EXECUTIVE SUMMARY
HASIL PENELITIAN
PENGAKUAN DAN PENGHORMATAN NEGARA
TERHADAP MASYARAKAT ADAT SERTA
HAK-HAK TRADISIONALNYA DI PROVINSI
KALIMANTAN SELATAN
Oleh: TIM PENELITI
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
KERJASAMA PPUU DEWAN PERWAKILAN DAERAH RI DENGAN UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN 2009
1. Judul Penelitian : Pengakuan Dan Penghormatan Negara Terhadap Masyarakat Adat Serta Hak- Hak Tradisionalnya di Provinsi Kalimantan Selatan
2. Program Studi : Ilmu Hukum
3. Fakultas : Hukum
4. Universitas : Lambung Mangkurat 5. Peneliti
a. Ketua : Dr. Abdul Halim Barkatullah, S.H., M.Hum. b. Wakil Ketua : H. F. A. Abby, SH., MH.
c. Sekretaris : Mahyuni, SH., MH 6. Dibiayai : PPUU DPD RI Jakarta 7. Kesepakatan MoU : Jakarta, 25 Juni 2009 8. Lama Penelitian : 48 hari
9. Waktu Pelaksanaan : 26 Juni s/d 13 Agustus 2009 10. Tempat Pelaksanaan : Provinsi Kalimantan Selatan
Mengetahui Banjarmasin, 10 Agustus 2009
Dekan, Ketua Tim Peneliti
Rosita Saifuddin, S.H. Dr. Abdul Halim Barkatullah, SH., M.Hum NIP. 195330214 979032001 NIP. 197611092006041003
LAPORAN HASIL PENELITIAN
PENGAKUAN DAN PENGHORMATAN NEGARA
TERHADAP MASYARAKAT ADAT SERTA
HAK-HAK TRADISIONALNYA DI PROVINSI
KALIMANTAN SELATAN
Oleh: TIM PENELITI
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
KERJASAMA PPUU DEWAN PERWAKILAN DAERAH RI DENGAN UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN 2009
1. Judul Penelitian : Pengakuan Dan Penghormatan Negara Terhadap Masyarakat Adat Serta Hak-Hak Tradisionalnya di Provinsi Kalimantan Selatan 2. Program Studi : Ilmu Hukum
3. Fakultas : Hukum
4. Universitas : Lambung Mangkurat 5. Peneliti
d. Ketua : Dr. Abdul Halim Barkatullah, S.H., M.Hum. e. Wakil Ketua : H. F. A. Abby, SH., MH.
f. Sekretaris : Mahyuni, SH., MH 6. Dibiayai : PPUU DPD RI Jakarta 7. Kesepakatan MoU : Jakarta, 25 Juni 2009 8. Lama Penelitian : 48 hari
9. Waktu Pelaksanaan : 26 Juni s/d 13 Agustus 2009 10. Tempat Pelaksanaan : Provinsi Kalimantan Selatan
Mengetahui Banjarmasin, 10 Agustus 2009
Dekan, Ketua Tim Peneliti
Rosita Saifuddin, S.H. Dr. Abdul Halim Barkatullah, SH., M.Hum NIP. 195330214 979032001 NIP. 197611092006041003
Provinsi Kalimantan Selatan” dapat diselesaikan. Tim Peneliti berterimakasih kepada semua pihak yang telah membantu proses penyelesaian penelitian ini.
Tiada gading yang tak retak, demikian kata pepatah, demikian pula dengan hasil penelitian ini. Dengan melalui berbagai hambatan ditengah-tengah kesibukan, rutinitas, ditambah banyaknya konflik dan potensi konflik didaerah penelitian menuntut kesabaran, keteguhan hati Tim Peneliti dalam menyelesaikan penelitian ini. Tim Peneliti menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari sempurna. Tanpa dukungan dan bantuan dari berbagai pihak, mustahil penelitian ini dapat diselesaikan.
Oleh karena itu, dengan kerendahan hati, pada kesempatan ini Tim Peneliti ingin menyampaikan rasa hormat dan terimakasih dan penghargaan yang tulus kepada Ketua PPUU Dewan Perwakilan Daerah RI yang telah memberikan kepercayaan kepada tim Peneliti Universitas Lambung Mangkurat untuk meneliti secara ilmiah tentang Pengakuan dan Penghormatan Negara Terhadap Masyarakat Adat Serta Hak-Hak Tradisionalnya di Provinsi Kalimantan Selatan.
Terima kasih yang tulus Tim Peneliti haturkan kepada Rektor Universitas Lambung Mangkurat dan Dekan Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat yang telah memberikan kepercayaan kepada Tim Peneliti untuk melaksanakan tahapan-tahapan penelitian sehingga hasil penelitian ini dapat diselesaikan.
Akhirnya Tim Peneliti mengharapkan hasil penelitian ini dapat berguna dan bermanfaat bagi PPUU Dewan Perwakilan Daerah RI dalam mengambil kebijakan dibidang Legislasi, dan bermanfaat bagi masyarakat Provinsi Kalimantan Selatan.
Banjarmasin, 10 Agustus 2009 Tim Peneliti
KATA PENGANTAR iii
Halaman I. PENDAHULUAN...…….………...……. 1
A. Latar Belakang Masalah………. 1
B. Permasalahan …….……… 4
C. Tujuan penelitian …….…..……… 5
D. Landasan Teori...….……… 5
E. Metode Penelitian....……… 12
II. PENGAKUAN NEGARA TERHADAP MASYARAKAT ADAT SERTA HAK-HAK TRADISIONALNYA……….. 18
A. Pengakuan dan Penghormatan Hak-hak Masyarakat Hukum Adat di Dunia Internasional..……...………... 21
B. Pengakuan dan Penghormatan Negara Terhadap Hak-hak Adat Dalam peraturan Perundang-undangan……….. .. 25
1. UUD 1945...……...………... 25
2. TAP MPR...……...………... 30
3. UUPA No. 5/ 1960...……...………... 31
4. UU No. 39/ 1999 Tentang HAM....…...………... 36
5. UU No. 18/ 2004 Tentang Perkebunan...………... 38
6. UU No. 7/ 1999 Tentang Sumber Daya Air…..………... 40
7. UU No. 24/ 1992 Tentang Penataan Ruang...…………... 42
8. UU No. 5/ 1994 Tentang Pengesahan Konvensi Internasioanal Mengenai Keanekaragaman Hayati....….. 43
9. UU No. 10/ 1992 Tentang Kependudukan dan Keluarga Sejahtera....…...………... 43
Masyarakat Hukum Adat....…...……….... 45
C. Hak-hak Tradisional yang Dihormati dan Diakui Dalam Peraturan Perundang-undangan....…...………..…... 46
D. Masyarakat Hukum Adat....…...…...……..…... 55
E. Eksistensi dan Kekuatan Berlakunya Hak-hak Adat... 57
F. Kekuatan Berlaku Hak-hak Adat...…...……..…... 59
G. Permasalahan Pengakuan Hak-hak Adat Dalam Peraturan Perundang-undangan....…...…...…...…..…... 61
1. UU No. 5/ 1979 Tentang pemerintahan Desa...……….... 62
2. UU Tentang Kehutanan...……….... 63
3. UU di Bidang pertambangan...………... 73
H. Penyelesaian Konflik Peraturan Perundang-undangan....…... 88
1. Makna ” dikuasai oleh negara ” Dalam Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945....…...………..…... 89
2. Penyelesaian dengan Teori Sistem Hukum.………..…... 97
III. HAK-HAK ADAT TRADISIONAL DI PROVINSI KALIMANTAN SELATAN... 103
A. Karakteristik Pada Masyarakat hukum Adat di Provinsi Kalimantan Selatan ....…….…...………. 103
1. Gambaran Umum Masyarakat Hukum Adat Kalimantan Selatan...…...……….... 103
2. Hak-hak Adat Atas Tanah..…...……….... 107
3. Hak-hak Adat Selain Tanah..…...……….. 110
4. Hak Tradisional Lainnya...…...………... 113 5. Problem Masyarakat Hukum Adat di Kalimantan Selatan. 114
1. Pola Penguasaan Tanah & Hak-hak Adat lainnya....….... 115
2. Eksistensi Hak-hak Adat Atas Tanah Urang Bukit di Meratus Hulu di Provinsi Kalimantan Selatan ...….... 117
3. Konflik dan Potensi Konflik Hak Atas Tanah...….... 124
BAB IV PENUTUP ... 126
A. Kesimpulan ...….... 126
B. Rekomendasi...….... 129
DAFTAR PUSTAKA... 131
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pasca Amandemen Undang-undang Dasar 1945 (UUD 1945) keberadaan masyarakat adat serta hak-hak tradisionalnya semakin diakui oleh Negara. Salah satu prinsip yang mendasar dalam Pasal 18 ayat (2) UUD 1945 hasil amandemen adalah pengakuan dan penghormatan terhadap kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya, termasuk didalamnya hak-hak-hak-hak atas pengelolaan SDA yang sangat terkait dengen keberadaan masyarakat adat. Namun pembagian kewenangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan UU No. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah serta beberapa UU sektoral misalnya UU tentang Kehutanan dan UU pertambangan tidak banyak memberikan jaminan hukum yang berkepastian atas hak-hak masyarakat adat dalam pengelolaan SDA, akhirnya masyarakat adat lebih banyak hanya menerima dampak negatif dari pengelolaan SDA, oleh karena itu kehadiran otonomi daerah tidak dirasakan membawa kebaikan bagi masyarakat adat justru sebaliknya merusak kelestarian masyarakat adat.
Masalah lain yang memarginalkan keberadaan masyarakat adat adalah pembagian Wilayah Indonesia kedalam daerah-daerah yang bersifat otonom yang tidak menjadikan keberadaan masyarakat adat sebagai salah satu faktor penentu. Pembagian wilayah Indonesia kedalam pemerintahan daerah otonom tersebut
mengakibatkan masyarakat adat dengan struktur masyarakat adat dan budayanya, menjadi terpecah-pecah kedalam beberapa pemerintahan daerah otonom. Keterpecahan masyarakat adat tersebut dalam kurun waktu yang berikutnya membuat masing-masing pecahan masyarakat adat mengalami dampak yang berbeda satu dengan yang lainnya. Perbedaan perubahan ini didorong oleh dua hal, yaitu:
1. Setiap pemerintah daerah otonom membuat kebijakan setempat yang berbeda dengan daerah lain;
2. Perbedaan perkembangan antara pecahan masyarakat adat yang satu dengan lainnya didorong oleh letak wilayah yang secara ekonomis berbeda.
Faktor lain yang cukup memegang peranan dalam memarginalkan keberadaan masyarakat adat adalah program-program pembangunan yang bersifat elitis. Dalam konteks ini keberhasilan pembangunan dinilai secara makro pada tataran negara (pemerintah pusat dan daerah). Oleh karena itu hal-hal yang bersifat lokal dan berciri khusus- sehingga meminta perhatian yang berbeda antara masyarakat adat setempat yang satu dengan lainnya-cendrung dipandang sebagai faktor penghambat pembangunan. Dalam lingkup ini ungkapan yang sangat populer adalah pembangunan versus masyarakat lokal. Tidak mengherankan jika banyak konflik antara sumberdaya yang diakui sebagai milik masyarakat adat dengan sumber daya yang diakui sebagai milik negara.
Otonomi daerah yang tidak ramah terhadap keberadaan masyarakat adat tentu saja tidak sejalan dengan semangat konstitusi yang mengakui dan menghormati keberadaan masyarakat adat dan hak-hak tradisionalnya, karena itu harus dievaluasi
dan diperbaiki untuk masa mendatang sebelum menimbulkan kerusakan yang semakin meluas, UU No. 32/33 tahun 2004 dan UU Kehutanan dan UU Pertambangan harus lebih menjamin hak-hak masyarakat adat terutama dalam pengelolaan SDA, masyarakat adat harus dilibatkan dan diberikan ruang untuk terlibat secara aktif dalam pengelolaan SDA.
Keberadaan masyarakat adat eksistensinya diakui secara kontsitusional. Tetapi keberadaan masyarakat adat yang eksistensinya diakui ini pada kenyataannya terkadang kontradiktif jika dihubungkan dengan kepentingan pembangunan dan pemodal yang mengedepankan kepastian hukum dan status hak atas tanah. Banyak sekali kepentingan-kepentingan pemodal terutama dalam hal eksploitasi SDA atau hal-hal lain yang pada akhirnya cenderung menegasikan hak-hak masyarakat adat.
Kajian terhadap pengakuan dan penghormatan negara terhadap eksistensi masyarakat hukum adat serta hak-hak tradisionalnya, dalam kaitannya dengan pelaksanaan pembangunan dan investasi di era globalisasi dan otonomi daerah menjadi sesuatu yang menarik, karena fakta sejarah menunjukkan bahwa hak-hak adat atas tanah dalam masyarakat Indonesia sejak dulu hingga sekarang dan masa yang akan datang mempunyai peranan penting dalam menjamin kehidupan masyarakat, khususnya kesatuan masyarakat hukum adat, sedangkan pada sisi lain pelaksanaan hak menguasai tanah oleh negara; globalisasi perdagangan dunia yang menuntut setiap negara untuk membuka diri bagi berbagai produk perdagangan dan investasi akan terus mendesak hak-hak adat atas tanah masyarakat hukum adat. Kondisi demikian mengharuskan para pembuat kebijakan dalam membuat
pengaturan hukum harus memperhatikan hak-hak adat dalam arus globalisasi dan era otonomi daerah ini.
Dalam penelitian ini, tim penulis membatasi pembahasan tentang pengakuan penghormata Negara terhadap masyarakat adat serta hak-hak tradisionalnya di Provinsi Kalimantan Selatan
B. Permasalahan
Berdasarkan uraian yang terdapat dalam latar belakang, maka permasalahan pokok yang akan diteliti adalah bagaimanakah pengakuan dan penghormatan negara terhadap eksistensi masyarakat hukum adat serta hak-hak tradisionalnya. Berdasarkan permasalahan pokok tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu:
1. Bagaimanakah pengaturan dalam peraturan perundang-undangan tentang pengakuan, penghormatan dan perlindungan dari negara terhadap hak-hak masyarakat hukum adat di Indonesia?
2. Apakah karakteristik pada masyarakat hukum adat di Provinsi Kalimantan Selatan dapat diakui keberadaannya sesuai dengan peraturan perundanng-undangan? 3. Bagaimanakah pola aturan adat atau hukum adat yang berlaku pada masyarakat
C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini, yaitu:
1. Untuk mengetahui pengaturan dalam peraturan perundang-undangan tentang pengakuan, penghormatan dan perlindungan dari negara terhadap hak-hak masyarakat hukum adat di Indonesia?
2. Untuk mengetahui apakah karakteristik pada masyarakat hukum adat di Provinsi Kalimantan Selatan dapat diakui keberadaannya sesuai dengan peraturan perundanng-undangan?
3. Mendeskripsikan pola aturan adat atau hukum adat yang berlaku pada masyarakat adat di Provinsi Kalimantan Selatan?
D. Landasan Teori
Keberadaan hak adat jelas diatur dalam hukum adat yang berlaku dimasyarakat adat yang bersangkutan. Ahmad Chomzah menyatakan bahwa hukum adat merupakan sumber hukum yang tidak tertulis yang keberadaannya diakui dan dilindungi oleh UUD 1945.1
Dalam UUD 1945 perubahan kedua (amandemen kedua) terdapat 2 Pasal yang mengakui dan menghormati hak ulayat masyarakat hukum adat yaitu Pasal 18 B ayat (2) dan Pasal 28 I ayat (3). Pasal 18 UUD 1945 yang semula hanya terdiri dari satu ayat, berubah menjadi 7 ayat ditambah dengan Pasal 18A terdiri dari dua ayat,
1
Pasal 18 B juga terdiri dari dua ayat. Pasal 18 B ayat (2) UUD 1945 memuat ketentuan tentang pengakuan dan penghormatan terhadap hak adat yang berbunyi sebagai berikut : ”Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam undang-undang”.
Apa yang dimaksud dengan ”negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya” tidak ada penjelasan lebih lanjut. Dalam penjelasan Pasal 18 UUD 1945 sebelum amandemen, juga memuat pernyataan penghormatan terhadap masyarakat hukum adat dan pemerintahan adatnya. Tidak jelas apa yang dimaksud dengan kata ”menghormati” dalam penjelasan tersebut. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian menghormati antara lain : mengakui dan mentaati (tentang aturan, perjanjian)2. Berdasarkan pada kata menghormati tersebut, maka negara Republik Indonesia harus menghormati (artinya mengakui dan mentaati), keberadaan masyarakat hukum adat dan pemerintahan adatnya, dan hak-hak adat atas tanah yang dipunyai oleh masyarakat hukum adat (hak adat) dan hak perorangan atas tanah yang diatur dalam hukum tanah adat.
Pasal 28 yang semula juga hanya terdiri atas satu ayat berubah menjadi Pasal 28 A sampai dengan Pasal 28 J. Pasal 28 I terdiri atas 5 ayat, ayat (3) memuat ketentuan tentang pengakuan dan penghormatan terhadap hak ulayat sebagai berikut:
2
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, hlm. 312.
”Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban”. Hak masyarakat tradisional itu di antaranya adalah hak adat/ulayat.
Dari Pasal 18 B ayat (2) dan Pasal 28 I ayat (3) UUD 1945 tersebut dapat disimpulkan bahwa :
a. Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat dan hak-hak tradisionalnya.
b. Pengakuan dan penghormatan kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat dan hak-hak tradisionalnya tersebut, harus memenuhi dua syarat, yaitu :
1) Sepanjang masa hidup (syarat eksistensinya), syarat ini sama dengan syarat eksistensi hak ulayat, sebagaimana telah dijelaskan di atas;
2) Sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip-prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, apa yang dimaksud dengan perkembangan masyarakat dan prinsip-prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam UUD 1945 tidak ada penjelasan;
3) Sesuai dengan perkembangan zaman dan peradaban, apa yang dimaksud dengan perkembangan zaman dan peradaban, juga tidak ada penjelasan.
Sebagaimana telah dijelaskan di atas syarat yang dipertahankan adalah syarat eksistensinya dan sesuai dengan kepentingan nasional.
c. Pengakuan dan penghormatan terhadap kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat dan hak-hak tradisionalnya misalnya hak upaya, akan diatur dengan undang-undang.
Dalam Pasal 18 B ayat (2) UUD 1945 memerintahkan untuk mengatur hak-hak adat dalam bentuk undang-undang. Sampai saat ini undang-undang yang khusus mengatur lebih lanjut kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat dan hak-hak tradisionalnya belum ada.
Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Pokok-pokok Agraria (UUPA) Pasal 5 secara tegas menyebutkan bahwa hukum agraria yang berlaku atas bumi, air dan ruang angkasa ialah hukum adat, sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional dan negara, yang berdasarkan atas persatuan bangsa, dengan sosialisme yang tercantum dalam undang-undang dan dengan peraturan-peraturan lainnya, segala sesuatu dengan mengindahkan unsur-unsur yang bersandar pada hukum agama. Berdasarkan ketentuan Pasal 5 UUPA tersebut di atas dan mengacu pada penjelasan Umum III angka (1) UUPA dapat disimpulkan bahwa Hukum Agraria yang berlaku atas bumi, air dan ruang angkasa adalah:
a. Hukum adat, sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional dan negara;
b. Berdasarkan atas persatuan bangsa; c. Berdasarkan sosialisme Indonesia;
d. Berdasarkan berbagai peraturan yang tercantum dalam undang-undang dan dengan perundangan lainnya serta
e. Segala sesuatu dengan mengindahkan unsur-unsur yang bersumber pada Hukum Agama.
Dari uraian di atas, hak adat diakui keberadaanya dalam sistem hukum di Indonesia. Namun karena adanya sifat dilematis yang sering melekat pada hak-hak adat, eksistensi hak adat menjadi terabaikan. Ini terjadi manakala masyarakat adat setempat tidak dapat membuktikan keberadaan, wilayah, kepemilikan dan luas dari tanah adat yang dimilikinya.
Kreteria yang dapat dijadikan acuan guna menentukan masih ada atau tidaknya hak ulayat/hak-hak adat atas tanah di suatu daerah tertentu, beberapa ahli hukum telah memberikan pendapatnya mengenai kriteria-kriteria dengan mengacu kepada pengertian fundamental mengenai hak ulayat itu sendiri.3
Menurut Maria S.W. Sumardjono, hak ulayat dapat dikatakan ada jika tiga kriteria berikut terpenuhi secara kumulatif: 4
a. Adanya masyarakat hukum adat yang memenuhi ciri-ciri tertentu sebagai subjek hak ulayat;
b. Adanya tanah tentang wilayah dengan batas-batas tertentu sebagai pendukung utama kehidupan dan penghidupan serta lingkungan hidup (lebensraum) yang merupakan objek hak ulayat;
c. Adanya kewenangan masyarakat hukum adat untuk melakukan tindakan-tindakan tertentu sebagaimana diuaraikan diatas.
3
Maria S.W. Sumardjono. 2001. Kebijakan Pertanahan antara Regulasi dan Implementasi. Jakarta: Kompas, hlm. 55.
4
Menurut pendapat Boedi Harsono,5 untuk dapat menyatakan bahwa suatu hak ulayat di suatu tempat tertentu masih eksis, ada tiga unsur pokok yang harus dipenuhi, yaitu:
a. Unsur masyarakat, yaitu sekelompok orang yang merasa terkait oleh tatanan hukum adatnya sebagai warga bersama suatu persekutuan hukum tertentu yang mengakui dan menerapkan ketentuan-ketentuan persekutuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari;
b. Unsur wilayah, yaitu adanya tanah ulayat tertentu yang menjadi lingkungan hidup para warga persekutuan hukum tersebut, sekaligus sebagai tempat anggota masyarakat hukum adat yang bersangkutan untuk mengambil keperluan hidupnya sehari-hari dan;
c. Unsur hubungan antara masyarakat hukum adat dengan wilayahnya, yaitu adanya tatanan hukum adat tentang pengurusan, penguasaan dan penggunaan tanah ulayatnya masih berlaku dan ditaati oleh para warga persekutuan hukum yang bersangkutan.
Dari kedua pendapat pakar hukum agraria tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa subjek, objek dan hubungan hukum yang terjadi antara subjek dengan objek tanah adat/ulayat dapat menentukan ada atau tidaknya hak ulayat atas tanah yang bersangkutan. Apabila ketiga unsur tanah kriteria tersebut di atas terpenuhi, maka dapat dikatakan bahwa hak ulayat/adat masih eksis. Karena masih ada, masyarakat hukum adat yang menguasai tanah adat yang bersangkutan dapat menjalankan hak
5
Boedi Harsono. 2002. Hukum Agraria Indonesia: Himpunan Peraturan-peraturan Hukum Tanah. Jakarta: Djambatan, hlm. 59.
dan kewajibannya, termasuk untuk melakukan proteksi pertahanan terhadap eksistensi tanah adatnya.
Sedangkan dalam UU Kehutanan No. 41/1999 disebut sebagai “Masyarakat Hukum Adat”, yakni kelompok masyarakat yang masih memenuhi unsur-unsur: (a) masyarakatnya masih dalam bentuk paguyuban (rechts-gemeenschap); (b) ada kelembagaan dalam bentuk perangkat penguasa adatnya; (c) ada wilayah hukum adat yang jelas; (d) ada pranata dan perangkat hukum, khususnya peradilan adat, yang masih ditaati; (e) masih mengadakan pemungutan hasil hutan di wilayah hutan sekitarnya untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.
Sedangkan khusus untuk masyarakat adat yang masuk dalam tipe kelompok keempat, oleh Keputusan Presiden No. 111/1999 dan Keputusan Mensos No. 67/2000, disebut sebagai “Komunitas Adat Terpencil” (KAT), yakni kelompok sosial budaya yang bersifat lokal dan terpencar serta kurang atau belum terlibat dalam jaringan dan pelayanan baik sosial, ekonomi maupun politik. Ciri-cirinya: (a) berbentuk komunitas kecil, tertutup dan homogen; (b) pranata sosial bertumpu pada lembaga kekerabatan; (c) pada umumnya terpencil secara geografis dan relatif sulit dijangkau; (d) pada umumnya masih hidup dengan sistem ekonomi subsisten; (e) peralatan dan teknologi sederhana; (f) ketergantungan kepada lingkungan dan sumber daya alam setempat relatif tinggi; (g) terbatasnya akses pelayanan sosial, ekonomi dan politik.
E. Metode Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian yuridis normatif, yakni penelitian yang difokuskan untuk mengkaji penerapan kaidah-kaidah atau norma-norma dalam hukum positif,6 yang bersumber dari penelitian kepustakaan yang menggunakan bahan hukum, yaitu bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier, untuk menjawab permasalahan pengaturan dalam peraturan perundang-undangan tentang pengakuan, penghormatan dan perlindungan dari negara terhadap hak-hak masyarakat hukum adat di Indonesia.
Selain menggunakan jenis penelitian hukum normatif penelitian ini juga menggunakan jenis penelitian hukum empiris, yakni mengenai kondisi masyarakat hukum adat, yang berada di Kalimantan Selatan untuk memperoleh data primer yang dibutuhkan untuk menjawab permasalahan apakah karakteristik pada masyarakat hukum adat di Kalimantan Selatan dapat diakui keberadaannya sesuai dengan peraturan perundanng-undangan, dan bagaimanakah pola aturan adat atau hukum adat yang berlaku pada masyarakat adat di Kalimantan Selatan
Tipe penelitian hukum yang dilakukan adalah inventarisasi peraturan perundang-undangan tentang bentuk pengakuan, penghormatan dan perlindungan dari negara pada hak-hak tradisional masyarakat adat, khususnya dalam konstitusi, dan peraturan perundang-undangan pada bidang pertanahan, pertambangan, dan perkebunan.
6
Johnny Ibrahim. 2005. Teori & Metodologi Penelitian Hukum Normatif. Surabaya: Bayumedia Publishing., hlm. 295.
Penelitian ini bersifat deskriptif analisis, yaitu peneliti menggambarkan atau memaparkan dan menjelaskan suatu keadaan yang didasarkan pada gejala-gejala serta fakta-fakta yang diperoleh di lapangan yang kemudian dikaji berdasarkan bahan-bahan kepustakaan yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.
Bahan hukum yang digunakan dalam penelitian ini, terdiri atas bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, yaitu: Pertama, bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat,7 berupa Peraturan Perundangan-undangan, yang terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tertier.
1. Bahan hukum primer tersebut meliputi : a. Undang-Undang Dasar 1945;
b. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Agraria;
c. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa, yang dirubah dengan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;
d. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 Tentang Penetaan Ruang; e. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia;
f. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Pertambangan; g. Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan;
h. Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air i. Undang-undang Nomor 18 Tahun 2004 Tentang Perkebunan;
7
Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji. 2003. Penelitian Hukum Normatif. Jakarta: PT RajaGarafindo Persada., hlm. 13.
j. Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batu Baru;
k. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1969 tentang Peraturan Pelaksana Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Pertambangan.; l. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah; m. Dan berbagai peraturan perundang-undangan lainnya
2. Bahan hukum sekunder, yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer, seperti rencana undang-undang, hasil-hasil penelitian, jurnal, buku-buku, hasil karya dari kalangan hukum,8 khususnya yang berhubungan dengan penelitian ini.
3. Bahan hukum tersier, yakni bahan hukum yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder seperti kamus hukum, Anotasi peraturan perundang-undangan, dan lain-lain.9
Untuk memperoleh bahan hukum, teknik pengumpulan dilakukan dengan studi pustaka, dari bahan hukum primer dan sekunder maupun tertier seperti telah diuraikan di atas. Dengan studi pustaka untuk memperoleh bahan hukum tentang bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan tertier yang relevan dengan permasalahan penelitian ini. Pendapat para ahli juga diperlukan untuk melengkapi kajian terhadap bahan hukum primer, sekunder dan tertier.
8
Ibid.
9
Dalam memperoleh data primer peneliti menggunakan penelitian lapangan dengan mendeskripsikan keberadaan masyarakat adat serta hak-hak adat yang bersifat tradisional lainnya. Penelitian ini difokuskan pada masyarakat adat asli Kalimatan Selatan yang disebut Suku Dayak, yang merupakan suku asli kalimantan. Metode antropologis akan digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis data, khususnya: antropologi hukum10 yang difokuskan pada aspek-aspek normatif dari kehidupan sosial.11 Inti dari penelitian ini adalah mengumpulkan data melalui penelitian lapangan di beberapa masyarakat secara bersamaan, namun data yang relevan juga akan dikumpulkan dari berbagai sumber diluar masyarakat yang bersangkutan.
Dengan demikian, penelitian ini memusatkan perhatian pada konstelasi empiris hak-hak adat yang ada dalam masyarakat setempat, dan persepsi mereka pada tingkat tersebut. Dalam hal ini dua jenis data akan diperoleh, Pertama, data yang diperoleh dengan menggunakan pendekatan kasat mata (yaitu materialistiuc
approach) yang berfokus pada kenyataan dan pola-pola perilaku (’the way of life’
dari masyarakat yang diteliti). Kedua, data yang diperoleh melalui pendekatan ”ideational” yang mengungkapkan pandangan (persepsi/kognitif) masyarakat mengenal realita: ide-ide, kepercayaan, dan interpretasi mereka. Karena penelitian ini
10
Koesnoe membedakan ‘anthropology of law’/antropologi hukum dan ‘legal anthropology’ yang beliau anggap sebagai legal (yuridis) yang menerapkan kosep metode antropologis. Penelitian antropologi hukum perlu untuk mengumpulkan data empiris yang merupakan bahan analisis teoritis hukum dalam tahap berikutnya (Legal Anthropology).
11
Representasi hukum positif tentang kenyataan normatif mungkin berbeda dengan gambaran mental. Namun, bukan merupakan tujuan penelitian ini untuk mengungkapkan kenyataan normatif dari segi hukum positif. Kenyataan hukum mungkin berbeda dari kenyataan empiris: keduanya harus dipisahkan.Misalnya larangan hukum untuk melewati lampu merah tidak dengan sendirinya berarti lampu merah tidak pernah dilanggar.
akan dilakukan di pelbagai lokasi di Provensi Kalimatan Selatan, maka diperlukan suatu formulasi konsep-konsep analitis (atau definisi kerja) yang cukup luas untuk dapat mencakup semua variasi sistem atau pola-pola dalam lokasi yang berbeda-beda. Daerah penelitian yang akan di teliti adalah daerah yang ada di Provensi Kalimantan Selatan, karena luasnya daerah penelitian, maka penelitian ini di fokuskan pada Kabupaten Kotabaru, Kabupaten Hulusungai Tengah, dan Kabapeten Hulu Sungai Selatan yang diindikasikan adanya masyarakat adat dayak yang masih memegang tradisi adat dan memiliki hak-hak tradisionalnya.
Untuk mencapai tujuan penelitian ini akan digunakan beberapa metode atau teknik dalam memperoleh data primer, antara lain yaitu;
1. Wawancara mendalam akan dilakukan dalam bentuk obrolan maupun dengan menggunakan panduan wawancara. Teknik wawancara informal ini akan digunakan selama di lapangan karena teknik ini cocok untuk mengetahui topik-topik penting, mendapatkan apa yang dipikirkan orang, kategori apa yang mereka gunakan, dan membandingkan persepsi seseorang dengan yang lainnya. 2. Life Histories dan Case Studies akan digunakan untuk merekonstruksi kembali
beberapa kejadian penting di lokasi studi yang berdampak pada status tanah tertentu;
3. ’Key actors’ (informan) akan dipilih secara hati-hati berdasarkan pengetahuan
khusus mereka dan informasi yang mereka berikan harus dapat dipercaya (reliabilitas);
4. Documentation studies akan digunakan untuk mengetahui bagaimana peraturan
pertanahan baik nasional maupun lokal berlaku di lokasi penelitian.
Teknik pengolahan bahan hukum dengan cara seluruh bahan hukum, baik bahan hukum primer, sekunder dan tersier serta data yang didapat dalam penelitian lapangan yang telah terkumpul disusun sedemikian rupa kemudian dihubungkan antara bahan hukum primer, sekunder dan tersier untuk menemukan jawaban terhadap permasalahan yang diteliti.
Untuk menjawab pertanyaan diatas, penelitian ini menggunakan pendekatan ilmu hukum yang mengenal tiga lapisan ilmu hukum (rechtsleer), yaitu dogmatik, teori hukum, dan filsafat hukum.
Teknik analisis yang digunakan terhadap bahan hukum dan data yang diperoleh dari penelitian lapangan, dalam penelitian ini bersifat kualitatif. Penggunaan analisis kualitatif didasarkan pada pertimbangan, yaitu pertama penelitian ini adalah penelitian hukum. Kedua, bahan hukum yang dikaji beraneka ragam, memiliki sifat dasar yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Ketiga, sifat dasar bahan hukum yang dianalisis adalah menyeluruh (comprehensive). Hal ini ditandai dengan keanekaragaman bahannya serta memerlukan informasi yang mendalam.
BAB II
PENGAKUAN NEGARA TERHADAP MASYARAKAT ADAT SERTA HAK-HAK TRADISIONALNYA
Negara Indonesia merupakan suatu negara yang terkenal dengan ciri kemajemukannya dari berbagai sisi, baik geografis, ras, suku, bahasa, maupun agama. Adanya kemajemukan tersebut telah disadari oleh para pendiri negara ini (founding
fathers) dengan menghimpun suatu negara yang terdiri atas keberagaman suku
bangsa dalam bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yakni didasarkan atas semboyan negara “Bhineka Tunggal Ika”, yang mana secara filosofis menunjukkan pengakuan dan penghormatan bangsa Indonesia atas keberagaman dan menunjukkan adanya kesadaran bahwa keberagaman tersebut dipandang sebagai suatu “energy sosial”. Kemajemukan tersebut membentuk keragaman struktur dan sistem bermasyarakat, serta norma-norma tersendiri yang menjadi adat istiadat yang dipatuhi serta dijalankan oleh masyarakatnya.
Masyarakat Indonesia memiliki struktur dan sistem, serta norma-norma tersendiri yang tetap hidup dan dipatuhi anggotanya inilah yang disebut sebagai masyarakat adat. Istilah masyarakat adat mulai disosialisasikan di Indonesia di tahun 1993 setelah sekelompok orang yang menamakan dirinya Jaringan Pembelaan Hak-hak Masyarakat Adat (JAPHAMA) yang terdiri dari tokoh-tokoh adat, akademisi dan aktivis ornop dalam pertemuannya menyepakati penggunaan istilah tersebut sebagai suatu istilah umum pengganti sebutan yang sangat beragam. Pada saat itu, secara
umum masyarakat adat sering disebut sebagai masyarakat terasing, suku terpencil, masyarakat hukum adat, orang asli, peladang berpindah, peladang liar dan terkadang sebagai penghambat pembangunan. Sedangkan pada tingkat lokal mereka menyebut dirinya dan dikenal oleh masyarakat sekitarnya sesuai nama suku mereka masing-masing. Dalam pertemuan itu disepakati juga bahwa istilah yang sesuai untuk menerjemahkan istilah indigenous peoples dalam konteks Indonesia adalah masyarakat adat. Artinya ketika kita berbicara tentang hak-hak masyarakat adat di Indonesia, acuannya adalah hak-hak dari indigenous peoples yang berlaku secara universal.12
Walaupun secara umum masyarakat adat sering disebut sebagai masyarakat terasing, suku terpencil, masyarakat hukum adat, orang asli, peladang berpindah, peladang liar dan terkadang sebagai penghambat pembangunan, dalam keadaan ketertinggalan dan keterbelakangan mereka tetap memiliki hak sebagai warga negara dalam lingkup Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang diakui dan dilindungi keberadaan dan kebebasannya untuk tetap hidup dengan nilai-nilai tradisionalnya. Jadi kewajiban negaralah untuk memberikan pengakuan dan perlindungan bagi masyarakat hukum adat untuk tetap hidup dalam ketertinggalan dan keterbelakangan, sepanjang hal tersebut merupakan adat-istiadat yang dipegang teguh. Karena itu, pengakuan dan penghormatan negara terhadap hak-hak adat diakui secara konstitusional yakni salah satu tujuan nasional yang ditegaskan dalam
12
Sandra Moniaga. 2002. “Hak-Hak Masyarakat Adat dan Masalah Serta Kelestarian Lingkungan Hidup di Indonesia”. Artikel utama dalam WACANA HAM, Media Pemajuan Hak Asasi Manusia. Jakarta: No. 10/Tahun II/12 Juni 2002. hlm 1.
Pembukaan UUD 1945 adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Frasa ’’segenap bangsa Indonesia” menunjuk pada pengakuan atas realitas keragaman,yang semuanya harus mendapatkan perlindungan. Namun, pengakuan pada tataran konstitusional tersebut tidak selalu sejalan dengan realitas penyelenggaraan kehidupan berbangsa. Pengakuan dan penghormatan negara terhadap hak-hak masyarakat adat masih banyak permasalahan terutama jika berbicara hak dan akses mereka terhadap surnber daya alam. Cerita penggusuran mereka dari sumber-sumber kehidupannya menghiasi sejarah pembangunan negeri ini. Sebut raja suku Amungme dan Komoro di bumi Irian karena adanya eksploitasi pertambangan di tanah mereka, Suku Sakai di Riau karena adanya eksploitasi perminyakan, dan orang-orang Dayak di Kalimantan akibat eksploitasi di sektor kehutanan dan pertambangan.
Sebagaimana menurut pendapat Eddie Riyadi Terre menyebutkan bahwa ada tiga persoalan mendasar yang dialami oleh masyarakat adat (indigenous peoples), yaitu: Pertama, masalah hubungan masyarakat adat dengan tanah dan wilayah dimana mereka hidup dan dari mana mereka mendapatkan penghidupan, termasuk sumberdaya alamnya; Kedua, masalah self determination yang sering menjadi berbias politik dan sekarang masih menjadi perdebatan sengit; dan Ketiga, masalah
kriterianya, apa bedanya dengan masyarakat bukan adat/asli/pribumi (non-indigenous
peoples).13
A. Pengakuan dan Penghormatan Hak-Hak Masyarakat Hukum Adat di Dunia Internasional
Pengakuan dan penghormatan hak-hak masyarakat adat sangat beragam dari sektor satu dengan sektor yang lainnya, demikian pula bentuk-bentuk pengakuan dan penghormatan hak-hak masyarakat adat oleh tiap pemerintah daerah juga berbeda. Pengakuan dan penghormatan hak-hak masyarakat adat ini sebenarnya tidak saja merupakan isu nasional, akan tetapi hal ini juga telah lama menjadi perhatian internasional dan dalam perkembangannya pengakuan dan penghormatan hak-hak masyarakat adat tersebut terus meningkat, hal ini nampak pada salah satu puncak penghormatan terhadap hak-hak masyarakat adat pada tahun 1993 Indigenous People Year oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), yang merupakan tidak lanjut dari rangkaian kesepakatan konvensi-konvensi dunia yang menekankan pentingnya pemerintah negara-negara anggota PBB untuk segera melaksanakan pemberdayaan masyarakat adat. Konvensi dunia tersebut antara lain adalah :
1. Konvensi International Labour Organization (ILO) 169 tahun 1989, di mana pada pasal-pasalnya disebut: Pasal 6 memuat prinsip partisipasi dan konsultasi dalam keseluruhan proses pengambilan keputusan yang menimbulkan dampak
13
Eddie Riyadi Terre, Masyarakat Adat, Eksistensi dan Problemnya: Sebuah Diskursus Hak Asasi Manusia, dalam Rafael Edy Bosko, Hak-hak Masyarakat Adat dalam Konteks Pengelolaan Sumberdaya Alam, ELSAM dan AMAN, Jakarta, 2006, hal 8.
terhadap kelompok masyarakat ini pada tingkat nasional. Pasal 7 sampai Pasal 12 mencakup berbagai aspek mengenai hubungan antara “sistem hukum adat” dan “sistem hukum nasional”. Pasal 13 sampai Pasal 19 memuat pengaturan tentang “Hak-hak atas tanah adat”;
2. Deklarasi Rio 1992 dan Agenda 21 1992 pada intinya pada Pasal 22 menekankan perlunya pengakuan dan pemberdayaan masyarakat hukum adat, yang mana masyarakat hukum adat diharapkan mendapat perlakuan yang lebih adil;
3. Rancangan Naskah PBB tentang Hak-hak Masyarakat Adat (Dokumen PBB no. E/CN.4/Sub.2/1993/29) mempertegas perlunya keberpihakan kepada masyarakat adat yang selama ini terabaikan;
4. Keputusan Strategi Konservasi Dunia “menjaga bumi” (Resolution of World
Conservation Strategy, Caring for the Earth) 1991, yang mendukung peran
khusus dan penting dari Masyarakat Adat sedunia dalam menjaga lingkungan; 5. Resolution of 18th General assembly of World Conservation Union, IUCN, yang
secara aklamasi mendukung hak-hak masyarakat adat termasuk hak untuk menggunakan sumber daya alam setempat secara bijaksana menurut tradisi mereka;
6. International Tropical Timber Agreement (Persetujuan Kayu Tropis Internasional) tahun 1994 dalam ITTO Guidelines, menyatakan bahwa kegiatan pengelolan hutan harus mengakui kepentingan masyarakat adat dan masyarakat setempat lainnya yang hidup bergantung pada hutan;
7. IUCN Working Group on Community Involvement in Forest Management (kelompok Kerja IUCN mmengenai Pelibatan Masyarakat dalam Pengelolaan Hutan) pada tahun 1996 merekomendasikan agar regenerasi hutan secara alamiah yang ada dalam system pengelolaan hutan oleh masyarakat adat harus diakui sebagai alternatif pemulihan hutan;
8. Convention on Biological Diversity (Konvensi Keanekaragaman Hayati) tahun 1992 telah di Ratifikasi dan diundangkan dengan UU No 5 tahun 1994. Sebagai suatu usaha perlindungan terhadap hak-hak kepemilikan intelektual (intelectual
property right, IPR) dari masyarakat adat, Pertukaran Teknologi (Sharing
Technology) dan Keamanan Hayati (Bio-Savety);
9. United Nations Declaration and Programme of Action to Combat Racism and
Racial Discrimination (Deklarasi dan Program Aksi PBB untuk menetang
rasisme dan diskriminasi rasial) yang diselenggarakan di Jenewa tahun 1978 pada Pasal 21 mengakui hak masyarakat adat untuk memelihara struktur ekonomi tradisional dan budaya mereka, termasuk bahasa, dan hubungan khusus dengan tanah dan sumber daya alam tidak boleh direnggut dari mereka;
10. World Council of Indigenous Peoples (WCIP) di Kiruna Swedia 1966 menekankan bahwa hak masyarakat adat atas tanah adalah hak milik penuh, tidak melihat apakah mereka memegang hak resmi yang diterbitkan oleh penguasa ataupun tidak;
11. Manifesto Mexico dalam Kongres Kehutanan Sedunia ke X tahun 1985
pengetahuan aslinya untuk dapat mengelola hutan termasuk kegiatan perlindungan dan pemanfaatan hutan dan disebut sebagai community based forest
management.
12. Demikian pula dengan hasil Kongres Kehutanan Sedunia ke XI tahun 1991 di Paris menekankan kembali tentang pentingnya keberpihakan kepada masyarakat yang terpinggirkan termasuk masyarakat adat dan sekaligus memandatkan pentingnya suatu rencana aksi yang disebut Tropical Forest Action Plan (TFAP) dan setiap negara akan membuat National Forest Action Plan (NFAP) yang juga merupakan turunan dari Agenda 21 Pasal 11.
13. Dalam Basic Principles FAO tentang National Forestry Action Plan dikatakan dalam prinsip dasar No 4 tentang Partisipasi dalam perencanaan program Kehutanan dikatakan bahwa proses konsultasi yang melibatkan semua pihak termasuk masyarakat adat dan kelompok perempuan perlu dilakukan dan pada prinsip No 5 tentang pendekatan Holistik dan Inter-sectoral dikatakan bahwa Masyarakat Adat dan masyarakat yang tinggal didalam hutan harus dilihat sebagai bagian yang tidak dapat terpisahkan dari ekosistem.
14. Hasil deklarasi International Alliance of Indigenous-Tribal Peoples of the
Tropical Forest (Aliansi Masyarakat Adat di Wilayah Hutan Tropis) tahun 1996
dikatakan bahwa; Masyarakat adat mengakui bahwa untuk kepentingan jangka panjang kehidupannya akan menggunakan sumber daya hutan secara lestari dan menghargai kepentingan konservasi lingkungan. Masyarakat adat mengakui bahwa kemampuan organisasi konservasi dapat membantu meningkatkan
pengembangan swadaya dan mendapatkan hubungan yang saling menguntungkan berdasar atas saling percaya, keterbukaan dan akuntabilitas.
B. Pengakuan dan Penghormatan Negara Terhadap Hak-Hak Adat dalam Peraturan Perundang-undangan
Hak-hak masyarakat adat merupakan satu kesatuan kolektif terhadap segala sumberdaya di wilayahnya, yang lazim dikenal dengan hak ulayat pada dasarnya adalah hak yang berkenaan dengan pengelolaan, sekaligus pemanfaatan sumberdaya. Beberapa peraturan-perundangan tingkat nasional sudah mengatur dan mengakui hak-hak masyarakat adat tersebut, antara lain :
1. Undang-undang Dasar 1945 (UUD 1945)
UUD 1945 merupakan sumber hukum tertinggi di Indonesia, sejak awal terbentuknya telah memberikan dasar hukum (Legal Reason) pengakuan dan penghormatan dalam hal kemajemukan budaya, termasuk pula pengakuan atas adanya kemajemukan sumber-sumber hukum yang berlaku di tengah-tengah kehidupan masyarakat sehari-hari serta pengakuan dan penghormatan terhadap hak-hak masyarakat adatnya. Pengakuan dan penghormatan negara terhadap hak-hak-hak-hak masyarakat adat diatur di dalam Pasal 18 UUD 1945, yakni dinyatakan bahwa: “Pembagian Daerah Indonesia atas Daerah besar dan kecil dengan membentuk susunan pemerintahannya ditetapkan dengan Undang-undang dengan memandang dan mengingat dasar permusyawaratan dalam sistem Pemerintahan
Negara, dan hak-hak asal-usul dalam daerah-daerah yang bersifat istimewa. Sedangkan dalam penjelasanya dikatakan, Dalam territoir Negara Indonesia terdapat lebih kurang 250 Zelfbesturende landschappen dan Volksgemeenschappen, seperti desa di Jawa dan Bali, negeri di Minangkabau, dusun dan marga di Palembang dsb. Daerah-daerah itu mempunyai susunan asli dan oleh karenannya dapat dianggap sebagai daerah yang bersifat istimewa...segala peraturan negara yang mengenai
daerah-daerah itu akan mengatur hak-hak asal-usul daerah tersebut.” Daerah yang bersifat istimewa sebagaimana dimaksud di atas adalah
masyarakat dengan susunan asli yang memiliki wujud kelembagaan, tatanan hak dan kewajiban yang khas, yang berbeda dengan wujud kelembagaan, tatanan hak dan kewajiban yang berada di luar kesatuan daerah yang dimaksud. Karenanya, sesuatu aturan yang datang dari luar “susunan asli” itu tidaklah relevan diberlakukan di dalam tatanan “susunan asli” tertentu, oleh sebab itu pengaturan di atas menghendaki walaupun Negara Indonesia berbentuk kesatuan (eenheidsstaat atau unitary state) namun Negara menghormati kedudukan daerah-daerah istimewa tersebut dan segala peraturan negara yang mengenai daerah-daerah itu akan mengatur hak-hak asal-usul daerah tersebut. Dengan demikian, persoalan hak-hak asal-usul yang salah satunya adalah hak atas sumber daya alam atau hak ulayat dan lain-lain sebagai penanda keberadaan masyarakat adat, direduksi menjadi persoalan tata pemerintahan, artinya dengan pengaturan tersebut negara memberikan adanya pengakuan dan penghormatan terhadap hak-hak masyarakat adat sebagai masyarakat yang memiliki susunan asli.
Disamping pengaturan hak-hak masyarakat adat tersebut, UUD 1945 sejak diberlakukannya juga memberikan pengaturan dan pembatasan berkaitan dengan pengelolaan sumber daya alam, yakni mengatur (hak) penguasaan negara atas sumber daya alam yang dicantumkan dalam Pasal 33 ayat (2) dan ayat (3), yang menyatakan bahwa :
Ayat (2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara;
Ayat (3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Sejak tahun 1998 dengan bergulirnya gerakan reformasi telah terjadi perubahan dalam konstitusi dinegara ini, yakni salah satunya dengan di Amandemen UUD 1945. Amandemen terhadap UUD 1945 ini tidak terlepas ketentuan berkaitan dengan keberadaan masyarakat adat, yakni pasca Amandemen UUD 1945 pengakuan dan penghormatan negara terhadap hak-hak masyarakat adat semakin ditingkatkan. Tepatnya setelah Amandemen Kedua UUD pada tahun 2000, nilai-nilai tersebut diangkat ke dan dijadikan rumusan pasal tersendiri dalam Batang Tubuh, karena pasca amandemen UUD tidak mengenal lagi penjelasan. Terdapat 2 pasal penting dalam UUD tentang pengakuan dan penghormatan negara terhadap hak-hak masyarakat adat dan hak-hak tradisionalnya pasca amandemen.
Pertama, Ketentuan Pasal 18B ayat (1) dan ayat (2) UUD 1945 (amandemen
kedua) yang memuat pengakuan dan penghormatan terhadap hak-hak adat yang berbunyi sebagai berikut :
(1) Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan undang-undang;
(2) Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan Prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang.
Ketentuan di atas memisahkan antara persoalan tata pemerintahan yang bersifat khusus dan istimewa yang diatur dengan UU (Pasal 18B ayat 1) dengan persoalan hak ulayat dan pembatasannya (Pasal 18B ayat 2). Selama ini, persoalan ulayat sering dikaitkan dengan hak-hak atas sumber daya alam yang ditarik dari sistem kerajaan pada masa lalu. Pemisahan antara Pasal 18B ayat (1) dengan Pasal 18B ayat (2) memberi arti penting untuk membedakan antara bentuk persekutuan masyarakat (hukum) adat dengan pemerintahan “kerajaan” lama yang masih hidup dan dapat bersifat istimewa.
Meski sudah mengakui dan menghormati keberadaan masyarakat hukum adat beserta hak adatnya secara deklaratif, Pasal 18B ayat (2) mencantumkan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi suatu masyarakat untuk dapat dikategorikan sebagai masyarakat hukum adat beserta hak adat yang dapat dinikmatinya secara aman. Persyaratan-persyaratan itu secara kumulatif adalah:
a. Sepanjang masih hidup;
b. Sesuai dengan perkembangan masyarakat; c. Sesuai dengan prinsip NKRI;
d. Diatur dalam Undang-undang.
Rikardo Simarmata menyebutkan bahwa persyaratan terhadap masyarakat adat dan hak ulayatnya yang dilakukan oleh UUD 1945 pasca amandemen memiliki
sejarah yang dapat dirunut dari masa kolonial. Aglemene Bepalingen (1848),
Reglemen Regering (1854) dan Indische Staatregeling (1920 dan 1929) mengatakan
bahwa orang pribumi dan timur asing yang tidak mau tunduk kepada hukum Perdata Eropa, diberlakukan undang-undang agama, lembaga dan adat kebiasaan masyarakat, sepanjang tidak bertentangan dengan asas-asas yang diakui umum tentang keadilan.14
Ketentuan Pasal 18B UUD 1945 (amandemen kedua) maupun Penjelasan Pasal 18 UUD 1945 (sebelum amandemen) telah memuat pernyataan “negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat, tetapi apa yang dimaksud dengan ”negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya, tidak ada penjelasan lebih lanjut. Tidak jelas apa yang dimaksud dengan kata ”menghormati” dalam penjelasan tersebut. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian menghormati antara lain : mengakui dan mentaati (tentang aturan, perjanjian) : kita akan persetujuan dan perjanjian yang telah kita buat. Berdasarkan pada kata menghormati tersebut, maka Negara Kesatuan Republik Indonesia harus menghormati (artinya mengakui dan mentaati) keberadaan masyarakat hukum adat dan pemerintahan adatnya, dan hak-hak masyarakat hukum adatnya.
Kedua, lebih jauh dikemukakan lagi ketentuan tentang pengakuan dan
penghormatan negara terhadap hak-hak masyarakat adat dalam Pasal 28 UUD 45 (amandemen kedua) yang semula hanya terdiri atas satu ayat berubah menjadi Pasal
14
Rikardo Simarmata. 2006. Pengakuan Hukum terhadap Masyarakat Adat di Indonesia. Jakarta: UNDP, hlm. 309-310.
28 A sampai dengan Pasal 28 J. Ketentuan tentang pengakuan dan penghormatan negara terhadap hak-hak masyarakat adat tersebut tepatnya dalam pasal 28I ayat (3), yang menyatakan sebagai berikut : “Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban.”
2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat (TAP MPR)
Ketetapan MPR Nomor XVII/MPR/1998 Tentang Hak Asasi Manusia: Sebelum amandemen terhadap UUD 1945, TAP MPR No.XVII/1998 tentang Hak Asasi Manusia (HAM) terlebih dahulu memuat ketentuan tentang pengakuan dan penghormatan atas hak masyarakat adat. Pengakuan dan penghormatan hak masyarakat adat tersebut terlihat dalam Pasal 32 TAP MPR No.XVII/1998 tentang Hak Asasi Manusia (HAM) yang menyatakan : “Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil sewenang-wenang”, selanjutnya dalam Pasal 41 Piagam HAM yang menjadi bahagian tak terpisahkan dari TAP MPR ini, ditegaskan : “Identitas budaya masyarakat tradisional, termasuk hak atas tanah ulayat dilindungi, selaras dengan perkembangan zaman”. Ketetapan MPR No. XVII/MPR/1998 Tentang Hak Asasi Manusia ini telah diterjemahkan ke dalam UU HAM No. 39 tahun 1999.
Ketetapan MPR No. IX/MPR/2001 tentang Pembaharuan Agraria dan Pengelolaan SDA :
TAP MPR No. IX/2001 tentang Pembaharuan Agraria dan Pengelolaan SDA, pengakuan dan penghormatan hak-hak masyarakat adat tersebut tidak hanya sebatas
hak atas tanah ulayat, tetapi juga menyangkut sumber daya agraria/sumber daya alam, termasuk keragaman budaya dalam pengelolaan dan pemanfaatannya. Hal itu termaktub dalam Pasal 4 TAP MPR No.IX/2001, bahwa : “Pembaruan agraria dan pengelolaan SDA harus dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip dalam ayat (j), yaitu: mengakui, menghormati, dan melindungi hak masyarakat hukum adat dan keragaman budaya bangsa atas sumber daya agraria/alam.“
Secara umum, TAP MPR No.IX/2001 itu, lahir karena situasi empirik pengelolaan sumber daya alam yang sentralistik, eksploitatif, memiskinakan rakyat (termasuk masyarakat adat) dan ketimpangan struktur penguasaan dan kepemilikan, serta kerusakan lingkungan hidup yang massif. Karena itu, TAP MPR ini, mengamanahkan agar dilakukannya pembaharuan agraria oleh pemerintah dalam hal pengelolaan sumber daya alam berdasarkan prinsip-prinsip penghargaan atas HAM, demokratisasi, transparansi, dan partisipasi rakyat, keadilan penguasaan dan kepemilikan, serta pengakuan, penghormatan, dan perlindungan terhadap masyarakat adat
3. Undang Undang Pokok Agraria (UUPA) Nomor 5 tahun 1960
Pada tingkatan Undang-Undang, UUPA No. 5/1960 adalah produk hukum yang pertama kali menegaskan pengakuannya atas hukum adat. Pengakuan dan penghormatan negara terhadap hak-hak masyarakat adat, diatur dalam Pasal 3 UUPA yang berbunyi sebagai berikut : “Dengan mengingat ketentuan-ketentuan dalam Pasal 1 dan 2 pelaksanaan hak ulayat dan hak-hak serupa itu dari masyarakat-masyarakat hukum adat, sepanjang menurut kenyataan masih ada, harus sedemikian
rupa sehingga sesuai dengan kepentingan nasional dan negara, yang berdasarkan atas persatuan bangsa serta tidak boleh bertentangan dengan undang-undang dan peraturan lain yang lebih penting.” Pasal 3 ini lebih lanjut dijelaskan dalam Penjelasan Umum Nomor II/3 dan Penjelasan pasal demi pasal. Penjelasan Umum Nomor II/3 berbunyi sebagai berikut : “Bertalian dengan hubungan antara bangsa dan bumi serta air kekuasaan Negara sebagai yang dimaksud dalam Pasal 1 dan 2 maka di dalam Pasal 3 diadakan ketentuan mengenai hak ulayat dari kesauan-kesatuan masyarakat hukum, yang dimaksud akan mendudukkan hak itu pada tempat yang sewajarnya di dalam alam bernegara dewasa ini”. Pasal 3 itu menentukan, bahwa : ”Pelaksanaan hak ulayat dan hak-hak serupa itu dari masyarakat-masyarakat hukum adat, sepanjang menurut kenyataannya masih ada, harus sedemikian rupa hingga sesuai dengan kepentingan nasional dan negara, yang berdasarkan atas persatuan bangsa serta tidak boleh bertentangan dengan undang-undang dan peraturan-peraturan lain yang lebih tinggi.” Ketentuan ini pertama-tama berpangkal pada pengakuan adanya hak ulayat itu dalam hukum agraria yang baru. Sebagaimana diketahui biarpun menurut kenyataannya hak ulayat itu ada dan berlaku serta diperhatikan pula di dalam keputusan-keputusan hakim, belum pernah hak tersebut diakui secara resmi di dalam undang-undang, dengan akibat bahwa di dalam melaksanakan peraturan-peraturan agraria hak ulayat itu pada jaman penjajahan dulu sering kali diabaikan.
Berhubung dengan disebutnya hak didalam Undang-undang Pokok Agraria, yang pada hakikatnya berarti pula pengakuan hak itu, maka pada dasarnya hak ulayat itu akan diperhatikan, sepanjang hak itu menurut kenyataannya memang masih ada
itu menurut kenyataannya memang masih ada pada masyarakat hukum yang bersangkutan. Misalnya di dalam pemberian suatu hak atas tanah (seperti hak guna usaha) masyarakat hukum yang bersangkutan sebelumnya akan didengar pendapatnya dan akan diberi ”recognitie”, yang memang ia berhak menerimanya selaku pemegang hak ulayat itu.
Dalam penjelasan pasal demi pasal dijelaskan bahwa : ”Yang dimaksud dengan” hak ulayat dan hak-hak serupa itu ”ialah apa yang di dalam perpustakaan adat disebut ”beschikkingsrecht”. Selanjutnya lihat penjelasan umum (II angka 3). Menurut pasal 3 UUPA beserta penjelasannya tersebut hak ulayat dari masyarakat hukum adat diketahui oleh hukum agraria nasional dengan dua syarat, yaitu :
Pertama, syarat eksistensinya (keberadaannya) yakni: hak ulayat diakui
”sepanjang menurut kenyataannya masih ada”. Hal ini berarti bahwa, di daerah-daerah yang semula ada hak ulayat, namun dalam perkembangan selanjutnya, hak milik perseorangan menjadi sangat kuat sehingga menyebabkan hilangnya hak adat/ulayat, hak adat/ulayat tidak akan dihidupkan kembali. Demikian pula di daerah-daerah yang tidak pernah ada hak adat/ulayat, tidak akan dilahirkan hak adat/ulayat baru.
Kedua, syarat pelaksanaan hak adat/ulayat yaitu, tidak bertentangan dengan UUPA dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dari UUPA, dihilangkan karena di daerah-daerah yang masih eksis hak ulayatnya diberlakukan sepenuhnya hukum adat setempat. Peraturan perundang-undangan hanya berlaku di daerah-daerah yang tidak ada hak adat/ulayatnya, sehingga terjadi dualisme hukum yaitu, hukum
adat berlaku didaerah-daerah yang masih ada hak adat/ulayatnya dan peraturan perundang-undangan berlaku di daerah-daerah yang tidak ada hak adat/ulayatnya.
Dengan demikian maka, syarat hak adat/ulayat agar diakui oleh hukum agraria nasional adalah, sepanjang menurut kenyataannya masih ada (syarat eksistensinya) dan pelaksanaannya sesuai dengan kepentingan nasional dan negara yang berdasar atas persatuan bangsa. Pengakuan ini juga harus diikuti dengan pengakuan terhadap semua hak-hak masyarakat hukum adat/warga masyarakat hukum adat yang melekat pada hak adat/ulayat itu, yaitu:
a. Hak masyarakat hukum adat untuk menguasasi semua tanah yang ada di wilayah hukumnya (tanah adat/ulayat);
b. Hak warga masyarakat hukum adat terhadap tanah adat/ulayatnya, yaitu: 1) Hak untuk membuka tanah (hutan);
2) Hak untuk memungut hasil hutan;
3) Hak untuk mengambil kekayaan alam yang terkandung dalam perut bumi (bahan tambang);
4) Hak untuk mengambil ikan di sungai, danau atau pantai yang ada diwilayah hukumnya;
5) Hak untuk mengambil binatang liar yang ada di hutan yang belum dipunyai oleh orang.
Hak-hak masyarakat hukum adat/warga masyarakat hukum adat yang melekat pada hak adat/ulayat tersebut, semuanya terkait erat dengan tanah adat/ ulayat, sebab hak itu muncul/ berada di atas tanah adat/ulayat. Tanpa tanah adat/ulayat,
hak-hak masyarakat hukum adat/warga masyarakat hukum adat tidak akan ada. Oleh karena itu, pengakuan terhadap hak adat/ulayat sebagaimana diatur dalam Pasal 3 UUPA, juga harus diikuti dengan pengakuan terhadap tanah ulayat masyarakat
hukum adat.
Lebih lanjut, ketentuan tentang pengakuan dan penghormatan hak-hak masyarakat adat bisa dilihat dalam Pasal 5 UUPA yang menyebutkan bahwa : “Hukum agraria yang berlaku atas bumi, air dan ruang angkasa ialah hukum adat, sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional dan negara yang didasarkan atas persatuan bangsa”. Pasal 5 ini merupakan rumusan atas kesadaran dan kenyatan bahwa sebagian besar rakyat tunduk pada hukum adat, sehingga kesadaran hukum yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kesadaran hukum berdasarkan adat. Hanya saja memang semangat UUPA ini, dikemudian waktu banyak dibelakangi, karena pergeseran politik ekonomi dan hukum agraria. Kendati demikian, UUPA ini hingga sekarang masih menjadi hukum yang positif yang mengatur mengenai agraria. Karenanya masih menjadi alat legal dalam memperkuat hak-hak komunitas adat. Namun seiring dengan arus reformasi, kesadaran terhadap pengakuan, penghormatan dan perlindungan hak-hak masyarakat hukum adat menjadi salah satu isu politik yang mengemuka. Sejumlah Undang-Undang telah diproduk menyertai UUPA.
4. Undang-undang Nomor 39 tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia
Hak asasi manusia merupakan hak dasar yang secara kodrati melekat pada diri manusia, bersifat universal dan langgeng (sustainable), oleh karena itu harus dilindungi, dihormati dipertahankan, dan tidak boleh diabaikan, dikurangi, atau dirampas oleh siapapun. Ini berarti bahwa setiap orang dan pemerintah mengemban kewajiban untuk mengakui dan menghormati Hak Asasi Manusia. Undang-Undang No.39 tahun 1999 tentang HAM yang mulai diberlakukan pada tanggal 23 September 1999, boleh dibilang sebagai operasionalisasi dari TAP MPR XVII/1998 yang menegaskan bahwa hak-hak masyarakat hukum adat sebagai bagian dari Hak Asasi Manusia.
Dalam Pasal 6 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang No. 39 tahun 1999 tentang HAM memuat ketentuan pengakuan, penghormatan dan perlindungan terhadap hak adat tersebut, yakni sebagai berikut :
(1) Dalam rangka penegakan hak asasi manusia, perbedaan dan kebutuhan dalam masyarakat hukum adat harus diperhatikan dan dilindungi oleh hukum, masyarakat, dan pemerintah;
(2) Identitas budaya masyarakat hukum adat, termasuk hak atas tanah ulayat dilindungi, selaras dengan perkembangan zaman.
Dalam penjelasan pasal demi pasal, Pasal 6 ayat (1) dan ayat (2) dijelaskan sebagai berikut :
(1) Hak adat yang secara nyata masih berlaku dijunjung tinggi dalam lingkungan masyarakat hukum adat harus di hormati dan dilindungi dalam rangka perlindungan dan penegakan hak asasi manusia dalam masyarakat yang bersangkutan dengan memperhatikan hukum dan peraturan perundang-undangan.
(2) Dalam rangka penegakan hak asasi manusia, identitas budaya nasional masyarakat hukum adat, hak-hak adat yang masih secara nyata dipegang teguh oleh masyarakat hukum adat setempat, tetap dihormati dan dilindungi sepanjang tidak bertentangan dengan asas-asas negara hukum yang berintikan keadilan dan kesejahteraan rakyat.
Lebih jauh, pasal 6 UU HAM ini sesungguhnya menegaskan pula keharusan bagi hukum, masyarakat dan pemerintah untuk menghargai kemajemukan identitas dan nilai-nilai budaya yang berlaku pada komunitas adat setempat. Pengingkaran terhadap kemajemukan tersebut, misalnya melakukan penyeragaman (uniformitas) nilai terhadap mereka merupakan suatu pelanggaran HAM, apalagi jika pengingkaran tersebut disertai tindakan-tindakan pelecehan, kekerasan atau paksaan. Sudah tentu tindakan demikian bias dikategorikan kejahatan serius dan berat, sehingga memungkinkan untuk diselesaikan di pengadilan HAM.
Lebih jauh, Pasal 6 UU HAM ini sesungguhnya menegaskan pula keharusan bagi hukum, masyarakat dan pemerintah untuk menghargai kemajemukan identitas dan nilai-nilai budaya yang berlaku pada komunitas adat setempat. Pengingkaran terhadap kemajemukan tersebut, misalnya melakukan penyeragaman (uniformitas)
nilai terhadap mereka merupakan suatu pelanggaran HAM, apalagi jika pengingkaran tersebut disertai tindakan-tindakan pelecehan, kekerasan atau paksaan. Sudah tentu tindakan demikian bias dikategorikan kejahatan serius dan berat, sehingga memungkinkan untuk diselesaikan di pengadilan HAM.
5. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2004 Tentang Perkebunan
Dasar hukum pengakuan dan penghormatan negara terhadap hak-hak masyarakat adat diatur dalam Pasal 9 undang-undang Nomor 18 tahun 2004, yang menyatakan sebagai berikut :
(1) Dalam rangka penyelenggaraan usaha perkebunan, kepada pelaku usaha perkebunan sesuai dengan kepentingannya dapat diberikan hak atas tanah yang diperlukan untuk usaha perkebunan berupa hak milik, hak guna usaha, hak guna bangunan, dan/atau hak pakai sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (2) Dalam hal tanah yang diperlukan merupakan tanah hak ulayat masyarakat hukum
adat yang menurut kenyataannya masih ada, mendahului pemberian hak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), pemohon hak wajib melakukan musyawarah dengan masyarakat hukum adat pemegang hak ulayat dan warga pemegang hak atas tanah yang bersangkutan, untuk memperoleh kesepakatan mengenai penyerahan tanah, dan imbalannya.
Ketentuan pasal tersebut di atas memberikan perlindungan terhadap hak masyarakat adat atas tanah adatnya daripada kepentingan penyelenggaraan perkebunan, artinya dalam rangka penyelenggaraan perkebunan harus lebih dulu memperoleh kesepakatan mengenai penyerahan tanah dan imbalannya apabila tanah
tersebut pada kenyataannya merupakan tanah hak ulayat masyarakat adat. Adapun Penjelasan Pasal 9 undang-undang tersebut di atas, maka yang dimaksud masyarakat hukum adat yang menurut kenyataannya masih ada, jika memenuhi unsur-unsur sebagai berikut :
a. masyarakat masih dalam bentuk paguyuban (rechtsgemeinschaft); b. ada kelembagaan dalam bentuk perangkat penguasa adat;
c. ada wilayah hukum adat yang jelas;
d. ada pranata dan perangkat hukum, khususnya peradilan adat yang masih ditaati; e. ada pengukuhan dengan peraturan daerah.
Adapun kesepakatan mengenai penyerahan tanah dan imbalannya tersebut melalui musyawarah dengan masyarakat hukum adat pemegang hak ulayat dan para warga pemegang hak atas tanah tidak selamanya diikuti dengan pemberian hak atas tanah. Pengakuan dan penghormatan negara terhadap hak-hak masyarakat adat lebih lanjut diatur dalam Pasal 35 Undang-undang Nomer 18 tahun 2004, yakni menyatakan : “Penelitian dan pengembangan perkebunan dimaksudkan untuk menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dibutuhkan dalam pengembangan usaha perkebunan agar berdaya saing tinggi dan ramah lingkungan dengan menghargai kearifan tradisional dan budaya lokal.” Ketentuan menghargai kearifan tradisional dan budaya lokal dimaksudkan agar penerapan teknologi untuk pengembangan usaha perkebunan di suatu wilayah dapat bersinergi dengan kebiasaan, tradisi, adat, agama, dan budaya setempat sehingga dapat diterima oleh masyarakat agar mencapai hasil yang optimal.
6. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air
Undang-undang Nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air merupakan pengganti daripada Undang-undang Nomor 11 tahun 1974 tentang Pengairan, di mana dalam pengelolaannya sumber daya air perlu diarahkan untuk mewujudkan sinergi dan keterpaduan yang harmonis antar wilayah, antar sektor, dan antar generasi, yakni sejalan dengan semangat demokratisasi, desentralisasi, dan keterbukaan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, masyarakat perlu diberi peran dalam pengelolaan sumber daya air.
Pengelolaan sumber daya air menurut undang-undang tersebut di atas tepatnya dalam Pasal 6 Ayat 1 menyatakan bahwa : “Sumber daya air dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.” Walaupun demikian, tetapi dalam hal ini negara tetap memberikan pengakuan dan penghormatan terhadap hak-hak masyarakat adat yang diatur dalam Pasal 6 Ayat 2 dan Ayat 3 serta dalam Pasal 34 Ayat 3, yakni sebagai berikut :
Pasal 6
Ayat (2) “Penguasaan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah dengan tetap mengakui hak ulayat masyarakat hukum adat setempat dan hak yang serupa dengan itu, sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional dan peraturan perundang-undangan;
Ayat (3) “Hak ulayat masyarakat hukum adat atas sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tetap diakui sepanjang kenyataannya masih ada dan telah dikukuhkan dengan peraturan daerah setempat.”
Pasal 34
Ayat (3) “Pengembangan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada Pasal 34 ayat (1) diselenggarakan berdasarkan rencana pengelolaan sumber
daya air dan rencana tata ruang wilayah yang telah ditetapkan dengan mempertimbangkan:
a. daya dukung sumber daya air ;
b. kekhasan dan aspirasi daerah serta masyarakat setempat ; c. kemampuan pembiayaan; dan
d. kelestarian keanekaragaman hayati dalam sumber air.
Terkait pengakuan dan penghormatan negara terhadap hak-hak masyarakat adat dalam pasal tersebut diatas, maka menurut penjelasan pasal demi pasalnya adalah sebagai berikut :
Pasal 6
Ayat (2) “Yang dimaksud dengan penguasaan sumber daya air diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah adalah kewenangan yang diberikan oleh negara kepada Pemerintah dan pemerintah daerah dalam pengaturan sumber daya air. Yang dimaksud dengan hak yang serupa dengan hak ulayat adalah hak yang sebelumnya diakui dengan berbagai sebutan dari masing-masing daerah yang pengertiannya sama dengan hak ulayat, misalnya : tanah wilayah pertuanan di Ambon; panyam peto atau pewatasan di Kalimantan; wewengkon di Jawa, prabumian dan payar di Bali; totabuan di Bolaang-Mangondouw, torluk di Angkola, limpo di Sulawesi Selatan, muru di Pulau Buru, paer di Lombok, dan panjaean di Tanah Batak;
Ayat (3) “Pengakuan adanya hak ulayat masyarakat hukum adat termasuk hak yang serupa dengan itu hendaknya dipahami bahwa yang dimaksud dengan masyarakat hukum adat adalah sekelompok orang yang terikat oleh tatanan hukum adatnya sebagai warga bersama suatu persekutuan hukum adat yang didasarkan atas kesamaan tempat tinggal atau atas dasar keturunan. Hak ulayat masyarakat hukum adat dianggap masih ada apabila memenuhi tiga unsur, yaitu :
a. unsur masyarakat adat, yaitu terdapatnya sekelompok orang yang masih merasa terikat oleh tatanan hukum adatnya sebagai warga bersama suatu persekutuan hukum tertentu, yang mengakui dan menerapkan ketentuan-ketentuan persekutuan tersebut dalam kehidupannya sehari-hari;
b. unsur wilayah, yaitu terdapatnya tanah ulayat tertentu yang menjadi lingkungan hidup para warga persekutuan hukum tersebut dan tempatnya mengambil keperluan hidupnya sehari-hari; dan; c. unsur hubungan antara masyarakat tersebut dengan wilayahnya,
penguasaan, dan penggunaan tanah ulayatnya yang masih berlaku dan ditaati oleh para warga persekutuan hukum tersebut.
Pasal 34
Pengembangan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 diselenggarakan berdasarkan rencana pengelolaan sumber daya air dan rencana tata ruang wilayah yang telah ditetapkan dengan mempertimbangkan “kekhasan dan aspirasi daerah serta masyarakat setempat”. Menurut penjelasannya, kekhasan daerah adalah sifat khusus tertentu yang hanya ditemukan di suatu daerah, bersifat positif dan produktif serta tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.
7. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 Tentang Penataan Ruang
Bentuk pengelolaan Sumber Daya Alam berdasarkan hukum adat juga dijamin oleh Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang, dalam Penjelasan pasal 4 ayat 2 dari Undang-undang tersebut menyatakan bahwa Penggantian yang layak diberikan pada orang yang dirugikan selaku pemegang hak atas tanah, hak pengelolaan sumber daya alam seperti hutan, tambang, bahan galian, ikan dan atau ruang yang dapat membuktikan bahwa secara langsung dirugikan sebagai akibat pelaksanaan kegiatan pembangunan sesuai dengan rencana tata ruang dan oleh perubahan nilai ruang sebagai akibat penataan ruang. Hak tersebut didasarkan atas ketentuan perundang-undangan ataupun atas dasar hukum adat dan kebiasaan yang berlaku.