• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

5.3. Konsentrasi PM10 di Udara pada saat Air Mancur Aktif

Dari hasil pengukuran diketahui bahwa untuk Air Mancur Gatot Subroto, rata- rata konsentrasi PM10 pada saat air mancur aktif jauh lebih tinggi yakni sebesar 91,56 µg/m³ jika dibandingkan dengan dan rata-rata konsentrasi PM10 pada saat air mancur tidak aktif sebesar 44,11 µg/m³. Berdasarkan uji statistik didapatkan p value sebesar 0,001 (< 0,05) maka dapat disimpulkan ada perbedaan yang signifikan antara konsentrasi PM10 di udara pada saat air mancur aktif dan tidak aktif.

Untuk Air Mancur Sudirman, rata-rata konsentrasi PM10 lebih rendah jika dibandingkan dengan Air Mancur Gatot Subroto, yakni pada saat air mancur aktif rata-rata konsentrasi PM10 sebesar 33,33 µg/m³ dan lebih rendah jika dibandingkan dengan pada saat air mancur tidak aktif, yakni sebesar 41,56 µg/m³. Namun berdasarkan uji statistik didapatkan p value sebesar 0,272 yang artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara konsentrasi PM10 di udara pada saat air mancur aktif dan tidak aktif.

Rata-rata konsentrasi PM10 yang terkumpul di saat Air Mancur Gatot Subroto aktif jauh lebih besar jika dibandingkan dengan Air Mancur Sudirman. Lokasi air mancur yang berada di tengah hutan kota dan tanpa hutan kota jelas sangat mempengaruhi konsentrasi polutan. Keberadaan hutan kota yang ada di sekitarnya memberi perlindungan terhadap kondisi fisik alami, seperti angin kencang, terik matahari, gas atau debu (Irwan, 2005). Hal ini terjadi di lokasi jalan Sudirman, dimana konsentrasi PM10 lebih rendah. Namun ada kondisi dimana terjadi peningkatan pada saat Air Mancur Sudirman tidak aktif, dimana konsentrasi PM10 lebih besar. Hal ini berkaitan dengan nilai konsentrasi polutan yang secara teori akan

mengikuti kepadatan transportasi. Jumlah rata-rata transportasi di saat air mancur tidak aktif ternyata lebih besar dari pada saat air mancur aktif, yakni pada saat Air Mancur Sudirman aktif rata-rata jumlah kendaraan 226 per 5 menit, sedangkan pada saat Air Mancur Sudirman tidak aktif rata-rata jumlah kendaraan lebih besar yakni 258 per 5 menit.

Untuk Air Mancur Gatot Subroto, berdasarkan rata-rata konsentrasi PM10 di atas, ternyata ada peningkatan konsentrasi PM10 di saat air mancur aktif. Bila dilihat dari titik samplingnya, peningkatan cenderung terjadi pada titik A dan B yang terletak 1 meter dari tepi kolam air mancur. Sedangkan pada titik C konsentrasi PM10 konsentrasinya lebih rendah. Berdasarkan hal ini terlihat bahwa polutan PM10 meningkat di sekeliling air mancur.

Perbedaan konsentrasi PM10 yang cukup jauh di saat air mancur aktif dan tidak aktif di Gatot Subroto dapat disebabkan oleh kondisi suhu yang lebih rendah dan kelembaban yang cukup tinggi. Pada saat air mancur aktif, daerah di sekeliling air mancur (titik A dan B) memiliki suhu yang lebih rendah dan kelembaban yang tinggi, sehingga udara semakin padat dan konsentrasi PM10 tinggi. Kecepatan angin juga lebih besar sehingga mampu menggerakkan pancaran air mancar menjangkau udara ambien yang lebih luas, sehingga PM10 lebih banyak terkumpul di sekitar air mancur.

Air Mancur Gatot Subroto yang memiliki daya pancar air mancur yang luas, besar dan debit air yang besar, serta arah pancaran ke atas dan ketinggian yang cukup, mampu menjangkau udara ambien di sekitarnya, mampu membuat ion-ion negatif

dari air mancar tersebut dapat mengumpulkan atau menyerap debu dalam jumlah yang besar. Arah angin yang membuat pancaran air mancur yang mampu mencapai 6 meter dari pinggir kolam, dapat menangkap partikulat yang lebih banyak, sehingga partikulat terkumpul di sekitar air mancur tersebut dan konsentrasinya semakin meningkat.

Bila dilihat dari sifat debu yang selalu mengendap, sifat permukaan basah dan sifat penggumpalan, maka mekanisme air mancur ini dapat dikatakan efektif untuk menangkap debu (PM10). Partikulat yang menabrak cairan (air mancur) akan menimbulkan penyerapan oleh air. Hal ini sama halnya dengan pengolahan dengan cara absorbsi dengan menggunakan zat cair yang tidak mudah menguap yakni air (Kristanto, 2004). Jadi air mancur dapat dikatakan hanya mampu mempengaruhi konsentrasi polutan di sekitarnya saja.

Berdasarkan rata-rata konsentrasi PM10 yang diukur di saat air mancur aktif, terbukti air mancur mampu untuk memfilter udara di sekitarnya seperti yang dinyatakan B.J., Franz (2008). Debu (PM10) terfilter dengan keberadaan air mancur ini, sehingga dengan adanya ion-ion negatif dari air mancur mampu terserap melalui pancaran air yang keluar atau berdifusi langsung dalam pergerakan air.

Pada saat Air Mancur Gatot Subroto tidak aktif, suhu lebih tinggi dan kelembaban udara rendah, sehingga udara semakin renggang dan konsentrasi PM10 semakin rendah. Sinar matahari juga mempengaruhi melalui proses fotokimia dimana gas akan berubah bentuk menjadi partikulat dan partikulat akan mengalami agregasi

sehingga mencapai ukuran lebih dari 10 μm yang selanjutnya dengan gaya berat dan pengaruh gravitasi akan mengendap (Gabriel, 2001).

Kondisi desain Air Mancur Sudirman juga mempengaruhi kemampuan air mancur menyerap partikulat. Daya pancar air mancur sempit, hanya mencapai 1 meter dari tepi kolam, karena desain pancaran yang menuju ke arah dalam kolam, arah dan kecepatan angin juga cukup rendah. karena keberadaan taman atau hutan kota yang ada di sekitarnya dalam perlindungan terhadap kondisi fisik alami, seperti angin kencang, terik matahari, gas atau debu (Irwan, 2005). Hal ini menyebabkan penyerapan debu atau partikulat menjadi rendah.

Konsentrasi PM10 yang terukur di ketiga titik sampling di Air Mancur Sudirman juga tidak stabil. Pada satu situasi PM10 meningkat di titik A dan B, tapi pada situasi yang lain terjadi peningkatan yang tinggi di titik C. Namun dapat dilihat bahwa kecepatan angin pada titik C saat pengukuran cukup rendah, sehingga dengan kepadatan lalu-lintas yang hampir sama, polutan udara kurang terdispersi pada saat pengukuran di titik C.

Karena intensitas sumber emisi dan faktor meteorologis (khususnya arah dan kecepatan angin) selalu berubah , maka dengan demikian konsentrasi zat pencemar di udara ambien juga selalu berubah atau tidak konstan. Perubahan konsentrasi zat pencemar di udara ambien terjadi karena perubahan waktu temporal dan juga terjadi karena perubahan tempat (Kusuma, 2007).

5. 4. Jenis Polutan yang Paling Besar Dipengaruhi Konsentrasinya di Udara

Dokumen terkait