• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kondisi Umum

Dalam dokumen KAJIAN EKONOMI KEUANGAN REGIONAL (Halaman 39-44)

BAB 2. PERKEMBANGAN INFLASI DAERAH

1. Kondisi Umum

Setelah pada triwulan sebelumnya tekanan inflasi terjadi akibat adanya kenaikan permintaan bertepatan dengan hari libur keagamaan, nasional dan libur sekolah, serta persiapan bulan Ramadhan, pada triwulan III 2014 tekanan inflasi Kalimantan Selatan relatif berkurang. Realisasi inflasi triwulan tersebut tercatat sebesar 4,80% (yoy) atau 0,87% (qtq) lebih rendah bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 6,83% (yoy) atau 2,39% (qtq). Penurunan tekanan inflasi tersebut terjadi akibat hilangnya pengaruh kenaikan BBM bersubsidi pada tahun sebelumnya dan sebagai bagian dari proses normalisasi permintaan pada mekanisme stok rumah tangga.

Selain dipengaruhi oleh hilangnya pengaruh kenaikan harga BBM bersubsidi pada tahun sebelumnya, turunnya tekanan inflasi pada triwulan III 2014 juga didorong oleh penurunan inflasi pada kelompok bahan makanan, sandang, serta transportasi dan komunikasi. Membaiknya pasokan lokal komoditas pangan strategis serta normalisasi tingkat permintaan menjadi penyebab terjadinya deflasi pada kelompok bahan makanan. Selain itu, rendahnya curah hujan pada bulan

Bab 2 – Perkembangan Inflasi Daerah

Kajian Ekonomi Keuangan Regional Kalimantan Selatan Triwulan III 2014 24

September juga meningkatkan pasokan beberapa komoditas buah - buahan dan ikan segar yang berasal dari Kalimantan Selatan.

Sumber: BPS Kalsel, data diolah

Grafik 2.1. Inflasi Tahunan Kalimantan Selatan, Kalimantan dan Nasional

Pada triwulan III 2014, koreksi harga terjadi pada sejumlah komoditas pangan strategis seperti semangka, bawang merah, cabai merah, tomat sayur, udang basah, daging ayam ras, dan ikan gabus. Selain komoditas bahan makanan, koreksi harga juga terjadi pada komoditas sandang dan tiket pesawat. Penurunan tekanan inflasi pada kedua komoditas tersebut terjadi seiring dengan menurunnya permintaan musiman bertepatan dengan berlalunya perayaan Idul Fitri.

Tabel 2.1. Tingkat Inflasi dan Sumbangan Inflasi Tahunan menurut Kelompok

Meksipun demikian, tekanan inflasi yang meningkat pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau menjadi penahan penurunan inflasi di Kalimantan Selatan. Tekanan inflasi pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau lebih disebabkan karena adanya penyesuaian peningkatan biaya produksi terutama kenaikan tarif tenaga listrik (TTL) industri. Selain itu, peningkatan tekanan inflasi juga terjadi pada kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar. Hal ini terutama karena adanya kenaikan harga bahan bakar LPG 12Kg dan kenaikan tarif tenaga listrik (TTL) di sektor rumah tangga. Berdasarkan hasil Survei Pemantauan Harga (SPH), kenaikan harga LPG 12 kg pada level pengecer dapat mencapai Rp21.000 - Rp22.000 per tabung (kenaikan resmi dari Pertamina sebesar Rp1.500/kg atau Rp18.000 per tabung). Hal tersebut diikuti

6,83 4,80 7,57 5,06 6,70 4,53 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III

2010 2011 2012 2013 2014

Kalsel Kalimantan Nasional

Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III Umum 5,2 4,7 7,07,1 4,9 6,8 5,24,8 4,7 7,1 7,0 6,84,9 0,2

Bahan Makanan 8,3 6,7 9,911,8 6,4 11,0 5,6 1,82,3 3,3 2,8 2,31,3 (0,7) Mamin, Rokok & Tembakau 7,7 6,7 6,1 5,6 6,7 7,2 7,4 1,61,8 1,4 1,3 1,81,6 0,9 Perumahan, Air, Listrik, Gas & Bahan Bakar 3,7 3,8 4,4 6,2 2,3 3,8 4,2 0,80,8 0,9 1,2 0,80,5 0,6 Sandang 0,8 (0,8)(1,3) 1,0(2,3) 0,9 (1,0) 0,1 (0,1) (0,1) (0,2) 0,10,1 (0,2) Kesehatan 4,3 4,2 3,32,4 2,4 3,9 0,19,4 0,1 0,1 0,1 0,20,1 0,1 Pendidikan, Rekreasi & Olah Raga 3,0 3,4 2,42,1 2,1 2,2 0,13,7 0,2 0,1 0,1 0,10,1 1,3 Transportasi & Komunikasi 0,8 2,9 12,411,1 7,6 10,6 2,2 0,40,1 1,6 1,8 1,81,2 (0,4)

Sumbangan Inflasi yoy 2014

Kelompok Barang 2013 2013

Inflasi yoy

2014

Kajian Ekonomi Keuangan Regional Kalimantan Selatan Triwulan III 2014 25

dengan peningkatan permintaan LPG 3 kg karena adanya konsumen LPG 12 kg yang beralih menggunakan LPG 3 kg.

Peningkatan tekanan inflasi juga terjadi pada kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga yang dipicu oleh kenaikan tarif perguruan tinggi dan akademi. Hal ini terjadi karena beberapa perguruan tinggi dan akademi di Kalimantan Selatan ini baru menerapkan peraturan SE Dirjen Dikti No. 972/E/KU/2013 pada Februari 2013 tentang penerapan UKT (Uang Kuliah Tunggal) dan penghapusan pemberlakuan uang pangkal bagi mahasiswa baru program S1 Reguler. Sesuai dengan penerapan UKT tersebut, tarif pendidikan utama yang dibebankan kepada mahasiswa akan disusun berdasarkan tarif berjenjang dan subsidi sesuai dengan kondisi ekonomi mahasiswa.

Sumber: BPS Kalsel, data diolah

Grafik 2.2. Inflasi (qtq) Sub Kelompok Bahan Makanan

Sumber: BPS Kalsel, data diolah

Grafik 2.3. Inflasi (qtq) Sub Kelompok Pendidikan, Rekreasi, dan Olahraga

Sumber: BPS Kalsel, data diolah

Grafik 2.4. Inflasi Bulanan Kalimantan Selatan

Sumber: BPS Kalsel, data diolah

Grafik 2.5. Inflasi Bulanan Kalimantan Selatan Berdasarkan Kelompok Pengeluaran di TW III-2014

Bila dilihat secara bulanan, inflasi Kalimantan Selatan selama bulan Juli, Agustus, dan September 2014 masih berada di tengah rentang tingkat inflasi bulanan selama 5 tahun terakhir. Pada bulan Agustus 2014, inflasi berada di level terendah selama 5 tahun terakhir (0,01%, mtm) dan di bawah tingkat inflasi nasional (0,47%, mtm). Koreksi harga terjadi pada beberapa kelompok barang yang permintaannya tinggi pada bulan sebelumnya bertepatan dengan perayaan Idul Fitri

0,76 ‐0,28 ‐0,35 0,53 1,04 0,81 0,69 0,01 0,02 ‐1,00 ‐0,50 0,00 0,50 1,00 1,50 2,00 2,50 3,00 3,50 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 %, mtm Bulan 2012 2013 2014 max 5 tahun min 5 tahun ‐0,72 0,87 0,55 ‐0,24 0,14 1,34 ‐0,36 ‐4,00‐3,00‐2,00‐1,000,001,002,003,004,005,006,00 Bahan Makanan Makanan Jadi, Minuman, Rokok &  Tembakau Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan  Bakar Sandang Kesehatan Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuanga Sep Agust Jul

Bab 2 – Perkembangan Inflasi Daerah

Kajian Ekonomi Keuangan Regional Kalimantan Selatan Triwulan III 2014 26

seperti: tarif angkutan udara, kelompok bumbu-bumbuan (bawang merah dan bawang putih), serta aneka daging dan hasilnya. Perbaikan terhadap pasokan kebutuhan pokok serta kondisi fundamental makroekonomi yang lebih baik pasca berlangsungnya pemilihan umum presiden tahun 2014 menyebabkan tingkat inflasi yang rendah pada Agustus 2014. Triwulan III 2014 ditutup pada tingkat inflasi bulanan sebesar 0,02% setelah sebelumnya diprediksi terjadi penurunan harga pada beberapa kelompok barang berlanjut di September 2014 hingga menyebabkan deflasi.

Perkembangan Inflasi Menurut Kota

Jika dilihat berdasarkan kota, inflasi triwulan III 2014 untuk Kota Banjarmasin tercatat sebesar 4,67% (yoy), menurun bila dibandingkan dengan triwulan II 2014 yang tercatat sebesar 6,81% (yoy). Sedangkan untuk Kota Tanjung pada periode laporan tercatat mengalami inflasi sebesar 6,54% (yoy) yang juga menurun bila dibandingkan dengan periode sebelumnya (7,01%, yoy). Tingkat inflasi Kota Banjarmasin pada bulan Juli 2014 tercatat sebesar 0,69% (mtm) atau 5,23% (yoy). Peningkatan harga berbagai komoditas pangan strategis dan tiket angkutan udara seiring dengan tingginya permintaan ketika Ramadhan hingga Idul Fitri menjadi kontributor utama inflasi pada bulan tersebut. Komoditas pangan strategis yang mengalami kenaikan harga meliputi daging ayam ras, bawang merah, telur ayam ras, dan beras. Kemudian pada bulan Agustus 2014 tercatat inflasi sebesar 0,02% (mtm) atau 3,93% (yoy). Koreksi harga terjadi pada kelompok bahan makanan, kelompok sandang, serta kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan. Inflasi di akhir triwulan III 2014 untuk Kota Banjarmasin berada pada level 0,18% (mtm) atau 4,67% (yoy) dengan adanya peningkatan tekanan pada kelompok bahan makanan dan kelompok makanan, minuman, rokok dan tembakau.

Tabel 2.2. Tingkat Inflasi Kota Banjarmasin bulanan (mtm) dan tahunan (yoy) menurut Kelompok

Sementara itu, tekanan inflasi di Kota Tanjung terjadi pada awal periode laporan dan akhir periode laporan. Pada bulan Juli 2014 inflasi di Kota Tanjung tercatat sebesar 0,40% (mtm) atau 7,47 (yoy). Pada bulan tersebut bertepatan dengan bulan Ramadhan dan perayaan Idul Fitri, seluruh jenis kelompok barang mengalami inflasi. Sejumlah komoditas pangan strategis yang naik

Jul Agt Sep Jul Agt Sep

Umum 0,69 0,02 0,18 5,23 3,93 4,67

1 Bahan Makanan (0,59)2,10 (0,79) 8,04 2,25 5,08

2 Mamin, Rokok & Tembakau 0,640,86 0,90 7,21 7,25 7,45 3 Perumahan, Air, Listrik, Gas & Bahan Bakar 0,730,22 0,54 3,86 4,28 4,34

4 Sandang (0,18)0,64 (0,25) 1,77 0,18 (1,39)

5 Kesehatan 0,14 5,54 0,11 3,70 9,40 9,44 6 Pendidikan, Rekreasi & Olah Raga (0,04) 1,341,08 2,13 2,25 3,40 7 Transportasi & Komunikasi (0,16) (2,98) (0,40) 3,86 1,33 2,13

Tw III-2014 (mtm) Tw III-2014 (yoy)

Kelompok Barang No

Kajian Ekonomi Keuangan Regional Kalimantan Selatan Triwulan III 2014 27

tajam pada bulan tersebut meliputi beras, kacang panjang, ikan nila, dan daging ayam kampung. Barang lain yang mengalami kenaikan tajam yaitu baju muslim dan emas.

Daya tarik permintaan dipastikan menjadi faktor utama pendorong inflasi di Kota Tanjung meski tingkat inflasi tidak sebesar di Kota Banjarmasin. Kemudian pada bulan Agustus Kota Tanjung justru mengalami deflasi meskipun di Banjarmasin terjadi inflasi. Tercatat pada bulan tersebut kota Tanjung mengalami deflasi sebesar 0,12% (mtm) atau 6,87% (yoy). Hal tersebut karena permintaan yang berkurang pasca perayaan Idul Fitri langsung terjadi di bulan berikutnya, tercermin dari kontribusi deflasi terbesar berasal dari kelompok bahan makanan (inflasi -1,26%, mtm) dan tarif angkutan (inflasi -0,02%, mtm). Di akhir triwulan III 2014, inflasi Kota Tanjung tercatat sebesar 0,42% (mtm) atau 6,54% (yoy). Seluruh kelompok barang mengalami inflasi dengan kontribusi terbesar berasal dari kelompok bahan bakar rumah tangga (LPG) sebesar 1,39% (mtm) dan kelompok tarif pendidikan sebesar 2,54% (mtm).

Tabel 2.3. Tingkat Inflasi Kota Tanjung bulanan (mtm) dan tahunan (yoy) menurut Kelompok

Sumber: BPS Kalsel, data diolah

Pemerintah Daerah dan pihak terkait melalui TPID di Kalimantan Selatan telah melakukan berbagai upaya untuk menjaga tingkat harga dan pasokan komoditas pangan strategis selama bulan Ramadan dan persiapan Idul Fitri tahun 2014. Operasi pasar dilakukan secara serentak di seluruh kabupaten dan kota sebelum Ramadhan sampai menjelang hari raya. Potensi inflasi pada tarif angkutan udara juga lebih dapat diredam karena mayoritas masyarakat telah memesan tiket angkutan udara (pesawat) sejak jauh-jauh hari (tercatat bahwa pembelian tiket pesawat mencapai puncaknya di bulan Juni 2014). Kemudian memasuki Agustus 2014 sejumlah harga pangan strategis yang pada bulan sebelumnya sempat naik namun masih dalam tingkat yang wajar, terkoreksi dengan laju penurunan yang lebih cepat di Kota Tanjung. Selanjutnya pada bulan September 2014, inflasi Kalimantan Selatan tercatat sebesar 0,02% (mtm) atau 4,80 (yoy). Setelah sebelumnya diprediksi tren penurunan harga akan berlanjut setelah melewati Agustus 2014, inflasi Kalimantan Selatan pada bulan September 2014 dipicu oleh kenaikan tarif pendidikan (perguruan tinggi), makanan jadi, dan administered prices yaitu kenaikan harga bahan bakar LPG nonsubsidi sebesar Rp. 1.500/kg.

Jul Agt Sep Jul Agt Sep

Umum (0,12)0,40 7,470,42 6,87 6,54

1 Bahan Makanan 0,11 (1,26) 0,26 11,91 10,28 11,78

2 Mamin, Rokok & Tembakau 0,300,34 0,42 7,67 7,91 6,56

3 Perumahan, Air, Listrik, Gas & Bahan Bakar 0,130,16 0,70 5,02 5,02 2,90

4 Sandang 0,011,62 (0,09) 4,84 4,85 4,76

5 Kesehatan 0,480,07 0,48 9,03 8,92 9,44

6 Pendidikan, Rekreasi & Olah Raga 1,692,43 1,33 5,40 6,83 8,25

7 Transportasi & Komunikasi 0,21 (0,02) 0,20 4,59 2,32 2,52

Bab 2 – Perkembangan Inflasi Daerah

Kajian Ekonomi Keuangan Regional Kalimantan Selatan Triwulan III 2014

Dalam dokumen KAJIAN EKONOMI KEUANGAN REGIONAL (Halaman 39-44)

Dokumen terkait