• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN UMUM TERHADAP KOMIK TEAM MEDICAL

2.2 Konflik dalam Komik Team Medical Dragon

2.2.1 Konflik Sosial dalam Komik Team Medical Dragon

Dalam sebuah karya fiksi, konflik (conflict) merupakan unsur yang penting dalam pengembangan plot. Kemampuan menciptakan konflik melalui berbagai peristiwa akan sangat menentukan kadar kemenarikan, kadar suspense, cerita yang dihasilkan.

Konflik menyaran pada pengertian sesuatu yang bersifat tidak menyenangkan yang terjadi dan atau dialami oleh tokoh (-tokoh) cerita yang, jika tokoh (-tokoh) itu mempunyai kebebasan untuk memilih, ia (mereka) tidak akan memilih peristiwa itu menimpa dirinya (Meredith & Fitzgerald dalam Nurgiyantoro, 1995 : 122).

Menurut Stanton dalam Nurgiyantoro (2002: 124) konflik dibedakan menjadi dua kategori, yaitu konflik internal dan eksternal.

Profesor Asisten P f Para Dokter Dokter Magang Perawat Pasien

1. Konflik internal atau kejiwaan adalah konflik yang terjadi dalam hati jiwa seorang tokoh cerita. Jadi konflik ini adalah konflik yang dialami manusia dengan dirinya sendiri.

2. Konflik eksternal adalah konflik yang terjadi antara seorang tokoh dengan sesuatu dengan di luar dirinya. Konflik eksternal ini dibedakan dalam dua kategori lagi, yaitu konflik fisik dan konflik sosial:

a. Konflik fisik adalah konflik yang disebabkan oleh adanya perbenturan antara tokoh dengan lingkungan alam.

b. Konflik sosial adalah konflik yang disebabkan oleh adanya kontak sosial atau masalah-masalah yang muncul akibat adanya hubungan antar manusia. Dalam ilmu sosiologi, pengertian konflik tidak jauh berbeda dengan pengertian konflik yang dijabarkan dalam ilmu sastra. Konflik bukan merupakan suatu hal yang asing didalam hidup manusia. Sejarah mencatat bahwasanya konflik merupakan bagian dari kehidupan manusia, sepanjang seseorang masih hidup hampir mustahil untuk menghilangkan konflik dimuka bumi ini baik itu konflik antar individu maupun antar kelompok. Jika konflik antara perorangan tidak bisa diatasi secara adil dan proposional, maka hal itu dapat berakhir dengan konflik antar kelompok.

Untuk itu, konflik merupakan suatu gejala yang tidak dapat dipisahkan dalam masyarakat. Fenomena konflik tersebut mendapat perhatian bagi manusia, sehingga muncul penelitian-penelitan yang menciptakan dan mengembangkan berbagai pandangan tentang konflik.

Diantaranya ialah Charles Watkins dalam

tajam tentang kondisi dan prasyarat terjadinya suatu konflik. Menurutnya, konflik terjadi bila terdapat dua hal. Pertama, konflik bisa terjadi bila sekurang-kurangnya terdapat dua pihak yang secara potensial dan praktis/operasional dapat saling menghambat. Secara potensial artinya, mereka memiliki kemampuan untuk menghambat. Secara praktis/operasional maksudnya kemampuan tadi bisa diwujudkan dan ada didalam keadaan yang memungkinkan perwujudannya secara mudah. Artinya, bila kedua belah pihak tidak dapat menghambat atau tidak melihat pihak lain sebagai hambatan, maka konflik tidak akan terjadi. Kedua, konflik dapat terjadi bila ada sesuatu sasaran yang sama-sama dikejar oleh kedua pihak, namun hanya salah satu pihak yang akan memungkinkan mencapainya.

Kemudian, Joyce Hocker dan William Wilmt di dalam bukunya yang berjudul interpersonal conflict (http://grms.multiply.com/journal/item/28), berupaya untuk memahami pandangan tentang konflik. Pada umumnya pandangan tentang konflik dapat digambarkan sebagai berikut; Pertama, konflik adalah hal yang abnormal karena hal normal adalah keselarasan. Bagi mereka yang menganut pandangan ini pada dasarnya bermaskud menyampaikan bahwa, suatu konflik hanya merupakan gangguan stabilitas. Kedua, konflik sebenarnya hanyalah suatu perbedaan atau salah paham. Mereka yang perpendapat seperti ini menganggap bahwasanya konflik hanyalah kegagalan berkomunikasi dengan baik, sehingga pihak lain tidak dapat memahami maksud kita yang sesungguhnya. Ketiga, konflik adalah gangguan yang hanya terjadi karena kelakuan orang-orang yang tidak beres. Menurut penganut pendapat ini, penyebab suatu konflik adalah anti sosial.

Team Medical Dragon adalah manga spesialisasi medis yang digambar oleh Tarou Nagizaka dan ditulis oleh Akira Nagai; seorang jurnalis dan dokter yang sukses. Team Medical Dragon menerim pada tahun 2005.

Hal menarik dari komik ini adalah permasalahan yang diangkatnya. Komik ini sarat akan konflik, terutama konflik sosial yang terkandung didalamnya. Mengangkat cerita tentang perjuangan sekelompok dokter untuk mendapatkan keadilan bagi para pasien ditengah arus sistem senioritas yang dikuasai oleh seorang atasan yang tamak akan harta dan kekuasaan.

Konflik disebabkan karena adanya perbenturan antara sistem senioritas yang berlaku di jepang dengan pekerjaan medis. Sistem senioritas dalam komik ini terutama berkaitan dengan hubungan atasan-bawahan, dimana bawahan wajib untuk menghormati dan tunduk terhadap atasan. Sistem ini juga mengharuskan agar segala tindakan yang diambil oleh bawahan harus atas sepengetahuan dan seizing atasan. Sistem seperti ini menjadikan negosiasi berjalan sangat alot dan berbelit-belit. Sementara pekerjaan medis membutuhkan tindakan yang cepat dan tepat guna menyelamatkan nyawa pasien. Sehingga terkadang izin dari atasan menjadi tidak penting lagi asalkan dapat segera menyelamatkan nyawa pasien. Hal inilah yang dilakukan oleh Ryutaro Asada bersama beberapa rekannya yang memang sangat mempedulikan keselamatan pasien. Mereka kerap melakukan tindakan-tindakan medis penyelamatan pasien tanpa sepengetahuan dan seizin dari atasan mereka sebelumnya. Karena tindakan yang dilakukan tanpa izin tersebut, mereka dianggap telah melakukan penentangan terhadap atasan.

Sehingga menyebabkan kemarahan dari atasan yang berujung pada terjadinya konflik.

Selain itu, konflik diperparah karena prilaku atasan yang tamak dan semena- mena-mena. Ambisi sang atasan untuk meraih kekuasaan dan kedudukan setinggi- tingginya telah merubah dirinya menjadi pribadi yang egois, licik, dan sama sekali tidak peduli dengan kondisi orang lain, termasuk pasien dan bawahannya sendiri. Yang terpenting baginya adalah keselamatan diri sendiri, walaupun untuk mendapatkannya ia harus mengorbankan orang lain. Oleh karena itu, apa pun tindakan yang dianggap akan membahayakan kedudukannya, sekalipun tindakan itu adalah untuk keselamatan nyawa pasiennya sendiri, ia akan melarangnya. Ulah atasan yang tidak bermoral inilah yang menambah kebencian bawahannya, yaitu Ryutaro Asada bersama teman-temannya. Sehingga mereka tidak hanya melakukan penentangan, tetapi juga berencana untuk menjatuhkan kekuasaan sang atasan yang diktator dengan cara merebut kekuasaan

Dokumen terkait