BAB III ANALISIS KONFLIK SOSIAL DALAM
3.2 Konflik Sosial antara individu dengan kelompok
3.2.2 Konflik Sosial antara makabumi dan Pencopet
Konflik sosial ini diawali dengan tertangkapnya seorang pencopet. Makabumi yang sekaligus merangkap sebagai petugas keamanan berhasil menangkap seorang pencopet dan Makabumi pun memukuli pencopet itu di tengah kerumunan orang di Malioboro.
(161)Beberapa saat kemudian Jon datang mengabarkan bahwa Makabumi baru saja memukuli copet yang hendak mengambil dompet ABG yang berdesakan di depan T-Shirt Music. Copet itu kabur dengan wajah bekas pukulan. (Susanto, 2005 : 115)
Tindakan Makabumi benar, namun memukuli pencopet tersebut merupakan tindakan yang kurang benar. Apalagi memukulinya di tengah keramaian. Dapat dipastikan pencopet tersebut merasa malu atas tindakan Makabumi terhadap dirinya. Biarpun profesinya sebagai pencopet, namun pencopet tetaplah seorang manusia yang mempunyai harga diri. Merasa harga dirinya diinjak-injak oleh Makabumi di muka umum, pencopet itupun menaruh dendam pada Makabumi. Teman-teman Makabumi juga merasakan hal yang sama, mereka berusaha memperingatkan Makabumi untuk berhati-hati.
(162)”Bilang sama Makabumi untuk berhati-hati,” kata kawan sebelahku,
”Karena bisa saja copet itu dendam dan membawa kawannya untuk gantian menyerang Makabumi.” (Susanto, 2005 : 115) (163)Beberapa kawan lain yang sudah memperingatkan dirinya agar
waspada, tidak digubrisnya. Minimal bawalah senjata sebab bisa saja mereka menyerang di tempat sepi, itu anjuran yang diutarakan oleh kawan di Malioboro pada Makabumi. (Susanto, 2005 : 117)
Peringatan dari teman-teman tidak didengarkan oleh Makabumi. Makabumi terlihat santai, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Hal yang ditakutkan teman-teman Makabumi menjadi kenyataan. Pencopet yang pernah dipukuli Makabumi datang untuk membalas dendam, pencopet tersebut tidak sendirian, ia datang bersama temannya.
(164) Aku sudah menduga kalau pencopet yang kemarin malam dipukuli Makabumi bakal datang lagi membawa dendam. (Susanto, 2005 : 117)
Pencopet yang telah dipukuli Makabumi benar-benar menaruh dendam yang sangat pada Makabumi. Si pencopet telah mengatur siasat yang cukup sempurna untuk membalas dendam. Di malam yang mendadak menjadi sepi, pencopet dan temannya mengeroyok Makabumi.
(165)”Angkringan Mas Parjono tidak buka dan beberapa pedagang yang biasanya pulang malam entah kenapa tutup lekas,” lanjutnya. ”Aku tak menyangka bila ada beberapa orang mengawasiku dari dalam taksi. Aku baru tersadar tatkala dua orang dari dalam taksi itu turun dan mengikutiku ke arah gudang penyimpanan. Kedua orang itu menyerangku di lorong samping Toko Corona. Dengan parang! Sedang seorang lagi dengan pisaunya terus saja menghunus.... Mereka kabur karena aku terus berteriak dan mereka menyangka aku sudah sekarat dalam gudang” katanya sambil menerawang. (Susanto, 2005 : 122)
Penyerangan yang telah dilakukan pada Makabumi tersebut membawa akibat yang cukup serius pada tubuh Makabumi. Parang dan pisau yang digunakan para penyerang yang tidak lain adalah pencopet meninggalkan bekas luka pada sekujur tubuh Makabumi, terutama tangannya. Akibat kejadian tersebut, Makabumi dirawat di rumah sakit.
(166)Makabumi, sekarang berada di pembaringan Rumah Sakit Bethesda. Lengan kirinya terluka parah. Bahkan kelingkingnya nyaris putus. Tangan itu cacat selamanya. (Susanto, 2005 : 118) (167)Siangnya secara rombongan para pedagang mengunjunginya di
Bethesda. Tubuhnya lemah terkulai. Lengannya terbalut perban yang dihiasi bercak darah kering. Ada jarum infus menancap di sisi lengan kirinya. Tangan itu membengkak tak bisa bergerak. (Susanto, 2005 : 121)
Ciko juga menganggap bahwa pembalasan yang telah dilakukan kawanan pencopet terhadap Makabumi tersebut sudah direncanakan dengan matang. Menurut Ciko, pencopet tersebut sengaja hendak membunuh Makabumi, namun ada sesuatu hal yang membuat mereka menggagalkan rencananya tersebut.
(168)Awalnya aku tak menduga bahwa darah yang berceceran di lorong samping Toko Corona hingga ke gudang Pak Jabrik adalah darahnya. (Susanto, 2005 : 119)
(169)Kulihat ceceran darah kental menggumpal di atas beberapa tumpukan kardus, bahkan ada yang menyiprat di dinding. Bercak-bercak itu banyak dan menghitam. (Susanto, 2005 : 120)
Kutipan (166) dan (167) merupakan gambaran lokasi terjadinya pengeroyokan terhadap Makabumi. Ciko sangat menyayangkan melihat kejadian itu, apalagi melihat tindakan polisi dan beberapa orang yang menanggapi peristiwa tersebut dengan lambat. Menurut Ciko, seharusnya dari awal, polisi selalu siaga di tempat keramaian seperti di Malioboro yang rawan tindak kejahatan.
(170)....dan pihak kepolisian langsung melakukan razia besar-besaran di sepanjang jalan. Anehnya, polisi malah menanyai para pedagang saat melakukan razia di sepanjang jalan Malioboro, yang jelas mereka tahu setiap harinya ada di situ. Dan beberapa orang malah mendirikan kelompok masyarakat anti copet. (Susanto, 2005 : 123)
(171)Orang-orang kita memang selalu dalam keadaan terlambat bila menghadapi segala masalah yang datang. Kenapa tidak dari dulu mencegah dan mendirikan kelompok anti copet. (Susanto, 2005 : 124)
Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali, mungkin begitulah pemikiran polisi dan beberapa anggota masyarakat. Setelah mendengar dan menyaksikan peristiwa
yang telah dialami Makabumi, pihak-pihak tersebut menjadi gencar menjaga Malioboro.
(172)Di depan mall pun sekarang terdapat minimal dua orang polisi berpakaian preman yang mengawasi setiap tindakan mencurigakan. (Susanto, 2005 : 124)
(173)Sejak kejadian itu, selama hampir tiga bulan tak ada lagi copet berkeliaran, menurut pengamatanku. Sebab polisi selalu melakukan razia di sepanjang jalan dengan menanyai kartu identitas setiap orang yang datang di Malioboro, termasuk para pedagang. (Susanto, 2005 : 125)
Setelah kejadian itu, pencopet yang mengeroyok Makabumi tidak pernah terlihat lagi di Malioboro. Pencopet melakukan tindakan pengeroyokan tersebut sebagai aksi balas dendam atas tindakan orang lain yakni Makabumi yang telah mempermalukan dirinya.
3.2.2.2 Tujuan Terjadinya Konflik Sosial
Konflik sosial yang terjadi ini juga mencerminkan keadaan Makabumi sebagai penjaga keamanan dan pencopet sebagai pelaku kejahatan, keduanya memiliki kepentingan yang saling bertolak belakang. Apabila kedua belah pihak yang mempunyai kepentingan berbeda ini bertemu, maka yang terjadi pastilah konflik yang pada akhirnya dapat berujung pada tindakan main hakim sendiri.
(174)Makabumi menjaga lahannya agar pengunjung Malioboro aman dari gangguan, walaupun agak berlebihan. Sedang sang pencopet, ia bekerja untuk menghidupi keluargannya. (Susanto, 2005 : 118)
Pencopet yang merasa dipermalukan Makabumi di depan umum, berusaha membalaskan dendam atas tindakan Makabumi pada dirinya. Cara balas dendam yang dipilih oleh Pencopet itu adalah dengan memukuli Makabumi secara beramai-ramai.
(175)Apalagi dendam itu merasuk tatkala harga diri seorang manusia hancur di depan mata orang banyak. Bayangkan saja. Pencopet itu dihajar oleh Makabumidi hadapan orang sepasar. Pencopet itu merasa dirinya benar dengan membalas dendam pada Makabumi. (Susanto, 2005 : 119)
Pemukulan dan pengeroyokan yang telah dilakukan kawanan pencopet tersebut dimaksudkan sebagai akibat dari tindakan Makabumi yang telah mempermalukan dirinya dan membuat pekerjaannya mencopet terganggu.