• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jenis dan Lokasi Terjadinya Konflik

Jenis konflik yang terjadi di perairan Utara Aceh dewasa ini terdiri dari konflik alat tangkap dan konflik pengkaplingan laut. Kedua jenis konflik tersebut tercakup dalam enam jenis kasus yaitu (1) Penggunaan cahaya lampu pada purse seine, (2) Perebutan daerah penangkapan ikan, (3) Penggunaan bom ikan, (4) Penggunaan trawl (5) Pemutusan rumpon, dan (6) illegal fishing. Kasus konflik tersebut telah terjadi sejak tahun 2005 dan masih tetap marak terjadi dewasa ini (Tabel 3).

Tabel 3 Jenis dan Waktu Terjadinya Konflik di perairan Utara Aceh

No Jenis konflik Tahun

2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015

1 Penggunaan

cahaya lampu

pada purse seine

2 Perebutan daerah penangkapan ikan 3 Penggunaan bom ikan 4 Penggunaan trawl 5 Pemutusan rumpon 6 Illegal fishing Keterangan:

√ = waktu terjadinya konflik

Konflik di perairan Utara Aceh dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu: aman, rawan, dan berbahaya. Pontensi konflik perikanan di perairan Utara Aceh menyebar merata di perairan, namun lebih terkonsentrasi di kawasan pesisir (Gambar 4). Pada Gambar 4 terlihat bahwa konflik kategori berbahaya lebih tinggi intensitasnya dan penyebarannya lebih luas dibandingkan kategori rawan dan aman. Selanjutnya konflik kategori rawan dan aman relatif sama, yaitu lokasinya umumnya lebih jauh dari pesisir dibandingkan dengan kategori berbahaya. Hal ini berarti bahwa DPI bagi nelayan tradisional yang terkonsentrasi di sekitar pantai memiliki potensi yang cukup tinggi untuk terjadi konflik kategori berbahaya. Peta sebaran lokasi konflik dapat dilihat pada Gambar 4.

Faktor Penyebab dan Dampak Konflik Perikanan Tangkap Penggunaan Cahaya Lampu Pada Purse Seine

Operasi penangkapan ikan dengan menggunakan cahaya lampu dilakukan oleh nelayan purse seine yang berasal dari luar Aceh yaitu dari Sibolga dan Thailand. Mereka mengoperasikan purse seine dengan jarak dibawah 12 mil. Pada umumnya penggunaan purse seine oleh nelayan asing menggunakan alat bantu lampu dengan intensitas cahaya mencapai 350 lux, sedangkan nelayan purse seine di perairan Utara Aceh menggunakan cahaya lampu dengan intensitas cahaya 38 lux. Hasil tangkapan nelayan asing lebih besar dibandingkan dengan nelayan tradisional dikarenakan penggunaan alat bantu lampu dengan intensitas cahaya yang berbeda jauh.

Nelayan Sibolga dan Thailand mendaratkan ikannya di daerah asal mereka, sehingga operasi penangkapan ikan ini menimbulkan konflik di antar nelayan purse seine dengan nelayan tradisional di perairan Utara Aceh. Nelayan tradisional menganggap alat tangkap purse seine merupakan alat tangkap yang berpotensi mengancam kelestarian sumberdaya perikanan. Potensi negatif ini dibuktikan dari susahnya mendapatkan ikan ketika nelayan luar Aceh beroperasi di sekitar perairan Utara Aceh. Konflik tersebut sering terjadi karena: (1) Penggunaan lampu berkapasitas tinggi di wilayah perairan Utara Aceh merugikan nelayan tradisional, (2) Ikan yang bermigrasi ke DPI nelayan tradisional terhalang dengan cahaya lampu, (3) Hasil tangkapan nelayan tradisional berkurang.

Alat tangkap purse seine di perairan Utara Aceh tergolong berukuran besar, tetapi mereka tidak menggunakan cahaya lampu dalam operasi penangkapan ikan. Kemampuan mendeteksi gerombolan ikan secara tepat dan keterampilan dalam pengoperasian alat tangkap merupakan faktor penting untuk menghindari terjadinya resiko kegagalan dalam setiap operasi penangkapan ikan dengan menggunakan purse seine. Menurut Von Brandt (1984), pengoperasian purse seine harus aktif mencari, mengejar, dan mengurung ikan pelagis yang bergerombolan dan bergerak cepat dalam jumlah besar, dengan melalui alat pengumpul ikan.

Menurut Nedelec (2000), purse seine adalah suatu alat penangkap ikan yang digolongkan dalam kelompok jaring lingkar (surrounding net) yang dilengkapi tali kerut dan cincin untuk menguncupkan jaring bagian bawah pada saat dioperasikan. Cincin mempunyai fungsi ganda sebagai tempat lewat tali cincin dan juga berfungsi sebagai pemberat. Purse seine sampai saat ini merupakan alat penangkap ikan pelagis kecil yang paling produktif. Peranan jaring adalah sebagai pengurung ikan agar tidak lari dari sergapan jaring ketika dilingkarkan. Menurut Rahman (2001) cahaya yang dihasilkan dari lampu dengan intensitas tinggi akan lebih cepat menarik ikan yang memiliki sifat fototaksis positif (tertarik pada cahaya), sehingga berkumpul disekitar lampu. Lampu sebagai alat bantu untuk merangsang atau menarik perhatian ikan agar berkumpul di bawah cahaya lampu.

Dampak negatif yang ditimbulkan penggunaan purse seine meliputi aspek teknis, ekologis, biologis, sosial, dan ekonomi. Aspek teknis yang ditimbulkan adalah overfishing yang disebabkan oleh jumlah penangkapan ikan secara besar-besaran baik ikan besar maupun kecil (juvenil), sehingga ikan-ikan yang berukuran kecil belum matang gonad tertangkap dalam jumlah yang cukup banyak dan akhirnya mengurangi tingkat regenerasi. Penggunaan ukuran mata jaring purse seine 1-1,25 inci terbuat dari benang polyamide (PA), sehingga menimbulkan dampak negatif terhadap aspek biologis yaitu tertangkapnya ikan yang belum matang gonad (ikan yang tidak layak

tangkap). Aspek ekologis yang ditimbulkan salah satunya stok sumberdaya ikan di perairan Utara Aceh akan menurun setiap tahunnya akibat tangkapan yang berlebihan dan tangkapan yang belum matang gonad, sehingga keberlanjutan dari kelestarian sumberdaya ikan akan terganggu.

Menurunnya kelimpahan sumberdaya ikan akan mengakibatkan jumlah hasil tangkapan menurun dan pendapatan nelayan menurun. Hal ini mengakibatkan pendapatan daerah dari sektor perikanan juga menurun. Aspek sosial yang ditimbulkan dari dampak di atas yaitu perebutan wilayah penangkapan ikan antar nelayan, sehingga nelayan harus beralih profesi saat sumberdaya ikan mulai berkurang. Adapun faktor penyebab dan dampak yang di timbulkan oleh penggunaan cahaya lampu pada purse seine di perairan Utara Aceh dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5 Faktor Penyebab dan Dampak Konflik Penggunaan Cahaya Lampu

Perebutan Daerah Penangkapan Ikan

Nelayan tradisional di perairan Utara Aceh melakukan kegiatan penangkapan ikan di perairan Selat Malaka dengan jarak kurang dari 12 mil dari fishing base. Wilayah perairan tersebut digunakan pula oleh nelayan asing untuk melakukan kegiatan penangkapan. Umumnya nelayan asing mengunakan kapal berukuran besar dan alat tangkap modern, sehingga nelayan tradisional kalah bersaing dengan nelayan asing.

Nelayan pancing dan trammel net yang merupakan nelayan tradisional di perairan Utara Aceh merasa dirugikan dengan keberadaan nelayan asing di perairan Selat Malaka dengan jarak kurang dari 12 mil dari pantai. Kelompok nelayan lokal telah memanfaatkan wilayah perairan tersebut sebagai daerah penangkapan ikan secara turun temurun. Nelayan tradisional ini merasa bahwa wilayah perairan kurang dari 12 mil sebagai hak property bagi mereka. Apabila nelayan luar masuk ke wilayah ini dengan menggunakan alat tangkap yang berukuran besar atau telah dimodifikasi, maka akan dianggap telah melanggar norma serta tidak menjaga kelestarian sumberdaya perikanan.

Kehadiran nelayan asing yang menggunakan alat tangkap yang produktif ini menyebabkan semakin terbatasnya stok sumberdaya ikan. Kondisi ini, membuat perebutan daerah penangkapan yang sama di antara nelayan tradisional dengan nelayan asing di perairan Utara Aceh. Perebutan daerah penangkapan ini akhirnya menyebabkan konflik karena nelayan tradisional kalah bersaing dengan nelayan asing dan hasil tangkapan nelayan lokal juga semakin menurun. Hal ini disebabkan karena nelayan asing menggunakan alat tangkap yang lebih produktif dibandingkan dengan nelayan tradisional. Konflik seperti ini cukup banyak ditemukan di perairan Aceh karena tidak ada aturan baku yang tertulis dalam pemanfaatan daerah penangkapan ikan. Penyebab

Faktor penyebab konflik: Penggunaan lampu

berkapasitas tinggi di wilayah perairan utara Aceh merugikan nelayan tradisional

Ikan yang bermigrasi ke DPI nelayan tradisional terhalang dengan cahaya lampu

Hasil tangkapan nelayan tradisional berkurang

Penggunaan cahaya lampu pada perikanan

purse seine

Dampak penggunaan cahaya: Overfishing

Ilegal size banyak tertangkap

Stok sumberdaya ikan menurun

Hasil tangkapan menurun drastis

Perebutan DPI antar nelayan

terjadinya konflik perebutan daerah penangkapan ikan di perairan Utara Aceh adalah (1) Penggunaan alat tangkap yang lebih produktif oleh nelayan asing menyebabkan nelayan tradisional kalah bersaing dengan nelayan asing, (2) Tidak adanya aturan baku/tertulis dalam pengelolaan DPI, (3) Hasil tangkapan nelayan tradisional menurun dengan keberadaan nelayan asing.

Akibat penurunan hasil tangkapan nelayan tradisional, maka pendapatan mereka juga menurun secara drastis sebagai akibat keberadaan nelayan asing. Menurut KKP (2002), perbedaan kualitas alat tangkap antar kelompok nelayan dalam menangkap jenis ikan yang berbeda, tetapi pada daerah penangkapan yang sama, dapat mengurangi hasil tangkapan pada kualitas alat tangkap yang lebih rendah.

Alat tangkap yang digunakan oleh nelayan asing di kawasan penangkapan nelayan tradisional adalah trawl. Alat tangkap tersebut dianggap nelayan tradisional sebagai pemicu terjadinya kerusakan habitat sumberdaya ikan. Hal tersebut menyebabkan terjadinya pertikaan (konflik) antar nelayan lokal dan asing. Nelayan tradisional dan nelayan asing berlomba untuk mendapatkan hasil tangkapan dalam jumlah besar, bahkan sering kali menimbulkan kegiatan penangkapan ikan yang destruktif. Menurut Agnet et al. (2009), kegiatan tersebut semata-mata hanya akan memberikan dampak yang kurang baik untuk ekosistem perairan, akan tetapi memberikan keuntungan yang besar bagi nelayan. Adapun faktor penyebab dan dampak yang ditimbulkan oleh perebutan daerah penangkapan ikan di perairan Utara Aceh dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6 Faktor Penyebab dan Dampak Konflik Perebutan Daerah Penangkapan Ikan

Penggunaan Bom Ikan

Penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak merupakan cara yang sering digunakan oleh nelayan tradisional dalam memanfaatkan sumberdaya perikanan khususnya dalam melakukan penangkapan ikan karang. Adapun pihak yang berkonflik terkait penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak yaitu antara nelayan yang bukan pengguna bom dengan nelayan pengguna bom ikan. Nelayan yang menggunakan bom ikan diangggap oleh masyarakat sebagai perilaku yang menyimpang (deviant behaviour) dengan beragam motif, seperti ingin kaya atau terpaksa karena adanya benturan dengan kondisi ekonomi. Ironisnya dari para pelaku pengguna bom ikan sulit ditangkap. Berdasarkan informasi yang diperoleh, hal tersebut disebabkan luasnya kondisi perairan, kurangnya fasilitas dan anggaran dana untuk menertibkan pengguna bom ikan. Selain itu pengguna bom menggunakan kapal bermesin 6 (enam) silinder sehingga kalah cepat ketika dilakukan pengejaran. Apa yang telah dilakukan nelayan penggguna bom ikan tersebut telah merusak habitat daerah pemijahan ikan

Faktor penyebab konflik: Nelayan tradisional kalah

bersaing dengan nelayan asing penggunaan alat tangkap modern oleh nelayan asing dan alat tangkap nelayan tradisional oleh nelayan lokal pada DPI yang sama

Tidak adanya aturan baku/tertulis dalam pengelolaan DPI

Perebutan daerah penangkapan

ikan

Dampak perebutan daerah penangkapan ikan: Terganggunya habitat sumberdaya ikan Menurunnyan hasil tangkapan dan pendapatan nelayan tradisional

Pertikaian antar nelayan di daerah penangkapan ikan yang diperebutkan

karena telur dan larva menjadi mati karena pengeboman dilakukan di daerah terumbu karang. Penggunaan bom tidak hanya merusak ekosistem terumbu karang, tetapi juga berdampak terhadap keberadaan penyu yang berada di sekitarnya. Daya ledakan bom ini dapat mencapai radius 100 m2, sehingga penyu yang terdapat di sekitarnya menjadi terganggu.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab terjadinya konflik nelayan yang bukan pengguna bom ikan dengan nelayan pengguna bom ikan di perairan Utara Aceh disebabkan oleh beberapa hal, yaitu (1) Penggunaan bom merusak ekosistem terumbu karang yang menyebabkan rusaknya daerah pemijahan (spawning area) (2) Merusak ekosistem rantai makanan mengakibatkan menurunnya sumberdaya ikan secara drastis (3) DPI terdegradasi akibat kelimpahan stok ikan yang menurun (4) Pendapatan nelayan menurun drastis (5) Penggunaan bom merupakan pelanggaran UU No 45 Tahun 2009, revisi UU No 31 Tahun 2004 dan tidak sesuai dengan kearifan lokal.

Suparmoko (2002) menyatakan bahwa penggunaan bahan peledak seperti bom dapat memusnahkan biota dan merusak lingkungan, penggunaan bahan peledak dalam penangkapan ikan di sekitar daerah terumbu karang menimbulkan efek samping yang sangat besar. Selain rusaknya terumbu karang yang ada disekitar lokasi peledakan, juga dapat menyebabkan kematian biota lain yang bukan merupakan sasaran penangkapan. Oleh sebab itu, penggunaan bahan peledak berpotensi menimbulkan kerusakan yang luas terhadap ekosistem terumbu karang, diantaranya karang menjadi patah, terbelah, berserakan dan hancur menjadi pasir serta meninggalkan bekas lubang pada terumbu karang.

Konflik penangkapan menggunakan bahan peledak bom ikan merupakan konflik yang terjadi terus menerus. Menurut Charles (1992) konflik ini termasuk tipologi konflik alokasi internal karena biasanya terjadi diantara stakeholder yang berkaitan langsung dengan kegiatan perikanan tangkap, yaitu antar nelayan dengan petugas keamanan laut. Konflik bermula dari kegiatan menangkap ikan menggunakan bom ikan yang diawali oleh nelayan dari luar kemudian diikuti oleh beberapa nelayan lokal skala kecil.

Menurut Hamid (2007), penangkapan ikan dengan menggunakan bom tidak hanya memberi dampak buruk untuk karang, kegiatan penangkapan dengan menggunakan bahan peledak juga berakibat buruk untuk ikan-ikan yang ada. Ikan-ikan yang ditangkap dengan menggunakan bahan peledak umumnya tidak memiliki kesegaran yang sama dengan ikan-ikan yang ditangkap dengan menggunakan alat tangkap ramah lingkungan. Walaupun demikian adanya, nelayan masih tetap menggunakan bahan peledak dalam melakukan kegiatan penangkapan karena hasil yang mereka peroleh cenderung lebih besar dan cara yang dilakukan untuk melakukan proses penangkapan tergolong mudah. Adapun faktor penyebab dan dampak yang di timbulkan oleh penggunaan bom ikan di perairan Utara Aceh dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7 Faktor Penyebab dan Dampak Konflik Penggunaan Bom Ikan

Penggunaan Trawl

Trawl merupakan pukat kantong berbentuk kerucut dengan mulut lebar yang diberi pemberat pada tali ris bawah (ground rope) dan diberi pelampung pada tali ris atas (Head rope). Pada saat dioperasikan pukat diusahakan terbuka dengan bantuan dua buah papan (otter board) yang terbuat dari kayu atau besi yang ditarik dengan tali warp yang dipasang pada pusatnya, sehingga kedua papan tersebut cenderung saling membuka waktu dioperasikan. Kedua otter board dihubungkan dengan jaring oleh briddle. Briddle ini dapat mencapai panjang 200 meter dan menyapu sejumlah luasan dasar laut. Mereka membuat takut ikan-ikan dan menggiring mereka masuk ke dalam pukat yang bergerak ke depan, dengan demikian berfungsi meningkatkan efektivitas dari pukat. Bentuk pukat dapat bervariasi menurut menurut jenis ikan yang ditangkap dan tipe dasar perairan. Tali ris bawah dapat dipasangi roller gear dan bobbin set sehingga trawl dapat dioperasikan di atas dasar berbatu tanpa menimbulkan kerusakan berarti pada jaring (Widodo 2001).

Pengoperasian trawl di perairan Aceh jelas dilarang, sesuai dengan aturan yang berlaku. Namun, aktifitas penangkapan ikan dengan trawl masih marak ditemukan di perairan ini, bahkan nelayannya berasal dari Thailand. Nelayan trawl ini sering berinteraksi dengan nelayan lokal yang mengoperasikan alat tangkap pancing. Keberadaan nelayan trawl sangat merusak habitat perairan. Nelayan trawl ini juga dianggap sebagai penyebab terjadinya penurunan hasil tangkapan nelayan pancing. Pengoperasian trawl juga sering kali merusak rumpon nelayan. Bahkan nelayan pancing merasa takut mendekat ke nelayan trawl karena pemiliknya sangat brutal. Artinya, nelayan tidak hanya menggalami kerungian akibat pendapatan menurun, tetapi mereka juga sering kali tidak nyaman dalam melakukan aktifitas penangkapan ikan, akibatnya nelayan pancing melakukan protes keras agar pemerintah menegakkan hukum yang berlaku secara tegas dan konsisten untuk mengusir nelayan trawl, sehingga tidak terjadi konflik yang lebih serius.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab terjadinya konflik penggunaan trawl adalah: (1) Pengoperasian trawl di daerah Aceh dilarang sesuai dengan peraturan yang berlaku (2) Pelanggaran jalur penangkapan (3) Perbedaan level teknologi penangkapan ikan menyebabkan persaingan yang tidak seimbang, bahkan menuju ke level konflik (4) Kurang optimalnya fungsi dan peran kelembagaan atau institusi pemerintah (5) Belum tegasnya pelaksanaan hukum dan peraturan pemerintah.

Faktor penyebab konflik: Penggunaan bom merusak

ekosistem terumbu karang, termasuk daerah pemijahan Merusak rantai makanan

mengakibatkan menurunnya sumberdaya ikan secara drastis Penggunaan bom merupakan

pelanggaran UU No 45 Tahun 2009, revisi UU No 31 Tahun 2004 dan tidak sesuai dengan kearifan lokal

Penggunaan bom ikan

Dampak penggunaan bom ikan: Memusnahkan biota dan

merusak lingkungan

Ikan-ikan yang ditangkap dalam kondisi tidak segar

DPI terdegradasi

Hasil tangkapan dan pendapatan nelayan yang tidak

menggunakan bom menurun drastis

Pengoperasian trawl dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kelestarian sumberdaya ikan dan sering menimbulkan konflik dengan nelayan-nelayan yang menggunakan alat penangkapan ikan lainnya seperti gill net, bubu dan pancing. Trawl merupakan alat tangkap yang tidak selektif sehingga hampir semua ikan tertangkap oleh alat ini. Tidak hanya ikan yang menjadi tujuan utama penangkapan, tetapi juga termasuk hasil tangkapan sampingan. Hasil tangkapan sampingan (by catch) didefinisikan oleh Saila (1983) sebagai bagian dari hasil tangkapan total yang ikut tertangkap dan bukan merupakan sasaran utama.

Penggunaan trawl berdampak negatif terhadap nelayan tradisional di perairan Utara Aceh karena menimbulkan kerusakan habitat dan menyebabkan menurunnya ketersediaan sumberdaya ikan. Hal ini mengacu pada Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KKP) Nomor 2 tahun 2015 tentang larangan penggunaan alat penangkapan ikan pukat hela (trawl) dan pukat tarik (seine net) di wilayah pengelolaan perikanan Negara Republik Indonesia. Permen KKP itu merupakan penegasan dari UU No.31/2004 tentang Perikanan Pasal 9 ayat (1) menyebutkan larangan kepemilikan dan penggunaan alat tangkap ikan yang mengganggu dan merusak keberlanjutan sumberdaya ikan di Wilayah Indonesia, termasuk jaring trawl atau pukat harimau.

Dilihat dari sudut pandang ekologis, berdasarkan ukuran mata jaring yang digunakan, maka trawl merupakan suatu alat penangkap ikan yang menarik untuk diteliti karena produktif dan hasil tangkapan beraneka ragam jenisnya, namun alat tersebut tidak ramah lingkungan serta tidak selektif. Daerah penangkapan trawl relatif dangkal sampai kedalaman 25 meter dengan dasar laut yang landai dan rata terdiri dari pasir lumpur dan tidak berbatu atau berkarang serta bebas dari bangkai kapal karam dan bangkai benda lainnya (Usemahu dan Tosila 2003).

Salah satu cara menjaga kelestarian sumberdaya ikan, khususnya pada daerah penangkapan trawl adalah penggunaan alat penangkap ikan yang selektif. Berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No.11 Tahun 2009 tentang ukuran mata jaring kantong trawl (mesh size codend trawl) adalah lebih besar 5 cm. Adapun faktor penyebab dan dampak yang di timbulkan oleh penggunaan trawl di perairan Utara Aceh dapat dilihat pada Gambar 8.

Gambar 8 Faktor Penyebab dan Dampak Konflik Penggunaan Trawl Illegal Fishing

Maraknya illegal fishing mengganggu keamanan nelayan khususnya nelayan tradisional dalam menangkap ikan di perairan Utara Aceh. Nelayan asing selain

Faktor penyebab konflik:

Masih beroperasinya alat tangkap

trawl yang dilarang penggunaannya oleh pemerintah

Pelanggaran jalur penangkapan. Perbedaan level teknologi

penangkapan ikan dapat menimbulkan konflik

Kurang optimalnya fungsi dan peran kelembagaan atau institusipemeritah Belum tegasnya pelaksanaan hukum

dan peraturan perikanan

Penggunaan

trawl

Dampak penggunaan trawl: Menimbulkan kerusakan

habitat

Menyebabkan menurunnya ketersediaan sumberdaya ikan

Menurunnya hasil tangkapan nelayan tradisional

Nelayan tradisional tidak nyaman melakukan pengoperasian alat tangkap

melakukan penangkapan secara illegal fishing, mereka juga sering mengancam nelayan tradisional yang sedang melakukan penangkapan ikan di fishing ground yang sama. Selain itu illegal fishing juga akan mendorong ke arah pengurangan pendapatan rumah tangga nelayan dan selanjutnya akan memperburuk situasi kemiskinan.

Menurut Sumaila et al. (2006) pengertian illegal fishing adalah kegiatan perikanan yang tidak sah, kegiatan perikanan yang tidak diatur oleh peraturan yang berlaku, aktivitasnya tidak dilaporkan kepada suatu institusi atau lembaga perikanan yang berwenang. Terjadi disemua kegiatan perikanan tangkap tanpa tergantung pada lokasi, target spesies, alat tangkap yang digunakan dan eksploitasi serta dapat muncul di tipe perikanan baik skala kecil dan industri, perikanan di zona yurisdiksi nasional maupun internasional.

Illegal fishing yaitu kegiatan penangkapan ikan yang dilakukan oleh orang atau kapal asing pada suatu perairan yang menjadi yurisdiksi suatu negara tanpa izin dari negara tersebut atau bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan bertentangan dengan peraturan nasional yang berlaku atau kewajiban internasional (Nielsen et al. 2012). Kapal asing sering mengibarkan bendera suatu negara yang menjadi anggota organisasi pengelolaan perikanan regional tetapi beroperasi tidak sesuai dengan ketentuan pelestarian dan pengelolaan yang diterapkan oleh organisasi tersebut atau ketentuan hukum internasional yang berlaku.

Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya illegal fishing di perairan Utara Aceh, tidak terlepas dari lingkungan strategis global terutama kondisi perikanan di negara lain yang memiliki perbatasan laut dan sistem pengelolaan perikanan di perairan Utara Aceh. Menurut KKP (2002), secara garis besar penyebab tersebut dapat dikategorikan menjadi 7 (tujuh), sebagaimana diuraikan di bawah ini.

 Kebutuhan ikan dunia meningkat, disisi lain pasokan ikan dunia menurun, terjadi over demand, terutama jenis ikan dari laut seperti tuna. Hal ini mendorong armada perikanan dunia berburu ikan di manapun dengan cara legal atau ilegal.

 Disparitas (perbedaan) harga ikan segar utuh (whole fish) di negara lain dibandingkan di Indonesia cukup tinggi sehingga membuat masih adanya surplus pendapatan.

Fishing ground di negara-negara lain sudah menipis stok ikannya, sementara di Indonesia masih menjanjikan, pada hal mereka harus mempertahankan pasokan ikan untuk konsumsi mereka dan harus mempertahankan produksi pengolahan di negara tersebut tetap bertahan.

 Laut Indonesia sangat luas dan terbuka, di sisi lain kemampuan pengawasan khususnya armada pengawasan nasional (kapal pengawas) masih sangat terbatas dibandingkan kebutuhan untuk mengawasi daerah rawan. Luasnya wilayah laut yang menjadi yurisdiksi Indonesia dan kenyataan masih sangat terbukanya ZEE

Dokumen terkait