• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kajian Ekonomis Serangan Rayap Di Beberapa Perumahan Kota Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Kajian Ekonomis Serangan Rayap Di Beberapa Perumahan Kota Medan"

Copied!
111
0
0

Teks penuh

(1)

KAJIAN EKONOMIS SERANGAN RAYAP DI

BEBERAPA PERUMAHAN KOTA MEDAN

HASIL PENELITIAN

OLEH :

DICKY RIZKY INDRAWAN 031203007/ Teknologi Hasil Hutan

DEPARTEMEN KEHUTANAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

Lembar Pengesahan

Judul Usulan : Kajian Ekonomis Serangan Rayap Di Beberapa Perumahan Kota Medan

NAMA : DICKY RIZKY INDRAWAN NIM : 031203007

Menyetujui Komisi Pembimbing

Ketua, Anggota,

Prof.Dr.Ir.Darma Bakti,MS Ridwanti Batubara, S.Hut, M.P NIP. 131 573 968 NIP. 132 296 841

Mengetahui,

Ketua Departemen Kehutanan

(3)

ABSTRACT

Sum up the resident which progressively mount to cause the residence requirement will mount, so that narrow environmental also and place live the white ants which can cause the economic loss at housing building. this Research target is to know the level of economic loss effect of attack creep at housing in two region of Medan City and know the type of white ants groaning housing building in two region of Medan City. Research Object there is 4 housing, that is Housing of Johor Permai and Citra Wisata in Subdistrict of Medan Johor and Housing of Pemda I and Insan Citra Griya in Subdistrict of Medan Selayang. Economic Loss effect of attack creep in two region of Medan City is Rp 4.386.828,46. Economic loss effect of attack creep in Housing of Johor Permai is Rp 1.586.753,04. Economic loss effect of attack creep in Housing of Citra Wisata is Rp 243.408,95. Economic loss effect of attack creep in Housing of Pemda I is Rp 854.756,15. Economic loss effect of attack creep in Housing of Insan Citra Griya is Rp 1.701.910,32. There is two type of white ants groaning housing in Subdistrict of Medan Johor and Medan Selayang that is Macrotermes gilvus from set of relatives of Termitidae and Cryptotermes cynocephalus from set of relatives Kalotermitidae

(4)

ABSTRAK

Jumlah penduduk yang semakin meningkat menyebabkan kebutuhan akan tempat tinggal meningkat, sehingga menyempit pula lingkungan dan tempat hidup rayap yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi pada bangunan perumahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya kerugian ekonomis akibat serangan rayap pada perumahan di dua wilayah Kota Medan dan mengetahui jenis rayap yang menyerang bangunan perumahan di dua wilayah Kota Medan. Objek penelitian ada 4 perumahan, yaitu Perumahan Johor Permai dan Citra Wisata di Kecamatan Medan Johor dan Perumahan Pemda I dan Insan Citra Griya di Kecamatan Medan Selayang. Kerugian ekonomis akibat serangan rayap di dua wilayah Kota Medan adalah Rp 4.386.828,46. Kerugian ekonomis akibat serangan rayap di Perumahan Johor Permai adalah Rp 1.586.753,04. Kerugian ekonomis akibat serangan rayap di Perumahan Citra Wisata adalah Rp 243.408,95. Kerugian ekonomis akibat serangan rayap di Perumahan Pemda I adalah Rp 854.756,15. Kerugian ekonomis akibat serangan rayap di Perumahan Insan Citra Griya adalah Rp 1.701.910,32. Ada dua jenis rayap yang menyerang perumahan di Kecamatan Medan Johor dan Medan Selayang yaitu Macrotermes gilvus dari famili Termitidae dan Cryptotermes cynocephalus dari famili Kalotermitidae.

(5)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Medan pada tanggal 19 Oktober 1984 dari Ayah

Indra Mardi, SE dan Ibu Darmiati. Penulis merupakan putra kedua dari 3

bersaudara.

Tahun 2003 penulis lulus dari SMU Negeri 1 Medan dan pada tahun 2003

melanjutkan kuliah di Universitas Sumatera Utara (USU) Medan. Penulis memilih

Program Studi Teknologi Hasil Hutan Departemen Kehutanan Fakultas Pertanian.

Selama mengikuti perkuliahan penulis menjadi Asisten praktikum mata

kuliah Anatomi Kayu, Fisika Kayu, dan Pengawetan Kayu. Penulis melaksanakan

Praktik Kerja Lapang (PKL) di PT. Musi Hutan Persada Muara Enim Sumatera

(6)

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas Rahmat dan Karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Kajian

Ekonomis Serangan Rayap Di Beberapa Perumahan Kota Medan”

Penyusunan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh Gelar Sarjana Kehutanan pada Fakultas Pertanian Departemen Kehutanan Program Studi Teknologi Hasil Hutan Universitas Sumatera Utara.

Penulis menyadari penyusunan skripsi ini tidak lepas dari kekurangan serta dari kesempurnaan. Namun penulis selalu berbesar hati menerima saran dan kritik yang membangun untuk perbaikan di masa yang akan datang.

Selanjutnya, penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Keluargaku tercinta Ayahanda Indra Mardi,SE , Ibunda Darmiati, Abangda Ardian Indrawan, Adinda Indri Amelia yang telah memberikan do’a, motivasi, serta dukungan moril maupun materil yang diberikan dengan ikhlas sampai saat ini.

2. Keluarga besar Almarhum. Azis Atar dan Almarhum Bustami yang telah banyak mendukung dalam penulisan skripsi ini.

3. Dosen-dosen pembimbing ; Bapak Prof.Dr.Ir.Darma Bakti,MS sebagai pembimbing I, Ibu Ridwanti Batubara, S.Hut, M.P sebagai pembimbing II yang telah banyak memberikan bimbingan dan arahannya kepada penulis. 4. Bapak Ketua Departemen Kehutanan: Bapak Dr. Edy Batara Mulya Siregar,

SP, MS.

5. Dosen-dosen serta para staf dan karyawan Departemen Kehutanan yang telah banyak membantu penulis.

6. Teman-teman di program studi Teknologi Hasil Hutan yang telah memberikan pelajaran berharga bagi penulis selama di kampus tercinta.

(7)

Akhirnya dengan segala kerendahan hati, penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis dan bagi yang membaca pada umumnya.

Medan, 16 Juni 2008

(8)

ABSTRACT

Sum up the resident which progressively mount to cause the residence requirement will mount, so that narrow environmental also and place live the white ants which can cause the economic loss at housing building. this Research target is to know the level of economic loss effect of attack creep at housing in two region of Medan City and know the type of termite groaning housing building in two region of Medan City. Research Object there is 4 housing, that is Housing of Johor Permai and Citra Wisata in Subdistrict of Medan Johor and Housing of Pemda I and Insan Citra Griya in Subdistrict of Medan Selayang. Economic Loss effect of attack creep in two region of Medan City is Rp 4.386.828,46. Economic loss effect of attack creep in Housing of Johor Permai is Rp 1.586.753,04. Economic loss effect of attack creep in Housing of Citra Wisata is Rp 243.408,95. Economic loss effect of attack creep in Housing of Pemda I is Rp 854.756,15. Economic loss effect of attack creep in Housing of Insan Citra Griya is Rp 1.701.910,32. There is two type of termite groaning housing in Subdistrict of Medan Johor and Medan Selayang that is Macrotermes gilvus from set of relatives of Termitidae and Cryptotermes cynocephalus from set of relatives Kalotermitidae

(9)

ABSTRAK

Jumlah penduduk yang semakin meningkat menyebabkan kebutuhan akan tempat tinggal meningkat, sehingga menyempit pula lingkungan dan tempat hidup rayap yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi pada bangunan perumahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya kerugian ekonomis akibat serangan rayap pada perumahan di dua wilayah Kota Medan dan mengetahui jenis rayap yang menyerang bangunan perumahan di dua wilayah Kota Medan. Objek penelitian ada 4 perumahan, yaitu Perumahan Johor Permai dan Citra Wisata di Kecamatan Medan Johor dan Perumahan Pemda I dan Insan Citra Griya di Kecamatan Medan Selayang. Kerugian ekonomis akibat serangan rayap di dua wilayah Kota Medan adalah Rp 4.386.828,46. Kerugian ekonomis akibat serangan rayap di Perumahan Johor Permai adalah Rp 1.586.753,04. Kerugian ekonomis akibat serangan rayap di Perumahan Citra Wisata adalah Rp 243.408,95. Kerugian ekonomis akibat serangan rayap di Perumahan Pemda I adalah Rp 854.756,15. Kerugian ekonomis akibat serangan rayap di Perumahan Insan Citra Griya adalah Rp 1.701.910,32. Ada dua jenis rayap yang menyerang perumahan di Kecamatan Medan Johor dan Medan Selayang yaitu Macrotermes gilvus dari famili Termitidae dan Cryptotermes cynocephalus dari famili Kalotermitidae.

(10)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Medan pada tanggal 19 Oktober 1984 dari Ayah Indra Mardi, SE

dan Ibu Darmiati. Penulis merupakan putra kedua dari 3 bersaudara.

Tahun 2003 penulis lulus dari SMU Negeri 1 Medan dan pada tahun 2003 melanjutkan

kuliah di Universitas Sumatera Utara (USU) Medan. Penulis memilih Program Studi Teknologi

Hasil Hutan Departemen Kehutanan Fakultas Pertanian.

Selama mengikuti perkuliahan penulis menjadi Asisten praktikum mata kuliah Anatomi

Kayu, Fisika Kayu, dan Pengawetan Kayu. Penulis melaksanakan Praktik Kerja Lapang (PKL)

(11)

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas Rahmat dan Karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Kajian Ekonomis Serangan Rayap Di Beberapa Perumahan Kota Medan”

Penyusunan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh Gelar Sarjana Kehutanan pada Fakultas Pertanian Departemen Kehutanan Program Studi Teknologi Hasil Hutan Universitas Sumatera Utara.

Penulis menyadari penyusunan skripsi ini tidak lepas dari kekurangan serta dari kesempurnaan. Namun penulis selalu berbesar hati menerima saran dan kritik yang membangun untuk perbaikan di masa yang akan datang.

Selanjutnya, penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Keluargaku tercinta Ayahanda Indra Mardi, SE , Ibunda Darmiati, Abangda Ardian Indrawan, Adinda Indri Amelia yang telah memberikan do’a, motivasi, serta dukungan moril maupun materil yang diberikan dengan ikhlas sampai saat ini.

2. Keluarga besar Almarhum. Azis Atar dan Almarhum Bustami yang telah banyak mendukung dalam penulisan skripsi ini.

3. Dosen-dosen pembimbing ; Bapak Prof.Dr.Ir.Darma Bakti,MS sebagai pembimbing I, Ibu Ridwanti Batubara, S.Hut, M.P sebagai pembimbing II yang telah banyak memberikan bimbingan dan arahannya kepada penulis.

4. Bapak Ketua Departemen Kehutanan: Bapak Dr. Edy Batara Mulya Siregar, SP, MS.

5. Dosen-dosen serta para staf dan karyawan Departemen Kehutanan yang telah banyak membantu penulis.

6. Teman-teman di program studi Teknologi Hasil Hutan yang telah memberikan pelajaran berharga bagi penulis selama di kampus tercinta.

(12)

Akhirnya dengan segala kerendahan hati, penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis dan bagi yang membaca pada umumnya.

Medan, 16 Juni 2008

(13)

DAFTAR ISI

Hal

ABSTRACT ... ii

ABSTRAK ... iii

RIWAYAT HIDUP ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1

Tujuan Penelitian ... 3

Manfaat Penelitian ... 3

TINJAUAN PUSTAKA Biologi dan Ekologi Rayap ... 4

Klasifikasi Rayap di Indonesia ... 8

Kerugian Akibat Serangan Rayap ... 12

Perlindungan Bangunan Terhadap Serangan Rayap ... 13

METODOLOGI Tempat dan Waktu Penelitian... 15

Bahan dan Alat ... 15

Batasan Studi ... 15

Penentuan Rumah Contoh ... 17

Pelaksanaan Penelitian ... 17

Pengumpulan Data ... 17

Pengolahan Data ... 18

Identifikasi Rayap ... 20

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN A. Kondisi Umum Kota Medan ... 21

B. Kondisi Umum Kecamatan Medan Johor dan Medan Selayang ... 22

C. Kondisi Umum Perumahan Johor Permai, Citra Wisata, Pemda I, dan Insan Citra Griya ... 23

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Rumah Contoh ... 26

Pola Serangan Rayap ... 34

Kerugian Ekonomis Akibat Serangan Rayap ... 37

A. Perbedaan Kerugian Ekonomis Akibat Serangan Rayap pada Masing-masing Lokasi Penelitian ... 37

(14)

C. Kerugian Ekonomis Akibat Serangan Rayap Tanah

dan Rayap Kayu Kering pada Tiap-Tiap Konstruksi .... … 43

Jenis Rayap Perusak Bangunan ... 48

Tindakan Pengendalian ... 52

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 54

Saran ... 54

DAFTAR PUSTAKA ... 55

(15)

DAFTAR TABEL

Hal

1. Karakteristik Umur Bangunan, Luas bangunan,

Tipe Bangunan Rumah Contoh di Wilayah Kecamatan Medan Johor

dan Kecamatan Medan Selayang ...26

2. Karakteristik Sumber Air, Drainase Rumah Contoh di Wilayah Kecamatan Medan Johor dan Kecamatan Medan Selayang ...28

3. Karakteristik Kepadatan Pemukiman, Penerimaan Sinar Matahari,

Pembuangan Sampah pada Lokasi Rumah Contoh di Wilayah Kecamatan Medan Johor dan Kecamatan Medan Selayang ...29

4. Karakteristik Jenis Atap Serta Jenis Kayu yang Digunakan Rumah Contoh di Wilayah Kecamatan Medan Johor dan Kecamatan

Medan Selayang ...31

5. Perbedaan Kerugian Ekonomis Akibat Serangan Rayap pada

Masing- Masing Lokasi Penelitian ...37

6. Kerugian Ekonomis Akibat Serangan Rayap pada Tiap-Tiap Konstruksi pada Berbagai Kelas Umur ...40

7. Kerugian Ekonomis Akibat Serangan Rayap Tanah dan Rayap

Kayu Kering pada Tiap-Tiap Konstruksi ...44

8. Rangkuman Kerugian Akibat Serangan Rayap Di Dua Wilayah Kota Medan ...47

(16)

DAFTAR GAMBAR

Hal

1. Bangunan Asli Dan Bangunan Yang Sudah Direnovasi ...33

2. Liang Kembara Yang Ada Pada Komponen Tiang Rumah ...35

3. Kayu Plafon Yang Diserang Oleh Rayap Tanah ...36

4. Butiran Ekskremen Yang Dihasilkan Rayap Kayu Kering ...36

5. Histogram Kerugian Ekonomis Akibat Serangan Rayap Pada Masing – Masing Komponen Pada Berbagai Kelas Umur ...42

6. Histogram Kerugian Ekonomis Akibat Serangan Rayap Tanah Dan Rayap Kayu Kering Pada Tiap – Tiap Konstruksi ...45

7. Pemancingan Rayap Menggunakan Kayu Rambung ...49

8. Bentuk Tubuh Kasta Prajurit Rayap Macrotermes gilvus ...46

(17)

DAFTAR LAMPIRAN

Hal

1. KunciPengenalan Genus dan Spesies (Nandika dkk., 2003) ... 53

2. Daftar Harga Kayu Olahan ... 57

3. Contoh Perhitungan Tingkat Serangan Rayap dan Kerugian Ekonomis Akibat Serangan Rayap ... …. 61

4. Contoh Perhitungan Standart Deviasi ... 62

5. Karakteristik Rumah Contoh ... 68

6. Kerugian Ekonomis Tiap Jenis Konstruksi Akibat Serangan

Rayap pada Tiap-Tiap Rumah Contoh ... 72

(18)

ABSTRACT

Sum up the resident which progressively mount to cause the residence requirement will mount, so that narrow environmental also and place live the white ants which can cause the economic loss at housing building. this Research target is to know the level of economic loss effect of attack creep at housing in two region of Medan City and know the type of termite groaning housing building in two region of Medan City. Research Object there is 4 housing, that is Housing of Johor Permai and Citra Wisata in Subdistrict of Medan Johor and Housing of Pemda I and Insan Citra Griya in Subdistrict of Medan Selayang. Economic Loss effect of attack creep in two region of Medan City is Rp 4.386.828,46. Economic loss effect of attack creep in Housing of Johor Permai is Rp 1.586.753,04. Economic loss effect of attack creep in Housing of Citra Wisata is Rp 243.408,95. Economic loss effect of attack creep in Housing of Pemda I is Rp 854.756,15. Economic loss effect of attack creep in Housing of Insan Citra Griya is Rp 1.701.910,32. There is two type of termite groaning housing in Subdistrict of Medan Johor and Medan Selayang that is Macrotermes gilvus from set of relatives of Termitidae and Cryptotermes cynocephalus from set of relatives Kalotermitidae

(19)

ABSTRAK

Jumlah penduduk yang semakin meningkat menyebabkan kebutuhan akan tempat tinggal meningkat, sehingga menyempit pula lingkungan dan tempat hidup rayap yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi pada bangunan perumahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya kerugian ekonomis akibat serangan rayap pada perumahan di dua wilayah Kota Medan dan mengetahui jenis rayap yang menyerang bangunan perumahan di dua wilayah Kota Medan. Objek penelitian ada 4 perumahan, yaitu Perumahan Johor Permai dan Citra Wisata di Kecamatan Medan Johor dan Perumahan Pemda I dan Insan Citra Griya di Kecamatan Medan Selayang. Kerugian ekonomis akibat serangan rayap di dua wilayah Kota Medan adalah Rp 4.386.828,46. Kerugian ekonomis akibat serangan rayap di Perumahan Johor Permai adalah Rp 1.586.753,04. Kerugian ekonomis akibat serangan rayap di Perumahan Citra Wisata adalah Rp 243.408,95. Kerugian ekonomis akibat serangan rayap di Perumahan Pemda I adalah Rp 854.756,15. Kerugian ekonomis akibat serangan rayap di Perumahan Insan Citra Griya adalah Rp 1.701.910,32. Ada dua jenis rayap yang menyerang perumahan di Kecamatan Medan Johor dan Medan Selayang yaitu Macrotermes gilvus dari famili Termitidae dan Cryptotermes cynocephalus dari famili Kalotermitidae.

(20)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Bertambahnya jumlah penduduk menyebabkan kebutuhan akan tempat tinggal

meningkat. Hal ini menyebabkan semakin pesatnya pembukaan lahan untuk

perumahan, semakin menyempitnya lingkungan dan komunitas hidup rayap.

Akibatnya rayap dapat menjadi suatu bahaya yang besar dan potensial terhadap

bangunan baik perumahan maupun gedung.

Kerusakan akibat serangan rayap pada bangunan tidak terbatas pada komponen

– komponen bangunan dari bahan kayu saja, melainkan juga merusak komponen –

komponen lain terutama yang terbuat dari bahan organik yang mengandung selulosa.

Sebagai perusak bangunan, rayap akhir – akhir ini mendapat perhatian yang cukup

serius dari berbagai pihak. Hal ini disebabkan beberapa jenis rayap telah seringkali

menunjukkan daya serang yang luar biasa terhadap perumahan, kantor, dan bangunan

gedung lainnya sehingga mengakibatkan kerugian yang cukup besar. Namun

demikian kehadiran serangga kecil dan bertubuh lunak tersebut sering dianggap

remeh, padahal akibat serangannya dapat berakibat fatal, baik ditinjau dari segi

konstruksi bangunan, maupun keselamatan penghuninya.

Kerugian akibat rayap pada tahun 1998 mencapai 1,6 trilyun, itu pun yang

dihitung hanya kayu dan belum termasuk tenaga kerja dan ongkos untuk mengganti

kerusakan yang ditimbulkan. Penelitian lain menyebutkan bahwa kerugian ekonomis

yang dialami Indonesia sampai pada tahun 2000 akibat rayap mencapai angka Rp

(21)

kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Batam mencapai angka 70%

lebih, angka tersebut akan semakin bertambah melihat kecenderungan terakhir ini,

bahwa nilai kerugian akibat rayap setiap tahunnya meningkat sekitar lima persen

seiring meningkatnya pembangunan gedung, terutama gedung bertingkat yang ada di

Jakarta (Nandika,2003).

Kota Medan merupakan salah satu kota terbesar di Indonesia. Kota Medan

beriklim tropis dengan suhu minimum 22,5o C – 23,9o C dan suhu maksimum adalah

30,8o C - 33,7o C berada di ketinggian 2,5 – 50 m dari permukaan laut. Rata-rata

curah hujan berkisar 120,9 mm/bulan – 169,6 mm/bulan. Kelembaban mencapai

84%-85% dengan kecepatan angin 0,48 m/detik. Secara keseluruhan jenis tanah

wilayah ini terdiri dari tanah liat, tanah pasir, tanah campuran, tanah hitam, tanah

coklat dan tanah merah. Hal ini merupakan penelitian dari Van Hissink tahun 1910

dan dilanjutkan oleh penelitian Vriens tahun 1990 bahwa disamping jenis tanah

seperti tadi ada lagi jenis tanah liat yang spesifik (Badan Pusat Statistik Kota Medan,

2002). Rayap pada dasarnya adalah serangga daerah tropika dan subtropika. Namun

sebarannya kini cenderung meluas ke daerah sedang (temperate) dengan batas-batas

50o LU dan LS. Di daerah tropika rayap ditemukan mulai dari pantai sampai

ketinggian 3000 m di atas permukaan laut.

Penelitian mengenai rayap di kota Medan sudah dilakukan beberapa penelitian

antara lain Muharomi (2005), Hamid (2005), Nasution (2006). Namun kerugian yang

diakibatkan secara ekonomis di perumahan belum dilakukan. Berdasarkan hal

tersebut maka dianggap perlu melakukan penelitian tentang ”Kajian Ekonomis

(22)

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Mengetahui besarnya kerugian ekonomis akibat serangan rayap pada

perumahan di dua wilayah Kota Medan.

2. Mengetahui jenis rayap yang menyerang bangunan perumahan di dua wilayah

Kota Medan.

Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini yaitu :

1. Tersedianya data tentang kerugian ekonomis akibat serangan rayap dan data

jenis rayap yang menyerang perumahan di dua wilayah kota Medan.

2. Dapat memacu tindakan untuk mencegah meluasnya serangan rayap, sehingga

(23)

TINJAUAN PUSTAKA

Biologi dan Ekologi Rayap

Rayap dalam biologi adalah sekelompok hewan dalam salah satu ordo, yaitu

ordo Isoptera dari kelas Arthropoda. Ordo Isoptera beranggotakan sekitar 2000

spesies dan di Indonesia sampai tahun 1970 telah tercatat kurang lebih 200 spesies

(Tarumingkeng, 1992).

Rayap adalah serangga berukuran kecil sampai sedang, hidup dalam

kelompok-kelompok sosial dengan sistem kasta yang berkembang sempurna. Dalam sebuah

koloni terdapat individu yang bersayap dan yang tidak bersayap,dan beberapa

individu bersayap pendek (mempunyai tonjolan sayap). Jumlah sayap dua pasang

yang berbentuk seperti selaput dengan pola pertulangan yang agak mengecil tetapi

sering kali dengan banyaknya urat yang terlihat mengkerut. Bentuk dan ukuran sayap

depan sama dengan sayap belakang, oleh karena itu ordonya dinamakan Isoptera (Iso

= sama, ptera = sayap). Pada waktu istirahat sayap diletakkan rata terlipat di atas

punggung dan melewati abdomen. Tipe mulutnya adalah menggigit dan mengunyah

serta mengalami metamorfosa sederhana (Borror dkk,1993).

Penyebaran rayap dipengaruhi oleh faktor kelembaban dan suhu lingkungan.

Pada suhu 70° hingga 80° F (21,11° C – 26,67° C) dengan kelembaban sekitar 95 –

98 %, rayap tanah akan berkembang dengan baik dan dalam 2 – 3 tahun sudah dapat

menghasilkan koloni yang siap untuk merusak bangunan (Tarumingkeng, 2003).

Penambah optimum bagi rayap subteran berkisar antara 97,5%-100%, dan

(24)

kelembaban udara relatif 10%. Dalam kondisi lembab dengan tingkat kelembaban

udara 100%, rayap ini mampu hidup selama 86,5 jam tanpa persediaan makanan

(Suranto,2002).

Rayap memiliki habitat yang unik dalam suatu ekosistem. Keberadaan koloni

rayap berperan penting dalam siklus biogeochemical (dekomposer bahan organik)

seperti siklus nitrogen, karbon, sulfur, oksigen dan fosfor. Mudahnya rayap

beradaptasi dengan lingkungannya mengakibatkan mereka bisa ditemui di hampir

semua bentuk ekosistem (Prasetyo dan Yusuf,2004).

Adanya perbedaan bentuk kasta pada rayap didasarkan atas anatomi dan

fisiologi, sebagai berikut :

1. Kasta reproduktif, kasta ini terdiri atas individu-individu seksual yaitu betina

(yang abdomennya biasanya sangat membesar) yang tugasnya bertelur dan jantan

(raja) yang tugasnya membuahi betina. Raja sebenarnya tak sepenting ratu jika

dibandingkan dengan lamanya ia bertugas karena dengan sekali kawin, betina

dapat menghasikan ribuan telur; lagipula sperma dapat disimpan oleh betina

dalam kantong khusus untuk itu, sehingga mungkin sekali tak diperlukan kopulasi

berulang-ulang. Jika koloni rayap masih relatif muda biasanya kasta reproduktif

berukuran besar sehingga disebut ratu. Biasanya ratu dan raja adalah individu

pertama pendiri koloni, yaitu sepasang laron yang mulai menjalin kehidupan

bersama sejak penerbangan alata. Pasangan ini disebut reprodukif primer. Jika

mereka mati bukan berarti koloni rayap akan berhenti bertumbuh. Koloni akan

membentuk "ratu" atau "raja" baru dari individu lain (biasanya dari kasta pekerja)

(25)

dan raja baru ini disebut reproduktif suplementer atau neoten. Jadi, dengan

membunuh ratu atau raja kita tak perlu sesumbar bahwa koloni rayap akan punah.

Bahkan dengan matinya ratu, diduga dapat terbentuk berpuluh-puluh neoten yang

menggantikan tugasnya untuk bertelur. Dengan adanya banyak neoten maka jika

terjadi bencana yang mengakibatkan sarang rayap terpecah-pecah, maka setiap

pecahan sarang dapat membentuk koloni baru.

2. Kasta prajurit, kasta ini ditandai dengan bentuk tubuh yang kekar karena

penebalan (sklerotisasi) kulitnya agar mampu melawan musuh dalam rangka

tugasnya mempertahankan kelangsungan hidup koloninya. Mereka berjalan hilir

mudik di antara para pekerja yang sibuk mencari dan mengangkut makanan.

Setiap ada gangguan dapat diteruskan melalui "suara" tertentu sehingga

prajurit-prajurit bergegas menuju ke sumber gangguan dan berusaha mengatasinya. Jika

terowongan kembara diganggu sehingga terbuka tidak jarang kita saksikan

pekerja-pekerja diserang oleh semut sedangkan para prajurit sibuk bertempur

melawan semut-semut, walaupun mereka umumnya kalah karena semut lebih

lincah bergerak dan menyerang. Tapi karena prajurit rayap biasanya dilengkapi

dengan mandibel (rahang) yang berbentuk gunting maka sekali mandibel menjepit

musuhnya, biasanya gigitan tidak akan terlepas walaupun prajurit rayap akhirnya

mati. Mandibel bertipe gunting (yang bentuknya juga bermacam-macam) umum

terdapat di antara rayap famili Termitidae, kecuali pada Nasutitermes ukuran

mandibelnya tidak mencolok tetapi memiliki nasut (yang berarti hidung, dan

penampilannya seperti "tusuk") sebagai alat penyemprot racun bagi musuhnya.

(26)

hanya menyumbat semua lobang dalam sarang yang potensial dapat dimasuki

musuh. Semua musuh yang mencapai lobang masuk sulit untuk luput dari gigitan

mandibelnya. Pada beberapa jenis rayap dari famili Termitidae seperti

Macrotermes, Odontotermes, Microtermes dan Hospitalitermes terdapat prajurit

dimorf (dua bentuk) yaitu prajurit besar (prajurit makro) dan prajurit kecil

(prajurit mikro).

3. Kasta pekerja, kasta ini membentuk sebagian besar koloni rayap. Tidak kurang dari

80 persen populasi dalam koloni merupakan individu-individu pekerja. Tugasnya

melulu hanya bekerja tanpa berhenti hilir mudik di dalam liang-liang kembara

dalam rangka mencari makanan dan mengangkutnya ke sarang, membuat

terowongan-terowongan, menyuapi dan membersihkan reproduktif dan prajurit,

membersihkan telur-telur, dan membunuh serta memakan rayap-rayap yang tidak

produktif lagi (karena sakit, sudah tua atau juga mungkin karena malas), baik

reproduktif, prajurit maupun kasta pekerja sendiri. Dari kenyataan ini maka para

pakar rayap sejak abad ke-19 telah mempostulatkan bahwa sebenarnya kasta

pekerjalah yang menjadi "raja", yang memerintah dan mengatur semua tatanan dan

aturan dalam sarang rayap. Sifat kanibal terutama menonjol pada keadaan yang

sulit misalnya kekurangan air dan makanan, sehingga hanya individu yang kuat

saja yang dipertahankan. Kanibalisme berfungsi untuk mempertahankan prinsip

efisiensi dan konservasi energi, dan berperan dalam pengaturan homeostatika

(keseimbangan kehidupan) koloni rayap (Tarumingkeng,2001).

Sekitar 3-5 tahun, dalam satu koloni rayap menurut Nandika (2003) rayap dapat

(27)

cepat sementara usia produktif mereka berbeda tiap jenisnya. Untuk ratu sekitar 20

tahun, sedangkan rayap pekerja sekitar 3 tahun. Dalam satu koloni terdapat sepasang

ratu dan raja dengan ribuan tentara. Sisanya adalah pekerja. Rayap pekerja mencari

makanan 24 jam secara terus-menerus. Berdasarkan hasil penelitian, untuk luas

wilayah 295 m2 , populasi rayap mencapai 610 ribu. Di Jakarta mencapai 1,7 Juta.

Daya jelajah maksimal 118 meter dan berat tubuh rayap 2,5 miligram. Sedangkan

satu ekor rayap memerlukan sekitar 0,24 miligram makanan setiap hari, maka koloni

rayap di Jakarta mengkonsumsi kayu sebanyak 408 gram setiap harinya.

Dalam hidupnya rayap mempunyai beberapa sifat yang penting untuk

diperhatikan, yaitu:

a) Sifat trophalaxis, yaitu sifat rayap untuk berkumpul saling menjilat serta

mengadakan pertukaran bahan makanan.

b) Sifat cryptobiotic, yaitu sifat rayap yang menjauhi cahaya.

c) Sifat canibanism, yaitu sifat rayap untuk memakan individu sejenis yang

lemah atau sakit. Sifat ini lebih menonjol dalam keadaan kekurangan

makanan.

d) Sifat necrophagy, yaitu sifat rayap untuk memakan bangkai sesamanya

Tambunan dan Nandika (1989).

Klasifikasi Rayap di Indonesia

Jenis-jenis rayap perusak kayu di Indonesia termasuk dalam famili

(28)

1. Famili Kalotermitidae

Jenis-jenis rayap ini merupakan jenis rayap yang paling primitif. Koloninya

tidak terdapat kasta pekerja. Tugas mengumpulkan makanan dan merawat

sarang dilakukan oleh larfa dan nimfa yang telah tua. Cara hidupnya di bagi

atas 3 golongan :

a. Rayap kayu lembab (Glyptoternes spp).

b. Rayap pohon (Neotermes spp).

c. Rayap kayu kering (Cryptotermes spp).

2. Famili Rhinotermitidae

Famili ini mempunyai sarang di bawah atau di atas tanah. Jenis-jenis yang

terpenting adalah Coptotermes curvignathus dan Coptotermes travian.

Organisasi dari famili ini sedikit lebih maju dari famili Kalotermitidae.

3. Famili Termitidae

Famili ini memiliki organisasi yang lebih sempurna dari famili

Kalotermitidae. Rayap ini kebanyakan hidup di dalam tanah. Genus yang

terkenal antara lain Odontotermes, Microtermes, Macrotermes

(Nandika,1989).

Ada dua kelompok rayap yang lazim menyerang kayu. Kelompok pertama

adalah rayap kayu kering dan kelompok kedua adalah rayap tanah atau subteranean

termites. Kedua kelompok tersebut memerlukan kondisi lingkungan yang berbeda –

beda bagi perkembangan dan pertumbuhannya.

Besar kecilnya kerusakan yang ditimbulkan oleh rayap tergantung pada jenis

(29)

Serangan rayap subteran pada bangunan dan perumahan dapat melalui berbagai cara

antara lain hubungan langsung dengan tanah, seperti pada tiang-tiang kayu. Bisa juga

melalaui retakan-retakan atau rongga pada semen, lantai dan pondasi rumah

permanen dan semi permanen. Kehadiran rayap tanah di tandai dengan adanya liang

kembara pada objek-objek terserang. Di lain pihak rayap kayu kering mempunyai

kemampuan hidup pada kayu-kayu kering dalam rumah, mereka tidak membangun

sarang atau terowongan pada tempat-tempat terbuka sehingga sukar untuk diketahui.

Pada kayu yang diserang terjadi lubang dan lorong-lorong yang saling berhubungan.

Kayu yang diserang menjadi kropos tanpa adanya pecahan permukaan. Adanya

serangan rayap pada kayu kering dapat diketahui dari eskremen-eksremen berupa

butir, kecil, lonjong, dan lonjong, dan agak bertakik (granuler) (Jusmalinda, 1994).

Berdasarkan lokasi sarang utama atau tempat tinggalnya, rayap perusak kayu

dapat digolongkan dalam tipe-tipe berikut:

1. Rayap pohon, yaitu jenis-jenis rayap yang menyerang pohon yang masih hidup,

bersarang dalam pohon dan tak berhubungan dengan tanah. Contoh yang khas

dari rayap ini adalah Neotermes tectonae (famili Kalotermitidae), hama pohon

jati.

2. Rayap kayu lembab, menyerang kayu mati dan lembab, bersarang dalam kayu,

tak berhubungan dengan tanah. Contoh : Jenis-jenis rayap dari genus

Glyptotermes (Glyptotermesspp, famili Kalotermitidae).

3. Rayap kayu kering, seperti Cryptotermes spp. (famili Kalotermitidae), hidup

dalam kayu mati yang telah kering. Hama ini umum terdapat di rumah-rumah dan

(30)

butir-butir ekskremen kecil berwarna kecoklatan yang sering berjatuhan di lantai

atau di sekitar kayu yang diserang. Rayap ini juga tidak berhubungan dengan

tanah, karena habitatnya kering.

4. Rayap subteran, yang umumnya hidup di dalam tanah yang mengandung banyak

bahan kayu yang telah mati atau membusuk, tunggak pohon baik yang telah mati

maupun masih hidup. Di Indonesia rayap subteran yang paling banyak merusak

adalah jenis-jenis dari famili Rhinotermitidae. Terutama dari genus Coptotermes

(Coptotermes spp) dan Schedorhinotermes. Perilaku rayap ini mirip rayap tanah

seperti Macrotermes namun perbedaan utama adalah kemampuan Coptotermes

untuk bersarang di dalam kayu yang diserangnya, walaupun tidak ada hubungan

dengan tanah, asal saja sarang tersebut sekali-sekali memperoleh lembab,

misalnya tetesan air hujan dari atap bangunan yang bocor. Coptotermes pernah

diamati menyerang bagian-bagian kayu dari kapal minyak yang melayani

pelayaran Palembang-Jakarta. Coptotermes curvignathus Holmgren sering kali

diamati menyerang pohon Pinus merkusii dan banyak meyebabkan kerugian pada

bangunan.

5. Rayap tanah. Jenis-jenis rayap tanah di Indonesia adalah dari famili Termitidae.

Mereka bersarang dalam tanah terutama dekat pada bahan organik yang

mengandung selulosa seperti kayu, serasah dan humus. Contoh-contoh Termitidae

yang paling umum menyerang bangunan adalah Macrotermes spp. (terutama M.

gilvus), Odontotermes spp dan Microtermes spp. Jenis-jenis rayap ini sangat

ganas, dapat menyerang obyek-obyek berjarak sampai 200 meter dari sarangnya.

(31)

tebalnya beberapa cm, dengan bantuan enzim yang dikeluarkan dari mulutnya.

Macrotermes dan Odontotermes merupakan rayap subteran yang sangat umum

menyerang bangunan di Jakarta dan sekitarnya (Tarumingkeng,2001).

Kerugian Akibat Serangan Rayap

Kerugian ekonomis akibat kerusakan kayu oleh faktor perusak kayu pada

bangunan di Indonesia telah mencapai milyaran rupiah tiap tahunnya. Survei di

beberapa kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan kota-kota besar lainnya

menunjukkan bahwa umumnya bangunan perumahan sangat rentan diserang oleh

organisme perusak kayu (Rakhmawati,1996).

Tingkat serangan rayap pada rumah di Kotamadya Bandung telah mencapai

90% dengan kerugian pertahun sebesar 1,35 milyar rupiah (Rudi,1994). Untuk daerah

JABOTABEK, rata-rata persentase serangan rayap tanah pada perumahan mencapai

38,20% (Romaida,2002). Sedangkan total nilai kerugian ekonomis akibat serangan

rayap di Kotamadya Surabaya dan nilai investasi per tahun sebesar Rp 8.530.207,29

atau Rp 35.542,53 per rumah per tahun (Rakhmawati,1996). Untuk Kota Cirebon,

kerugian yang diakibatkan oleh rayap kayu kering sebesar Rp 2.082.591 dan

kerugian ekonomis yang di akibatkan oleh rayap tanah adalah sebesar Rp 1.565.470.

Departemen Pekerjaan Umum Pada pertengahan tahun 1983 menyatakan kerugian

akibat serangan rayap pada bangunan gedung pemerintah saja diperkirakan mencapai

(32)

Perlindungan Bangunan Terhadap Serangan Rayap

Serangga merupakan biang keladi dari semua kerusakan kayu konstruksi

bangunan yang bekerja 24 sehari, 7 hari seminggu, dan 54 minggu setahun. Ada 3

(tiga) tujuan yang mendasari termite control service atau anti rayap yaitu mencegah,

membasmi dan mengendalikan.

MENCEGAH. Suatu langkah yang sangat bijaksana, karena dapat mengantisipasi

serangan rayap yang berasal dari luar bangunan. Seandainya suatu ketika muncul

laron-laron yang beterbangan saat senja hari dan salah satu dari mereka berhasil

memperoleh tempat untuk bertelur, maka rayap yang berasal dari telur-telur laron

tidak akan mampu memakan kayu-kayu yang telah terlindungi termitisida/obat rayap

dan tidak bisa menembus lapisan tanah yang telah dilindungi oleh termitisida.

MEMBASMI. Biasanya dilakukan oleh orang yang belum mengetahui dan mengerti

termite control service. Hal ini wajar karena mungkin orang menganggap service ini

tidak penting.

MENGENDALIKAN. Tujuan akhir yang benar-benar jangan sampai terjadi, karena

hal ini dikarenakan pelaksanaan service yang sangat terlambat dan rayap sudah

menyebar ke seluruh bagian bangunan. Rayap tidak mungkin terbasmi atau dapat

dihilangkan secara total, karena jalur lalu lintas rayap benar-benar luas dan

tersembunyi. Namun demikian service yang diperoleh dapat memperpanjang usia

bangunan kita dan mengendalikan serangan rayap agar tidak menimbulkan kerusakan

(33)

Secara garis besar pelaksanaan termite control dilakukan dalam 2 (dua) macam

metode, yaitu :

1) Pre-construction termite control (metode pra konstruksi) Yaitu termite control

yang dilakukan saat bangunan sedang dibangun, yang meliputi pekerjaan

penyemprotan galian pondasi, penyemprotan seluruh permukaan lantai/tanah

bangunan sebelum pengecoran, dan penyemprotan seluruh permukaan

kayu-kayu sebelum dipasang pada konstruksi plafond dan atap.

2) Pos construction termite control (metode pasca konstruksi) Yaitu termite

control yang yang dilakukan pada bangunan yang sudah berdiri dengan jalan

menginjeksikan termitisida/obat pembasmi rayap ke dalam tanah dibawah

lantai sepanjang pondasi bangunan yang jarak antar lubang injeksinya + 60 -

80 cm, dengan diameter lubang max. 13 mm. Sedangkan untuk kayu-kayu

yang telah terpasang dilakukan penyemprotan langsung dengan termitisida

(Nandika, 2005).

(34)

METODE PENELITIAN

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2007 sampai dengan April

2008. Penelitian ini dilakukan di kecamatan Medan Johor dan Kecamatan Medan

Selayang.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini berupa : alkohol 70%, peta Kota

Medan, dan data-data sekunder yang diperlukan. Sedangkan alat-alat yang digunakan

dalam penelitian ini adalah meteran baja untuk mengukur dimensi dan kerusakan

dimensi, kuas dan pinset untuk mengambil rayap, alat tusuk kayu, palu untuk

memeriksa kayu, botol untuk tempat alkohol, peralatan tulis-menulis , tally sheet

untuk pengumpulan data, kertas, kalkulator, kamera untuk dokumentasi, dan GPS

untuk mengukur ketinggian tempat.

Batasan Studi

Dalam penelitian ini aspek yang diteliti kerusakan yang disebabkan oleh

serangan rayap pada komponen bangunan rumah yang terbuat dari kayu. Adapun

komponen yang diamati adalah daun pintu, kusen pintu, daun jendela, kusen jendela,

lisplang, plafon, tiang. Perumahan yang diteliti merupakan perumahan menengah

keatas, yaitu :

(35)

2. Tipe 70

3. Tipe 100

4. Tipe 120

Dalam menentukan kerugian ekonomi akibat serangan rayap digunakan

beberapa kriteria sebagai berikut (Remran,1993):

a. Rusak ringan, apabila persentase kerusakan lebih kecil dari 5% dan dianggap

tidak perlu dilakukan penggantian tetapi harga kayu yang rusak diperhitungkan.

b. Rusak sedang, apabila persentase kerusakan terletak antara 6% - 20% dan

dianggap perlu dilakukan penggantian dengan memperhitungkan harga kayu yang

rusak beserta upah.

c. Rusak berat, apabila persentase kerusakan lebih besar dari 20% dan mempunyai

dua posisi serangan yaitu antara bagian ujung, tengah dan pangkal maka unit

tersebut harus dilakukan penggantian dengan memperhitungkan harga kayu yang

rusak beserta upah perbaikan.

Dalam penelitian ini aspek yang dikaji adalah kerugian ekonomis akibat

serangan rayap pada perumahan di dua wilayah di kota Medan, yaitu Kecamatan

Medan Johor dan Medan Selayang dengan mempertimbangkan aspek kerugian

ekonomis yang ditimbulkan oleh serangan rayap. Perumahan yang diteliti merupakan

perumahan menengah keatas yaitu dengan tipe diatas 54. Harga kayu dan material

yang digunakan adalah harga dipasaran pada saat penelitian. Sedangkan upah kerja di

(36)

Penentuan Rumah Contoh

Penentuan rumah contoh dilakukan dengan menggunakan metode Stratified

Sampling (metode pengambilan contoh berstrata atau lapisan). Rumah contoh yang

diambil adalah rumah dengan tipe 54,70,100, dan 120. Rumah contoh tersebut berada

pada dua wilayah Kota Medan yaitu Medan Barat yaitu Kecamatan Medan Selayang

dan Medan Selatan yaitu Kecamatan Medan Johor. Dari masing-masing kecamatan

diambil dua perumahan sehingga diperoleh empat perumahan, dari masing-masing

perumahan diambil 30 rumah contoh, sehingga diperoleh 120 rumah contoh.

Pemilihan Kecamatan Medan Johor dan Kecamatan Medan Selayang sebagai wilayah

penelitian karena pada kedua Kecamatan tersebut banyak terdapat perumahan,

disamping terbatasnya waktu dan biaya.

Pengumpulan Data

Data primer diperoleh dari pengamatan langsung dan wawancara di lapangan

berdasarkan tally sheet yang telah disiapkan sebelumnya. Tally sheet mencakup

karakteristik bangunan, lingkungan bangunan dan data komponen bangunan.

Bagian kayu yang rusak diukur dimensinya, baik panjang, lebar dan tebalnya.

Jadi data yang diperoleh merupakan nilai kerugian minimal. Data-data yang diperoleh

atas komponen tersebut dikonversi ke dalam nilai rupiah (Rp). Nilai yang diperoleh

merupakan nilai kerugian ekonomis yang disebabkan oleh rayap. Sedangkan data

sekunder yang digunakan adalah :

a. Peta Kota Medan (lampiran 8)

(37)

c. Kunci determinasi (Nandika, 2003) (Lampiran 1)

Pengolahan Data

A. Pengelompokan Data

Data nilai kerugian dikelompokan ke dalam beberapa kelas umur yaitu :

a. 1 - 5 tahun

b. 6 - 10 tahun

c. 11 –15 tahun

d. Lebih dari 15 tahun

Masing –masing kelas umur dikelompokkan lagi berdasarkan golongan rayap

perusak kayu yaitu antara rayap kayu kering (RKK) dan rayap tanah (RT). Nilai

kerugian dirinci menurut jenis komponen yang terserang yaitu : kusen pintu, kusen

jendela, daun pintu daun jendela, lisplang, plafon, tiang.

B. Analisis Data

Kerugian ekonomis dibedakan antara rayap kayu kering dan rayap tanah.

Perhitungan kerugian dilakukan pada masing – masing kelas umur rumah contoh.

Nilai kerugian pada masing – masing rumah contoh tersebut merupakan hasil

penjumlahan dari nilai kerugian tiap komponen.

Perhitungan selanjutnya dilakukan dengan parameter statistik :

1. Perhitungan Kerugian Ekonomis

Ksr =

m

n Kn

(38)

Keterangan :

Ksr = kerugian akibat serangan rayap

r = rayap kayu kering, rayap tanah

s =1,2,3,... total bangunan sampel yang

diserang rayap

Kn = nilai kerugian masing-masing komponen

n = 1,2,3,....m komponen

2. Perhitungan Standar Deviasi (S):

n ∑ xi² - ( ∑ xi ) ²

S =

n ( n -1 )

Keterangan :

S = Standar Deviasi

n = jumlah contoh (120 rumah)

xi = nilai variabil ke-i

(39)

3. Perhitungan Interval untuk Rata-rata

Keterangan :

X = nilai rata-rata hasil pengukuran

Sx = standar error

tα/2 = 2,1448 dan derajat kebebasan

( )

n−1 untuk tingkat kepercayaan 95%

S = standar deviasi

Identifikasi Rayap

Rayap yang diperoleh dari perumahan yang terserang atau yang diperoleh dari

sekitar rumah disimpan dalam botol kecil yang berisi alkohol 70% agar rayap tersebut

tidak cepat rusak. Lalu diidentifikasi rayap tersebut, termasuk rayap kayu kering atau

rayap tanah. Identifikasi yang dilakukan adalah identifikasi morfologi. Apabila tidak

ditemukan jenis rayap yang menyerang, maka akan dilakukan pemancingan rayap

dengan menggunakan kayu rambung (Hevea braziliensis) yang diletakkan di sekitar

rumah contoh dan diamati selama sebulan. Identifikasi rayap dilakukan di

laboratorium dengan menggunakan kunci determinasi Nandika (2003),Tho (1992)

(40)

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

A. Kondisi Umum Kota Medan

Kota Medan adalah ibukota Propinsi Sumatera Utara. Koordinat geografis

kota Medan adalah 3º 30' - 3º 43' LU dan 98º 35' - 98º 44' BT. Permukaan tanahnya

cenderung miring ke utara dan berada pada ketinggian 2,5 - 50 m di atas permukaan

laut. Kota Medan berbatasan dengan Selat Malaka di sebelah utara, sedangkan di

sebelah barat, selatan dan timur berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang. Kota

Medan sendiri menjadi kota induk dari beberapa kota satelit di sekitarnya seperti

Kota

adalah 265,10 km². Sebelumnya hingga tahun 1972 Medan hanya mempunyai luas

sebesar 51,32 km², namun kemudian diedarkan Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun

1973 yang memperluas wilayah Kota Medan dengan mengintegrasikan sebagian

wilayah

Wilayah Kota Medan kemudian dibagi lagi menjadi 21

Kecamatan-kecamatan tersebut adalah :

(41)

Wikipedia (2008).

B. Kondisi Umum Kecamatan Medan Johor dan Medan Selayang

a. Kondisi Umum Kecamatan Medan Johor

Kecamatan Medan Johor adalah salah satu dari 2

dengan

ini merupakan daerah resapan air bagi kota Medan. Pada tahun

kecamatan ini mempunyai penduduk sebesar 101.889 jiwa. Luasnya adalah

14,58 km² dan kepadatan penduduknya adalah 6.988,27 jiwa/km². Kecamatan

ini mempunyai 6 kelurahan yaitu :

• Gedung Johor

• Pangkalan Masyur

• Kwala Bekala

• Titi Kuning

(42)

• Kedai Durian

Wikipedia (2008).

b. Kondisi Umum Kecamatan Medan Selayang

Kecamatan Medan Selayang adalah salah satu dari

kota

berbatasan denga

sebesar 77.783 jiwa. Luasnya adalah 12,81 km² dan kepadatan penduduknya

adalah 6.072,05 jiwa/km². Kecamatan ini mempunyai 6 kelurahan yaitu :

• Beringin

• Asam Kumbang

• Tanjung Sari

• Padang Bulan Selayang I

• Padang Bulan Selayang II

• Sempakata

Wikipedia (2008).

C. Kondisi Umum Perumahan Johor Permai, Citra Wisata, Pemda I, dan Insan

Citra Griya

a. Perumahan Johor Permai

Perumahan Johor Permai terletak di Kelurahan Gedung Johor

(43)

didirikan pada tahun 1984. Asal usul lahan sebelumnya merupakan lahan

perkebunan dan persawahan. Kayu yang digunakan sebagai bahan konstruksi

didominasi oleh kayu meranti, disamping ada beberapa yang menggunakan

kayu sembarang. Tidak ada tindakan pengawetan terhadap kayu konstruksi

yang dilakukan sebelum rumah didirikan .Lingkungan perumahan terdiri dari

rawa-rawa berair dan perladangan masyarakat.

b. Perumahan Citra Wisata

Perumahan Citra Wisata terletak di Kelurahan Pangkalan Masyur

Kecamatan Medan Johor. Perumahan ini didirikan pada tahun 2000 dengan

ketinggian tempat 47 mdpl. Pada awalnya lahan perumahan Citra Wisata

merupakan perladangan masyarakat yang kemudian dibangun perumahan.

Perlakuan pengawetan tidak dilakukan terhadap konstruksi kayu. Kayu

konstruksi didominasi oleh kayu meranti. Disekitar perumahan Citra Wisata

merupakan lahan kosong.

c. Perumahan Pemda I

Perumahan Pemda I terletak di Kelurahan Sempakata Kecamatan

Medan Selayang dengan ketinggian 40 mdpl. Perumahan ini didirikan pada

tahun 1980. Awalnya perumahan Pemda I merupakan lahan perkebunan yang

kemudian dibangun perumahan. Perlakuan pengawetan tidak dilakukan

terhadap konstruksi kayu. Kayu konstruksi didominasi oleh kayu meranti,

walaupun ada beberapa komponen yang terbuat dari kayu sembarang, damar

dan merbau seperti pada pintu dan jendela. Disekitar perumahan merupakan

(44)

d. Perumahan Insan Citra Griya

Perumahan Insan Citra Griya terletak di Kelurahan Padang Bulan

Selayang I Kecamatan Medan Selayang. Perumahan ini didirikan pada tahun

2002 dengan ketinggian 37 mdpl. Asal usul lahan perumahan ini merupakan

lahan persawahan. Lingkungan sekitar perumahan Insan Citra Griya masih

merupakan areal persawahan. Kayu yang digunakan sebagai bahan konstruksi

didominasi oleh kayu sembarang dan tidak ada tindakan pengawetan yang

(45)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Rumah Contoh

Hasil penelitian karakteristik umur bangunan, luas bangunan, tipe bangunan

rumah contoh yang berada di lokasi penelitian tercantum pada Tabel 1.

Tabel 1. Karakteristik Umur Bangunan, Luas Bangunan, Tipe Bangunan Rumah Contoh DiWilayah Kecamatan Medan Johor Dan Kecamatan Medan Selayang.

Karakteristik Rumah Contoh

Kecamatan Medan Johor (%)

Kecamatan Medan Selayang (%) Umur (tahun)

a) 1 - 5 b) 6 - 10 c) 11 – 15 d) Lebih dari 15

1,66 50,00 3,33 45,00 11,66 38,33 6,66 43,33

Luas Bangunan (m2)

a) 54 b) 70 c) 100 d) 120 10,00 35,00 6,66 48,33 43,33 53,33 0 3,33 Tipe a) Permanen b) Semi Permanen

100,00 0

100,00 0

Penelitian dilakukan pada dua kecamatan yaitu kecamatan Medan Johor dan

Kecamatan Medan Selayang. Untuk kecamatan Medan Johor rumah contoh yang

paling banyak diteliti adalah yang berumur 6 – 10 tahun yaitu sebesar 50 %,

sedangkan untuk kecamatan Medan Selayang adalah yang berumur lebih dari 15

tahun yaitu 43,33 %. Umur rumah dapat menentukan tingkat serangan rayap yang

[image:45.612.114.527.279.517.2]
(46)

konstruksi kayu yang ada didalamnya cenderung menurun sehingga kemungkinan

untuk terserang rayap akan semakin besar. Tetapi belum tentu rumah yang berumur

lebih tua memiliki kerusakan yang lebih besar dibandingkan dengan rumah yang

berumur lebih muda. Sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan bahwa pada

perumahan Insan Citra Griya yang berumur lebih muda dibandingkan perumahan

Pemda I memiliki kerusakan yang lebih besar, sebagaimana tercantum pada Tabel 6.

Faktor - faktor lain yang dapat mempengaruhi kerusakan akibat serangan rayap

seperti jenis kayu yang digunakan, kondisi bio fisik tapak bangunan, dan faktor lain

yang dapat mendukung perkembangan hidup rayap. Jenis kayu yang secara alami

tahan terhadap serangan rayap walaupun tidak tahan secara mutlak sangat sedikit

jumlahnya dan kondisi bio fisik tapak bangunan dapat mendorong perkembangan

hidup rayap (Nandika, 2003).

Besar kecilnya rumah contoh menggambarkan luas bangunannya dan

banyaknya bagian-bagian rumah yang terbuat dari kayu. Rumah besar cendrung

memiliki konstruksi kayu yang lebih banyak daripada rumah yang berukuran kecil.

Semakin besar volume kayu yang terdapat di dalam satu unit rumah maka semakin

besar peluang untuk terserang rayap. Akan tetapi, hal ini juga tergantung dengan jenis

kayu yang digunakan serta faktor-faktor fisik yang mendukung lingkungan untuk

perkembangan hidup rayap.

Tipe rumah juga berpengaruh terhadap serangan rayap. Pada rumah permanen

komponen yang terbuat dari kayu lebih sedikit dibandingkan rumah semi permanen,

sehingga kemungkinan terserang rayap lebih kecil. Dalam penelitian ini rumah yang

(47)
[image:47.612.113.526.126.275.2]

Tabel 2. Karakteristik Sumber Air, Drainase Rumah Contoh Di Wilayah Kecamatan Medan Johor Dan Kecamatan Medan Selayang.

Karakteristik Rumah Contoh

Kecamatan Medan Johor (%)

Kecamatan Medan Selayang (%) Sumber air a) Sumur b) PAM - 100,00 - 100,00 Drainase a) Lancar b) Agak lancar c) Tidak lancar

70,00 30,00 - 63,33 36,66 -

Karakteristik bangunan lain yang diteliti adalah sumber air dan drainase.

Sumber air yang digunakan masyarakat untuk kegiatan sehari – hari dapat

mempengaruhi kelembaban lingkungan rumah. Salah satu faktor lingkungan yang

dapat mendukung perkembangan hidup rayap adalah kelembaban suatu daerah

(Nandika, 2003). Hasil pengamatan yang dilakukan bahwa dari 120 rumah contoh

seluruhnya menggunakan air PAM sebagai sumber air untuk kegiatan sehari – hari

(Tabel 2 ). Rumah contoh yang sumber airnya berasal dari sumur biasa cenderung

memiliki kelembaban yang lebih tinggi. Hal ini sesuai dengan penelitian yang

dilakukan Hasibuan (2007) yang menyatakan bahwa rumah yang sumber airnya

berasal dari sumur memiliki kerugian akibat serangan rayap lebih besar dibandingkan

rumah yang sumber airnya berasal dari PAM. Faktor kelembaban ini akhirnya akan

mengundang rayap untuk datang yang selanjutnya akan mengambil makanan berupa

konstruksi kayu yang berada di dalam rumah tersebut.

Drainase dapat mempengaruhi kelembaban tanah, karena drainase yang tidak

(48)

yang tinggi sangat disukai oleh rayap, terutama rayap tanah. Pada Kecamatan Medan

Johor didapat sebesar 70% dari rumah contoh memiliki drainase lancar dan 30% dari

rumah contoh memiliki drainase agak lancar. Sedangkan pada Kecamatan Medan

Selayang didapat sebesar 63,33% dari rumah contoh memiliki drainase lancar dan

33,33% dari rumah contoh memiliki drainase agak lancar. Secara keseluruhan

drainase pada rumah contoh sudah cukup baik karena sudah menggunakan paralon

dan tidak ada drainase yang tidak lancar. Hal ini disebabkan adanya kesadaran

masyarakat terhadap lingkungan disekitar rumah. Menurut hasil wawancara yang

dilakukan apabila ada saluran yang tersumbat maka akan segera dilakukan perbaikan

karena dapat menimbulkan bau yang tidak sedap dan mempengaruhi kebersihan

[image:48.612.117.527.430.667.2]

lingkungan rumah.

Tabel 3. Karakteristik Kepadatan Pemukiman, Penerimaan Sinar Matahari, Pembuangan Sampah Pada Lokasi Rumah Contoh Di Wilayah Kecamatan Medan Johor Dan Kecamatan Medan Selayang.

Karakteristik Rumah Contoh

Kecamatan Medan Johor (%)

Kecamatan Medan Selayang (%) Kepadatan Pemukiman

a) Rapat ( ≤ 1 m ) b) Sedang ( 2 – 5 m) c) Jarang ( ≥ 6 m )

100,00 - - 100,00 - -

Penerimaan Sinar Matahari

a) Cukup b) Sedang c) Kurang - 25,00 75,00 - 40,00 60,00 Pembuangan Sampah

a) Lubang Sampah b) Dinas Kebersihan

40,00 60,00

(49)

Karakteristik rumah contoh lain yang berpengaruh terhadap serangan rayap

adalah kepadatan pemukiman, penerimaan sinar matahari, dan pembuangan sampah

seperti terlihat pada Tabel 3. Rumah contoh yang diteliti merupakan bangunan

perumahan yang rapat antara satu rumah dengan rumah yang lain. Kerapatan rumah

ini menyebabkan kurangnya cahaya matahari yang masuk kedalam rumah sehingga

hal ini akan berdampak pada kelembaban udara dalam rumah. Penerimaan sinar

matahari yang diterima suatu daerah juga berpengaruh pada perkembangbiakan rayap

(Safaruddin, 1994). Rayap memiliki sifat kriptobiotik, yaitu tidak menyenangi cahaya

dan cenderung menghindari cahaya, mereka hidup dalam tanah dan bila akan invasi

mencari objek makanan juga menerobos di bagian dalam, bila perlu logam tipis dan

tembok (apalagi plastik) ditembusinya dan bila terpaksa berjalan dipermukaan

terbuka, mereka membentuk liang kembara dari bahan tanah atau humus (Nandika,

2003). Oleh karena itu rumah yang kurang cahaya dan lembab rentan terhadap

serangan rayap. Hal ini sesuai pada perumahan Insan Citra Griya yang berumur 6 –

10 tahun tetapi sudah terserang rayap.

Hasil pengamatan diperoleh data 60% dan 53,33% dari 60 rumah contoh di

wilayah Kecamatan Medan Johor dan Kecamatan Medan Selayang membuang

sampah di penampungan sampah yang telah di sediakan pemerintah Kota Medan

maupun penampungan sampah yang dibuat sendiri oleh masyarakat dan selanjutnya

akan diangkut oleh mobil pengangkut sampah yang telah disediakan pemerintah Kota

Medan. Hal ini menggambarkan bahwa sebagian masyarakat di lokasi penelitian telah

peduli dengan kebersihan lingkungan di sekitarnya. Bahkan tidak di dapat lagi

(50)

mengingat bahwa tempat pembuangan sampah yang tidak terawat akan dapat

menimbulkan kelembaban tanah didalamnya, apalagi kalau terdapat sisa-sisa kayu

yang tidak terpakai. Kondisi ini jelas akan mengundang rayap untuk datang untuk

[image:50.612.115.526.209.392.2]

selanjutnya menginvasi rumah yang berada disekitarnya.

Tabel 4. Karakteristik Jenis Atap Serta Jenis Kayu Yang Digunakan Rumah Contoh Di Wilayah Kecamatan Medan Johor Dan Kecamatan Medan Selayang.

Karakteristik Rumah Contoh

Kecamatan Medan Johor (%)

Kecamatan Medan Selayang (%) Jenis Atap a) Seng c) Genteng 21,66 78.33 26,66 73.33

Jenis Kayu Yang Digunakan

a) Damar b) Merbau c) Meranti

d.) Kayu Lain-Lain

8,33 11,66 63,33 16,66 3,33 6,66 36,66 53,33

Pada Tabel 4 diketahui sebagian besar rumah contoh yang menggunakan

genteng sebagai penutup atap rumah mereka, yaitu 78,33% untuk Kecamatan Medan

Johor dan 73,33% untuk Kecamatan Medan Selayang. Biasanya kerusakan akibat

serangan rayap pada plafon dan lisplang disebabkan adanya kebocoran pada atap.

Bila atap bocor maka rembesan air hujan masuk kedalam dan menyebabkan kayu

menjadi lembab. Kondisi kayu yang lembab ini sangat disukai oleh rayap. Sehingga

rayap akan mulai menyerang plafon dan lisplang. Atap yang terbuat dari seng

biasanya lebih mudah bocor dibandingkan dengan atap yang terbuat dari genteng. Hal

ini sesuai dengan hasil penelitian yang atap rumahnya banyak terbuat dari genteng,

(51)

penelitian yang dilakukan Hasibuan (2007), dimana rumah contoh atapnya banyak

terbuat dari seng yang mengalami kerugian akibat serangan rayap lebih besar.

Sebagian besar perumahan di kota Medan masih menggunakan kayu kurang

awet sebagai bahan baku konstruksi rumah. Hal ini dilakukan untuk mengurangi

biaya pembangunan rumah mengingat harga kayu awet sangat mahal. Hasil

wawancara yang dilakukan dengan pemborong bangunan yang ada dilokasi penelitian

menyatakan bahwa untuk membangun perumahan hanya menggunakan kayu

sembarang atau kayu meranti. Harga kayu awet seperti damar dan merbau sangat

mahal, sehingga apabila menggunakan kayu awet maka biaya konstruksi rumah akan

membengkak sedangkan masyarakat cenderung membeli rumah dengan harga yang

murah. Perlakuan pengawetan terhadap kayu untuk konstruksi rumah juga jarang

dilakukan karena memakan biaya yang tidak sedikit.

Perumahan Insan Citra Griya didominasi oleh kayu sembarang sebagai

konstruksi rumah, walaupun ada beberapa masyarakat yang mengganti komponen

rumah menjadi kayu merbau. Kayu merbau biasanya digunakan untuk pintu,

khususnya pintu depan. Hal ini menyebabkan perumahan Insan Citra Griya sangat

mudah terserang rayap. Dari keempat perumahan yang diteliti, perumahan ini

mengalami kerugian akibat serangan rayap terbesar (Tabel 5).

Perumahan Johor Permai, Citra Wisata dan Pemda I didominasi oleh kayu

meranti sebagai konstruksi rumah. Kayu meranti merupakan kayu kelas awet III-IV,

sehingga ketahanannya terhadap serangan rayap tidak terlalu baik dibandingkan

dengan kayu yang memiliki kelas awet yang lebih tinggi seperti kayu damar dan

(52)

kurang awet sehingga disukai oleh rayap (Nandika,2003). Oleh karena itu, untuk

meningkatkan ketahanan kayu tidak awet tindakan pengawetan kayu sangat

diperlukan. Menteri Pekerjaan Umum pada tahun 1988 menerbitkan surat keputusan

yang menyatakan bahwa kayu-kayu kelas awet tiga ke atas harus diawetkan. Dari

hasil wawancara yang dilakukan tidak satupun dari ketiga perumahan yang

melakukan tindakan pengawetan kayu untuk konstruksi rumah. Masyarakat belum

menyadari pentingnya tindakan pengawetan sebelum kayu digunakan sebagai bahan

konstruksi rumah. Masyarakat hanya melakukan pengecatan setahun sekali terhadap

komponen rumah. Bila terjadi kerusakan terhadap komponen rumah akibat serangan

rayap maka masyarakat akan mengganti komponen rumah yang rusak dengan kayu

merbau atau damar yang memiliki keawetan lebih baik. Hal ini sesuai dengan hasil

wawancara dengan pemilik rumah yang menyatakan bahwa bangunan rumah mereka

sudah banyak dilakukan renovasi. Bila diamati bangunan rumah di ketiga perumahan

[image:52.612.120.518.525.646.2]

sudah berbeda dengan bangunan asli pada saat awal perumahan tersebut dibangun

(Gambar 1). Hal ini dikarenakan sudah dilakukan renovasi dan perbaikan terhadap

komponen yang rusak.

Gambar 1. Bangunan Asli Dan Bangunan Yang Sudah Direnovasi Pada

(53)

Penanggulangan bahaya rayap harus dimulai pada tahap prakonstruksi untuk

mencegah masuknya rayap ke dalam bangunan perumahan. Tindakan

penanggulangan bahaya rayap prakonstruksi dapat dilakukan dengan pendekatan

rancang bangunan perumahan tahan rayap, penggunaan kayu awet atau diawetkan

melalui tindakan pengawetan kayu, dan pemberian perlakuan tanah sebagai

penghalang kimia. Jika dibandingkan antara biaya anti rayap dengan jumlah uang

yang dikeluarkan untuk pembelian kayu untuk kusen, pintu, jendela, dan konstruksi

plafon/atap, maka biaya anti rayap sangat kecil. Namun demikian semua itu akan

menjadi sangat murah jika hal tersebut dilakukan sebelum mendapat serangan rayap,

karena jika dilakukan sebelum muncul serangan rayap, hanya akan terbebani oleh

biaya anti rayap saja ( Tarumingkeng, 2001).

Pola Serangan Rayap

Rayap merupakan organisme kriptobiotik yang sifatnya menyembunyikan diri

dan menghindari cahaya, sehingga kehadiran rayap sulit untuk diketahui. Untuk itu

perlu diketahui pola serangan rayap, khususnya rayap tanah dan rayap kayu kering

yang sering mengakibatkan kerusakan pada bangunan perumahan. Rayap tanah

adalah rayap yang bersarang dalam tanah terutama dekat pada bahan organik yang

mengandung selulosa seperti kayu, serasah dan humus (Tarumingkeng, 2001). Rayap

tanah sangat memerlukan kondisi lingkungan yang memiliki kelembaban yang tinggi

(Prasetyo, Yusuf, 2005). Serangan rayap tanah pada bangunan biasanya berasal dari

celah-celah pondasi atau objek-objek yang berhubungan langsung maupun dekat

(54)

kembara yang ada pada komponen – komponen rumah karena rayap tanah tidak

menyukai cahaya, maka untuk dapat bergerak bebas didaerah terbuka rayap tanah

membuat liang kembara untuk menuju ke objek yang diserangnya (Gambar 2).

Kehadiran rayap tanah biasanya ditandai dengan adanya liang-liang kembara yang

menempel pada bagian pondasi di atas permukaan tanah dan dinding rumah

[image:54.612.158.483.248.492.2]

(Jusmalinda,1994).

Gambar 2. Liang Kembara Yang Ada Pada Komponen Tiang Rumah

Jenis-jenis rayap tanah ini sangat ganas, karena dapat menyerang

obyek-obyek berjarak sampai 200 meter dari sarangnya. Untuk mencapai kayu sasarannya

mereka bahkan dapat menembus tembok yang tebalnya beberapa cm, dengan bantuan

enzim yang dikeluarkan dari mulutnya. Rayap tanah juga dapat menyerang objek

(55)
[image:55.612.215.425.83.211.2]

Gambar 3. Kayu Plafon Yang Diserang Oleh Rayap Tanah

Rayap kayu kering adalah rayap yang hidup dalam kayu mati yang telah

kering. Rayap ini umum terdapat di rumah-rumah dan perabot-perabot seperti meja,

kursi dan sebagainya. Tanda serangannya adalah terdapatnya butir-butir ekskremen

kecil berwarna kecoklatan yang sering berjatuhan di lantai atau di sekitar kayu yang

diserang. Rayap ini juga tidak berhubungan dengan tanah, karena habitatnya kering

(Tarumingkeng, 2001). Rayap kayu kering dapat menyerang kayu yang mempunyai

kadar air 10 – 12 persen atau mungkin lebih rendah dari dari itu (Tambunan,1989).

Rayap ini sangat sulit dideteksi karena menyerang didalam kayu dan tidak kelihatan

dari luar. Nantinya setelah rayap menyerang maka terdapat butiran ekskremen yang

berjatuhan disekitar kayu yang diserang (Gambar 4).

[image:55.612.225.417.529.670.2]
(56)

Apabila kayu yang diserang ditekan maka bagian dalamnya telah rusak menjadi

butiran – butiran ekskremen. Rayap kayu kering dapat mencapai sasarannya melalui

dua cara : (1) laron yang bersialang menemukan obyek sasarannya dan mampu

berkembang karena obyek tidak tertutup(misalnya cat pelindung yang tidak toksik,

dan kayu yang tidak awet atau diawetkan) dan (2) obyek sasaran terserang oleh rayap

yang berasal dari obyek lain yang telah diserang dan letaknya berdekatan (Nandika,

2003).

Kerugian Ekonomis Akibat Serangan Rayap

A. Perbedaan Kerugian Ekonomis Akibat Serangan Rayap Pada Masing-masing

Lokasi Penelitian.

Perhitungan kerugian ekonomi akibat serangan rayap dilakukan pada

masing-masing komponen bangunan dengan berpedoman kepada panduan yang memuat

daftar harga konstruksi dari komponen rumah contoh (Lampiran 2) serta upah yang

berlaku saat penelitian dilaksanakan. Pengelompokan dilakukan menurut lokasi

[image:56.612.113.554.554.684.2]

penelitian. Seperti yang terlihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Perbedaan Kerugian Ekonomis Akibat Serangan Rayap Pada Masing- Masing Lokasi Penelitian.

Lokasi Antar Kecamatan Kerugian (Rp) Total Kerugian (Rp)

Kecamatan Medan Johor

1.Perumahan Johor Permai 1.586.753,04

2.Perumahan Citra Wisata 243.408,95 1.830.161,99

Kecamatan Medan Selayang

1.Perumahan Pemda I 854.756,15

2.Perumahan Insan Citra Griya 1.701.910,32 2.556.666.47

(57)

Pada Tabel 5 dapat dilihat bahwa kerugian akibat serangan rayap terbesar

adalah perumahan Insan Citra Griya, sedangkan kerugian akibat serangan rayap

terkecil adalah perumahan Citra Wisata. Pada Tabel 5 juga dapat dilihat perbedaan

kerugian ekonomis yang cukup besar antara perumahan Insan Citra Griya dan

perumahan Citra Wisata. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya perbedaan umur

rumah, jenis kayu yang digunakan dan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi

perkembangan hidup rayap. Umur rumah keduanya tidak berbeda jauh, tetapi jenis

kayu yang digunakan berbeda. Perumahan Insan Citra Griya didominasi oleh kayu

sembarang untuk konstruksi rumah, sedangkan perumahan Citra Wisata didominasi

oleh kayu meranti. Kayu meranti merupakan kayu kelas awet III – IV yang

sebenarnya harus dilakukan pengawetan terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai

konstruksi bangunan. Kayu tahan rayap sangat sedikit jumlahnya, sebagian besar

adalah kayu kurang awet sehingga disukai oleh rayap. Oleh karena itu, untuk

meningkatkan ketahanan kayu tidak awet tindakan pengawetan kayu sangat

diperlukan. Menteri Pekerjaan Umum pada tahun 1988 menerbitkan surat keputusan

yang menyatakan bahwa kayu-kayu kelas awet tiga ke atas harus diawetkan

(Nandika, 2003). Dari hasil pengamatan yang dilakukan bahwa perumahan Insan

Citra Griya dibangun diatas tanah yang dahulunya merupakan persawahan.

Disekeliling perumahan tersebut juga masih areal persawahan. Hal ini menyebabkan

kondisi tanah menjadi basah dan lembab sehingga sangat mendukung bagi

perkembangan hidup rayap.

Kerugian ekonomis akibat serangan rayap juga tinggi pada perumahan

(58)

24 tahun, didapat kerugian akibat serangan rayap sebesar 1.579.634,78. Semakin tua

umur bangunan maka keawetan kayu untuk konstruksi rumah tersebut semakin

rendah, sehingga kemungkinan terserang rayap lebih besar. Tetapi harus dilihat faktor

– faktor lainnya seperti jenis kayu yang digunakan dan kondisi fisik lingkungan

perumahan. Pada perumahan Pemda I kerugian akibat serangan rayap lebih kecil bila

dibandingkan dengan perumahan Johor Permai. Bila dilihat dari umur rumah diantara

keduanya tidak berbeda jauh. Kondisi fisik lingkungan perumahan diantara keduanya

yang berbeda. Disekitar perumahan Johor Permai masih terdapat sawah dan banyak

terdapat genangan air yang menyebabkan tanah disekitar perumahan lembab. Hal

inilah yang dapat mendukung perkembangan hidup rayap.

Dari hasil penelitian didapat bahwa 0,41% dari komponen rumah yang rusak

mengalami rusak berat, yaitu pada komponen pintu dapur. Untuk komponen rumah

yang mengalami rusak sedang adalah 6,58% yaitu pada komponen kusen jendela,

daun jendela, daun pintu dan lisplang. Komponen yang mengalami rusak ringan

adalah yang terbesar jumlahnya yaitu 93,01%. Sebagian besar komponen rumah yang

rusak hanya mengalami rusak ringan, hal ini disebabkan apabila komponen telah

rusak sedang atau berat umumnya pemilik rumah akan melakukan penggantian

komponen. Dari hasil wawancara dengan pemilik rumah di perumahan Johor Permai,

Citra Wisata, dan Pemda I sebagian besar pemilik rumah yang sudah mengganti

komponen – komponen rumah yang rusak dengan komponen yang baru. Sehingga

data kerugian akibat serangan rayap pada penelitian ini tidak begitu besa

Gambar

Tabel 1. Karakteristik Umur Bangunan, Luas Bangunan, Tipe Bangunan Rumah Contoh Di Wilayah Kecamatan Medan Johor Dan Kecamatan Medan Selayang
Tabel 2. Karakteristik Sumber Air, Drainase Rumah Contoh Di Wilayah
Tabel 3. Karakteristik Kepadatan Pemukiman, Penerimaan Sinar Matahari,
Tabel 4. Karakteristik Jenis Atap Serta Jenis Kayu Yang Digunakan Rumah
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk menghitung kerugian ekonomis kerusakan bangunan Sekolah Dasar Swasta yang disebabkan oleh rayap.. Penyebaran rayap dipetakan dengan

Data kerugian ekonomis akibat serangan rayap pada bangunan SMA dan SMK Negeri pada Kota Pekanbaru yang terbuat dari bahan berkayu sebagai

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan jumlah kerusakan dan kerugian ekonomis yang disebabkan oleh serangan rayap pada bangunan Sekolah Dasar Negeri

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan jumlah kerusakan dan kerugian ekonomis yang disebabkan oleh serangan rayap pada bangunan Sekolah Dasar Negeri

Jenis komponen-komponen bangunan rumah di perumahan Kawasan Mijen Kota Semarang yang paling banyak mengalami kerusakan akibat serangan rayap adalah kusen pintu

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan jumlah kerusakan dan kerugian ekonomis yang disebabkan oleh serangan rayap pada bangunan Sekolah Dasar Negeri

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan jumlah kerusakan dan kerugian ekonomis yang disebabkan oleh serangan rayap pada bangunan Sekolah Dasar Negeri

Jenis komponen-komponen bangunan rumah di perumahan Kawasan Mijen Kota Semarang yang paling banyak mengalami kerusakan akibat serangan rayap adalah kusen pintu