commit to user
PENGARUH PEMBERIAN KONSELING EKLEKTIK TERHADAP
TINGKAT KECEMASAN PADA PASANGAN YANG
MENGALAMI INFERTILITAS
KARYA TULIS ILMIAH
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan
Memperoleh Gelar Sarjana Sains Terapan
Oleh:
TIARA FATMA KUMALA
R0108042
PROGRAM STUDI D IV BIDAN PENDIDIK FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
commit to user
ii
HALAMAN PERSETUJUAN
KARYA TULIS ILMIAH
PENGARUH PEMBERIAN KONSELING EKLEKTIK TERHADAP
TINGKAT KECEMASAN PADA PASANGAN YANG
MENGALAMI INFERTILITAS
Oleh:
TIARA FATMA KUMALA
R0108042
Telah disetujui oleh Pembimbing untuk diujikan di hadapan Tim Penguji
Pada Tanggal 3 Juli 2012
Pembimbing Utama
(Aditya Nanda Priyatama, S.Psi., M.Si.)
NIP.19781022 200501 002
Pembimbing Pendamping
(Erindra Budi Cahyanto, S.Kep., Ns., M.Kes.)
NIP.19780220 200501 1 001
Ketua Tim STUDI KASUS
(Erindra Budi Cahyanto, S.Kep., Ns., M.Kes.)
commit to user
iii
HALAMAN PENGESAHANAN
KARYA TULIS ILMIAH
PENGARUH PEMBERIAN KONSELING EKLEKTIK TERHADAP
TINGKAT KECEMASAN PADA PASANGAN YANG
MENGALAMI INFERTILITAS
Oleh:
TIARA FATMA KUMALA
R0108042
Telah dipertahankan dan disetujui di hadapan Tim Penguji KTI
Program Studi D IV Bidan Pendidik Fakultas Kedokteran UNS
Pada Hari Kamis, 12 Juli 2012
Pembimbing Utama
Erindra Budi C., S.Kep., Ns., M.Kes.
NIP. 19780220 200501 1 001
Ketua Program Studi D IV Bidan
Pendidik FK UNS
H. Tri Budi Wiryanto, dr., Sp.OG. (K)
commit to user
vi
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan
hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah yang
berjudul : “Pengaruh Pemberian Konseling Eklektik terhadap Tingkat Kecemasan
pada Pasangan yang Mengalami Infertilitas”.
Karya tulis ilmiah ini diajukan sebagai salah satu persyaratan untuk
memperoleh gelar sarjana sains terapan Program Studi D IV Bidan Pendidik
Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini penulis banyak mengalami
hambatan dan rintangan, namun penulis banyak menerima bantuan dari berbagai
pihak. Pada kesempatan ini, perkenankanlah penulis menyampaikan ucapan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak H. Tri Budi Wiryanto, dr., Sp.OG. (K), Ketua Program Studi D IV
Bidan Pendidik Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta
yang telah mendukung dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini.
2. Ibu Sri Mulyani, S.Kep., Ns., M.Kes., Sekretaris Program Studi D IV Bidan
Pendidik Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta yang
telah memberikan ijin untuk menyusun karya tulis ilmiah ini.
3. Bapak Aditya Nanda Priyatama, S.Psi., M.Si., sebagai dosen pembimbing
utama yang telah meluangkan waktu dan pikiran serta dengan sabar dan
penuh tanggung jawab dalam memberikan bimbingan, motivasi dan
commit to user
vii
4. Bapak Erindra Budi Cahyanto, S.Kep., Ns., M.Kes., sebagai dosen
pembimbing pendamping yang dengan sabar telah mencurahkan waktu dan
pikiran untuk memberikan bimbingan dan dorongan selama penulis
menyusun karya tulis ilmiah ini.
5. Bapak Drs. Hardjono, M.Si., sebagai ketua penguji yang telah memberikan
saran dan masukan yang sangat berharga demi sempurnanya karya tulis ini.
6. Ibu Ropitasari, S.Si.T., M.Kes., sebagai sekretaris yang telah memberikan
saran dan masukan untuk kebaikan karya tulis ilmiah ini.
7. Seluruh dosen D IV Bidan Pendidik Fakultas Kedokteran Universitas
Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan bekal ilmu kepada penulis.
8. Ibu dan bapak tercinta serta keluarga yang telah mendukung dan mendoakan
penulis.
9. Teman-teman Mahasiswa Program Studi D IV Bidan Pendidik Fakultas
Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta yang selalu bersama dalam
suka maupun duka menjalani pendidikan.
Semoga amal dan kebaikan semua pihak tersebut mendapatkan imbalan
dari Allah SWT. Penulis mengharapkan kritik, saran dan petunjuk yang bersifat
membangun dari pembaca.
Akhirnya dengan segala kerendahan hati, penulis berharap semoga karya
tulis ilmiah ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak.
Surakarta, Juli 2012
commit to user
iv ABSTRAK
Tiara Fatma Kumala. R0108042. 2012. Pengaruh Pemberian Konseling Eklektik terhadap Tingkat Kecemasan pada Pasangan yang Mengalami
Infertilitas. Program Studi D IV Bidan Pendidik Fakultas Kedokteran
Universitas Sebelas Maret. Surakarta
Latar Belakang : Di Kelurahan Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar didapatkan 20 pasangan infertilitas, tiga dari lima pasangan yang ditemui mengatakan cemas dengan keadaannya. Sehingga penelitian ini sangatlah diperlukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian konseling eklektik terhadap tingkat kecemasan pada pasangan yang mengalami infertilitas.
Metode Penelitian : Quasi experimental dengan desain one group pretest posttest. Sampel berjumlah 18 pasangan suami isteri yang mengalami infertilitas, teknik pengambilan sampel simple random sampling. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner TMAS (Taylor Manifest Anxiety Scale). Analisis data dengan menggunakan paired t test dengan taraf signifikansi 5 % .
Hasil Penelitian : Mayoritas umur responden menyebar dalam rentang 20-35 tahun. Sebanyak 18 orang menyatakan bahwa lama pernikahan mereka > 5 tahun. Semua responden menyatakan belum pernah hamil dan belum mempunyai anak. Rata-rata tingkat kecemasan awal (pretest) 25,17 dan rata-rata tingkat kecemasan akhir (posttest) 23,08. Hasil analisis dengan paired t-test menunjukkan p = 0,001.
Simpulan : Ada pengaruh pemberian konseling eklektik terhadap tingkat kecemasan pada pasangan yang mengalami infertilitas, p = 0,001 (p < 0,05).
commit to user
v ABSTRACT
Tiara Fatma Kumala. R0108042. 2012. The Influence of Eclectic Counseling for Anxiety Levels in Infertile Couples. D IV Study Program of Midwife Educators. Faculty of Medicine. Sebelas Maret University. Surakarta
Background : In the Village Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar there were 20 infertile couples, three out of five who encountered said worried by the situation. So, this study was needed. The purpose of this study was to determine the influence of eclectic counseling for anxiety levels in infertile couples.
Research Methods : Quasi-experimental with one group pretest-posttest design. Sample of 18 infertile couples by simple random sampling. Measuring instrument used TMAS (Taylor Manifest Anxiety Scale) questionnaire. Analyzed data by a paired t-test with significance level of 5%.
Research Results : The majority of respondents age in the range of 20-35 years. 18 respondents said that their marriage status was more than 5 years. All respondents had never been pregnant and have not had children. The average level of initial anxiety (pretest) 25.17 and the average level of anxiety to the end (posttest) 23.08. The analysis by paired t-test showed p = 0.001.
Conclusion : There was an influence of eclectic counseling for the level of anxiety in infertile couples, p = 0.001 (p <0.05).
commit to user
viii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
ABSTRAK ... iv
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR BAGAN ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 4
C. Tujuan Penelitian ... 4
D. Manfaat Penelitian ... 5
BAB II. LANDASAN TEORI ... 7
A. Tinjauan Pustaka ... 7
1. Tingkat Kecemasan ... 7
a. Definisi ... 7
b. Faktor Penyebab ... 7
c. Mekanisme Terjadinya Kecemasan ... 8
d. Tingkat Kecemasan ... 9
commit to user
ix
2. Konseling ... 12
a. Pengertian Konseling ... 12
b. Macam-macam Konseling ... 13
c. Pengertian Konseling Eklektik ... 14
d. Asumsi Dasar tentang Konseling Eklektik ... 15
e. Tujuan Konseling Eklektik ... 16
f. Tahapan Konseling Eklektik ... 16
g. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konseling ... 18
h. Indikator Keberhasilan Konseling Eklektik ... 20
3. Infertilitas ... 20
a. Definisi ... 20
b. Klasifikasi ... 21
c. Etiologi ... 21
d. Penyebab Infertilitas pada Wanita ... 22
e. Prognosis ... 25
f. Pemeriksaan pada Pasangan Infertil ... 26
g. Penatalaksanaan ... 28
4. Pengaruh Konseling Eklektik terhadap Tingkat Kecemasan .. 35
B. Kerangka Konsep ... 36
C. Hipotesis ... 37
BAB III. METODE PENELITIAN ... 38
A. Jenis dan Desain Penelitian ... 38
B. Lokasi Penelitian ... 38
commit to user
x
D. Sampel dan Teknik Sampling ... 39
E. Besar Sampel ... 39
F. Kriteria Restriksi ... 40
G. Definisi Operasional Variabel ... 40
H. Cara Kerja ... 41
I. Analisis Data ... 43
BAB IV. HASIL PENELITIAN ... 47
A. Karakteristik Responden ... 47
B. Tingkat Kecemasan Sebelum dan Setelah Pemberian Konseling Ekletik ... 50
C. Analisis Pengaruh Pemberian Konseling Eklektik terhadap Tingkat Kecemasan pada Pasangan yang Mengalami Infertilitas 50 BAB V. PEMBAHASAN ... 53
BAB VI. PENUTUP ... 57
A. Simpulan ... 57
B. Saran ... 57
DAFTAR PUSTAKA
commit to user
xi
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Definisi Operasional Variabel ... 40
Tabel 2. Item Pernyataan Kuesioner ... 42
Tabel 3. Umur Responden ... 47
Tabel 4. Lama Pernikahan Responden ... 48
Tabel 5. Pendidikan Terakhir Responden ... 48
Tabel 6. Pekerjaan Responden ... 49
Tabel 7. Penghasilan Responden ... 49
Tabel 8. Jumlah Anak ... 49
Tabel 9. Skor Tingkat Kecemasan Responden ... 50
Tabel 10. Hasil uji Paired t test ... 52
commit to user
xii
DAFTAR BAGAN
Bagan 1. Diagram Pemeriksaan Infertilitas ... 27
Bagan 2. Skema Penatalaksanaan Infertilitas ... 34
commit to user
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Permohonan Ijin Penelitian dan Pengambilan Data
Lampiran 2. Surat Ijin Penelitian dari Kepala Desa Plesungan
Lampiran 3. Surat Penyataan Keaslian Penelitian
Lampiran 4. Lembar Konsultasi Pembimbing Utama
Lampiran 5. Lembar Konsultasi Pembimbing Pendamping
Lampiran 6. Jadwal Kegiatan Karya Tulis Ilmiah
Lampiran 7. Permohonan Menjadi Responden
Lampiran 8. Persetujuan Menjadi Responden
Lampiran 9. Kuesioner Penelitian
Lampiran 10. Identitas Responden
Lampiran 11. Rekapan Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Lampiran 12. Hasil Pretest
Lampiran 13. Hasil Posttest
Lampiran 14. Modul Pemberian Konseling Eklektik
Lampiran 15. Presensi Pelaksanaan Konseling Eklektik
Lampiran 16. Leaflet
Lampiran 17. Hasil Uji Normalitas Data
Lampiran 18. Hasil Uji Homogenitas Data
Lampiran 19. Hasil Uji Linearitas Data
Lampiran 20. Hasil Uji Paired t test
Lampiran 21. Daftar Riwayat Hidup
commit to user
1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menikah dan memiliki keturunan merupakan fase yang dijalani oleh
manusia dalam siklus kehidupannya. Memiliki keturunan sebagai penerus
generasi dirasakan sebagai suatu keharusan oleh sebagian masyarakat.
Keberadaan anak dianggap mampu menyatukan dan menjaga agar suatu
keluarga atau pernikahan tetap utuh (Wirawan, 2004).
Badan kesehatan dunia (WHO) memperkirakan sekitar 50-80 juta
pasangan mengalami kesulitan mendapatkan keturunan. Masalah infertil ini
tentu merisaukan, tidak hanya pasangan suami-isteri, juga keluarganya.
Diperkirakan sekitar 10-15% pasangan usia subur mengalami masalah
infertilitas (Yan dalam Napitupulu, 2011).
Sekitar satu dari 10 pasangan suami-isteri usia subur tidak bisa
memperoleh keturunan. Hingga akhir tahun 2009 tercatat sekitar 1,5 atau dua
juta pasangan mengalami masalah gangguan kesuburan atau infertilitas dari
total pasangan subur di Indonesia yang mencapai 15 juta. Berdasarkan sensus
penduduk di Indonesia, diperoleh angka ketidaksuburan suami istri yang
berkisar 12-25 % (Kompas, 2010).
Dokter yang mendalami Ilmu Infertilitas di Indonesia masih langka.
Kalaupun ada, masih terlampau sering belum menghayati kesedihan pasangan
commit to user
2
menahan perasaan ingin memiliki anak, bahkan ada yang berobat dari satu
dokter ke dokter yang lain karena kurang bimbingan dan penyuluhan tentang
pengelolaan pasangan infertilitas (Wiknjosastro, 2005).
Bagi sebagian orang, infertilitas merupakan hal yang sering dicemaskan
dan menjadi masalah yang serius. Istilah mandul/infertilitas dalam tradisi
masyarakat kita begitu menakutkan, terutama bagi wanita karena dianggap
sebagai vonis kegagalan fungsi kewanitaannya menjadi ibu (Alam, 2007).
Kecemasan yang dirasakan oleh pasangan infertilitas tersebut cukup
beralasan karena berbagai faktor. Sebagai contoh, dalam setiap pertemuan
keluarga, kerabat, dan kenalan, sudah dapat dipastikan pertanyaan akan
berkisar sekitar keadaan keluarga, berapa lama menikah, dan sudah berapa
jumlah anak. Bagi masyarakat Indonesia, pertanyaan semacam ini merupakan
hal yang wajar karena dalam sistem masyarakat Indonesia pasangan suami
istri merupakan bagian dari keluarga besar, sehingga hal ini seolah-olah
menjadi masalah bersama. Tekanan dari pihak luar seringkali yang menjadi
sumber masalah dalam hubungan suami-isteri. Pertanyaan itu selanjutnya
akan menjadi hal yang sensitif, apabila kemudian seorang wanita tak kunjung
hamil (Kasdu, 2002).
Sebuah kejadian mengerikan menimpa rumah tangga di Kanpur, India
Utara. Isteri dipaksa memakan pecahan kaca karena menolak diceraikan
suaminya. Alasan sang suami menceraikan isterinya karena sang isteri tidak
commit to user
hanya memaksa isterinya memakan pecahan kaca, sang suami juga diduga
melakukan tindak kekerasan terhadap istrinya (Republika, 2011).
Banyak klien yang membutuhkan konseling menginginkan
penyelesaian-penyelesaian yang membuat mereka tidak menderita karena kecemasan.
Meskipun usaha-usaha untuk menghindari kecemasan, misalnya dengan
menciptakan ilusi bahwa dalam hidup ini terdapat keamanan yang dapat
membantu kita mengatasi hal-hal yang tidak dikenal, kita sesungguhnya tahu
sampai taraf tertentu bahwa kita menipu diri. Kebanyakan orang mencari
bantuan profesional karena mereka mengalami kecemasan atau depresi.
Banyak klien yang memasuki kantor konselor disertai harapan bahwa
konselor akan mencabut penderitaan mereka atau setidaknya akan
memberikan formula tertentu untuk mengurangi kecemasan mereka (Corey,
2008).
Penelitian tentang tingkat kecemasan pada pasangan infertil pernah
dilakukan oleh Purba (2010) dari Universitas Sumatera Utara dengan judul :
“Kecemasan Pasangan Usia Subur terhadap Infertilitas Sekunder di Dusun XI
Desa Pasar Melintang Kecamatan Lubuk Pakem Tahun 2010”. Adapun
perbedaan penelitian tersebut dengan penelitian ini terletak pada desain
penelitian, penelitian tersebut menggunakan desain kualitatif fenomenologi,
sedangkan penelitian ini menggunakan desain quasi experimental. Untuk
jumlah partisipan juga berbeda, penelitian tersebut memakai enam pasang
commit to user
4
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di Kelurahan Plesungan,
Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, didapatkan data bahwa
terdapat 20 pasangan infertilitas. Peneliti menemui 5 (lima) dari 20 pasangan
tersebut, 3 (tiga) di antaranya mengatakan cemas dengan keadaannya (Data
Primer, 2012).
Oleh karena itu, peneliti tertarik mengadakan penelitian lebih dalam
untuk mengetahui pengaruh pemberian konseling eklektik terhadap tingkat
kecemasan pada pasangan yang mengalami infertilitas.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis dapat merumuskan
masalah penelitian yaitu : Apakah ada pengaruh pemberian konseling eklektik
terhadap tingkat kecemasan pada pasangan yang mengalami infertilitas?
C. Tujuan Penelitan
1. Tujuan umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian
konseling eklektik terhadap tingkat kecemasan pada pasangan yang
mengalami infertilitas.
2. Tujuan khusus
a. Untuk mengetahui tingkat kecemasan pasangan yang mengalami
commit to user
b. Untuk mengetahui tingkat kecemasan pasangan yang mengalami
infertilitas setelah diberikan konseling eklektik.
c. Untuk menganalisis pengaruh pemberian konseling eklektik terhadap
tingkat kecemasan pada pasangan yang mengalami infertilitas.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat teoritis
Diharapkan dapat memberikan masukan ilmiah mengenai kondisi
psikologis, khususnya kecemasan yang terjadi pada pasangan yang
mengalami infertilitas.
2. Manfaat aplikatif
a) Bagi responden
Penelitian ini diharapkan dapat mengurangi tingkat kecemasan
yang terjadi setelah diberikannya konseling eklektik.
b) Bagi profesi
Diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan informasi dan
selanjutnya sebagai bahan pertimbangan dalam upaya membantu,
mencegah, dan mengatasi kecemasan pada kasus infertilitas dengan
pemberian konseling eklektik. Profesi ini terkait dengan pihak-pihak
yang bertanggungjawab terhadap masalah kesehatan masyarakat
seperti bidan, dokter, atau tenaga kesehatan lainnya, psikolog,
commit to user
6
c) Bagi mahasiswa
Diharapkan dapat digunakan sebagai referensi untuk penelitian
selanjutnya yang terkait dengan pengaruh pemberian konseling
eklektik terhadap tingkat kecemasan pada pasangan yang mengalami
commit to user
7 BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
1. Tingkat kecemasan
a. Definisi
Kecemasan atau dalam bahasa Inggrisnya “anxiety” berasal dari
bahasa Latin “angustus” yang berarti kaku, dan “ango, anci” yang
berarti mencekik (Trismiati, 2004). Hawari (2008) mendefinisikan
kecemasan sebagai gangguan dalam perasaan yang ditandai dengan
perasaan ketakutan atau kekhawatiran yang mendalam dan
berkelanjutan, tidak mengalami gangguan dalam menilai realitas,
kepribadian masih tetap utuh, perilaku dapat terganggu tetapi masih
dalam batas-batas normal.
Kecemasan adalah perasaan yang tidak jelas dan tidak didukung
oleh situasi. Ketika merasa cemas, individu merasa tidak nyaman
atau takut atau mungkin memiliki firasat akan ditimpa malapetaka
padahal ia tidak mengerti mengapa emosi yang mengancam tersebut
terjadi. Tidak ada subjek yang dapat diidentifikasi sebagai stimulus
ansietas (Videbeck, 2008).
b. Faktor penyebab
Menurut Burham dalam Nurmelly (2010), sumber kecemasan
commit to user
8
1) Rasa harga diri yang mungkin terancam oleh keraguan akan
penampilan lahiriah.
2) Kesejahteraan pribadi yang mungkin terancam oleh
ketidakpastian akan masa depan.
3) Kesejahteraan yang terancam oleh berbagai konflik yang tidak
terpecahkan.
Adapun faktor yang berhubungan dengan kecemasan menurut
Stuart dan Sundeen (2007) adalah konflik yang tidak disadari tentang
nilai esensial dan tujuan hidup, ancaman pada konsep diri, ancaman
pada kematian, ancaman/perubahan status kesehatan,
ancaman/perubahan status sosioekonomi, peran fungsi, lingkungan,
pola interaksi, krisis situasi dan maturitas, dan kebutuhan yang tidak
terpenuhi.
c. Mekanisme terjadinya kecemasan
Seseorang yang mengalami stressor psikososial (perkawinan,
orang tua, antar pribadi, pekerjaan, lingkungan, keuangan, hukum,
perkembangan, penyakit fisik, faktor keluarga, dan trauma) yang
ditangkap melalui panca inderanya, melalui sistem saraf panca
indera akan diteruskan ke susunan saraf pusat otak, yaitu bagian
saraf otak yang disebut lymbic system, melalui transmisi saraf
(neurotransmitter/sinyal penghantar saraf). Dan selanjutnya stimulus
atau rangsangan psikososial tadi melalui susunan saraf autonom
commit to user
hormonal (endokrin) yang merupakan sistem imunitas tubuh dan
organ-organ tubuh yang dipersarafinya (Hawari, 2008).
Struktur kepribadian terdiri atas tiga elemen, yaitu : id, ego, dan
superego. Id melambangkan dorongan insting dan impuls primitif.
Superego mencerminkan hati nurani seseorang sedangkan ego atau
aku digambarkan sebagai mediator antara tuntutan dari id dan
superego. Berkaitan dengan sebab-sebab kecemasan, Freud
mengemukakan bahwa lemahnya ego akan menyebabkan ancaman
yang memicu munculnya kecemasan. Sumber ancaman terhadap ego
tersebut berasal dari dorongan yang bersifat insting dari id dan
tuntutan-tuntutan dari superego. Freud menyatakan bahwa ego
disebut sebagai eksekutif kepribadian karena ego mengontrol
pintu-pintu ke arah tindakan, memilih segi-segi lingkungan ke mana ia
akan memberikan respons, dan memutuskan insting-insting manakah
yang akan dipuaskan dan bagaimana caranya. Fungsi-fungsi
eksekutif ini dijalankan dengan mengintegrasikan tuntutan id,
superego, dan dunia luar yang sering bertentangan. Hal ini sering
menimbulkan tegangan berat pada ego dan menyebabkan timbulnya
kecemasan (Leod, 2005).
d. Tingkat Kecemasan
Peplau dalam Stuart dan Sundeen (2007) membagi tingkat
commit to user
10
1) Kecemasan ringan yang berhubungan dengan ketegangan dalam
kehidupan sehari-hari. Kecemasan ini menyebabkan individu
menjadi waspada dan meningkatkan lapang persepsinya.
Kecemasan ini dapat memotivasi belajar dan menghasilkan
pertumbuhan kreatifitas.
2) Kecemasan sedang yang memungkinkan individu untuk
berfokus pada hal yang penting dan mengesampingkan hal yang
lain. Kecemasan ini mempersempit lapang persepsi individu.
Dengan demikian, individu mengalami tindak perhatian yang
selektif namun dapat berfokus pada lebih banyak area jika
diarahkan untuk melakukannya.
3) Kecemasan berat yang sangat mengurangi lapang persepsi
individu. Cenderung berfokus pada sesuatu yang rinci dan
spesifik serta tidak berfikir tentang hal lain. Semua perilaku
ditunjukkan untuk mengurangi ketegangan. Individu tersebut
memerlukan banyak arahan untuk berfokus pada area lain.
4) Tingkat panik dari kecemasan berhubungan dengan terperangah,
ketakutan, dan teror. Hal yang rinci terpecah dari proporsinya,
karena mengalami kehilangan kendali, individu yang mengalami
panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan
arahan. Panik mencakup disorganisasi kepribadian dan
commit to user
berhubungan dengan orang lain, persepsi yang menyimpang,
dan kehilangan pemikiran yang rasional.
e. Gejala klinis
Menurut Bucklaw dalam Trismiati (2004), para ahli membagi
bentuk kecemasan itu menjadi dua tingkat, yaitu :
1) Tingkat psikologis
Kecemasan yang berwujud sebagai gejala-gejala kejiwaan
seperti tegang, bingung, khawatir, sukar berkonsentrasi,
perasaan tidak menentu, dan sebagainya.
2) Tingkat fisiologis
Kecemasan yang sudah mempengaruhi atau terwujud pada
gejala-gejala fisik, terutama pada fungsi saraf, misalnya tidak
dapat tidur, jantung berdebar-debar, gemetar, perut mual, dan
sebagainya.
Menurut Hawari (2008), keluhan yang sering dikemukakan oleh
orang yang mengalami kecemasan antara lain sebagai berukut :
1) Cemas, khawatir, firasat buruk, takut akan pikirannya sendiri,
dan mudah tersinggung.
2) Merasa tegang, tidak tenang, gelisah, dan mudah terkejut.
3) Takut sendirian, takut pada keramaian dan banyak orang.
4) Gangguan pola tidur dan mimpi-mimpi yang menegangkan.
commit to user
12
6) Keluhan-keluhan somatik, misalnya rasa sakit pada otot dan
tulang, pendengaran berdenging, berdebar-debar, sesak mafas,
gangguan pencernaan, gangguan perkemihan, sakit kepala dan
lain sebagainya.
2. Konseling
a. Pengertian konseling
Konseling yang berasal dari bahasa Inggris “counseling”,
pengertiannya dapat dilihat dari segi bahasa dan dari segi layanan
profesional. Dari segi bahasa, konseling terkait dengan kata counsel
yang berarti nasihat (to obtain counsel), anjuran (to give counsel),
dan pembicaraan (to take counsel). Dari segi layanan profesional,
konseling memiliki deskriptif yang dikemukakan oleh para ahlinya
di dalam literatur profesional Amerika. Definisi konseling dapat
dipandang sebagai komunikasi antar pribadi (relationship), sebagai
proses yang dilalui (process), dan sebagai pertemuan tatap muka
(face to face relationship) (Sutarno, 2008).
Burks dan Stefflre dalam Yuridah (2009) menyatakan bahwa
konseling merupakan suatu hubungan profesional antara seorang
konselor dan seorang klien. Hubungan ini biasanya dilakukan orang
per orang. Hubungan dirancang untuk membantu klien memahami
dan memperjelas pandangan hidupnya, belajar mencapai tujuan yang
ditentukan sendiri melalui pilihan-pilihan yang bermakna dan
commit to user
American Psychological Association (APA) memberi batasan
konseling sebagai suatu proses untuk membantu individu mengatasi
hambatan-hambatan perkembangan pribadinya dan mencapai
perkembangan kemampuan pribadi yang dimiliki secara optimal.
Konseling adalah suatu hubungan timbal balik antara konselor dan
klien yang bersifat profesional baik secara individu ataupun
kelompok, yang dirancang untuk membantu konseli mencapai
perubahan yang berarti dalam kehidupan (Yuridah, 2009).
b. Macam-macam konseling
Menurut Latipun (2003), macam-macam konseling yang bisa
diberikan kepada klien, antara lain :
1) Konseling berpusat pada person, yang memandang klien sebagai
partner dan memerlukan keserasian pengalaman pada pasien
maupun konselor dan keduanya perlu mengemukakan
pengalamannya saat hubungan berlangsung.
2) Konseling rasional emotif behavior atau cognitive behavior
therapy, yang menangani masalah-masalah yang berhubungan
dengan emosi, kognisi, dan perilaku.
3) konseling behavior, merupakan proses konseling dengan
upaya-upaya pengubahan perilaku mulai dari kegagalan individu untuk
belajar merespon secara adaptif hingga mengatasi gejala
commit to user
14
4) Konseling realitas, memandang individu pada perilaku dengan
standar yang objektif yang dikatakan dengan realistik. konseling
ini berfokus pada perilaku, personal, dan pada saat ini.
5) Konseling eklektik, merupakan konseling yang menggunakan
data klien sebagai studi secara individual yang meliputi
keseluruhan kehidupan sehari-hari yang terus mengalami
perubahan sesuai masalah dan situasinya.
6) Konseling kelompok, salah satu bentuk konseling dengan
memanfaatkan kelompok untuk membantu, memberi umpan
balik dan pengalaman belajar. lebih memfokuskan menangani
klien yang mengalami gangguan neurotik atau problem
emosional berat lain dan dilakukan untuk jangka panjang.
7) Konseling keluarga, merupakan penerapan konseling yang
secara khusus memfokuskan pada masalah-masalah yang
berhubungan dengan situasi keluarga dan penyelenggaraannya
melibatkan keluarga.
c. Pengertian konseling eklektik
Konseling eklektik merupakan konseling yang menggunakan
data klien sebagai studi secara individual yang meliputi keseluruhan
kehidupan sehari-hari yang terus mengalami perubahan sesuai
masalah dan situasinya (Latipun, 2003). Sesuai dengan teori yang
dikemukakan oleh Prochaska pada tahun 1984 dalam Nugroho
commit to user
psikologi untuk memecahkan masalah personal, dengan menerapkan
prinsip khusus yang ditetapkan berdasar masalah khusus yang
dipecahkan. Atau dapat juga dikatakan bahwa konseling eklektik
berpegang teguh pada pandangan teoritis dan pendekatan (approach)
yang merupakan perpaduan dari berbagai unsur yang diambil.
d. Asumsi dasar tentang konseling eklektik
Latipun (2003) menyatakan bahwa eklektik memiliki sejumlah
asumsi dasar yang berkaitan dengan proses konseling, asumsi dasar
itu adalah tidak ada sebuah teori yang dapat menjelaskan seluruh
situasi klien, dan pribadi konselor adalah faktor penting akan
keberhasilan konseling pada berbagai tahap proses konseling.
Berangkat dari asumsi dan fakta ini maka konseling eklektik tidak
mendukung secara eksklusif mengikuti teori tertentu. Eklektik
didasarkan pada prinsip umum untuk memahami dan menggunakan
teori dan strategi serta teknik konseling sesuai dengan situasi nyata.
Asumsi-asumsi di atas ditunjang oleh kenyataan berikut:
1) Tidak ada dua klien atau situasi klien yang sama.
2) Klien adalah pihak yang paling mengerti problemanya.
3) Kepuasan klien lebih diutamakan diatas pemenuhan kebutuhan
konselor.
4) Konselor menggunakan keseluruhan sumber profesional dan
personal yang tersedia dalam situasi pemberian bantuan
commit to user
16
5) Konselor dan proses konseling dapat salah dan dapat tidak
mampu untuk melihat secara jelas atau cepat berhasil dalam
setiap konseling atau situasi klien.
6) Secara umum, efektifitas konseling adalah proses yang
dikerjakan dengan klien bukan kepada atau untuk klien.
e. Tujuan konseling eklektik
Konseling eklektik mengutamakan aspek kondisi psikologis
sebagai fokus sentral yang lain dari kepribadian. Tujuan konseling
eklektik adalah membantu klien mengembangkan integritasnya pada
level tertinggi, yang ditandai oleh adanya aktualisasi diri dan
integritas yang memuaskan. Untuk mencapai tujuan yang ideal ini
maka klien perlu dibantu untuk menyadari sepenuhnya situasi
masalahnya, mengajarkan klien secara sadar dan intensif memiliki
latihan pengendalian di atas masalah tingkah laku. Eklektik berfokus
pada tingkah laku, tujuan, masalah, dan sebagainya. Konselor dalam
mencapai tujuan ini dapat berperan secara bervariasi, misalnya
sebagai konselor, psikiater, guru, konsultan, fasilitator, mentor,
advisor, atau pelatih (Latipun, 2003).
f. Tahapan konseling eklektik
Menurut Nugroho (2012), pelaksanaan konseling eklektik tidak
ada suatu tahapan yang spesifik. Untuk tahapan-tahapan konseling,
Carkhuff mengemukakan ada enam tahapan konseling eklektik.
commit to user
1) Tahapan eksplorasi
Tahapan ini adalah tahap awal dari proses konseling. Pada
tahap ini diharapkan untuk membangun hubungan yang baik
dengan klien. Hal ini diperlukan karena dengan hubungan yang
baik konselor dapat mencari informasi tentang permasalahan
yang dihadapi klien sebanyak-banyaknya.
2) Tahapan perumusan masalah
Bersama klien, konselor membuat rumusan dan membuat
kesepakatan bersama tentang masalah apa yang dihadapi oleh
klien. Jika rumusan tidak disepakati maka kembali ke tahap
pertama.
3) Tahap identifikasi masalah
Pada tahap ini konselor dan klien bersama mengidentifikasi
masalah dan alternatif masalah dari hasil perumusan masalah.
Alternatif yang diidentifikasi adalah alternatif yang tepat dan
realistik. Konselor tidak boleh menentukan alternatif mana yang
akan digunakan, tetapi semua keputusan tentang penggunaan
alternatif pemecahan masalah berada di tangan klien. Konselor
hanya membantu dalam menyusun daftar alternatif.
4) Tahap perencanaan
Jika klien telah menentukan alternatif pemecahan masalah.
Kemudian klien bersama konselor membuat rencana tindakan.
commit to user
18
bagaimana caranya, kapan waktunya, dan sebagainya. Syarat
rencana yang baik adalah realistik, bertahap, mempunyai tujuan
yang jelas, dan dapat dipahami oleh klien.
5) Tahap tindakan atau komitmen
Pada tahap selanjutnya hasil perencanaan kemudian
dilaksanakan. Di sini klien harus melakukan rencana yang telah
disusun. Pelaksanaan ini harus dilakukan karena proses
konseling akan sia-sia jika perencanaan yang telah disusun
sedemikian rupa tidak dilaksanakan.
6) Tahap penilaian dan umpan-balik
Konselor dan klien perlu mendapatkan umpan balik dan
penilaian tentang keberhasilannya. Jika dirasa gagal maka perlu
adanya tinjauan atau perencanaan ulang dalam memberi
tindakan terhadap masalah yang dihadapi klien sehingga dapat
dicari suatu tindakan yang paling tepat untuk menghadapi
masalah yang dihadapi oleh klien.
g. Faktor-faktor yang mempengaruhi konseling
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan
konseling menurut Luddin (2010) adalah :
1) Usia klien
Klien berusia dewasa dimungkinkan lebih sulit dilakukan
commit to user
berusia belasan tahun, karena berhubungan dengan fleksibilitas
kepribadiannya.
2) Jenis kelamin
Jenis kelamin terutama berkaitan dengan perilaku model.
Faktor modelling sangat penting dalam upaya pembentukan
tingkah laku baru.
3) Tingkat pendidikan
Pendidikan seseorang mempengaruhi cara pandangnya
terhadap diri dan lingkungan, sehingga akan berbeda cara
menyikapi proses berlangsungnya konseling pada klien yang
berpendidikan tinggi dengan yang berpendidikan rendah.
4) Inteligensi
Inteligensi pada prinsipnya adalah kemampuan penyesuaian
diri dan cara pengambilan keputusan klien yang berinteligensi
tinggi akan banyak berpartisipasi lebih cepat dan tepat dalam
membuat suatu keputusan.
5) Status sosial ekonomi
Status sosial dan ekonomi berpengaruh terhadap tingkah
laku, individu yang berasal dari keluarga dengan status ekonomi
yang baik akan mempunyai sikap dan pandangan yang positif
tentang masa depannya dibandingkan keluarga yang status
commit to user
20
6) Sosial budaya
Yang termasuk dalam sosial budaya adalah pandangan
keagamaan dan kelompok etnis.
h. Indikator keberhasilan konseling eklektik
Norma atau patokan yang dipegang oleh Thorne dalam Nugroho
(2012), klien dikatakan telah berhasil dalam menjalani proses
konseling eklektik apabila klien :
1) Mampu mengungkapkan perasaan-perasaan dan motif-motifnya
secara lebih memadai.
2) Mampu mengatur dirinya sendiri dengan lebih baik.
3) Memandang dirinya sendiri dan lingkungan hidupnya secara
lebih realistik.
4) Mampu berpikir lebih rasional dan logis.
5) Mengembangkan nilai-nilai dan sikap-sikap yang lebih selaras
dan lebih konsisten yang satu dengan yang lain.
6) Mengatasi penipuan diri dengan meninggalkan penggunaan
berbagai mekanisme pertahanan diri.
7) Menunjukkan tanda-tanda lebih mampu mandiri dan bertindak
secara lebih dewasa.
3. Infertilitas
a. Definisi
Infertilitas didefinisikan sebagai hilangnya kemampuan untuk
commit to user
sterilitas, yang merupakan ketidakmampuan absolut dan irreversibel
untuk hamil. Secara klinis, suatu pasangan diduga mengalami
infertilitas jika tidak terjadi kehamilan setelah koitus yang sering dan
tidak menggunakan kontrasepsi selama 12 bulan (Heffner, 2008).
Infertilitas adalah apabila sepasang suami istri setelah
bersenggama secara teratur (2-3x per minggu), tanpa memakai
metode pencegahan, belum mengalami kehamilan selama satu tahun
(Mansjoer, 2001).
b. Klasifikasi
Infertilitas terdiri dari :
1) Infertilitas primer
Apabila istri belum pernah hamil walaupun bersenggama
teratur selama 12 bulan (Wiknjosastro, 2005).
2) Infertilitas sekunder
Apabila istri pernah hamil, akan tetapi kemudian tidak
terjadi kehamilan lagi walaupun bersenggama teratur selama 12
bulan (Wiknjosastro, 2005).
c. Etiologi
Penyebab infertilitas 25-40% dari pihak suami, 40-55% dari
pihak istri, 10% dari keduanya, dan 10% merupakan faktor yang
tidak dapat dijelaskan (Bereks, 2002). Faktor-faktor yang mungkin
mempengaruhi infertilitas pada perempuan adalah faktor ovulasi
commit to user
22
imunologik 5-20%, dan faktor yang tidak dapat dijelaskan 10-25%.
Pada seperempat kasus, diyakini terdapat lebih dari satu faktor yang
terlibat (Llewellyn. 2001).
d. Penyebab infertilitas pada wanita
Penyebab utama infertilitas dari pihak wanita adalah kegagalan
ovulasi (15-20%), sumbatan pada tuba fallopii (50%), dan faktor
uterus (8-10%). Penyebab pada infertilitas sekunder tidaklah jauh
berbeda dengan infertilitas primer, biasanya kasus muncul setelah
adanya kehamilan, seperti gangguan hormonal, tumbuhnya tumor,
polip, endometriosis, dan sumbatan tuba (Nadesul, 2007).
1) Kegagalan ovulasi
Menurut Heffner (2008), penyebab infertilitas pada wanita
salah satunya adalah kegagalan ovulasi secara teratur. Pada
beberapa kasus tidak terjadi ovulasi sama sekali. Berbagai
gangguan yang menyebabkan oligoovulasi atau anovulasi adalah :
a) Disfungsi hipotalamus seperti kelainan berat badan dan
komposisi tubuh, latihan fisik yang berat, dan stres.
b) Penyakit pada hipofisis seperti hiperprolaktinemia.
c) Disfungsi ovarium seperti adanya sindrom ovarium polikistik.
Tidak adanya ovulasi dikarenakan tubuh tidak dapat membuat
hormon yang cukup atau terjadi ketidakseimbangan hormon.
Apabila seorang wanita mempunyai jarak/siklus menstruasi
commit to user
kesulitan ovulasi. Kadang-kadang tidak bisa menghasilkan sel
telur apabila berat badan turun secara drastis atau bila terlalu
gemuk (Burns, 2000).
Siklus haid yang teratur dan lama haid yang sama biasanya
merupakan siklus haid yang ber-ovulasi. Menurut Ogino, haid
berikutnya akan terjadi 14 ± 2 hari setelah ovulasi. Siklus haid
yang tidak teratur, dengan lama haid yang tidak sama, sangat
mungkin disebabkan oleh anovulasi. Kegagalan ovulasi juga
hampir selalu ada pada keadaan amenorea (Wiknjosastro, 2005).
2) Sumbatan pada tuba fallopii
Penyakit tuba fallopii biasanya merupakan akibat dari
pembentukan jaringan parut inflamasi pada tuba. Inflamasi ini
dapat disebabkan oleh penyakit radang panggul (pelvic
inflammatory disease), apendisitis dengan ruptur, aborsi septik,
pascaoperasi, dan kadang-kadang akibat penggunaan alat
kontrasepsi dalam rahim (Heffner, 2008).
Infeksi panggul atau riwayat kehamilan ektopik sebelumnya
menunjukkan adanya perlengketan. Dismenorea sekunder atau
nyeri panggul yang bersifat siklik juga perlu dicurigai adanya
endometriosis (Norwitz, 2007).
Endometriosis merupakan kelainan yang sering ditemukan,
ditandai oleh tumbuhnya kelenjar endometrium yang lepas ke luar
commit to user
24
tuba fallopii, dan kandung kemih. Jaringan tersebut berbiak dan
menebal menanggapi hormon estrogen, seperti yang terjadi di
tempatnya semula di dalam uterus. Jaringan ini menyerang organ
tempatnya melekat dengan menimbulkan jaringan parut yang
mengerut dan terasa nyeri, serta menghambat fungsi organ
tersebut (Alam, 2007).
3) Faktor uterus
Tumor (kista, kanker) atau jaringan fibrosa (fibroid, polip),
dan pemaparan radiasi dosis tinggi dapat menghalangi terjadinya
implantasi ovum yang telah dibuahi di endometrium. Selain itu,
adanya lendir serviks yang bersifat melawan sperma juga
merupakan gangguan yang dapat mencegah adanya fertilisasi
(Alam, 2007).
Masalah lain yang dapat mengganggu transportasi spermatozoa
melalui uterus adalah distorsi kavum uteri karena mioma atau
polip, peradangan endometrium, dan gangguan kontraksi uterus.
Kelainan-kelainan tersebut dapat mengganggu dalam hal
implantasi, pertumbuhan intrauterine, dan nutrisi serta oksigenasi
janin (Wiknjosastro, 2005).
4) Hambatan lain
Menurut Alam (2007) selain adanya kegagalan ovulasi,
sumbatan tuba, dan faktor uterus, adapula hambatan yang dapat
commit to user
a) Kecelakaan karena jatuh atau tertabrak kendaraan.
b) Cedera akibat olahraga berlebihan.
c) Kebiasaan mengangkat barang terlalu berat pada masa sebelum
haid atau setelah persalinan.
d) Kelainan bawaan (kongenital) berupa hymen/ selaput dara
yang terlalu kencang untuk penetrasi.
e) Ketidaksempurnaan (malformasi) berupa bergabungnya vulva,
tidak adanya vagina, uterus terbelah, atau tidak adanya uterus
dan serviks uteri.
e. Prognosis
Wiknjosastro (2005) mengemukakan dalam bukunya Ilmu
Kandungan tentang hasil penyelidikan Dor et al. menunjukkan
bahwa kasus infertilitas primer terdapat penurunan tetap prognosis
kehamilan setelah umur 30 tahun. Pada infertilitas sekunder terdapat
juga penurunan, akan tetapi tidak securam seperti infertilitas primer.
Penyelidikan tersebut selanjutnya mengemukakan bahwa pasangan
yang belum mempunyai anak selama 3 (tiga) tahun kurang,
prognosis kehamilannya masih baik. Akan tetapi, apabila lamanya
infertilitas 5 (lima) tahun lebih, prognosisnya buruk. Oleh karena itu,
pasangan infertil dianjurkan untuk tidak menunda pemeriksaan dan
pengobatan infertilitas selama 3 (tiga) tahun lebih. Prognosis
commit to user
26
lamanya dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan yaitu frekuensi
senggama dan lamanya pernikahan.
f. Pemeriksaan pada pasangan infertil
Antara 1 dalam 8 pasangan mengalami kesulitan untuk hamil.
Sebelum pemeriksaan dimulai, pasangan tersebut diberikan anjuran
untuk melukukan hubungan seksual teratur 2-3x seminggu, dan
nasihat tentang merokok dan minuman beralkohol yang juga
mempengaruhi kesuburan. Biasanya kehamilan akan terjadi sekitar
90% dalam kurun waktu satu tahun, tergantung pada usia wanita
(Glasier, 2006).
Adapun syarat-syarat pemeriksaan pasangan infertil menurut
Kurniawati (2009) adalah sebagai berikut:
1) Isteri yang berumur antara 20-30 tahun baru akan diperiksa
setelah berusaha untuk mendapat anak selama 12 bulan.
Pemeriksaan dapat dilakukan lebih dini apabila pernah
mengalami keguguran berulang, diketahui mengidap kelainan
endokrin, pernah mengalami peradangan rongga panggul atau
rongga perut, dan pernah mengalami bedah ginekologik.
2) Isteri yang berumur antara 31-35 tahun dapat diperiksa pada
kesempatan pertama pasangan itu datang ke dokter.
3) Isteri pasangan infertil yang berumur antara 36-40 tahun hanya
akan diperiksa kalau belum mempunyai anak dari pernikahan
commit to user
4) Pemeriksaan infertilitas tidak dilakukan pada pasangan infertil
yang salah satu anggota pasangan mengidap penyakit yang
dapat membahayakan kesehatan isteri atau anaknya.
Adapun pemeriksaan infertilitas dapat digambarkan dengan
diagram pemeriksaan sebagai berikut :
commit to user
28
g. Penatalaksanaan
Untuk penatalaksanaan infertilitas pertama-tama harus diketahui
terlebih dahulu penyebab utamanya. Setelah itu barulah bisa
dilakukan perbaikan. Mungkin diperlukan obat untuk memacu
ovulasi, dan memperbaiki kualitas sperma, atau tindakan
pembedahan untuk menghilangkan sumbatan pada tuba fallopii dan
gangguan lainnya (Alam, 2007).
1) Medikamentosa
a) Vitamin
Vitamin E (membantu menormalkan produksi hormon
dengan memperbaiki sistem endokrin), vitamin A
(meningkatkan kadar progesteron), vitamin C (membantu
meningkatkan sekresi progesteron, pertumbuhan folikel,
dan korpus luteum), dan asam folat (membantu proses
fertilisasi dan kehamilan) (Alam, 2007).
Untuk pria, nutrisi pun sangat diperlukan karena sperma
rentan terhadap kerusakan radikal bebas yang diduga
bertanggungjawab untuk banyak kasus hitung sperma
rendah. Antioksidan seperti vitamin C, betakaroten,
selenium, dan vitamin E terbukti sangat penting melindungi
kerusakan sperma. Nutrisi lain yang diperlukan adalah
vitamin B12 yang defisiensinya menyebabkan penurunan
commit to user
b) Pil KB
Dietil stillbestrol (DES) yang diberikan dengan dosis
0,1-0,2 mg per hari dimulai pada hari ke-5 sampai ke-20
dari siklus haid dapat meningkatkan kualitas dan
meningkatkan jumlah lendir serviks. Akan tetapi, pemberian
DES dengan dosis seperti itu dapat juga menghambat
terjadinya ovulasi (Wiknjosastro, 2005).
2) Induksi ovulasi
Obat-obat ini diperlukan untuk mengatasi gangguan ovulasi.
Berikut ini adalah obat-obat yang telah dianggap berhasil, yaitu:
a) Klomifen sitrat (clomiphene)
Klomifen atau kloramifen adalah obat yang pertama
diberikan dokter jika mencurigai terjadinya kegagalan
ovulasi. Klomifen bekerja terhadap hipotalamus, yang
meningkatkan kadar FSH dan LH serum setelah makan
obat. Peningkatan kadar gonadotropin itu cukup untuk
mematangkan folikel dan membuat puncak FSH dan LH
pada hari ke-9 yang mengakibatkan ovulasi. Kalau ada haid,
klomifen sitrat diberikan pada hari ke-5 sampai hari ke-9
selama lima hari. Kalau tidak ada haid, dibuatkan dulu
perdarahan surut dengan pemberian 5 mg noretisteron, 2x1
selama lima hari, dan pemberian klomifen dimulai pada hari
commit to user
30
Dosis permulaan klomifen ialah 50 mg per hari selama lima
hari, dan ovulasi biasanya terjadi pada hari ke-4 sampai hari
ke-10 setelah tablet terakhir dimakan (Wiknjosastro, 2005).
Wiknjosastro (2005) menyatakan bahwa terdapat empat
kemungkinan hasil pengobatan klomifen :
(1) Terjadi ovulasi. Maka, pengobatan diulangi dengan
dosis yang sama.
(2) Hanya terjadi pematangan folikel, mungkin dengan
ovulasi terlambat atau dengan defek korpus luteum.
Maka, pengobatan diulangi dengan dosis yang sama.
Kalau hasilnya tetap sama, dosis selanjutnya tetap
ditingkatkan.
(3) Terjadi pematangan folikel tanpa terjadinya ovulasi.
Maka, pengobatan diulangi dengan dosis yang sama
ditambah suntikan HCG (3000-5000 UI) selama lima
sampai tujuh hari setelah dosis klomifen terakhir
dimakan.
(4) Tidak ada reaksi sama sekali. Maka, dosis klomifen
ditingkatkan pada setiap siklus, dimulai dengan 100mg
per hari selama lima hari dan berakhir dengan dosis
maksimal 200mg per hari selama lima hari.
Pengobatan klomifen berhasil menginduksi ovulasi pada
commit to user
Kesuksesan paling tinggi terjadi pada bulan-bulan pertama
terapi. Kegagalan fertilisasi dalam waktu enam siklus
klomifen dengan ovulasi mengharuskan evaluasi ulang
(Norwitz, 2007).
b) Pergonal (Ekstrak FSH dan LH)
Pergonal bekerja merangsang ovarium untuk
menghasilkan estrogen dan progesteron, hormon yang
menyiapkan uterus untuk mempersiapkan kehamilan.
Pergonal disuntikkan pada pasien dalam kondisi perawatan
rumah sakit yang terawasi. Dengan kontrol tersebut akan
menghasilkan satu atau dua sel telur, namun akibat
kekeliruan perhitungan mungkin saja tidak menghasilkan
satu sel telur pun. Kehamilan kembar dapat terjadi akibat
penggunaan obat infertilitas ini (Alam, 2007).
c) Bromokriptin (bromocriptine)
Norwitz (2007) menyatakan bahwa bromokriptin
diindikasikan untuk wanita dengan disfungsi ovulasi
hiperprolaktinemik akibat adenoma hipofisis yang
mensekresi prolaktin atau hiperprolaktinemia idiopatik.
Obat ini dapat menghambat sekresi prolaktin oleh hipofisis,
sehingga siklus menstruasi berjalan normal. Dosis awal 1,25
mg per hari dapat ditingkatkan setiap minggu dengan
commit to user
32
Obat ini akan mengembalikan menstruasi pada 90% wanita
dengan hiperprolaktinemia dan 80% diantaranya akan
hamil.
3) Terapi operatif
Jikalau infertilitas ternyata ada hubungannya dengan
masalah tuba yang tersumbat, maka pengobatan saja sangat
sedikit kemungkinan membawa hasil. Dalam hal memutuskan
pembedahan, pasangan yang bersangkutan harus
mempertimbangkan terlebih dahulu bagaimana kemungkinan
keberhasilannya, dan bagaimana reaksi mereka terhadap
kemungkinan kegagalan sama sekali. Indikasi pembedahan tuba
adalah tersumbatnya seluruh atau sebagian tuba sebagaimana
diperiksa dengan histerosalpingografi dan laparoskopi. Tujuan
pembedahan tuba adalah untuk memperbaiki dan
mengembalikan anatomi tuba dan ovarium seperti semula.
(Wiknjosastro, 2005).
Terdapat dua pilihan dan mana yang dipilih bergantung
pada keparahan tuba dan keinginan pasien. Pendekatan pertama
adalah mengusahakan membuat tuba fallopii menjadi paten
dengan menggunakan pembedahan mikro. Jika ujung fimbriae
tuba saja yang terhambat, dapat dilakukan salpingotomi atau
fimbriolisis. Hasilnya memungkinkan 40% wanita hamil dalam
commit to user
memerlukan anastomosis tuba, dengan angka keberhasilan tidak
lebih dari 20%, sedangkan melepaskan kembali ligasi tuba
angka kehamilan mencapai 60%. Karena hasil yang relatif buruk
(kecuali pelepasan kembali ligasi tuba), beberapa ahli
ginekologi melakukan pendekatan alternatif IVF (in vitro
fertilization) dengan petimbangan risiko kehamilan ektopik
lebih kecil dan kemungkinan melahirkan anak sehat lebih besar
commit to user
34
Secara singkat penatalaksanaan infertilitas dapat
digambarkan sebagai berikut :
PIHAK ISTRI: 2. Teknik hubungan seks.
3. Psikologis:impoten ejakulasio prekoks 4. Kelainan anatomis:
1. Kawin satu tahun. 2. Harmonis. 3. Evaluasi tuba patensi
- H. S. G. 2. Hidup tanpa anak. PENGOBATAN:
Medikamentosa: Terapi operatif suami istri: Induksi ovulasi: - Vitamin. - Melepaskan perlekatan. - Parlodel. - Pil KB (rebound efek) - Operasi rekonstruksi. - Klomifen.
- Hormonal.
KEHAMILAN RISIKO TINGGI: • Antenatal intensif.
Bagan 2
Skema Penatalaksanaan Infertilitas Sumber : Manuaba, 2001
Keterangan :
commit to user
4. Pengaruh Konseling Eklektik terhadap Tingkat Kecemasan
Mowrer (1953) menyatakan bahwa konseling berhubungan dengan
usaha mengatasi klien yang mengalami gangguan kecemasan biasa
(normal anxiety), dengan cara konseling ini pemberian bantuan terhadap
klien akan menumbuhkan identitasnya karena konseling ini bertujuan
memberikan support dan mendidik kembali (supportive dan
re-educative). Dengan demikian, diharapkan kecemasan yang timbul bisa
berkurang (Gunarsa, 2007).
Konseling adalah proses yang mengurangi gejala, memberikan
wawasan yang dapat membantu klien memahami dan menyelesaikan
masalah. Konseling ini sangat efektif dalam mengobati depresi dan
kecemasan (Leod, 2005).
Konseling merupakan salah satu cara yang tepat untuk membantu
mengatasi berbagai permasalahan dalam hidup. Konseling membantu
mengidentifikasi masalah, mencari solusi atau alternatif yang tepat dan
menyadarkan akan adanya potensi setiap manusia untuk dapat mengatasi
berbagai permasalahannya sendiri, karena pada dasarnya setiap manusia
pasti berkenalan dengan masalah, konflik, dan situasi yang tidak
menyenangkan terkait dengan diri sendiri, orang lain maupun lingkungan
sekitar di antaranya adalah perasaan sedih, kecewa, stres, depresi, merasa
commit to user
36
B. Kerangka Konsep
Berdasarkan teori yang telah dikemukakan dalam tinjauan pustaka dapat
digambarkan kerangka konsep sebagai berikut :
commit to user
C. Hipotesis
Ada pengaruh pemberian konseling eklektik terhadap tingkat kecemasan
commit to user
38 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Desain Penelitian
Jenis penelitian ini adalah quasi experimental dengan desain penelitian
one group pretest posttest.
O1 = pengamatan sebelum intervensi
X = intervensi
O2 = pengamatan setelah intervensi
B. Lokasi Penelitian
1. Tempat penelitian
Penelitian ini dilakukan di Desa Plesungan Kecamatan Gondangrejo,
Kabupaten Karangnyar.
2. Waktu penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April- Juni 2012.
C. Populasi Penelitian
1. Populasi Target
Pada penelitian ini, populasi targetnya adalah pasangan suami isteri
yang mengalami infertilitas di Desa Plesungan.
commit to user
2. Populasi Aktual
Pada penelitian ini, populasi aktualnya adalah pasangan suami isteri
yang mengalami infertilitas dan tinggal menetap di Desa Plesungan serta
berada di tempat saat penelitian.
D. Sampel dan Teknik Sampling
Penelitian ini menggunakan teknik simple random sampling yaitu teknik
pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa
memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu.
E. Besar Sampel
Menurut Notoatmodjo (2010), untuk populasi kecil atau lebih kecil dari
10.000, dapat menggunakan formula seperti berikut:
n = N
1 + N (d )
Keterangan :
N : besar populasi
n : besar sampel
d : tingkat kepercayaan/ ketepatan yang diinginkan, biasanya 0,05.
Pada penelitian ini besar populasi yang ada adalah 20 pasangan suami
isteri yang mengalami infertilitas atau 40 orang. Dengan menggunakan rumus
commit to user
40
F. Kriteria Restriksi
1. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah :
a. Pasangan suami isteri yang melakukan hubungan seksual secara
teratur 2-3x seminggu selama satu tahun belum terjadi kehamilan.
b. Pasangan suami isteri yang tidak menggunakan alat kontrasepsi jenis
apa pun.
c. Bersedia menjadi responden.
2. Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah :
a. Pasangan suami isteri yang sulit diajak komunikasi (mempunyai
keterbatasan atau berkebutuhan khusus).
b. Pasangan suami isteri yang mempunyai gangguan kejiwaan berat.
G. Definisi Operasional Variabel
Tabel 1. Definisi Operasional Variabel
Variabel Definisi
Operasional Alat ukur Cara Ukur Skala
commit to user
H. Cara Kerja
1. Intervensi
Penelitian pengaruh pemberian konseling eklektik terhadap tingkat
kecemasan pada pasangan yang mengalami infertilitas dilaksanakan dalam
beberapa tahap yaitu :
a. Tahap Persiapan
Tahap ini meliputi studi pendahuluan, penyusunan proposal
termasuk instrumen penelitian, dan perijinan.
b. Tahap Pelaksanaan
Pemberian konseling eklektik dilakukan dengan rincian sebagai
berikut :
1) Melakukan pretest dengan kuesioner T-MAS (Taylor Manifest
Anxiety Scale) sebelum dilakukan konseling.
2) Memberikan konseling eklektik dengan tahapan sebagai berikut :
a) Tahapan eksplorasi
b) Tahapan perumusan masalah
c) Tahap identifikasi masalah
d) Tahap perencanaan
e) Tahap tindakan atau komitmen
f) Tahap penilaian
3) Melakukan postest dengan kuesioner T-MAS (Taylor Manifest
commit to user
42
c. Tahap Penyusunan Laporan
Pada tahap ini membuat laporan karya tulis ilmiah berdasarkan data
yang telah diperoleh dan dilanjutkan dengan seminar hasil penelitian.
2. Instrumentasi
a. Tingkat kecemasan
1) Alat ukur
Kecemasan diukur dengan menggunakan Taylor Manifest Anxiety
Scale (T-MAS). T-MAS merupakan alat ukur baku atau standar bagi
kecemasan dan diterima secara internasional. Alat ukur dengan
menggunakan kuesioner yang terdiri dari 50 butir pernyataan yang
tergolong menjadi dua kategori, yaitu :
Tabel 2. Item Pernyataan Kuesioner Item pernyataan
Sumber : Azwar, 2007
Klien diberikan kuesioner kemudian diberikan penjelasan
bagaimana pengisian kuesioner tersebut. Apabila kondisi klien tidak
memungkinkan, kuesioner akan dibacakan atau dipandu oleh orang
commit to user
dan saat akhir penelitian. Skor dinilai berdasar jawaban untuk
tiap-tiap pernyataan favourable, skor 1 apabila menjawab ya, dan skor 0
apabila menjawab tidak. Untuk pernyataan unfavourable diberikan
skor 0 apabila menjawab ya, dan skor 1 apabila menjawab tidak.
Skor akhir yaitu jumlah skor total. Skor kecemasan dinyatakan
dengan angka, rentang 1-50. Seseorang dikatakan cemas apabila skor
lebih dari 22, apabila skor lebih kecil atau sama dengan 22 maka
dikatakan tidak cemas (Azwar, 2007).
2) Cara pengambilan data
Cara pengambilan data secara langsung dari responden (data
primer) dengan cara mengisi kuesioner yang diberikan peneliti.
b. Konseling Eklektik
1) Alat ukur
Pada penelitian ini, alat ukur yang digunakan adalah presensi.
Setiap responden penelitian yang telah diberikan konseling eklektik
diwajibkan mengisi daftar presensi yang telah disediakan.
2) Cara pengambilan data
Cara pengambilan data secara langsung dari responden (data
primer) dengan cara wawancara seputar kondisi responden.
I. Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan alat bantu komputer dan langkah-langkah
commit to user
44
1. Pengolahan Data
a. Editing
Upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang diperoleh atau
dikumpulkan.
b. Coding
Kegiatan pemberian kode numerik (angka) terhadap data yang terdiri
atas beberapa kategori. Pemberian kode ini sangat penting bila
pengolahan dan analisis data menggunakan komputer
c. Data Entry
Kegiatan memasukkan data yang telah dikumpulkan ke dalam master
tabel atau database komputer kemudian membuat distribusi frekuensi
sederhana atau dengan membuat tabel kontingensi.
2. Analisis Data
a. Analisis univariat
Pada penelitian ini adalah karakteristik responden yang meliputi umur,
lama pernikahan, pendidikan terakhir, pekerjaan, penghasilan, dan
jumlah anak.
b. Analisis bivariat
Adapun uji yang digunakan sebelum dilakukan uji paired t-test adalah :
1) Uji normalitas
Dalam penelitian ini dilakukan Shapiro Wilk test karena jumlah
sampel yang digunakan kurang dari 50, dikatakan normal apabila p
commit to user
2) Uji homogenitas
Dalam penelitian ini dilakukan Levene’s test, data tersebut
dikatakan berasal dari populasi yang bervarian homogen apabila p
> 0,05.
3) Uji linearitas
Uji linearitas data menggunakan Test of Linearity dengan nilai
signifikansi dari Deviation of Linearity, apabila nilai tersebut lebih
dari 0,05 berarti bahwa garis regresi tersebut berbentuk linear.
Jika memenuhi syarat, maka dipilih uji t berpasangan (paired t
test). Jika tidak memenuhi syarat (data tidak berdistribusi normal)
dilakukan transformasi data terlebih dahulu. Jika variabel baru hasil
transformasi berdistribusi normal, maka dipakai uji t berpasangan
(paired t test). Jika variabel baru hasil transformasi tidak berdistribusi
commit to user
47 BAB IV
HASIL PENELITIAN
Penelitian dilakukan untuk mengamati pengaruh pemberian konseling
eklektik terhadap tingkat kecemasan pada pasangan yang mengalami infertilitas di
Desa Plesungan, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar. Penelitian
dilakukan dengan cara mengetahui tingkat kecemasan awal (pretest) kemudian
diberikan konseling eklektik dan dilanjutkan dengan test akhir (posttest). Adapun
hasil penelitian sebagai berikut :
A. Karakteristik Responden
1. Umur
Karakteristik responden berdasarkan umur dapat dilihat dalam tabel
berikut ini :
Tabel 3. Umur Responden
Sumber : Data Primer, 2012
Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa mayoritas umur
responden menyebar dalam rentang 20-35 tahun.
2. Lama Pernikahan
Karakteristik responden berdasarkan lama pernikahan dapat dilihat dalam
tabel berikut ini :
Umur Frekuensi %
< 20 tahun 1 2,77
20-35 tahun 20 55,56
> 35 tahun 15 41,67
commit to user
Tabel 4. Lama Pernikahan Responden
Lama
Pernikahan Frekuensi %
1-3 tahun 12 33,33
3-5 tahun 6 16,67
> 5 tahun 18 50
Total 36 100
Sumber : Data Primer, 2012
Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa setengah dari jumlah
responden yaitu 18 responden menyatakan bahwa lama pernikahan
mereka > 5 tahun.
3. Pendidikan Terakhir
Karakteristik responden berdasarkan pendidikan terakhir dapat dilihat
dalam tabel berikut ini :
Tabel 5. Pendidikan Terakhir Responden
Pendidikan Frekuensi %
Tidak Sekolah 4 11,11
Sumber : Data Primer, 2012
Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa pendidikan terakhir
mayoritas responden adalah SMA, sejumlah 15 responden (41,67%).
4. Pekerjaan
Karakteristik responden berdasarkan pekerjaan dapat dilihat dalam tabel
commit to user
49
Tabel 6. Pekerjaan Responden
Pekerjaan Frekuensi %
Buruh 14 38,89
IRT 3 8,33
Swasta 19 52,78
Total 36 100
Sumber : Data Primer, 2012
Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa pekerjaan mayoritas
responden adalah swasta, sejumlah 19 responden (52,78%).
5. Penghasilan
Karakteristik responden berdasarkan penghasilan adalah sebagai berikut :
Tabel 7. Penghasilan Responden
Penghasilan Frekuensi %
- 2 5,56
< Rp 500.000,00 9 25
Rp 500.000,00-Rp 1.000.000,00 14 38,89
Rp 1.000.000,00-Rp 3.000.000,00 11 30,55
Total 36 100
Sumber : Data Primer, 2012
Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa mayoritas responden
mempunyai penghasilan Rp 500.000,00-Rp 1.000.000,00 yaitu sebesar
14 responden (38,89%).
6. Jumlah Anak
Karakteristik responden berdasarkan pekerjaan dapat dilihat dalam tabel
berikut ini :
Tabel 8. Jumlah Anak Responden
Jumlah Anak Frekuensi %
Belum Punya 36 100
1 - 0,0
2 - 0,0
Total 36 100