HAK-HAK ADAT TRADISIONAL DI PROVINSI KALIMANTAN SELATAN
B. Pola Aturan Adat atau Hukum Adat yang Berlaku Pada Masyarakat Adat di Provinsi Kalimantan Selatan
3. Konflik dan Potensi Konflik Hak Atas Tanah
Pada sekitar tahun 80 an pernah terjadi konflik antara komunitas Urang Bukit yang berdiam di Meratus Hulu dengan perusahan pemegang HPH pada kawasan hutan yang berada di wilayah permukiman tradisional mereka. Konflik ini dipicu oleh aktivitas perusahaan yang telah merusak tanah ladang dan tanah kebun mereka. Selain itu, kehadiran perusahaan juga tidak memberikan kontribusi bagi peningkatan kesejahteraan Urang Bukit. Bahkan dampak aktivitas perusahaan yang mengeksploitasi hutan di kawasan hutan Meratus Hulu menyebabkan timbulnya banjir besar yang melanda kota Barabai pada tahun 1985.41
Meratus Hulu selain masih terdapat kawan hutan juga memiliki potensi sumber daya alam lainnya antara lain marmer yang sudah di eksploitasi dan batubara sampai sekarang masih belum di eksploitasi walaupun sudah ada perusahaan yang
41
Berdasarkan Keputusan Pemerintah Nomor 11 tanggal 10 Pebruari 1926 dan Keputusan Pemerintah Nomor 33 tanggal 8 Mei 1926, kawasan hutan seluas 205.950 ha yang berada di Meratus Hulu telah diperuntukan sebagai kawasan hutan lindung.
mempunyai hak menambang melalui PKP2B yang diberikan oleh pemerintah pusat. Tidak tertutup kemungkinan akan munculnya konflik kepentingan antara masyarakat dengan perusahaan pemegang PKP2B. Di satu sisi masyarakat ingin berladang sedangkan di sisi lain perusahaan ingin menambang.
BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan
1. Hak-hak adat dan hak-hak tradisional suatu masyarakat hukum adat merupakan hak yang diakui dan dihormati oleh Konstitusi dan berbagai peraturan perundang-undangan, kecuali peraturan di bidang pertambangan dan kehutanan. Permasalahan dalam peraturan perundang-undangan yang menyangkut dengan hak-hak masyarakat adat, khususnya dalam pengelolaan SDA adalah dalam penafsiran makna “dikuasai oleh negara” dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 dan konflik perundang-undangan, yang mengatur hak-hak masyarakat adat. Penguasaan negara atas bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya harus selalu dikaitkan dengan maksud dan tujuan Tuhan Yang Maha Kuasa mengkaruniakan semua itu, yaitu sebagai sumber kemakmuran bagi bangsa Indonesia. Sejalan dengan prinsip di atas, rakyat melalui UUD 1945, khususnya Pasal 33 memberikan kewenangan kepada negara untuk menguasai sumber-sumber alam dengan suatu kewajiban publik, yaitu dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Adapun solusi konflik peraturan perundang-undangan secara vertikal terjadi antara Pasal 18B ayat (2) UUD 1945 dengan Undang-undang di bidang pertambangan dan kehutanan dapat diatasi dengan teori sistem hukum, dengan menggunakan asas konstitusional dan asas “lex superior derogat legi inferiori”, artinya, peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi tingkatnya
mengenyampingkan berlakunya peraturan perundang-undangan yang lebih rendah tingkatnya.
2. Karakteristik pada masyarakat hukum adat di Provinsi Kalimantan Selatan, dikenal dengan sebutan “Orang Dayak” yang dalam penelitian ini disebut “Urang Bukit”. Pada umumnya Urang Bukit atau urang bukit Meratus bermukim di wilayah berhutan dan berbukit-bukit di sepanjang pegunungan Meratus yang tersebar dan masuk dalam wilayah beberapa daerah. Urang Bukit merupakan masyarakat peladang yang hidup secara berkelompok dalam suatu komunitas di wilayah permukiman tradisional mereka dengan Balai Adat sebagai sentralnya, sehingga dalam setiap satu wilayah permukiman tradisional komunitas Urang Bukit selalu terdapat satu Balai Adat. Kehidupan mereka tidak terlepas dari tanah, hutan dan alam sekitarnya. Selain sebagai peladang, secara turun temurun mereka juga dikenal sebagai suku “peramu” dan “pemburu”, yaitu memanfaatkan hutan dan berbagai hasilnya sebagai sumber kehidupan.
Keberadaan masyarakat dan wilayah hukum adat yang ada di Provinsi Kalimantan Selatan dapat diakui keberadannya menurut peraturan perundang-undangan. Indikasi ini diambil dari kenyataan empiris bahwa di daerah-daerah tersebut masih adanya pola penggunaan tanah dengan cara perladangan, masyarakat dalam bentuk paguyuban, adanya perangkat penguasaan adat (adanya kepala adat/balai) yang mempunyai wilayah tertentu, dan adanya perangkat hukum adat dalam penyelesaian sengketa yang dilakukan secara adat.
3. Pola aturan adat atau hukum adat yang berlaku pada masyarakat adat di Provinsi Kalimantan Selatan dapat dikelompokan menjadi pola penguasaan tanah dan hak-hak adat lainnya. Dalam hal penguasaan tanah, bagi Urang Bukit pada umumnya, setiap satu keluarga mempunyai tanah yang bersifat individual yaitu berupa tanah perumahan dan pekarangan, tanah kebun, dan tanah ladang dan tanah bekas ladang. Di samping itu, ada pula tanah-tanah yang secara khusus tidak berada di bawah penguasaan perorangan (individual) atau tanah yang merupakan milik bersama dalam suatu komunitas Urang Bukit (tanah komunal). Tanah-tanah tersebut bisa berupa tanah di mana Balai Adat berdiri di atasnya, kawasan hutan termasuk di dalamnya adalah kawasan hutan tertentu yang oleh masyarakat di anggap sebagai hutan keramat atau hutan larangan dan tempat-tempat tertentu yang dianggap sebagai tempat-tempat keramat. Keberdaan masyarakat Adat meratus yang melingkupi hak-hak adat atas tanah dan wiliyahnya dengan memenuhi (1) Unsur masyarakat yang merasa terkait oleh tatanan hukum adatnya sebagai warga bersama suatu persekutuan hukum ; (2) Unsur wilayah yang menjadi lingkungan hidup para warga persekutuan hukum tersebut; (3) Unsur hubungan antara masyarakat hukum adat dengan wilayahnya, tentang pengurusan, penguasaan dan penggunaan tanah adatnya. Bagi Urang Bukit yang tinggal dan menetap di dalam dan sekitar hutan, perolehan hak atas tanah erat kaitannya dengan sistem perladangan yang selama ini mereka lakukan. Perolehan hak atas tanah diawali ketika mereka untuk pertama kali membuka dan membakar hutan primer atau hutan skunder untuk dijadikan sebagai tempat
berladang. Ketika mereka membuka dan membakar hutan untuk membuat ladang, maka ketika itu pula muncul adanya suatu hak. Demikian seterusnya, sehingga hak atas tanah di beberapa bekas ladang ini melekat sampai kepada ahli waris.
B. Rekomendasi
1. Permasalahan dalam peraturan perundang-undangan yang menyangkut dengan hak-hak masyarakat adat, khususnya dalam pengelolaan SDA perlu dicarikan solusi yang cepat dan tepat. Dasar pemikiran dalam memecahkan masalah ini, yaitu pemahaman bahwa hubungan hukum antara negara dengan tanah melahirkan hak menguasai tanah oleh negara. Hubungan antara masyarakat hukum adat dengan tanah adantnya melahirkan hak adat/ulayat, dan hubungan antara perorangan dengan tanah melahirkan hak-hak perorangan atas tanah. Idealnya hubungan ketiga hak tersebut (hak menguasai tanah oleh negara, hak adat dan hak perorangan atas tanah) terjalin secara harmonis dan seimbang. Bagitu pula dengan pengelolaan SDA yang menyangkut dengan hak-hak masyarkat adat.
2. Keberadaan hak-hak adat atas tanah di beberapa komunitas tradisional tanpa status yang jelas dalam persepektif hukum formal sebagaimana halnya hak-hak atas di lingkungan komunitas Urang Bukit mengakibatkan lemahnya posisi tawar (bargaining potition) ketika harus berhadapan dengan pihak luar atau siapa pun yang memperoleh hak atas tanah secara formal. Karena
lemahnya posisi tawar ini sehingga mereka selalu berada pada posisi yang tidak diuntungkan (disadvantage people). Oleh karena itu perlu adanya kebijakan formal yang lebih berpihak kepada masyarakat adat agar dapat memberikan perlindungan dan jaminan kepastian hukum terhadap hak-hak adat atas tanah.
3. Diperlukan solusi yang bijak dalam pemecahan konflik yang berkenaan dengan hak-hak adat di berbagai daerah di Indonesia, khususnya di Provinsi Kalimantan Selatan. Kanflik yang banyak terjadi dikarenakan adanya berbagai kepentingan yang bertabrakan. Solusi yang diharapkan adalah kebijakan yang memperhatikan berbagai kepentingan, baik kepentingan masyarakat adat, pemerintah dan perusahaan yang melakukan usahanya pada tanah adat.