang bernomor ruas 1.506,565 km (371 ruas), jalan Kabupaten yang
tidak bernomor ruas 100,044 km (62 ruas) dan jalan desa. Jalan Kabupaten bernomor ruas dengan kondisi rusak adalah sekitar 38,39 persen, kondisi sedang 18,22 persen dan kondisi baik 43,39 persen Total panjang jalan nasional, jalan propinsi dan jalan kabupaten yang melintasi Kabupaten Bogor adalah 1.858,085 km.
Tabel 13. Data Kondisi Jalan Kabupaten Berdasarkan Fungsi Jalan
Fungsi jalan
Kondisi jalan Kabupaten bogor Tahun 2006 (Km)
Panjang Jalan Jumlah Total
Baik Sedang Rusak Ringan Rusak Berat Jumlah Ruas Panjang Bernomor Ruas 825,275 209,450 129,400 342,440 371 1.506,565 Kolektor II 21,300 9,100 5,350 7,950 8 43,700 Kolektor III 105,500 28,600 21,500 46,400 32 202,000 Lokal I 457,740 111,000 74,900 206,930 180 850,570 Lokal II 181,350 41,150 19,350 67,860 105 309,710 Lokal III 31,300 5,100 5,900 12,200 24 54,500 Lokal Sekunder 28,085 14,500 2,400 1,100 22 46,085 Tidak Bernomor Ruas 93,194 200,000 - 6,650 62 100,044 JUMLAH 918,469 409,450 129,400 349,090 433 1.606,609
Sumber : Bappeda Kabupaten Bogor Tahun 2007
Selain kondisi kerusakan jalan yang masih signifikan, pada prasarana transportasi jalan, masalah kuantitas panjang jalan, dimensi jalan serta masalah geometrik dan struktur jalan belum optimal. Berdasarkan hasil kajian Penyusunan Rencana Induk Hirarki Jalan (Bappeda Kabupaten Bogor, 2006), panjang ideal jalan adalah 3.680,60 km, sehingga kekurangan panjang jalan adalah 1.832,515 km atau 49,7 persen dari kebutuhan ideal.
Berdasarkan PP No. 34 tahun 2006 tentang Jalan, ruang milik jalan untuk jalan kecil minimal 11 m yang terdiri dari lebar jalur 5,5 meter, bahu jalan 2
meter, saluran tepi 0,75 meter. Sementara jalan di Kabupaten masih banyak yang memiliki lebar kurang dari 4. Masalah geometrik pun masih jauh dari ideal dimana sebagian besar jalan Kabupaten tidak ideal baik alignment horizontal
maupun alignment vertical. Sedangkan dari faktor struktur, kapasitas pembebanan/tonase jalan kelas III seharusnya mampu melayani tekanan sampai dengan 8 ton, sedangkan kondisi eksisting jalan di Kabupaten rata-rata hanya mampu dilalui oleh beban sebesar 3,5 - 4 ton.
Permasalahan lain yang berkaitan dengan transportasi adalah : (1) masalah pelayanan terhadap mobilitas masyarakat, yaitu menyangkut kelancaran transportasi yang ditandai dengan adanya titik-titik rawan kemacetan, (2) rendahnya kedisiplinanan pengguna jalan, (3) kurangnya terminal penumpang maupun barang, (4) terbatasnya rambu lalu lintas, (5) masalah perparkiran, (6) lemahnya pengendalian beban tonase kendaraan, (7) terbatasnya layanan angkutan umum pada kawasan terisolir/pusat produksi/distribusi/koleksi, dan (8) belum optimalnya penanganan pos dan telekomunikasi.
Tingginya tingkat kemacetan lalu lintas terjadi seiring dengan meningkatnya pergerakan orang dan barang, maka pada tahun 2005 dan 2006 telah dilakukan penanganan kemacetan di 6 titik kemacetan, yang terletak di Kecamatan Cibinong, Ciawi, Cisarua, Gunung Putri, Dramaga dan Sukaraja, sedangkan di tahun 2007 direncanakan dilakukan penambahan menjadi 10 titik, yaitu di Kecamatan Caringin, Cileungsi, Citeureup dan Leuwiliang. Untuk memenuhi kebutuhan terminal, telah dibangun terminal Cileungsi pada tahun 2006 sehingga jumlah terminal di Kabupaten Bogor menjadi 5 unit, yang dilengkapi dengan 4 sub terminal dan 14 pangkalan. Empat lokasi terminal
lainnya adalah di Cibinong, Jasinga, Laladon, dan Cigombong. Namun demikian, operasionalisasi kelima terminal tersebut sampai dengan saat ini belum optimal.
Penataan trayek angkutan umum dilakukan melalui pemberian ijin trayek sesuai dengan kuota, dan sampai tahun 2006 jumlah angkutan yang beroperasi di dalam wilayah Kabupaten Bogor adalah 52 trayek dengan jumlah angkutan sebanyak 4.398 kendaraan. Sementara jumlah angkutan umum antar Kabupaten/kota yang melayani penumpang di perbatasan dengan Kota Bogor, Kota Depok, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Tangerang dan DKI Jakarta berjumlah 24 trayek dengan jumlah angkutan sebanyak 6.328 kendaraan. Jumlah keseluruhan trayek yang melewati jalan-jalan di wilayah Kabupaten Bogor adalah sebanyak 76 trayek dengan jumlah angkutan sebanyak 10.726 kendaraan. Sementara untuk angkutan umum terhadap kawasan terisolir/pusat produksi/distribusi/koleksi, telah digulirkan program “kuningisasi” yang masih membutuhkan kesepakatan dengan instansi terkait sehingga dapat mendorong proses legalisasi angkutan umum plat hitam menjadi plat kuning.
Berkaitan dengan kelaikan kendaraan, berdasarkan hasil pengujian diketahui bahwa jumlah kendaraan layak jalan adalah sebanyak 15.512 unit pada tahun 2005 dan menurun tahun 2006 menjadi 14.620 unit. Sementara bertambahnya jumlah kendaraan tidak laik jalan akan berdampak pada penambahan resiko kerusakan jalan dan kemacetan terlebih lagi apabila pengendalian beban tonase kendaraan yang sesuai dengan daya dukung jalan tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Terkait dengan perparkiran di Kabupaten Bogor selama ini perparkiran belum dikelola secara optimal baik swakelola maupun swastanisasi. Sementara di lain pihak, perparkiran dijadikan sebagai salah satu obyek pendapatan asli daerah.
V. PENYELENGGARAAN DAN PENGELOLAAN TEMPAT
KHUSUS PARKIR (TKP)
Penyelenggaraan dan pengelolaan parkir di Kabupaten Bogor sesuai dengan Peraturan Bupati Bogor Nomor 24 Tahun 2006. Berdasarkan Peraturan tersebut terdapat dua titik lokasi parkir di Wilayah Kabupaten Bogor yaitu Parkir Tepi Jalan Umum (TJU) dan Tempat Khusus Parkir (TKP). Kabupaten Bogor memiliki 75 titik lokasi parkir TJU dan 28 titik lokasi TKP di wilayah Barat, Tengan maupun Timur Kabupaten Bogor. Masing-masing titik lokasi parkir tersebut dikelolah oleh Kepala Dinas bekerja sama dengan pihak lain sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. UPTD merupakan unsur pelaksana operasional dinas, yang dipimpin oleh seorang Kepala UPTD, serta berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas.
Pengelolaan parkir Kabupaten Bogor terdapat tiga lembaga yang terlibat diantaranya Dinas Perhubungan (Dishub) yang mengelola retribusi parkir TJU dan TKP di wilayah Kabupaten Bogor; PD Pasar mengelola parkir di lingkungan pasar-pasar di Kabupaten Bogor; dan Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) mengelola pajak parkir, yaitu pungutan atas parkir kepada badan usaha yang dikelolah oleh swasta. Pada Peraturan Bupati tersebut juga dijelaskan mengenai pengelolaan retribusi parkir, yaitu suatu kegiatan perparkiran yang meliputi perencanaan, pelayanan, pungutan retribusi, pengawasan dan pengendalian.
Pasal 3 Peraturan Bupati Bogor Nomor 24 Tahun 2006 menyatakan bahwa pengelolaan titik-titik parkir (baik TJU maupun TKP) dapat dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini adalah Dinas Perhubungan (Dishub) dengan menunjuk Kepala UPTD (Unit Pelaksana Teknis Daerah) dan dalam pelaksaannya dapat
melakukan kerjasama dengan pihak lain yaitu dalam hal ini adalah pihak swasta sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Hal ini mengidentifikasikan bahwa bentuk penyelenggaraan dan pengelolaan TJU dan TKP dapat dilakukan oleh pemerintah atau pemerintah bekerjasama dengan pihak swasta. Titik parkir TJU umumnya hanya dapat dikelola oleh pihak pemerintah.
Dalam penyelenggaraan dan pengelolaan perparkiran terdapat target retribusi yang harus dicapai oleh pengelola masing-masing tititk lokasi parkir. Data mengenai target pencapaian oleh Dinas Perhubungan pada tahun 2007 dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14. Target Retribusi Parkir TJU dan TKP Parkir 2007 (Rp 000)
No Wilayah Target Jumlah
TJU TKP
1 Barat 180.000 58.320 238.320 2 Tengah 153.000 159.840 312.840 3 Timur 136.800 57.240 194.040 Jumlah 469.800 275.400 745.200 Sumber : Dinas Perhubungan Kabupaten Bogor Tahun 2007
Pada Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2005 Kabupaten Bogor terdapat aturan mengenai retribusi parkir TKP di lingkungan pasar yang diserahkan kepada Perusahaan Daerah (PD) Pasar. Namun peraturan ini baru terealisasi pada tahun 2007, yaitu berdasarkan hal tersebut target parkir (TJU dan TKP) pada tahun 2007 yang semula berjumlah Rp 745.200.000 sejak tanggal 1 Mei 2007 menjadi Rp 552.420.000. Berikut ini diuraikan besarnya target dan potensi parkir sejak tanggal 1 Mei 2007.
Tabel 15. Perubahan Target Retribusi Parkir Mulai 1 Mei 2007 dan Potensi Riil Retribusi Parkir (Rp)
No Wilayah Target Mulai Mei 2007 Potensi Riil
1 Barat 180.000.000 108.000.000 2 Tengah 226.620.000 196.200.000 3 Timur 145.800.000 118.440.000
552.420.000 422.640.000
Sumber : Dinas Perhubungan Kabupaten Bogor Tahun 2007
Berdasarkan Tabel 15 dapat dilihat bahwa sejak tanggal 1 Mei 2007 target retribusi parkir yang harus dicapai oleh Dinas Perhubungan menjadi lebih kecil dari target semula, hal ini dikarenakan sekitar 25,8 persen dari target awal diserahkan kepada PD Pasar Tohaga atas pengelolaan retribusi parkir di lingkungan pasar. Berdasarkan tabel tersebut juga terlihat bahwa pada tahun 2007 target atau potensi yang ada belum tercapai sepenuhnya, yaitu pencapaian target yang ditentukan baru sebesar 76,5 persen. Penyelenggaraan dan pengelolaan retribusi parkir TKP di wilayah Kabupaten Bogor antara lain terdapat pada titik- titik parkir TKP (bukan titik parkir pasar) seperti pada Tabel 16.
Tabel 16. Titik Lokasi Tempat Khusus Parkir (TKP) Kabupaten Bogor
No Wilayah Kerja UPTD Parkir Lokasi Titik Parkir
1 Wilayah Barat Kecamatan Leuwilang RSUD Leuwiliang
2 Wilayah Tengah
Kecamatan Cibinong Kantor Pertanahan PDAM
Bank Jabar RSUD Cibinong Kecamatan Ciawi RSUD Ciawi
3 Wilayah Timur - -
Sumber: Peraturan Bupati Bogor Nomor 24 Tahun 2006
Dalam kajian ini akan fokus pada penyelenggaraan dan pengelolaan TKP di titik parkir RSUD Cibinong sebagai bentuk pengelolaan swakelola dan RSUD Ciawi yang saat ini merupakan satu-satunya bentuk penyelenggaraan retrubusi parkir TKP atas bekerjasama dengan pihak swasta. Titik parkir TKP RSUD
Cibinong dan RSUD Ciawi berada di bawah UPTD Tengah Kabupaten Bogor. Dengan mengacu pada penyelenggaraan dan pengelolaan parkir TKP di kedua titik parkir TKP tersebut, akan diuraikan bentuk penyelenggaraan dan pengelolaan parkir TKP oleh swakelola dan penyelenggaraan dan pengelolaan parkir TKP oleh pihak swasta.
5.1 Penyelenggaraan dan Pengelolaan Retribusi Tempat Khusus Parkir