BAB II. LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
2. Konseling
a. Pengertian konseling
Konseling yang berasal dari bahasa Inggris “counseling”, pengertiannya dapat dilihat dari segi bahasa dan dari segi layanan profesional. Dari segi bahasa, konseling terkait dengan kata counsel yang berarti nasihat (to obtain counsel), anjuran (to give counsel), dan pembicaraan (to take counsel). Dari segi layanan profesional, konseling memiliki deskriptif yang dikemukakan oleh para ahlinya di dalam literatur profesional Amerika. Definisi konseling dapat dipandang sebagai komunikasi antar pribadi (relationship), sebagai proses yang dilalui (process), dan sebagai pertemuan tatap muka (face to face relationship) (Sutarno, 2008).
Burks dan Stefflre dalam Yuridah (2009) menyatakan bahwa konseling merupakan suatu hubungan profesional antara seorang konselor dan seorang klien. Hubungan ini biasanya dilakukan orang per orang. Hubungan dirancang untuk membantu klien memahami dan memperjelas pandangan hidupnya, belajar mencapai tujuan yang ditentukan sendiri melalui pilihan-pilihan yang bermakna dan penyelesaian masalah emosional atau antar pribadi.
commit to user
American Psychological Association (APA) memberi batasan konseling sebagai suatu proses untuk membantu individu mengatasi hambatan-hambatan perkembangan pribadinya dan mencapai perkembangan kemampuan pribadi yang dimiliki secara optimal. Konseling adalah suatu hubungan timbal balik antara konselor dan klien yang bersifat profesional baik secara individu ataupun kelompok, yang dirancang untuk membantu konseli mencapai perubahan yang berarti dalam kehidupan (Yuridah, 2009).
b. Macam-macam konseling
Menurut Latipun (2003), macam-macam konseling yang bisa diberikan kepada klien, antara lain :
1) Konseling berpusat pada person, yang memandang klien sebagai
partner dan memerlukan keserasian pengalaman pada pasien maupun konselor dan keduanya perlu mengemukakan pengalamannya saat hubungan berlangsung.
2) Konseling rasional emotif behavior atau cognitive behavior therapy, yang menangani masalah-masalah yang berhubungan dengan emosi, kognisi, dan perilaku.
3) konseling behavior, merupakan proses konseling dengan
upaya-upaya pengubahan perilaku mulai dari kegagalan individu untuk belajar merespon secara adaptif hingga mengatasi gejala neurotik.
commit to user
14
4) Konseling realitas, memandang individu pada perilaku dengan standar yang objektif yang dikatakan dengan realistik. konseling ini berfokus pada perilaku, personal, dan pada saat ini.
5) Konseling eklektik, merupakan konseling yang menggunakan data klien sebagai studi secara individual yang meliputi keseluruhan kehidupan sehari-hari yang terus mengalami perubahan sesuai masalah dan situasinya.
6) Konseling kelompok, salah satu bentuk konseling dengan
memanfaatkan kelompok untuk membantu, memberi umpan balik dan pengalaman belajar. lebih memfokuskan menangani klien yang mengalami gangguan neurotik atau problem emosional berat lain dan dilakukan untuk jangka panjang.
7) Konseling keluarga, merupakan penerapan konseling yang
secara khusus memfokuskan pada masalah-masalah yang berhubungan dengan situasi keluarga dan penyelenggaraannya melibatkan keluarga.
c. Pengertian konseling eklektik
Konseling eklektik merupakan konseling yang menggunakan data klien sebagai studi secara individual yang meliputi keseluruhan kehidupan sehari-hari yang terus mengalami perubahan sesuai masalah dan situasinya (Latipun, 2003). Sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Prochaska pada tahun 1984 dalam Nugroho (2012) bahwa konseling eklektik merupakan penerapan fungsi
commit to user
psikologi untuk memecahkan masalah personal, dengan menerapkan prinsip khusus yang ditetapkan berdasar masalah khusus yang dipecahkan. Atau dapat juga dikatakan bahwa konseling eklektik berpegang teguh pada pandangan teoritis dan pendekatan (approach) yang merupakan perpaduan dari berbagai unsur yang diambil.
d. Asumsi dasar tentang konseling eklektik
Latipun (2003) menyatakan bahwa eklektik memiliki sejumlah asumsi dasar yang berkaitan dengan proses konseling, asumsi dasar itu adalah tidak ada sebuah teori yang dapat menjelaskan seluruh situasi klien, dan pribadi konselor adalah faktor penting akan keberhasilan konseling pada berbagai tahap proses konseling. Berangkat dari asumsi dan fakta ini maka konseling eklektik tidak mendukung secara eksklusif mengikuti teori tertentu. Eklektik didasarkan pada prinsip umum untuk memahami dan menggunakan teori dan strategi serta teknik konseling sesuai dengan situasi nyata. Asumsi-asumsi di atas ditunjang oleh kenyataan berikut:
1) Tidak ada dua klien atau situasi klien yang sama. 2) Klien adalah pihak yang paling mengerti problemanya.
3) Kepuasan klien lebih diutamakan diatas pemenuhan kebutuhan konselor.
4) Konselor menggunakan keseluruhan sumber profesional dan
personal yang tersedia dalam situasi pemberian bantuan (konseling).
commit to user
16
5) Konselor dan proses konseling dapat salah dan dapat tidak mampu untuk melihat secara jelas atau cepat berhasil dalam setiap konseling atau situasi klien.
6) Secara umum, efektifitas konseling adalah proses yang
dikerjakan dengan klien bukan kepada atau untuk klien. e. Tujuan konseling eklektik
Konseling eklektik mengutamakan aspek kondisi psikologis sebagai fokus sentral yang lain dari kepribadian. Tujuan konseling eklektik adalah membantu klien mengembangkan integritasnya pada level tertinggi, yang ditandai oleh adanya aktualisasi diri dan integritas yang memuaskan. Untuk mencapai tujuan yang ideal ini maka klien perlu dibantu untuk menyadari sepenuhnya situasi masalahnya, mengajarkan klien secara sadar dan intensif memiliki latihan pengendalian di atas masalah tingkah laku. Eklektik berfokus pada tingkah laku, tujuan, masalah, dan sebagainya. Konselor dalam mencapai tujuan ini dapat berperan secara bervariasi, misalnya sebagai konselor, psikiater, guru, konsultan, fasilitator, mentor, advisor, atau pelatih (Latipun, 2003).
f. Tahapan konseling eklektik
Menurut Nugroho (2012), pelaksanaan konseling eklektik tidak ada suatu tahapan yang spesifik. Untuk tahapan-tahapan konseling, Carkhuff mengemukakan ada enam tahapan konseling eklektik. Enam tahapan tersebut adalah :
commit to user
1) Tahapan eksplorasi
Tahapan ini adalah tahap awal dari proses konseling. Pada tahap ini diharapkan untuk membangun hubungan yang baik dengan klien. Hal ini diperlukan karena dengan hubungan yang baik konselor dapat mencari informasi tentang permasalahan yang dihadapi klien sebanyak-banyaknya.
2) Tahapan perumusan masalah
Bersama klien, konselor membuat rumusan dan membuat kesepakatan bersama tentang masalah apa yang dihadapi oleh klien. Jika rumusan tidak disepakati maka kembali ke tahap pertama.
3) Tahap identifikasi masalah
Pada tahap ini konselor dan klien bersama mengidentifikasi masalah dan alternatif masalah dari hasil perumusan masalah. Alternatif yang diidentifikasi adalah alternatif yang tepat dan realistik. Konselor tidak boleh menentukan alternatif mana yang akan digunakan, tetapi semua keputusan tentang penggunaan alternatif pemecahan masalah berada di tangan klien. Konselor hanya membantu dalam menyusun daftar alternatif.
4) Tahap perencanaan
Jika klien telah menentukan alternatif pemecahan masalah. Kemudian klien bersama konselor membuat rencana tindakan. Rencana tersebut antara lain tentang apa yang dilakukan,
commit to user
18
bagaimana caranya, kapan waktunya, dan sebagainya. Syarat rencana yang baik adalah realistik, bertahap, mempunyai tujuan yang jelas, dan dapat dipahami oleh klien.
5) Tahap tindakan atau komitmen
Pada tahap selanjutnya hasil perencanaan kemudian dilaksanakan. Di sini klien harus melakukan rencana yang telah disusun. Pelaksanaan ini harus dilakukan karena proses konseling akan sia-sia jika perencanaan yang telah disusun sedemikian rupa tidak dilaksanakan.
6) Tahap penilaian dan umpan-balik
Konselor dan klien perlu mendapatkan umpan balik dan penilaian tentang keberhasilannya. Jika dirasa gagal maka perlu adanya tinjauan atau perencanaan ulang dalam memberi tindakan terhadap masalah yang dihadapi klien sehingga dapat dicari suatu tindakan yang paling tepat untuk menghadapi masalah yang dihadapi oleh klien.
g. Faktor-faktor yang mempengaruhi konseling
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan
konseling menurut Luddin (2010) adalah :
1) Usia klien
Klien berusia dewasa dimungkinkan lebih sulit dilakukan modifikasi persepsi tingkahlakunya dibandingkan dengan klien
commit to user
berusia belasan tahun, karena berhubungan dengan fleksibilitas kepribadiannya.
2) Jenis kelamin
Jenis kelamin terutama berkaitan dengan perilaku model. Faktor modelling sangat penting dalam upaya pembentukan tingkah laku baru.
3) Tingkat pendidikan
Pendidikan seseorang mempengaruhi cara pandangnya terhadap diri dan lingkungan, sehingga akan berbeda cara menyikapi proses berlangsungnya konseling pada klien yang berpendidikan tinggi dengan yang berpendidikan rendah.
4) Inteligensi
Inteligensi pada prinsipnya adalah kemampuan penyesuaian diri dan cara pengambilan keputusan klien yang berinteligensi tinggi akan banyak berpartisipasi lebih cepat dan tepat dalam membuat suatu keputusan.
5) Status sosial ekonomi
Status sosial dan ekonomi berpengaruh terhadap tingkah laku, individu yang berasal dari keluarga dengan status ekonomi yang baik akan mempunyai sikap dan pandangan yang positif tentang masa depannya dibandingkan keluarga yang status ekonominya rendah.
commit to user
20
6) Sosial budaya
Yang termasuk dalam sosial budaya adalah pandangan keagamaan dan kelompok etnis.
h. Indikator keberhasilan konseling eklektik
Norma atau patokan yang dipegang oleh Thorne dalam Nugroho (2012), klien dikatakan telah berhasil dalam menjalani proses konseling eklektik apabila klien :
1) Mampu mengungkapkan perasaan-perasaan dan motif-motifnya
secara lebih memadai.
2) Mampu mengatur dirinya sendiri dengan lebih baik.
3) Memandang dirinya sendiri dan lingkungan hidupnya secara lebih realistik.
4) Mampu berpikir lebih rasional dan logis.
5) Mengembangkan nilai-nilai dan sikap-sikap yang lebih selaras dan lebih konsisten yang satu dengan yang lain.
6) Mengatasi penipuan diri dengan meninggalkan penggunaan berbagai mekanisme pertahanan diri.
7) Menunjukkan tanda-tanda lebih mampu mandiri dan bertindak secara lebih dewasa.
3. Infertilitas