Kebun Raya Bogor
Kebun Raya Bogor merupakan salah satu kebun koleksi dan penelitian terbesar di Indonesia. Kebun Raya Bogor memiliki luas sekitar 80 hektar dan memiliki 15.000 jenis koleksi tanaman berupa ground cover hingga pohon, yang merupakan tanaman asli Indonesia maupun tanaman introduksi. Di sekitar Kebun Raya Bogor tersebar pusat-pusat keilmuan yaitu Herbarium Bogoriense, Museum Zoologi, dan Institut Pertanian Bogor.
Sejarah Kebun Raya Bogor
Kebun Raya Bogor pada mulanya merupakan bagian dari Samida (hutan buatan atau taman buatan) yang telah ada pada pemerintahan Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi, 1474-1513) dari Kerajaan Pajajaran, sebagaimana tertulis dalam Prasasti Batutulis. Hutan buatan itu ditujukan untuk keperluan menjaga kelestarian lingkungan sebagai tempat memelihara benih benih kayu yang langka.
Sir Thomas Stamford Raffles yang menjadi Gubernur Jenderal di Jawa pada periode 1811 hingga 1816, menetap di Buitenzorg, memiliki minat besar dalam bidang botani. Raffles berupaya membentuk kebun istana menjadi taman bergaya Inggris klasik. Inilah awal mula Kebun Raya Bogor dalam bentuknya sekarang.
Ide pendirian Kebun Raya dicetuskan oleh Prof. Caspar Georg Karl Reinwardt, ahli biologi yang menjabat sebagai Kepala Usaha Pertanian, Kesenian, dan Pengetahuan untuk Jawa dan Pulau-Pulau di sekitarnya, yang meminta kepada Komisaris Jenderal Van Der Capellen untuk memberikannya
sebidang tanah yang akan dijadikan kebun tumbuhan yang bermanfaat, tempat pendidikan guru, dan koleksi tumbuhan bagi pengembangan kebun-kebun yang lain.
Gubernur Jenderal Van Der Capellen secara resmi mendirikan Kebun Raya Bogor pada tahun 18 Mei 1817, dengan nama s'Lands Plantentuinte Buitenzorg. Reinwardt menjadi direktur pertamanya dari 1817 sampai 1822. Reinwardt melakukan pengumpulan tanaman dan benih dari berbagai bagian lain nusantara. Dengan segera Bogor menjadi pusat pengembangan pertanian dan hortikultura di Indonesia.
Reinwardt digantikan oleh Dr. Carl Ludwig Blume (1822) yang melakukan inventarisasi tanaman koleksi yang tumbuh di kebun. Blume digantikan oleh Johanes Elias Teysmann (1831) yang dibantu oleh Hasskarl, melakukan pengaturan penanaman tanaman koleksi dengan mengelompokkan menurut familia (suku).
Teysmann kemudian digantikan oleh Dr. Scheffer pada tahun 1867 menjadi direktur, dan dilanjutkan kemudian oleh Prof. Dr. Melchior Treub. Direktur Kebun Raya Bogor hingga diambil alih pengelolaannya oleh Indonesia, yaitu Caspar Georg Karl Reinwardt (1817-1822), Carl Ludwig Blume (1823-1826), Johannes Elias Teijsmann (1830-1869), Rudolph Herman Christian Carel Scheffer (1869-1880), Melchior Treub (1880-1910), Willem Marius Docters van Leeuwen (1918-1932), Hermann Ernst Wolff von Wülfing (1932-1943), Takenosin Nakai (1943-1945), Dirk Fok van Slooten (1948-1951).
Pendirian Kebun Raya Bogor mengawali perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Dari sini lahir beberapa institusi ilmu pengetahuan lain, seperti Bibliotheca Bogoriensis (1842), Herbarium Bogoriense (1844), Kebun Raya Cibodas (1860), Laboratorium Treub (1884), dan Museum dan Laboratorium Zoologi (1894); dan kelembagaan internal Kebun Raya, seperti Herbarium, Museum, Laboratorium Botani, Kebun Percobaan, Laboratorium Kimia, Laboratorium Farmasi, Cabang Kebun Raya di Sibolangit dan di Purwodadi, Perpustakaan Fotografi dan Tata Usaha, Kantor Perikanan dan Akademi Biologi (cikal bakal IPB) (Wikipedia (b), 2007).
Katalog Kebun Raya Bogor
Kegiatan pembuatan katalog mengenai koleksi tanaman di Kebun Raya Bogor telah dilakukan oleh direktur-direktur sebelum diambil alih oleh Indonesia,
mencakup pencatatan lengkap tentang koleksi tumbuh-tumbuhan Cryptogamae, 25 spesies Gymnospermae, 51 spesies Monocotyledonae dan 2200 spesies Dicotyledonae, usaha pengenalan tanaman ekonomi penting di Indonesia, dan pengumpulan tanaman-tanaman yang berguna bagi Indonesia (Wikipedia (b), 2007).
Katalog tanaman Kebun Raya yang pertama mencatat sebanyak 914 spesies (jenis) tanaman, dipublikasikan pada tahun 1823 oleh Dr. Carl Ludwig Blume. Buku ini menjadi dasar katalog yang masih dipergunakan saat ini.
Katalog Kebun Raya Bogor yang paling lengkap, An Alphabetical List of Plants Cultivated in The Botanic Garden, disusun oleh Dakkus pada tahun 1930. Katalog tersebut diperbaharui dua kali yaitu pada tahun 1957 dan 1963. An Alphabetical List of Plant Species Cultivated in The Hortus Botanicus Bogoriensis diterbitkan pada tahun 1978. Katalog tersebut mengalami perbaikan pada tahun 1985 (Levelink dan Mawdsley, 1996).
Pengelola Kebun Raya Bogor menerbitkan katalog tanaman Kebun Raya Bogor setiap 6 tahun sekali. Katalog tersebut berisikan Nama Species Tanaman, Nama Familia Tanaman, Nomor Tanaman, Lokasi Tanaman, Taksonomis Pendeskripsi Tanaman, dan Wilayah Penyebaran Tanaman. Potensi yang dimiliki Kebun Raya Bogor belum sepenuhnya termanfaatkan secara optimal karena masih kurangnya data dan informasi mengenai jenis tanaman terutama pohon seperti sifat, karakteristik serta syarat tumbuhnya, hingga diperlukan penyempurnaan baik berupa penyempurnaan materi maupun penyajian katalog.
Pengelompokan Lokasi Koleksi
Jalan utama (aspal), jalan setapak (batu), dan saluran air membagi Kebun Raya Bogor menjadi bagian-bagian yang kemudian dibagi lagi menjadi petak-petak. Setiap bagian ditandai dengan angka romawi dan setiap petak ditandai dengan huruf; keduanya dituliskan pada tonggak kecil di tepi suatu bagian. Hampir semua tanaman memiliki label dari logam berwarna hijau dan label aluminium kecil yang mengidentifikasi tanaman itu secara lengkap.
Periode tahun 1837 hingga 1844, Kebun Raya Bogor mengalami penataan ulang menjadi kelompok suku-suku dan sebagai akibatnya sebagian besar koleksi harus ditanam ulang. Tanaman yang tak mungkin ditanam ulang dan berada di luar bagian suku tumbuhannya diidentifikasi dengan label berwarna merah yang menunjukkan tahun tanamnya. Lingkaran kecil merah
dengan huruf ’K’ menunjukkan bahwa tanaman tersebut merupakan spesimen tunggal dan Kebun Raya belum berhasil memperbanyaknya, sehingga tergolong kritis (dalam bahaya kepunahan) (Levelink dan Mawdsley, 1996).
METODOLOGI
Lokasi dan Waktu
Penelitian dilakukan di Kebun Raya Bogor, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor. Waktu penelitian dimulai pada bulan Juli 2007 hingga Desember 2007.
Bahan dan Alat
Data input penelitian meliputi foto dan data atribut. Foto yang digunakan berupa foto pohon. Kendala teknis pengambilan foto untuk memperoleh foto yang representatif, misalnya tumpang tindih tajuk, mungkin akan dialami, sehingga ditampilkan foto yang mewakili jenis pohon tersebut dari pustaka. Foto Pohon mencakup foto primer dan foto sekunder; foto primer diperoleh melalui pengambilan foto langsung di lapang (di dalam dan atau di luar Kebun Raya Bogor), sedangkan foto sekunder diperoleh dari pustaka dan penelitian sebelumnya. Foto diambil dengan menggunakan kamera digital sehingga mudah dalam proses pemasukan data.
Data atribut berupa informasi mengenai deskripsi dan klasifikasi jenis pohon, yang mencakup klasifikasi botani-lanskap (sifat morfologi, sifat ekologi, karakteristik, dan fungsi) dan klasifikasi umum. Data atribut diperoleh melalui pengamatan langsung di lapang dan diperoleh dari pustaka. Pustaka diperoleh di Perpustakaan Kebun Raya Bogor, Perpustakaan Departemen Arsitektur Lanskap IPB, dan Lembaga Sumber daya Informasi (LSI) IPB.
Peralatan lapang berupa kamera digital untuk merekam obyek pohon, alat ukur panjang dan alat tulis. Kamera digital yang digunakan memiliki kemampuan rekam 2 megapixel warna.
Peralatan yang digunakan untuk penyusunan basis data adalah perangkat komputer Toshiba TECRA 8100 yang mencakup Processor Intel Pentium III 690 MHz (MegaHertz), Hard disk drive 20 GB (GygaByte), RAM (Random Access Memory) card 256 MB (MegaByte), DVD-Rom drive 8x speed (CD-Rom drive 52x speed), VGA (Visual Graphics Accelerator) card built-in, Operating System Microsoft Windows XP Professional Version 2002.
Perangkat lunak penyusunan basis data adalah perangkat lunak FileMaker Pro 7. FileMaker digunakan untuk membuat aplikasi basis data dengan user interface yang user friendly.
Metode Studi
Metode studi penyusunan basis data pohon Kebun Raya Bogor mencakup:
a. Tahap studi pustaka mengenai identifikasi dan klasifikasi pohon • Menganalisa klasifikasi jenis pohon
Proses mencari data untuk pengklasifikasian jenis tanaman, kemudian dianalisa data yang dibutuhkan untuk pengklasifikasian jenis pohon. • Pengumpulan data jenis pohon
Mengumpulkan jenis pohon yang akan dimasukkan dalam basis data. • Mendeskripsikan dan mengidentifikasi jenis pohon yang dipilih
berdasarkan klasifikasi yang telah ditentukan.
b. Tahap pengambilan dan pengumpulan data dan informasi pohon (survey) c. Tahap penentuan rancangan (struktur) basis data
• Penentuan data input yang akan dihimpun dalam basis data.
• Proses membangun basis data dengan menggunakan FileMaker Pro 7. d. Tahap pemasukan data dan pengelolaan basis data
• Proses pemasukan data dalam FileMaker Pro 7 sesuai dengan sifat dan jenis data yang diklasifikasikan
• Proses pengelolaan/pengaturan basis data (basis data dan tampilan pengguna)
e. Tahap pembahasan
• Proses pembahasan dan analisa mengenai data pohon, basis data, dan manfaatnya.
Klasifikasi Obyek
Obyek dalam studi ini berupa pohon koleksi Kebun Raya Bogor yang dikelompokkan berdasarkan pengklasifikasian secara botani pada takson tingkat familia, lokasi pohon di Kebun Raya Bogor, klasifikasi botani-lanskap (sifat morfologi, karakteristik, sifat ekologi, dan fungsi) dan klasifikasi umum (daya tarik estetis, manfaat/penggunaan, dan lingkungan tumbuh) (Gambar 7). Pengelompokan ini digunakan sebagai data atribut yang diinput dalam basis data.
Klasifikasi Botani-Lanskap
Sifat-sifat morfologi yang harus diperhatikan dalam mendeskripsikan pohon menurut Tjitrosoepomo (2001) (Gambar 9), dibedakan berdasarkan morfologi biji (Tabel 10), morfologi buah (Gambar 11), morfologi bunga (Gambar 12), morfologi daun (Gambar 13), morfologi batang (Gambar 14), dan morfologi akar (Gambar 15). Setiap sifat morfologi dibedakan menjadi beberapa kriteria seperti warna, jumlah, bentuk, dan Iain-lain.
Gambar 6. Metode Studi Penyusunan Basis Data Pohon Kebun Raya Bogor Pengumpulan Data
Jenis Pohon
Tahap Penentuan Rancangan (Struktur) Basis Data
Tahap Pengambilan dan Pengumpulan Data dan Informasi Pohon (Survey)
Tahap Studi Pustaka Mengenai Deskripsi dan
Klasifikasi Pohon
Mendeskripsikan dan Mengidentifikasi Jenis Pohon Menganalisa Klasifikasi
Jenis Pohon
Tahap Pemasukan Data dan Pengelolaan Basis Data
Tahap Pembahasan
Carpenter et al. (1975) mengklasifikasikan karakter tanaman (pohon) berdasarkan bentuk, ukuran, tekstur, dan warna. Lebih lanjut karakteristik pohon diklasifikasikan menjadi bentuk pertumbuhan, bentuk tajuk, tinggi pohon, diameter tajuk, tekstur, aroma, dan asal tanaman (Carpenter, 1975 dan Grey & Deneke, 1978) (Gambar 16).
Eckbo (1956) mengklasifikasikan sifat ekologi tanaman (pohon) berdasarkan toleransi terhadap suhu (temperatur), toleransi terhadap air (kelembaban), toleransi terhadap cahaya, toleransi terhadap tanah (pH), toleransi angin, toleransi terhadap pemangkasan (pemeliharaan), dan toleransi terhadap hama dan penyakit (Gambar 17).
Grey dan Deneke (1978) mengklasifikasikan fungsi pohon menjadi fungsi memperbaiki iklim (amelioration uses), fungsi pembentuk ruang (arsitektural), fungsi memperbaiki fungsi lingkungan (engineering), fungsi estetis, dan fungsi lain; dimana fungsi-fungsi tersebut diklasifikasikan lagi menjadi fungsi-fungsi yang lebih terperinci untuk setiap jenis pohon (Gambar 18).
Klasifikasi Umum
Wee (2003) dan Steenis (1978) mengklasifikasikan pohon ke dalam klasifikasi yang lebih umum dikenal masyarakat. Klasifikasi umum tersebut dibedakan menjadi pohon dengan daya tarik estetis, manfaat/penggunaan, dan lingkungan tumbuh (Gambar 19).
Daya tarik estetis pohon mencakup bunga menarik, dahan dan daun bercorak, aroma harum, buah menarik, serta unik dan tak lazim (Wee, 2003); pengelompokan berdasarkan manfaat/penggunaan mencakup pohon peneduh (Steenis, 1978), pohon buah, penarik satwa, pohon kayu, rempah, beverages, dan biji-bijian-bijian, sayuran, dan manfaat umum (Wee, 2003); sedangkan pengelompokan berdasarkan lingkungan tumbuh mencakup tepi jalan, pohon dalam park/garden, lingkungan tumbuh basah hingga tergenang (hygrofit), mangrove, pantai pasir, dan tanaman ruderal (keterbatasan lingkungan tumbuh) (Steenis, 1978).
Gambar 7. Model Klasifikasi Pohon Kebun Raya Bogor Tanaman Koleksi Kebun Raya Bogor
Familia
Species (Nama Botani, Nama
Umum, Lokasi di KRB, Foto) Pohon Klasifikasi Umum Klasifikasi Botani-Lanskap ▪Sifat Morfologi ▪Karakteristik ▪Sifat Ekologi ▪Fungsi
▪Daya Tarik Estetis ▪Manfaat/Pengunaan ▪Lingkungan Tumbuh ▪Morfologi Biji ▪Morfologi Buah ▪Morfologi Bunga ▪Morfologi Daun ▪Morfologi Batang ▪Morfologi Akar ▪Bentuk Pertumbuhan ▪Bentuk Tajuk ▪Tinggi Pohon ▪Diameter Tajuk ▪Tekstur ▪Aroma ▪Asal Tanaman ▪Amelioration ▪Arsitektural ▪Engineering ▪Estetis ▪Lainnya Fungsi Sifat Morfologi Karakteristik
Klasifikasi Botani-Lanskap Sifat Ekologi ▪Toleransi Suhu ▪Toleransi Air ▪Toleransi Cahaya ▪Toleransi pH ▪Toleransi Angin ▪Toleransi HPT ▪Toleransi Ketinggian ▪Tingkat Pemeliharaan
Sifat Morfologi
Morfologi Batang Morfologi
Daun Morfologi Akar Morfologi
Buah Morfologi Bunga
Gambar 9. Model Klasifikasi Sifat Morfologi Pohon Morfologi
Biji
Morfologi Biji
Jenis Biji
▪Biji Terbuka (Gymnospermae) ▪Biji Tertutup (Angiospermae) ▪Tidak Berbiji
Gambar 10. Model Klasifikasi Morfologi Biji
Gambar 12. Model Klasifikasi Morfologi Bunga Warna Bunga Letak Bunga
Jumlah Bunga
Morfologi Bunga
▪Berbunga Tunggal
▪Berbunga Banyak ▪Ujung Batang ▪Ketiak Daun ▪Pangkal ▪Cabang Batang ▪Merah ▪Putih ▪Lainnya Morfologi Buah Jenis Buah ▪Buah Semu ▪Buah Sejati ▪Tidak Berbuah
Morfologi Daun Bentuk Daun ▪Bulat ▪Memanjang ▪Jorong ▪Lanset ▪Perisai ▪Bulat Telur ▪Lainnya
Tulang Daun Tepi Daun Warna Daun Ujung Daun Permukaan Daun ▪Menyirip ▪Menjari ▪Melengkung ▪Sejajar ▪Lainnya ▪Runcing ▪Meruncing ▪Tumpul ▪Membulat ▪Rampang ▪Terbelah ▪Berduri ▪Rata ▪Bergerigi ▪Bergiri ▪Beringgit ▪Berlekuk ▪Berombak ▪Lainnya ▪Hijau Tua ▪Hijau ▪Merah ▪Lainnya ▪Licin ▪Berkerut ▪Berbulu ▪Bersisik ▪Lainnya
Gambar 13. Model Klasifikasi Morfologi Daun
Morfologi Batang
Bentuk Batang Permukaan Batang Percabangan
▪ Bulat ▪ Persegi ▪ Pipih ▪ Licin ▪ Kasar ▪ Beralur ▪ Bersisik ▪ Berduri ▪ Lainnya ▪ Monopodial ▪ Simpodial ▪ Dikotom
Gambar 14. Model Klasifikasi Morfologi Batang
Gambar 15. Model Klasifikasi Morfologi Akar Morfologi Akar ▪Akar Udara ▪Akar Pembelit ▪Akar Nafas ▪Akar Tunjang ▪Akar Lutut ▪Akar Banir ▪Akar Tunggang ▪Akar Serabut Modifikasi Akar Sistem Perakaran
Fungsi
Memperbaiki
Iklim Engineering Uses
Fungsi
Arsitektural Fungsi Estetis
▪Mengontrol Erosi ▪Mengurangi Kebisingan ▪Mengontrol Jalan ▪Kontrol Visual ▪Mengurangi Polusi ▪Kontrol Suhu ▪Kontrol Angin ▪Kontrol Kelembaban ▪Membentuk Dinding ▪Membentuk Ruang ▪Kontrol Privasi ▪Pembatas ▪Pengarah ▪Memberi Naungan ▪Membingkai View ▪Melunakkan Garis Arsitektural ▪Menyatukan Elemen Lanskap ▪Melunakkan Setting Kaku Fungsi Lainnya ▪Indikator Sejarah ▪Habitat Satwa Liar ▪Upacara Adat/Agama
Gambar 18. Model Klasifikasi Fungsi Pohon Bentuk Tajuk Tinggi Pohon Diameter Tajuk Tekstur Asal Pohon Aroma Karakteristik Bentuk Pertumbuhan ▪Deciduous ▪Evergreen ▪Palem ▪Bambu ▪Irregular ▪V-shape ▪Horisontal ▪Piramidal ▪Berkolom ▪Bulat ▪Menjurai ▪Kubah ▪Palmate ▪3-6 m ▪6-15 m ▪>15 m ▪<6 m ▪6-15 m ▪>15 m ▪Kasar ▪Halus ▪Indonesia ▪Introduksi ▪Ada ▪Tidak Ada
Gambar 16. Model Klasifikasi Karakteristik Pohon
Gambar 17. Model Klasifikasi Sifat Ekologi Pohon Toleransi
Air Toleransi Cahaya Toleransi pH Toleransi Angin Toleransi HPT PemeliharaanTingkat
Sifat Ekologi Toleransi Suhu ▪Rendah ▪Tinggi ▪Rendah- Tinggi ▪Kering ▪Lembab ▪Kering- Lembab ▪Naungan ▪Setengah Naungan ▪Terbuka ▪Asam ▪Netral ▪Basa ▪Asam- Basa ▪Rendah ▪Tinggi ▪Peka ▪Cukup ▪Tahan ▪Intensif ▪Tidak ▪Intensif Toleransi Ketinggian ▪Rendah ▪Rendah- Tinggi
Identifikasi Klasifikasi Obyek
Obyek dalam studi ini berupa pohon koleksi Kebun Raya Bogor. Identifikasi jenis pohon merupakan syarat untuk klasifikasi-klasifikasi selanjutnya. Identifikasi jenis pohon tersebut ditunjukkan pada Tabel 1.
Tabel 1. Identifikasi Pemilihan Pohon
Obyek Identifikasi
Pohon Koleksi Kebun Raya Bogor • Habitusnya berupa pohon
• Keberadaannya merupakan koleksi Kebun Raya Bogor
Sumber: Danimihardja, S. dan Djumadi N. (Eds.) (1985) dan basis data koleksi Kebun Raya Bogor
Kebun Raya Bogor dikelompokkan menjadi bagian-bagian yang kemudian dikelompokkan kembali menjadi petak-petak. Setiap bagian ditandai dengan angka romawi dan setiap petak ditandai dengan huruf; keduanya dituliskan pada tonggak kecil di tepi suatu bagian. Lokasi pohon di Kebun Raya Bogor diidentifikasikan berdasarkan bagian-bagian dan petak-petak (vak) tersebut (Gambar Lampiran 1).
Identifikasi Klasifikasi Botani-Lanskap
Klasifikasi sifat morfologi pohon diidentifikasikan berdasarkan morfologi biji, morfologi buah, morfologi bunga, morfologi daun, morfologi batang, dan morfologi akar. Morfologi biji dan buah masing-masing diidentifikasikan berdasarkan jenis biji dan jenis buah (Tabel 2).
▪Bunga Menarik ▪Dahan dan Daun Bercorak
▪Aroma Harum ▪Buah Menarik ▪Unik dan Tak Lazim
▪Pohon Peneduh ▪Pohon Buah ▪Penarik Satwa ▪Pohon Kayu ▪Rempah, Beverages, dan Biji-bijian ▪Sayuran ▪Manfaat Umum Daya Tarik Estetis Manfaat/Penggunaan
Klasifikasi Umum Lingkungan Tumbuh ▪Tepi Jalan ▪Park/Garden ▪Basah hingga Tergenang ▪Mangrove ▪Pantai Pasir ▪Ruderal
Tabel 2. Identifikasi Morfologi Biji dan Buah
Sifat Morfologi Identifikasi
A. Morfologi Biji (Jenis Biji) 1. Biji Terbuka (Gymnospermae) 2. Biji Tertutup (Angiospermae)
• Kulit biji terdiri dari dua lapisan yaitu lapisan kulit luar dan kulit dalam
• Kulit biji terdiri dari tiga lapisan yaitu lapisan kulit luar, kulit tengah, dan kulit dalam B. Morfologi Buah (Jenis Buah)
1. Buah Semu
2. Buah Sejati
• Buah bukan berasal dari bakal buah, tetapi dari bagian-bagian bunga lainnya seperti tangkai bunga, tandan bunga, dasar bunga dan kelopak bunga
• Buah berasal dari bakal buah Sumber: Tjitrosoepomo (2001)
Klasifikasi morfologi bunga diidentifikasikan berdasarkan jumlah bunga, letak bunga, dan warna bunga. Identifikasi morfologi bunga berdasarkan jumlah bunga dan letak bunga ditunjukkan pada Tabel 3, sedangkan identifikasi morfologi bunga berdasarkan warna bunga dibedakan berdasarkan warna yang telah dikenal umum.
Tabel 3. Identifikasi Morfologi Bunga Berdasarkan Jumlah Bunga dan Letak Bunga
Morfologi Bunga Identifikasi
1. Jumlah Bunga
a. Berbunga Tunggal
b. Berbunga Majemuk • Dalam satu pohon hanya terdapat satu bunga • Dalam satu pohon terdapat lebih dari satu bunga 2. Letak Bunga
a. Ujung Batang b. Ketiak Daun c. Pangkal Cabang d. Batang
• Bunga tumbuh di ujung batang • Bunga tumbuh di ketiak daun • Bunga tumbuh di pangkal cabang • Bunga tumbuh pada batang Sumber: Tjitrosoepomo (2001)
Klasifikasi morfologi daun diidentifikasikan berdasarkan bentuk daun (Gambar 20), jumlah daun (Tabel 4) (Gambar 21), tulang daun (Gambar 22), ujung daun (Gambar 23), tepi daun (Gambar 24), warna daun (dibedakan berdasarkan warna yang telah dikenal umum), dan permukaan daun (Tabel 5).
Tabel 4. Identifikasi Morfologi Daun Berdasarkan Jumlah Daun Morfologi Daun Berdasarkan
Jumlah Daun
Identifikasi
Daun Tunggal Hanya terdapat satu helaian daun pada tangkai daunnya
Daun Majemuk • Tangkainya bercabang-cabang
• Helaian daun terdapat pada cabang tangkai • Terdapat lebih dari satu helaian daun pada
tangkai daunnya Sumber: Tjitrosoepomo (2001)
Gambar 21. Morfologi Daun Majemuk (Sumber: Tjitrosoepomo, 2001) Gambar 20. Morfologi Bentuk Daun (Sumber: Tjitrosoepomo, 2001)
Tabel 5. Identifikasi Morfologi Daun Berdasarkan Permukaan Daun Morfologi Daun
Berdasarkan Permukaan Daun
Identifikasi
Licin Permukaan daun mengkilat, suram atau berselaput lilin
Gundul Permukaan daun tidak mengkilat Kasap Permukaan daun apabila disentuh akan
terasa kasar
Berkerut Permukaan daun terlihat berkerut Berbulu Permukaan daun apabila disentuh akan
Gambar 22. Morfologi Tulang Daun (Sumber: Tjitrosoepomo, 2001)
Gambar 23. Morfologi Ujung Daun (Sumber: Tjitrosoepomo, 2001)
terasa berbulu
Bersisik Permukaan terlihat bersisik Sumber: Tjitrosoepomo (2001)
Klasifikasi morfologi batang diidentifikasikan berdasarkan bentuk batang (Tabel 6), permukaan batang (Gambar 25) dan percabangan (Tabel 7) (Gambar 26).
Tabel 6. Identifikasi Morfologi Batang Berdasarkan Bentuk Batang Morfologi Batang
Berdasarkan Bentuk Batang
Identifikasi
Bulat Bentuk penampang melintang batang berbentuk bulat
Persegi • Bentuk penampang melintang batang berbentuk segi tiga, dan atau
• Bentuk penampang melintang batang berbentuk segi empat
Pipih Bentuk penampang melintang batang melebar menyerupai daun dan mengambil alih fungsi daun Sumber: Tjitrosoepomo (2001)
Tabel 7. Identifikasi Morfologi Batang Berdasarkan Percabangan Morfologi Batang
Berdasarkan Bentuk Percabangan
Identifikasi
Monopodial Batang pokok selalu tampak jelas, karena lebih besar dan lebih panjang daripada cabang-cabangnya
Simpodial Batang pokok sukar ditentukan
Dikotom/Menggarpu Cara percabangan dimana batang setiap kali menjadi dua cabang
Sumber: Tjitrosoepomo (2001)
Klasifikasi morfologi akar diidentifikasikan berdasarkan sistem perakaran (Tabel 8) (Gambar 27) dan modifikasi akar (Gambar 28).
Tabel 8. Identifikasi Morfologi Akar Berdasarkan Sistem Perakaran Morfologi Akar
Berdasarkan Sistem Percabangan
Identifikasi
Akar Tunggang Akar lembaga tumbuh terus menjadi akar pokok yang bercabang-cabang menjadi akar yang lebih kecil
Akar Serabut Akar lembaga dalam perkembangan selanjutnya mati atau kemudian disusul oleh sejumlah akar yang kurang lebih sama besar dan semuanya keluar dari pangkal batang
Sumber: Tjitrosoepomo (2001)
Gambar 26. Morfologi Percabangan (Sumber: Tjitrosoepomo, 2001)
Klasifikasi Karakteristik pohon dalam basis data ini diidentifikasikan berdasarkan bentuk pertumbuhan (Tabel 9), bentuk tajuk (Tabel 10) (Gambar 29), tinggi pohon, diameter pohon, tekstur pohon (Tabel 11), aroma, perbanyakan, dan asal pohon.
Tabel 9. Identifikasi Karakteristik Pohon Berdasarkan Bentuk Pertumbuhan Karakteristik Pohon
Berdasarkan Bentuk Pertumbuhan
Identifikasi
Pohon Gugur Daun (Deciduous) Pada waktu tertentu dapat menggugurkan daunnya
Pohon Evergreen Berdaun sepanjang tahun
Palem • Memiliki akar serabut
• Memiliki bentuk tajuk palmate
Bambu • Memiliki bentuk batang bulat dan permukaan batang licin
• Bentuk daun pedang
Tabel 10. Identifikasi Karakteristik Pohon Berdasarkan Bentuk Tajuk Karakteristik Pohon
Berdasarkan Bentuk Tajuk
Identifikasi
Tidak Beraturan (Irregular) Bentuk pohon terlihat tidak teratur, percabangan tidak teratur
Kipas (V-Shape) Bentuk pohon berbentuk seperti kipas, semakin ke bawah, semakin mengecil
Horisontal Percabangan horisontal
Piramid Bentuk pohon semakin ke atas semakin mengecil seperti bangun kerucut Berkolom Bentuk pohon dari atas sampai bawah
sama besar membentuk tabung atau silinder
Bulat Bentuk pohon bulat
Menjurai (Weeping) Arah percabangan melengkung ke bawah Gambar 28. Morfologi Modifikasi Akar Pohon (Sumber: Tjitrosoepomo, 2001)
sehingga bentuknya seperti memayung Kubah Bentuk pohon setengah lingkaran
Tabel 11. Identifikasi Karakteristik Pohon Berdasarkan Tekstur Pohon Karakteristik Pohon
Berdasarkan Tekstur Pohon
Identifikasi
Tekstur Kasar • Daun lebar/besar, jarak antar daun berjauhan dan atau,
• Daun kecil, menempel rapat, dan kaku
Tekstur Halus • Daun kecil, berlekuk dalam, letak rapat dan atau,
• Daun mengkilap, panjang Sumber: Carpenter et al. (1975)
Klasifikasi sifat ekologi pohon dalam basis data ini diidentifikasikan berdasarkan toleransi suhu, toleransi kelembaban, toleransi cahaya, toleransi pH tanah, toleransi angin, tingkat pemeliharaan, dan toleransi hama dan penyakit tanaman. Identifikasi sifat ekologi pohon ditunjukkan pada Tabel 12.
Tabel 12. Identifikasi Sifat Ekologi Pohon
Sifat Ekologi Pohon Identifikasi
A. Toleransi Suhu 1. Rendah
2. Tinggi
• Pohon masih dapat tumbuh pada suhu rendah
• Suhu terendah hingga 5OC (Molisch (1896) dalam Levitt (1980))
• Pohon masih dapat tumbuh pada suhu tinggi
• Suhu tertinggi hingga 40OC (Levitt, 1980)
B. Toleransi Kelembaban 1. Kering
2. Lembab
• Pohon masih dapat tumbuh pada kelembaban kering
• Kelembaban relatif hingga 0,49% (Levitt, 1972)
• Pohon masih dapat tumbuh pada Gambar 29. Bentuk Tajuk Pohon (Sumber: Carpenter et al., 1975)
kelembaban lembab
• Kelembaban relatif hingga mendekati 100% (Levitt, 1980)
C. Toleransi Cahaya 1. Naungan
2. Setengah Naungan 3. Terbuka
• Pertumbuhan pohon optimum pada daerah yang ternaungi
• Pohon memerlukan intensitas cahaya sedang
• Pertumbuhan pohon optimum pada daerah yang terkena cahaya matahari langsung D. Toleransi pH Tanah 1. Asam 2. Basa 3. Netral 4. Asam-Basa
• pH tanah berkisar antara 0-7 • pH tanah berkisar antara 7-14 • pH tanah 7
• pH tanah berkisar antara 0-14 E. Toleransi Angin
1. Tinggi 2. Rendah
• Perakaran dan percabangan kuat • Perakaran tidak kuat dan percabangan
lemah F. Tingkat Pemeliharaan
1. Intensif 2. Tidak Intensif
• Pemeliharaan rutin; pohon peka terhadap HPT
• Pemeliharaan tidak rutin; pohon tahan terhadap HPT
G. Toleransi Hama dan Penyakit 1. Peka
2. Tahan
• Pohon rentan terhadap perubahan iklim