• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORETIS DAN PRAKTIK EMPIRIS

A. Kajian Teoretis

3. Performa Industri Perkebunan

Pada tahun 2019, Indeks produksi perkebunan meningkat dari 143,45 menjadi 151,92 atau naik sebesar 8.47 poin dari tahun 2018 (Gambar 2).

Secara umum, indeks produksi perkebunan rakyat dan perkebunan besar masing-masing meningkat sebesar 6,24 dan 13,20 poin dari tahun sebelumnya.

Gambar 2. Indeks Produksi Tanaman Perkebunan Tahun 2015 - 2019 Sumber: BPS

Berdasarkan komoditas, peningkatan indeks produksi terjadi pada komoditas kelapa, kelapa sawit, dan kopi. Sementara itu, komoditas karet dan tembakau mengalami penurunan indeks produksi. Sedangkan untuk komoditas teh, tebu dan tembakau data tidak tersedia (Tabel 1).

29Wartaekonomi, “Protect Komoditas Strategis seperti Sawit, Anggota Komisi IV DPR:

Perlu UU Khusus”, (online, https://wartaekonomi.co.id/read372879/protect-komoditas-strategis-seperti-sawit-anggota-komisi-iv-dpr-perlu-uu-khusus, diakses pada 12 Desember 2021).

Tabel 1. Indeks Produksi Tanaman Perkebunan Tahun 2015 - 2019 (Komoditas)

Sumber: BPS

Sementara itu, indeks produksi berdasarkan jenis pelaku usaha (tenaga kerja), indeks produksi tanaman perkebunan besar lebih tinggi dari indeks produksi tanaman perkebunan rakyat (Gambar 3).

Sumber: BPS

Gambar 3. Indeks Produksi Tanaman Perkebunan

Kemudian indeks produksi berdasarkan jenis tanaman perkebunan besar, indeks produksi berdasarkan jenis tanaman perkebunan besar negara lebih rendah dari indeks produksi berdasarkan jenis tanaman perkebunan swasta (Gambar 4)

Sumber: BPS

Gambar 4. Indeks Produksi Berdasarkan Jenis Tanaman Perkebunan Besar

b. Tenaga Kerja

Tenaga kerja sektor perkebunan merupakan terbesar ketiga setelah peternakan dan padi dengan nilai 19,08 persen (Gambar 5).

Sumber: Survei SUTAS 2018 (BPS), diolah

Gambar 5. Jumlah RTUP (Rumah Tangga Usaha Pertanian) Menurut Subsektor yang Diusahakan

c. Perdagangan

Perdagangan tidak lepas besaran harga yang diterima oleh pelaku usaha perkebunan. Harga dua komoditas unggulan Indonesia Kelapa Sawit dan Karet sepanjang 2015-2019 cenderung mengalami penurunan (Gambar 6)

Sumber: BPS

Gambar 6. Rata-rata Harga Produsen Tanaman Perkebunan Rakyat Tahun 2015 - 2019(Rp/Kuintal)

Kemudian nilai ekspor hasil perkebunan tahun 2019 mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2018, ekspor tahun 2019 sebesar USD23.388 juta dari USD20.381 juta. Kontribusi komoditas sawit terhadap ekspor sangat tinggi dengan kontribusi sebesar 90,77 persen.

d. Industri Pengolahan Hasil Perkebunan

Kinerja industri pengolahan hasil perkebunan tercermin dari volume ekspor hasil produk olahan komoditi perkebunan. Ekspor produk hasil perkebunan masih didominasi oleh produk mentah atau intermediate, seperti kelapa sawit masih CPO, kakao masih biji kakao, dan karet masih sir30. Dengan asumsi CPO masih komoditi mentah dan ekspor kelapa sawit dalam wujud CPO31, maka ekspor produk mentah per 2020 masih mendominasi sebesar 88,98 persen atau 39,74 juta ton. Sedangkan sisanya 11,02 persen atau 4,92 juta ton adalah produk olahan (Gambar 7).

30Amzul Arifin, 2021, Diskusi RUU Industri Strategis Perkebunan. Jakarta: FGD, Oktober 2021.

31BPS, 2020, Statistik Perkebunan Unggulan Nasional 2019-2021. Jakarta: BPS, hal.11

Sumber: database.pertanian.go.id

Gambar 7. Perbandingan Produk Segar dan Olahan Hasil Komoditi Perkebunan 2020

B. Kajian Terhadap Asas/Prinsip yang Terkait Dengan Penyusunan Norma

Asas atau prinsip dalam penyusunan norma industri strategis perkebunan di Indonesia pada dasarnya dihubungkan dengan asas dan prinsip yang dikandung dalam konsep negara hukum Pancasila. Asas atau prinsip negara hukum Pancasila inilah yang menjadi pijakan dasar dalam penyusunan norma-norma yang berkaitan dengan industri strategis perkebunan. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Paul Scholten32 bahwa asas hukum adalah pikiran-pikiran dasar yang terdapat di dalam dan di belakang sistem hukum yang masing-masing dirumuskan dalam peraturan perundang-undangan dan putusan-putusan hakim.

Dalam pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik, harus ada asas formal dan asas material.33 Asas-asas formal meliputi:

a. Asas tujuan yang jelas (beginsel van duidelijke doelstelling) b. Asas organ/lembaga yang tepat (beginsel van het juiste orgaan) c. Asas perlunya pengaturan (het noodzakelijkheids beginsel)

32Dalam J.J. Bruggink, 1999, Refleksi Tentang Hukum, Bandung, Citra Aditya Bakti, hal. 119.

33L.C. Van der Vlies, 2007, Het wetsbegrip en beginselen van behoorlijke regelgeving, ‘s-Gravenhage: Vuga 1984, hal. 186 sebagaimana dikutip oleh A. Hamid. S. Attamimi dalam Maria Farida Indradi, Ilmu Perundang-undangan 1, Jenis, Fungsi, dan Materi Muatan, Jakarta. Kanisius, hal. 253-254.

d. Asas dapatnya dilaksanakan (het beginsel van uitvorbaarheid), dan e. Asas konsensus (het beginsel van consensus)

Adapun asas-asas material meliputi asas tentang terminologi dan sistematika yang benar, asas tentang dapat dikenali, asas perlakuan yang sama dalam hukum, asas kepastian hukum, dan asas pelaksanaan hukum sesuai keadaan individual.

Selain itu, dalam pembentukan peraturan perundang-undangan juga harus berdasarkan kepatutan, yaitu didasarkan pada:34

a. Asas dasar negara Indonesia yaitu Pancasila

b. Asas hukum yang menempatkan undang-undang sebagai alat pengaturan yang khas berada dalam keutamaan hukum dan asas pemerintahan berdasar sistem konstitusi yang menempatkan undang-undang sebagai dasar dan batas penyelenggaraan kegiatan-kegiatan pemerintahan, dan

c. Asas-asas lainnya, yaitu asas-asas negara atas hukum yang menempatkan undang-undang sebagai alat pengaturan yang khas berada dalam keutamaan hukum.

Hal lain yang juga harus diperhatikan, berdasarkan UU Pembentukan Peraturan Perundang-undangan Pasal 5 dan Pasal 6 asas pembentukan peraturan perundang-undangan haruslah:

a. Berdasarkan pada asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik, yaitu yang memiliki kejelasan tujuan, kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat, kesesuaian antara jenis dan materi muatan, dapat dilaksanakan, kedayagunaan dan kehasilgunaan, kejelasan rumusan, dan keterbukaan.

b. Mengandung asas pengayoman, kemanusiaan, kebangsaan, kekeluargaan, kenusantaraan, Bhinneka Tunggal Ika, keadilan, kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan, ketertiban dan kepastian hukum, dan keseimbangan, keserasian, dan keselarasan.

34Ibid. hal. 254 - 256.

Berdasarkan hal tersebut, maka asas dalam Industri Strategis Perkebunan adalah:

a. Kedaulatan

Asas ini mengandung arti bahwa penyelenggaraan industri strategis perkebunan dilaksanakan oleh negara dengan tetap memperhatikan pemerataan pembangunan dan memperkukuh ketahanan nasional.

b. Kemandirian

Asas ini mengandung arti bahwa industri strategis perkebunan harus dibangun atas dasar kemampuan diri dengan mengutamakan produk dalam negeri.

c. Kemanfaatan

Asas ini mengandung arti bahwa penyelenggaraan industri strategis perkebunan harus memberikan manfaat bagi semua pihak secara adil dan seimbang.

d. Keberlanjutan

Asas ini mengandung arti bahwa kegiatan penyelenggaraan industri strategis perkebunan dapat berlangsung secara terus menerus dan berkesinambungan untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

e. Keterpaduan

Asas ini mengandung arti bahwa penyelenggaraan industri strategis perkebunan harus dilakukan secara terpadu dari hulu hingga hilir.

f. Kebersamaan

Asas ini mengandung arti bahwa penyelenggaraan industri strategis perkebunan menerapkan kemitraan secara terbuka sehingga terjalin saling keterkaitan dan saling ketergantungan secara sinergis antar-pelaku usaha industri perkebunan strategis.

g. Keterbukaan

Asas ini mengandung arti bahwa penyelenggaraan industri strategis perkebunan dilaksanakan dengan memperhatikan aspirasi masyarakat dan didukung dengan pelayanan informasi yang dapat diakses oleh pelaku usaha industri perkebunan strategis dan masyarakat.

h. Efisiensi-berkeadilan

Asas ini mengandung arti bahwa penyelenggaraan industri strategis perkebunan harus dilaksanakan secara tepat guna untuk menciptakan manfaat sebesar-besarnya dari sumber daya dan memberikan peluang serta kesempatan yang sama secara proporsional kepada semua warga negara sesuai dengan kemampuannya.

i. Kearifan lokal

Asas ini mengandung arti bahwa penyelenggaraan industri strategis perkebunan harus mempertimbangkan karakteristik sosial, ekonomi, dan budaya serta nilai-nilai luhur yang berlaku dalam tata kehidupan masyarakat setempat.

j. Kelestarian fungsi lingkungan hidup

Asas ini mengandung arti bahwa penyelenggaraan industri strategis perkebunan harus menggunakan sarana, prasarana, tata cara, dan teknologi yang tidak mengganggu fungsi lingkungan hidup, baik secara biologis, mekanis, geologis, maupun kimiawi.

C. Kajian Terhadap Praktik Penyelenggaraan, Kondisi Yang Ada, Serta Permasalahan Yang Dihadapi Masyarakat

1. Umum

Permasalahan dalam penyelenggaraan industri perkebunan diawali pada bagian industri hulu yaitu produksi bahan baku atau produksi komoditas perkebunan sebagai bahan baku industri. Ketersediaan bahan baku secara berkelanjutan, baik jumlah maupun kualitasnya masih menjadi kendala utama dalam menyelenggarakan industri strategis perkebunan.35 Kegiatan pada industri hulu belum direncanakan untuk menghasilkan bahan baku sesuai aspek yang dibutuhkan, sementara industri pengolahan di hilir juga seolah tidak memperhatikan hal tersebut. Tingginya volume ekspor bahan baku

35Sudirman Numba, HKTI Provinsi Sulawesi Selatan, diskusi pada hari Jumat, 22 Oktober 2021.

secara gelondongan menjadi sebuah indikator bahwa industri perkebunan saat ini belum berjalan sebagaimana diharapkan.36

Permasalahan atau kendala dalam penyelenggaraan industri strategis perkebunan, antara lain (1) belum ada dasar hukum yang kuat yang bisa dijadikan instrumen untuk memproteksi jenis-jenis komoditas perkebunan yang termasuk dalam kategori industri strategis perkebunan, (2) masih belum jelasnya jenis komoditas perkebunan yang masuk dalam kategori industri strategis, (3) belum jelasnya indikator apa saja yang termasuk di dalam penentuan komoditas industri strategis perkebunan, dan (4) belum jelasnya perlindungan terhadap pelaku industri strategis perkebunan. Oleh sebab itu, perlu ada UU yang mengatur dan harus benar-benar melindungi dari hulu sampai hilir baik usaha milik petani (individu) maupun usaha milik korporasi.37

Permasalahan atau kendala dalam penyelenggaraan industri strategis perkebunan secara umum masih sama dengan masalah dan kendala yang dihadapi industri pada umumnya, antara lain (1) kendala regulasi (kepastian hukum) perlu diidentifikasi agar tidak menjadi hambatan dalam pengembangan industri ini, (2) kendala dukungan infrastruktur, seperti energi, listrik, gas, dan transportasi, (3) kendala teknologi, dan (4) kendala pasar, termasuk kartel yang menguasai pasar.38

Permasalahan terkait dengan penyelenggaraan industri strategis perkebunan:

a. tata ruang kawasan hutan: ada beberapa kawasan perkebunan yang sudah ada sebelum Republik Indonesia berdiri. Tetapi kemudian dimasukkan dalam katagori kawasan hutan sehingga tidak bisa dilakukan tanam ulang. Hal ini juga terjadi terhadap perkebunan rakyat;

36Sudirman Numba, HKTI Provinsi Sulawesi Selatan, diskusi pada hari Jumat, 22 Oktober 2021.

37Dekan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, disampaikan dalam diskusi dengan Tim RUU Industri Strategis Perkebunan pada hari Selasa, 26 Oktober 2021.

38Kamar Dagang dan Industri Provinsi Sumatera Utara, disampaikan dalam diskusi dengan Tim RUU Industri Strategis Perkebunan pada hari Selasa, 26 Oktober 2021.

b. regulasi yang tumpang tindih, terutama antara BPN dan pertanian;

c. terjadi perbedaan harga antara petani dan perusahaan, sehingga menguntungkan kaum perantara (tengkulak);

d. sering kali terjadi pencurian;

e. pekebunan kurang merasa dilindungi; dan

f. kampanye yang menyudutkan produk-produk kelapa sawit.

Permasalahan dan kendala dalam penyelenggaraan industri strategis perkebunan:39

a. para pekebun sebagai price taker sehingga sering kali tidak mendapatkan harga yang adil;

b. harga komoditas perkebunan (kelapa sawit) kadang kala naik-turun secara drastis sehingga menyulitkan pekebun dalam berusaha atau mengambi keputusan berproduksi;

c. produktivitas perkebunan (kelapa sawit) Provinsi Sumut relatif rendah karena sebagian besar merupakan perkebunan rakyat yang dikelola secara tradisional;

d. permasalahan lahan dan izin usaha;

e. isu keamanan dalam berusaha dalam sektor perkebunan; dan f. Belum berkembangnya industri hilir perkebunan.

Permasalahan dan kendala yang terjadi dalam penyelenggaraan industri strategis perkebunan antara lain gangguan terhadap kinerja ekspor, pasokan untuk kebutuhan konsumsi dalam negeri, pengembangan industri hilir dan inefisiensi dukungan infrastruktur seperti sarana Pelabuhan, gudang penimbunan dan transportasi.

Kendala terkait penyelenggaraan industri strategis perkebunan di Sumatera Utara antara lain status kepemilikan lahan yang perlu penyelesaian multisektor.40

39Dinas Perkebunan Provinsi Sumatra Utara, disampaikan dalam diskusi dengan Tim RUU Industri Strategis Perkebunan, Rabu, 27 Oktober 2021, jam 13.00 wib.

40Dinas Perkebunan Provinsi Sumatra Utara, disampaikan dalam diskusi dengan Tim RUU Industri Strategis Perkebunan, Rabu, 27 Oktober 2021, jam 13.00 wib.

Seharusnya ada pemetaan industri-industri strategis di setiap provinsi itu apa saja. Apa yang diprioritaskan di kabupaten/kota itulah yang diakumulasikan di Provinsi. Jika hal tersebut dapat dilaksanakan, maka pemerintah dalam mengalokasikan anggaran dapat lebih tertata.

Misalnya, untuk kelapa sawit dialokasikan ke Pulau Sumatera, kakao ke Pulau Sulawesi, dan lain sebagainya.

Beberapa kendala yang juga terjadi di Provinsi Sumatera Utara terkait penyelenggaraan industri strategis perkebunan:

a. Kendala terkait peraturan.

Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian tidak merinci mengenai industri strategis perkebunan. Oleh sebab itu, UU tersebut dipandang belum efektif bagi penyelenggaraan industri strategis perkebunan.

b. Kendala terkait harga dan ekspor-impor.

1) Terkait kontrol/penetapan terhadap harga dasar, apabila menyangkut harga pasar dunia maka kita tidak bisa mengontrolnya, tetapi kalau pasar lokal masih memungkinkan.

Sebagai contoh misalnya ketika pemerintah menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) terkait minyak curah. Banyak pihak, khususnya penjual/pedagang/pelaku usaha, yang protes karena dianggap bisa mengurangi keuntungan. Sebelumnya juga pernah ada HET untuk beras dan gula, tetapi menimbulkan masalah karena gula yang masuk dari Pulau Jawa menjadi sulit untuk dijual ke wilayah Sumut karena tidak menguntungkan bagi penjual/pedagang. Di Kementerian Perdagangan juga mempunyai strategi untuk harga acuan di tingkat petani/pekebun ataupun di tingkat konsumen. Tetapi selama ini juga tidak ada sanksinya apabila melanggar sehingga diterapkannya harga acuan menjadi percuma. Untuk kelapa sawit, acuan harganya selain harga sawit dunia yaitu harga dari Kantor Pemasaran bersama (KPB).

2) Terkait harga dari sisi hulu, contoh kelapa sawit, perkebunan rakyat yang perorangan/pekebun biasanya langsung menjual

Tandan Buah Segar (TBS) ke pengepul. Pengepul kemudian membawa sawit tersebut ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS). Jadi hasil kebun yang dijual oleh pekebun di hulu ke pengepul maka harganya ditentukan oleh pengepul. Sering kali harga dipermainkan oleh si pengepul yang bebas menentukan harga tersebut. Saat ini pengepul harus memiliki sertifikasi sehingga tidak bisa sembarangan orang menjadi pengepul. Dampaknya, si pengepul akan memeriksa detail kualitas suatu barang. Terkait kualitas suatu barang/hasil kebun dari pekebun yang didistribusikan/dijual ke pengepul akan sangat tergantung pada si pengepul ketika melakukan pengecekan terhadap barang/hasil kebun tersebut. Pekebun di hulu kadang tidak memikirkan soal kualitas atau harga. Terkadang mereka hanya memikirkan bagaimana mendapatkan uang untuk menyambung hidup.

3) Tidak adanya keseriusan soal penetapan berapa banyak Crude Palm Oil (CPO) yang bisa diekspor dan berapa banyak yang harus diproduksi di dalam negeri. Hal tersebut pada akhirnya membuat ekspor menjadi tidak terkendali dan produksi dalam negeri/kebutuhan dalam negeri juga akhirnya ikut terdampak.

4) Terkait gula memang menjadi pertanyaan mengapa kita harus impor mengingat Indonesia potensi gulanya besar.

5) Jagung di Provinsi Sumut itu tidak sedikit potensinya tetapi harganya tidak kompetitif.

6) Ada kecenderungan Indonesia sering melakukan impor. Padahal potensi dalam negeri cukup besar tetapi Pemerintah tidak membangun/fokus/mengusahakannya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sendiri.

7) Maraknya ekspor sawit justru menyulitkan dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri.

8) Provinsi Sumut pernah melakukan ekspor porang ke Republik Rakyat Cina (RRC). Tetapi saat ini sudah tidak lagi dapat

mengekspornya ke RRC karena rendahnya/tidak layaknya quality insurance.

9) Terkait kebijakan impor komoditi perkebunan juga harus dipikirkan karena jangan sampai mematikan pasar lokal termasuk petani-petani/pekebun-pekebun lokal apalagi harga produk impor yang cenderung murah.

c. konflik/Sengketa Lahan

1) Konflik/sengketa lahan perkebunan memang terjadi di Provinsi Sumut. Pemerintah Daerah terkadang kesulitan untuk mengatasinya.

2) Ada beberapa kasus sengketa lahan perkebunan di Provinsi Sumut, salah satunya eks HGU PTPN II yang sudah dilakukan upaya penyelesaian melalui skema penyelesaian dan penandatanganan kesepakatan bersama.

3) Selama ini tidak ada pengawasan Pemerintah/Pemda terkait status lahan-lahan perkebunan yang bermasalah/dalam sengketa tersebut. Pemerintah/Pemda biasanya turun ke lapangan ketika konflik sudah terjadi.

2. Potensi Perkebunan dan Kondisi Industri Strategis Perkebunan

Potensi serta kontribusi sektor perkebunan di Indonesia sangat tinggi, hal tersebut tercermin dalam GDP 2020 bahwa tanaman perkebunan berkontribusi sebesar 30 persen yang mana lebih tinggi dibanding kontribusi sektor lain seperti perikanan, tanaman pangan, hortikultura, peternakan, pertanian, dan kehutanan.41 Terkait industri pengolahan maka olahan dari komoditas perkebunan paling tinggi ada di industri makanan dan minuman sebesar 34 persen.42 Amzul Rifin, akademisi dari IPB mencatat setidaknya ada 16 jenis komoditas perkebunan unggulan nasional berdasarkan statistik perkebunan unggulan nasional 2019-2021 yaitu kelapa sawit, karet, kelapa, kopi,

41Amzul Rifin, Akademisi IPB, disampaikan dalam Diskusi Penyusunan NA dan RUU tentang ISP tanggal 6 Oktober 2021.

42Ibid

kakao, jambu mete, cengkeh, lada, teh, pala, sagu, tebu, tembakau, nilam, kapas, dan kemiri sunan. Untuk produksi maka kelapa sawit menduduki posisi tertinggi di angka 48,297 (ribu ton) di tahun 2020.43 Sementara share petani terhadap produksi kelapa sawit justru paling rendah, yaitu di angka 33.77, Share petani justru paling tinggi ada di kakao, kelapa, kopi, dan lada.44 Nilai ekspor kelapa sawit paling tinggi dibanding komoditas lain (karet, kopi, kelapa, dan kakao) yaitu di angka 16,037 (juta USD).45

Selama pandemi, kecuali peternakan dan kehutanan, semua subsektor dalam sektor pertanian mengalami pertumbuhan yang positif, termasuk perkebunan yang tetap tumbuh sejak sebelum pandemi.46 Hampir semua subsektor dalam sektor industri mengalami kontraksi saat pandemi. Namun, subsektor yang berbasis pertanian tetap bertumbuh yaitu Industri Makanan dan Minuman, Industri Kimia, Farmasi dan Obat Tradisional, serta Industri Karet, Barang dari Karet dan Plastik.47 Penduduk yang bekerja di subsektor perkebunan pada Bulan Agustus tahun 2020 mencapai 11,63 juta orang (33,0%) dari total tenaga kerja di sektor pertanian, meningkat jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2019 (11,43 juta orang).48 Ekspor terbesar dari sektor industri, namun di dalam sektor tersebut produk olahan berbasis perkebunan sangat dominan, antara lain CPO, karet olahan, dan lain-lain. Hermanto Siregar mencatat bahwa prospek komoditas perkebunan (supply side) Indonesia juga sangat potensial di dunia yang mana Indonesia menduduki peringkat ke 4 untuk largest agriculture output, peringkat ke 1 untuk vegetable oils, peringkat ke 4 untuk kopi, peringkat ke 3 untuk karet, peringkat ke 6 untuk coklat, peringkat ke 7 untuk teh, peringkat pertama untuk kayu

43Ibid

44Ibid

45Ibid

46Hermanto Siregar, Rektor Perbanas Institute-Ketua Dewan Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia, disampaikan dalam Diskusi Penyusunan NA dan RUU tentang ISP tanggal 6 Oktober 2021.

47Ibid.

48Ibid.

manis, peringkat ke 2 untuk cengkeh, peringkat ke 4 untuk lada dan cabai, serta peringkat ke 2 untuk cengkeh.49

Peran sektor industri agro terhadap PDB industri pengolahan non-migas triwulan II tahun 2021 adalah sebesar 50,59 persen yang mana 38,42% berkontribusi di industri makanan dan minuman.50 Realisasi capaian nilai ekspor industri agro periode Januari-Juli 2021 secara kumulatif mencapai US$ 33,98 Milyar.51 Dibandingkan dengan periode yang sama pada Tahun 2020 yang hanya mencapai US$ 25,55 Milyar menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan mencapai 33,02%.52 Realisasi investasi PMA dan PMDN sektor industri agro sebesar pada periode Triwulan II tahun 2021 sebesar Rp 19,67 Triliun.53 Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sektor Industri Agro periode Triwulan II Tahun 2021 yang mencatat kenaikan sebesar 2,26% (yoy) dengan nilai Rp. 252,77 Triliun atau naik Rp. 4,12 Triliun dibandingkan Triwulan II Tahun 2020 dengan nilai Rp. 248,65 Triliun.

Gambar 8. Peran Sektor Industri Agro Terhadap PDB Industri Pengolahan Non-Migas, Triwulan II Tahun 2021

49Ibid.

50Direktorat Jenderal Industri Agro Kemenperin, disampaikan Diskusi Penyusunan NA dan RUU tentang ISP tanggal 7 Oktober 2021.

51Ibid.

52Ibid.

53Ibid.

Direktorat Jenderal Industri Agro Kementrian Perindustrian menyatakan bahwa dasar hukum industri pengolahan hasil perkebunan selama ini adalah Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2021 Tentang Cipta Kerja, Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2015 tentang Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2015 –2035, Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, dan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan di Bidang Perindustrian. Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian menyatakan bahwa terkait usaha pengolahan hasil perkebunan maka terdiri dari pengolahan kopra, minyak kelapa, minyak goreng kelapa, gula merah, biji kakao, kopi, lada, minyak atsiri, pengasapan karet, serta pengeringan dan pengolahan tembakau (skala UMKM).54 Kemudian ada pula pengolahan teh, CPO, dan gula pasir (skala besar).55 Hal tersebut berdasarkan pada PP No. 5 Tahun 2021 yang ditindaklanjuti dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 15 Tahun 2021.56

Potensi sektor perkebunan termasuk industrinya juga terlihat di Provinsi Sulawesi Selatan yang memiliki jenis komoditas perkebunan yaitu kakao, kopi, lada, pala, dan cengkeh. Luas areal tanaman perkebunan di Sulawesi Selatan seluas 690.283 Ha dan sekitar 95%

(656.067 Ha) merupakan perkebunan rakyat, sisanya merupakan perkebunan swasta dan negara.57 Data perkembangan luas areal, produksi, dan produktivitas komoditi perkebunan unggulan di Sulawesi Selatan adalah sebagai berikut:

Tabel 2. Produktivitas Komoditi Perkebunan di Sulawesi Selatan

54Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, disampaikan Diskusi Penyusunan NA dan RUU tentang ISP tanggal 7 Oktober 2021.,

55Ibid.

56Ibid.

57Kepala Seksi Pembangunan SDM Industri & Pemanfaatan Sumber Daya Alam Dinas Perindustrian Provinsi Sulawesi Selatan, diskusi pada hari Jumat 22 Oktober 2021.

No Komoditi Luas

Areal

Produksi (Ton)

Produktivitas

Impor produk hasil perkebunan di Sulawesi Selatan tahun 2021 yaitu komoditi Kakao di mana impor biji kakao periode bulan Januari sampai dengan Mei 2021 sebesar US$ 8,17 Juta. Kontribusi industri pengolahan berdasarkan harga berlaku terhadap PDRB Provinsi Sulawesi Selatan mengalami fluktuasi dari periode 2016 sampai dengan 2020. PDRB industri pengolahan tahun 2020 sebesar 12,81%

mengalami penurunan dari 13,17% di tahun 2019. Sedangkan PDRB sektor perkebunan tahun 2020 sebesar 3,94% (58,34 Triliun Rupiah).

Provinsi Sulawesi Selatan memiliki kurang lebih 40 jenis komoditas perkebunan, namun fokus pada 5 (lima) jenis komoditas yaitu kakao, kopi, lada, pala, dan cengkeh berdasarkan mayoritas luas tanah dan memiliki nilai ekonomi tinggi.58 Dasar hukum penyelenggaraan perkebunan saat ini adalah Undang Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan (UU tentang Perkebunan) dan Undang Undang

58Kepala Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan, diskusi pada hari Jumat, 22 Oktober 2021.

58Kepala Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan, diskusi pada hari Jumat, 22 Oktober 2021.