• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3. Konsentrasi Bahan Fiksatif

Minyak atsiri juga dikenal dengan nama minyak mudah menguap atau minyak terbang. Menurut Encyclopedia of Chemical Technology minyak atsiri diartikan sebagai senyawa yang pada umumnya berwujud cairan yang diperoleh dari bagian tanaman, akar, kulit, batang, daun, buah dan biji maupun dari bunga dengan cara ekstraksi. Minyak atsiri mudah menguap pada suhu kamar tanpa mengalami dekomposisi, beraroma segar, rasa getir dan larut dalam pelarut organik. Minyak atsiri akan mengabsopsi oksigen dari udara sehingga akan berubah warna, aroma, dan kekentalan sehingga sifat kimia miyak atsiri tersebut akan berubah (Sastrohamidjojo 2002; Ketaren 1985; Luthony dan Rahmayanti 2000; Trubus 2009). Minyak atsiri merupakan campuran kompleks dari senyawa alkohol yang mudah menguap (volatil) dan dihasilkan sebagai metabolit sekunder pada tumbuhan. Minyak atsiri biasanya menentukan aroma khas tanaman (Nerio et al. 2010).

Minyak nilam merupakan bahan baku yang penting untuk industri wewangian dan kosmetika dengan sifat-sifat sebagai berikut: (a) sukar menguap dibanding dengan minyak atsiri lainnya dan (b) dapat dicampur dengan minyak eteris lainnya. Karena sifat-sifat inilah minyak nilam dipakai sebagai fiksatif (pengikat bau atau aroma) untuk industri wewangian, sabun dan kosmetika lainnya (Santoso 1990; Rusli 2010). Selanjutnya dikemukakan oleh Fitrah (2013) bahwa, gel pengharum ruangan yang menggunakan bahan fiksatif dari minyak nilam memiliki ketahanan wangi lebih lama dibandingkan dengan gel pengharum ruangan yang tidak menggunakan bahan fiksatif.

Guenther (1990) mengemukakan bahwa penggunaan minyak nilam dalam industri karena sifat daya fiksasinya yang cukup tinggi terhadap bahan pewangi lain agar aroma bertahan lama, sehingga dapat mengikat bau wangi dan mencegah penguapan zat pewangi. Komponen kimia penyusun minyak nilam terdiri atas dua golongan yaitu, golongan hidrokarbon yang berupa senyawa seskuiterpen, berjumlah sekitar 40-45% dari berat minyak dan golongan hidrokarbon beroksigen (oxygenated hydrocarbon) yang berjumlah sekitar 52-57% dari berat minyak.

Zat pengikat adalah suatu persenyawaan yang memiliki daya menguapan yang lebih rendah dari zat pewangi atau minyak atsiri dan dapat menghambat atau mengurangi kecepatan penguapan dari zat pewangi. Zat pengikat yang baik digunakan adalah zat pengikat yang mempunyai titik uap lebih tinggi dari titik uap zat pewangi, tidak berbau atau berbau wangi. Penambahan zat pengikat bertujuan untuk memfiksasi

bau dan mencegah agar komponen yang dapat menguap terutama zat pewangi jangan terlalu cepat menguap dan dapat dipertahankan dalam jangka waktu yang lebih lama (Ketaren 1985).

Fiksasi merupakan salah satu faktor yang paling penting dalam menentukan keberhasilan dan kegagalan komposisi parfum karena mendukung retensi aroma untuk pemakaian selama mungkin/dalam periode yang lama. Fiksatif adalah zat non-volatile yang digunakan untuk memperlambat laju penguapan komponen volatile wewangian. Zat tersebut membantu para pembuat parfum dalam penyempurnaan campuran wewangi ke tingkat/tarap tertinggi. Bahan baku yang digunakan untuk fiksasi dalam parfum dapat berupa bahan alami atau sintetis (Arctander 1994).

Selanjutnya dikemukakan pula oleh Arctander (1994), dalam wewangian, fiksatif adalah senyawa aromatik (seringkali lebih dari satu) yang berfungsi untuk memperlambat laju penguapan molekul aromatik dalam parfum. Aromatik yang berbeda akan menguap mulai dari permukaan bahan pada berbagai tingkatan yang berbeda, demikian pula pengetahuan tentang tingkat penguapan masing-masing senyawa aromatik adalah bagaimana menciptakan parfum yang baik adalah dengan menghasilkan parfume mulai dari tingkatan base note, middle note dan top note. Penguapan senyawa aromatik dalam wewangian parfume terjadi mulai dari top note kemudian setelah senyawa aromatik dalam parfume bagian top note habis menguap diikuti oleh senyawa aromatik yang terdapat pada bagian middle note dan tahapan terakhirnya adalah penguapan senyawa aromatik adalah bagian base note.

Minyak essensial menguap pada tingkat yang berbeda tergantung pada komponen kimianya. Minyak ringan (seperti kayu putih dan minyak jeruk) menguap dengan cepat, sedangkan minyak yang lebih berat (seperti nilam dan mur) menguap lebih lambat. Minyak essensial dengan penguapan lambat dapat digunakan sebagai bahan fiksatif, yang berarti minyak tersebut dapat membantu memperbaiki atau menahan aroma (memperlambat penguapan) dari minyak lain dalam campuran dan menjaga perubahan aroma terlalu banyak/cepat karena proases penguapan. Penggunaan kombinasi minyak esensial dengan volatilitas tinggi, sedang dan rendah dalam rangka menciptakan aroma yang seimbang dari awal sampai akhir pemakaian sangat menentukan hasil akhir produk yang diinginkan (Arctander 1994).

Penentuan konsentrasi bahan fiksatif dilakukan dengan melibatkan panelis untuk menilai ketahanan wangi dari gel pengharum ruangan yang dibuat dengan beberapa konsentrasi fiksatif yang berbeda. Proses pembuatan sampel produk gel pengharum ruangan dimulai dengan penimbangan bahan-bahan yang diperlukan. Kemudian, bahan pembentuk gel (semirefined carrageenan + glukomanan) sebanyak 7% dan sodium benzoat 0,1% sedikit demi sedikit (sambil diaduk) dimasukkan ke dalam aquades yang telah dipanaskan sampai suhu 80o - 85oC. Setelah semua bahan menyatu dan membentuk gel, kemudian suhu diturunkan hingga 65ºC untuk ditambahkan bahan fiksatif, bahan pewangi yang telah dicampur menjadi satu dan pelarut propilen glikol sebesar 10%. Bahan fisksatif yang digunakan adalah minyak nilam dengan konsentrasi 0,5%, 1%, 1,5%, dan 2%. Bahan pewangi yang digunakan adalah minyak kombinasi jeruk purut dan sereh dapur dengan konsentrasi 1%. Selanjutnya, produk gel dituangkan ke dalam cetakan plastik (Modifikasi Fitrah 2013).

Penentuan konsentrasi bahan fiksatif dilakukan untuk mendapatkan konsentrasi bahan fiksatif terbaik berdasarkan hasil penilaian panelis terhadap bau/wangi gel pengharum ruangan yang dibuat yang nantinya akan digunakan dalam pembuatan produk gel pengharum ruangan. Pembuatan gel pengharum ruangan dilakukan dengan penambahan berbagai konsentrasi bahan fiksatif kemudian dilakukan penilaian oleh panelis untuk mengetahui berapa konsentrasi bahan fiksatif terbaik dari beberapa variasi

konsentrasi yang dicobakan dalam pembuatan gel pengharum. Penilaian terhadap gel pengharum ruangan yang dihasilkan dilakukan sebanyak 2 kali pengujian dengan total masa penyimpanan selama 6 hari kemudian dilakukan penilaian dengan interval waktu tiap 3 hari sekali. Hasil terbaik dari penilain panelis merupakan konsentrasi bahan fiksatif yang akan digunakan dalam pembuatan produk gel pengharum ruangan (Rahmaisni 2011).

Panelis yang dipilih secara acak berdasarkan hasil penilaian awal yang dilakukan terhadap wangi minyak atsiri/pewangi yang akan digunakan dalam pembuatan gel pengharum ruangan. Panelis yang terpilih adalah panelis yang memiliki penilaian yang tetap atau konstan terhadap wangi gel pengharum ruangan yang disajikan sebagai sampel uji dalam penilaian. Panelis terpilih berdasarkan hasil peniliain terdiri dari mahasiswa TIN/TIP dari berbagai tingkatan pendidikan yaitu mahasisawa strata 1,2 dan 3 dimana berdasarkan hasil penilaian awal terhadap wangi gel pengharum ruangan maka yang terpilih adalah sebanyak 28 orang. Selanjutnya kepada panelis yang terpilih dilakukan pengujian ulang lagi tentang pemahaman mereka tentang wangi yang akan dipakai dalam pembuatan gel pengharum ruangan untuk mendapatkan panelis yang benar-benar paham tentang minyak atsiri khususnya pewangi yang digunakan.

Panelis yang terpilih sebanyak 28 orang tersebut selanjutnya ditetapkan sebagai panelis semi terlatih yang akan menguji ketahanan wangi gel pengharum ruangan dengan berbagai konsentrasi bahan fiksatif untuk mendapatkan konsentrasi bahan fiksatif terbaik/terpilih berdasarkan hasil penilaian panelis terpilih tersebut. Langkah selanjutnya yaitu ke 28 panelis semi terlatih tersebut disajikan gel dengan berbagai konsentrasi bahan fiksatif dengan tujuan agar ke 28 panelis semi terlatih tersebut mendapat gambaran tentang bau bahan fiksatif dengan konsentrasi yang berbeda sebelum penambahan pewangi dalam pengujian, selanjutnya setelah ke 28 panelis tersebut paham tentang bau dari masing-masing bahan fiksatif dengan berbagai konsentrasi yang berbeda maka dilakukan pembuatan gel pengharum ruangan dengan penambahan pewangi kombinasi jeruk purut dan sereh dapur dengan konsentrasi bahan fiksatif 0,5%, 1%, 1,5% dan 2%. Penentuan kombinasi pewangi jeruk purut dan sereh dapur berdasarkan hasil penilaian ke 28 panelis semi terlatih serta panelis acak yang dilakukan diluar ke 28 panelis semi terlatih untuk mendapatkan pewangi terbaik berdasarkan hasil penilaian kesukaan terhadap wangi gel pengharum ruangan, dimana berdasarkan hasil penilaian ke 28 panelis dan panelis acak yang diambil dari luar ke 28 panelis tersebut ternyata kombinasi jeruk purut dan sereh dapur merupakan pewangi terpilih menurut hasil penilaian. Hasil penilaian tingkat kesukaan panelis terhadap bau/wangi gel pengharum ruangan dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Hasil Penilaian Tingkat Kesukaan Panelis Terhadap Bau/Wangi Gel Pengharum Ruangan

Jenis Pewangi Rataan Kesukaan Panelis Terhadap Bau/Wangi Gel Pengharum Ruangan

Jeruk purut 3,18

Sereh dapur 3,61

Kombinasi Jeruk purut dan sereh dapur 4,25

Berdasarkan hasil penilaian oleh ke 28 panelis semi terlatih terhadap ketahanan wangi pengharum ruangan yang disajikan dan data hasil yang diperoleh dilakukan pengujian menggunakan rancangan percobaan nonparametrik kruskal walls diperoleh konsentrasi bahan fiksatif terbaik adalah konsentrasi bahan fiksatif sebesar 1%. Penentuan konsentrasi terbaik 1% dari beberapa konsentrasi bahan fiksatif yang

diujikan berdasarkan pada rataan hasil pengujian dengan menggunakan kuisioner dimana untuk penilaian ketahanan wangi/bau setelah penyimpanan hari ketiga dan hari ke enam diperoleh nilai untuk konsentrasi fiksatif 0,5%, 1,%, 1,5% dan 2% seperti terlihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Rataan Hasil Penilaian Panelis Terhadap Ketahanan Wangi Gel Pengharum Ruangan

Waktu Pemakaian

Rataan Hasil Penilaian Panelis Terhadap Ketahanan Wangi Gel Pengharum Ruangan

0,5% 1% 1,5% 2%

Hari ketiga 3,07 3,89 3,06 3,08

Hari keenam 2,36 3,04 2,56 2,39

Hasil penilaian panelis tersebut selanjutnya dianalisis dengan menggunakan rancangan percobaan nonparametrik kruskal walls dan dari hasil pengujian memperhatikan bahwa untuk konsentrasi bahan fiksatif 1% menghasilkan nilai median sebesar 4,00; nilai ave rank sebesar 104,00 dan nilai z sebesar 4,89 untuk penyimpanan setelah hari ke 3 sedangkan untuk penyimpanan setelah hari ke 6 nilai konsentrasi bahan fiksatif 1% menghasilkan nilai median sebesar 3,00; nilai ave rank sebesar 87,70 dan nilai z sebasar 2,51, dimana nilai tersebut lebih baik dibandingkan dengan konsentrasi bahan fiksatif lainnya (Lampiran 11,12).

Minyak nilam merupakan bahan baku yang penting untuk industri wewangian dan kosmetika dengan sifat-sifat sebagai berikut: (a) sukar menguap dibanding dengan minyak atsiri lainnya dan (b) dapat dicampur dengan minyak eteris lainnya. Karena sifat-sifat inilah minyak nilam dipakai sebagai fiksatif (pengikat bau atau aroma dan mencegah penguapan zat pewangi) untuk industri wewangian, sabun dan kosmetika lainnya (Guenther 1990; Santoso 1990; Rusli 2010).

Menurut Ketaren (1985) zat pengikat merupakan persenyawaan yang memiliki daya menguap yang rendah dari zat pewangi atau minyak atsiri dan dapat menghambat atau mengurangi kecepatan penguapan dari zat pewangi serta memiliki titik didih tinggi dan tidak berbau atau berbau wangi. Tujuan penambahan zat pengikat adalah untuk memfiksasi bau dan mencegah agar komponen yang dapat menguap terutama zat pewangi jangan terlalu cepat menguap dan dapat dipertahankan dalam jangka waktu yang lebih lama. Zat pengikat nabati pada umumnya berasal dari golongan gum, resin, lilin atau beberapa jenis minyak atsiri yang bertitik didih tinggi, misalnya minyak akar wangi, minyak kayu cendana, dan minyak nilam.

Robbin (1982) menyatakan bahwa sifat fiksatif minyak nilam disebabkan oleh komponen utamanya yaitu patchouli alcohol (C15H26O) yang tergolong kedalam oxygenated terpen, selain itu ada juga senyawa α-pinene, β-pinene, β-patcholen, α-

guajen, α-patchoulen, bulneswen, norpatchoulenol, pogostol. Minyak nilam memiliki potensi strategis di pasar dunia sebagai bahan pengikat aroma wangi pada parfum dan kosmetika. Minyak nilam dapat berfungsi sebagai zat pengikat (fiksatif) dan tidak dapat digantikan dengan zat sintetis lainnya (Rusli 1991).

Savary et al. (2006) menyatakan bahwa ketahanan wangi disebabkan karena bahan pewangi terjerap ke dalam kompleks jaringan/matriks, disamping itu kombinasi antara bahan pembentuk gel, proporsi dan konsentrasi bahan pembentuk gel yang tepat juga dapat memperpanjang ketahanan wangi produk gel pengharum ruangan.

Dokumen terkait