• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kondisi Umum Penelitian

Kondisi Umum Penelitian

Lokasi penelitian berada di tiga lokasi yang berbeda : lokasi pertama di Tasikmalaya bagian selatan tepatnya di Desa Salawu, Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya. Desa Salawu memilki ketinggian 600 m dpl (di atas permukaan laut) dengan curah hujan 3434 mm / tahun, suhu udara rata – rata siang dan malam 26 0C. Lokasi kedua di Kabupaten Subang bagian barat yang berada pada ketinggian 10 m dpl, dengan curah hujan 3211 mm / tahun, kelembaban udara antara 40 – 60% dan suhu udara rata – rata 30 – 35 0C (siang hari) dan 22 – 28 0C (malam hari). Lokasi ketiga berada di Kabupaten Kuningan yang berada pada ketinggian 120 – 222 m dpl, dengan curah hujan 1827 mm / tahun, suhu rata – rata bulanan berkisar antara 18 – 32 0C (Bakosurtanal 2007).

Kondisi pertanaman padi yang diamati berada pada stadia vegetatif, berumur 14 HST, 25 – 30 HST dan 25 – 54 HST. Pada saat pengambilan sampel. tanaman yang diamati berada pada kondisi baik, tidak terserang hama maupun penyakit. Keadaan lokasi pengamatan di Kabupaten Kuningan dikelilingi oleh sawah dan sebelah selatan dibatasi oleh sungai, sedangkan di Kabupaten Tasikmalaya dan Subang lokasi pengamatan dikelilingi oleh sawah.

Masalah Hama Tanaman Padi

Beberapa hama yang ditemukan saat pengamatan langsung dan hasil wawancara dengan petani serta menjadi masalah di lahan persawahan mereka diantaranya di Kabupaten Subang adalah : wereng cokelat (Nilavarpata lugens) (Hemiptera : Delphacidae), tikus (R. rattus argentiventer), pengggerek batang padi (Scircophaga spp.) (Lepidoptera: Pyralidae), walang sangit (Leptocorisa

oratorius) (Hemiptera : Alydidae) dan belalang (Oxya sp) (Orthoptera :

Acrididae). Sedangkan di Kabupaten Kuningan hama yang menjadi masalah utama adalah hama putih palsu (Cnaphalocrocis medinalis) (Lepidoptera: Pyralidae) dan tikus (R. rattus argentiventer). Di Desa Salawu (Kabupaten Tasikmalaya) permasalahan hama dan penyakit bukan kendala utama, umumnya

para petani di sana tidak melakukan penyemprotan pestisida, mereka lebih mementingkan masalah pemberia n pupuk. Namun hama tikus (R. rattus

argentiventer) kadang – kadang menyerang.

Kelimpahan Cendawan Endofit

Kelimpahan dan keragaman cendawan endofit dalam mengkolonisasi inang dipengaruhi oleh beberapa faktor diantarnya perbedaan varietas inang tanaman, lokasi pengambilan sampel, curah hujan serta aspek budidayanya. Faktor - faktor tersebut akan menggambarkan tinggi rendahnya tingkat kolonisasi suatu cendawan endofit di pertanaman. Selain itu, dominasi spesies yang mengkolonisasi inang akan berbeda dari masing- masing pengambilan sampel (Petrini 1992).

Pada penelitian ini lima varietas sampel tanaman padi yang diisolasi memiliki perbedaan dalam mengkolonisasi inang. Perbedaan kolonisasi total cendawan endofit dapat dilihat pada Tabel 1. Varietas Sumedang memiliki presentase kolonisasi yang tinggi yaitu 100% yang diikuti oleh varietas IR 64 66,67%, Ciherang 64,10%, Pandan Wangi 33,33% dan Cianjur 22,22%. Hal ini menunjukkan bahwa pada varietas lokal / lokasi memiliki kelimpahan yang tinggi dibandingkan dengan varietas non lokal / lokasi. Varietas IR 64 termasuk varietas yang mempunyai tingkat kolonisasi cendawan endofit tinggi daripada varietas Ciherang, Pandan Wangi maupun Cianjur, karena IR 64 termasuk varietas pertama yang dilepas ke lahan pertanian, jadi memiliki umur tanaman yang cukup lama dibandingkan ketiga varietas lainnya.

Lokasi pengambilan sampel mempengaruhi kolonisasi cendawan endofit. Pada Tabel 2 diketahui bahwa tanaman padi asal Subang mempunyai persentase kolonisasi cendawan endofit 61,90% yang diikuti oleh padi asal Tasikmala ya 60,61% dan Kuningan 52,38%. Tingginya tingkat kolonisasi cendawan endofit menunjukkan dominasi cendawan endofit mengkolonisasi inang padi, tetapi tidak menunjukkan keragaman spesies. Jumlah spesies cendawan endofit yang tinggi berasal dari tanaman padi Tasikmalaya.

16

Persebaran Kolonisasi Cendawan Endofit

Tingkat persebaran kolonisasi cendawan endofit tiap varietas (Gambar 1) menunjukkan bahwa pada verietas IR 64 terdapat empat spesies cendawan endofit yang mendominasi yaitu Nigrospora sp, Aspergillus sp, Penicillium sp 2 dan

Monilia sp; pada varietas Ciherang didominasi spesies Nigrospora sp, Aspergillus

sp dan Sporobolomyces sp; sedangkan pada varietas Sumedang didominasi spesies

Nigrospora sp, Monilia sp dan Mastigosporium sp; untuk varietas Cianjur

didominasi spesies Monocillium sp dan Aspergillus sp; sedangkan pada varietas Pandan Wangi varietas yang mendominasi yaitu Penicillium sp 1.

Tingkat persebaran spesies cendawan endofit tiap lokasi (Gambar 2) menunjukkan bahwa persebaran tiga spesies cendawan endofit yang mendominasi padi di Kabupaten Tasikmalaya yaitu cendawan endofit Aspergillus sp,

Nigrospora sp dan Monocillium sp; di Kabupaten Kuningan didominasi oleh

Nigrospora sp, Aspergillus sp dan Penicillium sp 2; sedangkan di Kabupaten

Subang didominasi oleh Nigrospora sp, Sporobolomyces sp dan Aspergillus sp.

Dominasi Spesies

Presentase kelimpahan cendawan endofit pada lima varietas inang padi juga menunjukkan adanya dominasi spesies cendawan endofit yang mengkolonisasi. Pada Gambar 3 persentase kolonisasi tiga spesies cendawan yang mendominasi ialah Nigrospora sp sebesar 20,26% yang diikuti oleh Monilia sp 8,89%, dan

Aspergillus sp 8,03%.

Perbedaan lokasi pengambilan sampel menunjukkan dominasi spesies cendawan endofit yang berbeda - beda. Pada Gambar 4 rata – rata tiga spesies cendawan endofit yang mendominasi ialah Nigrospora sp sebesar 16,74% yang diikuti oleh Aspergillus sp13 % dan Sporobolomyces sp 7,36%.

Cendawan Nigrospora sp diketahui sebagai cendawan patogen benih pada tanaman padi, tetapi bukan termasuk patogen yang menimbulkan kerusakan berarti pada padi. Cendawan ini dapat hidup sebagai saprofit dan parasit. Cendawan Aspergillus sp diketahui menghasilkan toksin (aflatoksin) sehingga mampu menyebabkan keracunan pada hama. Cendawan Monilia sp diketahui

11,11 17,95 11,11 33,33 11,11 11,11 16,67 17,95 66,67 33,33 11,11 10,26 33,33 0 10 20 30 40 50 60 70 80

IR 64 Ciherang Sumedang Cianjur Pandan Wangi

Varietas

Persentase Kolonisasi

Aspergillus Cephalosporium Curvularia Fusarium Gilmaniella Mastigosporium Monillia Monocillium Nigrospora Penicillium 1 Penicillium 2 Pyricularia

Sh 4 Sh 6 Sporobolomyces Trichoconis 15,15 14,29 9,52 9,09 12,12 19,05 19,05 9,52 9,52 19,05 0 5 10 15 20 25

Tasikmalaya Kuningan Subang

Lokasi

Persentase Kolonisasi

Aspergillus Cephalosporium Curvularia Fusarium Gilmaniella Mastigosporium Monillia Monocillium Nigrospora Penicillium 1 Penicillium 2 Pyricularia Sh 4 Sh 6 Sporobolomyces Trichoconis

dapat hidup pada makanan seperti oncom maupun tempe sehingga dikenal jamur oncom. Cendawan Sporobolomyces diketahui berperan sebagai saprofit.

Gambar 1 Persentase persebaran kolonisasi cendawan endofit pada lima varietas padi

Gambar 2 Persentase persebaran kolonisasi cendawan endofit pada tiga lokasi di Jawa Barat

18 8,034 0,512 1,624 1,026 0,512 6,666 8,888 4,36 20,25 8 6,666 2,734 0,512 1,624 1,112 3,164 1,112 0 5 10 15 20 25 Aspergillus Cephalosporium Curvularia Fusa rium Gilmaniella Mastigosporium Monillia

Monocillium NigrosporaPenicillium 1 Penicillium 2 Pyricularia

Sh 4 Sh 6

Sporo bolom

yces Trichoconis

Spesies Cendawan Endofit

Persentase Kolonisasi 1,01 16,74 1,01 1,01 1,01 7,36 1,59 4,18 3,17 6,2 2,6 1,59 4,18 2,6 1,59 13 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 Aspergillus Ceph alosp orium

Curvularia Fusarium Gilmaniella Mastigosporium

Monillia

Monocillium Nigrospora Penicillium 1 Penicillium 2 Pyricularia

Sh 4 Sh 6

Sporo bolom

yces Trichoconis

Spesies Cendawan Endofit

Persentase Kolonisasi

Gambar 3 Persentase rata – rata kolonisasi cendawan endofit pada lima varietas padi

Gambar 4 Persentase rata – rata kolonisasi cendawan endofit pada tiga lokasi di Jawa Barat

Keragaman Cendawan Endofit dan Varietas

Persebaran cendawan endofit tersebar secara horizontal, masing – masing inang tanaman dikolonisasi oleh propagul cendawan yang berasal dari lingkungan. Persebaran cendawan endofit mungkin disebabkan oleh angin dan vektor. Cendawan endofit mengkolonisasi beberapa bagian dari tanaman. Masing – masing cendawan endofit mempunyai jarak fisik, kimia, dan infeksi dengan jaringan inang tanaman. Keragaman tinggi dari fenolik dan tanaman resisten berasosiasi dengan persentase cendawan endofit. Sebagai contoh banyak asosiasi antar patogen potensial dalam suatu inang yang sama. Presentase endofit dan proliferasi endofit terus menerus dalam jaringan (Redlin dan Carris 1996).

Pada penelitian ini, varietas dari tanaman padi mempunyai pengaruh dalam keragaman cendawan endofit di alam. Terdapat 51 isolat spesies cendawan endofit yang ditemukan, 49 isolat telah diidentifikasi, sedangkan dua isolat hanya mengeluarkan hifa steril sehinga sulit untuk diidentifkasi. Dari Tabel 5 lampiran

terlihat bahwa jumlah cendawan endofit yang mengkolonisasi pada empat varietas tanaman padi berbeda-beda. Varietas Ciherang lebih tinggi daripada IR 64, Sumedang, Cianjur, dan pandan wangi. Sama halnya dengan jumlah spesies cendawan endofit yang mengkolonisasi, varietas Ciherang lebih tinggi daripada keempat varietas lainnya.

Untuk mengetahui keragaman cendawan endofit dari tiap varietas yang diambil maka digunakan indeks keragaman (H’) Shanon-Wiener (Maguran 1987). Dari Tabel 1 diketahui bahwa indeks keragaman cendawan endofit varietas IR 64 lebih besar yaitu 2,2111 yang diikuti oleh varietas Ciherang 1,8832, Sumedang 1,0397 dan Cianjur 0,6931. Varietas Pandan Wangi mempunyai indeks keragaman 0, karena hanya 1 spesies yang ditemukan. Pada Varietas IR 64 meskipun jumlah spesies yang ditemukan lebih kecil dari pada Ciherang, tetapi spesies cendawan endofit yang mengkolonisasi lebih beragam atau tingkat kolonisasi spesies cendawan endofit lebih tinggi daripada Ciherang.

20 Tabel 1 Jumlah spesies dan indeks keragaman cendawan endofit pada lima

varietas padi

Varietas Jumlah Spesies Indeks Keragaman (H’) S Kolonisasi Total (%) IR 64 10 2,2111 66,67 Ciherang 11 1,8832 64,10 Sumedang 3 1,0397 100 Cianjur 2 0,6931 22,22 Pandan Wangi 1 0 33,33

Keragaman Cendawan Endofit dan Lokasi

Keberadaan endofit tergantung dari inang tanaman selama terpenuhi syarat nutrisi dan kondisi lingkungan (Petrini 1996). Variasi keragaman cendawan dalam mengkolonisasi suatu inang spesifik mungkin berasosiasi dengan lokasi, iklim dan umur daun. Cendawan berkembang di daerah yang memilki kelembaban tinggi, sehingga memasuki musim hujan rata-rata petani sangat khawatir oleh serangan cendawan patogen. Petrini (1992) menemukan bahwa keragaman dan kelimpahan cendawan endofit di pegunungan Alpen sangat tinggi. Selain itu, penutupan salju abadi menyebabkan kelembaban tinggi, hal ini mendukung perkembangan cendawan. Keragaman cendawan endofit tidak memiliki pola yang jelas dalam persebaran tiap tempat, kacau dan ukuran sampel yang terlalu kecil untuk diidentifikasi perbedaan hubungan inang dalam kolonisasi cendawan endofit (Cannon dan Simmons 2002).

Jumlah cendawan endofit dan spesies cendawan endofit yang mengkolonisasi tanaman padi di Tasikmalaya, Kuningan dan Subang berbeda. Tabel 6 lampiran diketahui bahwa sebanyak 51 isolat cendawan endofit yang ditemukan, padi asal Tasikmalaya memiliki jumlah cendawan endofit yang paling tinggi yaitu 21 isolat yang diikuti oleh Subang 16 isolat, dan Kuningan 14 isolat. Selain itu, keragaman jumlah spesies cendawan yang mengkolonisasi juga berbeda, yang paling tinggi di Kabupaten Tasikmalaya yaitu 12 isolat yang diikuti oleh Subang dan Kuningan masing - masing 8 isolat.

Untuk mengetahui keragaman cendawan endofit dari tiga lokasi pengambilan sampel digunakan indeks keragaman (H’) Shanon-Wiener (Maguran 1987). Dari Tabel 2 diketahui bahwa indeks keragaman cendawan endofit di Tasikmalaya lebih tinggi yaitu 2,2403 yang diikuti oleh Kuningan 1,9085 dan

Subang 1,9062. Di Tasikmalaya, jumlah cendawan endofit yang mengkolonisasi tanaman sangat tinggi dan lebih beragam spesies cendawan endofit yang mengkolonisasinya.

Tabel 2 Jumlah spesies dan indeks keragaman cendawan endofit tanaman padi hasil isolasi dari tiga lokasi di Jawa Barat

Asal Tanaman Jumlah Spesies

Indeks Keragaman (H’) S Kolonisasi Total (%) Tasikmalaya 12 2,2403 60,61 Kuningan 8 1,9085 52,38 Subang 8 1,9062 61,90

Kelimpahan, Keragaman Cendawan Endofit dan Budidaya

Aspek budidaya seperti pemberian pupuk dan penyemprotan pestisida merupakan bagian dari usaha – usaha dalam peningkatan produksi tanaman. Pemberian pupuk dan penyemprotan pestisida akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman, karena zat – zat kimia yang terkandung dalam pupuk maupun pestisida akan masuk dalam jaringan tanaman dan ikut dalam metabolisme tanaman.

Cendawan endofit merupakan cendawan yang hidup dalam jaringan tanaman, sehingga hidupnya tidak terlepas dari pengaruh metabolisme inang tanaman. Cendawan endofit hidup dalam inang tanaman dan menempati bagian – bagian organ tanaman seperti daun, bunga, batang, ranting, percabangan, xylem, akar, maupun benih. Dalam inang tanaman, cendawan endofit berasosiasi dengan aktivitas metabolisme tanaman sehingga hubungan antara inang dan cendawan endofit bisa berkompetisi, antagonis dan mutualisme.

Adanya hubungan antara cendawan endofit dengan inang tanaman ini mengakibatkan adanya pengaruh budidaya terhadap keragaman dan kelimpahan cendawan endofit di pertanaman. Dari hasil survei di lapangan, petani di Kabupaten Tasikmalaya yang tidak melakukan penyemprotan pestisida ternyata keragaman dan kelimpahan cendawan endofit sangat tinggi, dari jumlah sampel yang diambil, 21 isolat diperoleh dari tanaman padi asal Tasikmalaya yang diikuti Subang 16 isolat dan Kuningan 14 isolat.

22

Kelimpahan, Keragaman Cendawan Endofit dan Curah Hujan

Curah hujan (mm) merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir. Curah hujan 1 (satu) millimeter, artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter. Zona Prakiraan Iklim (ZPI) adalah daerah yang pola hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode musim kemarau dan musim hujan. Daerah-daerah yang pola hujan rata-ratanya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara periode musim kemarau dan musim hujan, disebut Non ZPI. Luas suatu wilayah ZPI tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan. Dengan demikian, satu wilayah ZPI bisa terdiri dari beberapa Kabupaten, dan sebaliknya satu wilayah Kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZPI (BMG 2007).

Dari Tabel rata – rata curah hujan (Tabel 8 lampiran) dapat diketahui bahwa Kabupaten Tasikmalaya termasuk daerah yang memilki curah hujan yang tinggi dibandingkan dengan Kabupaten Subang maupun Kuningan. Pada penelitian ini, isolat yang didapatkan dari Kabupaten Tasikmalaya paling tinggi yaitu 21 isolat, sedangkan dari Kabupaten Subang ada 16 isolat dan Kabupaten Kuningan 14 isolat. Dari Kabupaten Tasikmalaya keragaman spesies cendawan endofit tinggi yaitu 12 spesies cendawan endofit, sedangkan dari Kabupaten Kuningan dan Subang ada 8 spesies yang ditemukan.

Dari data tofografi ya itu ketinggian tempat, Kabupaten Tasikmalaya termasuk daerah dataran tinggi sedangkan Kabupaten Subang dan Kuningan termasuk dataran rendah. Selain itu, dari data curah hujan (Tabel 8 lampiran) Kabupten Tasikmalaya memiliki curah hujan 3434 mm / tahun, sedangkan Kuningan dan Subang berturut – turut 1827 mm / tahun dan 3211 mm / tahun. Dari data ketinggian dan curah hujan tersebut diketahui bahwa Kabupaten Tasikmalaya termasuk daerah bulan basah sedangkan Kabupaten Kuningan dan Subang termasuk bulan kering. Petrini (1992) menyatakan bahwa tingginya kolonisasi cendawan endofit berkorelasi positif dengan ketinggian dan kondisi lingkungan suatu tempat.

Peranan Cendawan Endofit

Pada penelitian ini belum dilakukan kajian terhadap peran cendawan endofit yang ditemukan pada tanaman padi tersebut. Namun penelitian – penelitian sebelumnya menunjukkan peranan yang penting dari cendawan endofit terhadap pengendalian hama dan penyakit tumbuhan. Pada saat pengambilan sampel di lapangan hampir tidak ada kejadian hama dan penyakit pada pertanaman padi. Hasil kolonisasi cendawan endofit pada tanaman padi asal Tasikmalaya memperlihatkan kelimpahan dan keragaman yang tinggi, ini mungkin yang menyebabkan rendahnya serangan OPT pada pertanaman padi, sehingga petani tidak melakukan aplikasi pestisida. Selain itu, pada saat pengambilan sampel, hampir tidak ditemukan wereng cokelat di pertanaman padi. Tingginya tingkat kolonisasi cendawan endofit mampu mengurangi serangan hama, seperti pada tanaman barley yang mampu mengurangi serangan hama

Phenacoccussolani (Homoptera : Pseudococcidae) dan Shipa maydis (Homoptera

: Aphididae) (Sabzalian et al 2004).

Beberapa cendawan endofit dalam mengkolonisasi inang bersifat sebagai antimikroba dan menghasilkan enzim. Antimkroba berarti mampu melawan kehadiran dari mikroorganisme, seperti bakteri dan Candida albicans (yeast). Menurut Maria et al (2001) cendawan endofit dari genus Aspergillus sp,

Fusarium, Nigrospora, Penicillium dan Alternaria berperan sebagai penghasil

antimikroba. Cendawan endofit yang bisa berperan sebagai penghasil enzim diantaranya dari genus Aspergillus, Fusarium dan Alternaria. Cendawan endofit yang bersifat enzimatik mampu mendegradasi struktur patogen dan melindungi inang (Sinaga 2003).

Isolasi cendawan endofit dari tana man gandum, diantaranya Acremonium

spp., A. Strictum dan Neotyphodium coenophialum bersifat antagonis terhadap

patogen akar tanaman gandum seperti Fusarium culmorum dan F. graminearum. Cendawan endofit tersebut memproduksi melanin yang mampu mengurangi pertumbuhan cendawan patogen akar tanaman gandum (Tunali dan Marshall 1995)

Kehadiran cendawan endofit pada inang dan berasosiasi dengan inang mampu mengendalikan beberapa patogen. Cendawan endofit spesies Acremonium

24

coenophialum yang berasosiasi pada akar tanaman mampu mengurangi populasi

nematoda patogen seperti Helicotylenchus dihystera dan Paratrichodorus minor, beberapa spesies cendawan endofit lain mampu mengurangi nematoda patogen

Pratylenchus scribneri dan Tylenchorhynchus acutus. Beberapa cendawan endofit

juga mampu mengurangi populasi molusca / hama siput seperti yang diisolasi dari alga Entomorpha vexata mampu mengurangi populasi siput Littorina scutulata. Filtrat media cendawan endofit Acremonium yang diisolasi dari tanaman rumput

Balansia spp mampu mengurangi cendawan patogen seperti Rhizoctonia cerealis,

R. solani, Fusarium oxysporum dan Alternaria triticina (Clay 1992). Cendawan

endofit spesies Chaetomium sp dan Phoma sp dapat mengurangi jumlah pustul dan luas serangan daun pada gandum yang disebabkan oleh Puccinia recondita

f.sp. tritici (Dingle dan Mc Gee 2003). Informasi lain sebanyak 65% cendawan endofit dari tanaman durian di Queensland mampu menekan pertumbuhan

Kesimpulan

Perbedaan varietas dan lokasi pengambilan sampel menghasilkan variasi kolonisasi cendawan endofit yang beragam, persentase kolonisasi varietas Sumedang 100%, varietas IR 64 66,67%, Ciherang 64,10%, Pandan Wangi 33,33% dan Cianjur 22,22%. Berdasarkan lokasi sampel kolonisasi cendawan endofit yang paling tinggi berasal dari tanaman padi asal Subang 61,90%, diikuti Tasikmalaya 60,61% dan Kuningan 52,38%. Tanaman padi asal Tasikmalaya mempunyai jumlah kolonisasi dan spesies cendawan endofit paling tinggi yaitu 21-12, Kuningan 14-8 dan Subang 16-8. Berdasarkan varietas, kolonisasi cendawan endofit dan jumlah spesies tertinggi yaitu varietas Ciherang 28-11, IR-64 15-10, Sumedang 4-3, Cianjur 2-2 dan pandan wangi 2-1. Keragaman cendawan endofit paling tinggi terdapat pada varietas IR 64 dan berdasarkan lokasi keragaman spesies cendawan endofit paling tinggi di Kabupaten Tasikmalaya yang dipengaruhi oleh tingginya curah hujan dan tidak dilakukan aplikasi pestisida pada tanaman padi. Cendawan endofit yang paling sering mengkolonisasi pelepah batang padi pada penelitian ini ialah Nigrospora sp.

Saran

Saat ini, penelitian mengenai eksplorasi cendawan endofit padi belum banyak, sehingga penelitian ini bisa dilanjutkan untuk mengetahui peranan masing- masing cendawan endofit terhadap tanaman padi maupun hubungannya dengan tanaman dan serangga atau organisme lainnya. Informasi mengenai peranan masing–masing cendawan endofit sangat penting dala m penemuan agens hayati pengendali hama dan penyakit tanaman padi.

Dokumen terkait