BAB IV : ANALISIS DATA TENTANG MAKNA SIMBOLIK TRADIS
B. Konfirmasi Temuan Penelitian dengan Teori
Konfirmasi temuan dengan teori merupakan cara peneliti mengkaitkan hasil temuan-temuan di lapangan dengan teori yang digunakan peneliti dalam penelitiannya. Dalam penelitian ini penulis akan membuktikan kebenaran asumsi dasar teori yang digunakan dengan temuan-temuan dari hasil penelitian.
Dalam penelitian “Makna Simbolik Tradisi Nyadran Pada Ritual Selametan di Desa Balonggebang Kecamatan Gondang Kabupaten Nganjuk” ini, peneliti menggunakan teori Interaksionisme Simbolik yang berkaitan dengan fokus masalah mengenai proses komunikasi simbolik dalam tradisi nyadran dan proses mengkomunikasikan makna simbolik yang dilakukan oleh masyarakat Balonggebang dalam ritual Nyadran.
1. Proses komunikasi simbolik diperoleh dari adanya simbolisasi dan akulturasi nilai budaya lokal dan masuknya nilai keIslaman terhadap tradisi Nyadran berlangsung dari adanya interaksi dengan masyarakat Balonggebang. Awalnya masyarakat masih mempercayai kepercayaan Hindhu-Budha, Animisme dan Dinamisme mengalami perkembangan dan akulturasi dari nilai- nilai keIslaman.
2. Makna tradisi Nyadran yang timbul dimasyarakat bisa berawal dari latar budaya yang mereka miliki. Tradisi Nyadran sekarang masih
110
dilakukan karena masyarakat Balonggebang yang masih memegang teguh tradisi-tradisi nenek moyang mereka, meskipun seiring dengan berkembangnya jaman proses dan tata caranya mengalami pergeseran namun inti dari tradisi Nyadran tersebut tetap sama yakni penghormatan kepada leluhur.
3. Tingkat pendidikan yang rendah membentuk pola pikir masyarakat cenderung terpengaruh oleh kebudayaan yang ada. Sebagian masyarakat Balonggebang masih mempercayai mitos atau tahyul yang terjadi.
4. Tradisi Nyadran merupakan simbol adanya hubungan dengan para leluhur, sesama, dan Yang Maha Kuasa atas segala yang telah diberikan kepada manusia. Nyadran merupakan sebuah pola ritual menjunjung tinggi warisan budaya.
5. Dalam tradisi Nyadran terdapat pemakaian simbol komunikasi verbal dan nonverbal. Simbol komunikasi verbal berupa ungkapan dan do’a. Sedangkan simbol komunikasi nonverbal berupa tindakan, makanan, sesajian dan isyarat lainnya. Semua simbol- simbol tersebut memiliki makna simbol yang terkandung di dalamnya.
6. Tradisi Nyadran diwariskan dan dikomunikasikan kepada generasi muda melalui cerita masyarakat secara turun temurun yang dilatar belakangi kepercayaan kepada leluhur. Tradisi Nyadran yang
111
dilaksanakan secara mewah membuat tradisi ini semakin eksis keberadaannya.
Dalam interaksi simbolik, seperti yang telah dijelaskan diatas maka peneliti mendukung teori interaksi simbolik menurut Herbert Blumer yang menyatakan bahwa :
1) manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna- makna yang ada pada sesuatu itu bagi mereka.
2) makna itu diperoleh dari hasil interaksi sosial yang dilakukan dengan orang lain.
3) makna-makna tersebut disempurnakan di saat proses interaksi sosial sedang berlangsung.
Dalam hal ini, makna-makna digali untuk menyatukan penafsiran- penafsiran mengenai simbol-simbol yang diajukan dalam proses nyadran, namun hal ini makna tradisi Nyadran terjadi dari proses interaksi yang terjadi pada masyarakat Balonggebang. Partisipasi masyarakat di dalam upacara nyadaranan menggambarkan adanya tindakan harmoni sosial, keteraturan sosial, dan kerukunan sosial sebab semua anggota masyarakat dalam lingkaran bertetangga tersebut dalam suasana yang sama dan juga menikmati makanan yang hampir sama.
Berdasarkan 3 premis utama yang melandasi teori Interaksionisme Simbolik Blumer, dapat kita ketahui bahwa :
112
1. Pemaknaan (meaning)
Masyarakat Balonggebang melakukan tradisi Nyadran berdasarkan makna yang terkandung di dalamnya dan makna- makna tersebut mereka yakini sebagai kenyataan yang terjadi. 2. Bahasa (language)
Makna yang terkandung dalam tradisi Nyadran diperoleh melalui interaksi dengan proses penyampaian bahasa, yakni bahasa Jawa.
3. Pikiran(thought)
Makna-makna dalam tradisi Nyadran disempurnakan di saat proses interaksi sosial berlangsung. Dalam membangun masyarakat Balonggebang, perlu memperhatikan aspek budayanya seperti nilai keagamaan, nilai kemasyarakatan dan nilai yang berkaitan adat masyarakat Balonggebang.
BAB V PENUTUP
A. Simpulan
Dari berbagai data dan fakta yang sudah diperoleh dari lapangan dan dikonfirmasikan dengan teori-teori yang menjadi acuan peneliti, dengan demikian dapat diperoleh beberapa kesimpulan mengenai beberapa hal yang menjadi fokus dalam penelitian ini. Kesimpulan-kesimpulan ini meliputi makna tradisi Nyadran, komunikasi simbolik dalam tradisi Nyadran dan makna simbolik tradisi Nyadran dikomunikasikan kepada masyarakat desa Balonggebang.
1. Komunikasi simbolik yang terjadi pada masyarakat desa Balonggebang dalam tradisi nyadran ditunjukkan melalui proses belangsungnya upacara nyadran. Dalam perkembangannya, tradisi Nyadran masih dilakukan di desa Balonggebang hingga sekarang ini telah mengalami banyak perubahan jika dibandingkan dengan tradisi Nyadran yang dilakukan di masa lampau. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh simbolisasi dan akulturasi nilai keIslaman yang diyakini oleh masyarakat setempat.
2. Dalam tradisi Nyadran terdapat pemakaian simbol komunikasi verbal dan nonverbal. Simbol komunikasi verbal berupa ungkapan dan do’a. Sedangkan simbol komunikasi nonverbal berupa tindakan, makanan,
114
sesajian dan isyarat lainnya. Semua simbol-simbol tersebut memiliki makna simbol yang terkandung di dalamnya.
3. Makna tradisi Nyadran bagi masyarakat desa Balonggebang adalah jembatan antara hubungan dengan sesama, para leluhur, dan Yang Mahakuasa. Tradisi Nyadran dimaknai sebagai sedekah bumi, sebagai bentuk syukur atas melimpahnya hasil bumi. Nyadran adalah media dan usaha agar masyarakat desa Balonggebang diberikan keselamatan, mendapat berkah hidup dan peningkatan perekonomian, seperti dalam penggarapan lahan pertanian, perdagangan dan jenis-jenis usaha lainnya.
4. Tradisi Nyadran dikomunikasikan kepada masayarakat melalui :
a) Komunikasi Verbal : Dalam kehidupan masyarakat desa Balonggebang tradisi nyadran telah disakralkan sejak jaman nenek moyang. Adanya faktor dorongan dari semua pihak, (masyarakat dan pemerintah) untuk senantiasa melaksanakan tradisi ini agar tradisi nyadran nantinya tidak akan hilang oleh arus perkembangan zaman.
b) Komunikasi Non Verbal : Tradisi nyadran diwariskan pada generasi muda melalui bentuk perayaan yang meriah.
c) Mitos Masyarakat : Dipercaya jika tidak melakukan tradisi Nyadran akan ada bahaya di desa Balonggebang.
115
B. Rekomendasi
Dari hasil penelitian dan uraian di atas, maka peneliti memberikan beberapa saran yang mungkin bisa dijadikan bahan pertimbangan bagi beberapa pihak, seperti:
1. Pemerintah
Dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada pelaksanaan tradisi Nyadran, diharapkan agar pemerintah bijak untuk membantu agar tradisi Nyadran tetap dilestarikan sehingga tidak hilang oleh modernisasi.
2. Masyarakat Desa Balonggebang
Menjadi suatu keharusan bahwa makna yang terkandung dalam tradisi Nyadran agar terus dijaga dan disosialisasikan kepada generasi muda agar mampu dipahami oleh semua pihak mengapa tradisi ini selalu dilaksanakan sehingga tradisi ini dapat terus berjalan tanpa kehilangan maknanya.
3. Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi
Mahasiswa sebagai generasi penerus sudah seharusnya mampu menjaga dan mempertahankan warisan budaya khususnya tradisi Nyadran. Tradisi suatu budaya akan menambah kajian komunikasi yang berhubungan
dengan makna yang disampaikan melaui interaksi dan simbol komunikasi
yang dihasilkan terutama dalam menjaga keaslian budaya di daerah masing-
DAFTAR PUSTAKA
Sumber Buku :
Basrowi, Suwandi. 2008. Memahami Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rineka Cipta. Bungin, Burhan. 2001. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada.
Danandjaja, James. 1997. Folklor Indonesia Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain- Lain. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Effendy, Onong Uchjana. 2009. Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.
Fisher, B. Aubrey. 1986. Teori-Teori Komunikasi: Perspektif Mekanistis,
Psikologis, Interaksional, dan Pragmatis, Penyunting: Jalaluddin
Rakhmad. Bandung: Penerbit Remadja Karya CV.
Geertz, Clifford. 1964. The Religin Of Java. Translated by Mahasin Aswab. 1989.
Abangan, Santri, Priyayi Dalam Masyarakat Jawa. Jakarta: PT. Pustaka Jaya.
Hidayat, Dedy N, 1999. “Paradigmadan Perkembangan Penelitian Komunikasi”, “Jurnal Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia, Vol.III/April 1999. Jakarta: IKSI dan Remaja Rosdakarya.
Koentjaraningrat. 1985. Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta: Dian Rakyat.
...---... 1990. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta. ...---... 1994. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.
Liliweri, Alo. 1994. Komunikasi Verbal Maupun Nonverbal. Bandung: Citra Aditya Bakti.
Moefad, A. M. 2007. Perilaku Individu Dalam Masyarakat. Jombang: el-Deha Press, Fakultas Dakwah IKAHA.
Moleong, Lexy J. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung; Remaja Rosda Karya.
……..---….. 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung; Remaja Rosda Karya.
…....---…… 2009. Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Muchtarom, Zaini. 1988. Santri dan Abangan di Jawa, Terjemahan: Sukarsi. Jakarta : INIS.
Muhammad, Arni. 2005. Komunikasi Organisasi. Jakarta: Bumi Aksara.
Mulyana, Deddy. 2000. Komunikasi Antarbudaya. Bandung: Remaja Rosda Karya.
…....---……. 2004. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Rosda Karya. ……---…… dan Jalaludin Rakhmat. 2005. Komunikasi Antar Budaya.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
…....---……… 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigama Baru Ilmu
Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung: Remaja Rosdakarya.
…....---…… 2010. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Paloma, Margaret M. 2004. Sosiologi Komtemporer. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Partokusumo, Karkono Kamajaya. 1995. Kebudayaan Jawa dan Perpaduannya dengan Islam. Yogyakarta: IKAPI Cabang Yogyakarta.
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Ritzer, George. 2004. Teori Sosiologi. Bantul: Kreasi Wacana.
Ruben, Brent D. dan Lea P. Stewart. 2013. Komunikasi dan Perilaku Manusia.
Terjemahan: Ibnu Hamad. Jakarta : Rajawali Pers.
Saifuddin, Achmad Fedyani. 2005. Antropologi Kontemporer Suatu Pengantar Kritis Mengenai Paradigma. Jakarta: Prenada Media Group.
Shadily, Hasan. 1984. Ensiklopedi. Jakarta: Ikhtisar Vanhove.
Sihabudin, Ahmad. 2011. Komunikasi Antarbudaya: Suatu Perspektif Multidimensi. Jakarta: Bumi Aksara Edisi 1 Cetakan 2.
...----... 2006. Semiotika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif dan R&D.
Bandung: Alfabeta.
Suyitno. 2001. Mengenal Upacara Tradisional Masyarakat Suku Tengger. Tengger : Satu Buku.
Syam, Nur. 2007. Madzhab-Madzhab Antropologi. Yogyakarta: LKiS.
Vardiansyah, Dani. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Bogor: Ghalia Indonesia. West, Richard dan Lynn H. Turner. 2009. Pengantar Teori Komunikasi, Analisis
dan Aplikasi Edisi 3, Buku 1, Penerjemah: Maria Natalia Damayanti
Maer. Jakarta : Salemba Humanika.
Sumber Internet :
Anonim.http://MujiburRohman.Blogspot.com/2010/06/Nyadran-Agung- JogjaTrip-html. Diakses 3 Maret 2015 jam 16.00 WIB
Anonim.http://Nurmalita Sari.Blogspot.com/2012/12/Makna-dan-Objek-Tradisi- Jawa-html. Diakses 3 Maret 2015 jam 16.00 WIB