• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

C. Persepsi Pola Asuh Otoriter

1. Pengertian Persepsi

Persepsi dalam bahasa Inggris perception berasal dari bahasa Latin perception; dari percipere, yang artinya menerima atau mengambil. Persepsi dalam arti sempit ialah penglihatan, bagaimana cara seseorang melihat sesuatu sedangkan dalam arti luas ialah pandangan atau pengertian, yaitu bagaimana seseorang memandang atau mengartikan sesuatu. Menurut DeVito (dalam Sobur, 2003), persepsi adalah proses ketika kita menjadi sadar akan banyaknya stimulus yang mempengaruhi indra kita. Gulo (dalam Sobur, 2003) mendefinisikan persepsi sebagai proses seseorang menjadi sadar akan segala sesuatu dalam lingkungannya melalui indra-indra yang dimilikinya. Rakhmat (dalam Sobur, 2003) menyatakan bahwa persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.

commit to user 2. Pengertian Pola Asuh Otoriter

Pola asuh terdiri dari dua kata yaitu pola dan asuh. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pola berarti corak, model, sistem, cara kerja, bentuk (struktur) yang tetap. Sedangkan kata asuh dapat berarti menjaga (merawat dan mendidik) anak kecil, membimbing (membantu; melatih dan sebagainya), dan memimpin (mengepalai dan menyelenggarakan) satu badan atau lembaga. Lebih jelasnya, kata asuh adalah mencakup segala aspek yang berkaitan dengan pemeliharaan, perawatan, dukungan, dan bantuan sehingga orang tetap berdiri dan menjalani hidupnya secara sehat. Menurut Baumrind (dalam Santrock, 2003) terdapat empat gaya pengasuhan orang tua yaitu pengasuhan orang tua yang bergaya otoritatif, pengasuhan orang tua yang bergaya melalaikan, pengasuhan orang tua yang memanjakan dan pengasuhan orang tua yang bergaya otoritarian (otoriter).

Santrock (2003) menyatakan bahwa pola asuh otoriter (authoritarian parenting) adalah gaya yang membatasi dan bersifat menghukum yang mendesak remaja untuk mengikuti petunjuk orang tua dan untuk menghormati pekerjaan dan usaha. Orang tua yang bersifat otoriter membuat batasan dan kendali yang tegas terhadap remaja dan hanya melakukan sedikit komunikasi verbal. Pola asuh otoriter berkaitan dengan perilaku sosial remaja yang tidak cakap. Remaja yang dibesarkan oleh orang tua yang otoritarian sering kali cemas terhadap perbandingan sosial, kurang memperlihatkan inisiatif, dan memiliki keterampilan berkomunikasi yang buruk. Pola asuh otoriter mempunyai karakteristik anak

commit to user

penakut, pendiam, tertutup, tidak berinisiatif, gemar menentang, suka melanggar norma, berkepribadian lemah, cemas, dan menarik diri.

Menurut Baumrind (dalam Papalia,dkk,2009), orang tua yang otoritarian (authoritarian) adalah orang tua yang menghargai kontrol dan kepatuhan tanpa banyak tanya. Mereka berusaha membuat anak mematuhi set standar perilaku dan menghukum mereka secara tegas jika melanggarnya. Mereka lebih mengambil jarak dan kurang hangat dibanding orang tua yang lain. Anak mereka cenderung menjadi lebih tidak puas, menarik diri, dan tidak percaya terhadap orang lain. Peneliti telah menemukan bahwa para orang tua Afrika-Amerika memiliki kecenderungan lebih tinggi dibanding para orang tua Latin-kulit putih dalam menggunakan hukuman fisik. Meskipun demikian, penggunaan hukuman fisik berkaitan dengan masalah anak yang lebih bersifat eksternal seperti sangat bertingkah dan tingkat agresinya yang tinggi pada keluarga-keluarga kulit putih nonlatin namun tidak pada keluarga-keluarga Afrika-Amerika (Santrock, 2007).

Pola asuh yang otoriter akan terjadi komunikasi atau dimensi satu arah. Orang tua menentukan aturan-aturan dan mengadakan pembatasan-pembatasan terhadap perilaku anak yang boleh dan tidak boleh dilaksanakannya. Anak harus tunduk dan patuh terhadap orang tuanya, anak tidak dapat mempunyai pilihan lain. Orang tua memerintah dan memaksa tanpa kompromi. Anak melakukan perintah orang tua karena takut, bukan karena suatu kesadaran bahwa apa yang dikerjakan itu akan bermanfaat bagi kehidupannya kelak. Orang tua memberikan tugas dan menentukan berbagai aturan tanpa memperhitungkan keadaan anak, keinginan anak, keadaan khusus yang melekat pada individu anak yang

berbeda-commit to user

beda antara anak yang satu dengan yang lain. Perintah yang diberikan berorientasi pada sikap keras orang tua, sikap keras merupakan suatu keharusan bagi orang tua. Sebab tanpa sikap keras ini anak tidak akan melaksanakan tugas dan kewajibannya.

Dalam Desmita (2007), Baumrind menyebutkan bahwa pengasuhan otoriter adalah suatu gaya pengasuhan yang membatasi dan menuntut anak untuk mengikuti perintah-perintah orang tua. Otang tua yang otoriter menetapkan batas-batas yang tegas dan tidak member peluang yang besar bagi anak-anak untuk mengemukakan pendapat. Orang tua otoriter juga cenderung bersikap sewenang-wenang dan tidak demokratis dalam membuat keputusan, memaksakan peran-peran atau pandangan-pandangan kepada anak atas dasar kemampuan dan kekuasaan sendiri, serta kurang menghargai pemikiran dan perasaan mereka. Anak dari orang tua yang otoriter cenderung bersifat curiga pada orang lain dan merasa tidak bahagia dengan dirinya sendiri, merasa canggung berhubungan dengan teman sebaya, canggung menyesuaikan diri pada awal masuk sekolah dan memiliki prestasi belajar yang rendah dibandingkan dengan anak-anak lain.

Pola asuh otoriter dipilih karena orang tua dengan gaya pengasuhan ini akan mengendalikan perilaku remaja tanpa memberi remaja suatu peluang untuk mengemukakan pendapat, sehingga menghambat pencapaian identitas. Orang tua yang terlalu menuntut anaknya untuk selalu mengikuti segala kemauannya akan membuat anak frustasi sehingga anak bila berada di luar rumah akan bertindak seenaknya dan berperilaku agresi.

commit to user 3. Pengertian Persepsi Pola Asuh Otoriter

Persepsi dalam arti sempit ialah penglihatan, bagaimana cara seseorang melihat sesuatu sedangkan dalam arti luas ialah pandangan atau pengertian, yaitu bagaimana seseorang memandang atau mengartikan sesuatu. Gulo (dalam Sobur, 2003) mendefinisikan persepsi sebagai proses seseorang menjadi sadar akan segala sesuatu dalam lingkungannya melalui indra-indra yang dimilikinya. Rakhmat (dalam Sobur, 2003) menyatakan bahwa persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.

Santrock (2003) menyatakan bahwa pola asuh otoriter (authoritarian parenting) adalah gaya yang membatasi dan bersifat menghukum yang mendesak remaja untuk mengikuti petunjuk orang tua dan untuk menghormati pekerjaan dan usaha. Baumrind (dalam Papalia,dkk,2009), orang tua yang otoritarian (authoritarian) adalah orang tua yang menghargai kontrol dan kepatuhan tanpa banyak tanya. Mereka berusaha membuat anak mematuhi set standar perilaku dan menghukum mereka secara tegas jika melanggarnya. Mereka lebih mengambil jarak dan kurang hangat dibanding orang tua yang lain. Anak mereka cenderung menjadi lebih tidak puas, menarik diri, dan tidak percaya terhadap orang lain.

Berdasarkan uraian diatas, persepsi pola asuh otoriter dimaknai sebagai bagaimana remaja memandang atau mengartikan pola pengasuhan anak yang diterapkan orang tua yang ditandai dengan control terhadap anak yang tinggi, rendah kehangatan dalam hubungan antara orang tua dan anak, pengekangan akan

commit to user

kebebasan dan atau inisiatif anak, dan pengutamaan pada kepatuhan orang tua, bahkan dengan menggunakan hukuman fisik.

4. Karakteristik Pola Asuh Otoriter

Hurlock (1993) mengemukakan karakteristik pola asuh otoriter, yaitu: 1. Anak harus tunduk dan patuh pada kehendak orang tua

2. Pengontrolan orang tua pada tingkah laku anak sangat ketat hampir tidak pernah memberi pujian

3. Sering memberikan hukuman fisik jika terjadi kegagalan memenuhi standar yang telah ditetapkan orang tua

4. Pengendalian tingkah laku melalui kontrol eksternal

Sedangkan Syamsu (2004) mengemukakan karakteristik pola asuh otoriter, yaitu :

1. Sikap “acceptance” orang tua rendah, namun kontrolnya tinggi 2. Orang tua suka menghukum secara fisik

3. Orang tua bersikap mengomando (mengharuskan/ memerintah anak untuk melakukan sesuatu tanpa kompromi)

4. Orang tua bersikap kaku (keras)

5. Orang tua cenderung emosional dan bersikap menolak

5. Aspek-Aspek Pola Asuh Otoriter

Kohn (1971) mengemukakan aspek-aspek dalam pola asuh orang tua antara lain pemberian disiplin, komunikasi, pemenuhan kebutuhan, dan

commit to user

pandangan terhadap remaja. Aspek-aspek pola asuh otoriter disesuaikan berdasarkan kesimpulan dari masing-masing aspek pola asuh sebagai berikut :

a. Pemberian disiplin

Orang tua yang otoriter menekankan disiplin pada anak dengan gaya yang bersifat menghukum dan membatasi dimana orang tua sangat berusaha agar remaja mengikuti pengarahan yang diberikan dan menghormati pekerjaan dan usaha-usaha yang telah dilakukan orang tua. Orang tua otoriter menerapkan batasan-batasan kepada mereka untuk berdialog secara verbal (Santrock, 2007). Syamsu (2004) orang tua dengan kedisiplinan yang tinggi akan mudah memberikan hukuman dan menanamkan kedisiplinan secara keras sehingga anak menjadi impulsif, tidak dapat mengambil keputusan, nakal, memiliki sikap bermusuhan atau agresif.

b. Komunikasi

Dalam pola asuh yang otoriter terjadi komunikasi atau dimensi satu arah. Orang tua menentukan aturan-aturan dan mengadakan pembatasan-pembatasan terhadap perilaku anak yang boleh dan tidak boleh dilaksanakannya. Anak harus tunduk dan patuh terhadap orang tuanya sehingga anak tidak mempunyai pilihan lain. Orang tua memerintah dan memaksa tanpa kompromi.

c. Pemenuhan kebutuhan

Keluarga yang secara psikologis tidak sehat sering kali terpaku pada kendali orang tua yang berorientasi pada kekuasaan dan bahkan orang tua

commit to user

cenderung berinteraksi dengan lebih otoriter kepada remajanya (Santrock, 2007). Dalam hal pemenuhan kebutuhan, anak kurang memiliki otonomi sehingga segala kebutuhan yang diperlukan oleh anak ditentukan sepenuhnya oleh orang tua.

d. Pandangan terhadap remaja

Orang tua yang otoriter memandang bahwa anak mereka masih seperti anak kecil sehingga orang tua mempunyai otoritas untuk mengambil keputusan apapun yang menyangkut anak mereka.

Berdasarkan uraian di atas, maka aspek-aspek persepsi pola asuh otoriter yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada teori yang dikemukakan oleh Kohn (1971) yang meliputi aspek pemberian disiplin, aspek komunikasi, aspek pemenuhan kebutuhan dan aspek pandangan terhadap remaja.

Dokumen terkait