LOKAKARYA INTEGRATED SECURITY AND PEACE BUILDING AGUSTUS 2014 Di Bandung1
Teks penuh
(2) DAFTAR ISI Latar Belakang Tujuan Lokakarya Perkenalan SESI SATU. SESI DUA. Mengenal Well Being (Kesejahteraan Diri). Pemaparan Materi Pengantar. Sosialisasi dan Internalisasi: Faktor yang mempengaruhi well being. Konflik Hak Atas Tanah. Bagaimana Sosialisasai dan Internalisasi Bekerja Pada Diri Kita? Refleksi Perjalanan Hidup: Kehidupan Sebagai Aktivis Integrated Security (Keamanan Terpadu) Mengenal Tempat dan Sumber Ancaman Menilai Resiko dan Strategi Menghadapi Ancaman Pohon Kesejahteraan Ancaman Bagi Organisasi. LGBT dan Seksualitas (Kekerasan terhadap perempuan Lesbian) Fundamentalis Agama dan Kontrol terhadap Perempuan Melalui Cara Berpakaian Empowerment Relasi Kekuasaan Strategi Pertanyaan Analisis (untuk menyusun strategi) ‘Damai adalah...’ Gap Advokasi dan Strategi Advokasi. Strategi Menghadapi Ancaman Bagi Organisasi. Rencana Tindak Lanjut. Rencana Setelah Lokakarya. Penutup. 2.
(3) Lokakarya Integrated Security and Peace Building Sesi 1: 24-26 Agustus 2014 di Bandung2 Latar Belakang Pembela Hak Asasi Manusia (HAM) seringkali mengalami ancaman-ancaman baik yang bersifat fisik maupun psikis. Ancaman-ancaman tersebut berupa teror, stigmatisasi, intimidasi, pemukulan, penyiksaan, rencana pembunuhan bahkan sampai menyebabkan kematian. Kita tentu tidak pernah lupa bagaimana kematian aktifis pekerja dan pejuang HAM di Indoensia, Munir pada September 2004. Ini adalah contoh paling nyata bagaimana pekerja HAM bekerja penuh resiko dan ancaman. Sebagai aktifis pejuang Hak Asasi Perempuan (HAP), perjuangan perempuan terhadap ancaman ketidakadilan menghadapi perjuangan yang lebih banyak dibandingkan laki-laki karena persoalan gender, kelas dan ras (Interseksionalitas). Tidak hanya karena perempuan tersebut adalah pembela HAP tetapi karena identitas yang melekat pada perempuan. Institute for Women’s Empowerment (IWE) selama bekerja lebih kurang 2,5 tahun untuk program WELDD. Dalam prosesnya, IWE telah menemukan baik pada tataran perempuan di komunitas, maupun tataran nasional, aktifis perempuan menghadapi tantangan/hambatan bahkan ancaman yang dapat menghambat kesinambungan tujuantujuan perjuangan sebagai aktifis. Khususnya , kepemimpinan perempuan yang berkelanjutan tergantung pada kapasitas untuk mengambil tindakan kolektif terkait dengan konflik dan ancaman yang merusak perdamian. Kapasitas yang dibutuhkan tersebut diantaranya; bagaimana meningkatkan rasa percaya diri mereka, motifasi diri sendiri dan mobilisasi komunikasi, advocacy dan keterampilan komunikasi untuk memungkinkan mereka bernegosiasi dan mempromosikan perdamaian di komunitas mereka. Dalam konteks WELDD program, IWE telah bekerja untuk isu pluralisme dan perdamaian, khususnya di wilayah konflik. Selama bekerja, kami mencatat beberapa strategi yang dilakukan oleh aktifis pejuang HAP untuk tetap bertahan dan terhindar dari ancaman-ancaman. Maraknya ancaman yang dilakukan oleh fundamentalis agama menyebabkan banyaknya strategi yang muncul. Seperti di Aceh salah satu tempat implementasi program WELDD, strategi yang dikembangkan adalah tidak langsung berbicara di depan umum untuk menolak fundamentalisme agama yang dilegitimasi oleh sebuah tek-teks yang literal dan ektrimis. Syariah Islam (Qonun) diisi dengan peraturanperaturan yang diskriminatif dan politisasi agama yang bertentangan dengan HAM. Untuk menghadapi fundamentalis tersebut, strategi yang digunakan oleh mereka adalah melakukan pendekatan dengan para ulama dengan membuat interpretasi progresif ayatayat Qur’an, Hadist dan Fiqih yang bisa mendukung argumentasi untuk mengubah opini masyarakat terhadap Syariah Islam yang selama ini menjadi kebenaran mutlak. Cara ini juga sudah lama dilakukan oleh teman-teman di Cirebon, tempat lain dimana WELLD program diimplementasikan. Fahmina telah bekerja mempromosikan keadilan sosial untuk menghadapi ketidakadilan sosial, khususnya diskrminasi terhadap perempuan. Mitra lain, Rahima, telah mengadopsi strategi yang sama, dengan fokus 2. Catatan disusun kembali oleh: Dini Anitasari Sabaniah (Komponen Pluralisme dan Land Rights). 3.
(4) membangun kapasitas ulama perempuan yang mempunyai otoritas yang dapat menafsirkan teks-teks agama dengan cara mempromosikan keadilan gender dan keadilan sosial. Rahima bekerja dengan ulama perempuan di berbagai daerah di Jawa. Sratetegi mempromosikan interpretasi progresif yang diimplementasikan di beberapa tempat di Indoensia pada umumnya tidak secara langsung melakukan konfrontasi deng an ektrimis agama. Karena ada resiko yang dihadapi dengan strategi, yang mana banyak orang-orang yang cenderung diam karena mereka merasa terintimidasi ketika hakhak mereka dilanggar dan ketika mereka mencoba untuk melindungi orang lain yang dilanggar hak-haknya. Yang menjadi pertanyaan bagi kita, apakah strategi-strategi yang diambil oleh pembela HAM/HAP tersebut adalah strategis untuk dijalankan? Dalam konteks ini, pertanyaan lebih jauh muncul bagaimana para pejuang HAM/HAP tetap baik dan aman agar perjuangan terhadap pelanggaran HAM bisa terus dilakukan dengan tanpa mengurangi semangat perjuangan. Sebagai aktifis kita terkadang luput dan melupakan hak kita sebagai individu untuk tetap sehat dan aman agar perjuangan tidak berhenti ketika rasa kehilangan, putus asa, patah semangat, kesedihan, kemarahan dan mati rasa yang menyebabkan berhentinya perjuangan dan gerakan. Dalam merespon ancaman-ancaman yang terjadi, sejumlah organisasi hak asasi manusia mulai bekerja mengembangkan mekanisme hukum internasional untuk menjamin hak-hak pembela HAM untuk bekerja dengan cara mereka dan bekerja dengan cara yang aman. Dengan strategi terpadu untuk tetap menjaga kesehatan fisik dan mental yang merupakan upaya untuk tetap menjaga diri agar terhindar dari kejenuhan sebagai aktifis pejuang HAP. Dengan cara seperti tersebut, secara pribadi lebih memberdayakan diri untuk bertindak dan dapat lebih berkontribusi membangun gerakan yang lebih panjang. Oleh karena itu, IWE-WELDD mengajak para mitra komponen pluralisme dan Hak atas tanah untuk bersama-sama mengikuti sebuah workshop Keamanan Terpadu (Integrated Security) dan Pembangunan Perdamian sebagai kunci strategi bagi pembela Hak Asasi Manusia. Kami berharap worskhop ini tidak hanya membantu kita untuk lebih memperhatikan diri kita sendiri dan membekali diri untuk menghindari dari kelelahan namun dapat membantu kita untuk lebih banyak fleksibilitas, kejelasan dan akses ke sumber daya yang lebih dalam tentang diri kita yang lebih memberdayakan diri. Bagian pertama dari workshop adalah tentang Keamanan Terpadu yang diadakan pada Minggu-Selasa, 24-26 Agustus. Bagian ke dua dari worskhop, fokus pada Pembangunan Perdamaian yaitu pada tanggal 27-28 agustus 2014.. Tujuan Lokakarya Adapun tujuan dari workshop keamanan terpadu adalah untuk mencapai tujuan sebagai berikut: 1) Meningkatnya kesadaran: untuk membangun sebuah baseline kesadaran keamanan dengan memfasilitasi sebuah proses yang memungkinkan bagi pembela hak asasi perempuan;. 4.
(5) 2) Pergeseran sikap: mendukung perempuan pembela HAM dengan mendorong perlindungan keamanan individu dan organisasi sebagai hal yang setara, dan tidak terpisahkan, sebagai bagian dari kerja-kerja HAM; 3) Membangun strategi yang berkelanjutan: memungkinkan pembela HAP untuk mengembangkan strategi-strategi perlindungan yang relevan untuk mereka; 4) Membangun organisasi dan kapasitas gerakan: untuk mendukung pembela HAP dalam menilai dan memprioritaskan kebutuhan-kebutuhan organisasi dan gerakan mereka; 5) Memperdalam pemahaman dan analisis: untuk memfasilitasi peserta workshop untuk memperdalam pemahaman dan analisis sumber-sumber konflik, potensi dan peluang yang mungkin hambatan perdamaian; 6) Kapasitas-kapasitas untuk membangun perdamaian: untuk memelihara kepercayaan diri, motivasi dan kemampuan komunikasi sehingga aktivis perempuan mampu memobilisasi, advokasi, berkomunikasi, bernegosiasi dan mempromosikan perdamaian di komunitas mereka.. 5.
(6) SESI SATU Perkenalan Proses workshop diawali dengan perkenalan para peserta. Oleh fasilitator peserta diminta untuk mengenalkan dirinya, meliputi : -. Nama, Tempat tinggal / asal daerah, Asal organisasi, Kejadian dalam hidup yang paling membahagiakan. Hasil perkenalan peserta dan fasilitator bisa dilihat dalam tabel berikut : No. Nama. Tempat tinggal / Asal Daerah. Asal Organisasi. Hal yang Membuat Bahagia. 1.. Ginger. Chiang Mai / Jerman. Peace for Justice. Baru membeli piano. 2.. Dini Anitasari (Dini). Pamulang Tangerang. Semarak Cerlang Nusa (SCN), IWE. Dapat kejutan dari suami dan anak saat ulang tahun. 3.. Ni Loh Gusti Madewanti (Anti). Bandung. IWE. Menggambar bersama anak. 4.. Dessy Ulfa (Dessy). Jakarta. AMAN Indonesia. Bisa mengikuti workshop Keamanan Terpadu ini. 5.. Cahaya. Bandung. Komisi Pembaruan Agraria (KPA). Bisa tidur di kamar sendiri setelah sebelumnya tinggal di Jakarta. 6.. Rohayat Yosimboy Kantjai (Kantjai). Poso. Sekolah Perempuan Poso Bersatu, AMAN Indonesia. Bisa berada di sini, bertemu teman-teman peserta Lokakarya. 7.. Rosmin Wuri (Wuri). Poso. Sekolah Perempuan Poso Bersatu, AMAN Indonesia. Menikmatinya indahnya kebersamaan dalam perbedaan. 8.. Yuly. Bandung. Bait Al Hikmah, Fahmina Institut. -. 9.. Alifatut Darojati Kusumaningtya s (Nining). Solo, Depok. RAHIMA. Bisa melewati 1250 anak tangga di air terjun Grojogan Sewu. 10.. Marhaeni. Jakarta, Medan. IWE. Menonton 6.
(7) No. Nama. Tempat tinggal / Asal Daerah. Asal Organisasi. Hal yang Membuat Bahagia. Nasution (Heni) 11.. Maman Abdurrahman (Maman). Jakarta. RAHIMA. Bertemu teman yang sudah 20 tahun tidak bertemu. 12.. Wide Afiandi (Wide). Jakarta, Padang. SP (Solidaritas Perempuan) Setnas. Bisa menjalankan hobi. 13.. Roziqoh (Ikoh). Cirebon. Fahmina Institute. Bisa ke Bandung dalam waktu cukup lama. 14.. Farida Faisal (Farid). Makassar. Gamacca, IPP. Orientasi seksual bisa diterima keluarga. 15.. Hasriani (Hasri). Aceh. SP Bungong Jeumpa Bisa bergabung di Lokakarya Keamanan Terpadu. 16.. Lily Farida (Lily). Cirebon. Bait Al-Hikmah, Fahmina Institut. Ketika remaja mau terbuka bercerita. 17.. Turisih Widiawati (Asih). Cirebon. Bait Al-Hikmah, IPP (Institut Pelangi Perempuan). Sahabat LGBT bisa diterima di pesantren. 18.. Siti Fatimah Tuzzahro (Dede). Cirebon. IPP. Lulus Sarjana. 19.. Rosmidar (Nidar). Aceh. SP Bungong Jeumpa Bertemu kawan lama dan baru, pertama kali pergi ke Bandung. 20.. Ida Ruri Palembang Rismawati (Ida). SP Palembang. 21.. Mukramatin (Mukra). Aceh. SP Bungong Jeumpa Bisa mendampingi kelompok lanjut usia. 22.. Emilia (Emi). Palembang. SP Palembang. Menang perlombaan renang. 23.. Dona. Jakarta. SP Jakarta. Mengorganisir workshop 5 negara. 24.. Lin Chew. Hongkong. IWE. Bertemu aktivis muda yang berkomitmen tinggi, penuh energi. 25.. Rizki Anggrieni (Kiki). Makassar. Walhi Makassar, KPA Sulawesi Selatan,. (ikut sesi perkenalan susulan, karena terlambat datang). 26.. Susilawati. Pangandaran. Serikat Petani. (ikut sesi perkenalan susulan,. Diundang Lokakarya Kemanan Terpadu ini, anak menelepon bisa masak nasi goreng sendiri. 7.
(8) No. Nama. Tempat tinggal / Asal Daerah. (Susi). Asal Organisasi Pasundan, KPA. Hal yang Membuat Bahagia karena terlambat datang). Peserta diminta saling berpasangan dan berbagi cerita tentang diri mereka, dengan ketentuan sbb:. -. -. -. Masing-masing diberi waktu 1 menit, untuk menceritakan kenangan yang menyenangkan dan membuat gembira. Setelah itu peserta diminta berganti pasangan, dalam dalam waktu 2 menit menceritakan hal yang disukai dan yang menantang dari pekerjaan. Peserta kembali berganti pasangan, dan saling menceritakan apa yang mesti dikorbankan supaya bisa datang ke Bandung mengikuti workshop Keamanan Terpadu ini Kembali peserta berganti pasangan. Kali ini saling bercerita tentang harapan dan hal yang membuat gugup dari workshop. Secara umum, harapan peserta tentang lokakarya ini adalah sebagai berikut : 1. Bisa mengerti mengenai pembangunan perdamaian dan keamanan terpadu. 2. Mendapatkan pengetahuan baru dari workshop yang bisa diterapkan di organisasi / komunitas masing-masing. 3. Bisa membangun strategi dan kekuatan bersama dalam menghadapai konflik. 4. Bisa saling belajar dari pengalaman sesama aktivis. 5. Workshop bisa berjalan lancar dan sukses.. Mengenal Well Being (Kesejahteraan Diri) Sebelum memulai sesi ini co-fasilitator mengajarkan peserta melakukan grounding, yaitu mengembalikan fokus dan konsentrasi, supaya pikiran tidak berkelana ke mana-mana, memikirkan masa lalu, memikirkan pekerjaan, dan lain-lain. Dengan grounding peserta akan membangun kesadaran, fokus pada saat ini, hanya memikirkan saat ini. Caranya adalah melakukan gerakan yoga sederhana, meliputi pernapasan dan gerak anggota badan. Grounding ini dilakukan dengan berdiri. Di sesi ini peserta diberi tahu mengenai pentingnya berfokus pada diri sendiri. Berfokus pada bagaimana membangun kedamaian di dalam diri sendiri. Kerangka kerja yang kita gunakan untuk membangun kedamaian dalam diri disebut dengan well being (kesejahteraan diri). Dari hasil diskusi singkat, sebagian peserta mengartikan well being (kesejahteraan diri), sebagai terpenuhinya kebutuhan jasmani dan rohani, baiknya kondisi fisik dan mental, kita, serta adanya perasaan nyaman dalam melakukan kegiatan kita.. 8.
(9) Terdapat 5 (lima) dimensi yang perlu dipenuhi agar tercipta well being atau kesejahteraan diri, yaitu : 1. Kesejahteraan Fisik Kesejahteraan fisik akan tercapai apabila kita merasa sehat. Caranya bisa dengan merawat tubuh kita, istirahat yang cukup, memberi nutrisi yang sehat buat tubuh, dan olahraga teratur. 2. Kesejahteraan Mental Kesejahteraaan mental adalah kemampuan untuk berpikir secara jernih, untuk menganalisa, untuk bisa beraksi di situasi sesuai dengan cara yang kita inginkan. Juga kemampuan untuk berarti berpikir positif saat menghadapi masalah atau tantangan. 3. Kesejahteraan Emosional Kalau kesejahteraan mental adalah kemampuan kita berpikir, menganalisa, kesejahteraan emosional adalah tentang perasaan kita. Kita harus bisa merasakan apa yang ada dalam perasaan kita. Kita tidak mengabaikannya, menghindarinya, dan kita jangan terlalu kewalahan menghadapinya. Kesejahteraan emosional juga adalah membiarkan diri Anda merasa senang, dan mengalami kesenangan. Banyak aktivis seringkali merasa bersalah kalau bersukacita, kalau bergembira. Jadi dengan kesejahteraan emosonal ini kita biarkan diri kita bergembira untuk keberhasilan kita, dan juga orang lain. 4. Kesejahteraan Spiritual. Untuk sebagian dari kita, kesejahteraan spiritual adalah tentang bagaimana menjalankan perintah agamanya. Kesejahteraan spiritual pada dasarnya adalah menjaga perasaan ada harapan tidak hilang, tidak berputus asa. 5. Kesejahteraan Hubungan. Kesejahteraan hubungan ini adalah bagaimana hubungan yang kita bangun dengan diri sendiri, dan hubungan antara sesama kita. Bagaimana membangun komunikasi yang terbuka dan jujur tentang kebutuhan kita, keinginan kita terhadap orang lain, tentang mencintai diri kita, dan bagaimana kita membawa ini dengan hubungan kita dengan orang lain. Fasilitator membuka kesempatan untuk berdiskusi bebas mengenai well being (kesejahteraan diri) dan kelima dimensi pendukungnya. Peserta boleh memberikan pertanyaan, atau memberikan tanggapan mengenai apa well being (kesejahteraan diri) dan kelima dimensi pendukungnya. Hasil diskusi terlihat pada tabel berikut : No. 1.. Pertanyaan Apakah well being baru bisa tercapai kalau kelima dimensinya terpenuhi?. Tanggapan / Jawaban Idealnya seperti itu, tapi pada kenyataannya tergantung konteks di mana kita tinggal. Karena semuanya saling terkait, misalnya karena capek, emosi kita terpengaruh, kemudian kita mendramatis pikiran, “Ini kita ngapain sih? Kita sudah bekerja keras tidak ada yang berubah, begini terus!”. Hal ini mempengaruhi hubungan kita dengan orang lain. Maka, fokus pada satu saja dimensi akan membantu mencapai dimensi yang lainnya lagi, karena mereka berkaitan erat. 9.
(10) No.. Pertanyaan. Tanggapan / Jawaban. 2.. Lingkungan yang mendukung termasuk ke dimensi yang mana? Kondisi keuangan masuk ke dimensi yang mana?. Semua tergantung konteksnya. Lingkungan kita dikelilingi oleh lingkungan kita yang lebih luas lagi. Oleh sistem politik, sistem militer. Semua ini bisa berkontribusi untuk kesejahteraan diri kita, atau justru membatasi dan menguranginya. Contohnya kita tidak punya uang untuk mengurusi keluarga kita, akan mempengaruhi perasaan dan ketenteraman kita. Kabar baiknya adalah, kalau kita fokus pada kesejahteraan diri kita, fisik, mental, emosional, spiritual, dan hubungan, kita bisa memberikan pengaruh keluar.. 4.. Apakah konsep well being ini diterima secara internasional?. Secara umum semua orang (di dunia) well beingnya sama, tergantung konteks lingkungannya. Apakah dia tinggal di tempat konflik, sering mengalami kekerasan.. 5.. Apakah dimensi yang paling dekat dengan diri kita yang paling mempengaruhi well being kita?. Mungkin kita berpikir kenapa hal ini berpengaruh terhadap kita. Sebenarnya stres itu terus tertimbun secara terus-menerus dalam waktu lama. Jadi hal kecil bisa berpengaruh besar. Kita menyimpan trauma sakit sisa pengalaman yang telah dilalui. Ada dua konsep yang mempengaruhi kita, sosialisasi dan internalisasi. 3.. Sosialisasi dan Internalisasi: Faktor yang mempengaruhi well being Fasilitator kemudian memberikan penjelasan mengenai sosialisasi dan internalisasi, karena sangat berpengaruh pada konsep well being kita. Dari hasil diskusi bersama peserta, dapati diartikan bahwa sosialisasi dan internalisasi adalah sebagai berikut: Sosialisasi : proses pembentukan nilai karena pesan dan aturan-aturan yang masuk terusmenerus ke diri kita. Misalnya sosialisasi bahwa seorang anak perempuan itu harus begini, tidak boleh begitu. Nantinya hal ini akan menjadi nilai kita bahwa perempuan itu harus begini, dan tidak boleh begitu. Internalisasi : proses menyimpan dan meresapi nilai-nilai tersebut. Internalisasi mempengaruhi kebagaimana kita berpikir. Misalnya perempuan terinternalisasi untuk jadi perawat. Sosialisasi dan internalisasi mempengaruhi well being kita karena kita mengintegrasikan nilai-nilai kita ke dalam hidup sehari-hari, bagaimana memperlakukan orang lain, bagaimana bersikap adil ke semuanya, ke diri sendiri, orang lain, keluarga.. 10.
(11) Bagaimana Sosialisasi dan Internalisasi bekerja pada diri kita? Sebelum memulai sesi ini, fasilitator kembali mengajak peserta untuk melakukan grounding dengan sedikit variasi. Kali ini dilakukan sambil berbaring. Sesi memahami bagaimana sosialisasi dan internalisasi bekerja pada diri kita dilakukan melalui latihan/permainan ‘Apa yang Sesuai dengan Anda’, sbb: Panduan latihan: - Fasilitator membacakan beberapa pernyataan satu per satu, kalau pernyataan tersebut dirasa benar berlaku bagi peserta, fasilitator membunyikan bel lalu peserta tersebut maju satu langkah dari barisannya; jika tidak, peserta diam di tempatnya - Kalau fasilitator membunyikan bel, peserta yang maju kembali ke barisannya, kemudian fasilitator membacakan pernyataan berikutnya.. Berikut pernyataan yang dibacakan fasilitator: 1. Saya mengabaikan tubuh dan kesehatan ketika stres bekerja. 2. Saya sulit tidur atau untuk tetap tidur. 3. Saya sering sakit kepala, perut, punggung. 4. Ketika saya bercermin, saya menilai saya terlalu kurus, terlalu gemuk, terlalu hitam, tidak cantik atau ganteng. 5. Saya menjadwalkan untuk istirahat dan rileks secara rutin. 6. Saya tidak mampu berpakaian sesuai keinginan, karena takut penilaian / sanksi dari masyarakat atau lingkungan. 7. Saya punya waktu untuk sendirian tiap hari. 8. Saya pernah mengalami pelecehan secara verbal dan fisik di depan umum. 9. Saya pernah diancam fisik, mental, emosional, karena aktivitas saya. 10. Saya membiarkan diri saya menangis. 11. Kadang-kadang rasa marah yang saya rasakan membuat takut saya sendiri. 12. Kadang-kadang saya merasa benar-benar tumpul, tidak merasa apa pun 13. Saya pernah mengalami periode depresi. 14. Saya merasa bersalah ketika saya meliburkan diri. 15. Ketika stres, saya merasa sangat kritis dan menghehakimi orang lain. 16. Saya sering stres karena keuangan dan pekerjaan. 17. Saya menilai diri saya dengan keras, dan merasa tidak cukup melakukan hal dengan baik. 18. Saya mengalami mimpi buruk, dan ingatan masa lalu ketika tidak tidur. 19. Kadang-kadang saya merasa tidak punya harapan dan putus asa. 20. Saya melakukan sesuatu tiap hari agar merasa damai dalam hati saya. 21. Keluarga saya mendukung saya untuk melakukan pekerjaan saya. 22. Keluarga saya menghakimi dan mengeritik saya atas pekerjaan saya. 23. Saya pernah dituduh menghancurkan budaya atau agama karena pekerjaan saya. 24. Saya mengalami kekerasan di keluarga saya. 25. Saya selalu merasa bertggung jawab untuk merawat orang lain sebelum merawat diri sendiri. 26. Saya sering merasa terisolasi dan sendirian. 27. Saya punya teman-teman dekat tempat saya curhat. 11.
(12) Setelah latihan/bermain peran ‘Apa yang Sesuai Dengan Anda’ selesai dilakukan, fasilitator meminta peserta untuk berpasangan dan saling membicarakan dan merefleksikan apa yang dirasakan setelah mendengarkan pernyataan-pernyataan yang dibaca oleh fasilitator tadi. Dari hasil diskusi diketahui bahwa sebagian besar peserta setelah mengikuti latihan tadi merasa : - Sudah cukup menghargai diri sendiri - Tidak punya cukup waktu untuk diri sendiri - Merasa takut untuk share masalah pribadi di lingkungan tertentu - Merasa lebih tenang - Bisa mengeluarkan apa yang selama ini menjadi beban - Merasa rapuh - Membutuhkan ruang untuk diri sendiri. Refleksi Perjalanan Hidup: Kehidupan Sebagai Aktivis Merefleksikan perjalanan hidupnya sebagai aktivis dengan cara menggambar aliran sungai kehidupan perempuan. Peserta bisa menggambarkan simbol-simbol yang menggambarkan dirinya sebagai aktivis di gambar sungai yang mereka buat. Ketentuan Menggambar Yang perlu digambarkan adalah: - Motivasi yang membuat peserta menjadi aktivis - Apa saja kesejahteraan diri yang sudah dirasakan dalam perjalanan sebagai aktivis - Apa perayaan dan keberhasilan yang sudah dirasakan, - Apa tantangan dan rintangan yang dilalui sebagai aktivis. Boleh menambahkan 1-2 kata yang membantu penggambaran. 12.
(13) Gambar: Sebagian peserta memperlihatkan gambar perjalanan hidupnya. Hasil gambar didiskusikan dalam kelompok, yang terdiri dari 4 orang. Keempat orang ini saling menceritakan dan menjelaskan gambar sungai yang mereka buat. Cerita dari gambar sungai yang dibuat peserta dapat dilihat di tabel berikut : Keberhasilan yang sudah diraih. Tantangan/ rintangan yang dihadapi Konflik di Poso. Motivasi Menjadi aktivis. Kesejahteraan yang sudah dirasa. 1.. Membangun kehidupan yang lebih baik. Ada dukungan dari komunitas, perempuanperempan, juga keluarga. -. 2.. Cinta. Didukung oleh orang-orang yang dicintai. Kita merasa berguna. Senioritas. Seperti kelapa, semakin tua semakin bermanfaat. 3. Karena menjadi Ibu. Ikut self care reiki. Ikut program IWE, bisa merefleksikan diri sendiri. Terlalu muda saat menikah, belum bisa memanage emosi, Ibu sakit kanker. -. 4. Aktif dari muda. Menjalani apa yang menjadi. Memberikan manfaat untuk. Tidak didukung orang tua ketika. Diri kita muncul dari. Kel.. Hikmah yang bisa diambil Kita harus perjuangkan yang dianggap benar. 13.
(14) Kel.. Motivasi Menjadi aktivis. Kesejahteraan yang sudah dirasa passion. Keberhasilan yang sudah diraih orang lain. Tantangan/ rintangan yang dihadapi keluar dari lawyer perusahaan. Hikmah yang bisa diambil pengalaman yang ada. Integrated Security (Keamanan Terpadu) Sebelum memulai sesi pagi di hari kedua, kembali fasilitator mengajak peserta untuk melakukan grounding dengan variasi yang baru. Kali ini dilakukan sambil duduk di atas kursi, dan ditambah dengan centering, yaitu menjadikan napas seolah menjadi jangkar, yang membuat kita tertambat di saat ini. Fasilitator menanyakan apa yang dirasakan peserta setelah melakukan grounding dan centering, sebagian besar jawabannya adalah : - Merasa nyaman dan rileks, tidak tegang - Pikiran fokus, tidak kemana-mana. Fasilitator mengajak peserta mendiskusikan: apa yang dirasakan, apa tanggapan setelah mengikuti sesi lokakarya hari pertama kemarin, dan apa strategi yang dilakukan untuk meningkatkan well being (kesejahteraan diri). Peserta juga diajak berdiskusi untuk menuliskan kata, atau frase yang terlintas begitu mendengar kata ‘keamanan’. Tanggapan setelah mengikuti lokakarya hari pertama • Kasihi diri sendiri supaya punya energi untuk mengasihi orang lain, bercerita menyembuhkan luka batin, kita terpanggil untuk menolong orang lain • Lebih tenang, bisa alngsung tidur dan bangun dengan • Lebih tenang, rileks lebih segar • Lebih rileks • Tidak lagi merasa tegang karena saya berasal dari desa,. • • • • • • • • • • • •. Starategi yang dilakukan untuk meningkatkan well being Self care, lebih peduli pada diri sendiri Memperbesar rasa cinta ke diri sendiri Buat surat cinta untuk diri sendiri Berbaring sejenak kalau lagi stres, kira-kira 10 menit Mandi di laut Mendengarkan musik Bernyanyi lagu Cirebonan Jalan-jalan naik sepeda motor Jalan-jalan ke sawah dekat rumah Nyanyi lagu yang liriknya sesuai dengan yang sedang dihadapi Windows shopping dan membeli barang buat sendiri Kumpul dengan genk masa. Yang terlintas begitu mendengar kata ‘Keamanan’ • Ketakutan dan keamanan. • Keamanan berarti tidak ada takut • Tidak ada yang menghalangi kebebasan • Hati merasa damai • Bebas • Tidak ada perselisihan yang membuat ribut • Tanpa beban yang harus dilakukan, damai, nyaman • Merasa nyaman tanpa ada tekanan • Merasa tidak terganggu • Merasa tidak terlindungi Bebas dari rasa takut • Waspada • Merasa terlindungi dan nyaman 14.
(15) Tanggapan setelah mengikuti lokakarya hari pertama merasa mendapat keluarga • Ada rasa aman, tidak harus jaim, lebih bersyukur karena apa yang orang lain alami lebih berat. • • • • • • • •. • • • • • •. Starategi yang dilakukan untuk meningkatkan well being kuliah Masak bareng PRT Sholat di masjid yang sepi dan keramat di Cirebon seharian Masak buat Ibu Menulis cerpen atau puisi, curhat Menanam sayur organik di samping rumah Pergi ke peternakan, merenung di kamar rumah Main bulu tangkis tiap minggu Narik napas dalam-dalam, mengatakan kalau kamu pasti kuat menghadapi semua beban, mendengarkan musik Mandi 2-3 jam di shower Melihat ikan hias Nonton film Jepang/Korea, karaoke, jalan-jalan Teriak di bawah bantal, reiki Ke pantai lihat sunset atau sunrise, nonton bioskop, ambil waktu 10 menit buat diri sendiri Menumpuk batu-batu di pantai dekat rumah di Hongkong. Yang terlintas begitu mendengar kata ‘Keamanan’ • Merasa terlindungi dan nyaman • Terbebas dari bentuk apa pun, merdeka • Tidak ada ancaman • Ada rasa nyaman • Damai, karena damai itu indah, dan an tidak ada kata kerusuhan • Terjaga. Tidak ada ancaman • Merasa terlindungi • Tidak ada perselisihan • Merasa bebas untuk pergi kemana pun dan melakukan apa pun • Tidak kacau • Militer • Akumulasi. Bebas dari rasa takut, terancam, tidak nyaman, konflik, tidak aman.. Dari hasil diskusi dapat dilihat bahwa sebagian besar peserta merasa lebih tenang dan lebih rileks ssetelah mengikuti lokakarya hari pertama. Sebagian merasa karena sudah bisa mengeluarkan beban yang selama ini mereka simpan dengan cara sharing. Untuk strategi yang dilakukan peserta untuk meningkatkan well being mereka, semua punya cara tersendiri, sangat bervariasi. Hal ini semoga saja bisa menjadi masukan peserta untuk melakukan strategi yang sudah dilakukan peserta lainnya. Untuk keamanan, hampir seluruh peserta mengaitkan kata keamanan ini dengan tidak adanya tekanan, kebebasan, dan kenyamanan. Hal ini dapat diartikan bahwa kemanan yang ingin mereka rasakan masih terhalangi oleh adanya ketidakbebasan yang menghalangi peserta dalam menjalankan pekerjaannya sebagai aktivis. Untuk mencapai keamanan terpadu, ada beberapa hal yang perlu diintegrasikan, yaitu: 1. Keamanan Tradisional (Traditional Security). Ini adalah keamanan yang bersifat fisik. Bagaimana secara fisik kita aman ketika menjalankan kegiatan kita, baik di ruang privat kita, dan terutama saat kita berada di ruang publik.. 15.
(16) 2. Pemahaman / Perhatian Etika Feminis (Feminist Ethics of Care). Ini adalah etika merawat diri sebagai aktivis feminis. Kita memberi ide, peran-peran bahwa harus merawat diri sendiri sebelum merawat orang lain. 3. Hak Asasi Manusia dan Hak Asasi Perempuan (Woman Human Rights). Sebagai aktivis HAM, kita berjuang untuk HAM di masyarakat. Supaya bebas dari kekerasan, menyakiti, mendapatkan kesehatan dan perlindungan, dan lain-lain. Kita punya hak untuk diri kita sendiri. Bebas dari kekerasan, untuk mendapatkan kesehatan, dan lain-lain. 4. Elemen atau Nilai-nilai Spiritual (Spiritual Value). Yaitu tentang mengapa kita melakukan apa yang kita kerjakan. Dan bagaimana nilai-nilai tersebut mendukung kerja kita dan kesejahteraan kita, dan bagaimana nilai-nilai membangun kedamaian dalam diri. Bagaimana membawa nilai-nilai membuat ruang untuk kedamaian di hati ketika melakukan pekerjaan.. Mengenal Tempat dan Sumber Ancaman Ancaman dapat diartikan sebagai apa pun yang menghambat terwujudnya keamanan dan kesejahteraan kita. Berdasarkan tempat terjadinya, ancaman dibagi menjadi ancaman publik dan ancaman privat. Sedangkan berdasarkan sumbernya, ancaman dibagi menjadi ancaman eksternal dan ancaman internal. Ancaman publik: sesuatu yang membuat tubuh terancam saat berada di ruang publik. Contohnya ada orang yang tidak menyenangi kita menyerang kita dengan kata-kata di depan publik Ancaman privat: ancaman yang dapat menimpa kita diruang-ruang privat kita, seperti dalam rumah tangga. Contoh ancaman privat adalah kekrasan dalam rumah tangga, penghakiman oleh anggota keluarga, dan lain-lain. Ancaman eksternal : ancaman yang berasal dari luar diri kita. Misalnya ancaman dari orang asing di jalanan.. 16.
(17) Ancaman internal : ancaman yang berasal dari dalam diri kita. Misalnya kita merasa jenuh, merasa lelah melakukan kerja aktivisi kita, ini akan menghambat kita mencapai kesejahteraan dan keamanan diri kita.. 17.
(18) Fasilitator mengajak peserta untuk mendiskusikan dan membahas ancaman-ancaman yang mereka hadapi melalu diskusi. Panduan diskusi : - Peserta membuat kelompok dengan anggota 3-4 orang - Setiap peserta saling membahas ancaman yang mereka hadapi. - Pikirkan tempat ancaman itu, apakah publik atau privat, tentukan juga sumber ancamannya, apakah eksternal atau internal. - Ancaman dituis dalam 2-3 kata saja Boleh menambahkan 1-2 kata yang membantu penggambaran Hasil diskusi bisa dilihat pada tabel berikut:. Respon. Ancaman yang dihadapi. 1. 2.. Serangan FPI Dikriminalisasi, dianggap melakukan kegiatan kriminal Penolakan terhadap isu yang diperjuangkan Dianggap organisasi ilegal, tidak ada pengakuan dan perlindungan Denial identity, dipertanyakan untuk apa mengurusi hal seperti itu Tubuh perempuan dikontrol, harus pakai rok, tidak boleh duduk mengangkang kalau dibonceng di sepeda motor Diintai dan disadap Merasa sakit kepala karena wajib pakai jilbab seharian Tekanan dari lingkungan untuk melakukan sesuatu, atau tidak melakukan sesuatu terkait identitas kita Dianggap membawa sial oleh keluarga Dihakimi oleh aktivis lain karena menikah muda Diancam masyarakat karena dianggap provokator Mendapat teror SMS ke nomor pribadi Dimarjinalkan, disisihkan, dijadikan urutan terakhir Kepercayaan diri menurun ketika berkumpul dengan ahli-ahli Merasa paranoid melihat FPI Merasa tidak bisa berjuang 100% karena merasa isu yang diperjuangkan tidak sesuai dengan. 3 4 5. 6.. 7. 8. 9.. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17.. Tempat ancaman. Sumber ancaman. Publik Publik. Eksternal Eksternal. Publik Publik. eksternal Eksternal. Publik. Eksternal. Privat. Eksternal. Publik Privat. Eksternal Eksternal. Privat. Eksternal. Privat Privat Publik. Eksternal Eksternal Eksternal. Privat Publik. Eksternal Eksternal. Publik. Internal. Publik Privat. Internal Internal. 18.
(19) Respon. 18.. 19.. Ancaman yang dihadapi agama yang dipahami Mood naik turun saat sebagai lelaki mengurusi isu-isu perempuan, meras berbeda sendiri, alienasi, isolasi Pengertian yang salah atas perjuangan yang dilakukan. Misalnya perjuangan organisasi dianggap memperjuangkan perkawinan sejenis, padahal bukan.. Tempat ancaman. Sumber ancaman. Publik. Internal. Publik. Eksternal. Dari hasil diskusi dapat disimpulkan bahwa ancaman yang dihadapi oleh para peserta lokakarya umumya berasal dari luar (eksternal), dan terjadi di ruang publik. Untuk ancaman yang sumbernya internal, kebanyakan diakibatkan karena pengalaman buruk dengan sesuatu hal, atau dengan institusi tertentu, mengakibatkan kita belum apa-apa sudah merasa terancam jika melihat institusi tersebut.. Menilai Risiko dan Strategi Menghadapi Ancaman Sebelum sesi siang dimulai, fasilitator membimbing peserta untuk melakukan tapping, yaitu menepuk-nepuk secara perlahan anggota tubuh dan organ tubuh kita, seperti wajah dan kepala, dengan menggunakan ujung jari-jari kita dengan agak kencang, supaya terasa ketukannya. Tapping sangat membantu stimulasi otak kita. Selain dengan ujung jari, tapping juga dilakukan dengan telapak tangan. Sambil melakukan tapping, kita melakukan juga grounding. Kita fokus pada napas kita, merasakan kita ada di sini saat ini. Fasilitator mengajak peserta untuk menilai risiko, dengan cara menilai mencari tahu berapa besar risiko yang akan dihadapi dalam bentuk seperti di bawah ini : Risikon = Ancaman X Kerentanan Kemampuan Risiko: potensi terjadinya sesuatu yang dapat menyakiti kita. Kerentanan: faktor apa pun yang membuat potensi bertambah besar akan menjadi risiko Kemampua : segala sumber daya yang kita miliki, eksternal maupun internal, yang membantu kita merasa aman, untuk membantu keamanan dan kesejahteraan kita Jadi dapat diartikan bahwa risiko akan membesar seiring semakin banyaknya ancaman dan kerentanan yang kita miliki, dan risiko akan mengecil apabila kemampuan/ kapasitas kita semakin meningkat. Untuk menilai risiko yang kita hadapi, kita pikirkan apa yang bikin kita lebih rentan dalam ancaman tersebut. Di sisi lainnya, apa sumber daya yang kita punya, yang bisa dipakai untuk mengurangi risiko. Dengan rumus ini kita bisa menilai apa saja yang menjadi ancaman, apa kerentanan (hal yang membuat kita lebih mudah terkena ancaman tersebut) yang kita punya, dan apa kemampuan / kapasitas yang kita punya untuk mengurangi ancaman tersebut. 19.
(20) Fasilitator kemudian mengajak peserta untuk berdiskusi memikirkan sebuah ancaman, dan memikirkan apa kerentanan yang peserta miliki terkait ancaman tersebut. Apa faktor yang membuat peserta bertambah rentan. Dan peserta memikirkan sumber daya apa yang dimiliki yang dapat mengurangi ancaman tersebut. Panduan diskusi : - Masing-masing peserta diberi 3 lembar kertas - Setiap peserta diminta untuk menuliskan 3 (tiga) strategi apa yang digunakan dalam menghadapi risiko - Pertama strategi mengurangi kerentasan di kertas pertama - Kedua menuliskan strategi apa yang digunakan untuk meningkatkan kapastitas / kemampuan di kertas kedua - Dan ketiga, menuliskan strategi yang digunakan dalam menghadapi ancaman di kertas ketiga Kertas yang sudah ditulis disimpan di atas karpet di tengah-tengah peserta, supaya strategi yang sudah ditulis bisa dibaca oleh peserta yang lain. Fasilitator mengajak perserta melihat dan mempelajari semua hasil diskusi peserta, peserta diminta berdiri dan mengitari kertas yang bertuliskan strategi tersebut. Semua peserta melihat dan membaca strategi-strategi yang dituliskan oleh peserta lainya. Lalu fasilitator meminta masing-masing peserta membacakan satu strategi dirinya yang sudah terbukti berhasil, dan satu strategi baru dari peserta lainnya yang akan digunakan nantinya. Strategi yang dipilih oleh para peserta bisa dilihat di tabel berikut :. 20.
(21) Respon 1. 2.. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17.. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25.. Strategi yang Sudah Dipakai dan Terbukti Berhasil Melakukan diskusi dan dialog dengan Solidaritas Perempuan Berdiskusi dengan pasangan yang memiliki aktivitas dan pandangan berbeda Update situasi ke teman dekat, membangun jaringan baru dan memelihara jaringan yang sudah ada Asertif, terbuka Meningkatkan jaringan di media sosial Bergabung dengan kelompok yang memiliki visi yang sama Berubah menjadi lebih baik Berbagi dengan teman Meningkatkan kepercayaan diri Belajar jadi diri sendiri, tidak terlalu mendengar dan membutuhkan orang lain Membaca literatur pembanding Belajar, belajar, belajar Membangun dialog intensif Bergabung dengan teman yang dapat memberikan dukungan Berbicara dengan teman dekat Terus meningkatkan kemampuan diri Bergabung dengan komunitas yang punya perspektif sama Berdiskusi Bergabung dengan orang-orang yang berpandangan sama Berjejaring, berdiskusi Berjejaring, mulai dari lokal, nasional, sampai internasional Meningkatkan kapasitas diri Memperkuat dukungan dari masyarakat Membangun jaringan aktivis global. Strategi baru yang akan Diterapkan Lebih banyak membangun jaringan Membangun jaringan, berdiskusi dengan orang yang punya kapasitas Belajar menjahit. Membangun kelompok ekonomi kreatif Mencoba lebih bijak, mengurangi risiko dengan berpikir jernih Mencoba pijat Curhat dengan teman orang yang dipercaya Mencoba pijat Mencoba reiki Mencoba pijat. Berdiskusi Berdiskusi dengan orang yang lebih tahu Mencoba reiki dan pijat Mencoba trik-trik pijat Belajar reiki dan pijat Meminta doa dari orang tua Bergabung dengan komunitas yang punya persepektif berbeda, mencoba reiki Mengubah diri menjadi lebih baik Mencoba reiki Berbagi ke teman-teman Olah raga Berpikir positif Membentuk kelompok ekonomi kreatif Belajar antropologi Mendokumentasikan pekerjaan. 21.
(22) Dari hasil diskusi, dapat dilihat bahwa sebagian besar peserta akan mencoba strategi yang berupa self healing. Hal ini dapat diartikan bahwa sebelumnya peserta memang kurang memikirkan dirinya sendiri, bahkan cenderung abai terhadap dirinya. Setelah mengikuti lokakarya sampai hari kedua ini, peserta mulai merasakan pentingnya memikirkan diri sendiri dalam rangka mewujudkan kesejahteraan diri dan membangun kedamaian diri sebelum bekerja untuk masyarakat.. Pohon Kesejahteraan Fasilitator mengajak peserta untuk menggambar ‘Pohon Kesejahteraan’, atau ‘Pohon Well Being’. Pohon ini merupakan metapora, simbol dari perjalanan peserta sebagai seorang aktivis. Panduan menggambar ‘Pohon Kesejahteraan Diri’ : - Akar: melambangkan apa yang membuat kita merasa kokoh. Misalnya rasa keadilan, agama, ideologi, dan lain-lain - Batang: melambangkan sistem support, siapa yang mendukung kita, teman, keluarga, dan lain-lain. - Cabang/ranting: melambangkan pengetahuan, kebijaksanaan, dan kemampuan, yang membentuk kapasitas kita, mendukung kemanan dan kesejahteraan diri kita. - Buah: melambangkan rasa syukur atas hal-hal yang menyenangkan yang kita miliki, seperti kesehatan, dan lain-lain - Bunga: melambangkan impian dan harapan masa depan kita. - Daun: melambangkan kesuksesan yang sudah kita raih.. Setelah selesai menggambar ‘Pohon Kesejahteraan Diri’, peserta diminta untuk berbagi tentang satu hal yang mengejutkan, atau yang menjadi sebuah kebanggaan: Respon. 1. (Dona) 2. (Nining) 3. (Oma Lin) 4. (Dini) 5. 6. (Raihan) 7. (Wide) 8. (Anti) 9. 10. 11.. Perasaan yang Mengejutkan atau Kejadian yang Menonjol Ketika Menggambar Pohon Ada hal-hal yang membuat jadi merasa bebas Punya akar kuat atas apa yang dikerjakan, menemukan banyak keajaiban Ada ‘buah’ yang akhirnya jadi pohon Ternyata saya konsisten, dan passion saya memang di dunia aktivis Terkejut, karena hal-hal besar ini terlalu banyak untuk masa depan nanti, ini bukan main-main. Masih berada di pondasi yang menguatkan Pengalaman saya membuat saya jadi unik Bersyukur saya sehat Lebih ke pondasi, lebih banyak belajar. Pernah kurang mengenal komunitas dengan baik. Ternyata pondasi saya kuat, kokoh, pohon ini takkan tumbang Perjalanan saya sudah panjang, saya dibawa oleh ilmu saya sampai 22.
(23) Respon. 12. 13. 14. 15. 16. 17.. 18. (Maman). 19.. 20. 21. (Donna). 22. 23. 24. 25. 26. (Ginger). Perasaan yang Mengejutkan atau Kejadian yang Menonjol Ketika Menggambar Pohon ke sini. Bersyukur mendapat support, punya pondasi yang kuat dari keluarga, Ibu selalu mendukung dan merestui. Pondasinya adalah kesehatan, yang saya syukuri. Juga bisa melanjutkan cita-cita. Saya banyak mengalami kekerasan Bersyukur mendapat support dari keluarga, suami, dan anak-anak. Ternyata saya punya dasar yang kuat, saya tidak sendiri, agama tidak melarang aktivitas saya. Saya besar di organisasi, semua buahnya saya makan, yang bagus dan yang busuk. Saya harus memilah yang saya makan, hanya buah yang bagus yang saya petik. Harus ada kesimbangan antara akar, pohon, tangkai, dan daun, buah. Akar tidak kuat, pohon bisa tumbang. Jika daunnya lebat, akar dan batangnya kuat, tapi tidak berbuah, berarti hasilnya kurang. Pohon tidak akan bagus, tidak akan subur kalau tidak disiram.Pohon tidak langsung besar, tapi dari bibit dulu, tumbuh kecil dulu, baru membesar. Akar itu pondasi, tidak akan kuat kalau tidak disiram dengan iman dan taqwa, sesuai keyakinan saya. Banyak yang ternyata bisa dibuat, bisa mendapat hasil, bahkan luar biasa. Bersyukur masuk SP, dan mengetahui nilai-nilai feminisme. Banyak harapan untuk keluarga dan diri sendiri, bisa punya lebih banyak waktu, bisa menghargai tubuh sendiri. Banyak rintangan yang mendewasakan saya. Semakin menjalani organisasi, semakin dewasa saya. Gambar ini semacam refleksi untuk saya, yang bikin saya harus banyak bersyukur atas apa yang terjadi pada diri saya Semakin menyadari cinta suami dan anak-anak saya. Keyakinan dan dukungan mereka membuat saya kokoh Selama hidup saya selalu berpikir cita-cita saya, tidak pernah memikirkan basic dan power apa yang saya punya. Betapa terkaitnya setiap bagian dari pohon ini. Bersyukur saya memahami diri saya.. Dari hasil refleksi peserta atas gambar yang dibuatnya, umumnya mengatakan bahwa memiliki pondasi yang kuat dalam menjalankan pekerjaannya sebagai aktivis pembela HAM. Selain itu, banyak peserta yang dalam menjalankan aktivitasnya mendapat dukungan dari keluarganya. Hal ini menunjukkan bahwa pada dasarnya para peserta lokakarya ini memiliki modal yang cukup untuk menjadi seorang aktivis pembela HAM. Setelah menggambar ‘Pohon Kesejahteraan Diri’, peserta diajak untuk memberi dukungan dari diri kita kepada orang lain; caranya, berpasangan, dan yang akan kita beri dukungan duduk di kursi di hadapan kita, kemudian kita berdiri di belakangnya. Kemudian semuanya melakukan grounding, mengambil napas panjang-panjang, dalam-dalam. Kembali 23.
(24) ke diri kita ke saat ini. Buat teman kita mereka merasa didukung dengan meletakkan tangan kita pada posisi-posisi tertentu di bagian tubuh mereka, atau tangan diletakkan berjarak, tidak menempel, kalau mereka tidak nyaman kita sentuh.. Ancaman Bagi Organisasi Sebelum memulai sesi, fasilitator mengajak dan mengajarkan peserta untuk melakukan ‘ Desc Yoga’, atau yoga sambil duduk di kursi. Yoga ini bertujuan untuk membuat kita tetap bisa bekerja dengan rileks sekali pun sudah duduk berjam-jam di depan komputer. Di hari sebelumnya, sudah dibahas mengenai ancaman yang kita dapatkan selaku aktivis dari sebuah organisasi, baik ancaman yang bertempat di publik atau pun privat, dan ancaman yang bersumber dari eksternal mau pun internal. Kali ini kita akan melihat keamanan dan kesejahteraan dalam organisasi, dalam pergerakan kita. Organisasi kita juga menghadapi ancaman eksternal dan internal juga. Bisa terhadap organisasinya atau staf yang bekerja di organisasi. Fasilitator kemudian mengajak peserta untuk berdiskusi mengenai apa saja ancaman yang dihadapi oleh organisasi. Hasil diskusi bisa dilihat pada tabel berikut ini. Bentuk Ancaman Terhadap Organisasi Ancaman fisik, psikologis, kekerasan ekonomi Pembunuhan karakter terhadap organisasi Dikriminalisasi Dibuat bisa dikontrol pemerintah, terutama terkait finansial. Kriminalisasi terhadap organisasi Pencemaran nama baik, kekerasan pencurian Dihakimi Di-bully. Ancaman internal staf organisasi. Perasaan hopeless. Ancaman finansial organisasi. Contoh Ancaman Terhadap Organisasi Teman-teman waria dipukuli, diteriaki, uang organisasi diambil Organisasi disebut musuh negara, disebut organisasi terlarang Dikatakan antek-antek barat Pendanaan program harus melalui sekretariat negara, pendonor maunya memberikan bantuan dari pemerintah ke pemerintah (G to G) Dituduh sesat, antek asing, cukong pengusaha Dituduh memberikan paham sesat, penghancur keutuhan NKRI, pencurian data Dituduh sebagai provokator Dimata-matai, diintai, tidak boleh masuk ke daerah tertentu. Organisasi hanya mengikuti keinginan pendonor, sifatnya bukan kemitraan, tapi hanya sebagai project implementor Merasa burnt out (merasa sangat lelah, habis seperti lilin yang sudah terbakar semua. Merasa sia-sia melakukan sudah melakukan suatu pekerjaan, karena menghadapai ancaman di lapangan Tidak semua organisasi punya donor, 24.
(25) Bentuk Ancaman Terhadap Organisasi terhadap SDM Gap antar staf Diskriminasi terhadap salah satu isu di organisasi Tidak ada apresiasi dalam organisasi. Kurang dukungan terhadap staf dalam organisasi Egosentrisme laki-laki, sifat patriarki di organisasi Komunikasi dan manajemen tidak berjalan dengan baik Relasi yang kurang baik Pendanaan Masalah di rumah dibawa ke kantor Minimnya SDM pendukung dari luar Transparansi organisasi, masalah ketokohan Beban pekerjaan over. Contoh Ancaman Terhadap Organisasi terbatas memberi gaji, akibatnya tidak ada SDM yang mau apply Adanya gap antara staf senior dengan junior, membuat staf junior merasa minder Isu lesbian paling terbelakang diantara isu LGBT lainnya Pimpinan atau rekan tidak memberikan tanggapan apa pun ketika kita selesai menjalankan suatu program Kalau saya lagi tidak di tempat, tetap teman-teman minta saya yang mengonsolidasikan kalau terjadi sesuatu hal Kemampuan tidak dihargai hanya karena kita perempuan SOP yang ada membuat terlalu banyak rapat. Program harus jalan, tapi keputusan belum diketok. Ada teman yang sifatnya nge-boss, dia mengatur-atur rekannya Tidak ada dana untuk mendatangkan narasumber Lagi mengurus perceraian, jadi di kantor uring-uringan Sedikit bidan dan dokter yang bisa dan mau menjadi narasumber Kaderisasi tidak berjalan, apa-apa ketua lagi ketua lagi Pekerjaan terlalu banyak, belum selesai satu pekerjaan sudah ditambah pekerjaan baru.. Hasil diskusi mengenai ancaman yang dihadapi oleh organisasi menunjukkan bahwa banyak permasalahan yang ada di organisasi aktivis pembela HAM bersumber pada sumber daya hal ini bukan khas hanya terjadi di pekerja HAM di Indonesia saja. Ini ada dimana-mana. Di semua aktivis di dunia. Dari berbagai ancaman yang dihadapi oleh organisasi, hasil diskusi tadi, kita bisa membagi ancaman tersebut menjadi 6 kelompok. Lima diantaranya ancaman adalah internal. Ancaman internal, seharusnya menjadi fokus kita, karena bisa kita kontrol. Ke 6 kelompok ancaman bagi organisasi itu adalah : 1. Struktur kepemimpinan, manajemen, pembuatan keputusan. Isu terkait komunikasi, tanggung jawab kerja, dan sebagainya. 2. Moral staf dan dukungan terhadap staf. Kelelahan antar staf, tidak ada harapan, kurangnya dukungan, beban kerja terlalu banyak, hampir menyerah, kurang dihargai. 3. Jejaring yang lemah, kemitraan yang lemah, sistem dari organisasi yang lemah, organisasi kita. 4. Ada kesenjangan antara senior dengan staf yang baru masuk, membangun pemimpin baru, meningkatkan kapasitas staf. 25.
(26) 5. Sumber daya manusia dan sumber daya keuangan. 6. Melihat ancaman eksternal. Mungkin kalau dibagi kelompok, ini bisa dilihat ancaman terhadap staf, fitnah.. Strategi Menghadapi Ancaman Bagi Organisasi Fasilitator kemudian membebaskan peserta untuk membuat 6 kelompok, yang masing-masing kelompok membahas ancaman yang telah dikelompokkan tadi. Setiap kelompok mendiskusikan strategi yang akan dipakai untuk menghadapi satu kelompok ancaman, dan membangun keamanan dan kesejahteraan dalam organisasi kita sendiri. Ancaman yang Dihadapi Organisasi. Strategi yang Akan Dipakai Untuk Menghadapi Ancaman. 1.. Struktur kepemimpinan, manajemen, pembuatan keputusan, tanggung jawab kerja, dan sebagainya.. - Pemimpin memberikan apresiasi, walau sekedar ucapan “terima kasih” - Pemimpin memberikan capacity building untuk staf baru - Pemimpin mau mendengarkan staf dan tidak memaksakan kehendak - Pemimpin memberikan kesempatan yang sama untuk semua staf, baik senior mau pun junior - Pemimpin harus sensitif, bisa membaca kondisi lingkungan kantor dan stafnya - Pemimpin memberikan peluang pada staf untuk melakukan suatu pekerjaan tertentu, misal yang berskala besar atau bernilai ekonomis - Staf ditempatkan sesuai potensi dan tipenya, seperti konseptor - Pimpinan melakukan komunikasi asertif, tidak menyakitkan hati - Pemimpin memberikan solusi, tidak hanya berkata tidak setuju - Membuat kotak saran untuk mengkritisi rekan kerja. 2.. Moral staf dan dukungan terhadap staf. Perasaan tidak ada harapan, kurangnya dukungan, beban kerja terlalu banyak, dan kurang dihargai dari staf. - Terus membuka keterbukaan dalam komunitas - Membangun iklim kerja sensitif - Prioritas kerja sesuai tugas - Melakukan self healing - Adanya sistem penghargaan - Saling beri dukungan informasi. Kel.. 26.
(27) Kel.. Strategi yang Akan Dipakai Untuk Menghadapi Ancaman. Ancaman yang Dihadapi Organisasi -. Beri semua staf kesempatan yang sama Mengadakan refleksi rutin SOP jangan terlalu muluk-muluk Perhitungkan beban kerja, risiko, dan akses. 3.. Jejaring yang lemah, kemitraan yang lemah, sistem dari organisasi yang lemah.. - Membangun kelompok kecil, mitra - Membuka hubungan dengan organisasi yang mendukung - Membagi tugas dengan jaringan yang ada di organisasi - Melakukan kegiatan informal - Melakukan penguatan kapasitas isu, memahami isu secara detail. 4.. Ada kesenjangan antara senior dengan staf yang baru masuk, membangun pemimpin baru, meningkatkan kapasitas staf.. - Mengadakan orientasi untuk staf baru - Melakukan pelatihan tentang organisasi melalui team building - Hangout bersama untuk para staf - Memetakan calon staf dari komunitas - Melibatkan relawan dalam kegiatan - Menyosialisasikan organisasi kita ke jaringan dan masyarakat, bukan hanya isunya saja - Memberikan batasan masa jabatan, misalnya maksimal 2 masa periode jabatan - Memberi kesempatan training yang sama untuk setiap staf - Meningkatkan informasi training ke staf yang belum mengikuti training tersebut - Memberi reward dari pimpinan ke staf, dan antar sesama staf - Yang ikut pelatihan berbagi hasil pelatihannya, supaya ilmunya menyebar. 5.. Keterbatasan sumber daya manusia dan sumber daya keuangan. - Melakukan pendampingan komunitas, seperti daur ulang sampah - Membangun desa wisata ekologi - Melakukan penggalangan dana, baik swadaya, atau melalui dana hibah CSR perusahaan - Membuat pelatihan untuk menjaring calon staf - Menerima relawan magang - Mendatangi sekolah-sekolah dan kampuskampus untuk mencari relawan 27.
(28) Kel.. Strategi yang Akan Dipakai Untuk Menghadapi Ancaman. Ancaman yang Dihadapi Organisasi. - Membuat rumah belajar yang tidak berkesan eksklusif, semua orang bisa masuk 6.. Ancaman eksternal terhadap staf organisasi. -. Berjejaring, memperkuat jaringan Memperkuat kapasitas staf dan lembaga Membangun komunitas Membangun dialog dengan instansi-instansi terkait Mengomunikasikan keberadaan kita ke orang dekat kita Melakukan komunikasi dengan kata sandi Melengkapi administrasi organisasi Kenali lingkungan supaya lebih mudah diterima. Diskusi ini memberikan banyak masukan mengenai strategi kreatif apa yang bisa diterapkan di masing-masing organisasi peserta workshop dalam setiap ancaman yang dihadapi. Dari hasil diskusi juga terlihat bahwa apresiasi, sekali pun bentuknya hanya ucapan terima kasih, bisa memberikan pengaruh besar bagi kesejahteraan staf dalam organisasi. Selain itu, memberikan semua staf kesempatan yang sama untuk meningkatkan kapsitas diri, seperti misalnya mengikuti training juga menjadi strategi yang banyak dibahas oleh peserta.. Rencana Setelah Lokakarya Untuk menutup lokakarya, fasilitator meminta tiap-tiap peserta menulis tentang beberapa hal: - apa yang akan dilakukan untuk meningkatkan keamanan dan kesejahteraan diri sendiri; - apa yang akan dilakukan untuk meningkatkan keamanan dan kesejahteraan organisasi; Ditulis dengan spesifik di kertas post it. Nantinya kertas post it yang sudah ditulisi ini bisa disimpan, atau ditempel di buku supaya kita bisa terus ingart dan terus melakukan hal yang telah kita tuliskan.. 28.
(29) Berikut adalah hal yang akan peserta lakukan untuk meningkatkan kemanan dan kesejahteraan diri peserta, dan hal yang akan peserta lakukan untuk meningkatkan keamanan dan kesejehteraan organisasi peserta : Yang Akan Dilakukan Untuk Meningkatkan Keamanan dan Kesejahteraan Diri. Yang Akan Dilakukan Untuk Meningkatkan Keamanan dan Kesejahteraan Organisasi. Bisa tidur sebelum tengah malam. Bisa berbagi informasi. -. Ingin bilang kita “speak out for our self”. Melakukan reiki. Share self care ke semua staf. Self care dengan cara reiki dan pernapasan. Share pengetahuan dan pengalaman tentang workshop 3 hari ini. Mempraktekkan self care yang dipelajari kemarin. Sahring self care. Belajar dengan berbagi pengalaman. Mencari dan berbagi ilmu dengan kawankawan. Terus belajar, memotivasi supaya mencintai diri sendiri. Membangun self care, berbagi pengetahuan yang didapat. Melakukan self care. Sosialisasi bagaimana bekerja lebih giat dan mengurangi hambatan pada diri pribadi. Membuka ruang buat diri sendiri, belajar olah napas. Butuh self healing, butuh tutorial reiki. Mencintai diri sendiri, meluangkan setidaknya sehari dalam seminggu untuk diri sendiri. Sosialisasi self healing. Mencintai pilihan saya, bersyukur kepada Tuhan yang sudah memberi kekuatan. Tetap melakukan yang sudah dilakukan. Self healing dengan memejamkan mata, pernapasan, dan reiki. Sosialisasi tentang internalisasi. Tiap bangun tidur melakukan reiki. Share self healing ke teman-teman, minta Farid jadi tutor. Belanja, karaoke, nonton, jalan-jalan. Mengingatkan rekan-rekan supaya menjaga kesehatan. Self healing dengan reiki dan pernapasan, meluangkan waktu untuk diri sendiri. Bilang terima kasih ke teman-teman, bilang, “Saya senang dengan kamu”. Lebih bersyukur, berbagi pengalaman, berterima kasih ke seluruh anggota tubuh. Saya akan mengatakan, “Kalian harus kuat, ke depannya lebih baik”. Jujur kalau tidak mampu, tidak kuat. Membuat organisasi lebih solid. Mempraktekkan reiki. Membangun ekonomi kreatif, berkebun sayur. Perbaiki diri dan menjaga tubuh, banyak istirahat. Lebih intens PDKT ke masyarakat, banyak sharing ke teman-teman 29.
(30) Yang Akan Dilakukan Untuk Meningkatkan Keamanan dan Kesejahteraan Diri. Yang Akan Dilakukan Untuk Meningkatkan Keamanan dan Kesejahteraan Organisasi. Menikmati yang saya lakukan. Menyampaikan kalau sesuatu itu tidak berkenan pada diri saya. Lebih peduli pada diri sendiri. Pikiran lebih fokus pada pekerjaan. Menyempatkan 1-2 jam untuk olahraga. Sharing tentang security well being. Fokus ke tanggung jawab yang diberikan, perlu hiburan. Jalani tugas yang diberikan dengan lebih santai. Lebih mencintai tubuh saya, sahari dalam seminggu akan berolahraga. Berbagi pengalaman yang didapat di workshop Kemanan Terpadu ini. Ngomong di depan kaca untuk afirmatif. IWE punya tempat training center. Tidak menyalakan HP dan komputer sebelum pukul 08.00. Mulai mendiskusikan dengan jelas peranperan kita.. *****. 30.
(31) SESI DUA PEMAPARAN MATERI PENGANTAR Workshop diawali dengan ulasan singkat secara umum mengenai materi yang telah dipelajari pada bagian pertama, yaitu mengenai Well Being (Kesejahteraan Diri), Self Care, dan Keamanan Terpadu. Semua hal tersebut disiapkan agar para peserta kedepan mampu menyusun strategi dalam menghadapi ancaman-ancaman terhadap diri sendiri dan organisasinya. Kemudian peserta diberikan bekal materi pengantar mengenai modul Pembangunan Perdamian (peace building/ability), yang difokuskan pada dua topik utama dari keluruhan modul tersebut, yaitu: 1) Konflik dan Dinamika Kekuasaan Disini akan di elaborasi konflik dan ancaman berdasarkan kasus-kasus yang dialami oleh peserta, yang kemudian akan dikelompokan pada tiga tema utama yang serupa. Perampasan Hak Tanah, Ancaman Fundamentalis Agama, dan LGBT/Seksualitas (gender). Kemudian akan dianalisa relasi-relasi dalam konflik dan kekuasaan tersebut. Agar kemudian kita semua tahu akar dan gejala (sympthom) dari konflik itu sendiri. 2) Strategi Perdamaian Disini akan membahas mengenai metode-metode yang efektif dan efisien, berupa bentuk mobilisasi komunitas atau kelompok masyarakat, untuk kemudian menjadi strategi yang adaptatif sesuai kebutuhan organisasi dalam mencapai “damai”.. Adapun contoh kasus yang dikirimkan oleh para peserta sebelumnya, beberapa dipaparkan oleh fasilitator kedalam tiga kelompok utama sebagai berikut; No.. Kelompok Kasus. Organisasi. Contoh Kasus. 1.. Perampasan Hak Tanah. SPAC ACEH. Pemerintah yang mengambil paksa tanah warganya di Lambadeuk, Aceh Besar tanpa sepengetahuan warganya sewaktu mereka ada di pengungsian korban Tsunami (2004). Dengan alasan akan dibuatkan waduk (embung). Gejala (dampak); warga kesulitan mendapatkan air bersih, warga kehilangan lahan perkebunan sebagai mata pencaharian, dan pencemaran lingkungan akibat pembangunan yang tidak ramah lingkungan.. SP PALEMBANG. Perampasan tanah warga daerah Sri Bandung oleh PTPN VII sejak tahun 80’an. 31.
(32) No.. Kelompok Kasus. Organisasi. Contoh Kasus Gejala (dampak); intimidasi terhadap warga yang kritis, peta konflik antar warga yang menyebabkan rusaknya struktur sosial dan budaya yang ada, perempuan berperan ganda, dan warga kehilangan mata pencaharian.. KPA MAKASAR. a) Perampasan hak tanah warga di Makasar oleh Pemda dan investor setempat untu pembangunan mega proyek zona ekonomi. Gejala (dampak); Aktivitas ekonomi rakyat kecil (PKL) dilumpuhkan, Nelayan kehilangan mata pencaharian karena pantainya turut tergusur. b) Penggusuran rumah paksa pensiunan TNI berpangkat rendah oleh institusi TNI itu sendiri. Gejala (dampak); Pensiunan TNI tak berdaya kehilangan rumah dan tempat tinggalnya.. 2.. Ancaman Fundamentalis Agama. KPA Dan SP ACEH. Penyerangan gereja di Aceh, kemudian pemaksaan terhadap syariat Islam utama terhadap cara berpakaian perempuan Aceh. Gejala (dampak); Pengabaian sosial terhadap perempuan, diskriminasi dalam fasilitas dan akses publik, dan kriminalisasi.. IPP SPAC ACEH. Pemaksaan pemakaian Jilbab yang dituangkan kedalam Perda oleh Pemda setempat. Dan penafsiran sempit terhadap teks agama. Gejala (dampak); Ketidaknyamanan dan pencabutan HAM perempuan dalamn berbusana, intimidasi terhadap kegiatan yang berorientasi pada gender (miss Waria) oleh FPI.. 3. LGBT dan Seksualitas. FAHMINA CIREBON. Intimidasi dan ancaman terhadap kelompok perempuan yang berinisiatif untuk mengorganisir diri dan kepentingannya. Oleh kelompok berpaham ideologi sempit (patriaki) Gejala (dampak); Ancaman terhadap keselamatan para aktivis, diskriminasi sosial.. 32.
(33) Jadi ciritical point yang ingin ditarik dari contoh kasus di atas adalah, sejauh mana konsep damai itu tercapai oleh organisasi-organisasi tersebut?. Apakah damai yang telah dicapai itu hanya dalam persepsi per kelompoknya saja?. Sepertihalnya program “Keluarga Sakinah” yang dijalankan oleh kelompok FAHMINA di Cirebon. Dimana sakinah itu merupakan terminologi yang sangat umum, yang dipakai masyarakat muslim dalam memandang sebuah keluarga yang damai dan rukun. Namun apakah damai atau sakinah yang ada itu hanya dari perspektif lelaki saja sebagai pihak yang mendominasi?. Jadi damai itu harus dapat dilihat dan dirasakan oleh semua segmen, utamanya orang-orang termajinalkan dan dihilangkan suaranya. Maka kemenangan rakyat itu belum tentu kemenangan perempuan. Peserta kemudian diminta untuk berkumpul kedalam tiga kelompok utama berdasarkan tiga topik kasus atau permasalahannya yang serupa.. • •. •. Masing-masing kelompok diminta untuk melakukan diskusi berdasarkan tiga topik utamanya. Mengelaborasi setiap kasus yang dimiliki masing-masing organisasi mengacu pada 5W + 1H. Kemudian dilakuan analisa dengan menggunakan metode pohon permasalahan, yang diharapkan setiap kelompok mengenal mulai dari gejalanya (syptom) yang ada pada daun, hingga ideologi aktor penguasa yang menjadi akarnya. Terakhir masing-masing kelompok harus mempresentasikan hasil analisa pada diskusinya, untuk kemudian diplenokan antar ketiga kelompok tersebut agar mencapai pemahaman yang komprehensif terhadap pengetahuan yang sedang dipelajari.. Pada sesi ini masing-masing kelompok bergiliran mempresentasikan hasil analis terhadap konflik yang dialaminya, berdasarkan metode “Pohon Permasalahan”. 1) KONFLIK HAK ATAS TANAH Tema konflik ini diwakili oleh pengelaman dari SP-PALEMBANG, mengenai perampasan hak tanah warga di Desa Sri Bandung oleh BUMN PTPN VII Cinta Manis. Konflik yang sudah muncul dari awak ’80-an ini, belum benar-benar terselesaikan secara tuntas hingga saat ini. semakin rumitnya warga dalam memperjuangkan hak atas tanahnya yang direbut oleh PTPN VII untuk perkebenan tebu. Berbagai macam cara dan proses dilakukan warga untuk mencari keadilan. Namun akibat dari kolaborasi penguasa yakni antara, pemerintah daerah, pemodal, polisi dan militer. Usaha warga tersebut mengalami kebuntuan. Malah yang terjadi sebaliknya, dimana warga mengalami kerugian dalam bebagai aspeknya.. 33.
(34) Hasil analisa: DAUN > Dampak (Sympthom) : a) Warga kehilangan tanah untuk tempat tinggal dan lahan perkebunan sebagai mata pencaharian. b) Warga dimiskinkan secara ekonomi dan pendidikan. c) Kaum pria yang vokal/kritis banyak di incar untuk ditangkap sehingga melarikan diri keluar desa. d) Meningkatnya konflik KDRT (kekerasan terhadap perempuan) akibat stress. e) Perempuan berperan ganda, selain sebagai Ibu Rumah Tangga juga berjuang mempertahankan hak tanahnya karena kaum pria banyak yang ditangkap atau kabur keluar desa. f) Tuduhan provokator oleh perusahaan dan pemda setempat kepada para Ibu yang vokal/kritis. g) Peta konflik antar warga yang bekerja di perusahaan dengan yang tidak, seperti penuduhan pencurian pupuk. h) Rusaknya keharmonisan antar warga. struktur sosial yang terganggu, ritual kebudayaan menjadi hilang, dan tokoh adat atau masyarakat tidak dipercayai lagi oleh warganya. i) Kekerasan langsung (dipukul, ditendang, dipenjarakan) BATANG > Aktor : a) b) c) d) e). Pemiliki modal (investor) dan manajemen PTPN VII Cinta Manis Pemda (Provinsi, Kabupaten dan Desa) Aparat kepolisian dan militer Oknum Partai Politik Oknum tokoh adat/masyarakat. AKAR > Ideologi : a) b) c) d). Ideologi Negara Trilogi Pembangunan Target swasembada gula untuk menarik investasi RAPBN oleh Pemda Setempat Investasi langsung pemodal atau pemegang saham perusahaan Lemahnya kapsitas kontrol masyarakat atas hak-haknya, akibat dari kapasitas pendidikan yang kurang memadai e) Budaya masyarakat yang terdegradasi (budaya kerukunan, kebersamaan dll), sehingga mewajarkan atas ketidak adilan yang dialami oleh anggota masyarakat lainnya.. 34.
(35) 2) LGBT DAN SEKSUALITAS (KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN LESBIAN) Tema konflik ini diwakili oleh pengalaman kelompok perempuan lesbian. Seperti yang kita ketahui bahwa lesbian atau homoseksual, sampai saat ini belum mendapatkan sudut pandang yang adil ditengah masyarakat kita yang di dominasi oleh perspektif heteroseksual. Sehingga bentuk-bentuk ancaman hingga bahkan kekerasan sering menimpa kelompok lesbian ini. Mulai dari tidak adanya pengakuan dari keluarga, dimarjinalkan oleh masyarakat umum dsb. Bahkan cara-cara tertentu dipakai orang tua untuk katanya “menormalkan” kembali anak lesbiannya. Mulai dari rukiyah kepada ustad, pendeta, biksu dll. Bahkan hingga bentuk-bentuk pemerkosaan yang tentunya membuat depresi seorang lesbian. Banyak konflik yang muncul dialami dari lesbian ini berawal dari ancaman yang muncul justru dari rumah atau keluarganya sendiri. Kemudian dari sana ragam permasalahan mulai muncul, seperti kabur dari rumah, rentan terhadap narkoba dan tindak kriminal. Hasil analisa: DAUN > Dampak (Sympthom) : a) Kaum lesbian mendapatkan stigma-stigma negatif seperti tidak normal, berpenyakit, menular, dan merusak moral. b) Pengucilan atau termarjinalkan dari keluarga sebagai lingkaran inti, sekolah, kantor/pekerjaan, dan masyarakat umum lainnya. c) Tidak dapat meng-akses (hak) terhadap fasilitas-fasilitas publik. d) Terdiskriminasikan dalam hukum dan kebijakan pemerintah. e) Dimiskinkan secara ekonomi dan pendidikan. f) Bentuk kekerasan langsung; psikologis (bullying) pemerkosaan, pelecehan seksual oleh aparat, tindak kriminal. g) Menjadi pekerja seks karena dampak perkosaan h) Pernikahan dini BATANG > Aktor : a) b) c) d). Tokoh agama yang tidak berperspektif gender Pemerintah Keluarga inti Masyarakat umum/mayoritas. AKAR > Ideologi : a) Tafsir terhadap teks-teks agama yang sempit b) Nilai dan budaya Patriaki c) Heteroseksual sebagai norma dominan. 35.
(36) 3) FUNDAMENTALIS AGAMA DAN KONTROL TERHADAP PEREMPUAN MELALUI CARA BERPAKAIAN Tema konflik ini diwakili oleh beberapa pengelaman dari kelompok atau organisasi yang mendampingi kaum perempuan, dampak dari kebijakan atau peraturan daerah yang mengatur paksa cara berpakaian perempuan. Sepertihalnya penerapa Perda syariah (Qonun) di beberapa daerah seperti Aceh, ataupun institusi formal seperti sekolah dan kantor tempatnya bekerja. Hal tersebut banyak ditemukan misalnya, Kebijakan wajib memakai jilbab bagi siswi putri di SMA 1 Cianjur, Perda di Aceh, Sijunjung, dan Sawah Lunto. Adapula pada level Perdes seperti di Desa Pandan Bulu Kumba, Desa Lambade Aceh, dsb. Adapula disatu sisi lainnya terjadi tindakan serupa namun beda ketentuan, seperti POLWAN yang dilarang menggunakan Jilbab, atau karyawan di beberapa pabrik. Dimana semua itu ada bentuk kontrol terhadap tubuh perempuan. Lebih jauh lagi timbul ketidaknyamanan ditengah masyarakat daerah konflik agama seperti di Poso. Dimana diberlakukan pemaksaan identitas menggunakan simbol keagamaan saat di ruang-ruang publik seperti di pasar. Untuk perempuan muslim wajib menggunakan jilbab dan non-muslim sebaliknya. Hal ini tentu saja melahirkan interaksi yang tidak cari dan kaku, karena orang diatur bukan atas dasar kehendaknya sendiri.. Hasil analisa: DAUN > Dampak (Sympthom) : a) Pemaksanaan berbusana terhadap kaum perempuan, tanpa memperhatikan faktor kenyamanan dan kesusaiannya dari perempuannya itu sendiri. b) Diskriminasi dan sangsi sosial bagi yang tidak taa terhadap aturan yang memaksa tersebut. c) Ditempelkannya stigma-stigma negatif, seperti tidak beriman, kurang taat, dsb. d) Dibeberapa daerah tertentu tidak dapat meng-akses fasilitas-fasilitas pelayanan publik. BATANG > Aktor : a) Pemerintah b) Tokoh agama c) Laki-laki AKAR > Ideologi : a) Kebijakan elit yang dilatarbelakangi politisasi agama (kepentingan partai politik). b) Kepentingan bisnis dan ekonomi, perusahaan garmen, pengusaha busana muslim, dsj. c) Pemahaman dan cara penafsiran teks-teks agama yang sempit. 36.
(37) d) Agama Islam yang dipahami secara simbolis yang di asosiasikan sama dengan “arabisasi” e) Kepentingan kapitalis, kepentingan kapitalis global melalui bentuk-bentuk pengalihan isu seperti polemik hukum syariat, agar masryarakat idak sadar terhadap eksploitasi SDA-nya.. EMPOWERMENT Ketika kita mengalami hal-hal seperti dibawah ini, merupakan bentuk-bentuk dari orang lain dengan maksud melemahkan diri kita (disempowerment). a) Kalau suara kita didiamkan maknanya kehadiran kita dianggap dan tidak penting. b) Kalau kita hadir dipertemuan, suara kita tidak didengar, jadi kita hadir atau tidak sama saja. c) Pendapat tidak diperhatikan, ada makna anda bodoh dan tak usah didengar. d) Pekerjaan dan tindakan tidak dihargai maknanya apa yang dikejarkan tidak berhasil atau tidak penting. e) Kita mendapat pandangan negatif mengenai wajah, muka, tubuh kelakuan, seksualitas itu maknanya kita tidak normal. Dari beberapa pertanyaan diatas, kita dapat memahami maksud yang melatar belakangi bagai mana sesorang dapat dibuat tidak berdaya dan tidak memiliki kuasa. Padahal sejatinya setiap orang dalam kacamata HAM memiliki persan/andil, serta hak yang sama. Ini harus disadari dan dipahami melalui prinsip kesetaraan dalam sebuah relasi. Sehingga isitilah Empowerment itu lebih tepat dipahami sebagai suatu bentuk kuasa karena berasal dari kata dasar power/kekuatan. Maka yang perlu diperhatikan adalah relasi akan struktur kekuasaan. Jadi kita perlu juga untum memperhatikan relasi kuasa yang ada tersebut apakah seimbang atau tidak?. Menimbulkan resistensi atau solidaritas?. Maka dalam kasus seperti pemaksaan penggunaan jilbab tersebut, ada orang yang memliki kuasa untuk mengontrol tubuh perempuan. Istilah Empowerment itu dapat dipahami melalui makna kata “I’am”, dalam bahasa inggris yang berarti “Saya”, “saya adalah ...” dengan arti “to other most powerfull was in the world, of what you place after them seek your reality”. Jadi kalau menyatakan “saya adalah ...” kita harus berusaha mendefinisikan diri kita yang mampu sesuai dengan definisi itu. Maka buatlah definisi yang positif tentang diri sendiri, agar hal tersebut kemudian dapat di internalisasikan kedalam diri kita sendiri. Kemudian fasilitator menambahkan melalui visualisasi seorang bayi. Bahwa kita semenjak lahir itu sebenarnya sudah diberikan kekuasaan (power). Sepertihalnya bayi yang mau bebas melakukan apa saja, dan selalu dipatuhi atau direspon oleh orang tuanya. 37.
(38) Sisi lainnya Empowerment ini juga berkaitan dengan faktor lingkungan yang memberi kita legasi kekuasaan. Seperti dukungan dari masyarakat akan posisi kita dalam struktur sosial masyarakatnya itu sendiri, atau kita dalam sebuah keluarga. Contohnya tentu saja akan berbeda tanggapan dari suatu kelompok masyarakat, apabila yang berbicara sebagai tokoh masyarakat dengan misalnya seorang pemuka agama, pejabat, atau aparat kepolisian. Maka kesimpulannya Empowerment ini bukan persoalalan pemberdayaan, tapi lebih tepatnya lagi adalah menganalisa potensi kuasa yang sebenarnya sudah kita miliki pada diri kita masing-masing, untuk kemudian diadaptasikan sesuai kebutuhan sebagai sebuah alat (bargaining position) untuk menuntut hak-hak kita dan membangun perdamaian yang berkelanjutan. RELASI KEKUASAAN Relasi kekuasaan merupakan suatu hubungan hirarkis, yang tidak selalu harus pada sebuah struktur formal. Namun dalam sebuah struktur masyarakat yang umum, hirarki itupun ada disana. Hirarki ini apabila divisualisasikan berbentuk segitiga atau kerucut, dimana ada pihak yang berada di atas yang lebih memiliki kuasa daripada kuasa pihak lainnya yang dibawah (ditindas). Biasanya dalam hubungan tersebut selalu terjadi resistensi. Relasi kekuasaan ada didalam sebuah kelompok masyarakat atau budaya juga bersifat pewarisan. Dimana relasi kekuasaan tersebut tidak hanya terjadi pada satu gernerasi, tapi turun temurun ke generasi berikutnya. Adapun usaha yang adapat dilakukan dalam memutus transmisi relasi kekuasaan turun temurun tersebut, bisa kita rubah diantaranya melalui rekayasa struktur sosial, perbaikan ekonomi, dan peningkatan jenjang pendidikan dari generasi sebelumnya. Oleh karena itu respon terhadap sebuah relasi kekuasaan yang menindas dan merendahkan itu penting. Kita harus merubah definisi tidak menguntungkan tentang diri kita oleh orang lain. selebihnya kitapun harus mampu menerapkan persepektif yang sudah baik tersebut pada komunitas atau kelompok masyrakat yang lebih luas lagi. Namun tentu saja untuk sampai kesana kita membutuhkan strategi yang tepat. STRATEGI Strategi adalah perencanaan yang mengacu pada analisa berupa asumsi-asumsi hubungan sebab akibat. Dalam konteks ini apakah kemudian strategi kita hasilnya cukup untuk merubah relasi dari kekuasaan atau tidak. Diantara beberapa opsi yang ada kita akan pilih yang mana, itulah strategi dan rencana untuk merespon secara efektif demi usaha menghapuskan penindasan. Kita dapat membuat strategi yang tepat dari hasil analisis kita dengan mengunakan metode “Pohon Permasalan”. Dimana darisana kita dapat memahami prioritas dan bentuk aksi seperti apa yang akan dilakukan, pihak mana yang harus kita gugat, kelompok mana yang harus kita mobilisasi, dan kebijakan apa yang harus kita advokasi.. 38.
(39) Fasilitator kemudian memberikan kesempatan kepada para peserta untuk merespon materi-materi yang sudah disampaikan sebelumnya. Respon. Tanggapan terhadap materi Empowerment, Relasi Kekuasaan, dan Strategi. 1. (Desi). Bahwa bentuk-bentuk budaya patriaki yang ada di desa (Kediri) itu memang ada dan diwariskan dari generasi ke generasi. Seperti mitos mengenai istri yang harus melayani suami apabila tdk akan mendapatkan kualat saat melahirkan. Mitos tersebut banyak ditemukan dan terjadi, sehingga dianggap bahwa bentuk budaya patriaki itu bukan sekedar ada dalam bentuk mitos saja, namun dari pengetahuan turun temurun yang berasal dari pengalaman atau kebenaran.. 2.. Di Minangkabau tradisi dulu dan sekarang sudah bertolak belakang. 3. (Vivian). Di Minagkabau beberapa abad yang lalu, suami itu ibarat tamu karena tidak tinggal serumah dengan istrinya. Dan hal serupa inipun terjadi di salah satu suku di China. Jadi budaya itu tidak unik sendiri,samahalnya juga dengan korban kekerasan, bahwa masih ada juga orang lain yang mengalami hal sama. (jadi disini pentingnya kesadaran beroragnisasi). 4. (Ning). Mitos-mitos yang ada tersebut dibuat memang untuk melmahkan perempuan. Hal ini pun akibat dari penafsiran teks agama yang sempit, yang cenderung di dominasi oleh kaum/ulama laki-laki yang berperspektif patriaki.. 5. (Vivian). Adanya opsi itu penting. Yaitu alternatif-alternatif pemikiran dalam menafsirkan teksteks agama agar tidak bersifat tunggal.. PERTANYAAN ANALISIS (UNTUK PENYUSUNAN STRATEGI) Selanjutnya untuk mempertajam pemahaman peserta mengenai metode Pengambangan Perdamaian melalui analisis Pohon Permasalahan. Fasilitator meminta peserta untuk melanjutkan diskusi tiga kelompok topik permasalahan utama sebelunya, dengan dibantu oleh pertanyaan-pertanyaan berikut; 1) Siapa yang menyebabkan problem yang dialami oleh sesorang didalam kasus tersebut? Siapa yang menyebabkan masalah yang dialami oleh orang, seperti dalam kasus pluralismne misalnya, mengenai pemaksaan berjilbab. Siapa yang memaksa dia menggunakan jilbab tersebut. 2) Bagaimana kemunculan problem terkait dengan kekuasaan mereka? Bagaimana masalah itu muncul, apakah ada kaitan dengan kekuasaan mereka?, seperti karena dia murid atau karyawan. 3) Bagaimana bentuk kekuasaan mereka? Misalnya Bupati, orang kaya, dll 4) Bagaimana kekuasaan mereka memiliki dampak terhadap orang lain? 39.
(40) Bagaimana dampaknya pada yang lain, apakah sampai turun temurun antar generasi, dll 5) Siapa orang yang mengalami kekuasaan elit itu? Jadi siapa orang yang mengalami kekuasaan yang di dapatkan itu. 6) Apakah korban yang mengalami dampak negatif dari kekuasaan juga memiliki kuasa? Sejauh mana korban memiliki potensi kekuasaan, sebagai upaya resistensi dan advokasi terhadap ketidak adilan yang di alaminya.. Kelompok Kasus. Soal No.. Ancaman Fundamentalis Agama. 1. Jawaban a. Elit politik beserta partai yang dominan b. Kebijakan nasional atau otonomi daerah c. Investor, industri garmen (busana). Ada agenda kepentingan bisnis penjualan pakaian muslim d. Tokoh agama, dengan tafsir yang sempit e. Ormas atau keagaman, yang tidak berprespektif pluralis f. Polisi syariah g. Intruksi struktural (vertikal) Gubenur Aceh. 2. a. Negosiasi politik (tarik menarik kepentingan politik) b. Pencitraan “Aceh Serambi Mekah” c. Penguasaan Sumber Daya Alam (SDA). 3. a. Elit agama sebagai pengambil keputusan b. Penanam modal c. Penjaga moral masyarakat a. Qonun, Perda, Perdes yang bersifat mutlak / memaksa. 4 5. 6. a. b. c. d. e.. Perempuan Aceh Masyarakat miskin. Anak sekolah (kebijakan sekolah) Minoritas agama dan orientasi seksual. Pekerja Karyawan kecil.. a. Aceh masih ada dalam ruang lingkup NKRI yang berfilosofi BHINEKA TUNGGAL IKA. (legacy ideologi) b. Interpretasi tentang jilbab tidak tunggal/beragam c. Jaringan Masyarakat Sipil Peduli Syariah d. Jaringan organisasi yang concern kepada HAM e. Dukungan ditingkat nasional f. Adanya penyadaran dan pengorganisasian di tingkat akar rumput. g. Adanya kekuatan kepemimpinan perempuan h. Adanya tokoh agama yang berfikir dengan pemahaman 40.
Dokumen terkait
Pada penelitian ini peneliti menggunakan PTK (Penelitian Tindakan Kelas) dengan pembelajaran menggunakan media pembelajaran program Festo Fluidsim pada mata
Sistem Berkas mempelajari bagaimana mengorganisasi file Sistem Berkas mempelajari bagaimana mengorganisasi file dan memanipulasi file yang tersistem dalam komputerisasi..
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah apakah peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis dan kemampuan berpikir kritis siswa yang memperoleh pembelajaran
Penelitian selanjutnya diharapkan dapat menambahkan atau mengembangkan variabel lain selain dari variabel yang digunakan pada penelitian ini yang diduga mempengaruhi
e-speaking terdiri dari perintah suara membuka program, menutup program, dan perintah suara mendikte kata dalam microsoft word, yang dapat dilakukan pada menu command, menu
Kemudian usaha kedua yaitu merencanakan kampanye diawali dengan menyusun tujuan dari kampanye Counting Down ini yaitu: untuk menberikan informasi kepada
Kolom yang baik akan mempunyai bilangan lempeng yang tinggi dan nilai H yang rendah, untuk mencapai hal ini ada beberapa faktor yang mendukung yaitu kolom yang dikemas dengan
Perbandingan metode numeric ansys dengan metode Moiré Canny prosentase nilai rata-rata perbedaan antara empat buah titik sebesar 9,705% yang didapat dari perbandingan