BAB IV MORFOFONEMIK
C. Pembentukan Kata Berbasis Morfofonemik
2) Konfiks {per-an}
Konfiks {per-an} merupakan imbuhan berupa prefiks yang sangat produktif mengalami proses morfofonemik. Proses morfofonemik yang dialami oleh imbuhan {per-an} terjadi dalam beberapa model, yaikni: (1) persenyawaan fonem; (2) pemertahanan fonem; dan (3) penambahan fonem. Paparan masing-masing model itu sebagai berikut:
(1) Persenyawaan fonem merujuk kepada fenomena, sekiranya prefiks {per-an} diimbuhkan pada satuan bahasa berupa morfem dasar yang diawali oleh konsonan tak bersuara, seperti:
bilabial Alveolar Velar
Hambat tak besuara /p/ /t/ /k/
Geser /s/
Contoh:
{per-an} + {tampung} → {penampungan} {per-an} + {selamat} → {penyelamatan} {per-an} + {tangkar} → {penangkaran} {per-an} + {pagar} → {pemagaran} {per-an} + {pandang} → {pamandangan} {per-an} + {kecuali} → {pengecualian} Contoh penggunaan kata hasil fonem dalam kalimat:
i. Air sumur, misalnya didiamkan di penampungan
dalam posisi terbuka selama 24 jam untuk mengikat oksigen.
ii. Arwana menjadi penyelamat bagi Suryadi ketika perusahaan tempatnya mencari nafkah gulung tikar. iii. Saya bertekad menekuni penangkaran arwana.
iv. Polisi melakukan pemagaran menggunakan pita khusus di tempat kejadian perkara.
v. Mereka tidak memiliki hak pengecualian dalam menangani kasus itu.
Catatan :
a. Persenyawaan yang memunculkan fonem sengau /n/ terjadi pada proses morfofonemik antara {per-an} dengan bentuk dasar yang dawali dengan fonem /t/. b. Persenyawaan yang memunculkan fonem sengau /ñ/
terjadi pada proses morfofonemik antara {per-an} dengan bentuk dasar yang dawali dengan fonem /s/. c. Persenyawaan yang memunculkan fonem sengau /m/
terjadi pada proses morfofonemik antara {per-an} dengan bentuk dasar yang dawali dengan fonem /p/. d. Persenyawaan yang memunculkan fonem /ŋ/ terjadi
pada proses morfofonemik antara {per-an} dengan bentuk dasar yang dawali dengan fonem /k/.
(2) Pemertahanan
Pemertahanan fonem merujuk kepada prefiks {per-an} diimbuhkan pada satuan bahasa berupa morfem dasar yang diawali oleh konsonan nasal, getar, lateral dan semivokal sebagai berikut:
bilabial Alveolar Palatal Hambat besuara /b/ /d/ /g/ Nasal /m/ /n/ /ñ/ Getar /r/ Lateral /l/ semivokal /y/ Contoh:
{per-an} + {laku} → {perlakuan} {per-an} + {rakit} → {perakitan} {per-an} + {yayasan} → {peryayasanan} {per-an} + {mesin} → {permesinan} {per-an} + {dagang} → {perdagangan} {per-an} + {bukit} → {perbukitan} {per-an} + {nyata} → {pernyataan} {per-an} + {nafas} → {pernafasan}
Contoh penggunaan kata hasil pemertahanan fonem dalam kalimat:
i. Selang dua setengah jam, ia menguras akuarium karena air kotor. Lalu mengisi air baru asal galon isi ulang tanpa perlakuan terlebih dahulu.
ii. Perakitan mobil esemka buatan Indonesia terus ditingkatkan.
iii. Setiap organisasi pendidikan swasta perlu memiliki izin peryayasanan pengelola pendidikan itudi setiap jejang.
iv. Ali menekuni seluk beluk permesinan sejak masih mengikuti pendidikan di tingkat sekolah menengah pertama.
v. Pernyataan orang itu sangat jelas.
(3) Penambahan
Penambahan fonem merujuk kepada prefiks {per-an} diimbuhkan pada satuan bahasa berupa morfem dasar tidak ditemukan dalam bahasa Indonesia, khususnya pada penulisan buku ini. Gejala yang sangat dominan adalah persenyawaan dan pemertahanan fonem sebagaimana tertera di bagian (1) dan (2) pada paparan sebelum ini.
4. Proses Morfofonemik dalam Imbuhan dalam prefiks atau awalan seperti : {me-}; {pe-}; {per-}; {ber-}; {ter-}. Uraian berikut ini diawali dengan;
1) Prefiks {me-}
Proses morfofonemik yang dialami oleh imbuhan {me-} terjadi dalam beberapa model, yaikni: (1) persenyawaan fonem; (2) pemertahanan fonem; dan (3) penambahan fonem. Imbuhan prefiks {me-} berfungsi membentuk kata kerja aktif transitif dan kata kerja intransitif. Paparan masing-masing model itu diawali dengan uraian: {me-}; {me-kan} dan {me-i}.
(1) Persenyawaan mengacu kepada prefiks {me-} yang diimbuhkan kepada satuan dasar yang dimulai dengan konsonan:
Bilabial Alveolar Velar
Hambat tak besuara /p/ /t/ /k/
Geser /s/
Proses pembentukan kata itu sebagai berikut:
{me-} + {pantang} → {memantang}
{me-} + {pangkas} → {memangkas}
{me-} + {tabung} → {menabung}
{me-} + {tampal} → {menampal}
{me-} + {karang} → {mengarang}
{me-} + {kateter} → {mengateter}
{me-} + {kawal} → {mengawal}
{me} + {susu} → {menyusu}
Contoh penggunaan kata dalam kalimat:
i. Anita tidak pernah memantang makanan.
ii. Setiap tiga bulan sekali, Ali memangkas rambutnya. iii. Kakak mengajari adiknya untuk menabung uang di
Bank Mandiri.
iv. Ibu menampal bajunya yang sudah robek. v. Pak Hamid pandai mengarang lagu bahasa Krui. vi. Dokter itu sedang mengateter pasien yang sakit ginjal vii.Bayi itu sedang menyusu kepada ibunya.
Catatan :
a. Persenyawaan yang memunculkan fonem sengau /n/ terjadi pada proses morfofonemik antara {me-} dengan bentuk dasar yang diawali dengan fonem /t/.
b. Persenyawaan yang memunculkan fonem sengau /ñ/ terjadi pada proses morfofonemik antara {me-} dengan bentuk dasar yang dawali dengan fonem /s/.
c. Persenyawaan yang memunculkan fonem sengau /m/ terjadi pada proses morfofonemik antara {m} dengan bentuk dasar yang dawali dengan fonem /p/.
d. Persenyawaan yang memunculkan fonem /ŋ/ terjadi pada proses morfofonemik antara {me-} dengan bentuk dasar yang dawali dengan fonem /k/.
(2) Pemertahanan mengacu kepada prefiks {me-} yang diimbuhkan kepada satuan dasar yang dimulai dengan konsonan
Bilabial labiodental Alveolar palatal Velar
Getar /r/
Lateral /l/
Nasal /m/ /n/ /ñ/ /ŋ/
Semivokal /w/ /y/
Proses pembentukan kata itu sebagai berikut:
{me-} + {rapel} → {merapel}
{me-} + {landai} → {melandai}
{me-} + {minum} → {meminum}
{me-} + {nanti} → {menanti}
{me-} + {laknat} → {melaknat}
{me-} + {mejeng } → {memejeng}
{me-} + {nyala} → {menyala}
{me} + {ngeong} → {mengeong}
Contoh penggunaan kata itu dalam kalimat:
i. Perusahaan itu merapel gaji karyawan tiga bula sekali.
ii. Bentuk pegunungan itu melandai dari pantai utara pulau Jawa hingga ke selatan.
iii. Pak Ardih sedang meminum obat
iv. Tuhan akan melaknat orang yang korupsi. v. Saudagar mobil itu sedang memejeng mobil.
(3) Penambahan mengacu kepada prefiks {me-} yang diimbuhkan kepada satuan dasar yang dimulai dengan konsonan sebagai berikut:
Bilabial labiodental Alveolar Vela r glotal Hambat bersuara /b/ /d/ /g/ Hambat tak bersuara /p/ /t/ /k/ Geser tak bersuara /f/ /x/ /h/ Semivokal /w/ /x/ adalah simbol fonem /kh/
Proses pembentukan kata itu sebagai berikut:
{me-} + {basmi} → {membasmi}
{me-} + {defensif} → {mendefensif}
{me-} + {genggam} → {menggenggam}
{me-} + {faksimile} → {memfaksimile}
{me-} + {pak} → {mengepak}
{me-} + {cas } → {mengecas}
{me-} + {tik } → {mengetik}
{me-} + {lap } → {mengelap}
{me-} + {bom } → {mengebom}
{me-} + {cap} → {mengecap}
{me-} + {khitan} → {mengkhitan}
{me-} + {hidu} → {menghidu}
{me-} + {wisuda} → {mewisuda}
{me-} + {wabah} → {mewabah}
Contoh penggunaan kata itu dalam kalimat:
i. Knalpot panas dapat digunakan sebagai sumber pengecas ponsel.
ii. Untuk membasmi jentik jamuk demam berdarah dibutuhkan kegiatan menguras bak berisi air.
iii. Meriam penangkis itu berguna untuk
mendefensif serangan yang datang udara.
iv. Pak Ardih sedang memfaksimile surat undangan workshop BIPA.
v. Rektor Universitas swasta di kota Bogor sedang mewisuda para mahasiswa yang sudah lulus ujian skripsi.
vi. Penyakit ebola sedang mewabah di Afrika.
vii. Setiap pagi hari kita perlu menghidu udara bersih.
Catatan :
a. Penambahan yang memunculkan fonem sengau /n/ terjadi pada proses morfofonemik antara {me-} dengan bentuk dasar yang diawali dengan fonem /d/.
b. Penambahan yang memunculkan fonem sengau /m/ terjadi pada proses morfofonemik antara {me-} dengan bentuk dasar yang dawali dengan fonem /b/; /f/.
c. Persenyawaan yang memunculkan fonem sengau /ŋe/ terjadi pada proses morfofonemik dengan bentuk dasar yang diawali dengan fonem /p/, /b/, /c/ dan /l/ yang berbentuk satu suku kata.
d. Persenyawaan yang memunculkan fonem /ŋ/ terjadi pada proses morfofonemik antara {me-} dengan bentuk dasar yang dawali dengan fonem /g/; /u/, /o/, /e/, /i/, /a/. 2) Konfiks {me-kan}
Konfiks {me-kan} memiliki makna ‘melakukan sesuatu untuk orang lain’.
Proses morfofonemik yang dialami oleh imbuhan {me-kan} terjadi dalam beberapa model, yaikni: (1) persenyawaan fonem; (2) pemertahanan fonem; dan (3) penambahan fonem
(1) Persenyawaan mengacu kepada konfiks {me-kan} yang diimbuhkan kepada satuan dasar yang dimulai dengan konsonan:
Bilabial Alveolar Velar Glottal Hambat tak
besuara
/p/ /t/ /k/
Geser /s/ /h/
Proses pembentukan kata itu sebagai berikut:
{me-kan} + {perlu} → {memerlukan} {me-kan} + {senang} → {menyenangkan} {me-kan} + {terap} → {menerapkan} {me-kan} + {utama} → {mengutamakan} {me-kan} + {kata} → {mengatakan} {me-kan} + {hasil} → {menghasilkan} Contoh penggunaan kata dalam kalimat:
i. Banyak orang menerapkan warna gelap, maka
view luar sebaiknya harus dapat dioptimalkan.
ii. Menyenangkan di pagi hari saat baru terjaga dapat melihat perubahan alam setiap hari.
(Sumber kalimat (i dan ii): Majalah Home: September, 2013: 25)
iii. Sebuah tempat tidur lemari pakaian dan
stoolnnya ada di kamar, namun kamar tidur ini
memerlukan dekorasi berbeda untuk membuatnya lebih ‘hidup’.
(Sumber kalimat no (iii): Majalah Home: September, 2013: 25)
iv. Warna menjadi faktor penting pada sebuah ruangan yang sangat mengutamakan suasana. (Sumber kalimat no (iv): Majalah Home: September, 2013: 30)
Catatan :
a. Persenyawaan yang memunculkan fonem sengau /n/ terjadi pada proses morfofonemik antara {me-kan} dengan bentuk dasar yang diawali dengan fonem /t/. b. Persenyawaan yang memunculkan fonem sengau /ñ/
terjadi pada proses morfofonemik antara {me-kan} dengan bentuk dasar yang dawali dengan fonem /s/. c. Persenyawaan yang memunculkan fonem sengau /m/
terjadi pada proses morfofonemik antara {m} dengan bentuk dasar yang dawali dengan fonem /p/.
d. Persenyawaan yang memunculkan fonem /ŋ/ terjadi pada proses morfofonemik antara {me-} dengan bentuk dasar yang dawali dengan fonem /k/.
(4) Pemertahanan mengacu kepada konfiks {me-kan} yang diimbuhkan kepada satuan dasar yang dimulai dengan konsonan
Bilabial palatal Alveolar palatal Velar
Afrikat c Getar /r/ Lateral /l/ Nasal /m/ /n/ /ñ/ /ŋ/ Semivokal /w/ /y/ 55
Proses pembentukan kata itu sebagai berikut:
{me-kan} + {cipta} → {menciptakan} {me-kan} + {runding} → {merundingkan} {me-kan} + {laku} → {melakukan} {me-kan} + {luncur} → {meluncurkan} {me-kan} + {mahfum} → {memahfumkan} {me-kan} + {nazar} → {menazarkan} {me-kan} + {nyala} → {menyalakan} {me-kan} + {nyala} → {menyalakan} {me-kan} + {wacana} → {mewacanakan} {me-kan} + {yakin} → {meyakinkan} Contoh penggunaan kata itu dalam kalimat:
i. Belda Farika menciptakan Loom. Loom yang dalam Bahasa Indonesia berarti tenun ini, memiliki kelebihan pada patternya.
ii. Keluraga kami sedang merundingkan masalah perbaikan rumah.
iii. Furniture lain memberi keleluasaan lebih untuk
melakukan pendekatan estetis.
iv. Berita facebook itu sudah kubaca, dan saya sudah memahfumkan isi berita itu.
(5) Penambahan mengacu kepada konfiks {me-kan} yang diimbuhkan kepada satuan dasar yang dimulai dengan konsonan sebagai berikut:
Bilabial labiodental Alveolar Vela r glotal Hambat bersuara /b/ /d/ /g/ Hambat tak bersuara /p/ /t/ /k/ Geser tak bersuara /f/ /s/ /x/ /h/ Semivokal /w/
Keterangan : /x/ adalah simbol fonem /kh/
Proses pembentukan kata itu sebagai berikut:
{me-kan} + {fokus} → {memfokuskan}
{me-kan} + {selenggara} → {menyelenggarakan}
{me-kan} + {ungkap} → {mengungkapkan}
{me-kan} + {guna} → {menggunakan}
{me-kan} + {khawatir} → {mengkhawatirkan}
{me-kan} + {hampar} → {menghamparkan}
{me-kan} + {cap} → {mengecapkan}
Contoh penggunaan kata itu dalam kalimat:
i. Setiap peneliti perlu memfokuskan diri kepada objek kajiannya.
ii. Sekolah Dasar Negeri III Slipi pagi selalu
menyelenggarakan upacara bendera setiap hari Senin pagi.
iii. Orang itu mengungkapkan rasa bersyukur setiap pagi.
Catatan :
(1) Penambahan yang memunculkan fonem sengau /n/ terjadi pada proses morfofonemik antara {me-kan} dengan bentuk dasar yang diawali dengan fonem /d/.
(2) Penambahan yang memunculkan fonem sengau /m/ terjadi pada proses morfofonemik antara {me-kan} dengan bentuk dasar yang dawali dengan fonem /b/; /f/.
(3) Persenyawaan yang memunculkan fonem sengau /ŋe/ terjadi pada proses morfofonemik dengan bentuk dasar yang diawali dengan fonem /p/, /b/, /c/ dan /l/ yang berbentuk satu suku kata.
3) Konfiks {me-i}
Konfiks {me-i} memiliki beberapa makna antara lain sebagai berikut:
(1) Konfiks {me-i} bermakna ‘memberi’
(2) Konfiks {me-i} bermakna ‘mencermati objek’
(3) Konfiks {me-i}bermakna ‘melakukan pada’ (4) Konfiks {me-i}bermakna ‘merasa pada’ (5) Konfiks {me-i}bermakna ‘membuat jadi’ (6) Konfiks {me-i} bermkna ‘kegiatan berulang’
Proses morfofonemik yang dialami oleh imbuhan {me-i} terjadi dalam beberapa tipe, yaikni: (i) persenyawaan fonem; (ii) pemertahanan fonem; dan (iii) penambahan fonem
(1) Persenyawaan mengacu kepada prefiks {me-i} yang diimbuhkan kepada satuan dasar yang dimulai dengan konsonan:
Bilabial Alveolar Velar palatal Glottal Hambat tak
besuara
/p/ /t/ /k/
Geser /s/ /h/
Nasal /m/ /n/ /ŋ/ /ñ/
Proses pembentukan kata itu sebagai berikut:
{me-i} + {waris} → {mewarisi}
{me-i} + {cekok} → {mencekoki}
{me-i} + {senter} → {menyenteri}
{me-i} + {tatap} → {menatapi}
{me-i} + {perang} → {memerangi}
{me-i} + {kritis} → {mengkritisi} Contoh penggunaan kata dalam kalimat:
i. Orang itu mewarisi anaknya sebuah rumah sederhana.
ii. Tukang jamu itu mencekoki anak-anak yang kurang nafsu makan setiap pagi.
iii. Penjaga malam di kampung itu menyenteri
setiap sudut yang gelap.
iv. Saya selalu menatapi anak-anak yang sedang tertidur lelap pada malam hari.
Catatan :
a. Persenyawaan yang memunculkan fonem sengau /n/ terjadi pada proses morfofonemik antara {me-i} dengan bentuk dasar yang diawali dengan fonem /t/. b. Persenyawaan yang memunculkan fonem sengau /ñ/
terjadi pada proses morfofonemik antara {me-i} dengan bentuk dasar yang dawali dengan fonem /s/. c. Persenyawaan yang memunculkan fonem sengau
/m/ terjadi pada proses morfofonemik antara {m} dengan bentuk dasar yang dawali dengan fonem /p/. d. Persenyawaan yang memunculkan fonem /ŋ/ terjadi
pada proses morfofonemik antara {me-} dengan bentuk dasar yang dawali dengan fonem /k/.
(6) Pemertahanan mengacu kepada prefiks {me-i} yang diimbuhkan kepada satuan dasar yang dimulai dengan konsonan
Bilabial palatal Alveolar palatal Velar
Bilabial /g/ Afrikat c Getar /r/ Lateral /l/ Nasal /m/ /n/ /ñ/ /ŋ/ Semivokal /w/ /y/
Proses pembentukan kata itu sebagai berikut:
{me-kan} + {cipta} → {menciptakan} {me-kan} + {runding} → {merundingkan} {me-kan} + {laku} → {melakukan}
{me-kan} + {luncur} → {meluncurkan} {me-kan} + {mahfum} → {memahfumkan} {me-kan} + {nazar} → {menazarkan} {me-kan} + {nyala} → {menyalakan} {me-kan} + {nyala} → {menyalakan} {me-kan} + {wacana} → {mewacanakan} {me-kan} + {yakin} → {meyakinkan} Contoh penggunaan kata itu dalam kalimat:
v. Belda Farika menciptakan Loom. Loom yang dalam Bahasa Indonesia berarti tenun ini, memiliki kelebihan pada patternya.
vi. Keluraga kami sedang merundingkan masalah perbaikan rumah.
vii. Furniture lain memberi keleluasaan lebih untuk
melakukan pendekatan estetis.
viii. Berita facebook itu sudah kubaca, dan saya sudah memahfumkan isi berita itu.
(7) Penambahan mengacu kepada prefiks {me-kan} yang diimbuhkan kepada satuan dasar yang dimulai dengan konsonan sebagai berikut:
Bilabial labiodental Alveolar Vela r glotal Hambat bersuara /b/ /d/ /g/ Hambat tak bersuara /p/ /t/ /k/ Geser tak bersuara /f/ /s/ /x/ /h/ Semivokal /w/
Keterangan : /x/ adalah simbol fonem /kh/
Proses pembentukan kata itu sebagai berikut:
{me-kan} + {fokus} → {memfokuskan}
{me-kan} + {selenggara} → {menyelenggarakan}
{me-kan} + {ungkap} → {mengungkapkan}
{me-kan} + {guna} → {menggunakan} {me-kan} + {khawatir} → {mengkhawatirkan}
{me-kan} + {hampar} → {menghamparkan}
{me-kan} + {cap} → {mengecapkan}
Contoh penggunaan kata itu dalam kalimat:
iv. Setiap peneliti perlu memfokuskan diri kepada objek kajiannya.
v. Sekolah Dasar Negeri III Slipi pagi selalu
menyelenggarakan upacara bendera setiap hari Senin pagi.
vi. Orang itu mengungkapkan rasa bersyukur setiap pagi.
Catatan :
(1) Penambahan yang memunculkan fonem sengau /n/ terjadi pada proses morfofonemik antara {me-kan} dengan bentuk dasar yang diawali dengan fonem /d/. (2) Penambahan yang memunculkan fonem sengau /m/ terjadi pada proses morfofonemik antara {me-kan} dengan bentuk dasar yang dawali dengan fonem /b/; /f/.
(3) Persenyawaan yang memunculkan fonem sengau /ŋe/ terjadi pada proses morfofonemik dengan bentuk dasar yang diawali dengan fonem /p/, /b/, /c/ dan /l/ yang berbentuk satu suku kata.