• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kondisi Umum Perumahan Johor Permai, Citra Wisata,

a. Perumahan Johor Permai

Perumahan Johor Permai terletak di Kelurahan Gedung Johor Kecamatan Medan Johor dengan ketinggian tempat 46 mdpl. Perumahan ini

didirikan pada tahun 1984. Asal usul lahan sebelumnya merupakan lahan perkebunan dan persawahan. Kayu yang digunakan sebagai bahan konstruksi didominasi oleh kayu meranti, disamping ada beberapa yang menggunakan kayu sembarang. Tidak ada tindakan pengawetan terhadap kayu konstruksi yang dilakukan sebelum rumah didirikan .Lingkungan perumahan terdiri dari rawa-rawa berair dan perladangan masyarakat.

b. Perumahan Citra Wisata

Perumahan Citra Wisata terletak di Kelurahan Pangkalan Masyur Kecamatan Medan Johor. Perumahan ini didirikan pada tahun 2000 dengan ketinggian tempat 47 mdpl. Pada awalnya lahan perumahan Citra Wisata merupakan perladangan masyarakat yang kemudian dibangun perumahan. Perlakuan pengawetan tidak dilakukan terhadap konstruksi kayu. Kayu konstruksi didominasi oleh kayu meranti. Disekitar perumahan Citra Wisata merupakan lahan kosong.

c. Perumahan Pemda I

Perumahan Pemda I terletak di Kelurahan Sempakata Kecamatan Medan Selayang dengan ketinggian 40 mdpl. Perumahan ini didirikan pada tahun 1980. Awalnya perumahan Pemda I merupakan lahan perkebunan yang kemudian dibangun perumahan. Perlakuan pengawetan tidak dilakukan terhadap konstruksi kayu. Kayu konstruksi didominasi oleh kayu meranti, walaupun ada beberapa komponen yang terbuat dari kayu sembarang, damar dan merbau seperti pada pintu dan jendela. Disekitar perumahan merupakan lahan kosong dan ladang masyarakat.

d. Perumahan Insan Citra Griya

Perumahan Insan Citra Griya terletak di Kelurahan Padang Bulan Selayang I Kecamatan Medan Selayang. Perumahan ini didirikan pada tahun 2002 dengan ketinggian 37 mdpl. Asal usul lahan perumahan ini merupakan lahan persawahan. Lingkungan sekitar perumahan Insan Citra Griya masih merupakan areal persawahan. Kayu yang digunakan sebagai bahan konstruksi didominasi oleh kayu sembarang dan tidak ada tindakan pengawetan yang dilakukan terhadap konstruksi kayu.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Rumah Contoh

Hasil penelitian karakteristik umur bangunan, luas bangunan, tipe bangunan rumah contoh yang berada di lokasi penelitian tercantum pada Tabel 1.

Tabel 1. Karakteristik Umur Bangunan, Luas Bangunan, Tipe Bangunan Rumah Contoh DiWilayah Kecamatan Medan Johor Dan Kecamatan Medan Selayang. Karakteristik Rumah Contoh Kecamatan Medan Johor (%) Kecamatan Medan Selayang (%) Umur (tahun) a) 1 - 5 b) 6 - 10 c) 11 – 15 d) Lebih dari 15 1,66 50,00 3,33 45,00 11,66 38,33 6,66 43,33 Luas Bangunan (m2) a) 54 b) 70 c) 100 d) 120 10,00 35,00 6,66 48,33 43,33 53,33 0 3,33 Tipe a) Permanen b) Semi Permanen 100,00 0 100,00 0

Penelitian dilakukan pada dua kecamatan yaitu kecamatan Medan Johor dan Kecamatan Medan Selayang. Untuk kecamatan Medan Johor rumah contoh yang paling banyak diteliti adalah yang berumur 6 – 10 tahun yaitu sebesar 50 %, sedangkan untuk kecamatan Medan Selayang adalah yang berumur lebih dari 15 tahun yaitu 43,33 %. Umur rumah dapat menentukan tingkat serangan rayap yang menyerang rumah tersebut. Biasanya, semakin tua bangunan rumah maka keawetan

konstruksi kayu yang ada didalamnya cenderung menurun sehingga kemungkinan untuk terserang rayap akan semakin besar. Tetapi belum tentu rumah yang berumur lebih tua memiliki kerusakan yang lebih besar dibandingkan dengan rumah yang berumur lebih muda. Sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan bahwa pada perumahan Insan Citra Griya yang berumur lebih muda dibandingkan perumahan Pemda I memiliki kerusakan yang lebih besar, sebagaimana tercantum pada Tabel 6. Faktor - faktor lain yang dapat mempengaruhi kerusakan akibat serangan rayap seperti jenis kayu yang digunakan, kondisi bio fisik tapak bangunan, dan faktor lain yang dapat mendukung perkembangan hidup rayap. Jenis kayu yang secara alami tahan terhadap serangan rayap walaupun tidak tahan secara mutlak sangat sedikit jumlahnya dan kondisi bio fisik tapak bangunan dapat mendorong perkembangan hidup rayap (Nandika, 2003).

Besar kecilnya rumah contoh menggambarkan luas bangunannya dan banyaknya bagian-bagian rumah yang terbuat dari kayu. Rumah besar cendrung memiliki konstruksi kayu yang lebih banyak daripada rumah yang berukuran kecil. Semakin besar volume kayu yang terdapat di dalam satu unit rumah maka semakin besar peluang untuk terserang rayap. Akan tetapi, hal ini juga tergantung dengan jenis kayu yang digunakan serta faktor-faktor fisik yang mendukung lingkungan untuk perkembangan hidup rayap.

Tipe rumah juga berpengaruh terhadap serangan rayap. Pada rumah permanen komponen yang terbuat dari kayu lebih sedikit dibandingkan rumah semi permanen, sehingga kemungkinan terserang rayap lebih kecil. Dalam penelitian ini rumah yang menjadi sampel adalah 120 rumah dan seluruhnya merupakan tipe permanen.

Tabel 2. Karakteristik Sumber Air, Drainase Rumah Contoh Di Wilayah Kecamatan Medan Johor Dan Kecamatan Medan Selayang.

Karakteristik Rumah Contoh Kecamatan Medan Johor (%) Kecamatan Medan Selayang (%) Sumber air a) Sumur b) PAM - 100,00 - 100,00 Drainase a) Lancar b) Agak lancar c) Tidak lancar 70,00 30,00 - 63,33 36,66 -

Karakteristik bangunan lain yang diteliti adalah sumber air dan drainase. Sumber air yang digunakan masyarakat untuk kegiatan sehari – hari dapat mempengaruhi kelembaban lingkungan rumah. Salah satu faktor lingkungan yang dapat mendukung perkembangan hidup rayap adalah kelembaban suatu daerah (Nandika, 2003). Hasil pengamatan yang dilakukan bahwa dari 120 rumah contoh seluruhnya menggunakan air PAM sebagai sumber air untuk kegiatan sehari – hari (Tabel 2 ). Rumah contoh yang sumber airnya berasal dari sumur biasa cenderung memiliki kelembaban yang lebih tinggi. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Hasibuan (2007) yang menyatakan bahwa rumah yang sumber airnya berasal dari sumur memiliki kerugian akibat serangan rayap lebih besar dibandingkan rumah yang sumber airnya berasal dari PAM. Faktor kelembaban ini akhirnya akan mengundang rayap untuk datang yang selanjutnya akan mengambil makanan berupa konstruksi kayu yang berada di dalam rumah tersebut.

Drainase dapat mempengaruhi kelembaban tanah, karena drainase yang tidak lancar atau tersumbat dapat menyebabkan tanah menjadi lembab. Kelembaban tanah

yang tinggi sangat disukai oleh rayap, terutama rayap tanah. Pada Kecamatan Medan Johor didapat sebesar 70% dari rumah contoh memiliki drainase lancar dan 30% dari rumah contoh memiliki drainase agak lancar. Sedangkan pada Kecamatan Medan Selayang didapat sebesar 63,33% dari rumah contoh memiliki drainase lancar dan 33,33% dari rumah contoh memiliki drainase agak lancar. Secara keseluruhan drainase pada rumah contoh sudah cukup baik karena sudah menggunakan paralon dan tidak ada drainase yang tidak lancar. Hal ini disebabkan adanya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan disekitar rumah. Menurut hasil wawancara yang dilakukan apabila ada saluran yang tersumbat maka akan segera dilakukan perbaikan karena dapat menimbulkan bau yang tidak sedap dan mempengaruhi kebersihan lingkungan rumah.

Tabel 3. Karakteristik Kepadatan Pemukiman, Penerimaan Sinar Matahari, Pembuangan Sampah Pada Lokasi Rumah Contoh Di Wilayah Kecamatan Medan Johor Dan Kecamatan Medan Selayang.

Karakteristik Rumah Contoh Kecamatan Medan Johor (%) Kecamatan Medan Selayang (%) Kepadatan Pemukiman a) Rapat ( ≤ 1 m ) b) Sedang ( 2 – 5 m) c) Jarang ( ≥ 6 m ) 100,00 - - 100,00 - -

Penerimaan Sinar Matahari

a) Cukup b) Sedang c) Kurang - 25,00 75,00 - 40,00 60,00 Pembuangan Sampah a) Lubang Sampah b) Dinas Kebersihan 40,00 60,00 46,66 53,33

Karakteristik rumah contoh lain yang berpengaruh terhadap serangan rayap adalah kepadatan pemukiman, penerimaan sinar matahari, dan pembuangan sampah seperti terlihat pada Tabel 3. Rumah contoh yang diteliti merupakan bangunan perumahan yang rapat antara satu rumah dengan rumah yang lain. Kerapatan rumah ini menyebabkan kurangnya cahaya matahari yang masuk kedalam rumah sehingga hal ini akan berdampak pada kelembaban udara dalam rumah. Penerimaan sinar matahari yang diterima suatu daerah juga berpengaruh pada perkembangbiakan rayap (Safaruddin, 1994). Rayap memiliki sifat kriptobiotik, yaitu tidak menyenangi cahaya dan cenderung menghindari cahaya, mereka hidup dalam tanah dan bila akan invasi mencari objek makanan juga menerobos di bagian dalam, bila perlu logam tipis dan tembok (apalagi plastik) ditembusinya dan bila terpaksa berjalan dipermukaan terbuka, mereka membentuk liang kembara dari bahan tanah atau humus (Nandika, 2003). Oleh karena itu rumah yang kurang cahaya dan lembab rentan terhadap serangan rayap. Hal ini sesuai pada perumahan Insan Citra Griya yang berumur 6 – 10 tahun tetapi sudah terserang rayap.

Hasil pengamatan diperoleh data 60% dan 53,33% dari 60 rumah contoh di wilayah Kecamatan Medan Johor dan Kecamatan Medan Selayang membuang sampah di penampungan sampah yang telah di sediakan pemerintah Kota Medan maupun penampungan sampah yang dibuat sendiri oleh masyarakat dan selanjutnya akan diangkut oleh mobil pengangkut sampah yang telah disediakan pemerintah Kota Medan. Hal ini menggambarkan bahwa sebagian masyarakat di lokasi penelitian telah peduli dengan kebersihan lingkungan di sekitarnya. Bahkan tidak di dapat lagi masyarakat yang membuang sampah ke dalam kali. Hal ini penting untuk dilakukan

mengingat bahwa tempat pembuangan sampah yang tidak terawat akan dapat menimbulkan kelembaban tanah didalamnya, apalagi kalau terdapat sisa-sisa kayu yang tidak terpakai. Kondisi ini jelas akan mengundang rayap untuk datang untuk selanjutnya menginvasi rumah yang berada disekitarnya.

Tabel 4. Karakteristik Jenis Atap Serta Jenis Kayu Yang Digunakan Rumah Contoh Di Wilayah Kecamatan Medan Johor Dan Kecamatan Medan Selayang. Karakteristik Rumah Contoh Kecamatan Medan Johor (%) Kecamatan Medan Selayang (%) Jenis Atap a) Seng c) Genteng 21,66 78.33 26,66 73.33

Jenis Kayu Yang Digunakan a) Damar b) Merbau c) Meranti d.) Kayu Lain-Lain 8,33 11,66 63,33 16,66 3,33 6,66 36,66 53,33

Pada Tabel 4 diketahui sebagian besar rumah contoh yang menggunakan genteng sebagai penutup atap rumah mereka, yaitu 78,33% untuk Kecamatan Medan Johor dan 73,33% untuk Kecamatan Medan Selayang. Biasanya kerusakan akibat serangan rayap pada plafon dan lisplang disebabkan adanya kebocoran pada atap. Bila atap bocor maka rembesan air hujan masuk kedalam dan menyebabkan kayu menjadi lembab. Kondisi kayu yang lembab ini sangat disukai oleh rayap. Sehingga rayap akan mulai menyerang plafon dan lisplang. Atap yang terbuat dari seng biasanya lebih mudah bocor dibandingkan dengan atap yang terbuat dari genteng. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang atap rumahnya banyak terbuat dari genteng, maka kerugian akibat serangan rayap tidak begitu besar. Lain halnya dengan

penelitian yang dilakukan Hasibuan (2007), dimana rumah contoh atapnya banyak terbuat dari seng yang mengalami kerugian akibat serangan rayap lebih besar.

Sebagian besar perumahan di kota Medan masih menggunakan kayu kurang awet sebagai bahan baku konstruksi rumah. Hal ini dilakukan untuk mengurangi biaya pembangunan rumah mengingat harga kayu awet sangat mahal. Hasil wawancara yang dilakukan dengan pemborong bangunan yang ada dilokasi penelitian menyatakan bahwa untuk membangun perumahan hanya menggunakan kayu sembarang atau kayu meranti. Harga kayu awet seperti damar dan merbau sangat mahal, sehingga apabila menggunakan kayu awet maka biaya konstruksi rumah akan membengkak sedangkan masyarakat cenderung membeli rumah dengan harga yang murah. Perlakuan pengawetan terhadap kayu untuk konstruksi rumah juga jarang dilakukan karena memakan biaya yang tidak sedikit.

Perumahan Insan Citra Griya didominasi oleh kayu sembarang sebagai konstruksi rumah, walaupun ada beberapa masyarakat yang mengganti komponen rumah menjadi kayu merbau. Kayu merbau biasanya digunakan untuk pintu, khususnya pintu depan. Hal ini menyebabkan perumahan Insan Citra Griya sangat mudah terserang rayap. Dari keempat perumahan yang diteliti, perumahan ini mengalami kerugian akibat serangan rayap terbesar (Tabel 5).

Perumahan Johor Permai, Citra Wisata dan Pemda I didominasi oleh kayu meranti sebagai konstruksi rumah. Kayu meranti merupakan kayu kelas awet III-IV, sehingga ketahanannya terhadap serangan rayap tidak terlalu baik dibandingkan dengan kayu yang memiliki kelas awet yang lebih tinggi seperti kayu damar dan merbau. Kayu tahan rayap sangat sedikit jumlahnya, sebagian besar adalah kayu

kurang awet sehingga disukai oleh rayap (Nandika,2003). Oleh karena itu, untuk meningkatkan ketahanan kayu tidak awet tindakan pengawetan kayu sangat diperlukan. Menteri Pekerjaan Umum pada tahun 1988 menerbitkan surat keputusan yang menyatakan bahwa kayu-kayu kelas awet tiga ke atas harus diawetkan. Dari hasil wawancara yang dilakukan tidak satupun dari ketiga perumahan yang melakukan tindakan pengawetan kayu untuk konstruksi rumah. Masyarakat belum menyadari pentingnya tindakan pengawetan sebelum kayu digunakan sebagai bahan konstruksi rumah. Masyarakat hanya melakukan pengecatan setahun sekali terhadap komponen rumah. Bila terjadi kerusakan terhadap komponen rumah akibat serangan rayap maka masyarakat akan mengganti komponen rumah yang rusak dengan kayu merbau atau damar yang memiliki keawetan lebih baik. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan pemilik rumah yang menyatakan bahwa bangunan rumah mereka sudah banyak dilakukan renovasi. Bila diamati bangunan rumah di ketiga perumahan sudah berbeda dengan bangunan asli pada saat awal perumahan tersebut dibangun (Gambar 1). Hal ini dikarenakan sudah dilakukan renovasi dan perbaikan terhadap komponen yang rusak.

Gambar 1. Bangunan Asli Dan Bangunan Yang Sudah Direnovasi Pada Perumahan Johor Permai

Penanggulangan bahaya rayap harus dimulai pada tahap prakonstruksi untuk

mencegah masuknya rayap ke dalam bangunan perumahan. Tindakan

penanggulangan bahaya rayap prakonstruksi dapat dilakukan dengan pendekatan rancang bangunan perumahan tahan rayap, penggunaan kayu awet atau diawetkan melalui tindakan pengawetan kayu, dan pemberian perlakuan tanah sebagai penghalang kimia. Jika dibandingkan antara biaya anti rayap dengan jumlah uang yang dikeluarkan untuk pembelian kayu untuk kusen, pintu, jendela, dan konstruksi plafon/atap, maka biaya anti rayap sangat kecil. Namun demikian semua itu akan menjadi sangat murah jika hal tersebut dilakukan sebelum mendapat serangan rayap, karena jika dilakukan sebelum muncul serangan rayap, hanya akan terbebani oleh biaya anti rayap saja ( Tarumingkeng, 2001).

Pola Serangan Rayap

Rayap merupakan organisme kriptobiotik yang sifatnya menyembunyikan diri dan menghindari cahaya, sehingga kehadiran rayap sulit untuk diketahui. Untuk itu perlu diketahui pola serangan rayap, khususnya rayap tanah dan rayap kayu kering yang sering mengakibatkan kerusakan pada bangunan perumahan. Rayap tanah adalah rayap yang bersarang dalam tanah terutama dekat pada bahan organik yang mengandung selulosa seperti kayu, serasah dan humus (Tarumingkeng, 2001). Rayap tanah sangat memerlukan kondisi lingkungan yang memiliki kelembaban yang tinggi (Prasetyo, Yusuf, 2005). Serangan rayap tanah pada bangunan biasanya berasal dari celah-celah pondasi atau objek-objek yang berhubungan langsung maupun dekat dengan tanah. Kehadiran rayap tanah dapat diketahui dengan melihat adanya liang

kembara yang ada pada komponen – komponen rumah karena rayap tanah tidak menyukai cahaya, maka untuk dapat bergerak bebas didaerah terbuka rayap tanah membuat liang kembara untuk menuju ke objek yang diserangnya (Gambar 2). Kehadiran rayap tanah biasanya ditandai dengan adanya liang-liang kembara yang menempel pada bagian pondasi di atas permukaan tanah dan dinding rumah (Jusmalinda,1994).

Gambar 2. Liang Kembara Yang Ada Pada Komponen Tiang Rumah

Jenis-jenis rayap tanah ini sangat ganas, karena dapat menyerang obyek- obyek berjarak sampai 200 meter dari sarangnya. Untuk mencapai kayu sasarannya mereka bahkan dapat menembus tembok yang tebalnya beberapa cm, dengan bantuan enzim yang dikeluarkan dari mulutnya. Rayap tanah juga dapat menyerang objek yang letaknya jauh dari tanah, seperti plafon dan bangunan bertingkat (Gambar 3).

Gambar 3. Kayu Plafon Yang Diserang Oleh Rayap Tanah

Rayap kayu kering adalah rayap yang hidup dalam kayu mati yang telah kering. Rayap ini umum terdapat di rumah-rumah dan perabot-perabot seperti meja, kursi dan sebagainya. Tanda serangannya adalah terdapatnya butir-butir ekskremen kecil berwarna kecoklatan yang sering berjatuhan di lantai atau di sekitar kayu yang diserang. Rayap ini juga tidak berhubungan dengan tanah, karena habitatnya kering (Tarumingkeng, 2001). Rayap kayu kering dapat menyerang kayu yang mempunyai kadar air 10 – 12 persen atau mungkin lebih rendah dari dari itu (Tambunan,1989). Rayap ini sangat sulit dideteksi karena menyerang didalam kayu dan tidak kelihatan dari luar. Nantinya setelah rayap menyerang maka terdapat butiran ekskremen yang berjatuhan disekitar kayu yang diserang (Gambar 4).

Apabila kayu yang diserang ditekan maka bagian dalamnya telah rusak menjadi butiran – butiran ekskremen. Rayap kayu kering dapat mencapai sasarannya melalui dua cara : (1) laron yang bersialang menemukan obyek sasarannya dan mampu berkembang karena obyek tidak tertutup(misalnya cat pelindung yang tidak toksik, dan kayu yang tidak awet atau diawetkan) dan (2) obyek sasaran terserang oleh rayap yang berasal dari obyek lain yang telah diserang dan letaknya berdekatan (Nandika, 2003).

Kerugian Ekonomis Akibat Serangan Rayap

A. Perbedaan Kerugian Ekonomis Akibat Serangan Rayap Pada Masing-masing

Dokumen terkait