BAB II KAJIAN TEORETIS DAN PRAKTIK EMPIRIS
A. Kajian Teoretis
1. Konsep Agribisnis Perkebunan dan Kaitan dengan
Industri perkebunan merupakan bagian dari rangkaian kegiatan atau aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan produksi atau pengolahan dari bahan baku dengan menggunakan sarana dan prasarana perkebunan, termasuk pemanfaatan keterampilan manusia, dan juga ketersediaan modal. Peranannya sebagai simpul menjadi sangat krusial bagi penciptaan nilai tambah (value added) sektor perkebunan dan sekaligus motor penggerak utama (prime mover) perekonomian untuk meningkatkan (a) kesejahteraan produsen, (b) kuantitas dan kualitas produk yang diinginkan konsumen, dan (c) penerimaan negara melalui devisa.12
Pada Gambar 1 disajikan konsep cara memandang pembangunan dan pengembangan industri perkebunan di Indonesia. Konsep dasarnya tidak terlepas dari konsep agribisnis yang diperkenalkan oleh John H. Davis pada tahun 1955 dalam suatu makalah berjudul “Business Responsibility and the Market for Farm Products" yang disampaikannya pada Boston Conference on Distribution di Amerika Serikat.13 Konsep ini memberikan dasar pemahaman bahwa sektor pertanian, baik dalam arti luas maupun sempit termasuk di dalamnya perkebunan, merupakan entitas yang tersusun dari bagian-bagian yang saling terkait satu dengan lainnya dan bergerak secara simultan. Bagian-bagian tersebut mencakup sisi hulu, pengolahan, hilir, dan juga bagian penunjang. Interaksinya diharapkan akan menghasilkan output yang maksimal dan komprehensif, baik berkenaan dengan produk
12Roosganda Elizabeth & Iwan Setiajie Anugrah, 2020, Akselerasi hilirisasi produk agroindustri berdayasaing mendongkrak kesejahteraan petani dan ekonomi pedesaan.
Mimbar Agribisnis, Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, 6(2), hal.
915-916.
13Alan E. Fusonie, 1995, John H. Davis: Architect of the agribusiness concept revisited”. Agricultural History [Agribusiness and International Agriculture], 69(2), p. 343.
yang dihasilkan, kondisi kesejahteraan produsen, hingga pencapaian kepuasan konsumen. Bekerjanya konsep agribisnis tersebut berpangkal dari respons market-oriented yang sangat dinamis sehingga kecepatan dan ketepatan perencanaan hingga eksekusi keputusan bagi pemangku kepentingan perkebunan menjadi esensial. Oleh sebab itu, menurut Saragih14, strategi agribisnis pertanian (perkebunan) yang berorientasi pasar dilakukan dengan menggerakkan seluruh komponen mulai dari subsistem sarana-prasaran di hulu, subsistem budidaya, subsistem industri dan pemasaran di hilir, termasuk kaitannya secara terpadu dengan kementerian/lembaga lainnya (nonpertanian).
Pada dasarnya konsep agribisnis dapat dipandang menjadi dua hal, yaitu agribisnis sebagai sistem dan agribisnis sebagai bidang usaha.
Agribisnis sebagai sistem merujuk pada sekumpulan unsur-unsur atau subsistem-subsistem yang saling terkait melalui interaksi dan kerja sama dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Terminologi ini disampaikan oleh Davis & Goldberg tahun 195715 bahwa “agribusiness is the sum of all operations involved in the manufacture and distribution of farm supplies;
production activities on the farm; and the storage, processing and distribution of farm commodities and items made from them.” Berdasarkan definisi tersebut maka tiga unsur utama dari agribisnis, yaitu (1) agribisnis hulu yang mencakup sarana produksi pertanian (perkebunan), (2) agribisnis budidaya yang mencakup budidaya, dan (3) agribisnis hilir yang mencakup panen dan pascapanen (pengolahan, distribusi, dan pemasaran).
Selanjutnya unsur-unsur tersebut berkembang menjadi (1) pengadaan sarana produksi pertanian (agroinput), (2) produksi pertanian (agro-product), (3) pengolahan dan industri hasil pertanian (agroindustry), (4) pemasaran (agromarketing), dan (5) kelembagaan penunjang kegiatan (agro supporting).
Dua subsistem yang pertama disebut sebagai on farm agribusiness,
14Bungaran Saragih, 2000, Kebijakan pengembangan agribisnis di Indonesia berbasiskan bahan baku lokal, Buletin Peternakan Edisi Tambahan Tahun 2000, IPB, hal.
10-11.
15Vasant P. Gandhi, 2014, Growth and transformation of the agribusiness sector:
Drivers, models and challenges, Ind. Jn. of Agri. Econ., 69(1), 2014, p. 44.
sedangkan yang lainnya disebut sebagai off-farm agribusiness.16 Keterkaitan antar-subsistem tersebut pun dapat terjadi secara forward linkage maupun backward linkage.
Adapun perspektif selanjutnya melihat agribisnis hanya sebagai suatu bidang usaha (perusahaan agribisnis). Perusahaan agribisnis tersebut diartikan sebagai institusi bisnis yang berusaha di dalam salah satu subsistem, beberapa subsistem atau secara terpadu di dalam sistem agribisnis yang dikelola dengan keterampilan manajerial tertentu untuk meraih keuntungan (profit oriented).
Berkaitan dengan agribisnis industri perkebunan seperti yang disampaikan pada Gambar 1 maka eksistensinya tidak dapat dipisahkan dari sektor perkebunan yang menjadi penyedia bahan baku dan penolong industri perkebunan (hilirisasi). Masing-masing bagian, baik pada sisi hulu, hilir, maupun menunjang, dijelaskan sebagai berikut:
Sumber: Saragih, 2003; 2000; Davis & Goldberg, 1957 (disesuaikan).
Gambar 1. Konsep Agribisis Industri Perkebunan
16Bonar M. Sinaga, 1997, Pendekatan Kuantitatif dalam Agribisnis. Mimbar Sosek”, Journal of Agricultural and Resource Socio-Economics, 10(1), hal. 50.
a. Industri Hulu Perkebunan
Industri hulu merupakan industri yang mengolah bahan mentah menjadi barang setengah jadi. Industri ini bersifat menyediakan bahan baku untuk kegiatan atau operasi industri-industri berikutnya. Rangkaian kegiatan industri hulu mencakup satu sistem agribisnis industri perkebunan hulu hingga menghasilkan bahan baku atau bahan penolong yang didistribusikan kepada industri-industri lainnya. Contohnya industri sarana produksi pertanian, seperti industri bibit dan benih, pestisida, pupuk, dan alat serta mesin perkebunan.
Pelaku pada ekosistem industri hulu perkebunan dapat mencakup perorangan, perusahaan swasta, perusahaan pemerintah pusat/daerah, dan koperasi. Hubungan industri hulu (pemasok input) dengan industri lainnya adalah untuk meningkatkan (a) efisiensi usaha perkebunan, misalnya penggunaan mesin-mesin perkebunan yang dapat menghemat waktu dan pemakaian tenaga kerja manusia (mesin pemupukan, mesin panen tebu, dan lainnya). Di dalam hal ini termasuk pula penawaran penggunaan teknologi pertanian yang mengarah pada smart farming (plantation), seperti penggunaan drone, IoT, dan sebagainya, (b) produktivitas hasil, misalnya penggunaan bibit unggul dan pupuk buatan), (c) perluasan usaha perkebunan, misalnya melalui peminjaman modal dari lembaga pembiayaan, dan (d) kesesuaian kualitas dan kuantitas antara bahan baku atau bahan penolong dengan kebutuhan industri lainnya.
b. Industri Hilir Perkebunan
Industri hilir merupakan industri yang mengolah bahan setengah jadi menjadi bahan atau barang jadi sehingga bahan atau barang tersebut dapat digunakan langsung oleh konsumen (end user). Rangkaian kegiatan industri hilir terdiri dari satu sistem agribisnis industri perkebunan hilir hingga menghasilkan bahan atau produk akhir yang didistribusikan kepada konsumen. Contohnya industri mamin, industri biofarmaka, dan sebagainya.
Pelaku usaha yang dapat terlihat di dalam industri hilir perkebunan dapat perorangan, perusahaan swasta, perusahaan pemerintah pusat/daerah, dan koperasi. Hubungan industri hilir dengan industri lainnya adalah untuk meningkatkan (a) profit melalui kesesuaian kualitas dan kuantitas antara produk akhir industri dengan keinginan konsumen (pasar) dan (b) efisiensi produksi melalui penggunaan teknologi dan modal yang lebih tepat guna.
Di Indonesia, industri hilir perkebunan relatif belum banyak berkembang, meskipun memiliki keterkaitan ke belakang dan ke depan yang kuat dengan sektor lainnya. Hal ini karena adanya kendala-kendala dalam pengembangannya, antara lain (1) kualitas dan kontinuitas produk pertanian (perkebunan) kurang terjamin, (2) kemampuan SDM masih terbatas, (3) teknologi yang digunakan sebagian besar bersifat sederhana sehingga menghasilkan produk berkualitas rendah, dan (4) belum berkembang secara luas kemitraan antara agroindustri skala besar/sedang dengan agroindustri skala kecil/rumah tangga17. Untuk itu, menurut Suprihartini et al.18 faktor kunci yang dapat mempercepat hilirisasi perkebunan tersebut, yaitu (1) pajak pertambahan nilai (PPN), (2) insentif investasi, (3) harmonisasi tarif, dan (4) konsistensi dukungan pemerintah.
c. Industri Penunjang Perkebunan
Industri penunjang merupakan industri yang bertujuan mendukung, melayani, dan mengembangkan kegiatan industri hulu dan hilir. Beberapa contoh industri yang terkait dengan bidang hal ini adalah keuangan dan perkreditan, penyuluh, konsultan, penelitian, dan sebagainya.
Saat ini, perkembangan industri 4.0 menstimulasi penggunaan teknologi informasi pada industri penunjang perkebunan. Financial technology (fintech) bidang perkebunan mulai berkembang dan itu dapat menjadi salah satu cara bagi pekebun berskala kecil atau menengah untuk mengakses pembiayaan maupun permodalan. Bentuknya
bermacam-17Supriyati & Erma Suryani, 2006, Peranan, peluang dan kendala pengembangan agroindustri di Indonesia. Forum Penelitian Agro Ekonomi, 24(2), hal. 105.
18Rohayati Suprihatini, Bambang Drajat, & Undang Fajar, 2004, Kebijakan percepatan pengembangan industri hilir perkebunan: Kasus teh dan sawit, Analisis kebijakan Pertanian, 2(1), hal. 64.
macam, seperti digital payment system, crowdfunding, peer-to-peer lending, dan lain-lainnya. Menurut Marginingsih19 fintech tersebut banyak membantu masyarakat yang belum terlayani lembaga keuangan formal dalam melakukan transaksi keuangan sesuai dengan kebutuhannya.
d. Kaitan Konsep Agribisnis Industri Perkebunan dengan Bangun Industri Nasional
Kaitan antara konsep agribisnis perkebunan dengan industrinya dapat dilihat pada Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) tahun 2015-2035 yang ditetapkan berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 14 tahun 2015 dan disusun sebagai pelaksanaan dari amanat Undang-Undang No. 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian.20 Kaitan bangun industri nasional berisikan industri andalan masa depan, industri pendukung, dan industri hulu, di mana ketiga kelompok industri tersebut memerlukan modal dasar berupa SDA, SDM, serta teknologi, inovasi, dan kreativitas. Pembangunan industri di masa depan tersebut juga memerlukan prasyarat berupa ketersediaan infrastruktur dan pembiayaan yang memadai, serta didukung oleh kebijakan dan regulasi yang efektif.
(a) Industri nasional pada tahun 2035 memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. Industri manufaktur kelas dunia yang memiliki basis industri kuat dengan kondisi (a) tumbuh dan berkembangnya industri manufaktur berbasis sumber daya nasional, (b) terbangunnya modal dasar dan prasyarat pembangunan industri, dan (c) terbentuknya daya saing yang kuat di pasar internasional.
2. Struktur industri yang kuat sebagai motor penggerak utama (prime mover) perekonomian dengan ciri (a) mempunyai kaitan yang kuat dan sinergis antarsubsektor industri dan dengan berbagai sektor ekonomi
19Ratnawaty Marginingsih, 2021, Financial Technology (Fintech) dalam inklusi keuangan nasional di masa pandemi Covid-19, Moneter: Jurnal Akuntansi dan Keuangan, 8(1), hal. 62.
20Kementerian Perindustrian, 2015, Rencana induk pembangunan industri nasional 2015-2035, Jakarta: Pusat Komunikasi Publik, Kementerian Perindustrian, hal. 23.
lainnya, (b) memiliki kandungan lokal yang tinggi, (c) menguasai pasar domestik, (d) memiliki produk unggulan industri masa depan, (e) dapat tumbuh secara berkelanjutan, dan (f) mempunyai daya tahan (resilience) yang tinggi terhadap gejolak perekonomian dunia.
3. Sinergitas yang kuat antara industri kecil, menengah, dan besar yang menjalankan perannya sebagai sebuah rantai pasok (supply chain).
Sinergitas tersebut harus dibangun melalui hubungan saling menguntungkan dan membutuhkan antarskala usaha sektor industri secara nasional.
4. Peran dan kontribusi industri manufaktur yang semakin penting dalam ekonomi nasional sebagai tumpuan bagi penciptaan lapangan kerja, penciptaan nilai tambah, penguasaan pasar domestik, pendukung pembangunan berkelanjutan, dan menghasilkan devisa.
(b) Kerangka pikir Bangun Industri Nasional tahun 2035 mencakup:
1. Industri andalan, yaitu industri prioritas yang berperan besar sebagai penggerak utama (prime mover) perekonomian di masa yang akan datang. Selain memperhatikan potensi SDA sebagai sumber keunggulan komparatif, industri andalan memiliki keunggulan kompetitif yang mengandalkan SDM yang berpengetahuan dan terampil, serta ilmu pengetahuan dan teknologi.
2. Industri pendukung, yaitu industri prioritas yang berperan sebagai faktor pemungkin (enabler) bagi pengembangan industri andalan secara efektif, efisien, integratif, dan komprehensif.
3. Industri hulu, yaitu industri prioritas sebagai basis industri manufaktur yang menghasilkan bahan baku yang dapat disertai perbaikan spesifikasi tertentu yang digunakan untuk industri hilirnya.
4. Modal dasar, yaitu faktor sumber daya yang digunakan dalam kegiatan industri untuk menghasilkan barang dan jasa serta dalam penciptaan nilai tambah yang tinggi. Modal dasar yang diperlukan dan digunakan dalam kegiatan industri adalah (a) SDA yang diolah dan dimanfaatkan
secara efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan, sebagai bahan baku maupun sumber energi bagi kegiatan industri, (b) SDM yang memiliki kompetensi kerja (pengetahuan, keterampilan, dan sikap) yang sesuai di bidang industri, dan (c) pengembangan, penguasaan, dan pemanfaatan teknologi industri, kreativitas serta inovasi untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, nilai tambah, daya saing, dan kemandirian sektor industri nasional.
5. Prasyarat, yaitu kondisi ideal yang dibutuhkan agar tujuan pembangunan industri dapat tercapai. Prasyarat yang dibutuhkan untuk mewujudkan industri andalan, pendukung dan hulu, serta dalam pemanfaatan sumber daya di masa yang akan datang adalah (a) penyediaan infrastruktur industri di dalam dan di luar kawasan industri dan/atau di dalam kawasan peruntukan industri, (b) penetapan kebijakan dan regulasi yang mendukung iklim usaha yang kondusif bagi sektor industri, dan (c) penyediaan alokasi dan kemudahan pembiayaan yang kompetitif untuk pembangunan industri nasional.