BAB II LANDASAN TEORI
D. Konformitas Teman Sebaya
1. Pengertian Konformitas Teman Sebaya
Konformitas merupakan menampilkan suatu tindakan karena orang lain juga melakukannya (Sears, dkk, 1999). Konformitas terjadi apabila individu mengadopsi sikap atau perilaku orang lain karena merasa didesak oleh orang lain. Desakan untuk conform pada teman-teman sebaya cenderung sangat kuat selama masa remaja. Teman-teman sebaya (peers) adalah anak-anak atau remaja yang memiliki usia atau tingkat kematangan yang kurang lebih sama (Santrock, 2007)..
commit to user
Konformitas terhadap desakan kawan-kawan sebaya dapat bersifat positif ataupun negatif. Remaja belasan tahun dapat terlibat dalam semua jenis perilaku konformitas yang bersifat negatif-menggunakan bahasa gaul, mencuri, melakukan perusakan, serta mempermainkan orang tua dan guru. Meskipun demikian, terdapat banyak bentuk konformitas kawan-kawan sebaya yang tidak bersifat negatif dan lebih merupakan keinginan untuk tergabung dalam dunia yang sama dengan kawan-kawan seperti berpakaian seperti kawan-kawan dan ingin meluangkan waktu bersama para anggota klik. Situasi semacam itu mungkin melibatkan aktivitas-aktivitas prososial, seperti kelompok yang mengumpulkan dana untuk tujuan mulia (Santrock, 2007).
Piaget dan Sullivan dalam Santrock (2007) menekankan bahwa melalui interaksi dengan kawan-kawan sebaya, anak-anak dan remaja mempelajari modus relasi yang timbal balik secara simetris. Anak-anak mengeksplorasi prinsip-prinsip kesetaraan dan keadilan melalui pengalaman mereka ketika menghadapi perbedaan pendapat dengan teman-teman sebaya. Mereka juga belajar mengamati dengan tajam minat dan sudut pandang teman-temannya agar mereka dapat mengintegrasikan minat dan sudut pandangnya sendiri dalam aktivitas yang berlangsung bersama teman-teman. Selain itu Sullivan juga berpendapat bahwa ketika menjalin persahabatan yang karib dengan teman-teman terpilih, remaja dapat belajar untuk menjadi mitra yang lebih terampil dan peka. Selanjutnya, keterampilan ini akan berguna dalam pembentukan basis ketika menjalin relasi pacaran dan perkawinan di masa selanjutnya.
commit to user
Sebaliknya, terdapat sejumlah ahli teori yang menekankan pengaruh negatif dari kawan-kawan sebaya bagi perkembangan anak dan remaja. Bagi beberapa remaja, pengalaman ditolak atau diabaikan dapat membuat mereka merasa kesepian dan bersikap bermusuhan. Di samping itu, pengalaman ditolak dan diabaikan oleh teman-teman sebaya berkaitan dengan masalah kesehatan mental dan masalah kejahatan di masa selanjutnya (Kupersmidt & DeRosier, 2004 dalam Santrock, 2007). Beberapa ahli teori juga menyatakan bahwa budaya teman-teman sebaya dapat mempengaruhi remaja untuk menyepelekan nilai-nilai dan kendali orang tua terhadap mereka. Di samping itu, teman-teman sebaya dapat memperkenalkan remaja kepada alkohol, minuman keras, kenakalan serta bentuk-bentuk lain dari perilaku yang dianggap maladaptif oleh orang dewasa (Santrock, 2007).
Berdasarkan uraian diatas, konformitas teman sebaya dimaknai sebagai suatu tindakan yang dilakukan individu sesuai dengan nilai-nilai yang dianut oleh teman sebayanya baik yang bersifat positif maupun negatif.
2. Faktor konformitas teman sebaya
Ada beberapa faktor konformitas teman sebaya, yaitu (Sears, dkk, 2005): a. Kurangnya informasi
Orang lain merupakan sumber informasi yang penting. Sering kali mereka mengetahui sesuatu yang kita tidak ketahui; dengan melakukan apa yang mereka lakukan kita akan memperoleh manfaat dari pengetahuan mereka. Tingkat konformitas yang didasarkan pada informasi ditentukan
commit to user
oleh dua aspek situasi: Sejauh mana mutu informasi yang dimiliki orang lain tentang apa yang benar? Dan sejauh mana kepercayaan diri kita terhadap penilaian kita sendiri?
- Kepercayaan terhadap kelompok
Dalam situasi konformitas, individu mempunyai suatu pandangan dan kemudian menyadari bahwa kelompoknya menganut pandangan yang bertentangan. Individu ingin memberikan informasi yang tepat. Oleh karena itu, semakin besar kepercayaan individu terhadap kelompok sebagai sumber informasi yang benar, semakin besar pula kemungkinan untuk menyesuaikan diri terhadap kelompok. - Kepercayaan yang lemah terhadap penilaian sendiri
Sisi yang lain adalah bahwa sesuatu yang meningkatkan kepercayaan individu terhadap penilaiannya sendiri akan menurunkan konformitas. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi rasa percaya diri dan tingkat konformitas adalah tingkat keyakinan orang tersebut pada kemampuannya sendiri untuk menampilkan suatu reaksi.
b. Rasa takut terhadap celaan sosial
Alasan utama konformitas yang kedua adalah demi memperoleh persetujuan, atau menghindari celaan kelompok. Sejumlah faktor yang akan menentukan bagaimana pengaruh persetujuan dan celaan ini terhadap tingkat konformitas individu, diantaranya :
- Rasa rakut terhadap penyimpangan - Kekompakan kelompok
commit to user
- Kesepakatan kelompok - Ukuran kelompok
- Keterikatan pada penilaian bebas - Keterikatan terhadap nonkonformitas
Rakhmat (2005) membagi faktor-faktor konformitas menjadi faktor personal dan faktor situasional (dalam Pratiwi, dkk, 2010).
1. Faktor situasional yang menentukan perilaku konformitas, adalah : a. Kejelasan situasi
b. Konteks situasi
c. Cara individu menyatakan penilaian dan perilakunya d. Karakteristik sumber pengaruh
e. Ukuran kelompok
f. Tingkat kesepakatan kelompok
2. Faktor personal yang mempengaruhi konformitas adalah : a. Usia b. Jenis kelamin c. Stabilitas emosional d. Otoritarianisme e. Kecerdasan f. Motivasi g. Harga diri
commit to user
Berdasarkan uraian di atas, maka faktor-faktor konformitas yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada teori yang dikemukakan oleh Sears,dkk (2005) dan Rakhmat (dalam Pratiwi,dkk, 2010) yang meliputi kurangnya informasi, rasa takut terhadap celaan social, faktor situasional dan faktor personal.
3. Aspek-Aspek Konformitas Teman Sebaya
Sears, dkk (1999) menjelaskan aspek-aspek konformitas sebagai berikut : a. Kekompakan
Konformitas dipengaruhi oleh eratnya hubungan antara individu dengan kelompoknya. Individu akan tertarik dan tetap menjadi anggota dari suatu kelompok jika merasa dekat dengan anggota kelompok lain dan mempunyai keinginan yang kuat untuk menjadi anggota kelompok. Semakin besar rasa suka anggota yang satu terhadap anggota yang lain, dan semakin besar harapan untuk memperoleh manfaat dari keanggotaan kelompok, serta semakin besar kesetiaan mereka, akan semakin kompak kelompok itu.
b. Kesepakatan
Apabila suatu keputusan telah dibuat oleh kelompok, maka individu akan mendapatkan tekanan yang kuat untuk menyesuaikan pendapatnya dengan kelompok. Tekanan yang kuat dari kelompok inilah yang membuat kesepakatan dalam kelompok terjadi.
commit to user
c. Ketaatan
Remaja akan melakukan apapun yang diinginkan kelompok meskipun dia tidak menginginkan hal tersebut. Tekanan yang kuat dari kelompok membuat remaja rela melakukan apapun yang diinginkan kelompoknya. Semakin tinggi ketaatannya, semakin tinggi pula konformitasnya dengan kelompok.
Turner membagi konformitas menjadi dua aspek, yaitu (dalam Pratiwi, dkk, 2010):
a. Aspek normative, aspek ini mengungkap adanya perbedaan atau penyesuaian persepsi, keyakinan maupun tindakan individu sebagai akibat dari pemenuhan penghargaan positif kelompok agar memperoleh persetujuan, disukai dan terhindar dari penolakan.
b. Aspek informative, aspek ini mengungkap adanya perubahan atau penyesuaian persepsi, keyakinan, maupun perilaku individu sebagai akibat dari adanya pengaruh menerima pendapat kelompok.
Berdasarkan uraian di atas, maka aspek-aspek konformitas teman sebaya yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada teori yang dikemukakan oleh Sears, dkk (1999) serta Turner (dalam Pratiwi, dkk, 2010) yang meliputi aspek kekompakan, aspek kesepakatan, aspek ketaatan, sedangkan aspek normative dan aspek informative disatukan karena hampir sama.
commit to user