• Tidak ada hasil yang ditemukan

SESI DUA

PEMAPARAN MATERI PENGANTAR

1) KONFLIK HAK ATAS TANAH

Tema konflik ini diwakili oleh pengelaman dari SP-PALEMBANG, mengenai perampasan hak tanah warga di Desa Sri Bandung oleh BUMN PTPN VII Cinta Manis. Konflik yang sudah muncul dari awak ’80-an ini, belum benar-benar terselesaikan secara tuntas hingga saat ini.

semakin rumitnya warga dalam memperjuangkan hak atas tanahnya yang direbut oleh PTPN VII untuk perkebenan tebu. Berbagai macam cara dan proses dilakukan warga untuk mencari keadilan. Namun akibat dari kolaborasi penguasa yakni antara, pemerintah daerah, pemodal, polisi dan militer. Usaha warga tersebut mengalami kebuntuan. Malah yang terjadi sebaliknya, dimana warga mengalami kerugian dalam bebagai aspeknya.

• Masing-masing kelompok diminta untuk melakukan diskusi berdasarkan tiga topik utamanya. Mengelaborasi setiap kasus yang dimiliki masing-masing organisasi mengacu pada 5W + 1H.

• Kemudian dilakuan analisa dengan menggunakan metode pohon permasalahan, yang diharapkan setiap kelompok mengenal mulai dari gejalanya (syptom) yang ada pada daun, hingga ideologi aktor penguasa yang menjadi akarnya.

• Terakhir masing-masing kelompok harus mempresentasikan hasil analisa pada diskusinya, untuk kemudian diplenokan antar ketiga kelompok tersebut agar mencapai pemahaman yang komprehensif terhadap pengetahuan yang sedang dipelajari.

34 Hasil analisa:

DAUN > Dampak (Sympthom) :

a) Warga kehilangan tanah untuk tempat tinggal dan lahan perkebunan sebagai mata pencaharian.

b) Warga dimiskinkan secara ekonomi dan pendidikan.

c) Kaum pria yang vokal/kritis banyak di incar untuk ditangkap sehingga melarikan diri keluar desa.

d) Meningkatnya konflik KDRT (kekerasan terhadap perempuan) akibat stress.

e) Perempuan berperan ganda, selain sebagai Ibu Rumah Tangga juga berjuang mempertahankan hak tanahnya karena kaum pria banyak yang ditangkap atau kabur keluar desa.

f) Tuduhan provokator oleh perusahaan dan pemda setempat kepada para Ibu yang vokal/kritis.

g) Peta konflik antar warga yang bekerja di perusahaan dengan yang tidak, seperti penuduhan pencurian pupuk.

h) Rusaknya keharmonisan antar warga. struktur sosial yang terganggu, ritual kebudayaan menjadi hilang, dan tokoh adat atau masyarakat tidak dipercayai lagi oleh warganya.

i) Kekerasan langsung (dipukul, ditendang, dipenjarakan) BATANG > Aktor :

a) Pemiliki modal (investor) dan manajemen PTPN VII Cinta Manis b) Pemda (Provinsi, Kabupaten dan Desa)

c) Aparat kepolisian dan militer d) Oknum Partai Politik

e) Oknum tokoh adat/masyarakat AKAR > Ideologi :

a) Ideologi Negara Trilogi Pembangunan

b) Target swasembada gula untuk menarik investasi RAPBN oleh Pemda Setempat c) Investasi langsung pemodal atau pemegang saham perusahaan

d) Lemahnya kapsitas kontrol masyarakat atas hak-haknya, akibat dari kapasitas pendidikan yang kurang memadai

e) Budaya masyarakat yang terdegradasi (budaya kerukunan, kebersamaan dll), sehingga mewajarkan atas ketidak adilan yang dialami oleh anggota masyarakat lainnya.

35 2) LGBT DAN SEKSUALITAS (KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN LESBIAN)

Tema konflik ini diwakili oleh pengalaman kelompok perempuan lesbian. Seperti yang kita ketahui bahwa lesbian atau homoseksual, sampai saat ini belum mendapatkan sudut pandang yang adil ditengah masyarakat kita yang di dominasi oleh perspektif heteroseksual. Sehingga bentuk-bentuk ancaman hingga bahkan kekerasan sering menimpa kelompok lesbian ini. Mulai dari tidak adanya pengakuan dari keluarga, dimarjinalkan oleh masyarakat umum dsb. Bahkan cara-cara tertentu dipakai orang tua untuk katanya “menormalkan” kembali anak lesbiannya. Mulai dari rukiyah kepada ustad, pendeta, biksu dll. Bahkan hingga bentuk-bentuk pemerkosaan yang tentunya membuat depresi seorang lesbian.

Banyak konflik yang muncul dialami dari lesbian ini berawal dari ancaman yang muncul justru dari rumah atau keluarganya sendiri. Kemudian dari sana ragam permasalahan mulai muncul, seperti kabur dari rumah, rentan terhadap narkoba dan tindak kriminal.

Hasil analisa:

DAUN > Dampak (Sympthom) :

a) Kaum lesbian mendapatkan stigma-stigma negatif seperti tidak normal, berpenyakit, menular, dan merusak moral.

b) Pengucilan atau termarjinalkan dari keluarga sebagai lingkaran inti, sekolah, kantor/pekerjaan, dan masyarakat umum lainnya.

c) Tidak dapat meng-akses (hak) terhadap fasilitas-fasilitas publik.

d) Terdiskriminasikan dalam hukum dan kebijakan pemerintah.

e) Dimiskinkan secara ekonomi dan pendidikan.

f) Bentuk kekerasan langsung; psikologis (bullying) pemerkosaan, pelecehan seksual oleh aparat, tindak kriminal.

g) Menjadi pekerja seks karena dampak perkosaan h) Pernikahan dini

BATANG > Aktor :

a) Tokoh agama yang tidak berperspektif gender b) Pemerintah

c) Keluarga inti

d) Masyarakat umum/mayoritas AKAR > Ideologi :

a) Tafsir terhadap teks-teks agama yang sempit b) Nilai dan budaya Patriaki

c) Heteroseksual sebagai norma dominan

36 3) FUNDAMENTALIS AGAMA DAN KONTROL TERHADAP PEREMPUAN MELALUI CARA

BERPAKAIAN

Tema konflik ini diwakili oleh beberapa pengelaman dari kelompok atau organisasi yang mendampingi kaum perempuan, dampak dari kebijakan atau peraturan daerah yang mengatur paksa cara berpakaian perempuan. Sepertihalnya penerapa Perda syariah (Qonun) di beberapa daerah seperti Aceh, ataupun institusi formal seperti sekolah dan kantor tempatnya bekerja. Hal tersebut banyak ditemukan misalnya, Kebijakan wajib memakai jilbab bagi siswi putri di SMA 1 Cianjur, Perda di Aceh, Sijunjung, dan Sawah Lunto.

Adapula pada level Perdes seperti di Desa Pandan Bulu Kumba, Desa Lambade Aceh, dsb.

Adapula disatu sisi lainnya terjadi tindakan serupa namun beda ketentuan, seperti POLWAN yang dilarang menggunakan Jilbab, atau karyawan di beberapa pabrik. Dimana semua itu ada bentuk kontrol terhadap tubuh perempuan.

Lebih jauh lagi timbul ketidaknyamanan ditengah masyarakat daerah konflik agama seperti di Poso. Dimana diberlakukan pemaksaan identitas menggunakan simbol keagamaan saat di ruang-ruang publik seperti di pasar. Untuk perempuan muslim wajib menggunakan jilbab dan non-muslim sebaliknya. Hal ini tentu saja melahirkan interaksi yang tidak cari dan kaku, karena orang diatur bukan atas dasar kehendaknya sendiri.

Hasil analisa:

DAUN > Dampak (Sympthom) :

a) Pemaksanaan berbusana terhadap kaum perempuan, tanpa memperhatikan faktor kenyamanan dan kesusaiannya dari perempuannya itu sendiri.

b) Diskriminasi dan sangsi sosial bagi yang tidak taa terhadap aturan yang memaksa tersebut.

c) Ditempelkannya stigma-stigma negatif, seperti tidak beriman, kurang taat, dsb.

d) Dibeberapa daerah tertentu tidak dapat meng-akses fasilitas-fasilitas pelayanan publik.

BATANG > Aktor : a) Pemerintah b) Tokoh agama c) Laki-laki AKAR > Ideologi :

a) Kebijakan elit yang dilatarbelakangi politisasi agama (kepentingan partai politik).

b) Kepentingan bisnis dan ekonomi, perusahaan garmen, pengusaha busana muslim, dsj.

c) Pemahaman dan cara penafsiran teks-teks agama yang sempit.

37 d) Agama Islam yang dipahami secara simbolis yang di asosiasikan sama dengan

“arabisasi”

e) Kepentingan kapitalis, kepentingan kapitalis global melalui bentuk-bentuk pengalihan isu seperti polemik hukum syariat, agar masryarakat idak sadar terhadap eksploitasi SDA-nya.

EMPOWERMENT

Ketika kita mengalami hal-hal seperti dibawah ini, merupakan bentuk-bentuk dari orang lain dengan maksud melemahkan diri kita (disempowerment).

a) Kalau suara kita didiamkan maknanya kehadiran kita dianggap dan tidak penting.

b) Kalau kita hadir dipertemuan, suara kita tidak didengar, jadi kita hadir atau tidak sama saja.

c) Pendapat tidak diperhatikan, ada makna anda bodoh dan tak usah didengar.

d) Pekerjaan dan tindakan tidak dihargai maknanya apa yang dikejarkan tidak berhasil atau tidak penting.

e) Kita mendapat pandangan negatif mengenai wajah, muka, tubuh kelakuan, seksualitas itu maknanya kita tidak normal.

Dari beberapa pertanyaan diatas, kita dapat memahami maksud yang melatar belakangi bagai mana sesorang dapat dibuat tidak berdaya dan tidak memiliki kuasa.

Padahal sejatinya setiap orang dalam kacamata HAM memiliki persan/andil, serta hak yang sama. Ini harus disadari dan dipahami melalui prinsip kesetaraan dalam sebuah relasi.

Sehingga isitilah Empowerment itu lebih tepat dipahami sebagai suatu bentuk kuasa karena berasal dari kata dasar power/kekuatan. Maka yang perlu diperhatikan adalah relasi akan struktur kekuasaan. Jadi kita perlu juga untum memperhatikan relasi kuasa yang ada tersebut apakah seimbang atau tidak?. Menimbulkan resistensi atau solidaritas?. Maka dalam kasus seperti pemaksaan penggunaan jilbab tersebut, ada orang yang memliki kuasa untuk mengontrol tubuh perempuan.

Istilah Empowerment itu dapat dipahami melalui makna kata “I’am”, dalam bahasa inggris yang berarti “Saya”, “saya adalah ...” dengan arti “to other most powerfull was in the world, of what you place after them seek your reality”. Jadi kalau menyatakan “saya adalah ...” kita harus berusaha mendefinisikan diri kita yang mampu sesuai dengan definisi itu. Maka buatlah definisi yang positif tentang diri sendiri, agar hal tersebut kemudian dapat di internalisasikan kedalam diri kita sendiri.

Kemudian fasilitator menambahkan melalui visualisasi seorang bayi. Bahwa kita semenjak lahir itu sebenarnya sudah diberikan kekuasaan (power). Sepertihalnya bayi yang mau bebas melakukan apa saja, dan selalu dipatuhi atau direspon oleh orang tuanya.

38 Sisi lainnya Empowerment ini juga berkaitan dengan faktor lingkungan yang memberi kita legasi kekuasaan. Seperti dukungan dari masyarakat akan posisi kita dalam struktur sosial masyarakatnya itu sendiri, atau kita dalam sebuah keluarga. Contohnya tentu saja akan berbeda tanggapan dari suatu kelompok masyarakat, apabila yang berbicara sebagai tokoh masyarakat dengan misalnya seorang pemuka agama, pejabat, atau aparat kepolisian.

Maka kesimpulannya Empowerment ini bukan persoalalan pemberdayaan, tapi lebih tepatnya lagi adalah menganalisa potensi kuasa yang sebenarnya sudah kita miliki pada diri kita masing-masing, untuk kemudian diadaptasikan sesuai kebutuhan sebagai sebuah alat (bargaining position) untuk menuntut hak-hak kita dan membangun perdamaian yang berkelanjutan.

Dokumen terkait